Jurnal Pendiidkan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. September 2025 Penerapan Deep learning dengan Metode Jigsaw untuk Meningkatkan Pemahaman Peserta Didik pada Mata Pelajaran PAIBP di SMP N 2 Blora Yusuf Firmansyah1. Ahmad Syaifullah2 & Siti Nurkayati3 1,2,3 IAI Khozinatul Ulum Blora. Jawa Tengah. Indonesia, 40383 Telp: 6283836286727 E-mail: yusuffir70@gmail. com1, ahmadsyaifullah1988@gmail. Nurhayatimilitary92@gmail. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-09-18 Revised : 2025-09-28 Accepted : 2025-09-30 KEYWORDS Deep Learning Jigsaw Method Student Comprehension PAIBP Qualitative Descriptive KATA KUNCI Deep Learning Metode Jigsaw Pemahaman Peserta Didik PAIBP Kualitatif Deskriptif ABSTRAC This study examines the application of the deep learning approach through the jigsaw method to improve students' understanding of Islamic Religious Education and Morality (PAIBP) at SMP Negeri 2 Blora. This study stems from the problem that PAIBP teaching often emphasizes only cognitive aspects, resulting in a lack of deep and applicable understanding among students. Therefore, a learning strategy that can develop conceptual understanding and collaborative skills is needed. A qualitative descriptive method was used in this The learning process involved the application of the jigsaw technique with ninth-grade students at SMP Negeri 2 Blora. Data were collected through classroom observations, in-depth interviews with the curriculum coordinator, teachers, and students, as well as documentation of learning activities. Analysis was conducted using an interactive model, including data reduction, data presentation, and conclusion drawing, to produce a comprehensive picture of the research subject. The results of the study indicate that the integration of the indepth learning approach with the jigsaw method effectively improves students' understanding of PAIBP material. This improvement can be seen from the students' more active participation during group discussions, their ability to relate the subject matter to real-life situations, and the development of collaboration and individual responsibility within their groups. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji penerapan pendekatan deep learning melalui metode jigsaw untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP) di SMP Negeri 2 Blora. Penelitian ini berangkat dari permasalahan bahwa pengajaran PAIBP seringkali hanya menekankan aspek kognitif, sehingga menyebabkan kurangnya pemahaman yang mendalam dan aplikatif di kalangan siswa. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan pemahaman konseptual dan keterampilan Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Proses pembelajaran melibatkan penerapan teknik jigsaw dengan siswa kelas IX di SMP Negeri 2 Blora. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam dengan koordinator kurikulum, guru, dan siswa, serta dokumentasi aktivitas pembelajaran. Analisis dilakukan dengan model interaktif, meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, untuk menghasilkan gambaran komprehensif tentang subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendekatan deep learning dengan metode jigsaw secara efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi PAIBP. Peningkatan ini terlihat 174 | JPI. Vol. No. September 2025 dari partisipasi siswa yang lebih aktif selama diskusi kelompok, kemampuan mereka menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata, serta perkembangan kolaborasi dan tanggung jawab individu di dalam kelompok Pendahuluan Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk membimbing dan membina siswa agar dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Islam di masa depan, sehingga menjadi landasan dan arah dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan ini memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan moral keagamaan siswa. Di sekolahsekolah negeri, terutama pada tingkat SMP. Pendidikan Agama Islam tidak hanya mengajarkan esensi ajaran Islam, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai spiritual dan etika dalam perilaku sehari-hari. Namun, dalam praktiknya, pembelajaran PAIBP di sekolah menengah sering kali berfokus pada hafalan dan evaluasi kognitif. Kecenderungan ini menyebabkan kemampuan siswa untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata menjadi terbatas (Khotimah & Abdan, 2. