Jurnal Seni Budaya RINGGIT GUPERMEN. ENCIK DAN CINA KERATON YOGYAKARTA MASA SULTAN HAMENGKU BUWANA V Supriyanto Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta Abstract In Yogyakarta Palace during The Sultan Hamengku Buwono V . , there was an interesting phenomenon around the formation of dancers classification of wayang wong as human actors that replaced the role of puppets. Giving the name to group dancers above look like giving level of social stratification by race in the administrative law of foreign residents in the Sultan Palace. The first class is called Ringgit Gupermen, where there is the best dancers. The second calss is Encik Ringgit which is the middle class dancers. While the last class is Ringgit Chinese as a novice dancers. Class consciousness of Wayang wong dancers on such condition, has a dual tendency at the time of Sultan Hamengku Buwono V. On one hand the class is a bureaucratic framework in political mainstream devices, while on the other hand is a frame work class artistic, cultural tendency in the devices. In the pursuit of political tendency, class dancers into structural balance, the balance of class dancers into civilization. Key words : Ringgit Gupermen. Encik. China Pengantar Keraton Yogyakarta salah satu sumber budaya Jawa yang hingga kini masih tampak dipakai sebagai panutan oleh masyarakat dalam berbagai lapisan, hal ini tercermin dalam gaya seni budaya yang diciptanya. Keraton Yogyakarta secara khas berbeda dengan gaya Keraton Surakarta dan keraton lainnya. Kekhasan seni budaya tersebut antara lain dapat dijumpai dalam gaya seni pakaian, seni tari, seni musik/gamelan, seni pedalangan/pewayangan, bahasa . ahasa bagonga. seni arsitektur, tata ruang dan seni sastra (Joko Suryo, 2004: . Gaya seni budaya ini menandakan keraton Yogyakarta memiliki keistimewaan yang patut dijaga dan dikembangkan. Selanjutnya unsur budaya yang masih melekat antara lain adanya religi, adat-istiadat, etika, estetika, tingkah laku, pendidikan dan kesenian. Beberapa bentuk tari tradisi gaya Yogyakarta, yang sampai dewasa ini mendapat pemeliharaan cukup baik di lingkungan istana maupun di luar istana Yogyakarta adalah wayang wong gaya Yogyakarta. Bentuk penyajian yang lain dapat disebut antara lain beksan Lawung. Guntur Segara. Eteng, beberapa genre Bedaya dan Srimpi. Hampir semua jenis penyajian di atas merupakan cabang-cabang seni pertunjukan yang hidup dan berkembang di lingkungan istana Yogyakarta (Edi Sedyawati, 1981:. Lingkungan istana merupakan salah satu faktor yang cukup kuat untuk mempengaruhi bentuk-bentuk keseniannya. Oleh sebab itu, keberadaan kesenian dan perkembangan selalu terikat adat dan norma-norma dari lingkungan istana itu sendiri. Hal itulah yang menjadikan tari tradisi istana selalu dipegang kuat, baik dalam penggarapan pola-pola tari yang lahir kemudian di lingkungan istana maupun bentuk-bentuk tari yang lahir di luar istana tetapi mengacu pada gaya istana. Perumusannya menjadi begitu melekat dengan pola-pola baku yang mendasari struktur dan bentuk gerak yang berorientasi pada ciri-ciri kraton sentris (R. Wisnoe Wardhana, 1981:. Di istana Yogyakarta pada masa Sultan Hamengkubuwana V . terdapat fenomena menarik di sekitar pembentukan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Supriyanto : Ringgit Gupermen. Encik dan Cina Keraton Yogyakarta Masa Sultan Hamengku Buwana V klasifikasi penari Wayang Wong sebagai aktor manusia yang dapat menggantikan peran boneka wayang. Penamaan terhadap kelompokkelompok yang disebut sebagai kelas penari menyerupai tingkatan stratifikasi sosial menurut ras dalam Hukum Administrasi penduduk asing di wilayah kerajaan Sultan. Kelas pertama disebur ringgit gupermen, tempat penari-penari Kelas kedua dinamakan sebagai ringgit encik, yakni para penari kelas menengah. Sementara itu kelas terakhir adalah ringgit cina, tempat penari pemula. Dari latar belakang penamaan ketiga kelas penari ini, sangat dimungkinkan adanya pengaruh stratifikasi sosial penduduk asing yang tinggal di wilayah kerajaan. Akibat penetrasi sosial politik kolonial yang berlangsung di istana, mempengarui ide Sultan dalam menyerap sistem pengetahuan yang ditransformasikan ke dalam simbol-simbol kelembagaan kelas penari. Keadaan ini diperkuat adanya alasan ide permintaan yang terjadi memaksa Sultan memberanikan diri dalam membentuk imbangan kelembagaan dalam bentuk sindiran. Walau demikian, cara ini juga mengenal adanya kenaikan kelas, dari kelas penari yang lebih rendah berpindah ke kelas penari di atasnya. Perbedaan kelas yang satu dengan kelas yang lain ditentukan melalui tingkatan kemampuan teknik dan lamanya berinteraksi dalam pemahaman artistik, selama berada di kelas Sementara itu kesaman-kesamaan dalam satu kelas penari ditentukan oleh kesadaran kelas, class consciousness. Secara sosiologi, kesadaran kelas dapat berupa otomatis karena keahlian dan dapat berupa perjuangan untuk suatu tujuan bersama. Oleh karena itu, di dalam kesadaran kelas terkait dengan orientasi simbol status. Bagi kelas bangsawan hal ini tidaklah menjadi masalah, karena kesadaran diterima secara otomatis. Lain halnya bila itu terjadi pada kelas birokrat atau priyayi. Pada kesadaran kelas mereka orientasi simbol status mereka akan melekat dengan setiap kenaikan kelas diatasnya. Dengan demikian, meski telah ditentukan adanya tingkatan teknis menari, masih diperlukan pula persyaratan jenjang birokratis, yakni simbol Pada sifat yang demikian, maka keberadaan kelas penari Wayang Wong di zaman Hamengkubuwana V . mempunyai tendensi ganda. Di satu sisi, kelas merupakan kerangka birokratis dalam piranti tendensi politis, sedang di sisi yang lain, kelas merupakan sebuah kerangka artistik, dalam piranti tendensi kultural. Dalam suatu pengajaran tendensi politis maka kelas menjadi imbangan struktural, sedangkan pada suatu pengajaran tendensi kultural, maka kelas penari menjadi imbangan silvilisasi. Pengkajian terhadap kehidupan seni tari di Istana Yogyakarta tidak mungkin terlepas dari kehidupan sosial budaya masyarakat istana itu Hal ini tentu pula diperkuat dengan adanya masa pemerintahan Sultan yang sedang Suatu pembicaraan seputar