IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 Potensi Keberlanjutan Urban Farming Sebagai Upaya Peningkatan Ketahanan Pangan Di Kota Pekanbaru: Perspektif Pelaku Urban Farming Afriyanni1. Gevisioner2. Khairul Amri1 1Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Pekanbaru 2Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Riau Email : afriyannisubhan@gmail. Received: 15/08/2024. Revised: 13/12/2024. Accapted: 20/12/2024. Published: 27/12/2024 ABSTRACT Urban farming is a solution to enhancing food security for urban communities. This study aims to: 1. analyze the sustainability of urban farming from five dimensions, namely ecological, economic, social, technological and institutional, and 2. analyze the challenges and efforts of urban farming actors to overcome the obstacles they face. This study uses a qualitative descriptive method with data collection techniques through surveys and interviews. The results of the study found that the five dimensions of urban farming need to be improved to support the sustainability of urban farming in Pekanbaru City. The main challenges of urban farming are limited land, capital and technology. Efforts made by urban farming actors to overcome obstacles include: being proactive in independent learning, building networks and partnerships, joining groups, maximizing available resources, expanding land, accessing assistance from the government, and innovating. This study recommends improving access and quality of training, empowering groups and communities, developing environmentally friendly technologies, orienting urban farming activities to the market economy, and increasing institutional support from the government. In addition, optimizing the use of abandoned land also needs to be carried out through a lease scheme or profit sharing with landowners. Keywords: urban farming, sustainability, food security, pekanbaru ABSTRAK Urban farming merupakan salah satu solusi ketahanan pangan masyarakat perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1. menganalisis keberlanjutan urban farming ditinjau dari lima dimensi, yaitu ekologis, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan, serta 2. menganalisis tantangan dan upaya pelaku urban farming mengatasi kendala yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui survei dan wawancara. Hasil penelitian menemukan kelima dimensi urban farming perlu ditingkatkan untuk mendukung keberlanjutan urban farming di Kota Pekanbaru. Tantangan utama urban farming adalah keterbatasan lahan, permodalan dan teknologi. Upaya yang dilakukan pelaku urban farming untuk mengatasi kendala antara lain: proaktif dalam belajar mandiri, membangun jejaring dan kemitraan, bergabung dalam kelompok, memaksimalkan sumber daya yang tersedia, memperluas lahan, mengakses bantuan dari pemerintah, dan melakukan inovasi. Penelitian ini merekomendasikan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelatihan, memberdayakan kelompok dan komunitas, mengembangkan teknologi ramah lingkungan, mengorientasikan kegiatan urban farming pada ekonomi pasar, serta meningkatkan dukungan kelembagaan dari pemerintah. Selain itu, optimalisasi penggunaan lahan terlantar juga perlu dilakukan melalui skema sewa atau bagi hasil dengan pemilik Kata Kunci :urban farming, keberlanjutan, ketahanan pangan. Pekanbaru PENDAHULUAN Urban farming merupakan upaya pemanfaatan lahan terbatas di daerah perkotaan untuk kegiatan bertani, penyediaan pangan, dan peningkatan (Kusumaningrum et al. , 2. Praktek urban farming menjadi tren yang semakin berkembang di berbagai kota di Indonesia, termasuk IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 Pekanbaru (Herawati et al. , 2. Kota ini menghadapi tantangan serius terkait ketahanan pangan, mengingat ketergantungan Pekanbaru terhadap pasokan pangan dari daerah penghasil di luar kota semakin meningkat (Andriani et al 2024. Dian Chintya Dewi & Hajry Arief Wahyudy, 2. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, tahun 2023, laju Kota Pekanbaru cukup tinggi yaitu 2,99 % dengan jumlah penduduk 1. jiwa atau 15,30% dari jumlah penduduk Provinsi Riau (Badan Pusat Statistik Kota Pekanbaru, 2. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan terhadap pasokan pangan dan lahan untuk permukiman dan kegiatan ekonomi yang berdampak terhadap Sementara itu terdapat potensi yang cukup besar untuk memanfaatkan lahan kosong yang tersebar di wilayah perkotaan dan belum dimaksimalkan untuk produksi pangan lokal (Leksono et al. , 2. Hal ini menunjukkan adanya peluang signifikan bagi urban farming untuk berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan di Pekanbaru. Urban farming berkontribusi positif dalam mengatasi berbagai dampak ekologis akibat eksploitasi kualitas hidup masyarakat perkotaan (Alfariza et al. , 2023. Armansyah et al. Putri et al. , 2. Selain itu urban farming juga memberikan lingkungan (Syabrina et al. , 2. Dengan demikian, urban farming berperan penting dalam menciptakan kota yang lebih tangguh melalui penyediaan pangan berkelanjutan. Penelitian terkait urban farming telah banyak dilakukan di Kota Pekanbaru (Andriani et al. , 2024, Dian Chintya Dewi & Hajry Arief Wahyudy, 2023. Herawati et al. , 2021. Leksono et al. , 2020. Masnur et al. Syabrina et al. , 2. Namun penelitian sebelumnya kurang fokus pada analisis keberlanjutan praktik ini di Pekanbaru, khususnya dari perspektif para pelaku urban farming itu sendiri. Belum ada kajian yang komprehensif tentang bagaimana pelaku urban farming di Pekanbaru menilai potensi, tantangan, dan peluang keberlanjutan dari kegiatan mereka, serta bagaimana hal ini dapat mempengaruhi ketahanan pangan Kota Pekanbaru. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi keberlanjutan urban farming di Pekanbaru dari perspektif para pelaku urban farming. Keberlanjutan urban farming dalam penelitian ini ditinjau dari dimensi ekologis, ekonomi, sosial, teknologi dan kelembagaan serta menganalisis tantangan dan upaya pelaku urban farming untuk mengatasi kendala yang dihadapi dalam pengelolaan urban farming. Implikasi dari penelitian ini rekomendasi praktis bagi pengambil kebijakan dan masyarakat dalam mempromosikan urban farming yang berkelanjutan di Pekanbaru, serta dampak positif urban farming bagi IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 METODE Penelitian ini dilakukan di Kota Pekanbaru selama bulan Agustus sampai dengan Oktober tahun 2022 dengan objek penelitian pelaku urban farming yang terdata pada Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru, yaitu sebanyak 130 orang. Kuesioner disebarkan secara online melalui googleform kepada seluruh anggota populasi, namun terdapat 102 orang Teknik pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner secara online kepada responden untuk menjawab tujuan pertama dan wawancara dilakukan kepada informan penelitian untuk menjawab tantangan dan upaya Wawancara informan penelitian yang terdiri dari pelaku urban farming sebanyak 5 orang dan Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru sebanyak 2 orang yang dipilih secara purposive. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif. Statistik deskriptif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik sedangkan hasil wawancara ditampilkan dalam bentuk teks atau HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi keberlanjutan urban farming dalam penelitian ini ditinjau dari 5 . dimensi, yaitu: ekologis, sosial, ekonomi, teknologi dan Masing-masing dimensi akan dibedakan menurut beberapa dijelaskan sebagai berikut: Dimensi Ekologi Lahan merupakan salah satu variabel dari dimensi ekologis yang penting (Wulandari et al. , 2. Luas lahan yang dimanfaatkan oleh responden untuk bercocok tanam sangat terbatas . urang dari 50m2 dan merupakan milik sendiri . ,45%). Namun demikian terdapat pelaku urban farming yang mengelola lahan lebih dari 500m2. Peluang untuk memperluas lahan urban farming masih sangat besar mengingat potensi dimanfaatkan cukup besar di Kota Pekanbaru. Tabel 1. Dimensi Farming Ekologi Keberlanjutan Dimensi Ekologi Luas Lahan Kurang dari 50m2 51-200m2 201-350m2 351-500m2 Lebih dari 500m2 Kepemilikan lahan Garapan/bagi hasil Pemerintah/lembaga Sendiri Sewa Penggunaan Pupuk Organik Anorganik Campuran Tidak ada Penggunaan Obat Hama Organik Anorganik Campuran Jumlah Sumber: hasil penelitian 2022, data diolah Urban 50,00 21,57 9,80 4,90 13,73 9,80 5,88 77,45 6,86 29,41 5,88 62,75 1,96 33,33 17,65 49,02 Berdasarkan data