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang mendorong pemahaman yang lebih mendalam sambil mengembangkan keterampilan kolaborasi dan pemikiran reflektif. Salah satu strategi pembelajaran yang dianggap efektif dalam mengatasi tantangan ini adalah pendekatan deep learning. Metode ini meningkatkan efisiensi proses pembelajaran, merangsang motivasi mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dengan lebih akurat. Dalam kerangka Pendidikan Agama Islam, penerapan deep learning dapat mendorong partisipasi aktif siswa dan memperkuat pemahaman konseptual mereka (A. Sari & Arta, 2. Selain itu, penerapan pendekatan ini memungkinkan penciptaan pengalaman belajar yang sengaja dirancang, bermakna, dan menarik melalui kurikulum yang fleksibel dan umpan balik yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu siswa (Rosyidah et al. , 2. Sesuai dengan perspektif ini, model jigsaw dalam pembelajaran kooperatif diakui sebagai pendekatan efektif untuk memfasilitasi penerapan deep learning. Teknik ini telah terbukti mendorong keterlibatan aktif siswa, baik dalam kolaborasi antar teman sebaya maupun dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru (Mahfutri & Fahyuni, 2. Dalam implementasinya, pendekatan jigsaw mengorganisir peserta didik ke dalam kelompok kecil, di mana setiap peserta memiliki tanggung jawab individu sambil berkontribusi secara kolaboratif untuk kesuksesan kelompok. Akibatnya, model ini selaras dengan prinsip-prinsip kesatuan dan kerja sama yang ditekankan dalam pendidikan Islam, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih kontekstual, interaktif, dan bermakna (Lestari et al. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan efektivitas pendekatan jigsaw dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan prestasi akademik. Misalnya, temuan dari Sholihah dkk. menunjukkan bahwa teknik jigsaw menciptakan lingkungan kelas yang kooperatif dan secara signifikan memperdalam pemahaman siswa terhadap materi pelajaran (Sholihah dkk. , 2. Namun, penelitian yang secara khusus mengeksplorasi bagaimana deep learning dapat diintegrasikan dengan metode jigsaw dalam konteks pengajaran PAIBP di tingkat sekolah menengah pertama masih terbatas. Kekosongan dalam literatur ini menawarkan kesempatan untuk memberikan wawasan baru dalam pengembangan strategi pendidikan agama inovatif di sekolah Penelitian ini memperkenalkan pendekatan inovatif dengan mengintegrasikan deep learning dengan model jigsaw dalam pengajaran PAIBP. Sementara studi sebelumnya umumnya mengkaji penerapan masing-masing metode secara terpisah, penelitian ini menawarkan perspektif baru dengan menggabungkan keduanya untuk meningkatkan pemahaman konseptual dan disposisi kolaboratif Melalui integrasi ini, penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan teori dan praktik pendidikan agama, khususnya dalam memperkuat kualitas pembelajaran dan pemahaman di kalangan siswa sekolah menengah pertama (A. Sari dkk. , 2. Pentingnya penelitian ini semakin jelas mengingat adanya kesenjangan penelitian terkait integrasi deep learning dengan pendekatan jigsaw. Hingga saat ini, sebagian besar penelitian cenderung mengkaji deep learning atau metode jigsaw secara Selain itu, belum ada penelitian komprehensif yang mengeksplorasi bagaimana kerangka kerja deep learning dapat diintegrasikan secara sistematis dengan model jigsaw dalam konteks pembelajaran di sekolah menengah. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 175 Gambar 1. Tingkat Kognitif Taksonomi Bloom Tinjauan Literatur Pendekatan deep learning mewakili model pembelajaran yang mengutamakan pemahaman mendalam, di mana siswa tidak hanya diajarkan untuk menghafal fakta, tetapi juga untuk menginternalisasi pengetahuan secara bermakna dan Kerangka kerja ini mendorong keterlibatan kognitif dan emosional, memungkinkan peserta didik untuk menafsirkan materi secara lebih Akibatnya, deep learning mengubah paradigma konvensionalAiyang sering berpusat pada hafalan dan pengulanganAimenjadi proses pembelajaran reflektif yang didasarkan pada konstruksi aktif pemahaman. Selain itu, pendekatan ini menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan kontemporer melalui integrasi metode pembelajaran inovatif (Atmojo dkk. , 2. Pendekatan deep learning sering dibandingkan dengan proses berpikir kritis yang mengutamakan pemahaman yang mendalam. Istilah AudeepAy dalam konteks ini mengacu