Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 Prodi Pendidikan Sosiologi Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Simbol Dalam Motif Ragam Hias Perisai Pada Suku Dayak Taman Dismas Kwirinus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Indonesia Email: kwirinusdismas03@gmail. Abstract. The focus of this research examines the symbols in various decorative shield motifs of the Taman Dayak The topic of study is related to the concept of decorative shield motifs in the Taman Dayak tribe. The shield of the Taman Dayak tribe is called Jabang or Kelau. Jabang . means a shield or protector who guards or Kelau . means shield as an object. As an object to decorate household furniture. For the Dayak Taman tribe, shields were used as body protection against spears, sabers or chopsticks during past wars. Seeing its function as a protective band, the shield must be made of strong material, not easily broken, broken, destroyed and light enough so that it is easy to use. The researcher used descriptive qualitative methods and critical reading of the text, namely: . Cultural philosophy books related to understanding the concept of symbolic motifs of the decorative shield motifs of the Taman Dayak tribe. Articles that concentrate on studying the concept of motif The findings in this research are that the concept of symbols in the decorative motifs on the shields of the Dayak Taman tribe is a decoration that is believed to bring good luck to the wearer. The webbing is used to strengthen the shield as well as for its beauty. Nowadays, shields have changed their function from protective equipment to decoration, from weapons of war to traditional dance instruments. However, it is good to preserve the existing decorations, because they contain messages of wisdom about the harmony of life in the universe. Keywords: Dayak Taman. Decorative Motifs. Shields. Symbols Abstrak. Fokus penelitian ini mengkaji tentang Simbol dalam Motif Ragam Hias Perisai Pada Suku Dayak Taman. Hal yang menjadi topik kajian berkaitan dengan konsep motif ragam hias perisai pada suku Dayak Taman. Perisai pada suku Dayak Taman disebut Jabang atau Kelau. Jabang . ata sifa. berarti perisai atau pelindung yang menjaga atau yang mengayomi. Kelau . ata bend. berarti perisai sebagai benda. Sebagai benda untuk hiasan prabot rumah tangga. Bagi orang suku Dayak Taman perisai digunakan sebagai pelindung badan terhadap tombak. Mandau atau sumpit pada saat peperangan masa lalu. Melihat fungsinya sebagai pelindung bandan, maka perisai harus terbuat dari bahan yang kuat, tidak mudah patah, pecah, hancur dan cukup ringan sehingga leluasa untuk digunakan. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pembacaan kritis atas teks, yaitu: Buku-buku filsafat budaya yang terkait paham tentang konsep simbol motif ragam hias perisai suku Dayak Taman. Artikel-artikel yang berkonsentrasi dengan kajian konsep simbol motif. Adapun temuan dalam penelitian ini bahwa konsep simbol dalam motif ragam hias yang ada pada perisai suku Dayak Taman merupakan hiasan yang dipercayai akan membawa keberuntungan bagi si pemakainya. Anyaman-anyaman digunakan untuk memperkuat perisai sekaligus untuk keindahannya. Dewasa ini, perisai telah berubah fungsinya dari alat pelindung menjadi hiasan, dari alat perang menjadi alat tarian adat. Namun demikian ada baiknya ragam hias yang ada tetap delestarikan, karena memuat pesan kebijaksanaan tentang harmoni kehidupan di alam semesta. Kata Kunci: Dayak