dari Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru 883,7 Ha luas lahan terlantar yang belum dimanfaatkan (Pemerintah Kota Pekanbaru, 2. Namun demikian meskipun potensi lahan terlantar tersebut cukup besar pengelolaan lahan tersebut untuk urban farming masih belum didukung secara legal. IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 Selanjutnya hasil studi terdahulu keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat perkotaan (Alam & Naeem, 2024. Yahya et al. , 2. pengelolaan urban farming yang belum ramah lingkungan dapat terhadap kesehatan dan lingkungan. (Bulgari et al. , 2024. Moussa, 2023. Ninkov et al. , 2. Oleh karena itu praktek pengelolaan urban farming hendaknya menekankan pada konsep keberlanjutan lingkungan melalui penggunaan pupuk dan pembasmi atau pengendali hama yang ramah Hasil penelitian ini menemukan sebagian besar praktik pengelolaan urban farming oleh responden masih menggunakan pupuk dan obat-obatan pembasmi hama yang bersifat campuran, yaitu kombinasi antara bahan organik dan non organik . Dengan demikian risiko membahayakan kesehatan masih tetap ada. Praktik yang belum sepenuhnya ramah lingkungan ini perlu diarahkan mendorong penggunaan pupuk dan pembasmi hama berbahan organik, seperti hasil daur ulang limbah rumah Dukungan mekanisme pengelolaan lahan yang farming sekaligus memitigasi dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan penerapan konsep keberlanjutan ekologis yang konsisten, urban farming dapat berperan signifikan lingkungan perkotaan. Dimensi Ekonomi Berdasarkan hasil penelitian, secara ekonomi urban farming di Kota Pekanbaru terdapat tantangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,80%) menggunakan hasil produksi urban farming hanya Namun persentase responden yang menjual hasil produksi urban farming ke pasar tradisional, agen maupun tetangga sekitar juga cukup besar. Hal ini menunjukkan bahwa urban farming cukup potensial untuk dikembangkan sebagai sumber ekonomi rumah tangga atau kelompok. Sebagian memperoleh keuntungan per bulan kurang dari Rp. 000,- tetapi terdapat pelaku urban farming yang memperoleh keuntungan per bulan lebih dari Rp. 000,-. Sementara pemasaran dinilai cukup baik . ,69%) meskipun responden yang berpendapat ketersediaan media pemasaran tidak baik cukup besar, yaitu: . ,39%). Dimensi ekonomi keberlanjutan urban farming di Kota Pekanbaru dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Dimensi Ekonomi Keberlanjutan Farming Dimensi Ekonomi Pemanfaatan hasil panen Dikonsumsi sendiri Dijual Dijual dan Dikonsumsi Urban Keuntungan per Bulan IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 Kurang dari Rp. Rp. 000,--Rp. Rp. 000,- - Rp. 000,Rp. 000,- - Rp. 000,Lebih dari Rp. Ketersediaan media pemasaran Sangat baik Baik Sangat tidak baik Tidak baik 4,88 2,44 2,94 0,98 Sumber: hasil penelitian 2022, data diolah oleh adanya program pemberian pertanian yang diberikan kepada Kelompok Wanita Tani oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Pekanbaru. Faktor pendorong lainnya, yaitu dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat perkotaan khususnya pengelola urban farming. Hussain et , . mengidentifikasi dampak positif urban farming bagi masyarakat perkotaan meliputi berbagai aspek seperti ekonomi, lingkungan, sosial dan kesehatan. Dimensi Teknologi Dimensi Sosial Urban farming memberikan dampak positif terhadap dimensi kesempatan kerja (Alfariza et al. Armansyah et al. , 2. memperkuat kohesi sosial dan kerjasama di lingkungan masyarakat perkotaan (Subangkit et al. , 2. Dari dimensi sosial, hasil penelitian ini masyarakat dalam pelaksanaan urban farming menurut perspektif pelaku urban farming cukup tinggi . ,96%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan urban farming masih didominasi oleh sistem tradisional . ,06%) dan teknologi . ,96%). Sistem tradisional yang digunakan berupa penggunaan pot, polybag atau lahan tanah sebagai area tanam sedangkan teknologi sederhana dalam praktek urban farming berupa sistem Namun teknologi maju seperti Internet of Things (IoT) memiliki potensi besar untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas (Darwison et al. , 2023. Lovita et al. , 2. Rendah sekali Sangat tinggi Gambar 1. Partisipasi masyarakat dalam