pada upaya untuk berpikir secara lebih intensif, sistematis, dan komprehensif. Deep learning melibatkan pemahaman konsep melampaui tingkat permukaan melalui proses pengetahuan yang lebih bermakna. Perspektif ini sejalan dengan prinsip pembelajaran terawasi, di mana aktivitas pembelajaran disusun secara hierarkis untuk membantu siswa membangun pola pikir yang koheren dan logis. Dalam kerangka ini, peserta didik didorong untuk mengembangkan kemandirian dalam pengambilan keputusan dan mengasah keterampilan berpikir kritis (Nugraha & Hasanah, 2. Selain itu, landasan pemikiran kritis yang tertanam dalam pendekatan deep learning dapat dikaitkan dengan taksonomi Bloom. Bloom mengidentifikasi empat dimensi kognitif utama yang konseptual, prosedural, dan metakognitif. Dimensidimensi ini sesuai dengan enam tingkatan hierarkis kompetensi kognitif mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan Enam tingkat ini umumnya dikategorikan menjadi dua kelompok: keterampilan berpikir tingkat rendah (LOTS) dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Oleh karena itu, implementasi deep learning sejalan dengan tujuan meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang sangat penting untuk membekali siswa dalam menghadapi tuntutan akademik dan pemecahan masalah dalam kehidupan nyata. Hierarki tingkat kognitif ini diilustrasikan dalam gambar di bawah Keterampilan berpikir secara intrinsik terkait dengan domain kognitif. Dalam versi revisi taksonomi Bloom, keterampilan berpikir tingkat (LOTS) mencakup tiga dimensi: , . , dan applying . sisi lain, keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) mencakup kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Kategorisasi ini pembelajaran, karena memungkinkan pendidik merancang strategi pengajaran yang melampaui hafalan mekanis dan sebaliknya mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif siswa (Jihan dkk. , 2. Meskipun demikian, penerapan pendekatan deep learning menghadapi beberapa tantangan. Model ini memerlukan waktu pembelajaran yang lebih lama dan metode pengajaran yang fleksibel, yang terkadang bertentangan dengan sistem pendidikan yang mengutamakan efisiensi dan hasil akademik yang dapat diukur. Meskipun demikian, penelitian yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan bahwa penerapan deep learning dapat secara keterlibatan siswa. Melalui pengalaman belajar yang lebih bermakna, diharapkan siswa dapat konstruktif dan kesiapan yang lebih besar untuk menghadapi isu-isu global yang semakin kompleks. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi dan hambatan dalam menerapkan deep learning di Indonesia, serta penerapannya dalam konteks pendidikan dasar dan menengah (Emilda Sulasmi, 2. Metode Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif yang mendorong partisipasi aktif siswa melalui kolaborasi kelompok, biasanya melibatkan 4Ae5 anggota. Dalam setiap kelompok, setiap peserta ditugaskan untuk menguasai bagian tertentu dari materi dan kemudian mengajarkannya kepada teman Dengan cara ini, setiap peserta berfungsi sebagai AuahliAy dalam topik yang Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 176 | JPI. Vol. No. September 2025 ditugaskan dan juga sebagai pengajar bagi anggota kelompok lainnya. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Elliot Aronson dan rekanrekannya di Universitas Texas dan Universitas Johns Hopkins pada tahun 1978. Sebagai strategi pembelajaran kooperatif, pendekatan Jigsaw bertujuan untuk menumbuhkan kerja sama tim, memperdalam pemahaman, dan mendukung siswa dalam mencapai hasil belajar optimal (Diza Jusriani & Ibrohim Muchlis, 2. Metode Jigsaw keunggulan yang meningkatkan efektivitas proses Pertama-tama, pendekatan ini meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa, karena setiap anggota memainkan peran penting dalam kelompoknya. Tanggung jawab untuk memahami dan mengajarkan bagian tertentu dari materi mendorong siswa untuk berpartisipasi lebih aktif dalam kegiatan kelas. Selain itu, melalui partisipasi dalam diskusi kelompok ahli dan sesi berbagi dengan kelompok asli mereka, siswa tidak hanya mengingat informasi tetapi juga memproses, memahami, dan mengartikulasikannya dengan katakata mereka sendiri. Aktivitas semacam ini memperkuat pemahaman konseptual, pemikiran kritis, dan kemampuan komunikasi. Selain itu, strategi Jigsaw mengembangkan kompetensi sosial yang esensial seperti kerja