Taman. Motif Ragam Hias. Perisai. Simbol Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 PENDAHULUAN Simbol-simbol dalam motif ragam hias suku Dayak di Kalimantan Barat sangatlah beranekaragam corak, warna, bentuk serta arti dan maknanya. Hal ini dapat dipahami sehubungan dengan banyaknya sub suku Dayak di Kalimantan Barat. Dewasa ini, generasi muda Dayak mungkin banyak yang tidak mengenal atau memahami simbol-simbol dalam aneka ragam hias itu. Simbol merupakan salah satu infrastruktur bahasa yang dikenal dengan bahasa simbol yang dengannya manusia membaca dunianya (Andasputra, 1997. Sudhiarsa, 2016. Sulha, 2. Berhubungan dengan simbol pada motif ragam hias terdapat juga dalam seni rupa atau seni lukis. Hal itu tampak pada kain tenunan suku Dayak Taman dengan warna dan motif khas. Tampak pula pada seni anyaman mereka yang berupa: keranjang, bakul, topi, tas, perisai dan lain-lain (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Bahkan banyak orang Dayak yang suka melukis pada kulit tubuh mereka dengan tato. Ada pula yang melukis motif pada perisai dengan berbagai makna khas dari daerah masingmasing. Sedangkan seni pahat atau seni ukir terlihat pada patung-patung kayu, pada tangga-tangga rumah, prabotan rumah, alat perladangan, pada sanding . angunan maka. , pada tangkai dan sarung Mandau, pada tangkai tombak dan perisai (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Fokus dari tulisan ini membicarakan simbol-simbol dalam motif ragam hias yang ada dalam perisai suku Taman yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu. Kalimantan Barat. Ragam hias yang kaya pada perisai mereka dapat dikembangkan untuk berbagai keperluan lain, misalnya untuk hiasan prabot rumah tangga, motif kain tenunan dan peralatan upacara adat yang dibuka dengan tarian. Penjelasan dari tulisan ini akan mengikuti urutan sebagai berikut: Suku Dayak Taman dalam Perspektif Sejarah. Apa itu perisai pada suku Dayak Taman. Jenis-jenis perisai pada suku Dayak Taman. Fungsi perisai pada suku Dayak Taman. Simbol motif ragam hias dan maknanya. Macam-macam simbol dan motif ragam hias perisai dan Fungsi simbol pada suku Dayak Taman. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan pembacaan kritis teks. Peneliti mencoba mensistematisasikan berbagai temuan dari berbagai literatur ke dalam kumpulan kalimat atau penjelasan yang bermakna (Kwirinus, 2023. Karena akan menganalisis kumpulan temuan literatur, maka data yang akan digunakan sekaligus penelitian ini bisa disebut juga penelitian kepustakaan (Sugiyono, 2012. Suryadi, 2. Lebih tegasnya penelitian kepustakaan dan pembacaan kritis terhadap teks dilakukan dengan cara membaca dan menafsirkan smbol dalam motif ragam hias perisai pada suku Dayak Taman, buku-buku, jurnal-jurnal dan dokumen-dokumen yang berkaitan erat, baik secara substansi maupun sekedar untuk melengkapi data, dengan pembahasan yang tentunya disesuaikan berdasarkan pilihan tema yang menjadi konsentrasi penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Suku Dayak Taman dalam Perspektif Sejarah Sub suku Dayak Taman atau sering juga dikenal dengan istilah orang Taman adalah satu diantara sub suku Dayak yang bermukim di hulu sungai Kapuas, yang umumnya terdapat di Kecamatan Kedamin dan sebagian kecil juga terdapat di Kecamatan Putussibau Kabupaten Kapuas Hulu (Bamba, 2. Dalam masyarakat Dayak Taman terdapat empat strata sosial, yaitu samagat, pabiring . isa juga disebut bala samaga. , banua dan paangkam. Strata sosial ini lebih mirip