JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 8 No. 2 Tahun 2023 | 115 Ae 125 JPK : Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan http://journal. id/index. php/JPK/index ISSN 2527-7057 (Onlin. ISSN 2549-2683 (Prin. Penguatan Pendidikan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Budaya Sekolah Iin Arifatus Sofannah A 1. Muhlasin Amrullah A 2. Mahardika Darmawan Kusuma WardanaA 3 Informasi artikel Sejarah Artikel : Diterima Mei 2023 Revisi Juni 2023 Dipublikasikan Juli 2023 Keywords : Penguatan Pendidikan Karakter Pendidikan Karakter Karakter Religius Budaya Sekolah How to Cite : Sofannah. Amrullah. Wardana, , . Penguatan Pendidikan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Budaya Sekolah. Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 8 . DOI: http://dx. org/10. 9/jpk. ABSTRAK Penguatan pendidikan karakter religus melalui pembiasaan budaya sekolah ini berperan penting untuk membentuk generasi bangsa yang berkualitas. Penguatan pendidikan karakter di sekolah bermanfaat untuk terbentuknya generasi bangsa yang bukan hanya unggul dalam bidang akademik akan tetapi juga unggul mempunyai akhlakul karimah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan penguatan pendidikan karakter religius melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo serta faktor pendukung dan penghambat penguatan pendidikan karakter melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyoerjo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis fenomenologi. Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukan bahwa, kegiatan pembiasaan karakter religus melalui budaya sekolah sangat berpengaruh untuk meningkatnya sifat religus siswa, memiliki karakter yang baik, beriman, bertanggung jawab dan memiliki sikap akhlaku karimah. Faktor pendukung meliputi kondisi lingkungan, peran guru dan kerja sama antara berbagai pihak seperti, orang tua dengan warga sekolah. Hambatannya adanya penolakan pada siswa maupun wali murid. Kesimpulan dalam penelitian yang berlokasi di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo sesuai dengan visi dan misi yaitu, terbentuknya siswa yang unggul, teladan, beriman dan bertanggung jawab serta mengamalkan ilmu pengetahun dalam aktivitas sehari-hari. ABSTRACT Strengthening Religious Character Education Through School Culture Habituation. Strengthening religious character education through the habituation of school culture plays an important role in shaping the nation's quality generation. Strengthening character education in schools is useful for the formation of a nation's generation that is not only superior in the academic field but also superior in having akhlakul karimah. This study aims to determine how the implementation of strengthening religious character education through school culture habituation at SD Muhammadiyah 1 Driyorejo and the supporting and inhibiting factors of strengthening character education through school culture habituation at SD Muhammadiyah 1 Driyoerjo. This research uses a qualitative method of The results obtained from the research show that, the habituation of religious character through school culture is very influential for increasing the religious nature of students, having good character, faith, responsibility and having a good attitude. Supporting factors include environmental conditions, the role of teachers and cooperation between various parties such as parents and school The obstacle is the rejection of students and guardians. The conclusion in the research located at SD Muhammadiyah 1 Driyorejo is in accordance with the vision and mission of the school, namely, the formation of students who are superior, exemplary, faithful and responsible and practice knowledge in daily activities. Alamat korespondensi: Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Sidoarjo/Indonesia A E-mail: iinarifatussofannah01@gmail. muhlasin1@umsida. mahardikadarmawan@umsida. Copyright A 2023 Universitas Muhammadiyah Ponorogo PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan seseorang. Pendidikan yang unggul merupakan pendidikan yang menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas dan mampu bersaing di era globalisasi. Pendidikan mempunyai peran penting dalam membentuk karakter bangsa. Sebagaimana dijelaskan bahwa fungsi Undang-Undang No. Tahun 2003 pasal 3 bahwa, pendidikan nasional DOI: http://dx. org/ 10. 24269/jpk. email: jpk@umpo. Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri demokratis dan bertanggung jawab (Atika dkk. Pendidikan bukan hanya berfokus menjadikan siswa menjadi cerdas, akan tetapi melalui pendidikan diharapkan membentuk siswa memiliki akhlak mulia (Kurniawan, 2. Fungsi pendidikan nasional dapat menjadikan generasi penerus bangsa memiliki kepribadian yang berpikir kritis, mudah beradaptasi, memiliki sikap toleransi yang tinggi dan bertanggung jawab. Karakter adalah seperangkat sikap, perilaku, motivasi dan keahlian. Karakter merupakan watak seseorang yang meliputi tingkah laku, moral seseorang dan meliputi keterampilan intelektual seperti halnya, mempunyai pemikiran kritis ataupun etis, berperilaku jujur serta bertanggung jawab (Zubaedi, 2. Karakter adalah watak individu yang membaur pada kepribadian berfungsi membedakan individu satu dengan individu Dapat juga dikatakan karakter merupakan keadaan sebenarnya sebagai pembanding antara individu satu dengan individu lainnya (Atika dkk, 2. Pendidikan karakter merupakan problem solving yang berguna untuk menghadapi masalah pada degradasi moral siswa di era globalisasi. Pendidikan karakter bukan hanya sekedar memberikan penjelasan pada siswa berhubungan dengan watak baik maupun buruk, namun lebih mengarah mengimplementasikan nilai-nilai dasar karakter dalam kehidupan (Salim. Siregar, & Mulyo, 2. Pendidikan karakter merupakan upaya pembentukan nilai-nilai seseorang berdasarkan budaya bangsa yang pengetahuan, sikap perasaan dan perbuatan (Tindaka. baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa baik bagi dirinya sendiri, dilingkungan masyarakat maupun bangsanya (Muchtar & Suryani, 2. Pendidikan karakter bertujuan untuk menumbuhkan hasil pendidikan maupun mutu pengelolaan dilingkungan sekolah untuk mencapai pembentukan akhlak mulia, karakter yang seimbang, utuh, terpadu dan searah dengan standar kompetensi lulusan. Pendidikan karakter di sekolah dasar mampu meningkatkan serta . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan mengaplikasikan nilai-nilai karakter, bermoral maupun akhlak mulia dalam aktivitas sehari-hari dan mampu mengambil keputusan yang cerdas dan rasional dalam bersikap, berperilaku maupun berbicara (Hadi, 2. Berdasarkan peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 seputar Pengetahuan Pendidikan Karakter (PPK), pendidikan karakter memiliki hal baru guna menjadikan dan melahirkan generasi keemasan pada tahun 2045 (Hidayah , 2. Tujuan program penguatan (PPK) nilai-nilai karakter siswa untuk lebih efektif dan positif melalui implementasi nilai-nilai inti gerakan nasional revolusi mental . eligius, nasionalis, mandiri, kerja sama dan integras. Penguatan pendidikan karakter di sekolah juga dapat mengubah sikap, cara berpikir dan perilaku siswa untuk lebih baik (Koesomo, 2. Penguatan pendidikan karakter di sekolah dengan melakukan pembiasaan yang positif, memahami nilai serta norma kebudayaan dan membekali siswa untuk menjadikan generasi keemasan pada tahun 2045 mendatang, bertujuan untuk menjadikan pendidikan karakter bangsa lebih berkualitas dan berintegritas. Pada pedoman penguatan pendidikan karakter bahwa ada beberapa nilai utama karakter prioritas PPK, salah satunya adalah karakter religius (Roziqin , 2. Karakter religius adalah seseorang yang berperilaku tunduk dalam pengamalan ajaran agamanya, memiliki sikap toleran terhadap agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lainnya (Suriadi, 2. Karakter religius memiliki tiga aspek yaitu, hubungan seseorang dengan Allah, hubungan seseorang dengan sesama, serta hubungan seseorang dengan lingkungan sekitar (Roziqin dkk. , 2. Karakter religius berperan penting dalam menyadarkan dan menjadikan siswa mengenal akan pentingnya memahami nilai-nilai agama yang ada di sekitar. Keberhasilan karakter religius di sekolah dasar didasarkan pada pembiasaan yang efektif dan positif. Salah satunya adalah dengan menerapkan aspek pembiasaan di dalamnya. Menurut Tambak menyatakan dalam pandangan Miskawaih, konsep pendidikan karakter adalah kebiasaan atau keteladanan seseorang yang terbentuk melalui sikap, perilaku dan jika dilakukan secara terus menerus . , maka secara tidak langsung dapat membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai karakter Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. yang diinginkan (Salim dkk. , 2. Pembiasaan merupakan metode yang dilakukan secara berulang-ulang . menjadikannya sebagai kebiasaan. Metode pembiasaan yang efektif dan positif dapat dilakukannya kegiatan pembinaan karakter kepribadian untuk siswa di sekolah. Salah satu pembiasaan dalam penguatan pendidikan karakter budaya sekolah. Budaya sekolah adalah prosedur dari peningkatan nilai, adat istiadat dan pembiasaan yang terbentuk serta diluaskan dengan waktu yang lama diyakinkan dapat mendorong karakter dan watak warga sekolah . uru, siswa, kepala sekolah, administator dan lain sebagainy. Budaya sekolah bertujuan untuk membentuk nilai-nilai dasar yang berkaitkan pada norma, agama, standar, kebiasaan dan akhlak yang dijadikan sebagai pedoman untuk warga sekolah dan berhubungan dengan kegiatan yang wajib dilakukan (Hernawati dkk. , 2. Budaya sekolah merupakan proses pendidikan karakter dapat diterapkan serta dilakukan secara efektif, sehingga menjadikan siswa memiliki perilaku baik, sopan dalam bersikap, berbicara maupun berperilaku dan sesuai dengan norma yang ada dilingkungan sekolah, keluarga maupun Adapun pembiasaan karakter berbasis budaya sekolah, diantaranya adalah melakukan kegiatan pembiasaan nilai-nilai karakter religius pada aktivitas keseharian di sekolah, meninjau peraturan, tata tertib maupun tradisi sekolah, dan pembiasaan (Astri Octaviani dkk. , 2. Permasalahan mendasar secara umum dalam penelitihan ini adalah bagaimana penanaman pendidikan karakter religus melalui kegiatan pembiasaan. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui lebih dalam bagimana kerjasama antara pihak sekolah dengan wali murid untuk terbentuknya siswa SD Muhammadiyah 1 Driyorejo memiliki prilaku maupun sikap yang bertanggung jawab, beriman dan memiliki sikap akhlakul karimah. Penelitian ini secara khusus mengkaji bagaimana tujuan adanya kegiatan pembiasaan religus dan bagaimana cara pihak sekolah menjadikan siswa mereka memiliki karakter sesuai dengan visi misi sekolah. Dan secara khusus mengkaji bagaimana cara sekolah dalam menyikapi pentingnya siswa memiliki kebiasaan religus sehingga terciptanya generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu bersaing di era globalisasi. Beberapa penelitian terdahulu sudah dilakukan oleh beberapa ahli terkait penguatan karakter religius melalui pembiasaan budaya sekolah sebagai berikut. Pertama. Astri Octaviani dan Untari berjudul Penguatan Pendidikan Karakter Nilai Religius dalam Program Kegiatan Budaya Sekolah. Penelitian menemukan 6 pembiasaan budaya sekolah di SD Alam Ar-Rohman. Kegiatan pembiasaan meliputi, kultum, sholat sunnah rawatib, kegiatan dzikir petang dan sholat berjamaah . holat dhuha, sholat dhuhur dan sholat asha. Menurut pandangan peneliti kegiatan penguatan pendidikan karakter religius di SD Alam ArRoman sesuai dengan visi serta misi yang dimiliki sekolah dan siswa SD Alam Ar-Roman sangat antusias dalam melakukannya (Octaviani , 2. Kedua. Arimbi N dan Minsih M berjudul Budaya Sekolah pada Pembentukan Karakter Religiusitas pada Siswa Sekolah Dasar. Hasil dalam penelitian tersebut yaitu, bagaimana peranan budaya sekolah untuk menciptakan karakter religiusitas pada siswa. (Octaviani dkk. Peneliti lebih berfokuskan bagaimana dampak budaya sekolah terhadap pembentukan Muhammadiyah 1 Tegalgede Karanganyar. Menurut pandangan peneliti guru memiliki peran sebagai perantara untuk menjadikan siswa memiliki karakter religiusitas. Dan guru memiliki tanggung jawab untuk menjadikan siswa mempunyai karakter yang sopan santun, beriman serta taat beribadah (Arimbi & Minsih. Ketiga. Indrawati berjudul Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Budaya Sekolah. Hasil dalam penelitian ini adalah kegiatan penguatan pendidikan karakter melalui budaya sekolah diterapkan dengan baik dan Melalui penguatan pendidikan karakter mempunyai dampak positif terbentuknya karakteristik siswa SD Muhammadiyah Al Mujahidin. Karakter diantaranya siswa menjadi pribadi yang beriman, memiliki integritas moral yang tinggi dan adanya kegiatan penguatan pendidikan karakter melalui budaya sekolah dapat menjadikan siswa memiliki akhlakul karimah (Indarwati, 2. Kegiatan pembiasaan melalui budaya sekolah juga diterapkan oleh siswa SD Muhammadiyah 1 Driyorejo yang terletak di Jl. Raya Panca Warna AU 18/19 Kota Baru Driyorejo. SD Muhammadiyah 1 Driyorejo merupakan sekolah swasta yang kegiatan JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. kesehariannya berbasis agama. Kegiatan pembiasaan dilakukan pada siswa kelas 3 SD Muhammadiyah Driyorejo pembiasaan meliputi, shalat Dhuha berjamaah, shalat Dzuhur berjamaah, menghafalkan suratsurat Al-QurAoan, membaca Tilawah. Tajwid, berdoa sebelum melakukan kegiatan dan merayakan hari-hari besar Islam. Berdasarkan fakta dan fenomena tersebut diperlukannya penelitian terhadap penguatan pendidikan karakter religius melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo dalam aktivitas sehari-hari. Maka judul penelitian yang diambil adalah AuPenguatan Pendidikan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Budaya SekolahAy. Fokus penelitian ini adalah penguatan pendidikan karakter religius siswa kelas 3 melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo, faktor pendukung dan penghambat dengan rumusan masalahnya yaitu, bagaimana pelaksanaan penguatan pendidikan karakter religius siswa kelas 3 melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo serta apa saja faktor-faktor pendukung dan penghambat penguatan karakter religius siswa kelas 3 melalui Muhammadiyah 1 Driyorejo. Tujuan penelitian adalah untuk melihat bagaimana pelaksanaan pembiasaan pendidikan karakter religius melalui budaya sekolah serta untuk mengetahui apa saja faktor pendukung dan penghambatnya. Manfaat penelitian adalah sebagai referensi atau informasi bagi guru, kepala sekolah maupun mahasiswa untuk menjadi referensi tentang bagaimana pelaksanaan penguatan pendidikan karakter religius kelas 3 melalui pembiasaan budaya sekolah dilingkungan sekolah. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian kualitatif merupakan pengumpulan datanya bersifat alamiah atau metode naturalistik. Objek alamiah penelitian kualitatif disubut dengan objek yang dilakukan dengan cara apa adanya dan tidak memanipulasi data (Sugiyono, 2. Penelitian fenomenologi mengetahui bagaimana fenomena yang ada saat penelitian berlangsung (Sugiyono, 2. JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Penelitian fenomenologi menekankan pada pengumpulan informasi didapatkan dan dikuatkan oleh fakta-fakta yang ditemukan pada saat penelitian serta bersumber dari hasil observasi yang disampaikan oleh narasumber saat penelitian berlangsung. Pendekatan fenomenologi bertujuan untuk mengetahui informasi apa saja dan mendeskripsikan fenomena karakter religius kelas melalui penguatan pendidikan karakter pembiasaan budaya sekolah. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis penguatan pendidikan karakter religius melalui pembiasaan budaya sekolah. Berkaitan dengan pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan, merayakan hari-hari besar keagamaan, fasilitas umum yang digunakan untuk beribadah, kegiatan-kegiatan Islami di sekolah, hidup rukun dengan sesama dan perilaku terpuji berdasarkan nilai-nilai agama yang dikehidupan sehari-hari. Penelitihan ini dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo yang terletak di Jl. Raya Panca Warna AU 18/19 Kota Baru Driyorejo. Metode penelitian kualitatif peneliti adalah kunci instrumen itu sendiri, teknik pengumpulannya dilakukan dengan cara gabungan . , analisis datanya bersifat induktif dan hasil penelitiannya lebih Teknik pengumpulan data penelitian kualitatif berasal dari hasil catatan lapangan . , wawancara mendalam dan dokumentasi lapangan (Sugiyono, 2. Sumber data primer penelitian ini didapatkan melalui hasil observasi, wawancara dan dokumentasi sebjek penelitian . epala sekolah, guru kelas 3 dan siswa kelas . Sedangkan sumber data sekunder didapatkan melalui artikel, buku, dokumen resmi, catatan, dan berupa foto saat penelitian berlangsung. Ketiga subjek atau narasumber tersebut masingmasing memiliki peranan penting dalam memperoleh data informasi. Kepala sekolah dan guru kelas 3 berperan penting dalam informasi seputar penerapan penguatan pendidikan karakter religius dan kegiatan pembiasaan budaya sekolah yang ada di sekolah. Sedangkan siswa kelas 3 berperan penting dalam melaksanakan kegiatan pembiasaan pendidikan karakter religius dalam kesehariannya di Teknik keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan jenis triangulasi. Triangulasi dilakukan dalam penelitian yaitu, triangulasi sumber dan triangulasi teknik (Sugiyono, 2. Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. Triangulasi merupakan teknik pengumpulan data yang bertujuan untuk memeriksa atau mengecek keabsahan data dari berbagai sumber Teknik analisis data yang diterapkan pada menggunakan model Miles dan Huberman, yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan menyimpulkan. Pengumpulan pengumpulan data ini peneliti akan melakukan observasi, wawancara, dokumentasi atau gabungan . yang bertujuan untuk memperoleh informasi. Tahap reduksi data peneliti akan merangkum dan memilih data informasi pokok atau intinya. Tahap penyajian data peneliti akan melakukan teknik analisis data dengan menyusun tabel, grafik, phie chard dan sebagainya, bertujuan untuk peneliti memahami data informasi yang dikumpulkan. Penyajian data berisikan pembiasaan kegiatan religius pada siswa kelas 3, faktor pendukung dan Tahap terakhir peneliti memfokuskan atau menyederhanakan data penelitian dan menyusun abstraksi data melalui hasil dari tahap reduksi data sehingga dapat menjadikan analisis data lebih kuat (Sugiyono. Gambar1. Bagan Alur Metode Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Muhammadiyah 1 Driyorejo merupakan sekolah tergolong baru di wilayah Driyorejo. SD Muhammadiyah 1 Driyorejo memiliki visi dan misi bertujuan untuk terbentuknya siswa yang unggul, teladan, beriman, dan bertanggung jawab mengamalkan ilmu pengetahuan dalam aktivitas sehari-hari. Visi dan misi SD Muhammadiyah 1 Driyorejo bukan hanya berfokuskan pada kreatifitas atau akademik saja, akan tetapi juga menjadikan seluruh siswa memiliki karakter yang bertaqwa, beriman, bertanggung jawab dan mencetak generasi Islami yang berkemajuan serta mewujudkan keinginan wali murid dalam menjadikan putra maupun putri mereka memiliki karakter yang sholeh dan sholeha. Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Budaya Sekolah Penguatan merupakan gerakan yang bermanfaat untuk meningkatkan karakter siswa untuk memiliki karakter yang baik, beriman dan bertanggung Penguatan pendidikan karakter adalah kegiatan yang efektif dilakukan untuk terbentuknya karakter siswa dan jika dilakukan pembiasaan yang efektif (Atika dkk, 2. Pendidikan merupakan faktor penting bagi intelektual, emosional dan spiritual. Pendidikan adalah investasi dalam menciptakan seseorang menjadi berkualitas dan memiliki sikap akhlakul Pendidikan karakter salah satu bentuk mewujudkan kegiatan pembiasaan yang menjadikan siswa memiliki akhlak dan perilaku mencerminkan nilai-nilai positif yang diterapkan dalam aktivitas sehari-hari hari (Fauziah dkk. Penerapan pendidikan karakter di sekolah mempunyai peranan penting dalam menjadikan generasi bangsa yang memiliki akhlakul karimah dan adanya pendidikan karakter menjadikannya pondasi siswa untuk menjadikan generasi bangsa yang memiliki karakter beriman, bertanggung jawab, bermoral, mampu mengambil keputusan yang bijak, cerdas dan memiliki karakter religius yang baik. Karakter religius adalah salah satu bentuk karakter yang penting untuk diterapkan pada siswa, bertujuan untuk menjadikan akhlak yang sesuai dengan ajaran agama dan Al-Quran Hadits (Ahsanulkhaq, 2. Hal tersebut di dukung JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. penelitian terdahulu oleh Indrawati bahwa, penanaman pendidikan karakter religus memiliki pengaruh positif terbentuknya integrasi moral siswa, kepribadian siswa dan rasa empati. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan pembiasaan yang efektif. Pembiasaan merupakan metode yang efektif dalam menjadikan seseorang memiliki karakter Pendidikan karakter religius dalam metode pembiasaan dapat diterapkan secara rutin, terjadwal dan sistematis (Nurbaiti. Alwy, & Taulabi, 2. Metode pembiasaan adalah kegiatan yang berkepanjangan, akibatnya pada saat kegiatan perlunya kerja sama seluruh warga Hal tersebut dilakukan secara konsisten bertujuan untuk timbulnya dampak positif dari pelaksanaan pembiasaan (Octaviani dkk. , 2. Budaya sekolah merupakan seperangkat nilai yang mendasari aktivitas keseharian, tradisi, adat istiadat dan kode etik. Budaya sekolah dilakukan serta di praktikan oleh kepala sekolah, guru, administrator, siswa maupun masyarakat disekitar sekolah (Sukadari, 2. Penguatan pendidikan karakter religus melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo dilakukan secara tersusun dan dilakukan sesuai visi dan misi. Kegiatan pembiasaan karakter religius siswa kelas 3 di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo cukup banyak salah satunya adalah shalat dhuha menghafalkan surat Al-QurAoan, membaca Tilawah. Tajwid, berdoa sebelum melakukan kegiatan dan merayakan hari-hari besar Kegiatan pembiasaan karakter religus siswa kelas 3 SD Muhammadiyah 1 Driyorejo rutin dilakukan setiap hari senin sampai jumAoat. Kegiatan pembiasaan shalat dhuha dan sholat dhuhur rutin dilakukan setiap harinya. Shalat dhuha dilaksanakan setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai, kecuali hari senin tidak melaksanakan sholat dhuha berjamaah karena mengikuti kegiatan rutin upacara bendera atau apel pagi. Shalat dhuhur dilakukan saat istirahat kedua bertepatan dengan adzan shalat dhuhur. Pembiasaan sholat dhuha dan sholat dzuhur di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo untuk kelas rendah . , 2 dan . dilakukan di kelas masingmasing dan kelas tinggi . , 5 dan . dilaksanakan di masjid. Kegiatan pembiasaan sholat berjamaah kelas 3 dilaksanakan secara mandiri dari imam maupun iqomah secara bergantian dan terjadwal. Untuk imam sholat terdapat jadwalnya setiap harinya, akan tetapi untuk . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan iqomah dilakukan siapa saja bahkan ada siswa laki-laki yang senantiasa melakukannya tanpa Pada semester ganjil kegiatannya menyempurnakan bacaan saja tanpa melakukan gerakan sholat. Kendalanya adalah beberapa siswa ada yang berbicara bahkan ada yang melakukan gerakan diluar sholat dan ada juga yang mendahului imam. Kegiatan ini bertujuan untuk menyempurnakan bacaan dan hafalan. Pada semester genap kegiatannya tidak hanya melakukan menghafal bacaan saja, akan tetapi dengan melakukan gerakan sholat pada Kendalanya adalah beberapa siswa ada yang bercanda bahkan ada melakukan gerakan di luar sholat dan mendahului imam. Shalat merupakan hal wajib dilakukan oleh seseorang yang beragama Islam. Karena shalat hukumnya wajib dilakukan, maka jika melanggar akan mendapatkan dosa. Selain mendapatkan pahala shalat juga menyehatkan untuk fisik maupun pikiran. Shalat merupakan gerakan dan bacaan yang penting bagi kesehatan jasmani dan rohani gerakannya meliputi, takbiratul ihram, rukuk, sujud, duduk diantara dua sujud serta salam (Rofiqoh, 2. Kegiatan pembiasaan membaca tilawah dan tajwid di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo rutin dilakukan sesuai