Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pencegahan TB Paru (Studi Kasus pada Keluarga yang Tinggal Serumah dengan Penderita di Kecamatan Teris. Setyo Dwi Widyastuti*1. Muhammad Fauzi1. Luthfan Febrian1 1Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat. STIKes Indramayu Author's Email Correspondence (*): niamulwafa70@gmail. ABSTRAK Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang menjadi perhatian global. Demi memutus rantai penularan, diperlukan upaya pencegahan TB Paru yang dilakukan oleh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan TB Paru pada keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru di Kecamatan Terisi. Metode penelitian ini menggunakan metode analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru di Kecamatan Terisi yang berjumlah 86 responden. Data dianalisis dengan menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik Berganda. Variabel independen yang diteliti adalah pengaruh persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan dan cues to action terhadap variabel dependen yaitu perilaku pencegahan TB Paru anggota keluarga. Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa persepsi kerentanan (P value=0. persepsi keseriusan (P value=0,. , persepsi manfaat (P value=0,. , persepsi hambatan (P value=0,. , dan cues to action (P value=0,. Hasil analisis multivariat menunjukan bahwa persepsi keseriusan merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan TB Paru (OR=25,. Saran dalam penelitian ini yaitu memberikan edukasi mengenai pencegahan TB Paru serta membentuk kader TB Paru yang berperan dalam membimbing dan memotivasi anggota keluarga dalam melakukan pencegahan TB Paru. Sehingga diharapkan anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru untuk selalu mengadopsi perilaku pencegahan TB Paru. Kata Kunci: Tuberkulosis. Perilaku Pencegahan. Health Belief Model Published by: Article history : Tadulako University Received : 04 04 2024 Address: Received in revised form : 20 04 2024 Jl. Soekarno Hatta KM 9. Kota Palu. Sulawesi Tengah. Accepted : 21 04 2024 Indonesia. Available online : 30 04 2024 Phone: 6282290859075 licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Email: preventifjournal. fkm@gmail. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 ABSTRACT Tuberculosis is a globally concerning disease. To break the chain of transmission, preventive efforts against Pulmonary Tuberculosis (TB) are necessary for family members living with TB patients. The aim of this study is to determine the factors influencing TB prevention behavior among families living with TB patients in Terisi District. The research employs quantitative analytical methods with a Cross-Sectional approach. The study population consists of all family members living with TB patients in Terisi District, totaling 86 respondents. Data analysis involves univariate, bivariate, and multivariate analyses. Bivariate analysis utilizes the Chi-Square test, while multivariate analysis employs Multiple Logistic Regression. Independent variables studied include the impact of perceived susceptibility, severity, benefits, barriers, and cues to action on the dependent variable, the TB prevention behavior of family members. Bivariate analysis results indicate significance for perceived susceptibility (P value=0. , severity (P value=0. , benefits (P value=0. , barriers (P value=0. , and cues to action (P value=0. Multivariate analysis reveals that perceived severity holds the greatest influence on TB prevention behavior (OR=25. Recommendations from this study include providing education on TB prevention and establishing TB advocates who guide and motivate family members in TB prevention. Thus, it is hoped that family members residing with TB patients will consistently adopt TB prevention behavior. Keywords: Tuberculosis. Prevention behavior. Health Belief Model PENDAHULUAN Menurut WHO pada tahun 2019. Secara global diperkirakan ada 10 juta orang yang menderita penyakit TBC. Indonesia berada pada peringkat ke 2 dengan penderita TBC tertinggi di dunia setelah India. Meskipun terjadi penurunan kasus baru TBC, tetapi tidak cukup cepat untuk mencapai target Strategi END TB tahun 2035, yaitu menurunkan angka kejadian TB sebesar 90% menjadi10 kasus per 100. 