dengan kasta. Kasta yang paling tinggi, yaitu samagat pada masa lampau selalu menjadi pembicaraan orang Taman. Sedangkan, yang rendah adalah paangkam yang lebih mirip dengan budak atau tawanan perang. Kasta paangkam tidak banyak, karena kasta ini ada jika ada tawanan perang atau seseorang dari kasta ulun yang punya hutang dengan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 samagat (Djuweng, 1966. Bamba, 2. Yang paling menyedihkan dari kasta ini adalah menjadi tumbal saat kasta samagat mengadakan upacara adat toras . pacara adat ngangkat tulan. (Andasputra, 1992. Bamba, 2. Pangkam ini disembelih untuk menemani arwah kasta samagat. Namun, kebiadaban ini dihapuskan oleh salah satu tokoh Dayak Taman, yaitu Balle Sariamas Pollo Kayu yang berkasta pabiring. Menurut masyarakat suku ini hakikatnya sudah dihapuskan. Pemimpin pada suku ini tidak lagi berdasarkan kasta-kasta atas, tetapi sudah berdasarkan demokrasi. Secara fisik orang Taman berkulit kuning kecoklat-coklatan . awo matan. dan tingginya berkisar 1,60-1,70 meter. Ciri-ciri lain, yaitu berkepala oval atau bulat panjang . olicho cephaa. dan berkepala sedang . ezzo cephaa. serta berambut hitam lurus. Suku ini tergolong Proto Melayu Tua (Bamba. Orang Taman merupakan induk suku . yang sampai saat sekarang masih tetap teguh memegang adat istiadatnya. Selain itu, mereka termasuk penganut polytheisme dan percaya akan kekuasaan yang tertinggi. Dari mitos penciptaan yang termasuk polygenesis mereka mempercayai bahwa penciptaan dunia berasal dari Dewi Sampulo dan Dewa Kunyanyi. Sampai saat ini kepercayaan itu masih tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Apa Itu Perisai pada Suku Dayak Taman Perisai pada suku Dayak Taman disebut Jabang atau Kelau. Jabang . ata sifa. berarti perisai atau pelindung yang menjaga atau yang mengayomi. Kelau . ata bend. berarti perisai sebagai benda (Anyang, 1. Sebagai benda untuk hiasan prabot rumah tangga. Bagi orang suku Dayak Taman perisai digunakan sebagai pelindung badan terhadap tombak. Mandau atau sumpit pada saat peperangan masa lalu (Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Melihat fungsinya sebagai pelindung bandan, maka perisai harus terbuat dari bahan yang kuat, tidak mudah patah, pecah, hancur dan cukup ringan sehingga leluasa untuk digunakan. Dewasa ini, perisai lebih berfungsi sebagai hiasan dinding, karena tidak ada lagi perang antar suku atau pengayauan. Perisai suku Taman yang aslinya terbuat dari bahan kulit kayu yang keras disebut ToAoli. Tebalnya kurang lebih 1,5 cm dan berwarna kehitam-hitaman. Ada juga perisai yang dibuat dari kayu MaraAo . ejenis kebac. , yang berwarna coklat kemerah-merahan (Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Jenis-jenis Perisai pada Suku Dayak Taman Pada suku Dayak Taman terdapat dua jenis perisai, yakni perisai laki-laki dan perisai perempuan (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Masing-masing perisai memiliki ukiran dan motif yang berbeda namun ditampilkan sosok yang sama dari tokoh tersebut. Perlu diketahui bahwa meskipun sosok yang ditampilkan itu sama, namun pada perempuan lebih ditekankan kelemahlembutan seperti yang dimiliki oleh perempuan. Pada perisai perempuan digambarkan sosok yang lemah lembut. Juga dari kedua perisai tersebut mengandung arti dan makna tersendiri dari tiap-tiap motif yang terkandung pada perisai tersebut. Kepercayaan tentang unsur magis pada ukiran jabang atau kelau . ameng talawan. datangnya dari legenda pertempuran Langindang