jadwal. Tujuannya adalah menyempurnakan membaca dan menghafal surat-surat Al-QurAoan. Karena tajwid merupakan hukum dan kaidah bacaan yang wajib dipatuhi dan mengetahui bagaimana membaca ayat-ayat Al-QurAoan. Manfaat mempelajari tajwid adalah untuk menjaga dari kesalahan dalam membaca ayat-ayat Al-QurAoan (Muflih, 2. Untuk menjadikan siswa memahami cara membaca ayat Al-QurAoan wali kelas 3 memiliki strategi dalam menyampaikannya. Strateginya adalah menjadikannya buku tilawah menjadi alat peraga guna memudahkan guru dalam menyampaikan materi dan memudahkan siswa memahami. Buku peraga tilawah tersebut berukuran besar sehingga semua siswa bisa melihat dengan jelas. Selain memanfaatkan alat peraga guru juga melakukan tes bacaan siswa. Setiap hari kurang lebih ada 5 sampai 6 siswa melakukannya dan sisanya menulis surat yang ditentukan guru. Pembiasaan pembiasaan menghafal surat-surat Al-Quran, sehingga bermanfaat untuk mengetahui kesalahan dalam membaca maupun menghafal. Kegiatan pembiasaan menghafalkan surat-surat Al-QurAoan rutin dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai dengan cara seluruh siswa dikumpulkan di masjid untuk Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. kegiatan monitoring guna membiasakan membaca dan menghafal surat-surat Al-QurAoan dengan benar. Kegiatan pembiasaan tersebut tidak hanya berisikan membaca dan menghafal saja, akan tetapi juga melatih siswa untuk Seperti, memasuki masjid siswa dibiasakan untuk melangkah dengan kaki kanan terlebih dahulu, sebaliknya keluar masjid dibiasakan untuk melangkah dengan kaki kiri terlebih dahulu, berdoa memasuki dan keluar Jika siswa meminjam mukena atau AlQurAoan dibiasakan untuk dikembalikan secara Kegiatan pembiasaan ini tidak hanya dilakukan saat diluar pelajaran saja, akan tetapi dilakukan di kelas dengan melakukan hafalan di pertengahan pelajaran. Kegiatan pembiasaan ini konsisten dilakukan setiap harinya seperti, membaca tilawah, tajwid dan menghafalkan surat AlQurAoan dengan cara dibagi sesuai jadwal setiap Setiap hari kurang lebih ada 5 sampai 6 siswa yang melakukannya dan sisanya menulis surat Al-QurAoan yang ditentukan guru. Saat melakukan hafalan siswa maju secara bergantian untuk menyetorkan pada guru. Jika ada siswa salah atau belum lancar membaca guru langsung bagaimana membaca yang bener sesuai dengan Perilaku siswa saat melakukan pembiasaan hampir keseluruhan mengikuti dengan baik, akan tetapi ada beberapa siswa yang berjalan-jalan bahkan bergurau atau menggoda temannya saat menghafalkan. Kegiatan pembiasaan menghafal di pertengahan pembelajaran bertujuan untuk melihat sampai mana surat yang sudah dihafal dan melatih sikap percaya diri siswa. Menurut hasil wawancara dengan salah satu siswa, ada beberapa siswa hafalannya sudah sampai juz 29 dan juz 30. Manfaat menghafal Al-QurAoan bukan hanya mendapatkan pahala, dan meningkatkan konsentrasi siswa saja akan tetapi juga bermanfaat dalam akademis siswa, jika siswa menghafalkan surat Al-QurAoan maka nilai akademiknya meningkat, berbeda dengan siswa yang tidak melakukan hafalan. Karena dalam menghafal Al-QurAoan memerlukan konsentrasi yang tinggi, disiplin, dan memiliki daya ingat yang tinggi (Sholeha dkk. , 2. Menghafal Al-QurAoan dalam ilmu fiqih hukumnya wajib kifayah. Wajib kifayah adalah jika ada seseorang yang melakukanya dan mencakup semua ayat maupun surat Al-Quran . umblah mutawati. maka kewajiban orang lain gugur (Masduki, 2. Dan melalui kegiatan pembiasaan menghafalkan surat Al-QurAoan, membaca tajwid dan tilawah menjadikan dampak positif bagi siswa dalam aktivitas keseharian siswa. Dampak positifnya siswa menjadi lebih percaya diri, mempunyai ketajaman otak, kedisiplinan dalam belajar sehingga mudah memahami materi pelajaran, memiliki daya ingat yang baik, siswa mengetahui arti dari surat yang sudah dipelajari atau saat hafalan dan yang terpenting siswa mendapatkan pahala dengan menghafalkan surat-surat Al-QurAoan. Kegiatan pembiasaan berdoAoa sebelum melakukan kegiatan hampir dilakukan dengan baik oleh siswa kelas 3. Seperti, membaca doa sebelum pelajaran, membaca doAoa sebelum makan dan mengucapkan salam saat memsuki BerdoAoa sebelum pelajaran dimulai siswa kelas 3 dibiasakan untuk perwakilan maju memimpin doa dan tak jarang berebutan untuk Tujuan dan manfaat kegiatan pembiasaan ini adalah siswa lebih memahami materi pelajaran, mendapatkan kemudahan, dan merasa tenang saat melakukan kegiatan. Pembiasaan membaca doAoa sebelum makan hampir seluruh siswa kelas 3 Karena pembiasaan sudah diterapkan atau diajarkan pada saat kelas 1 dan 2 sehingga siswa terbiasa melakukannya tanpa Akan tetapi ada beberapa siswa yang lupa membaca bahkan lupa cara membacanya. Pembiasaan membaca doAoa sebelum melakukan kegiatan juga diterapkan saat mengikuti kegiatan Saat kegiatan pembuka siswa diwajibkan untuk membaca doAoa beserta