sama, toleransi, dan pengembangan keterampilan interpersonal yang melampaui batas akademik. Pendekatan berpusat pada siswa ini menempatkan siswa sebagai agen utama pembelajaran, sementara guru berperan sebagai fasilitator. Metode ini sejalan dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013, yang menekankan pengalaman belajar aktif, kontekstual, dan bermakna. Keunggulan lain dari model Jigsaw adalah fleksibilitasnya, karena dapat diterapkan secara efektif di berbagai tingkatan pendidikan dan bidang studi, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam konteks ini, teknik Jigsaw telah terbukti merangsang diskusi tentang nilai-nilai agama dan memperdalam pemahaman Selain itu, berbagai studi menunjukkan bahwa partisipasi aktif siswa dalam kelompok kolaboratif menghasilkan hasil belajar yang lebih baik dan prestasi akademik yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengajaran konvensional berbasis ceramah. Meskipun memiliki kelebihan, metode Jigsaw juga memiliki beberapa keterbatasan. Kesuksesan pendekatan pembelajaran ini sangat bergantung pada kemampuan setiap anggota kelompok. Ketika beberapa siswa tidak sepenuhnya memahami materi yang diberikan kepada mereka, penjelasan mereka kepada teman sekelas mungkin tidak lengkap, yang dapat menyebabkan tingkat pemahaman yang tidak merata di dalam kelompok. Selain itu, metode ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk diskusi kelompok ahli dan kelompok belajar, yang dapat menjadi masalah di sekolah dengan jadwal yang ketat atau jam pelajaran yang terbatas. Guru juga harus menginvestasikan upaya tambahan dalam menyiapkan materi pembelajaran dan mengelola interaksi kelompok secara efektif. Konflik di antara siswa dapat muncul akibat perbedaan kepribadian, motivasi, atau tingkat pemahaman, yang berpotensi menyebabkan beberapa individu mendominasi diskusi sementara yang lain tetap pasif. Selain itu. Jigsaw memperkenalkan konsep yang kompleks atau sepenuhnya baru, karena siswa seringkali kesulitan memahami dan menyampaikan materi tersebut tanpa bimbingan guru yang substansial (Ansar, 2. Tahapan dalam melakukan metode jigsaw dalam pembelajaran, yaitu : Tahap Pembukaan Pada awalnya, guru mengatur kelompok utama, memastikan adanya campuran anggota yang Setelah itu, guru memperkenalkan tema, teks, atau materi pembelajaran, serta menjelaskan tujuan pelajaran. Perhatian khusus diberikan pada menghubungkan konten baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa dan menjelaskan arah yang diinginkan dalam proses pembelajaran yang akan datang. Tahap ini bertujuan untuk membangun motivasi dan minat siswa terhadap topik tersebut sambil membantu mereka memahami bahwa kinerja mereka akan dievaluasi secara komprehensif. Tahap Eksplorasi Terfokus Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam kelompokkelompok kecil atau kelompok ahli, masingmasing fokus pada subtopik tertentu. Dalam kelompok-kelompok berkolaborasi untuk mengeksplorasi materi secara lebih mendalam melalui diskusi, berbagi informasi, dan pertukaran ide. Tahap ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperluas pemahaman mereka tentang materi pelajaran sambil sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. Interaksi kooperatif dalam kelompok-kelompok ahli ini juga memungkinkan anggota untuk melengkapi pengetahuan satu sama lain, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih holistik dan komprehensif tentang topik tersebut. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 177 Tahap Pelaporan dan Rekonstruksi Setelah itu, siswa kembali ke kelompok utama mereka untuk berbagi hasil diskusi dari sesi ahli. Pada tahap ini, setiap anggota memaparkan pengetahuan yang telah mereka kembangkan, sementara anggota lain didorong untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan umpan balik yang konstruktif. Pertukaran interaktif ini mendorong dialog yang lebih mendalam, memungkinkan siswa untuk mempertajam dan memperluas pemahaman kolektif mereka terhadap materi. Tahap Integrasi dan Evaluasi Tahap penutup berfokus pada integrasi dan refleksi terhadap pengalaman belajar secara Pada tahap ini, guru dapat merancang aktivitas untuk individu, kelompok mengkonsolidasikan hasil pembelajaran. Siswa didorong untuk menyampaikan presentasi atau demonstrasi terkait materi, sementara guru membantu mereka mengevaluasi efektivitas kolaborasi mereka. Melalui proses ini, peserta didik dapat menilai seberapa baik metode pembelajaran yang diterapkan bekerja dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dalam strategi mereka untuk pembelajaran di masa depan (Zahara et al. , 2. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Metode kualitatif dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap proses pembelajaran di kelas, khususnya implementasi pendekatan deep learning melalui model jigsaw (Fadli, 2. Desain deskriptif digunakan untuk menggambarkan fenomena pembelajaran sebagaimana terjadi secara alami, tanpa memanipulasi variabel apa pun, dengan fokus pada pemahaman komprehensif dari perspektif peserta (Adlini et al. , 2. Oleh karena itu, pendekatan ini dianggap tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai efektivitas integrasi deep learning dan metode jigsaw dalam meningkatkan pemahaman siswa. Peserta penelitian ini adalah siswa kelas IX dari SMP Negeri 2 Blora yang mengikuti kelas PAIBP. Peserta dipilih melalui sampling purposif, teknik yang digunakan untuk memilih individu yang dianggap paling relevan dengan tujuan penelitian. Sebanyak 20 siswa dengan latar belakang akademik yang beragam ikut serta dalam penelitian ini. Ukuran sampel ini dianggap sesuai untuk penelitian kualitatif, yang memprioritaskan kedalaman analitis daripada generalisasi. Jumlah tersebut juga dianggap cukup untuk mencapai saturasi data dan memungkinkan pengamatan komprehensif terhadap proses kognitif dan otonomi belajar siswa. Namun, para peneliti mengakui bahwa hasil penelitian ini bersifat kontekstual untuk lingkungan sekolah semiurban dan mungkin tidak dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan guru PAIBP turut dilibatkan sebagai (Kaharuddin. Subhaktiyasa, 2. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama: observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Proses observasi bertujuan untuk mengamati interaksi siswa selama kegiatan belajar yang menerapkan metode jigsaw. Wawancara dilakukan untuk mengumpulkan wawasan dari guru dan siswa mengenai pengalaman dan persepsi mereka terhadap proses belajar. Dokumentasi yang terdiri dari catatan lapangan, foto aktivitas, dan contoh pekerjaan siswa digunakan untuk mendukung dan memvalidasi temuan (Ardiansyah dkk. , 2. Selain itu, triangulasi teknik diterapkan untuk memastikan kredibilitas dan validitas data yang dikumpulkan dari berbagai sumber dan metode (Nerfajriani dkk. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif yang diusulkan oleh Miles dan Huberman, yang melibatkan tiga tahap utama: pengurangan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap pengurangan data, data lapangan dipilih, difokuskan, dan disederhanakan untuk menonjolkan informasi yang paling relevan. Data kemudian disajikan melalui matriks, grafik, dan penjelasan Akhirnya, kesimpulan disusun dengan menghubungkan temuan empiris dengan kerangka teori deep learning dan metode jigsaw. Proses analitis ini dilakukan secara berkelanjutan mulai dari awal pengumpulan data hingga penyelesaian penelitian (Spradley & Huberman, 2. Hasil Berdasarkan temuan dari penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 2 Blora, penerapan pendekatan deep learning melalui metode jigsaw telah terbukti secara signifikan meningkatkan pemahaman konseptual siswa terhadap Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP). Siswa tidak lagi bergantung pada hafalan semata, tetapi mampu mengartikulasikan konsep yang telah mereka pelajari dengan kata-kata mereka sendiri. Seperti yang dicatat oleh Fitriani dan Santiani . , pendekatan deep learning bertujuan untuk Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 178 | JPI. Vol. No. September 2025 mengubah paradigma pembelajaran tradisional yang biasanya berpusat pada hafalan menjadi bentuk pembelajaran yang lebih konstruktif dan reflektif. Strategi ini menekankan hubungan antara materi yang dipelajari dan pengalaman nyata siswa, baik di rumah maupun di sekolah. Demikian pula. Akmal . menyoroti bahwa deep learning dalam pendidikan melibatkan kemampuan siswa untuk mentransfer pengetahuan yang diperoleh dalam satu konteks ke situasi lain yang beragam. Akibatnya, pemahaman yang dikembangkan melalui proses ini melampaui penguasaan kognitif dan menjadi lebih bermakna serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam implementasi di kelas, siswa yang perkembangan keterampilan yang lebih maju, termasuk pemikiran