dramatari Wayang Wong gaya Yogyakarta, maka secara nyata akan selalu terkait dengan masa pemerintahan setiap Sultan yang Salah satu Sultan yang menaruh perhatian besar terhadap dramatari Wayang Wong adalah Sultan Hamengku Buwana V yang memerintah tahun 1823 sampai 1855. Dalam sejarah Istana Yogyakarta selama pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V, telah banyak terjadi peristiwa-peristiwa berupa intrik politik. Pada situasi yang demikian, mengherankan justru perhatian Sultan HB V terhadap tradisi seni pertunjukan Wayang Wong dimasa itu sangatlah luar biasa. Salah satu bukti adanya data pertunjukan Wayang wong pada masa itu tak kurang dari lima judul lakon yaitu. Lakon Pragulamurti Lakon Petruk Dadi Ratu Lakon Angkawijawa Krama Lakon Jaya Semedi Lakon Pregiwa-Pregiwati (G. P,H. Soeryobrongto,dalam Fred wibawa,1. Hal ini membuktikan, bahwa selama masa pemerintahannya Sultan Hamengku Buwana V tergolong produktif dalam menciptakan beberapa lakon Wayang Wong. Apabila dilihat dari kelima judul tersebut empat lakon diantaranya merupakan judul baru, artinya belum pernah dipergelarkan dimasa Sultan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya Ternyata Sultan Hamengku Buwana V tidak hanya sebatas pada produktivitas saja dalam mengubah lakon Wayang Wong. Hal ini dinyatan oleh G. P,H. Soeryobrongto dalam Menurutnya dikatakan, bahwa perhatian Sultan Hamengku Buwana V yang begitu besar pada pertunjukan Wayang Wong, telah mendorongnya untuk membentuk golongan penari Wayang Wong menjadi tiga bagian yaitu: Ringgit Gupermen. Ringgit Encik. Ringgit Cina (G. Soeryobrongto,1. Ketiga kelompok penari Wayang Wong tersebut mengadakan latihan dan pementasan ditiga tempat yang berbeda. Secara lebih jauh diterangkan, bahwa dasar perbedaan dari ketiga kelompok penari itu ditekankan pada kemampuan teknik menari. Pengelompokan penari Wayang Wong menjadi tiga golongan penari begitu menarik, dikarenakan pada saat itu Hamengku Buwana V telah merumuskan suatu tipe di istananya. Sampai saat ini tiga tempat yang menjadi base camp atau tempat training centre bagi ketiga kelompok penari diatas masih dapat dijumpai Bangsal Kencana. Bangsal Sri Manganti, dan Bangsal Kemagangan. Hanya agak disayangkan apabila dalam fungsinya sebagai pusat kegiatan seni pertunjukan Istana, di Bangsal Kemagangan sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat pergelaran tari atau Wayang Wong. Di Bangsal Kencana juga sudah tidak digunakan sebagai tempat pertunjukan Wayang Wong, tetapi tempat ini masih sering digunakan untuk pentas Bedaya dalam rangka Ritual Keraton atau dalam menjamu tamu Ae tamu penting Sultan. Bangsal Sri Manganti sekarang digunakan sebagai tempat pergelaran seni wisata setiap hari Minggu dari jam 10. 30 sampai 00, selain itu juga sebagai tempat pertunjukan untuk menjamu tamu Sultan. Suatu pandangan terhadap penyebutan tiga kelompok penari Wayang Wong pada masa itu pernah diuraikan oleh Soedarsono. Dalam asumsinya dinyatakan, bahwa kemungkinan besar ketiga kelompok penari diatas mempergelarkan Wayang Wong untuk kepentingan golongan masyarakat yang menjadi sebutan golongannya. Kiranya pencermatan yang dilakukan oleh Soedarsosno ini kurang menekankan pada perhatian khusus terhadap ketiga golongan penari yang diberikan sebutan AukelasAy (Soedarsono. 1984: . Pandangan lain berasal dari Jennifer Lindsay yang lebih terpengaruh oleh Soedarsono dalam melihat kondisi stratifikasi sosial penduduk Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Dengan demikian menurut Lindsay. Ringgit Cina seperti orang Cina berada di strata yang paling bawah. Ringgit Encik berada di bagian tengah, seperti penduduk golongan Timur Asing, dan Ringgit Gupermen seperti halnya orang-orang Belanda dan penduduk Eropa yang berada di strata paling Tempat latihan dan pertunjukan Ringgit Ecik di Bangsal Sri Manganti. Ringgit Gupermen bertempat di Bangsal Kencana, dan Ringgit Cina di bertempat di Bangsal Kemagangan ( Lindsay, 1991: . Dari beberapa uraian di atas, kiranya kurang dicermati f aktor-faktor, maupun pengaruh-pengaruh yang mungkin menjadi pendorong pembentukan kelas penari Wayang Wong pada masa Sultan Hamengku Buwana Klasifikasi penari sangat memungkingkan memuat tendensi-tendensi tertentu. Sebagai acuan bentuk kelembagaan kelas penari, hal ini semakin mendorong keinginan tahu untuk mencermati perbedaan kelas penari menurut tendensi-tendensi tertentu. Hal ini juga memperbesar minat untuk mengkaji tentang fenomena kelembagaan kelas penari dimasa lalu yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor Disamping itu, bahwa fenomena klasifikasi penari Istana dimasa Hamengku Buwana V dapat kelembagaan dilihat dalam konteks yang modern dan canggih. Kelas Penari Wayang Wong Pengaruh Faktor Sosial Pada masa Hamengku Buwana V telah ada pembagian kelas penari Wayang Wong di Istana Yogyakarta, yang dibedakan menurut teknik menari. Bukan suatu kebetulan, jika gejala klasifikasi penari menjadi begitu menarik untuk ditelaah dari faktor-faktor yang mendorong terbentuknya kelas penari Wayang Wong. Ada suatu kemungkinan tentang hadirnya kelas penari berkaitan erat dengan kondisi sosial dan politik serta mobilisasi penari secara besarbesaran yang dilakukan oleh Hamengku Buwana V. Hamengku Buwana V seorang yang dibesarkan dalam gonjangan sosial dan politik Volume 11 No. 1 Juli 2013 Supriyanto : Ringgit Gupermen. Encik dan Cina Keraton Yogyakarta Masa Sultan Hamengku Buwana V di Istananya. Sejak kecil ia menaruh minat besar pada kehidupan seni Wayang Wong. Usaha pembagian kelas penari sangat besar kemungkinan dikehendaki sendiri oleh Sultan. Menurut Soeryobrongto para penari Wayang Wong dibedakan dalam 3 golongan atau klasifikasi yaitu ringgit Gupermen. Encik dan Cina. Secara hirarkis ringgit Gupermen merupakan golongan penari utama. Adanya klasifikasi tersebut menunjukan taraf potensi para penari secara cermat dan cara ini mengenal kenaikan tingkat melalui berpindahnya golongan kelas diatasnya. Penamaan kelas penari menyerupai golongan penduduk . tratifikasi sosia. pada saat itu bukanlah pembagian ras. Pembagian golongan penari Wayang Wong dan perbedaan tempat pertunjukannya