Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan ISSN . : 2963-8690 | https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIKONTAN ANALISIS DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP IDE BUNUH DIRI PADA REMAJA SOCIAL SUPPORT ANALYSIS OF SUICIDAL IDEATION IN ADOLESCENTS Siti Nurul Amiroh1. Wazna Layalia Alyan2. Rama Wijaya Abdul Rozak3 Universitas Bhakti Kencana1. Universitas Bhakti Kencana2. Universitas Pendidikan Indonesia3 Email: 221fs02001@gmail. ABSTRAK Penelitian ini menggambarkan fenomena yang khawatir mengenai pemikiran bunuh diri di kalangan remaja, khususnya mahasiswa, yang semakin meningkat. Masalah ini menimbulkan tantangan serius terhadap kesejahteraan mental dan kesehatan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki pemikiran bunuh diri pada remaja, dengan fokus pada pengaruh kurangnya dukungan sosial sebagai faktor kontributor terhadap pemikiran tersebut. Sebanyak 101 responden berusia 18-24 tahun terlibat dalam penelitian ini dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengalami pemikiran bunuh diri, dengan keyakinan tinggi terhadap peran dukungan keluarga dalam mengurangi risiko pemikiran Kompleksitas hubungan sosial, termasuk kurangnya dukungan dari teman dan dampak kehilangan pasangan, juga memainkan peran penting dalam pemikiran bunuh diri di kalangan remaja. Penelitian ini memberikan landasan untuk pemahaman mendalam terkait faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran bunuh diri dan mendorong upaya pencegahan yang lebih efektif di masa depan. Penelitian ini memberikan landasan pemahaman terkait faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran bunuh diri di kalangan remaja, memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pencegahan di masa depan. Implikasi dari temuan penelitian ini dapat membantu merancang strategi pencegahan yang lebih efektif, dengan penekanan khusus pada peningkatan dukungan sosial, guna mengurangi prevalensi pemikiran bunuh diri dan meningkatkan kesejahteraan mental remaja secara keseluruhan. Kata Kunci: Dukungan sosial. Ide bunuh diri. Remaja ABSTRACT This research delineates the worrisome phenomenon of suicidal ideation among adolescents, particularly students, which is on the rise. This issue poses serious challenges to mental well-being and public health. The objective of this study is to investigate suicidal ideation among adolescents, focusing on the impact of insufficient social support as a contributing factor. A total of 101 respondents aged 18-24 participated in the study, utilizing qualitative descriptive methods and questionnaires as data collection instruments. The results indicate that a significant portion of respondents experiences suicidal ideation, with a high belief in the role of family support in reducing the risk of such thoughts. The complexity of social relationships, including a lack of support from friends and the repercussions of losing a partner, also plays a crucial role in suicidal ideation among adolescents. This research provides a foundation for an in-depth understanding of the factors influencing suicidal ideation and encourages more effective prevention efforts in the future. It contributes significantly to prevention by informing strategies with a specific emphasis on enhancing social support to reduce the prevalence of suicidal ideation and improve the overall mental well-being of Keywords: Social Support. Suicidal Ideation. Adolescents PENDAHULUAN Fenomena mengkhawatirkan terjadi dikalangan remaja, khususnya mahasiswa. Banyak dari mereka mengalami keinginan untuk mengakhiri hidup. (Fitri. Menurut WHO . 