Pengelolaan Urban Farming . asil penelitian 2022, data diola. Partisipasi masyarakat yang cukup tinggi tersebut juga didorong masih tradisional menggunakan teknologi menggunakan teknologi yang kompleks/canggih IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 Gambar 2. Penggunaan Teknologi dalam Pengelolaan Urban Farming ( hasil penelitian 2022, data diola. IoT memungkinkan pemantauan dan pengendalian kondisi lingkungan secara real-time menggunakan sensor untuk mengukur kelembaban, suhu dan PH air, yang terhubung dengan perangkat digital. Teknologi ini dapat mengoptimalkan penggunaan air melalui irigasi otomatis, mengatur nutrisi pada sistem hidroponik secara tepat serta memaksimalkan hasil pemborosan sumber daya (Ravindra Malabadi et al. , 2. Penggunaan teknologi dalam pengelolaan urban farming sangat produktivitas dan keberlanjutan urban farming namun demikian membutuhkan dukungan keuangan dan SDM yang memadai sehingga belum dapat dilaksanakan oleh sebagian besar pengelola urban pencemaran maupun akses pasar (Irawan & Faturahman, 2. Selain itu kelembagaan juga memudahkan kerjasama dengan pihak lain (Lovita et al. , 2. Kondisi ini tentu saja (Karsiningsih et al. , 2. Namun demikian pengelolaan urban farming dalam bentuk kelompok ini juga memiliki tantangan yaitu terkait dengan keberlanjutan kelompok. Hasil penelitian menemukan konflik antar anggota dalam kelompok urban farming dan terputusnya bantuan pemerintah daerah menjadi salah satu pengelolaan urban farming. Dimensi Kelembagaan Dari pengelolaan urban farming oleh responden lebih banyak dilakukan sendiri . ,76%) sedangkan 36,27% dikelola bersama dalam bentuk kelompok dengan nama Kelompok Wanita Tani. Pengelolaan urban farming dalam bentuk kelompok tersebut merupakan faktor penting dalam mendukung keberhasilan pengelolaan urban farming tersebut (Devi et al. , 2. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan urban farming dalam bentuk kelompok atau kelembagaan menjadi penting untuk mengatasi dikelola dalam bentuk kelompok dikelola oleh lembaga/pemerintah dikelola sendiri Gambar 1. Dimensi Kelembagaan Urban Farming . asil penelitian 2022, data diola. Tantangan Upaya Berdasarkan hasil data kualitatif, tantangan utama yang dihadapi oleh permasalahan lahan. Hal ini juga tergambar dari Tabel 2 yang responden memiliki lahan yang cukup Kendala tersebut juga IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 ditemukan pada penelitian terdahulu (Fawwaz et al. , 2022. Harniati & Suryanti, 2021. Richardville, 2. Keterbatasan akses permodalan merupakan tantangan terbesar kedua setelah keterbatasan lahan. Hasil penelitian menemukan, pelaku urban permodalan dalam mengembangkan Penelitian (Parsudi, 2. dibutuhkan tidak hanya untuk pengembangan usaha tetapi juga untuk mengatasi hama tanaman dan kendala cuaca ekstrim. Selain itu kendala lain yang tak kalah pentingnya terkait biaya produksi, keahlian bertani, akses pemasaran dan penggunaan teknologi termasuk keterbatasan dukungan pemerintah. Tantangan Kota Pekanbaru ditunjukkan pada Gambar 4. Jumlah Respon 17 18 18 Untuk menghadapi berbagai kendala yang dihadapi dalam pengelolaan urban farming, hasil beberapa upaya yang dilakukan oleh pelaku urban farming, yaitu: Belajar secara aktif baik secara mandiri maupun mengikuti pelatihan secara online dan offline. Dalam pelaksanaan urban farming, sebagian besar para pelaku urban farming belajar secara mandiri baik melalui buku, artikel maupun internet serta mengikuti berbagai pelatihan dan workshop secara online. Belajar secara mandiri merupakan strategi yang banyak dilakukan oleh pengelola urban farming selain dukungan komunitas (Abdoellah et al. , 2020. Fawwaz et al. , 2022. Karsiningsih et , 2024. Putri et al. , 2. Upaya ini dilakukan untuk membantu mereka dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan bertani serta mengikuti perkembangan teknologi Membangun jejaring dan kemitraan, pemasaran, 8. Keterbatasan keahlian pertanian, 9. tingginya biaya produksi, 10. Keterbatasan akses Permodalan, 11. Keterbatasan lahan. Tantangan Gambar 4. Tantangan Pelaksanaan Urban Farming di Kota Pekanbaru (Sumber hasil penelitian tahun 2022, data diolah. Keterangan: 1. Sulitnya di dalam kelompok, 2. Keterbatasan dukungan