dan Langkacang (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Dalam peristiwa itu memperlihatkan bagaimana musuh saling takluk hanya karena melihat motif Hal tersebut yang kemudian memunculkan keyakinan Dayak Iban terhadap desain itu. Setiap motif talawang . abang atau kela. disimbolkan sebagai makhluk supranatural atau gergasi (Anyang. Kwirinus, 2023. Menurut kepercayaan Dayak Iban, ada dua jenis pahatan yang diaplikasikan pada tameng mereka yaitu laki-laki dan perempuan (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Perbedaan macam ukiran dalam perisai . abang atau kela. itu dipandang dari segi pengaruh magis yang Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Perisai laki-laki Jabang atau kelau laki-laki digambarkan dengan motif gergasi atau raksasa yang bersifat tenang, kuat, dengan raut wajah menakutkan serta mata merah menyala dan dilengkapi taring runcing (Borgias. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Gambar ini didominasi oleh warna merah darah yang dulunya dihasilkan dari darah musuh dicampur dengan warna buah rotan. Ilustrasi motif perisai laki-laki semacam itu dipercaya dapat mempengaruhi orang agar semangatnya memudar dan merasakan ketakutan yang teramat sangat sebelum memulai perang (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus. Hebatnya lagi sensasi ini akan muncul hanya dengan memandang motifnya saja. Motif pada jabang atau kelau laki-laki ini cukup bervariasi. Motif ragam hias pada perisai suku Dayak Taman biasanya diukir atau dilukis pada perisai yang terbuat dari kayu dengan bahan yang beraneka macam. Perisai perempuan Pada jabang atau kelau bermotif perempuan sama-sama digambar sosok gergasi, namun dibuat sedemikian rupa sampai mencitrakan unsur kelembutan, keramahan, serta persahabatan. Untuk motif ini, dominasi warna yang digunakan adalah warna-warna cerah seperti putih dan kuning yang dulunya diramu dari kunyit serta kapur sirih (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Ilustrasi pada perisai perempuan dengan warna dan penggambaran gergasi yang penuh kelembutan tadi, tameng ini akan membuat siapa saja yang melihatnya muncul rasa iba dan kasihan sehingga nantinya tidak tega untuk Jabang atau kelau perempuan digambarkan dengan motif atau ukiran perempuan, hal itu mau menggambarkan tentang kelemahlembutan perempuan sehingga dari sifat yang ditampilkan itu dapat membuat musuh menjadi iba terhadap perempuan (Borgias, 1993. Anyang, 1998. Kwirinus. Musuh tidak ingin menyakiti perempuan tersebut. Fungsi Perisai pada Suku Dayak Taman Di zaman dahulu tentu saja yang namanya perisai . abang atau kela. digunakan untuk melindungi diri dari serangan musuh. Namun, saat ini perisai-perisai tersebut hanya berfungsi sebagai barang Sedangkan perisai yang lama masih dipercaya dapat membentengi tempat tinggal pemiliknya dari marabahaya, sementara perisai yang baru hanya akan menjadi hiasan dalam rumah (Borgias, 1993. Dhavamony, 2017. Kwirinus, 2023. Fungsi perisai selain untuk melindungi diri dari musuh saat perang . alam konteks perang zaman dul. juga digunakan dalam upacara adat yang dibuka dengan tarian dan pada momen atau peristiwa tertentu. Itulah fungsi dari perisai tersebut. Dalam pembuatan perisai, bahan yang digunakan untuk membuat . abang atau kela. tidak boleh sembarangan, melainkan harus dari kayu jeluntung atau kayu lain yang ringan. Sementara untuk ukurannya disesuaikan dengan tinggi orang yang menggunakan karena fungsi utamanya adalah untuk membentengi diri dari