mungkin ditimbulkan oleh partisipasi Sultan dan bangsawan tinggi lainnya. Babad Ngayogakarta menjelaskan 3 tempat pertunjukan Wayang Wong sebagai berikut : Au. denya semuan Wayang Wong, ing pura hyang kemagangan, tinampi sripangantya. Ay Suatu tempat yang mempunyai kesamaan dalam sebutan di atas hanya kemagangan, sementara yang dimaksud ing Pura adalah Bangsal Kencana. Sedangkan nama Sri Pangantya adalah Sri Manganti. Telah diketahui pembagian kelas penari Wayang Wong di Istana Yogyakarta sebagai fenomena sosial politik yang terjadi akibat perubahan struktur sosial politik di Istana. Suatu dugaan bahwa kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Istana telah menggeser struktur lama. Sultan sebagai puncak herarki Sudah barang tentu, dengan masuknya unsur-unsur baru . disertai pengaruh peradabannya. Sebuah gejala yang terjadi pada klasifikasi penari Wayang Wong dengan kemungkinan adanya pengaruh akibat beberapa faktor sosial dan politik. Gejala itu menjadi sangat kentara dengan adanya partisipasi langsung dari Sultan dan beberapa pegawai tinggi lainnya, untuk memobilisasi lembaga penari dalam rangka mengejar eksistensi struktur lama meskipun kapasitasnya sangat terbatas. Sebagi pendekatan faktor sosial. Lindsay melihat tingkat kemampuan tehnik menari sebagai dasar aplikasi menurut setifikasi sosial penduduk kasultanan Yogyakarta. Ringgrit gupermen adalah penari-penari Wayang Wong terbaik, ringgit encik penari berkemampuan menengah, sedangkan ringgit cina adalah penari yang kurang mampu (Lindsay. 1991: . Pembagian tersebut menunjukan adanya pengaruh pada indikasi-indikasi stratifikasi sosial penduduk Kasultanan Yogyakarta. Faktor sosial merupakan hal yang prinsip untuk mendukung indikasi adanya fakta sosial yang terjadi di Kasultanan Yogyakarta turut mengilhami setiap penyebutan kelas penari. Dari pandangan itu kemungkinan besar proses pembentukan sistem kelas penari dipengarui oleh sistem stratifikasi sosial. Sistem kelas yaitu kelas sosial sebagai tipe organisasi sosial yang disatukan dan diikat secara agak longgar dengan didasarkan pada kekuasaan yang sama, privileges yang sama dan prestise dari para anggotanya. Konsep kelas mengandung perbedaan dan standar hidup tetapi perbedaan itu tidak mutlak. Suatu cara hidup dapat mempunyai aspek yang patut atau tidak patut, cara hidup tertentu dianggap lebih tinggi dari yang lain karena keuntungan material atau prestise sosial yang dinikmatinya. Pernyataan tersebut dapat diketengahkan sebuah uraian pokok, tentang korelasi antara konsep kelas sosial dengan stratifikasi sosial penduduk Yogyakarta pada masa Hamengku Buwana V, serta pengaruh terhadap penamaan kelas penari Wayang Wong di Istana Yogyakarta. Tanpa mengurangi kejelasan dari maksud posisi kelas penduduk Jawa waktu itu maka perlu diuraikan pula penduduk Jawa mana yang mendapat posisi kelas tersebut. Pertamatama untuk membatasi pengertian rakyat atau Kawula Dalem, perlu dibedakan antara penduduk golongan pribumi yang berada dalam kelas penari dan penduduk dari golongan kelas negara (Kuntawijaya. 1987: . Dalam hubungan tersebut, negara inilah yang menjadi tulang punggung birokrasi patrimonial. Asumsinya adalah hubungan antar keduanya berdasarkan prinsip kepatuhan. Sebagaimana masyarakat tradisional yang ada, maka dalam masyarakat yang bermode upeti kelas negaralah yang mendapat kekuasaan. secara ekonomis pemenuhan kebutuhan kelas negara dapat diusahakan oleh kelas rakyat. Imbalan yang diberikan oleh birokrasi terutama adalah Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya ketertiban, ketentraman masyarakat, dan Kiranya tidak begitu berbeda keadaannya setelah birokrasi kelas negara dikuasai oleh pemerintah kolonial . Secara inklusip pemenuhan kebuhan kelas negara menjadi pemenuan kebutuhan pemerintah kolonial Belanda. Pada masa pemerintahan Hamengku Buwana V hal ini tampak jelas terutama dengan adanya pergeseran pergeseran kedudukan struktur lama, antara lain . Sultan. Para Pangeran. Bangsawan. Pejabat-pejabat Istana, dan perpanjangan kekuasaan di tingkat kabupan sampai di desa-desa, bertambah peranan dengan adanya kontak politik yang melibatkan birokrasi kolonial dan birokrasi kelas negara di Istana. Suatu pendekatan politik akan lebih memperjelas pengaruh yang diakibatkan dari adanya kontak tersebut diatas. Pengaruh Faktor Politik Salah satu faktor terpenting dalam pembentukan kelas sosial pada zaman Hamengku Buwana V adalah pengaruh penetrasi kolonial Belanda ke dalam kehidupan Istana. Sudah barang tentu turut masuk pula warna peradapan barat yang dibawa oleh Gupermen, dan ternyata mampu menumbuhkan pola-pola interaksi diantara penghuni Istana. Penghuni Istana yang melakukan interaksi dalam segala hal aspek kehidupan adalah raja yang berkedudukan paling atas, dibawahnya terdapat kelas bangsawan, dan dibawahnya lagi ada kelas priyayi yang jumlahnya lebih besar dari pada kelas diatasnya (Suratman, 1988: 3 ). Priyayi disini adalah para pegawai Istana, hal ini sama yang dikatakan oleh Sartono Kartadirja, bahwa priyayi adalah mereka yang bekerja di Istana dan abdi dalem. Namun demikian dikatakan pula keluarga dan kerabat raja juga disebut priyayi. Untuk membedakannya priyayi keluarga atau kerabat raja disebut dengan priyayi luhur, sedangkan yang lain disebut priyayi saja atau priyayi cilik. Priyayi luhur sering disebut bendara, tetapi dalam kehidupan sehari-hari sebutan bendara itu hanya dipakai oleh mereka yang menjadi abdi langsung dari bendara itu (Sartono Kartadirjo. 1987: 11 ). Sejalan dengan itu kelas bangsawan dan priyayi merupakan pemegang peranan politik yang berlangsung di Istana. Hal ini berkenaan dengan status mereka yang sangat vital, terutama bentuk-bentuk spesifik dari kekuatan politik, privileges, dan prestise mereka. Kenyataan menunjukan, bahwa pengaruh penetrasi kolonial Belanda telah menyentuh bentuk hubungan simbolis yang diadaptasikan dalam bentuk simbol status kelas bangsawan dan kelas priyayi melalui gelar militer. Contoh Pangeran Adipati Mangkubumi adik Sultan HB V diberi gelar Letnan Kolonel, dan Tumenggung W iranegara dengan gelar Mayor (Babad Ngayogyakarta vol i : 40 ). Berkenaan pendekatan politik perlu diketahui adanya kontak budaya barat dan budaya timur yang berlangsung lebih kuat dari masa sebelumnya. Keadaan ini menyerupai kondisi Istana Surakarta, namun secara politik lebih parah dibandingkan Istana Surakarta, karena samapai dengan berakhirnya perang jawa tahun 1830. Pernyataan ini didukung dengan tidak berfungsinya Dewan Perwakilan hasil bentukan Gupermen yang semula diharapkan dapat menjalankan ketataprajaan di Kasultanan Yogyakarta. Keadaan ini diperkeruh dengan tampilnya dua sosok birokrat dari kelas priyayi yaitu. Patih Danureja dan Mayor Wiranegara (Babad Ngayogyakarta Vol II . 