kritis, analitis, dan reflektif dalam merespons materi yang disampaikan. Misalnya, dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam tentang topik Rukun Iman (Pokok-Pokok Ima. , siswa tidak hanya mengingat enam rukun tersebut tetapi juga dapat menjelaskan bagaimana prinsipprinsip ini dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari sebagai wujud keyakinan mereka. Melalui proses ini, siswa mampu mengintegrasikan unsur kognitif seperti pemahaman konseptual dengan dimensi afektif, termasuk internalisasi nilai, sehingga keduanya dapat berfungsi secara harmonis. Temuan ini menegaskan bahwa pengajaran yang berorientasi pada deep learning meningkatkan pemahaman siswa, membuatnya lebih tahan lama dan dapat diterapkan dalam konteks dunia nyata. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Shofiyah dkk. , yang menemukan bahwa penerapan metode jigsaw dalam pengajaran Rukun Iman secara positif mempengaruhi penguasaan konseptual siswa, keterampilan interaksi sosial, dan pembentukan nilai-nilai agama yang lebih mendalam. Pendekatan deep learning yang diterapkan di SMP Negeri 2 Blora sejalan dengan kerangka kerja yang diusulkan oleh Adhi Wijaya dkk. , yang menekankan bahwa tujuan utama metode ini adalah untuk memungkinkan siswa tidak hanya memahami esensi suatu konsep tetapi juga menghubungkannya dengan konteks praktis dan kehidupan nyata. Pendekatan ini mendorong pemahaman yang lebih terintegrasi, memungkinkan peserta didik untuk mengubah pengetahuan teoretis menjadi wawasan yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi dan lingkungan kehidupan. Penerapan metode Jigsaw di kelas juga telah terbukti meningkatkan keterlibatan siswa di SMP N 2 Blora. Dalam model pembelajaran ini, setiap mengeksplorasi bagian tertentu dari materi, yang kemudian dibagikan kepada kelompok lain. Struktur ini mendorong lingkungan pembelajaran kolaboratif dan mendorong interaksi yang seimbang baik di dalam kelompok individu maupun antar kelompok (Wasiatul Mahfidhoh Jaya Ningrum dkk. , 2. Akibatnya, siswa tidak hanya bergantung pada penjelasan guru, tetapi secara aktif terlibat dalam mengumpulkan informasi, memecahkan masalah, dan menyampaikan pemahaman mereka melalui diskusi kelompok. Aktivitas diskusi yang difasilitasi melalui metode Jigsaw telah menunjukkan peningkatan yang pembelajaran konvensional berbasis ceramah yang digunakan di SMP N 2 Blora. Dalam setting ceramah tradisional, siswa sering kali tetap pasif, terutama mendengarkan penjelasan, instruksi, atau praktik keagamaan sederhana yang disampaikan oleh guru, seperti bercerita atau membaca doa. Sebaliknya, dalam pendekatan Jigsaw, siswa didorong untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi, berbagi perspektif mereka, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta kreatif. Temuan ini sejalan dengan studi oleh Rahmatulloh dkk. , yang menunjukkan bahwa penerapan metode Jigsaw dalam kelas Pendidikan Agama Islam (PAI) menghasilkan perhatian siswa yang lebih tinggi dan peningkatan organisasi dalam memproses materi pembelajaran. Dengan memahami konsep metode Jigsaw secara lebih efektif, siswa mengalami hasil belajar yang lebih bermakna dan menunjukkan peningkatan kinerja akademik dibandingkan dengan pendekatan instruksional sebelumnya. Hubungan antara guru dan siswa menjadi lebih harmonis, karena guru kini berperan sebagai fasilitator bukan hanya sebagai sumber informasi satu-satunya. Dalam peran ini, guru memandu diskusi, memberikan umpan balik, dan mendorong siswa untuk berpartisipasi secara lebih aktif, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih dinamis dan mendukung. Menurut Muhammad dan Alfarizi . Metode Jigsaw memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkolaborasi dan berkomunikasi secara efektif dalam suasana kelas yang positif. Melalui kolaborasi tersebut, proses pembelajaran tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga peningkatan keterampilan sosial dan interpersonal siswa. Dalam konteks ini, pembelajaran kooperatif dipandang sebagai pendekatan pendidikan humanis yang menempatkan peserta didik sebagai peserta aktif yang menghargai Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 179 saling menghormati dan berkontribusi secara kolektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Meskipun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan dalam menerapkan Metode Jigsaw. Salah satu masalah utama