000 orang DOI: https://doi. org/10. 47353/sikontan. meninggal akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia, dan angka ini lebih tinggi pada usia muda. Di Asia Tenggara, tingkat bunuh diri tertinggi tercatat di Thailand . ,9 per 000 populas. , diikuti oleh Singapura . Vietnam . Malaysia . Sikontan Journal Volume 2 Nomor 3 . Indonesia . , dan Filipina . (Pajarsari & Wiliani, 2. Data dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusikna. Kepolisian RI (Polr. menunjukkan bahwa terdapat 971 kasus bunuh diri tercatat dari bulan Januari hingga Oktober 2023 di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius dikarenakan banyaknya kasus bunuh diri di kalangan (Wusqa. Fenomena di lapangan banyak individu yang merasa ingin mengakhiri hidupnya. Hal ini mulai menjadi sebuah tren atau pemicu bagi orang lain yang kemudian merasa terdorong untuk melakukan hal serupa, sementara dukungan sosial juga terbukti berpengaruh terhadap ide tersebut. (Atmojo Bayu, 2. Dukungan sosial dapat diperoleh dari lingkungan keluarga, teman, dan lainnya. Pada fase remaja merupakan fase pencarian identitas yang melibatkan interekasi secara sosial dan hubungan sosial dengan orang lain. (Lalenoh. , et. , al. Dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa remaja di usia 18-24 tahun mengarah kepada pemikiran atau ide bunuh diri dengan tingkat yang tinggi, seperti menurut penelitian (Yeni, 2. yang mengungkapkan bahwa dukungan sosial keluarga mempunyai hubungan signifikan terhadap kesehatan mental remaja, apalagi remaja Indonesia memiliki kemungkinan 6 kali lebih besar pada masalah kesehatan mental dibandingkan orang tua yang berusia 45 tahun ke atas. Dukungan sosial sangat berpengaruh terhadap ide bunuh diri pada remaja, remaja yang mendapatkan dukungan sosial rendah memiliki risiko melakukan bunuh diri. (Khairunnisa. Diketahui bahwa sebagian besar regulasi emosi sangat berpengaruh tinggi untuk menghindari kemungkinan bunuh diri, khususnya menggunakan strategi kognitif preaprasial regulasi emosi. (Putra. , et. , al Dalam hal ini merujuk pada kemampuan untuk mengenali emosi apa yang dimiliki oleh individu, kapan individu memiliki atau memunculkan emosi, serta bagaimana individu mengekspresikan emosi (Adinda & Prastuti, 2. Penelitian ini juga menyebutkan sebagian respondennya memiliki ide bunuh diri dalam kategori sedang, individu tersebut kurang memiliki self-esteem support dan belonging support, sehingga akan menjadi berat apabila mereka tidak menceritakan dan berbagi perasaan yang mereka alami kepada orang lain. Pemahaman mendalam terkait masalah bunuh diri dikalangan remaja menyoroti beberapa kesenjangan signifikan yang perlu Pertama, terdapat kekurangan dalam faktor-faktor mempengaruhi pemikiran bunuh diri pada remaja, termasuk tekanan akademik, konflik interpersonal, dan masalah kesejahteraan (Astuti. Selanjutnya, keterbatasan pengetahuan mengenai peran dukungan sosial sebagai pelindung potensial terhadap ide bunuh diri menciptakan kesenjangan dalam upaya pencegahan. (Mariyati. Maka dari itu tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki adanya ide bunuh diri pada remaja dan memahami apakah kurangnya dukungan sosial dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pemikiran tersebut. TINJAUAN PUSTAKA Teori bunuh diri Bunuh diri merupakan fenomena yang menyebabkan tingginya angka kematian dan (Rachmadhani. Tindakan bunuh diri dari anggota masyarakat seringkali menjadi peristiwa yang mencolok atau luar biasa, dapat menimbulkan kehebohan, dan Siti Nurul Amiroh1. Wazna