50 Ae 60 ). Sultan Hamengku Buwana V sejak kecil sangat akrab dengan kerunyama-kerunyaman politik yang terjadi di Istana Yogyakarta. Sejalan dengan itu perlu diketengahkan tahap-tahap kehidupan Hamengku Buwana V dalam menghadapai setiap peristiwa politik yang terjadin di Istananya. Dengan membicarakan setiap intrik politik di Istana selalu terkait dengan kehidupan Sultan Hamengku Buwana V. Sehingga bagaimana Hamengku Buwana V menyerap sistem pengetahuan yang didapat dari kontak kebudayaan barat dan timur mampu menciptakan kesadaran bekerja memperbaiki keadaan dengan disertai keberanian dan harapan baru. Akibat kontak kebudayaan ini menjadikan inovasi dalam menciptakan imbangan struktural dan imbangan peradapan . yang terwujud melalui sistem kelas penari Wayang Wong. Hali ini menunjukan indikasi adanya pembentukan kelas penari dapat ditelusuri dari figur sentral Hamengku Buwana Setelah lepas dari perwalian dan memegang kewenangan penuh atas dirinya, dan segala Volume 11 No. 1 Juli 2013 Supriyanto : Ringgit Gupermen. Encik dan Cina Keraton Yogyakarta Masa Sultan Hamengku Buwana V keputusan yang bersifat politis, maka dalam diri Hamengku Buwana V timbul suatu kesadaran dan keberanian yang kadang-kadang bersikap Salah satu keputusannya dalam mengambil peranan sebagai imbangan eksistensi struktur baru . olitik kolonia. yang berlangsung di Istana. Peranan ini dilakukan dengan tindakan naif dan sangat benci dengan pemerintahan kolonial Belanda. Tidak jarang pula tindakan-tindakan HB V sering mencerminkan sistem pengetahuan yang diadaptasikannya, sehingga tidakan Sultan Merupakan Sindiran terhadap kolonial. Hal tersebut kiranya ada kekecewaan diri Sultan dengan kolonial, yang dikomunikasikan dengan adiknya Pangeran Mangkubumi. Kebiasaan Sultan membuat suasana sindiran baik dalam karya seni, sastra, maupun pembentukan lembaga Istana, dapat diartikan sebagai usaha yang didasari kesadaran dan keberanian mereflesikan kondisikondisi sosial politik. Pada konteks pendekatan politik pencermatan terhadap segala tindakan Hamengku Buwana V tidak cukup dalam batasan kontrovesial saja, sebenarnya tindakan tersebut merupakan titik awal keberanian Sultan dalam mengambil suatu resiko sebagai puncak herarkie status di Istana. Hamengku Buwana V sangat menyadari bahwa secara politis, kekuasaan lama (Istan. telah dimasuki kekuasaan gupermen. Kesadaran sebagai puncak herarkhie strutur primordial, turut membimbing Sultan untuk tidak mengakui kekuasan politik gupermen. Perumusannya sangat kental dengan keinginannya membuat imbangan yang berorientasi pada aspek politik. Salah satu tekanan politik yang nyata dapat dilihat dari praktek-praktek birokrasi Istana. Paksaan yang dipakai untuk membetuk . negara, untuk menghancurkan, atau menyudutkan lawannya, tidak dapat diterapkan pada masyarakat sederhana. Hal ini karena simbolis yang bertujuan untuk mengatur dan membedakan (Suratman. Pemerintah kolonial sepertinya ingin mengikat seluruh jaringan sosial politik yang berkaitan dengan praktek-praktek birokrasi Istana. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para pegawai istana . rang Jaw. dan kepatihan yang institusional berada dalam otoritas praktek birokrasi kolonial disebut juga orang-orang Hal ini semakin memperjelas indikasi, bahwa secara strutural, eksistensi struktur lama . berada disalah satu jaringan birokrasi struktur kolonial. Orientasi terhadap sutau simbol dianggap paling tinggi adalah orang gupermen. Mereka dianggap sebagai elit birokrasi/elit politik menurut pandangan orang jawa pada saat itu. Sangat relevan dengan hal itu, orang Jawa juga membedakan orientasi status sebagai imbangan status simbol berdasarkan kelahiran. Oleh sebab itu status yang terakhir ini dianggap lebih tinggi dari status yang dicapai melalui perpanjangan (Darsiti Suratman . 1998 : . Dan ternyata pandangan seperti ini tidak berlaku Bagaimanapun juga, setiap orang yang dapat memenuhi kepentingan politik gupermen dapat induksi status paling tinggi. Namun begitu, apakah akibat-akibat orientasi status itu akan selalu bersifat negatif, kiranya perlu pengajian lebuh seksama. Salah satu akibat yang timbul dari gangguan sosial politik pada masa pemerintahan Hamengku Buwana V ialah adanya pembentukan sistem simbol dalam hubungan dengan orientasi status. Perwujudan yang paling tampak adalah dengan munculnya sebuah miniatur dari status simbol yang dimanifestasikan dalam pembagian kelas penari Wayang Wong di Istana Yogyakarta. Hal ini hanya mungkin terlaksana karena lembaga penari berada diluar pengaruh praktek birokrasi Paling tidak di Istana ada empat lembaga yang steril dari pengaruh praktek birokrasi kolonial, yakni: abdi dalem punakawan, abdi dalem bedaya, lembaga penari, dan lembaga pujangga. Tidak adanya pengaruh pada lembaga tersebut sangat memungkinkan Sultan Suatu analogi bentuk dari perlawanan politik, mungkin dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan Sultan dalam mengendalikan lembaga tersebut. Perlawanan itu dalam bentuk rekayasa kelembagaan seni budaya yang diadaptasikan dalam pertahanan moral politik, sebagai esensi lembaga struktural. Suatu korelasi tentang keadaan yang terjadi dalam kelembagaan yang dikendalikan oleh Sultan dengan keberanian sikap melawan secara Tidak semua akibat dari menyempitnya kekuasaan. Sultan harus melarikan diri dari kenyataan, tetapi dengan keterbatasan teknis Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya Sultan berhasil menyerap sistem pengetahuan yang didapat dari kontak budaya dengan kolonial, mempolitisasi lembaga