setiap serangan Simbol Motif Ragam Hias dan Maknanya Ernst Cassirer menegaskan bahwa, manusia itu animal symbolicum. Ini berarti, simbol itu pula yang membedakan manusia dari hewan: berkomunikasi dengan simbol, mengenal dunia lewat berbagai (Sudiharsa, 2016. Kwirinus, 2. Simbol motif ragam hisa pada suku Dayak Taman memiliki banyak makna. Itu yang membuat orang Dayak Taman dapat berkomunikasi dengan simbol dan mengenal dunia mereka. Simbol-simbol motif ragam hias pada perisai terbentuk oleh anyamananyaman serta kerangka penguat dari perisai itu sendiri. Dewasa ini, simbol-simbol motif ragam hias pada perisai terbentuk dengan cara diukir atau dipahat. Hiasan lainnya dapat berupa rambut manusia atau musuh yang telah dikalahkan serta benda lain yang dipercaya berkekuatan magis bagi pemilik perisai (Sudiharsa, 2016. Kwirinus, 2. Setelah perisai berfungsi sebagai hiasan, maka asesorinya. Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 gambar atau ukirannya pun dibuat semenarik mungkin. Macam-macam simbol dalam motif ragam hias akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Pada suku Dayak Taman ada tiga jenis anyaman pada perisai, yaitu: . Tete: anyaman yang agak rumit dan merupakan syarat utama agar perisai tidak mudah pecah apabila terkena serangan oleh . Siraj: anyaman yang agak kasar dan fungsinya sama dengan Tete. Tete Pangkaman atau tete induAo: anyaman sekitar pegangan perisai untuk memperkuat pegangan itu agar tidak terlepas apabila patah (Sudiharsa, 2016. Anyang, 1998. Kwirinus, 20223. Orang Dayak Taman kaya akan sumber daya alam yang terdapat di hutan rimba sehingga bahanbahan yang mereka butuhkan untuk membuat anyaman mudah didapatkan. Untuk pembuatan ragam hias perisai ini bahan-bahan anyaman adalah inti batang resam . ejenis pakis, dalam Bahasa Taman disebut LimpasoA. (Lontaan, 1975. Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Boleh juga memakai rotan sega yang kuat dan alot, yang mudah mereka peroleh di hutan rimba. Anyaman-anyaman itu dibuat berlawanan arah sedemikian untuk saling memperkuat fungsinya. Kerangka penguat perisai (Taman: BingkeA. digunakan untuk membalikan arah serangan lawan. Biasanya terbuat dari bambu, rotan atau kulit kayu yang keras. Kerangka itu diletakan di tengah-tengah vertikal dan berjajar simetris di sisi kiri dan kanan. Seiring dengan perubahan fungsinya, terjadi pula perubahan pada bentuk, jenis kayu dan ragam hias perisai. Untuk kepentingan perhiasan, prabot rumah tangga. Banyak dipakai kayu pelai (Bahasa Taman: litaA. atau pun kayu jelutung yang ringan dan mudah diukir (Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Hiasannya lalu menekankan pada keindahan dipandang mata. Simbol motif yang biasa menggambarkan Aupohon kehidupanAy seperti sering dijumpai juga pada daun pintu rumah panjang (Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Simbol motif tersebut mungkin berasal dari budaya Hindu. Maknanya dapat disejajarkan dengan gunungan wayang bagi masyarakat Jawa. Di dalam simbol motif tadi yang dominan adalah ornamen manusia (Taman: Jun. yang berada di tengah-tengah, untuk menggambarkan posisi sentaral manusia dalam kehidupan (Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Hiasan-hiasan lain diusahakan memperkuat posisi Jung itu. Misalnya, gambar burung ditempatkan di atas, gambar ikan di bawah. Setelah Jung, ornamen yang dominan juga adalah Naga, yang bagi suku Dayak Taman itu melambangkan keperkasaan Audunia bawahAy (Anyang, 1998. Kwirinus, 2023. Letaknya