adalah waktu yang cukup lama yang diperlukan untuk mengatur dan mempersiapkan siswa saat membentuk kelompok. Terkadang, lingkungan kelas menjadi kurang kondusif, karena beberapa siswa cenderung kehilangan fokus atau tidak terlibat dalam tugas yang diberikan. Selain itu, hambatan komunikasi masih ada di antara siswa yang kurang percaya diri, membuat mereka ragu untuk berbagi pemikiran atau pendapat mereka. beberapa kelompok, tingkat partisipasi juga tidak merata, dengan beberapa siswa sangat bergantung pada teman sekelas yang lebih dominan atau berprestasi lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa guru perlu memberikan dukungan tambahan dengan mendorong dan memotivasi siswa yang kurang aktif untuk mengembangkan kepercayaan diri dan mengambil peran yang lebih proaktif dalam proses belajar. Meskipun memiliki keterbatasan tersebut. Metode Jigsaw menawarkan keunggulan tambahan karena tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik siswa tetapi juga berkontribusi pada pengembangan nilai-nilai moral seperti empati, tanggung jawab, dan solidaritas. Melalui pendekatan ini, siswa belajar menghormati orang lain, mendengarkan dengan seksama, dan bekerja sama untuk kepentingan kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran kooperatif dapat menjadi media yang efektif untuk menginternalisasi prinsip-prinsip Islam, terutama dalam konteks pengajaran PAIBP. Akibatnya, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik tetapi juga pada pembentukan karakter dan perilaku mulia siswa (Retno & Ependi, 2. Efektivitas Metode Jigsaw dalam proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh peran guru. Studi ini menunjukkan bahwa guru paling berhasil ketika berperan sebagai fasilitator membimbing, mengarahkan, dan memberikan umpan balik konstruktif selama diskusi siswa. Di SMP Negeri 2 Blora, guru PAIBP secara aktif berpindah antar kelompok untuk memberikan bantuan, saran, dan Siswa yang kurang aktif menerima dorongan khusus untuk lebih terlibat, sementara mereka yang sudah aktif didorong lebih lanjut untuk meningkatkan kontribusi mereka. Akibatnya, diskusi menjadi lebih seimbang dan interaktif, sejalan dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan (Bunga Okta Maula Ikami & Yayat Suharyat, 2. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hasil penelitian dalam mata pelajaran PAIBP, khususnya terkait pembahasan ayat 11 Surah AlMujadillah, peneliti mengidentifikasi beberapa tema utama yang menggambarkan dinamika proses belajar siswa. Untuk penyajian yang lebih terorganisir, hasil-hasil ini dirangkum dan ditampilkan dalam matriks temuan. Tema Utama Keterlibatan Siswa Pemahaman Materi Keterampilan Membaca AlQurAoan Sikap dan nilai Karakter Peran Guru Kendala Solusi Deskripsi Singkat Temuan Siswa lebih aktif bertanya dan pembelajaran konvensional Siswa dapat menjelaskan makna dari Al-Mujadilah :11, . erjemah kosa kata, asbabul nuzul, kandungan ayat tentang adab dalam majlis, dan keutamaan ilmu dan adab menuntut Kemampuan membaca meningkat. Siswa menunjukkan tanggung jawab dalam menyampaikan bagian materi kepada kelompoknya Guru memberikan kritik, saran dan menilai proses diskusi antar kelompok Waktu untuk presentasi antar kelompok masih terbatas, sehingga beberapa kelompok belum sempat menyimpulkan bersama Berdasarkan analisis matriks, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode jigsaw dalam pelajaran PAIBP secara efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap makna ayat-ayat Al-Qur'an, meningkatkan partisipasi mereka, dan memperbaiki kemampuan membaca Al-Qur'an. Selain itu, pendekatan ini membantu menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab dan kerja sama. Namun, beberapa tantangan tetap ada, terutama keterbatasan waktu pembelajaran, yang harus dipertimbangkan saat menerapkan metode ini di lingkungan kelas. Kesimpulan Berdasarkan temuan dan analisis, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan deep learning yang dikombinasikan dengan metode jigsaw secara efektif meningkatkan pemahaman siswa terhadap Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAIBP) di SMP Negeri 2 Blora. Siswa tidak hanya mampu mengingat materi, tetapi juga menunjukkan kemampuan dalam membangun Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 180 | JPI. Vol. No. September 2025 mengartikulasikan konsep dengan kata-kata mereka sendiri, dan menghubungkan konten dengan