penari dalam simbol Simbol status kelembagaan ini dijadikan sejajar sebagai metode pemerintah kolonial untuk mempengaruhi birokrasi. Bentuk pertahanan moral politik yang menjadi esensi imbangan struktural. Dengan demikian dapat dipertegas, bahwa pembagian kelas penari Wayang Wong pada waktu itu, bertendensi ganda. Disatu sisi merupakan simbol kelas bersifat politis, dan menjadi esensi bagi imbangan struktural, karena merupakan sebuah sindiran kelembagaan bagi Disisi lain sebagai kerangka artistik karena masing-masing kelas penari ditentukan kualitas estetiknya, dan menjadi esensi bagi imbangan sivilisasi, karena mempunyai perbedaan dengan kelas lainnya namun juga kesamaan dalam satu kelas. Berkenaan dengan kerangka artistik pula. Soeryobrongto lebih tegas menambahkan kemungkinan naiknya seorang dari satu kelas ke kelas diatasnya berdasarkan kemampuan kualitas estetiknya. Dengan demikian kualitas estetik sebuah kelas penari zaman Hamengku Buwana V sudah ditentukan melalui kemampuan teknik menari, yang memungkinkan berpindahnya seseorang ke kelas di atasnya (Soeryobrongto. 1981: . Sistem Kelas sebagai Simbol Simbol sebagai persyaratan yang secara langsung menunjuk pada nama diri kelas penari Wayang Wong yang ditulis oleh R. Ng. Kartahasmara. Pagelaran Ngayogyakarta tanpa angka tahun, dituturkan sebagai berikut: Kersa dalem milah-milahaken ringgit dados tigang perangan. Ringgit Gupermen menawi semuan ing Tratag Bangsal Kencana. Ringgit Koca utawi Encik menawi semuan ing Bangsal Sri Manganti sisih kilen. Ringgit Cina menawi semuan ing Bangsal Kemagangan (R. Ng. Kartahasmara. (Kehendak Sultan membagi penari Wayang Wong menjadi tiga golongan. Wayang Gupermen mengadakan pertunjukan di Tratag Bangsal Kencana. Wayang Asing mengadakan pertunjukan di Bangsal Sri Manganti sebelah barat. Wayang Cina mengadakan pertunjukan di Bangsal Kemaganga. Membandingan penuturan R. Ng. Kartahasmara dengan pendapat Jennifer Lindsay, maka Ringgit Gupermen adalah penari pemerintahan. R inggit Asing adalah penari Asing, dan Ringgit Cina adalah penari Cina. Penyebutan istilah Ringgit adalah sebagi padanan kata penari diperoleh dari K. Suryataruna, semua penari Wayang Wong Istana Yogyakarta disebut dengan istilah ringgit. Namun demikian diakui pula secara leksikal kata ringgit dalam bahasa Jawa berarti wayang. Pada uraian berikut akan dipaparkan mengenai pencapaian hubungan simbolis sistem kelas penari yang dilandasi kesadaran politik Sultan, untuk memperbaiki kelembagaan Istana. Di dalam konteks artistik, maka teori Nobert Elias tentang tindakan yang kurang dapat menguasi diri merupakan indikasi yang kurang mengenal sivilisasi, ternyata hal ini kurang sesuai diterapkan pada kondisi Istana Yogyakarta di masa Sultan Hamengku Buwana Tindakan-tindakan Sultan ini tidak sematamata cukup dipandang dari segi kontroversial. Kalaupun dianggap begitu, maka sekali lagi bukan merupakan indikasi fenomena diatas, melainkan suatu tindakan dari konskuensi logis, karena resiko ancaman diturunkan dari tahta pernah dilakukan oleh Gupermen (Lindsay. Keberanian Sultan mentransformasikan sistem pengetahuan yang diperoleh dari kontak peradapan dalam pratek birokasi kolonial, direalisasikan dalam simbol kelas penari Wayang Wong Istana Yogyakarta. Oleh karena itu dalam pembicaraan ini kirana sependapat dengan Lindsay berkenaan dengan kerangka artistik. Kiranya tidaklah berlebihan, apabila terjadinya kontak peradapan pada birokrasi istana, para bangsawan lain juga turut terlibat dalam menyerap sistem pengetahuan yang diperoleh dari kontak tersebut. Perumusan terhadap penyerapan sistem pengetahuan itu menjadi sangat kental dengan diperbaikinya suatu tipe organisasi sosial, khususnya golongan penari Wayang Wong, yang dimaksudkan sebagai imbangan sivilisasi menghadapi pengaruh kontak budaya. Volume 11 No. 1 Juli 2013 Supriyanto : Ringgit Gupermen. Encik dan Cina Keraton Yogyakarta Masa Sultan Hamengku Buwana V Dengan demikian pengkajian ini sampai pada suatu pernyataan, bahwa melalui pendekatan sosial, telah tercermati adanya indikasi pembagian golongan penari yang sangat dipengaruhi oleh stratifikasi sosial penduduk Yogyakarta menurut sistem ras. Sementara itu dari pendekatan politik, diketahui adanya kesadaran dan keberanian Sultan Hamengku Buwana V dalam membuat imbangan struktural maupun sivilisasi yang memanfaatkan lembaga seni khususnya penari yang berorientasi simbol status yang bertendensi ganda. KelasAekelas penari sebagai bentuk imbangan sistem merupakan media untuk mencapai hubungan simbolis dalam melahirkan rekayasa silvilisasi. Walau sangat disadari, keadaan ini tidak lebih dari usaha pemulihan moral politik rakyat, kawula dalem, yang mengikuti eksistensi struktur lama . Perlu diingat pula, bahwa masalah sampai atau tidak bentuk hubungan simbolis dari usaha meningkatkan emosi-sugestif tadi, kiranya tidak dapat diperkirakan secara pasti. Terkait dengan pencermatan ini, agaknya mobilisasi penari besar-besaran dapat dijadikan salah satu argumen mengenai usaha Sultan dalam menjalin ikatan emosional lewat hubungan simbolis kelembagaan kelas menari. Kenyataan menunjukan dari sumbersumber pustaka Babad Ngayogyakarta. Serat Babad Momono. Ngayogyakarta pagelaran, ataupun pendapat dari G. H Soeryobrongto, hampir semuanya melihat kedudukan kelembagaan kelas menari sebagai salah satu upaya perbaikan sistem yang terganggu akibat penetrasi politik kepada Sultan. Dengan kata lain, walaupun dalam anggapan nuansa sindiran, upaya tersebut mengandung obsesi monumental yang menempatkan kelas penari pada tendensi ganda. Sebuah perumusan dari kompleksitas tendensi politik dan tendensi artistik . endensi kelembaggan kelas penar. Perbedaan dan Kesamaan Kelas: Suatu Tendensi Kelembaggan Ringgit Gupermen Telah dinyatakan bahwa Ringgit Gupermen adalah sebuah sebutan bagi golongan penari utama dalam pertunjukan Wayang Wong di Istana Yogyakarta. Dari pandangan Soeryobrongto maupun Lindsay ada indikasi terhadap penamaan kelas penari ini korelasinya dengan penamaan steatifikasi sosial menurut ras pada penduduk Kasultanan Yogyakarta. Seperti diketahui orang - orang Jawa berpandangan untuk menempatkan orang