bebas, untuk mengambarkan bahwa naga itu bisa saja hidup di air, darat atau diangkasa. Suku Taman memberi nama-nama untuk ragam hias perisai, yaitu: . SoAolajo: menggambarkan tumbuhan, biasanya pohon, . surat tete jatang: untuk memperkuat perisai, . Lolo PauAo: gambar tumbuahn perisai muda, . Bubulis: menggambarkan alat perburuan, yaitu mata tombak, . Naga: lambang dewa, . Binatang-binatang lainnya seperti kera dan kukang (Taman: lensin. , buaya, ular, ayam, anjing dan kucing yang masing-masing diletakan untuk keserasian dan memperkuat fungsi manusia (Jun. Manusia ditempatkan selalu menjadi sentral atau pusat (Anyang, 1998. Kwirinus. Pembuat perisai dapat berkreasi dengan simbol-simbol asal memperhatikan keserasian pada Hal ini dipandang prinsipil dalam menghias perisai. Gambar buaya, misalnya, tidak boleh ditempatkan di atas burung enggang atau ayam tidak boleh ditempatkan di atas manusia karena akan mengurangi makna dari simbol-simbol itu. Macam-macam Simbol dalam Motif Ragam Hias Perisai Motif Dayak pada dasarnya merupakan kombinasi antara suatu pola dasar yang mempunyai makna masing-masing, kemudian dikreasikan dalam berbagai perpaduan beberapa motif dasar sehingga menjadi satu kesatuan dengan rangkaian makna yang berarti (Loi, 2023. Kwirinus, 2023. Sebenarnya motif Dayak memiliki ciri khas yang hampir sama di seluruh wilayah Kalimantan. Baik itu Kalimantan Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 Timur. Kalimantan Utara. Kalimantan Barat. Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Dove, 1985. Surjani, 2. Bentuk simbol yang dipakai dalam suku Dayak pada umumnya tak hanya berupa materi yang kasat mata, tetapi gerakan dan ucapan seperti tarian adat dan sebagainya. Motif burung enggang adalah motif yang sering digunakan dalam kegiatan seni suku Dayak. Motif ini juga merupakan ciri-ciri untuk pembeda dari kesenian lainnya yang ada di Indonesia. Motif burung enggang dapat dikombinasikan dengan motif naga dan sulur atau akar-akaran. Burung enggang dan naga merupakan simbol penguasa alam (Freeman, 1992. Dilistone, 2002. Viktori, 2. Mahatala atau Pohotara adalah penguasa alam atas yang disimbolkan sebagai burung enggang gading. Menurut kepercayaan suku Dayak. Mahatala atau Pohotara ini merupakan jelmaan dari panglima burung yang datang pada saat peperangan. Oleh sebab itu simbol ini juga dominan dalam ukiran dan motif suku Dayak (Freeman, 1992. Dilistone, 2. Sedangkan motif naga banyak digunakan dalam gambaran seni suku Dayak. Menurut masyarakat adat, naga yang dikenal dengan nama Jata atau Juata dianggap sebagai simbol penguasa alam bawah (Freeman, 1992. Dilistone, 2. Motif lainnya adalah motif anjing yang biasa di ukirkan pada lukisan tentang pengenalan kehidupan masyarakat suku Dayak (Freeman, 1992. Loreta, 1995. Dilistone, 2. Dalam cerita rakyat suku Dayak, anjing adalah binatang jelmaan dewa yang di usir dari kayangan dan diturunkan ke bumi untuk menjaga manusia. Motif ini bisa dilihat pada motif pohon kehidupan masyarakat suku Dayak. Pada dasarnya suku Dayak membuat motif anjing sebagai rasa syukur atau terimakasih kepada para hewan peliharaan mereka yang selalu menjaga dan menemani mereka pada saat berburu serta selalu setia kepada pemiliknya (Freeman, 1992. Loreta, 1995. Dilistone, 2. Meskipun terdiri dari banyak motif perisai selalu menempatkan gambar manusia pada tengah Di dalam simbol motif tadi yang dominan adalah ornamen manusia (Taman: Jun. yang berada di tengah-tengah, untuk menggambarkan posisi sentral