Layalia Alyan2. Rama Wijaya Abdul Rozak3 Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan ISSN . : 2963-8690 | https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIKONTAN bagi beberapa orang, bisa menimbulkan rasa takut atau ketidaknyamanan ketika ada seseorang di sekitar mereka yang melakukan bunuh diri. (Fasak. , & Sulastri. Orang yang terlibat dalam perilaku bunuh diri umumnya telah merencanakan tindakan tersebut sebelumnya. Ide bunuh diri merujuk pada pemikiran khusus yang dimiliki oleh individu untuk mengakhiri hidupnya, yang muncul dari berbagai pemikiran mengenai kematian (Gonyalves et al. , 2014 dalam Pratiwi. Reynolds . mengungkapkan bahwa ide bunuh diri mencakup pikiran dan kognisi yang terkait dengan perilaku bunuh diri, serta keinginan untuk melakukan tindakan tersebut. Pemahaman ini dapat dianggap sebagai penanda utama untuk risiko bunuh diri yang lebih serius. (Harahap. Secara serupa. McClure . mendefinisikan ide bunuh diri sebagai pemikiran yang terlibat dalam perilaku terkait bunuh diri (Suherman. P, 2. Perlu dicatat bahwa ide bunuh diri memiliki perbedaan dengan perilaku bunuh diri dan kematian karena bunuh diri. Sifatnya yang menyakitkan dan kompleks, baik secara internal maupun eksternal, menjadikan ide bunuh diri sebagai indikator patologi atau krisis pribadi yang terkait dengan risiko kematian karena bunuh diri (Priyata A , 2. Menurut (Reynolds 1991 dalam Harahap. , ide bunuh diri terdiri dari dua aspek utama: Rencana dan Keinginan Khusus (Specific Plan and Wishe. Aspek ini mencakup individu yang memiliki pemikiran untuk melakukan bunuh Dimulai dari pemikiran umum tentang kematian dan harapan untuk mati, perasaan ini berkembang dari yang ringan hingga serius. DOI: https://doi. org/10. 47353/sikontan. termasuk adanya rencana spesifik untuk melaksanakan tindakan bunuh diri. Tanggapan dan Aspek Terhadap Orang Lain (Response and Aspect of Other. Aspek ini berkaitan dengan bagaimana orang lain merespons atau mempersepsikan harga diri seseorang setelah kematian. Pikiran tentang bagaimana orang lain akan merespons tindakan bunuh diri, serta motif bunuh diri sebagai bentuk balas dendam, termasuk dalam dimensi ini. Menurut Foley . alam Konsoli, 2. penyebab transisi dari ide bunuh diri hingga pelaksanaannya paling dipengaruhi oleh keadaan depresi (Azhari. , 2. Dukungan sosial dengan ide bunuh diri Ketidakmampuan dukungan sosial dan peran bermakna dalam lingkungan sekitarnya merupakan faktor lain yang dapat meningkatkan kecenderungan seseorang untuk melakukan bunuh diri (Trimawardani. Ketika seseorang menghadapi masalah berat dan merasa terisolasi, tanpa perhatian dari orang lain, serta merasa enggan mencari perhatian karena merasa rendah diri dan tidak berharga, kemungkinan untuk melibatkan diri dalam tindakan bunuh diri dapat menjadi lebih nyata (Pramesti. Sebaliknya, adanya hubungan yang positif dan berkualitas dalam lingkungan keluarga atau perkawinan dapat berperan besar dalam mencegah tindakan bunuh diri (Rantung. Adanya korelasi negatif antara dukungan sosial dari keluarga dan ide bunuh diri telah terungkap dalam berbagai penelitian, salah satunya dalam penelitian Salsabila menyatakan bahwa dukungan sosial dari Sikontan Journal Volume 2 Nomor 3 . keluarga memiliki peran penting dalam mencegah ide bunuh diri atau percobaan bunuh diri, dan penelitian ini mencakup berbagai kelompok seperti pemuda Asia, mahasiswa pada umumnya, serta mahasiswa Afrika-Amerika. Adanya korelasi negatif antara tingkat dukungan sosial keluarga dan risiko ide bunuh diri menunjukkan bahwa upaya untuk meningkatkan