ISSN: 2720-9792 MAKNA SIMBOL PADA RITUAL SIRAMAN PERNIKAHAN ADAT JAWA TENGAH (Analisis interaksional simbolik pada ritual siraman pernikahan adat Jawa Tenga. Oleh: Anggie Putri Marverial enjiputrianggiemarverial@yahoo. Hani Astuti. Sos. Kom hani@dsn. Mia Meilina. IP. Comm meilina@dsn. ABSTRAK Makna simbol pada ritual siraman pernikahan adat Jawa tengah. nalisis interaksional simbolik pada ritual siraman pernikahan adat Jawa tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari simbol yang ada pada ritual siraman pernikahan adat Jawa tengah. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan studi analisis interaksional simbolik. Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini berasal dari informan, key informan, serta dokumen yang berupa foto-foto dari ritual siraman. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi non partisipan dan dokumentasi. Masyarakat Jawa berinteraksi menggunakan simbol sejak zaman dahulu kala. Dimana pada simbol tersebut terdapat makna baik yang tersembunyi sekaligus bermanfaat bagi yang Dalam proses interaksi pun terdapat banyak simbol dalam bentuk verbal dan Simbol secara tidak sadar dan tidak langsung sering kita temui dalam kehidupan seharihari maupun dalam kegiatan resmi, seperti ritual dalam pernikahan. Salah satu ritual dalam pernikahan yang kental dengan adat istiadatnya dan terdapat banyak simbol didalamnya ialah ritual Legenda Raden Panji dan Dewi Chandrakirana dari kerajaan Kediri adalah asal mula terjadinya ritual siraman dalam salah satu rangkaian ritual pernikahan adat Jawa tengah. Dalam rangkaian ritual siraman adat Jawa sudah dipastikan terdapat banyak simbol serta pesan verbal dan Simbol tersebut dapat berupa alat-alat siraman, sesaji siraman, pakaian siraman dan aturan siraman. Pesan verbal dalam ritual siraman lebih banyak menggunakan bahasa Jawa kajawen, sedangkan pesan nonverbal lebih banyak terjadi saat pelaku komunikasi dalam ritual siraman ini berinteraksi, seperti pada saat sungkeman, siraman, potong rikma dan jualan dawet. Makna simbol, pesan verbal dan pesan nonverbal masing-masing mempunyai makna yang wajib dan penting untuk diketahui oleh masyarakat Jawa yang melaksanakan ritual siraman. Makna dari alat-alat siraman, sesaji siraman, pakaian siraman dan aturan siraman dipercaya membawa dampak baik bagi kehidupan baru yang akan dijalankan pasangan pengantin. Salah satunya seperti simbol air dari 7 sumber berbeda maknanya ialah agar kelak setelah sah menjadi pasangan pengantin kehidupan barunya diberi kebahagiaan dan tentram hati, lalu simbol dari sesaji yaitu tumpeng robyong yang maknanya ialah kehidupan pasangan pengantin yang melaksanakan ritual siraman ditingkatkan derajatnya dan diberi keselamatan. Melaksanakan ritual siraman sebelum ijab qobul, artinya kita ikut melestrasikan dan mempertahankan budaya Jawa. Dimana kita ketahui budaya Jawa sangat khas dengan ritual adatnya. Kata Kunci: Masyarakat Jawa. Ritual Siraman. Interaksi Simbolik. Makna . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Makna Simbol Pada . Anggie et al. Diterima: 10 Oktober 2019. Direvisi: 1 Desember 2019. Diterbitkan: 30 Juli 2019 ABSTRACT The study aims to determine the meaning of the symbols that exist in the ritual of the traditional wedding of central java. This type of research is qualitative with the study of symbolic interactional analysis. Sources of data that the authors use in this study came from informants, key informants, and data that the author uses in the form of photographs of ritual siraman. Data collection can be done by using interview technique, nonparticipant observation, and Java society interacted using symbols since time immemorial. Where on the symbol there is a hidden good meaning as well as useful for those who believe. In the interaction process there are also many symbols in the form of verbal and nonverbal. Symbols are unconsciously and indirectly we often encounter in everyday life and in official activities, such as rituals in marriage. One of the rituals in marriage is thick with its customs and there are many symbols in it is the ritual of spray. Legend Raden Panji and Dewi Chandrakirana of the kingdom Kediri is the origin of the occurrence of ritual spray in one of the series of traditional wedding rituals of central java. In