000 penduduk per tahun dan menurunkan jumlah kematian akibat TB sebesar 95% dibandingkan dengan tahun 2015 . Tahun 2020 jumlah kasus tuberkulosis yang ditemukan sebanyak 351. 936 kasus, yang mengalami penurunan sebesar 47% dibandingkan dengan jumlah semua kasus tuberkulosis yang ditemukan pada tahun 2019 yaitu sebesar 658. 987 kasus. Jumlah kasus tertinggi dilaporkan dari provinsi dengan jumlah penduduk yang besar yaitu Jawa Barat. Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Jumlah kasus tuberkulosis di ketiga provinsi tersebut menyumbang sebanyak 46% dari total jumlah kasus tuberkulosis di seluruh Indonesia . PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Tahun 2020, prevalensi penyakit TB paru di Provinsi Jawa Barat dilaporkan sebanyak 840 kasus dari jumlah terduga tuberkulosis sebanyak 248. 896 kasus, sebelumnya tahun 2019 tercatat sebesar 109. 463 kasus. Kejadian kasus tuberkulosis antara laki-laki dan perempuan ternyata lebih banyak pada laki-laki yakni sebesar 10%. Penyakit TB Paru di Kabupaten Indramayu berdasarkan data dalam profil kesehatan Dinas Kesehatan Indramayu menyebutkan bahwa pada tahun 2021 jumlah kasus baru TB paru terdaftar dan diobati sebanyak 1. 057 kasus, pasien yang melakukan pengobatan lengkap (Complete Rat. sebanyak 614 orang . ,1%). Pasien yang mengalami kesembuhan (Cure Rat. sebanyak 138 orang . %) dan jumlah keberhasilan pengobatan (Success Rat. sebanyak 752 orang . ,1%) sementara jumlah kematian selama pengobatan yaitu 17 orang . ,6%). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Indramayu menunjukkan bahwa puskesmas dengan kasus TB Paru terbanyak pada tahun 2021 yakni Puskesmas Terisi sebanyak 57 kasus dan yang terendah terdapat di Puskesmas Jatibarang yakni 0 kasus atau dapat dikatakan tidak terdapat kasus TB. Tuberkulosis merupakan salah satu masalah utama kesehatan yang dapat menimbulkan kecemasan tertular pada anggota keluarga. Pada keluarga, derajat penularan penyakit TB paru cukup tinggi. Peningkatan risiko tertular penyakit TB paru akan terjadi pada orang yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru. Apabila dalam satu rumah jumlah penderita TB parunya banyak maka orang yang tinggal serumah akan sangat berisiko untuk tertular. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pralambang . dengan menggunaka metode telaah artikel, diketahui bahwa keluarga yang tinggal dengan penderita TB Paru memiliki risiko 5,42 kali lebih tinggi untuk tertular dibandingkan orang yang tidak kontak dengan penderita TB Paru. Berdasarkan hasil penelitian Ariani . diketahui bahwa keluarga yang tinggal dengan penderita TB Paru memiliki risiko PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 tiga kali lebih tinggi untuk tertular dibandingkan dengan kontak yang tidak tinggal serumah . Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan TB paru pada keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru. Salah satu teori perilaku kesehatan adalah yang dikemukakan oleh Lawrence Green dan Resenstock 1966. Menurut teori yang dikemukakan oleh L. Green, bahwa seseorang berperilaku dipengaruhi oleh faktor predisposisi . engetahuan, sikap, adat istiadat dl. , enabling . arana dan prasaran. dan reinforcing . ikap tokoh agama, tokoh masyarakat, tenaga kesehata. Sedangkan menurut Resentock, bahwa ada faktor internal dari individu yang mempengaruhi perilaku kesehatan seseorang, yang dikenal dengan Health Belief Model (HBM). Teori menjelaskan bahwa seseorang melakukan perilaku kesehatan dipengaruhi oleh perceived susceptibility . ersepsi kerentana. , perceived seriousness . ersepsi keseriusa. , perceived benefits . ersepsi manfaa. , perceived barriers . ersepsi hambata. Sedangkan cues to action . syarat untuk melakukan tindaka. dipengaruhi faktor eksternal dalam menentukan perilaku kesehatan . Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Agustina . diketahui bahwa pengetahuan berhubungan dengan perilaku pencegahan TB paru pada keluarga yang tinggal serumah. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Karno . bahwa faktor yang berhubungan perilaku pencegahan TB paru pada kontak serumah adalah . Penelitian tentang faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan TB paru pada keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru berdasarkan teori helath belief model belum pernah dilakukan. Berdasarkan permasalahan diatas tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang dapat menjangkiti siapa saja. Keluarga yang tinggal bersama dengan penderita TB Paru memiliki risiko dua kali lebih besar untuk tertular. Untuk memutus mata rantai penularan perlu dilakukannya penelitian tentang Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pencegahan TB PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Paru (Studi Kasus Pada Keluarga yang Tinggal Serumah dengan Penderita TB Paru di Kecamatan Teris. METODE Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Terisi, pada tahun Populasi pada penelitian ini adalah seluruh anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru sebanyak 86 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Variabel independen kompoenen dalam teori health belief model antara lain: perceived susceptibility . ersepsi kerentana. , perceived seriousness . ersepsi keseriusa. , perceived benefits . ersepsi manfaa. , perceived barriers . ersepsi hambata. dan cues to action . syarat untuk melakukan tindaka. , sedangkan variabel dependennya adalah perilaku pencegahan TB paru pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB paru. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan analisis multivariat menggunakan uji Regresi Logistik Berganda. HASIL Karakteristik Responden Distribusi frekuensi karakteristik responden di sajikan pada tabel 1 berikut. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pendidikan SMP SMA Tdk Sekolah Pekerjaan Wiraswasta Buruh/Petani PNS Tdk Bekerja Lainnya Total Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa 55 responden . ,9%) berjenis kelamin perempuan, 31 responden . ,0%) berpendidikan SD, dan 27 responden . ,4%) bekerja sebagai buruh/petani. Tabel 2. Distribusi Perilaku Pencegahan TB Paru Anggota Keluarga yang Tinggal Serumah dengan Penderita TB Paru Perilaku Pencegahan TB Paru Kurang Baik Baik Total Sumber : Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa 57 responden . ,3%) mempunyai baik dalam perilaku pencegahan penyakit TB Paru. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Tabel 3. Distribusi Persepsi dalam Health Belief Models Persepsi dalam Health Belief Models Persepsi Kerentanan Tidak Rentan Rentan Persepsi Keseriusan Tidak Serius Serius Persepsi Manfaat Tidak Ada Manfaat Ada Manfaat Persepsi Hambatan Ada Hambatan Tidak Ada Hambatan Cues to Action Tidak Ada Dukungan Ada Dukungan Total Sumber: Data Primer, 2023 Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa 59 responden . ,6%) mempunyai persepsi kerentanan untuk tertular TB Paru, 60 responden . ,8%) mempunyai persepsi keseriusan akibat TB Paru, 63 responden . ,3%) mempunyai persepsi ada manfaat ketika melakukan pencegahan TB Paru, 56 responden . mempunyai persepsi tidak ada hambatan dalam melakukan pencegahan TB Paru, 59 responden . ,6%) mengalami adanya dukungan dalam pencegahan penyakit TB Paru Pengaruh Persepsi dalam Health Belief Models Terhadap Perilaku Pencegahan TB Paru Pengaruh persepsi dalam health belief models terhadap perilaku pencegahan TB Paru pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru disajikan pada tabel 4 berikut. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Tabel 4. Pengaruh Persepsi Health Belief Model terhadap Perilaku Pencegahan TB Paru Perilaku Total Kurang Baik Baik Variabel P-value* Persepsi Kerentanan Tidak Rentan 0,001 Rentan Jumlah Persepsi Keseriusan Tidak serius Serius 0,000 Jumlah Persepsi Manfaat Tidak Ada Manfaat Ada Manfaat 0,014 Jumlah Persepsi Hambatan Ada Hambatan Tidak Ada Hambatan 0,105 Jumlah Cues to Action Tidak Ada Dukungan 0,008 Ada Dukungan Jumlah *Uji Chi Square Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa dari hasil uji statistik dengan menggunakan ChiSquare diketahui ada pengaruh persepsi kerentanan terhadap perilaku pencegahan TB Paru dengan nilai P = 0,002, ada pengaruh persepsi keseriusan terhadap perilaku pencegahan TB Paru dengan nilai P= 0,000, ada pengaruh persepsi manfaat dengan perilaku pencegahan TB Paru dengan nilai P= 0,014, ada pengaruh persepsi hambatan terhadap perilaku pencegahan TB Paru dengan nilai P=0,105, ada pengaruh Cues to Action terhadap perilaku pencegahan TB Paru dengan nilai P= 0,008. PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Faktor yang Paling Berpengaruhi dalam Perilaku Pencegahan TB Paru Pemilihan Kandidat Multivariat Proses pemilihan kandidat variabel yang diuji secara multivariat dilakukan dengan menggunakan analisis bivariat. Dalam analisis ini, metode Enter digunakan dengan memasukkan semua variabel independen yaitu persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, dan cues to action. Variabel yang akan dipilih dalam analisis multivariat adalah yang memiliki p value multivariat lebih kecil dari 0,25. Hasil dari analisis bivariat untuk pemilihan kandidat variabel multivariat disajikan dalam tabel 4 berikut ini: Tabel 5. Hasil Analisis Bivariat dalam Penentuan Kandidat Multivariat Variabel P Value Kerentanan 0,001* Keseriusan 0,000* Manfaat 0,009* Hambatan 0,066* Cues to action 0,005* * masuk seleksi model multivariat (P Value < 0,. Berdasarkan tabel 12 diketahui bahwa semua variabel, yaitu persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, dan cues to action, memenuhi kriteria untuk masuk ke dalam tahap uji multivariat. Penyebabnya adalah bahwa seluruh variabel tersebut memiliki p value yang lebih kecil dari variabel p value pembanding, yakni . value < 0,. Variabel Dominan yang Paling Berpengaruh pada Perilaku Pencegahan Penyakit TB Paru. Hasil analisis uji regresi logistik dengan menggunakan metode Backward LR untuk mengetahui variabel dominan yang paling berpengaruh terhadap perilaku pencegahan penyakit TB Paru pada keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru di kecamatan Terisi dapat dilihat pada tabel 5 berikut: PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Tabel 6. Hasil Analisis Persepsi Kerentanan. Keseriusan. Manfaat. Hambatan dan Cues to Action dengan Perilaku Pencegahan Penyakit TB Paru pada Keluarga yang Tinggal Serumah dengan Penderita TB Paru Step Persepsi Kerentanan 2,739 0,002 15,478 Keseriusan 3,218 0,000 24,966 Manfaat 0,785 0,279 2,192 Hambatan 1,094 0,137 2,987 Cues to Action 1,601 0,028 Constant -14,857 0,000 0,000 Kerentanan 2,979 0,000 19,671 Keseriusan 3,284 0,000 26,669 Hambatan 1,122 0,124 3,072 Cues to Action 1,731 0,015 5,639 Constant -14,287 0,000 0,000 Kerentanan 2,740 0,001 15,485 Keseriusan 3,225 0,000 25,144 Cues to Action 1,730 0,014 5,639 Constant -11,910 0,000 0,000 Berdasarkan tabel 5, diperlihatkan bahwa dari semua variabel yang lolos seleksi dalam tahap uji multivariat, hanya persepsi kerentanan, keseriusan, dan cues to action yang memiliki p value kurang dari 0,05 . value < 0,. Oleh karena itu, variabel-variabel yang terdapat dalam tahap 3 merupakan model akhir dari analisis multivariat. Dari lima variabel independen yang diuji, ternyata hanya ada tiga variabel yaitu persepsi kerentanan, keseriusan dan cues to action yang memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku pencegahan TB Paru pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari ketiga variabel tersebut, persepsi keseriusan memiliki Odd Ratio terbesar (OR=25,. , artinya seseorang yang memiliki persepsi serius