dukungan sosial dari keluarga dapat menjadi strategi yang efektif dalam pencegahan bunuh diri di kalangan populasi tersebut. Pada individu yang merasa keluarganya tidak mendukung lebih mungkin mengalami ide bunuh diri. Dukungan sosial memiliki asal dari keluarga, teman, dan significant others, dan ketiganya turut berperan dalam kemunculan pemikiran bunuh diri, terutama saat remaja mengalami kekurangan dukungan. Asal dukungan sosial ini diuraikan sebagai berikut (Salsabhilla & Panjaitan, 2. Dukungan Keluarga: Keluarga memegang peran kunci sebagai sumber dukungan utama sebelum dukungan dari teman dan significant others. Ini menunjukkan bahwa keluarga menjadi sumber dukungan sosial yang diterima pertama kali oleh remaja, menciptakan hubungan yang berlangsung lama dan memberikan dukungan yang berkelanjutan kepada remaja. Kekurangan dukungan sosial dari keluarga dapat meningkatkan kemungkinan munculnya pemikiran bunuh diri, terutama saat remaja menghadapi situasi stres. Dukungan Teman: Dukungan sosial dari teman dapat mempengaruhi kemunculan pemikiran bunuh diri, terutama karena pertemanan dan pencarian kelompok Kurangnya dukungan atau penolakan dari teman dapat menjadi pemicu pemikiran bunuh diri pada remaja. Selain itu, stres yang berlanjut akibat kurangnya dukungan sosial dari teman juga dapat memicu pemikiran bunuh diri. Dukungan Significant Others: Dukungan sosial dari significant others juga dapat mencetuskan pemikiran bunuh diri karena kurangnya dukungan dari pihak tersebut. Significant others memainkan peran penting dalam memantau kondisi mental atau kesejahteraan psikologis remaja. Dalam perbandingan antara dukungan sosial dari teman, rendahnya dukungan sosial memperlihatkan risiko yang lebih tinggi terhadap perilaku bunuh diri (Goncalves et al. 2014 dalam Ainunnida. METODE Penelitian ini menerapkan metode kualitatif deskriptif yang mengacu pada kerangka kerja yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman pada tahun 1994. Menurut konsep Miles dan Huberman, penelitian ini melibatkan empat tahap utama, yakni: . Pengumpulan Data. Reduksi Data. Penyajian Data. Verifikasi/Penarikan Kesimpulan. Variabel penelitian yang akan diteliti yaitu ide bunuh diri dan dukungan sosial. Selama pelaksanaan tahapan-tahapan diberikan pada penggunaan kuesioner sebagai mengeksplorasi ide bunuh diri dalam konteks dukungan sosial terhadap remaja. (Setiawan. Siti Nurul Amiroh1. Wazna Layalia Alyan2. Rama Wijaya Abdul Rozak3 Jurnal Ilmu Psikologi dan Kesehatan ISSN . : 2963-8690 | https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIKONTAN Gambar 1. Desain penelitian Miles & Huberman Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Verifikasi/Penari kan Data Sumber: Miles & Huberman . Langkah langkah di atas dilakukan dengan fokus penggunaan kuesioner sebagai alat untuk mengumpulkan data analisis dukungan sosial dengan ide bunuh diri. Dengan kriteria sebagai berikut: Usia Jumlah Tabel 1. Kriteria Responden Penelitian responden, namun setelah dilakukannya reduksi data yang termasuk kedalam kriteria kebutuhan penelitian ini ada 101 responden, dengan rentang waktu 16-19 Desember 2023. Kuesioner dibagikan melalui whatsapp dan instagram kemudian diisi secara online melalui google formulir dengan kriteria tertentu yaitu berusia 18-24 tahun. DOI: https://doi. org/10. 47353/sikontan. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah penulis menyebarkan kuesioner yang telah diisi oleh 101 responden, jawaban responden berdasarkan kriteria adalah sebagai Hasil di disini sejalan dengan penelitian sebelumnya dari Christina dalam Wahyuni . menyatakan bahwa wanita lebih rentan mengalami depresi yang dapat menjadi alasan bunuh diri. Terdapat 19 % wanita mempertimbangkan untuk bunuh diri, sedangkan pria 14%. Menurut riset yang dilakukan oleh Christina pada tahun 2017, didapati bahwa perempuan memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap masalah psikologis, terutama depresi, yang dapat memicu perilaku bunuh diri. Data dari masyarakat Eropa pada tahun 2015 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan kesehatan mental pada perempuan cenderung 20-40 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki. Tingginya persentase ini memberikan pemahaman mengapa banyak melakukan tindakan bunuh diri. (Anita. Selain itu, terkait dengan jumlah partisipan perempuan yang lebih banyak dalam penelitian ini. Dalam penelitian Grima dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa perempuan memiliki kecenderungan yang lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan dengan laki-laki. Faktor ini dapat dijelaskan oleh perbedaan struktur fisik antara laki-laki dan perempuan setelah memasuki masa pubertas, di mana perempuan mengalami perubahan hormonal yang dapat menjadi pemicu terjadinya depresi (Livana. Sikontan Journal Volume 2 Nomor 3 . Tabel 1. Jumlah Responden Yang Memiliki Ide Bunuh Diri Jenis Kelamin Pernah Tidak Pernah LAKI-LAKI PEREMPUAN Total Tabel 2 menyajikan tabulasi data terkait kategori rencana dan keinginan khusus bunuh Dari pertanyaan pertama, sebanyak 67,3% responden pernah memiliki ide untuk mengakhiri hidup, mencerminkan tingginya tingkat pemikiran serius terkait bunuh diri. Selanjutnya, menunjukkan bahwa 81,1% responden pernah menyakiti atau melukai diri sendiri, mencerminkan dampak yang mendalam terhadap kesejahteraan psikologis mereka. Terakhir, pertanyaan ketiga mengungkapkan bahwa 63,3% responden pernah mencari informasi tentang bunuh diri, menyoroti kebutuhan untuk pendekatan pencegahan dan dukungan kesehatan mental yang lebih luas. Temuan ini mengindikasikan perlunya perhatian dan langkah-langkah konkret dalam penanganan krisis kesejahteraan mental (Putri. M 2. Terdapat penelitian terhadap remaja dan ditemukan berbagai kendala yang dihadapi oleh remaja, termasuk permasalahan dalam lingkup pertemanan, perasaan kegagalan dalam mencapai tujuan, tantangan terkait perencanaan karir, dan sejumlah masalah lainnya. Dari serangkaian masalah tersebut, terjadi dampak yang mendorong untuk melakukan perilaku self harm, yaitu tindakan menyakiti diri sendiri. (Azizah. Tabel 2. Tabulasi Data Kategori Rencana dan Keinginan Khusus Bunuh diri PERTANYAAN Apakah anda pernah memiliki ide/ terbesit dipikiran ingin mengakhiri Apakah anda pernah menyakiti/melukai diri sendiri ? Apakah anda pernah mencari informasi mengenai bunuh diri ? Dari temuan penelitian ini, terlihat bahwa sebanyak 75,5% responden memiliki keinginan bahwa kematian mereka dapat mempengaruhi kehidupan orang lain. Hal ini menarik perhatian terkait dengan keterlibatan emosional dan sosial yang kompleks dalam pemikiran mereka terhadap bunuh diri. Secara bersamaan, 72,2% responden menyatakan bahwa kematiannya akan menimbulkan rasa KATEGORI Pernah Tidak Pernah 67,3% 2,6% 81,1% 18,8% 63,3% 36,6% Pernah Tidak Pernah Pernah Tidak Pernah penyesalan di diri orang lain, menciptakan gambaran tentang dampak emosional yang dapat terjadi di lingkungan sosial mereka. Temuan ini menyoroti pentingnya mendekati isu bunuh diri dengan pendekatan yang lebih holistik, yang juga mempertimbangkan aspek hubungan sosial dan kesejahteraan emosional yang mungkin terlibat. (Karimah, 2. Siti Nurul Amiroh1. Wazna Layalia Alyan2. Rama Wijaya Abdul Rozak3 Sikontan Journal Volume 2 Nomor 3 . Tabel 3. Tabulasi Data Kategori Persepsi Diri Terhadap Sikap Orang Lain PERTANYAAN Apakah anda berpikir bahwa kematian anda dapat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari orang yang berada disekitar anda? Apakah anda pernah berpikir bahwa dengan bunuh diri orang disekitar anda akan merasa menyesal? Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa persepsi terhadap dukungan keluarga memiliki dampak signifikan terhadap munculnya ide bunuh diri. Sebanyak 81,1% responden meyakini bahwa dukungan keluarga dapat mengurangi risiko pemikiran bunuh diri. Sebaliknya, terdapat 78,2% responden yang merasa kurang mendapatkan dukungan dari keluarga, dan sekitar 76,2% di antaranya menyatakan bahwa kurangnya dukungan keluarga dapat memicu munculnya ide bunuh diri. Temuan ini memperlihatkan pentingnya peran keluarga dalam mendukung kesejahteraan mental dan menegaskan perlunya upaya untuk memperkuat dan memahami dinamika KATEGORI 75,2% Tidak 24,7% 72,2% Tidak 27,7% hubungan keluarga guna mengurangi risiko bunuh diri di kalangan responden (Rahim. A . Kurangnya dukungan keluarga dapat keputusasaan, menjadi faktor pemicu yang signifikan bagi timbulnya pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri. Pentingnya dukungan keluarga dalam mencegah ide bunuh diri menekankan perlunya peran keluarga sebagai sumber dukungan emosional yang positif. Melibatkan keluarga dalam upaya mendukung individu yang mengalami kesulitan mental dapat menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung dan mencegah risiko bunuh diri (Zuhra, 2. Tabel 4. Tabulasi Data Kategori Dukungan Keluarga PERTANYAAN Apakah anda merasa bahwa keluarga kurang memberi dukungan terhadap Apakah keluarga anda mampu memahami perasaan anda? Apakah kurangnya dukungan keluarga dapat membuat seseorang memiliki ide untuk bunuh diri ? Apakah dengan dukungan keluarga dapat mengurangi munculnya ide bunuh diri DOI: https://doi. org/10. 47353/sikontan. KATEGORI 78,2% Tidak 21,7% Tidak 64,3% 35,6% 76,2% Tidak 23,7% 81,1% Tidak 18,8% Sikontan Journal Volume 2 Nomor 3 . Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden, yakni 87,1%, kurang mendapatkan dukungan dari teman-teman mereka. Meskipun sebanyak 64,3% responden meyakini bahwa dukungan dari teman dapat mengurangi kemungkinan munculnya ide bunuh diri, namun paradoksalnya, sekitar 79,2% responden memilih untuk menghindari berkumpul dengan teman ketika merasa tidak baik-baik saja. Temuan ini menyoroti kompleksitas hubungan sosial dalam konteks kesejahteraan mental, di mana dukungan teman diakui sebagai penting, namun beberapa responden mungkin merasa mengartikulasikan kebutuhan dukungan tersebut (Khotima, 2. Table 5. Tabulasi Data Dukungan Teman PERTANYAAN Apakah anda merasa kurang memiliki dukungan dari teman? Menurut anda apakah dukungan dari teman dapat mengurangi adanya ide bunuh diri? Apakah anda menghindari berkumpul dengan teman ketika merasa tidak baik-baik saja? Penelitian ini menemukan bahwa sebanyak 56,4% responden meyakini bahwa dukungan dari pasangan dapat memberikan dampak positif untuk terus hidup. Sejalan dengan temuan tersebut, ada juga sebanyak 67,3% responden yang merasa bahwa kehilangan pasangan dapat berdampak pada munculnya ide bunuh diri seseorang. Hubungan antara dukungan dari pasangan dan risiko kehilangan pasangan menunjukkan bahwa dinamika hubungan ini memiliki peran KATEGORI Tidak Tidak 87,1% 12,8% 64,3% 35,6% 79,2% Tidak 20,7% yang sangat penting dalam kesejahteraan mental individu. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan dan penguatan hubungan pasangan sebagai faktor yang dapat mempengaruhi secara signifikan pemikiran dan perilaku terkait bunuh diri (Dhoyfan. Secara keseluruhan, ditemukan bahwa adanya kompleksitas interaksi antara faktorfaktor keluarga, sosial, dan emosional menjadi pemicu munculnya pemikiran bunuh Tabel 1. 6 Tabulasi Data Dukungan Significant Others PERTANYAAN Menurut Anda, apakah dukungan dari pasangan dapat memberikan dampak untuk terus hidup? Menurut anda apakah dampak dari kehilangan pasangan mampu membuat seseorang memiliki ide bunuh diri ? Siti Nurul Amiroh1. Wazna Layalia Alyan2. Rama Wijaya Abdul Rozak3 KATEGORI 56,4% Tidak Tidak 43,5% 67,3% 32,6% Sikontan Journal Volume 2 Nomor 3 . Penelitian Mounty . alam Putri. menemukan bahwa pola asuh orang tua berperan penting dalam membentuk perilaku self-harm pada anak-anak. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan ketahanan anak pada interaksi dengan situasi keluarga. Temuan ini sejalan dengan penelitian Nock. Prinstein, & Sterba . di Amerika, yang menunjukkan bahwa remaja perempuan yang terlibat dalam perilaku self-harm cenderung memiliki persepsi pertemanan yang buruk dan perilaku depresif, menyoroti peran lingkungan sosial, terutama teman sebaya, dalam fenomena ini. Fenomena bunuh diri di Indonesia semakin menjadi kekhawatiran serius. Meskipun Indonesia menganut budaya kolektivitas, angka kasus bunuh diri di negara ini cukup tinggi. WHO memperkirakan bahwa tanpa perhatian serius dari berbagai pihak, angka bunuh diri di Indonesia pada tahun 2020 dapat mencapai 2,4 persen dari 100. Beberapa kejadian bunuh diri sudah terjadi di Indonesia, termasuk tindakan seorang pelajar SMP di Jakarta yang meninggal dunia setelah melompat dari lantai empat gedung sekolahnya pada pertengahan Januari lalu, diduga karena mengalami depresi (Febrianti, 2. Data dari Global School-Based Student Health Survey . di Indonesia, yang dikutip oleh Retno Listyarti. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, menunjukkan bahwa remaja perempuan dengan ide bunuh diri mencapai 5,9%, sedangkan remaja pria mencapai 4,3%. Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa remaja pria yang melakukan percobaan bunuh diri mencapai 4,4%, sementara remaja perempuan mencapai 3,4% (Wirawan, 2. Dalam penuturan remaja yang mencoba bunuh diri saat SMP, seorang remaja menyampaikan bahwa stigma kurang iman adalah salah besar, karena orang DOI: https://doi. org/10. 47353/sikontan. seringkali tidak tahu betapa kerasnya perjuangan yang dihadapi oleh seseorang yang berusaha untuk bertahan (Di kutip dari https://w. com/indonesia/majalah51470. SIMPULAN Penelitian ini menyoroti pentingnya pemahaman dan penanganan kasus pemikiran bunuh diri di kalangan remaja. Faktor krusial seperti kurangnya dukungan keluarga meningkatkan risiko pemikiran bunuh diri. Hasil penelitian menunjukkan kompleksitas interaksi antara faktor-faktor keluarga, sosial, dalam konteks pemikiran bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan holistik dan kolaborasi lintas sektor untuk mencegah pemikiran bunuh diri di kalangan remaja. Pembangunan program intervensi yang lebih efektif dan menciptakan lingkungan yang memahami kebutuhan kesehatan mental remaja menjadi langkah krusial dalam menjaga kesejahteraan mereka. Pentingnya membangun kesadaran akan isu kesehatan mental remaja dan memberikan pelatihan kepada orang tua, pendidik, serta tenaga kesehatan untuk mengenali serta merespon tanda-tanda pemikiran bunuh diri menjadi langkah kritis. DAFTAR PUSTAKA