pengalaman nyata. Hasil ini menunjukkan bahwa tujuan penelitian untuk memperkuat pemahaman konseptual siswa telah tercapai dengan sukses. Selain itu, temuan studi ini menunjukkan bahwa penerapan metode jigsaw memainkan peran penting dalam meningkatkan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Peningkatan partisipasi ini tidak hanya mendorong interaksi kelas yang lebih kuat tetapi juga menumbuhkan kolaborasi, rasa tanggung jawab individu, dan keterampilan komunikasi yang lebih baik. Akibatnya, pembelajaran kooperatif yang didasarkan pada memfasilitasi pengajaran PAIBP yang lebih interaktif, reflektif, dan bermakna. Studi ini juga memperkuat pentingnya peran guru sebagai fasilitator yang efektif dalam proses Guru tidak lagi dipandang sebagai sumber utama informasi, melainkan sebagai pembimbing yang membantu siswa dalam mengeksplorasi dan merefleksikan pengetahuan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan deep learning bersama dengan metode jigsaw tidak hanya mengatasi tantangan terkait pemahaman konseptual, tetapi juga memberikan dampak positif pada pola interaksi di kelas, perkembangan karakter siswa, dan kualitas peran guru secara keseluruhan dalam kegiatan Dari sudut pandang praktis, temuan penelitian ini memiliki implikasi yang signifikan bagi berbagai pemangku kepentingan. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan berharga dalam merancang strategi pengajaran yang mendorong pemahaman mendalam dan kolaborasi aktif antar siswa. Bagi sekolah, wawasan ini dapat menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang mendorong budaya berpikir kritis dan tanggung jawab sosial. Sementara itu, bagi pengembang kurikulum, penelitian ini memberikan masukan yang berguna dalam menciptakan bahan ajar dan aktivitas pembelajaran yang memprioritaskan pemahaman yang bermakna dan pembelajaran kooperatif di antara siswa. Dari sudut pandang teoretis, penelitian ini memperkuat prinsip-prinsip konstruktivisme sosial, yang menekankan interaksi dan kolaborasi sebagai unsur fundamental dalam proses pembentukan Temuan penelitian ini juga berkontribusi pada literatur yang ada mengenai penerapan pendekatan deep learning dalam mengembangkan pemahaman konseptual dan karakter spiritual siswa. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan teori pembelajaran kooperatif yang selaras dengan nilai-nilai pendidikan karakter di sekolah menengah. Untuk penelitian di masa depan, disarankan agar studi melibatkan ukuran sampel yang lebih besar dan melibatkan sekolah dari konteks yang lebih beragam agar temuan dapat digeneralisasikan secara lebih Penelitian mengeksplorasi dimensi tambahan, seperti dampak jangka panjang penerapan metode jigsaw terhadap motivasi belajar siswa, kemampuan berpikir kritis, atau sikap keagamaan. Dengan cara ini, penelitian di masa depan diharapkan dapat lebih mendalam dalam memahami efektivitas pendekatan deep learning di berbagai lingkungan pendidikan. Persembahan Peneliti menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang tulus kepada Bapak Ahmad Syaifullah dan Ibu Siti Nurkayati sebagai Pembimbing, beserta seluruh civitas akademika dan dosen Institut Agama Islam Khozinatul Ulum Blora atas bimbingan, motivasi, serta wawasan yang berharga selama proses penelitian ini. Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada kedua orang tua tercinta atas doa, kasih sayang, dan dukungan yang tiada Serta kepada Hani NurAoaini atas semangat dan pengertian yang selalu diberikan, sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Kepala SMP Negeri 2 Blora yang telah memberikan izin dan fasilitas dalam pelaksanaan penelitian. Dukungan tersebut memungkinkan penelitian ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Selain itu, apresiasi mendalam diberikan kepada para guru, khususnya guru Pendidikan Agama Islam, yang telah mendukung serta berperan aktif dalam setiap tahapan penelitian. Tidak lupa, peneliti menyampaikan penghargaan kepada seluruh peserta didik yang telah Keterlibatan aktif mereka memberikan kontribusi signifikan terhadap keberhasilan penelitian ini. Semoga segala bentuk kebaikan, ilmu, serta keikhlasan yang telah diberikan menjadi amal jariyah yang senantiasa mendatangkan keberkahan, sekaligus menjadi wujud nyata dedikasi dalam mencetak generasi berilmu, berkarakter, dan berdaya Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. September 2025 | 181 Referensi