orang penduduk Eropa disebut dengan orang Gupermen. Sebagai bentuk imbangan srtuktural pernyataan Lindsay mempunyai korelasi yng lebih dekat dengan orang Jawa dalam memandang suatu elit kelas birokrat. Hal ini dikarenakan elit kelas menurut orang Jawa pada saat itu adalah para pejabat-pejabat istana dan para bangsawan istana yang secara kebetulan masuk dalam elit birokrasi Gupermen Dengan membandingkan elit kelas pada golongan birokrat Gupermen dengan elit kelas penari Ringgit Gupermen, maka dapat dinyatakan bahwa status merupakan oreantasi nilai yang dianggap penting. Hal ini diperkuat dengan tanda-tanda kebesaran status yang telah didapatkan, mampu menambah pretise mereka. Berkenaan dengan orieantasi status, sebuah teori dari Tommars akan dipakai sebagai perangkat analisis. Dinyatakan olehnya ada corporate class consciousness, yang menempatkan status ditentukan oleh kelahiran, serta compeotition class consciousness yang menempatkan suatu status ditentukan dengan usaha suatu persaingan antara individu dalam tujuan yang sama (Tommars. 1964: . Mengingat dwi kesetiaan pada diri pepatih dalem , maka orang-orang Jawa yang bersetatus birokrasi Kepatihan masuk dalam elit kelas Gupermen. Selain itu perlu dicermati pula pendapat dari Siti Suratman, bahwa Istana menganut paham senioritas tetapi status berdasarkan kelahiran dianggap lebih penting dalam penempatannya sebagai elit birokrat Gupermen. Fakta ini turut dimanifestasikan dalam pembagian kelas penari. Sementara itu Soedarsono pernah membuat asumsi, bahwa Ringgit Gupermen merupakan tempat penari-penari pilihan memperoleh status tinggi, hanya mengadakan pentas untuk kepentingan upacara ritual resmi . bagi istana, seperti peringatan ulang tahun Sultan, maupun perkawinan putraputri Sultan (Soedarsono. 1984: . Dikatakan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya pula bahwa penonton Wayang Wong yang penarinya terdiri dari Ringgit Gupermen selain pejabat resmi juga para kawula dalem atau rakyat banyak. Berkaitan dengan itu, maka sebagai imbangan struktural, penamaan serta kedudukan Ringgit Gupermen cenderung mempunyai korelasi lebih dekat dengan orientasi nilai status elit kelas birokrat . angsawan dan priyayi/pegawai istana kepatiha. Menurut pandangan orang Jawa hal ini diperkuat dengan alasan adanya peranan langsung dari Sultan dan pegawai tinggi lainnya. Asumsinya adalah Ringgit Gupermen merupakan kelas penari yang anggotanya terdiri dari para bangsawan tinggi . ara pangeran, pegawai istana maupun pegawai Kepatiha. Hal ini dapat dikatakan kesadaran kelas penari bagi Ringgit Gupermen bersumber pada double consciousnees. Bagi Ringgit Gupermen yang berasal dari bangsawan lebih condong kepada corporate class consciousnees, sedangkan yang berasal dari pegawai tinggi istana/kepatihan . elas priyay. , maka lebih condong pada competitive class Seandainya ada kenaikan kelas penari dari tingkat dibawahnya menuju tingkat diatasnya, misal dari Ringgit Encik naik kelas Ringgit Gupermen, maka hal itu hanya mungkin terjadi pada golongan pegawai istana/kepatihan. Hal ini karena pengejaran status mereka berdasarkan competitive class consciounees, yang menempatkan status diperoleh dari persaingan antar individu dalam tujuan yang Pandangan ini juga menyiratkan adanya imbangan sivilisasi, karena antara simbol status dalam elit kelas birokrat dengan simbol elit kelas Ringgit Gupermen dibuat sedemikian rupa sehingga tampak melekat begitu saja . engikuti perubahan simbol statu. Bagi kelas bangsawan tinggi . ara pangera. telah cukup Sementara itu pada kalangan kelas priyayi, misalnya ia berasal dari kelas penari dibawahnya, maka kenaikan kelas menuju kelas Gupermen harus melalui dua cara pula. jenjang birokratis serta jenjang teknis dan pengalaman menari selama berada di kelas Sangat dimungkinkan jenjang birokratis lebih menguntungkan. Namun demikian ada suatu pengecualian bila terjadi kasus seperti R. Mangkudigdaya, contoh ini bekerja sebagai abdi dalem prajurit dengan pangkat Raden Wedana. Disamping itu ia juga sebagai penari Wayang Wong sampai dengan awal pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VII . 9 Ae 1. Sebagai penari ia hanya diperbolehkan mengikuti pertunjukan Wayang W ong di Bangsal Kemagangan . empat pertunjukan Ringgit Cin. Secara kepangkatan gelar Raden Wedana sudah di anggap tinggi dalam birokrasi istana. Akan tetapi ia sebagai penari termasuk kelas yang paling bawah. Dengan kata lain kemampuan teknis menari tidak mungkin dilihat melekat pada simbol status Hal ini pernah diungkapkan oleh Nuradya Sumbaga, salah seorang cucu dari Mangkudigdaya. Sebenarnya secara birokrasi dengan kepangkatan Raden Wedana ia dapat berada kelas penari Ringgit Gupermen, tetapi secara kemampuan teknis memang ia berada di kelas penari yang paling bawah yaitu berada pada kelas Ringgit Cina yang tempatnya di Bangsal Kemagangan. Ringgit Encik Sebutan bagi golongan penari Wayang Wong istana strata kedua, dinyatakan sebagai Ringgit Encik. Golongan ini mengadakan latihan dan pertunjukan di Sri Manganti. Bangsal sebelah barat. Keterangan ini mengacu pada Babad Ngayogyakarta maupun Ngayugyakarta Pagelaran . ihat Babad Ngayogyakarta vol. 49, lihat juga Ngayugyakarta Pagelaran t. : . Penamaan ini juga mengacu pada korelasinya dengan tingkat statifikasi sosial menurut ras dalam penduduk Kasultanan Yogyakarta, dari pandangan orang Jawa. Dari segi imbangan struktural, maka penamaan kelas penari itu lebih dekat dengan anggapan orang Jawa terhadap seberapa jauh keterlibatan penduduk dari golongan ini memainkan peranan politik dan persaingan internal di istana. Telah diketahui dimuka, bahwa orang-orang encik terutama Arab dan India, kemungkinan besar juga turut mengabdi di istana Sultan sebagai pelayan. Keterangan tentang adanya 38 orang encik yang mengabdi sebagai Abdi Dalem Punakawan Encik di tahun 1909, membuktikan bahwa orang Ae orang dari golongan ini tetap mendapat tempat di dalam istana Sultan (B. H Soerjonegoro. Suatu hal lagi bahwa posisi sosial penduduk golongan encik lebih baik dibandingkan dengan orang Ae orang dari Volume 11 No. 1 Juli 2013 Supriyanto : Ringgit Gupermen. Encik dan Cina Keraton