the ritual of the indigenous Javanese has been ensured there are many symbols as well as verbal and nonverbal massages. Symbols can be tools of spray, offerings, spray, clothes spray, and spray rules. Verbal massages in ritual spray more use of java language kajawen, while more nonverbal massages occur when the perpetrators of communication in the ritual of spray interact, as in the moment sungkeman, spray, cut rikma and dawet sale. The meaning of symbols, verbal massages and nonverbal massages each has a meaning that is mandatory and important to be known by the java community who perform the ritual of spray. The meaning of the means of spray, the offerings of sprinkling, the clothing of spray and the spray rules are believed to bring a good impact on the new that will run the couple. One of them is like symbols of water from seven different sources meaning is that after the legitimate become the couple of new life bride given happiness and peace of heart, then symbols of offerings thatAos tumpeng robyong which mean is life of bridal couple who carry out ritual spray upgraded and given salvation. Implement the ritual of spray before ijab qobul, meaning we join preserve and maintain Javanese culture. Where we know Javanese culture is very typical with customary rituals. Keywords: Java Community. Ritual Spray. Symbolic Interaction. Meaning PENDAHULUAN Simbol merupakan sebuah tanda bermakna yang secara tidak sadar dan tidak langsung selalu ditemui oleh manusia sebagai makhluk sosial. Simbol dapat juga diartikan sebagai sebuah isyarat dalam kegiatan yang mengandung makna tertentu dengan tujuan mengungkapkan arti yang tersembunyi dan sebenarnya. Dalam sebuah proses komunikasi terdapat banyak simbol dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Masyarakat Jawa dikenal sebagai budaya yang memiliki banyak adat seremonial dengan simbol khasnya, salah satu seremonial yang bersifat adat istiadat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa ketika akan menikahkan putra-putrinya adalah menyelenggarakan Ritual siraman yaitu disiram atau dimandikan. Siraman merupakan mandi ritual dimaksudkan agar calon pengantin menjadi bersih secara spiritual dan berhati suci (Hariwijaya, 2004:. Didalam Ritual siraman memiliki tata cara dan urutan serta perlengkapan yang sudah pakem dan memenuhi aturan sebagai simbol-simbol yang secara tidak langsung berkomunikasi tentang arti atau makna yang tersembunyi didalamnya. Nilai dari tata cara dan perlengkapannya menjadi sangat penting, karena mempunyai berbagai makna didalamnya. Jawa mempunyai simbol ciri khas yang unik dan menarik untuk ditelaah lebih lanjut maknanya. Bila simbol dikaitkan dengan budaya, pastinya didalam suatu kegiatan, . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Makna Simbol Pada . Anggie et al. upacara, maupun ritual budaya tersebut memiliki simbol-simbol seperti budaya jawa yang maknanya tercipta dari interaksional simbolik antar masyarakat jawa. Budaya jawa dan masyarakat jawa lebih mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian untuk kehidupan sehari-hari yang dimulai dari pernikahan. Pengkajian secara ilmu interaksional simbolik dalam ritual siraman pernikahan adat jawa, pastinya mempunyai makna dari simbol-simbol yang ada pada rangkaian ritual Penelitian ini pun dilakukan untuk memberi informasi kepada para generasi muda khususnya keturunan jawa, bahwa simbol-simbol yang ada pada ritual siraman pun bisa menjadi suatu pengetahuan bagaimana suatu budaya berkomunikasi. Penelitian ini hanya berfokus kepada satu masalah yaitu Mengetahui Makna Simbol Pada Rangkaian Ritual Siraman. Pernikahan Adat Jawa Tengah Melalui Interaksional Simbolik TINJAUAN PUSTAKA Komunikasi Interaksi Komunikasi interaksi adalah proses penggunaan simbol oleh setiap individu untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka. Komunikasi interaksi terjadi karena adanya proses atau pertukaran informasi antara satu invidu dan individu lainnya atau satu kelompok dan kelompok lainnya yang akhirnya menciptakan feedback atau umpan balik (Suryanto, 2015:. Cangara . , kode verbal dalam pemakaiannya menggunakan bahasa. Bahasa dapat didefinisikan seperangkat kata yang telah disusun secara berstruktur sehingga menjadi himpunan kalimat yang mengandung arti. Sedangkan Sobur . , komunikasi nonverbal adalah komunikasi tanpa bahasa atau komunikasi tanpa kata, maka tanda nonverbal berarti tanda minus bahasa atau tanda minus kata, jadi secara sederhana tanda nonverbal dapat kita artikan semua tanda yang bukan katakata. Komunikasi ritual sering kali bersifat ekspresif, artinya menyatakan perasaan terdalam seseorang, misalnya seorang anggota Paskibraka berlinang air mata ketika mencium bendera pusaka merah putih. Kegiatan komunikasi ritual memungkinkan pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi keterpaduan mereka. Yang menjadi esensi bukanlah kegiatan ritualnya, akan tetapi adanya perasaan senasib sepenanggungan yang menyertainya artinya adanya perasaan bahwa kita terikat oleh sesuatu yang lebih besar dari diri kita, dan bahwa diri kita diakui dan diterima oleh kelompok kita (Riswandi, 2009: . Definisi EB Tylor . alam Griswold, 1994:. bahwa budaya mencangkup pengetahuan, kepercayaan, seni moral, hukum, adat, dan setiap kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh oleh manusia sebagai masyarakat. Menurut Suparlan . , adat merupakan kebiasaan-kebiasaan sosial secara tradisi berlaku dalam sebuah masyarakat. Adat bersifat fungsional dalam masyarakat karena adat tersebut berisikan aturan-aturan yang acuannya adalah pedoman etika dan moral, nilainilai budaya, yang dipunyai oleh masyarakat tersebut. Karena itu, adat yang berlaku dalam sebuah masyarakat biasanya telah ada selama beberapa generasi dalam kehidupan masyarakat tersebut. Struktur Masyarakat Jawa Masyarakat Jawa khususnya Provinsi Jawa tengah dan Jawa timur lebih menganut ajaran Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dalam tradisi-tradisinya. Dimana aturan dan ajarannya masih terasa dan mempunyai pengaruh bagi kalangan rakyat dan masyarakatnya. Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Makna Simbol Pada . Anggie et al. Interaksional Simbolik George Herbert Mead yang dikenal sebagai pencetus awal dari interaksionisme simbolik, sangat mengagumi kemampuan diri sang aktor . dalam menggunakan simbol menyatakan bahwa diri sang aktor bertindak berdasarkan makna simbol yang muncul didalam situasi tertentu. Makna pada simbol tersebut yang pada gilirannya membentuk esensi dari interaksionisme simbolik yang menekankan kolerasi pada simbol dan interaksi (Herdiansyah, 2014:. Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukan cara pemahaman kita terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam komunikasi, (Littlejohn & Karen, 2009:. Tradisi ini memfokuskan diri pada bentuk-bentuk interaksi antarmanusia daripada karakteristik individu atau model mental. Interaksi merupakan proses dan tempat makna, peran, peraturan, serta nilai budaya yang dijalankan. Meskipun individu memproses informasi secara kognitif, tradisi ini kurang tertarik pada komunikasi tingkat individu. Kerangka Berpikir Budaya Jawa merupakan suatu identitas yang erat dengan kelompok sosial yaitu masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa dikenal kental dengan adat istiadatnya, nilai-nilai dan aturan-aturan yang menjadi pedoman hidup yang telah ada sejak beberapa generasi Salah satu seremonial yang masih kental dengan budaya Jawa dan adat istiadatnya, ialah pernikahan. Dalam pernikahan adat jawa, terdapat ritual siraman. Ritual siraman dilakukan pasangan calon pengantin sehari sebelum ijab qobul berlangsung. Banyak simbol yang terdapat dalam ritual siraman adat Jawa, seperti gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan tempat dilaksanakannya siraman haruslah menghadap ketimur. Simbol-simbol seperti itulah yang terbentuk dari interaksional simbolik masyarakat Jawa, yang dimana terdapat arti tersembunyi dan makna bermanfaat dalam simbol tersebut. Makna dari simbol yang ada pada setiap detail ritual siraman pernikahan adat Jawalah yang akan penulis teliti dengan cara melakukan analisis interaksional simbolik dan melakukan wawancara narasumber yang berkompeten dan khatam mengenai adat istiadat budaya Jawa. METODE PENELITIAN Postpositivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, . ebagai lawannya adalah eksperime. dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi . , analisis data bersifat induktif/kalitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 2009:. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif, menurut Bogdan & Taylor adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa katakata tertulis atau lisan dari orang-orang dan berperilaku yang dapat diamati yang diarahkan pada latar dan individu secara holistik . Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode analisis interaksional simbolik. Teori interaksional simbolik menyatakan bahwa interaksi sosial adalah interaksi simbol. Manusia berinteraksi dengan yang lain dengan cara menyampaikan simbol yang lain memberi makna atas simbol tersebut. Asumsi-asumsi: a. ) Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi melalui tindakan bersama dan membentuk organisasi. ) Interaksi simbolik mencangkup pernafsiran tindakan. Interaksi non simbolik hanyalah mencangkup stimulus respon yang sederhana (Ardianto, 2011:. Adapaun key informan penulis ialah Bapak R. Suprapto seorang raden Keraton Jogjakarta berusia 75 tahun yang telah menetap dibekasi. Bapak R. Suprapto ini telah menjalani profesi sebagai cucuk lampah dalam ritual-ritual pernikahan adat jawa sejak 43 . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Makna Simbol Pada . Anggie et al. tahun yang lalu. Beliau juga memiliki sanggar pernikahan khusus dengan adat jawa, yang saat ini dijalankan oleh anak keduanya didaerah Jakarta timur. Maka tidak diragukan lagi telah lamanya beliau berkecimpung dibidang ini dan dengan latar belakang beliau jugalah, saya sebagai penulis memilih Bapak R. Suprapto sebagai key informan. Seorang informan harus terlibat langsung dalam ritual siramannya bukan hanya mendengarkan cerita dari orang lain. Agar informasi yang diberikan akurat dan juga berimbang untuk sebuah penelitian yang membutuhkan jawaban nyata. Penulis menetapkan informan pada ketua Sanggar Rias Detyas yang seorang keturunan jawa asli. Sanggar rias detyas pun menyewakan jasa Wedding organizer dengan adat jawa yang kental. Objek kajian dalam penelitian ini adalah simbol-simbol pada ritual siraman pernikahan adat Jawa tengah. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: Wawancara. Wawancara adalah suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu dan merupakan proses tanya jawab lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik (Setyadin dalam Gunawan 2013:. Observasi. Metode yang paling dasar dan paling tua, karena dengan cara-cara tertentu kita selalu terlibat dalam proses mengamati. Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium . maupun dalam konteks alamiah. Dokumentasi. Menurut Bungin . teknik dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian sosial untuk menelusuri data Teknik analisa yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik analisa data menurt Miles dan Huberman dalam Herdiansyah . dimana mereka membagi analisis data menjadi tiga tahap yakni Reduksi data, penyajian data, dan penarikan Keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi data, dimana data-data yang penulis dapatkan dari informan setelah diklarifikasi kepada key informan, barulah ditinjau dari literature-literature pada buku referensi, triangulasi digunakan sebagai proses menetapkan derajat kepercayaan . redibilitas/validita. dan konsistensi . data, serta bermanfaat juga sebagai alat bantu analisis di lapangan. (Gunawan, 2013:. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN NO. SIMBOL Air dari . Kembang Gayung batok/tempur ung kelapa MAKNA Setelah sah menjadi suami istri, saat mereka tinggal dimana pun mereka akan diberi kebahagiaan dan tentram hati. Agar kehidupan keluarga dari para leluhur. Menggunakan hasil alam untuk sesuatu yang berguna agar berkah KETERANGAN Peralatan . Menurut informan T dan key informan S Peralatan Menurut key . Peralatan . Menurut ketiga . Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Makna Simbol Pada . Anggie et al. Kendi Tumpeng Tumpeng Bubur ketan 5 Kain Jam Pengantin Pengantin siap menikah dan agar manglingin seperti Auwis pecah pamoreAy Mendoakan yang akan menikah agar keluarganya di tingkatkan derajatnya dan diberi keselamatan Diingatkan kembali bahwa kita sebagai makhluk tuhan yang lahir tanpa dosa dan tanpa beban. Ketan merah itu cipta. Ketan putih itu rasa, ketan hijau itu karsa, ketan kuning itu jiwa dan yang hitam itu raga. Dipercaya memakainya dan mengikuti aturan masyarakat jawa sejak dulu. Pukul 09. 