terhadap penyakit TB Paru memiliki peluang sebesar 25,144 kali lebih tinggi untuk berprilaku baik dalam pencegahan TB Paru dibandingkan dengan seseorang yang memiliki PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 persepsi tidak serius. Hal ini menunjukan bahwa persepsi keseriusan adalah variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap perilaku pencegahan TB Paru pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru di Kecamatan Terisi. PEMBAHASAN Pengaruh Persepsi Kerentanan Terhadap Perilaku Pencegahan TB Paru Perceived susceptibility atau kerentanan yang dirasakan adalah aspek yang Seseorang merasa dirinya rentan terhadap penyakit-penyakit yang dianggap serius, hal ini akan mendorong mereka untuk mengambil tindakan tertentu sebagai respons untuk mencegah atau mengurangi risiko tersebut. Sejalan dengan penelitian Juliati . yang menyatakan bahwa ada pengaruh antara persepsi kerentanan dengan perilaku pencegahan TB Paru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh antara persepsi kerentanan dengan perilaku pencegahan TB Paru pada keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru dapat memiliki pengaruh signifikan terhadap bagaimana keluarga mengambil tindakan pencegahan. Responden yang memiliki persepsi kerentanan yang tinggi, mereka cenderung menyadari dan memahami risiko tinggal serumah dengan penderita TB Paru. Persepsi kerentanan yang tinggi dapat menjadi faktor pendorong bagi keluarga untuk meningkatkan perilaku pencegahan dalam upaya melindungi diri mereka sendiri dan orang lain dari penularan TB Paru. Mereka mungkin lebih cenderung menerapkan langkah-langkah pencegahan seperti menggunakan masker saat berinteraksi dengan penderita TB Paru, menjaga pola makanan yang seimbang, menghindari kontak dekat dengan penderita TB Paru, dan rutin melakukan aktivitas fisik selama 30 menit setiap PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 Pengaruh Persepsi Keseriusan terhadap Perilaku Pencegahan TB Paru Perceived Severity atau keseriusan yang dirasa adalah pandangan seseorang terhadap tingkat keseriusan suatu penyakit, yang mencakup konsekuensi klinis dan medis seperti kematian, cacat, dan kondisi sakit, serta konsekuensi sosial yang dapat mempengaruhi pekerjaan, kehidupan keluarga, dan interaksi sosial. Tindakan individu untuk melakukan pengobatan dan pencegahan penyakit akan didorong oleh tingkat keseriusan penyakit tersebut terhadap individu atau masyarakat. Semakin individu atau masyarakat menyadari tingkat keseriusan suatu penyakit, semakin besar kemungkinan mereka akan termotivasi untuk mengambil langkah-langkah pencegahan atau pengobatan guna mengurangi risiko dan dampak negatif dari penyakit tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian Ali . yang menyatakan bahwa ada hubungan antara persepsi keseriusan dengan perilaku pencegahan TB Paru. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru sebagian besar memiliki persepsi keseriusan yang tinggi terhadap perilaku pencegahan TB Paru. Persepsi keseriusan ini muncul karena kesadaran responden akan bahayanya penyakit TB Paru, sehingga menjadi penting bagi mereka untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit tersebut. Responden menyadari bahwa jika tidak melakukan pencegahan dapat mengakibatkan risiko penularan penyakit ke orang-orang di sekitar mereka, serta menganggap penyakit TB Paru memiliki masa penyembuhan yang Pengaruh Persepsi Manfaat terhadap Perilaku Pencegahan TB Paru Manfaat adalah kepercayaan seseorang terhadap keuntungan atau manfaat dari perilaku atau tindakan yang dilakukannya. Kepercayaan mengenai manfaat atau manfaat yang dirasakan merupakan keyakinan tentang fitur positif atau keuntungan dari tindakan yang direkomendasikan untuk mengurangi ancaman. Hasil ini sejalan dengan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 penelitian Ali . yang menyatakan bahwa ada hubungan antara persepsi manfaat dengan perilaku pencegahan TB Paru. Namun hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Juliati . yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara persepsi manfaat dengan perilaku pencegahan TB Paru. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya keraguan atau kurangnya perhatian terhadap manfaat dari upaya pencegahan tersebut oleh responden. Akibatnya, mereka cenderung kurang untuk melaksanakan perilaku pencegahan, seperti melakukan aktivitas fisik atau mengonsumsi sayuran setiap hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian responden merasakan manfaat dari melakukan aktivitas fisik, sehingga mereka berkomitmen untuk melakukan aktivitas fisik selama 30 menit setiap hari. Persepsi mereka mengenai pentingnya perilaku pencegahan TB Paru menjadi faktor pendorong untuk melakukannya, karena mereka menyadari bahwa tindakan pencegahan dapat bermanfaat dalam mengurangi risiko terkena penyakit TB Paru di masa depan. Selain itu, mereka juga merasakan manfaat dari perilaku pencegahan ini, yaitu menyadari bahwa dengan melakukan tindakan pencegahan, mereka dapat melindungi keluarga dan orang-orang di sekitar mereka dari potensi penularan penyakit. Beberapa upaya yang mereka lakukan untuk mencegah penyakit TB Paru meliputi menjaga pola makan yang seimbang, seperti nasi, lauk, dan sayuran, sebagai bagian dari usaha menjaga kesehatan keluarga. Pengaruh Persepsi Hambatan terhadap Perilaku Pencegahan TB Paru Persepsi hambatan merupakan aspek negatif pada individu yang dapat menghalangi mereka untuk mengadopsi perilaku yang sehat. Keberadaan hambatan tersebut dapat menghambat terjadinya tindakan atau keterlibatan selanjutnya dalam perilaku yang diinginkan, sehingga perubahan perilaku menjadi sulit dilakukan. Beberapa hambatan yang PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 mungkin terjadi saat mengambil tindakan adalah merasa kesulitan, masalah biaya, risiko bahaya dan ketidaknyamanan. Hasil ini sejalan dengan penelitian Ali . yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh persepsi hambatan terhadap perilaku pencegahan TB Paru. Faktanya, sebagian besar responden dalam penelitian ini yang memiliki persepsi tanpa hambatan juga menunjukkan perilaku pencegahan yang kurang baik. Hambatan dalam penelitian ini diantaranya adalah merasa boros karena harus selalu membeli masker, serta sering merasa kerepotan karena harus tidur terpisah dengan anggota keluarga yang menderita TB Paru. Namun, hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Juliati . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara persepsi manfaat terhadap perilaku pencegahan TB Paru. Hal ini mengindikasikan bahwa hambatan yang dirasakan oleh individu mempengaruhi perilaku pencegahan TB Paru. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar responden yang merasakan hambatan saat melakukan perilaku pencegahan TB Paru menunjukan perilaku pencegahan yang baik. Mereka menyadari pentingnya melakukan tindakan pencegahan ini dan merasa bahwa upaya pencegahan tersebut akan mengurangi risiko tertular penyakit TB Paru, sehingga mereka mengupayakan untuk melakukan pencegahan TB Paru seperti melakukan aktivitas fisik, membuka jendela dan pintu rumah setiap pagi agar memberikan sirkulasi udara yang baik dan membiarkan cahaya masuk kedalam ruangan. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa hambatan-hambatan yang ada ketika melakukan pencegahan TB Paru tidak memiliki pengaruh terhadap perilaku pencegahan baik maupun kurang baik. Meskipun beberapa responden menghadapi hambatan dalam melakukan tindakan pencegahan, ada juga yang tetap melaksanakan perilaku pencegahan dengan baik meskipun menghadapi hambatan-hambatan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kendala, faktor-faktor lain seperti persepsi manfaat yang kuat, kesadaran akan risiko, atau dukungan sosial dapat lebih dominan dalam PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 mempengaruhi perilaku pencegahan TB Paru pada keluarga yang tinggal serumah dengan Pengaruh Cues to Action terhadap