Yogyakarta Masa Sultan Hamengku Buwana V golongan Cina. Untuk itu sangat mungkin pula, jika suatu alasan menempatkan kelas Ringgit Encik sebagai kelas kedua, lebih didasarkan pula dari tidak adanya persepsi negatif dari Sultan. Mengacu pada konsep Tommars sebagai perangkat analisis, maka para penari yang tergabung dalam Ringgit Encik cenderung pada competitive class consciousness. Artinya ada sedikit persaingan dalam mencapai tujuan di kelas yang lebih atas. Hal ini berarti pula, berkaitan dengan imbangan sivilisasi maka proses kenaikan dari ringgit encik ke kelas Ringgit Gupermen berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan birokratis maupun teknis/artistik. Pertimbangan dari jenjang birokratis menempatkan orientasi status pada kepangkatan, sedang pertimbangan dari jenjang teknis/artistik merupakan kemampuan individual dalam menari. Pernyataan ini menjadi antitesis dari anggapan bahwa anggota ringgit encik adalah orang-orang dari golongan penduduk Timur Asing (Arab dan Indi. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa Ringgit Encik sebagai tipe organisasi sosial kelas menari, mempunyai ikatan agak Berkaitan dengan konsep Marvin E. Olsen, maka penelitian ini sependapat dengan salah satu argumentasinya tentang kelas (Olsen. 1975 : . Kenyataan menunjukan, ada dua pertimbangan untuk berpindah kelas dari Ringgit Encik ke kelas Ringgit Gupermen. Atas pertimbangan itu maka bagi anggota Ringgit Encik yang secara kebetulan adalah pegawai istana/kepatihan, untuk berpindah ke kelas diatasnya dapat menyesuaikan dengan perubahan simbol statusnya dalam jenjang Satu manivestasi dari bentuk imbangan struktural. Sementara itu bagi Ringgit Encik, jika ia bukan seorang abdi dalem, maka kemampuan tehnik mereka sebagai syarat untuk menjadi anggota kelas Ringgit Gupermen. Namun demikian perlu disadari, bahwa seorang penari biasanya juga seorang abdi dalem Oleh karena itu akan sedikit diungkapkan seputar acuan yang berasal dari Arnold Hauser: Artistic productivity and receptivity it is true closely linked with the existence of privileged strata but artistic ability and social privileges are not the same as one another (Hauser . 1979: . dalah benar bahwa produktivitas dan penerimaan artistik berkaitan erat dengan eksistensi sebuah strata akan tetapi kemampuan artistik dan gengsi sosial tidaklah sama antara satu dengan yang Dari uraian diatas kiranya lebih memperjelas sifat kenaikan kelas penari menuju tingkat di atasnya tidak ditentukan secera ekslusif, tetapi ada indikasi simbol status turut menyertai proses kenaikan tersebut. Dinyatakan bahwa kelas Ringgit Encik mengadakan latihan dan pementasannya diluar istana pusat. Asumsinya adalah mengacu pada penempatan seni pertunjukan Wayang Wong yang penarinya terdiri dari para Ringgit Encik, cenderung kearah seni pertunjukan hiburan. Kemungkinan besar anggapan ini mengandung kebenaran mengingat pergelaran khusus bagi upacara ritual kenegaraan selalu dilaksanakan di Bangsal Kencana. Ringgit Cina Kelas penari Ringgit Cina adalah golongan penari Wayang Wong di Istana Yogyakarta yang menempati strata paling Kelas penari Ringgit Cina mengadakan latihan dan pergelaran di Bangsal Kemagangan. Keterangan ini mengacu pada Babad Ngayogyakarta maupun Ngayogyakarta Pagelaran. Telah diketahui, bahwa penamaan kelas ini adalah korelasinya dengan pembagian stratifikasi sosial berdasarkan ras menurut orang Jawa. Sumber sejarah sosial dan sejarah politik Istana Yogyakarta, membuktikan pengaruh pandangan orang Jawa tehadap penduduk dari golongan Cina, sehingga golongan penduduk Cina ditempatkan pada strata palng bawah. Suatu ungkapan yang didasarkan alasan-alasan polotik zaman dulu. Lindsay mengidentifikasikan nya sebagai penari Cina, padahal ungkapan ini hanya sebatas istilah yang ternyata mampu merefleksikan imbangan struktural maupun sivilisasi. Sebagai imbangan strutural sejarah sosial dan politik Istana Yogyakarta menceritakan perlunya mempertimbangkan kordinasi bagi Gupermen ketika Istana harus mengangkat seorang kapiten seorang Cina yang bertanggungjawab atas orang-orang Cina dan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya peranakan Cina yang tinggal di wilayah Kasultanan. Sejarah Istana Yogyakarta mencatat perjalanan hidup seorang Kapiten Cina bernama Tan Jin Sing. Setelah mengalami mobilitas vertikal, naik statusnya hingga masuk dalam jajaran elit birokrasi Istana Yogyakarta, dengan gelar Raden Tumenggung Secadingrat (Carey. 1985: 54-. Kenaikan staus seorang Cina ke dalam kedudukan tinggi di jajaran elit birokrasi orang-orang Jawa, dianggap tidak lazim di Yogyakarta. Akibatnya adalah kekesalan dan kemarahan pada beberapa kelompok lket birokrasi Istana. Sudah barang tentu hal tersebut menimbulkan goncangan dikelompok elit Jawa, terutama setelah secara terangterangan peranan politik yang dimainkan Secadingrat berakibat pada penyerbuan tentara Inggris (Sepo. di zaman peralihan Sultan Hamengku Buwana II ke Hamengku Buwana i Dengan demikian ini menjadi alasan paing kuat dalam penamaan Ringgit Cina sebagai kelas penari paling bawah. Eksistensinya sebagai imbangan sivilisasi sebagai simbol warisan khusus, yaitu perasaan kebencian terhadap orang-orang Cina, yang ditinggalkan sampai dengan masa Sultan Hamengku Buwana V . Hal ini juga menjadi dasar kuat untuk menempatkan kelas Ringgit Cina sebagai penari tingkat pemula atau Sementara itu Soedarsono juga telah melontarkan asumsinya, bahwa Ringgit Cina yang terlatih dan mengadakan pergelaran di Bangsal Kemagangan . ebelah selatan istana pusa. , dimasukan sebagai hiburan bagi warga asing Cina yang tinggal di wilayah Kasultanan Yogyakarta (Soedarsosno,1984: . Pernyataan ini juga meengacu pada fungsi seni pertunjukan Wayang Wong dari kelas Ringgit Cina sama dengan kelas Ringgit Encik. Suatu alasan sejarah sosial, perlu diungkapkan berapa jumlah penduduk dari golongan Cina di masa Hamengku Buwana V. Jumlah secara pasti tidak dapat ditentukan, tetapi data terakhir berasal darai tahun 1815 . khir zaman Hamengku Buwana IV), ada lebih dari 000 . ua ribu oran. Cina yang hidup dan menetap di wilayah Kerajaan Sultan (Carey. 