pemerintah, 3. ketergantungan terhadap Pupuk, 4. Kesulitan irigasi/pengairan. Hama/penyakit, 6. Keterbatasan Penggunaan Teknologi, 7. Keterbatasan akses Pelaku membangun jejaring dan kemitraan baik sesama petani, komunitas, memungkinkan terjadinya pertukaran informasi, sumberdaya dan dukungan terhadap pelaku urban farming. Selain itu kemitraan membuka peluang akses pasar yang lebih luas, memperoleh bantuan teknis dan produksi (Richter, 2. Misalnya dalam penelitian ini ditemukan pelaku IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 urban farming yang mengembangkan sayuran hidroponik membangun jejaring untuk pemasaran sehingga dapat memenuhi kuota permintaan agen atau toko modern. Keanggotaan dalam kelompok memungkinkan mereka untuk berbagi masalah, pengalaman dan solusi yang dihadapi (Amato-Lourenyo et al. Selain itu kelompok dapat menjadi sarana untuk melakukan kegiatan bersama seperti membeli pupuk dan bibit secara kolektif, melakukan pemasaran hasil panen bantuan dan dukungan kepada pemerintah atau lembaga lain (Utami & Ihsaniyati, 2. Keuntungankeuntungan tersebut juga merupakan pertimbangan-pertimbangan pengelola urban farming dalam penelitian ini untuk bergabung dalam Memaksimalkan sumberdaya yang Upaya lain yang dilakukan untuk memanfaatkan sumberdaya yang tersedia seoptimal mungkin, misalnya memanfaatkan bahan daur ulang untuk membuat pot atau media tanam, membuat pupuk dan anti hama dari bahan atau limbah dapur dan Memperluas lahan urban farming melalui sewa, bagi hasil maupun memanfaatkan lahan terlantar dengan izin pemilik lahan Salah satu strategi yang dilakukan untuk memperluas lahan urban farming dengan menyewa lahan atau sistem bagi hasil dengan pemilik lahan maupun memanfaatkan lahan-lahan terlantar yang tidak terpakai dengan mendapatkan izin dari pemilik lahan. Mengakses bantuan ke berbagai Pemerintah Kota Pekanbaru Upaya lainnya yang dilakukan oleh pelaku urban farming untuk menghadapi berbagai kendala, yaitu dengan mengakses bantuan dari berbagai lembaga terkait, terutama Pemerintah Kota Pekanbaru. Bantuan ini bisa berupa pelatihan, penyediaan bibit dan pupuk, bantuan finansial, serta dukungan teknis. Melakukan inovasi Hasil penelitian ini menemukan, pelaku urban farming juga melakukan beberapa inovasi yang dilakukan untuk menghadapi kendala dalam pengelolaan urban farming misalnya penggunaan sistem pertanian vertikal, peningkatan nilai tambah hasil panen. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa urban farming memiliki peluang besar untuk terus berlanjut menghadapi berbagai tantangan. Tantangan keberlanjutan meliputi masalah pemanfaatan lahan yang terbatas dan pengelolaan yang belum ramah lingkungan . imensi ekolog. , kurangnya orientasi pada pasar . imensi ekonom. , pengelolaan yang masih bersifat perorangan dan minim dukungan kelembagaan . imensi menggunakan sistem tradisional atau . imensi Namun peluang yang IPTEKIN Jurnal Kebijakan Pembangunan dan Inovasi Vol. , 2024, 26-36 cukup besar tetap terbuka dengan partisipasi masyarakat yang cukup tinggi . imensi sosia. dan besarnya potensi ketersediaan lahan terlantar di Kota Pekanbaru. Selanjutnya kendala utama yang dihadapi pelaku urban farming adalah keterbatasan lahan dan akses Untuk menghadapi kendala urban farming di Kota Pekanbaru, pelaku berupaya belajar secara mandiri, mengikuti pelatihan, membangun jejaring dan kemitraan, bergabung dalam kelompok dan memaksimalkan sumber daya melalui pemanfaatan lahan terlantar. Selain itu mereka juga mengakses bantuan dari lembaga terkait, terutama pemerintah kota, dan melakukan inovasi seperti sistem pertanian vertikal dan irigasi otomatis. Berdasarkan temuan penelitian, untuk meningkatkan keberlanjutan urban farming di Kota Pekanbaru dari berbagai dimensi, disarankan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelatihan, memberdayakan kelompok dan komunitas, mengembangkan berorientasi pada pasar, serta kelembagaan dari pemerintah. Selain itu, optimalisasi penggunaan lahan terlantar juga perlu dilakukan melalui skema sewa atau bagi hasil dengan pemilik lahan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan disampaikan kepada semua pihak memberikan informasi, data, saran dan masukan dalam penulisan artikel DAFTAR PUSTAKA