manusia dalam kehidupan (Freeman, 1992. Loreta, 1995. Dilistone, 2. Fungsi Simbol pada Suku Dayak Taman Setiap kelompok suku bangsa di muka bumi ini mempunyai bahasa simbol masing-masing. Demikian pula dengan suku Dayak Taman. Menurut Borgias ada tiga fungsi bahasa simbol, yaitu: . Sebagai alat komunikasi, . sebagai kontrol sosial dan . sebagai partisipasi sosial (Borgias, 1. Simbol di sini adalah bahasa simbolik manusia yang merupakan sarana yang digunakan manusia untuk menyampaikan pesan, petuah dalam bentuk motif-motif yang tercetus dalam ukiran-ukiran ragam hias (Borgias, 1. Bentuk-bentuk simbol ini memungkinkan manusia yang mengartikan pesan-pesan itu saling memahami dalam kepastiannya sebagai makhluk individu, sosial dan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Borgias . bahasa simbol membuat orang yang menginterpretasi bahasa tersebut mampu melakukan tiga hal esensial dalam hidupnya sebagai manusia: Pertama, simbol membantu orang menyampaikan pesan kepada orang lain sehingga terjadi komunikasi dengan orang lain yang bersangkutan. Kedua, simbol merupakan landasan utama di mana gambaran-gambaran mental internal manusia ditata dalam proses yang disebut berpikir. Ketiga, simbol memungkinkan manusia terlibat dalam proses-proses interaksi sosial. Bahkan perubahan sosial memperoleh dayanya dari Aubahasa simbolAy (Borgias, 1. Sebagai alat kontrol sosial simbol digunakan sebagai cara suatu masyarakat, kelompok etnis atau golongan tertentu untuk melaksanakan, menciptakan, menyerasikan keseimbangan atau mengubah struktur nilai politik, kebudayaan, agama, opini umum dan adat istiadat (Borgias, 1. Biasanya ada dua kontrol sosial, yaitu: bersifat langsung, paksaan dan keras serta yang berusaha menamakan nilai- Equilibrium: Jurnal Pendidikan Vol. XII. Issu 2. Mei-Agustus 2024 https://journal. id/index. php/equilibrium/index P-ISSN: 2339-2401/E-ISSN: 2477-0221 nilai kemasyarakatan, seperti adat istiadat, agama dan pendidikan atau penanaman nilai kehidupan di masyarakat yang biasanya dilakukan secara persuasif. Keberhasilan atau ketepatan fungsi simbol sebagai sarana penyampaian pesan tergantung pada empat elemen proses, yaitu: . penyampai pesan atau seniman subyek yang membuat simbol, . penanggap pesan atau pengamat, subyek penilai, . teknik penyampaian pesan dalam bentuk simbolsimbol, . respon dari pengamat, subyek penilai (Eliade, 1990. Borgias, 1993. Putri, 2. Keberhasialan fungsi simbol dalam menyampaikan pesan juga dipengaruhi faktor: . asal-usul latar belakang sosial kultural subyek yang membuat simbol, . keadaan sosial tempat simbol itu dibuat . byek materia. , . kemampuan intelektual sang seniman (Eliade, 1990. Borgias, 1993. Putri, 2. Keberadaan simbol dalam interaksi sosial, interpretasi sosial akan sangat tergantung pada kesepakatan . bersama untuk menetapkan faktor-faktor di atas. Artinya bahwa penampilan subyek yang membuat simbol harus mendapat tempat bagi subyek pengamat, demikian pula sebaliknya. KESIMPULAN Simbol-simbol dalam motif ragam hias yang ada pada perisai suku Dayak Taman merupakan hiasan yang dipercayai akan membawa keberuntungan bagi si pemakainya. Anyaman-anyaman digunakan untuk memperkuat perisai sekaligus untuk keindahannya. Dewasa ini, perisai telah berubah fungsinya dari alat pelindung menjadi hiasan, dari alat perang menjadi alat tarian adat. Namun demikian ada baiknya ragam hias yang ada tetap delestarikan, karena memuat pesan kebijaksanaan tentang harmoni kehidupan di alam semesta. DAFTAR PUSTAKA