1985: . Dari data ini kemungkinan akan bertambah di masa Hamengku Buwana V. Disamping itu tidak diketahui kasus orang Cina yang menyerupai sosok seperti Tan Jin Sing di masa Hamengku Buwana V. Mengenai orangorang cina yang mengabdi diri pada saat itu, sangat kecil kemungkinannya. Suatu fakta yang dapat diketahui secara pasti hanyalah Ringgit Cina sebagai kelas penari, bukanlah kelas penari yang anggota-anggotanya terdiri dari orangorang dari golongan penduduk Cina maupun Mengacu pada konsep Tomars, maka penempatan anggota dalam kelas Ringgit Cina cenderung pada competitive class conciousness, artimya kesadaran kelas yang berorientasi pada persaingan mencapai nilai status maupun simbol status. Dengan demikian, sifat persaingan diantara individu-individu anggota ini lebih bebas, untuk menuju tingkatan kelas diatasnya (Ringgit Enci. Walaupun demikian, bukan berarti seorang Ringgit Cina dapat langsung menuju Ringgit Gupermen, hal ini dikarenakan alasan-alasan yang lebih Dengan kata lain penempatannya di Bangsal Kemagaangan, menyriratkan makna simbolis bagi pemusatan latihan maupun pergelaran seorang penari pemula. Kesimpulan Masa pertumbuhan Wayang Wong gaya Yogyakarta terkait erat dengan partisipasipasi aktif atau peranan Sultan yang bertahta. Pada masa pertumbuhan itu tidak dapat dilupakan peranan Sultan Hamengku Buwana V . 3 Ae 1. , yang telah mewarnai dasar-dasar pertumbuhan seni Istana Yogyakarta itu. Salah satu wujud peranan Sultan adalah pembentukan tipe organisasi sosial kelas penari Wayang Wong Istana Yogyakarta. Kajian khusus tentang tipe kelembagaan ini juga membuktikan partisipasi Sultan dalam berperan sebagai pelaku kesenian tersebut . enjadi penar. dalam suatu pertunjukan. Kenyataan menunjukkan, bahwa pada masa Sultan Hamengku Buwana V, telah menjadi kontak sosial budaya dan sosial politik yang lebih hebat dari masa sebelumnya. Berbagai peristiwa intrik politik itu telah mempengaruhi kehidupan Istana. Oleh sebab itu banyak terjadi perubahan struktural maupun silivisasi akibat kontak tadi. Perubahanperubahan itu telah menerobos struktur lama . irokrasi istan. dan menggantikannya dengan Volume 11 No. 1 Juli 2013 Supriyanto : Ringgit Gupermen. Encik dan Cina Keraton Yogyakarta Masa Sultan Hamengku Buwana V struktur baru . irokrasi Guperme. Hal tersebut didukung dengan perubahan orientasi simbol status yang berakar pada struktur birokrasi Contoh adalah pengejaran bentuk hubungan simbolis yang dimanifestasikan secara halus melalui pemberian pangkat dan gelar militer kepada hampir semua jaringan birokrasi struktur lama (Istan. , baik itu golongan kelas bangsawan maupun kelas priyayi . egawai tinggi istan. Pada situasi inilah. Sultan Hamengku Buwana V membangun sebuah tipe organisasi sosial kelas penari yang diperbarui sebagai mengupayakan . hubungan simbolis dengan struktur birokrasinya. Melalui pendekatan faktor sosial, diketahui tentang penamaan setiap kelas penari sangat dipengaruhi oleh stratifikasi sosial penduduk Kasultanan. Pertimbangan pembagian stratifikasi sossial inipun secara politis, pertamatama dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial. Hal ini dari adanya kepentingan-kepentingan politik mereka. Meskipun keputusan stratifikasi sosial tetapi sebagai mempertahankan hubungan simbolis, pihak Gupermen berusaha menempatkan hierarki status menurut pandangan orang Jawa. Pendekatan faktor politis, maupun mengungkap kesadaran dan keberanian Sultan Hamengku Buwana V dalam membuat imbangan struktural yang menempatkan fungsi lembaga-lembaga seni yang berorientasi kepada simbol status. Selain itu, latar belakang pembentukan kelas penari Wayang Wong zaman Sultan Hamengku Buwana V cenderung dikatakan sebagai sebuah usaha memperbaiki keadaan yang direalisasikan melalui proses transformasi sistem pengetahuan yang diperoleh dari kontak budaya dengan fihak Gupermen. Akhirnya sampai pendapat, bahwa telah terjadi tingkat sofistikasi kelembagaan seni yang disebabkan fenomena dari ambivalensi struktur birokrasi . truktur lama dan Guperme. Disatu sisi kelas penari merupakan sindiran bagi Gupermen, eksistensinya kedalam imbangan struktural, sedang disisi lain kelas sebagai kerangka artistik, tempat pendidikan artistik para penari Wayang Wong gaya Yogyakarta. Hal ini menjadikan keanggotaan juga menjadi imbangan sivilisasi. Dengan kata lain, kelembagaan kelas penari kelas-kelas Ringgit Gupermen. Ringgit Encik dan Ringgit Cina di atas, bertendensi ganda. Tendensi Politik sebagai wujud imbangan struktural, sedang tendensi artistik sebagai wujud imbangan Kepustakaan Arey. Peter. Orang Jawa dan Masyarakat Cina . 5 Ae 1. Jakarta: Pustaka Azet. Bandem. I Made dan FrederickCugene de Boer. Kaja and Kelod: The Balinese Dance in Trasition. Kuala Lumpur: Oxford University Press. Duverger. Maurice. Sosiologi Politik. Terjemahan Daniel Dhakidae. Jakarta: Rajawali. Ohnson. Doyle Paul. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Terjemahan Robert L Lawang. Jakarta: Gramedia. Kartahasmara. Ng. Ngayogyakarta Pagelaran. Transliterasi W ibatsu Harianto. Yogyakarta. Kuntawijoyo. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana. Koleksi Perpustakaan Museum Sanabudaya. Babad Ngayogyakarta. Vol I Ae i. Yogyakarta. Lindsay. Jennif er. Klasik. Kitsch Kotemporer: Sebuah Studi Tentang Seni Pertunjukan Jawa. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Mandayakusuma. Serat Raja Putro Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta: Museum Keraton. Olsen. Marvin E. The Process of Social Organisation. New Delhi: Bombay Calcuta: Oxford and IBH Publishing. Co. Raja Jawa dan Seni: Sebuah Contoh Pengaruh Konsepsi Kekuasaan Raja Terhadap Konsepsi Seni Pertunjukan. Makalah Ceramah Proyek Javanologi Depdikbud 25 September 1989. Volume 11 No. 1 Juli 2013 Jurnal Seni Budaya Serat Kanda Ringgit Tiyang Lampahan Mintaraga Buku I. Yogyakarta: Proyek Javanologi Depdikbud. Soedarsono. Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in The Court of Yogyakarta. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Wibowo. Fred. Mengenal Tari Klasik Gaya Yogyakarta. Yogyakarta: Dewan Kesenian Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Volume 11 No. 1 Juli 2013