00 atau 10. 00, bisa juga pukul 15. 30 para bidadari turun dari kayangan ke bumi untuk mandi, menurut legenda. Chandrakirana saat mandi air jamas, disiram 15 kali. Ini legenda raden Panji dan Dewi Chandrakirana . Peralatan . Menurut ketiga . Sesaji siraman . Menurut ketiga . Sesaji siraman . Menurut ketiga . Sesaji siraman . Menurut ketiga . Pakaian . Menurut . Waktu . Menurut ketiga . Aturan siraman . Menurut key (Legenda Raden Panji Dewi Chandrakiran. Pesan Verbal Pesan verbal pada saat ritual siraman adalah: Saat sungkeman calon pengantin mengucapkan: AuBapak saha ibu ingkang kula tresnani, kaparenga putri/a atur sungkem saha nyuwun pangestu dene putri/a badhe siram jamas titra perwitosari minangka pembukaning lampah kula badhe nambut silaning akrami. Putri/a nyuwun tambahing berkah bapak ibuAy dan dijawab oleh kedua orang tua dengan mengucapkan: AuBapak ibu tansah nenuwun marang gusti ingkang maha asih, muga-muga anggonmu siram jamas tirta perwitosari dadi sarana atimu satena ambabar rahayuning sedya anggonmu palakrama, aamiinAy (Menurut key informan S). Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Makna Simbol Pada . Anggie et al. Saat orang tua perempuan atau ibunda, menyiram calon pengantin paling akhir menggunakan kendi, lalu kendinya dijatuhkan kebawah dan mengucapkan AuBissmillah hirohmman nirrohim, nah saiki wis pecah pamore pindha widadari tumurun saka khayanganAy (Menurut key informan S). Pesan Nonverbal Pesan nonverbal pada saat ritual siraman adalah Pada saat sungkeman sang pengantin duduk bersimpuh dihadapan kedua orang tuanya dengan tangan mengatup kedepan seperti menyembah. Simbol ini mempunyai makna sang anak meminta maaf dan memohon restu. (Menurut ketiga Pada saat siraman para sesepuh dan kedua orang tua memegang gayung yang terbuat dari tempurung kelapa dan mengambil air yang ada digentong lalu menyiram sang calon pengantin. Simbol ini mempunyai makna calon pengantin kembali suci dan yang menyiram merestui calon pengantin. (Menurut ketiga informa. Pada saat jualan dawet ibu yang menjual dawet dan bapak yang memayungi sambil menerima uang penjualan. Simbol ini mempunyai makna agar tamu yang akan datang banyak dan berjubel seperti dawet. (Menurut informan N dan key informan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Ritual siraman merupakan salah satu ritual dalam upacara pernikahan adat Jawa tengah, yang memiliki simbol-simbol khas dan makna baik untuk kehidupan baru pasangan calon pengantin. Ritual ini utamanya dilakukan untuk membersihkan dan mensucikan jiwa raga calon pengantin dengan doAoa-doAoa dari para leluhur Jawa. Legenda dari kerajaan Kediri dan kisah Raden Panji Asmarabangun dengan istrinya Dewi Chandrakirana, adalah asal mula terjadinya ritual siraman tersebut. Komunikasi interaksi sangat terlihat jelas pada rangkaian ritual siraman ini, dimana masyarakat Jawa berinteraksi mengikuti tradisi secara turun-temurun. Interaksional simbolik masyarakat Jawa pada zaman dahulu lebih dominan dan menjadi panutan untuk masyarakat Jawa saat ini, dimana makna baik dari sebuah simbol melahirkan suatu seremonial salah satunya ritual siraman adat Jawa tengah. Informan dan Key informan penulis memiliki panutan tradisi budaya Jawa yang Ibu Ning dan bapak R. Suprapto menganut ajaran Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, sedangkan Ibu Tri menganut ajaran dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Peralatan, sesaji dan aturan kedua tradisi tersebut kurang lebihnya sama dan maknanya juga berdampak baik untuk pasangan calon pengantin. Perbedaan terletak dari motif batik yang digunakan pada saat ritual siraman berlangsung. Tradisi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat menggunakan motif batik Sido asih sungut, sedangkan tradisi Keraton Surakarta Hadiningrat menggunakan motif batik Sekar asem. Dengan melaksanakan ritual siraman, masyarakat Jawa paham dan mengerti bahwa melakukan ritual siraman berdampak baik untuk kehidupan baru dari calon pengantin ,dan juga kita telah ikut melestarikan adat istiadat dan budaya masyarakat Jawa. Dimana sudah kita ketahui ritual siraman memiliki simbol khas dan makna yang sangat baik untuk kehidupan baru yang akan dijalani oleh pasangan pengantin. Jurnal Daring Mahasiswa Komunikasi Makna Simbol Pada . Anggie et al. Saran