perilaku pencegahan TB Paru Cues to action adalah berbagai dorongan yang mempengaruhi individu untuk mengambil tindakan tertentu, yang berasal dari faktor internal seperti gejala fisik yang dirasakan, maupun faktor eksternal seperti kampanye, media massa, saran, atau dukungan dari orang lain. Dalam penelitian ini, cues to action yang diteliti berasal dari faktor eksternal, yang mencakup media informasi seperti televisi dan media sosial, dukungan keluarga, serta dukungan dari petugas kesehatan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Nurhayati . berjudul yang menyatakan bahwa ada pengaruh persepsi Cues to action terhadap perilaku pencegahan TB Paru. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar responden yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru merasa bahwa informasi dari media sosial tidak berpengaruh pada perilaku pencegahan TB Paru. Mereka cenderung lebih mencari informasi dari sumber-sumber yang dianggap lebih terpercaya dan resmi, seperti petugas Faktor ini diperkuat karena adanya dukungan dari petugas kesehatan yang memberikan edukasi, layanan konsultasi rutin, serta menjadi pengawas minum obat bagi penderita TB Paru. Selain itu, dukungan keluarga juga menjadi faktor pendorong yang dapat membantu mereka dalam menjalankan perilaku pencegahan TB Paru. Dukungan keluarga dapat meningkatkan motivasi dan membuat mereka untuk saling mengingatkan satu sama lain dalam melakukan tindakan pencegahan TB Paru. Variabel Dominan yang Paling Berpengaruh pada Perilaku Pencegahan Penyakit TB Paru Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Juliati . yang menyatakan bahwa variabel yang paling dominan yaitu persepsi kerentanan dengan nilai PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 OR =0,773. Hal ini kemungkinan disebabkan karena individu yang merasa rentan terhadap suatu penyakit cenderung memiliki keinginan dan dorongan lebih besar untuk menghindari risiko tersebut. Dengan demikian, persepsi kerentanan dalam penelitian ini berperan sebagai pendorong bagi individu dalam mengadopsi perilaku pencegahan yang lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa variabel persepsi keseriusan menjadi yang paling dominan dikarenakan mereka sadar akan keseriusan dan dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh penyakit TB Paru. Sehingga, mereka merasa bahwa mencegah penyakit TB Paru sangat penting untuk melindungi diri dan keluarga. Karena mereka meyakini bahwa penyakit TB Paru merupakan penyakit yang berat dan serius. Selain itu, meskipun persepsi kerentanan, persepsi manfaat, dan persepsi hambatan dan cues to action merupakan komponen penting dalam HBM, namun persepsi keseriusan menjadi faktor dominan dalam melakukan tindakan pencegahan TB Paru karena menggambarkan keparahan suatu penyakit terhadap kondisi kesehatan. KESIMPULAN DAN SARAN Sebagian besar keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Terisi memiliki persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, tidak ada hambatan, ada dukungan dalam pencegahan penyakit TB Paru. Ada pengaruh antara persepsi kerentanan keseriusan, manfaat dan cues to action terhadap perilaku pencegahan TB Paru, serta tidak ada pengaruh persepsi hambatan terhadap perilaku pencegahan TB Paru. Diharapkan bisa menjadi infromasi untuk meningkatkan program edukasi kesehatan tentang TB Paru dan perilaku pencegahannya, khususnya bagi keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB Paru. Serta diharapkan dapat membentuk kader yang memiliki komitmen untuk terlibat dalam upaya pencegahan TB Paru. Sebagai bahan pertimbangan bagi dinas kesehatan untuk mengambil kebijakan dalam meningkatkan PREVENTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT VOLUME 15 NOMOR 1 kualitas pelayanan kesehatan sebagai upaya penanggulangan dan pencegahan penularan TB Paru. Dinas kesehatan dapat bekerja sama dengan komunitas untuk menyebarkan informasi, memberikan edukasi, dan melaksanakan kegiatan bersama. DAFTAR PUSTAKA