artinya. Tujuannya adalah siswa mengetahui arti dari bacaan tersebut. Salah satu kalimatnya adalah dapat menunjang karakter religius siswa AuDibuka dengan syahadat dengan iman dan taqwa kami kuat dan tanpa iman serta taqwa kami menjadi lemahAy doAoa tersebut dilakukan setiap kali melakukan ekstrakuler tapak suci dan HW. Ekstrakulikuler HW (Hizbul Watha. juga dijelaskan tentang arti dan penerapan kalimat syahadat dalam aktivitas sehari-hari serta juga dijelaskan tentang rukun iman dan islam. Selain pembiasaan berdoa sebelum melakukan kegiatan siswa SD Muhammadiyah 1 Driyorejo khususnya kelas 3 memiliki rasa empati, toleransi, memiliki rasa kepedulian terhadap teman, gotong royong. Seperti sikap siswa saat belajar dan bermain, siswa kelas 3 memiliki sikap toleransi yang cukup tinggi dan memiliki rasa kepedulian tanpa membedakan Kegiatan pembiasaan bukan hanya JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. berfokuskan pada kelas 3 saja, akan tetapi seluruh siswa di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo. Salah satu kegiatannya adalah Pembiasaan ubudiyah yang dilakukan setiap hari jumat bertujuan untuk mengajarkan bagaimana cara bersikap seorang muslim dan pentingnya perempuan serta laki-laki menutup Kegiatan pembiasaan yang terakhir adalah merayakan hari-hari besar keagamaan. Muhammadiyah 1 Driyorejo merayakan acara khusus keagamaan. Salah satunya merayakan Isra Mi'raj dengan melakukan pawai, menonton film bersama seputar peristiwa Isra Mi'raj dan membagikan takjil. Pawai Isra Mi'raj guru dan siswa berperan penting didalamnya yakni, guru bertugas sebagai koordinator lapang yang bertugas untuk mengawasi siswa saat melakukan kegiatan pawai berlangsung. Selain itu, tugas guru adalah meminta semua siswa untuk membawa makanan ke sekolah yang selanjutnya guru menata makanan tersebut untuk dibagikan ke masyarakat sekitar untuk dibagikan. Adanya pawai Isra Mi'raj bukan hanya sebagai peringatan hari besar Islam, akan tetapi sebagai tempat untuk kegiatan baksos. Tujuannya adalah membiasakan siswa untuk berbicara, berperilaku yang sopan, tertib dan memiliki rasa Tujuan lainnya adalah supaya warga sekitar sekolah merasakan dampak positif adanya kegiatan sekolah. Guru selalu memberikan nasehat dan arahan untuk melakukan pembiasaan di sekolah dan dirumah, akan tetapi saat di rumah siswa lupa bahkan tidak melakukan kegiatan Hal tersebut diketahui ketika guru menyambut siswa di gerbang sekolah. Banyak siswa yang tidak melakukan pembiasaan secara keseluruhan seperti tidak melaksanakan sholat SD Muhammadiyah 1 Driyorejo kongsisten melakukannya, akan tetapi saat Covid-19 sampai sekarang jarang dilakukan Adanya persoalan tersebut guru kurang memantau kegiatan siswa saat di luar sekolah, sehingga guru melakukan kerja sama bersama wali murid untuk memantau kegiatan siswa saat Selain itu wali kelas 3 juga menanamkan karakter religius pada siswa melalui pelajaran. Salah satunya dalam buku ajar membahas tentang energi makanan yang di kaitkan atau di intergasikan kenapa Allah menciptakan serta mengapa tidak boleh memboros energi dan kenapa Allah memerintakan. Hal tersebut selanjutnya dikaitkan tentang pemahaman . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan karakter religius pada siswa bahwa boros itu karakter setan. Adanya trasformasi tersebut secara tidak langsung guru memberikan pemahaman sederhana akan pentingnya memiliki rasa peduli. Melalui hasil pembahasan penguatan pendidikan karakter melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo dapat disimpulkan guru memiliki pengaruh penting untuk menjadikan siswa memiliki karakter yang bertaqwa, beriman, bertanggung jawab dan mencetak generasi Islami memiliki sikap toleransi, rasa kepedulian, gotong royong dan berakhlak mulia. Sehingga guru di sekolah diwajibkan untuk memiliki kepribadian yang baik guna menjadikannya model dan teladan bagi siswa. Hal tersebut sesuai dengan slogan Auguru digugu lan ditiruAy. Slogan bermakna guru merupakan sosok yang dihormati dan menjadi teladan bagi siswa (Ridwan dkk. , 2. Hal itu juga diterapkan di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo. Salah satunya adalah membaca doAoa sebelum melakukan kegiatan dan tertib saat mengikuti kegiatan merayakan hari besar Pembiasaan tersebut didukung penelitian terdahulu dari Arimbi N Minsih M dan Astri Octaviani. Untari bahwa salah satu bentuk keberhasilan penanaman pendidikan karakter religus melalui budaya sekolah adalah bentuk kerja sama dalam memperbaiki perilaku siswa dan membentuk strategi guna meningatkan karakter religus siswa dengan penerapan terciptanya karakter religiusitas pada siswa. Menurut hasil observasi, wawancara dan dokumentasi guru memiliki peran penting dalam menciptakan kegiatan pembiasaan karakter Guru merupakan salah satu faktor berhasilnya proses belajar mengajar. Sekolah memiliki kewajiban untuk membentuk akhlak dan perilaku siswa dengan menanamkan nilai agama bertujuan untuk terciptanya insan yang religius bagi siswa. Penguatan pendidikan karakter religius melalui pembiasaan budaya sekolah dapat diterapkan sedini mungkin guna terciptanya generasi bangsa yang memiliki akhlakul karimah. Salah satu caranya adalah dengan bekerja sama dengan wali murid, warga sekolah dan lingkungan sekitar. Sehingga bertujuan untuk terciptanya kenyamanan dan menyenangkan dalam belajar (Ahsanulkhaq. Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. Faktor Pendukung Dan Penghambat Penguatan Pendidikan Karakter Religius Melalui Pembiasaan Budaya Sekolah Berbagai jenis kegiatan penguatan pendidikan religius melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo memiliki faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung meliputi kondisi lingkungan, peran guru dan kerja sama antara pihak sekolah . uru, petugas TU, dengan wali muri. Jika faktor pendukung penguatan pendidikan karakter melalui pembiasaan budaya sekolah dilakukan secara efektif maka dapat menjadikan seluruh siswa SD Muhammadiyah 1 Driyorejo memiliki karakter religus. Penguatan pendidikan karakter bukan hanya menjadi tanggung jawab guru maupun pihak sekolah saja, akan tetapi wali murid memiliki tanggung jawab penuh dalam Karena dalam hal waktu wali murid yang lebih lama bersama siswa dibandingkan guru maupun pihak sekolah (Sitorus dkk. , 2. Sedangkan faktor penghambat penguatan pendidikan karakter religus melalui pembiasaan budaya sekolah terdapat penolakan siswa dan wali murid dalam melakukan kegiatan pembiasaan atau budaya yang di terapkan Guru merupakan orang tua saat di sekolah dan mempunyai peran dalam membimbing siswa mempunyai karakter religius sesuai dengan pedoman yang dimiliki sekolah, akan tetapi jika wali murid tidak melakukan hal yang sama maka terbentuknya siswa tersebut memiliki perilaku yang pembangkang dan lalai dalam kewajibannya (Sitorus dkk. , 2. Hambatan tersebut dapat disimpulkan siswa dan wali murid kurang memahami kegiatan pembinaan karakter religius. Melalui hambatan tersebut pihak sekolah memiliki solusi yaitu, sabar, konsisten dalam menyikapinya, dan melakukan evaluasi kembali bertujuan untuk menjadikan siswa SD Muhammadiyah 1 Driyorejo memiliki perilaku atau karakter yang baik, bertanggung jawab, berpikir kritis dan mempunyai akhlakul karimah. Pelaksanaan pendidikan karakter religius melalui budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo dapat disimpulkan bahwa, siswa kelas 3 memiliki karakter yang mencerminkan nilainilai islami walaupun tidak keseluruhan. Dan strategi kepala sekolah adalah untuk melibatkan banyak pihak bertujuan untuk mewujudkan target salah satunya wali murid. Karena wali murid memiliki pengaruh besar untuk menjadikan siswa memiliki pembiasaan karakter religius dan wali murid memiliki waktu yang cukup lama bersama siswa, sedangkan sekolah hanya memiliki waktu sekitar 8 sampai 9 jam untuk memberikan pengarahan maupun Hasil Muhammadiyah 1 Driyorejo sebagai lembaga pendidikan formal dan merupakan sekolah yang bernaungan dari PCM . impinan cabang Muhammadiyah Driyorej. mampu menjadikan sekolah untuk menghasilkan siswa berprestasi, mempunyai akhlak yang mulia, unggul teladan dan bertanggung jawab. Hal tersebut sesuai dengan visi misi SD Muhammadiyah 1 Driyorejo. Visi AuMenjadi sekolah Islam yang unggul berprestasi, membangun generasi yang berakhlak mulia dan kemajuanAy. Misi. AuMeningkatkan dan menyimbangkan kualitas siswa dalam IMTAQ dan IPTEK, terbentuknya insan akademik yang beriman, unggul, teladan, bertanggung jawab pengetahuan dalam aktivitas sehari-hari, pelopor kedisiplinan, ketakwaan, kebersamaan yang berkemajuan dalam masyarakat yang dinamisAy. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang sudah dipaparkan dapat disimpulkan bahwa, penguatan pendidikan karakter religus melalui pembiasaan budaya sekolah menekankan bagaimana cara guru maupun pihak sekolah untuk menciptakan atau menjadikan siswa SD Muhammadiyah 1 Driyorejo khususnya kelas 3 menjadi generasi bangsa bukan hanya unggul dalam bidang akademik akan tetapi juga unggul mempunyai akhlakul karimah. Selain itu, terdapat beberapa hal untuk mendorong siswa memiliki prilaku akhlakul karimah yaitu, sekolah menerapkan pembiasaan shalat dhuha serta shalat duhur berjamaah, menghafalkan surat-surat Al-QurAoan, membaca Tilawah. Tajwid, berdoAoa sebelum melakukan kegiatan, berpakaian sesuai syariat, mengucapkan salam dan merayahkan hari-hari besar keagamaan. Secara teratur guru melakukan bimbingan dan arahan pada siswa dalam berperilaku terpuji dan hidup rukun bedasarkan nilai-nilai agama di kehidupan sehari-hari. Guru melakukan komunikasi dua arah untuk melatih siswa memiliki sikap disiplin dan aktif melakukan pembiasaan. Penguatan pendidikan karakter religus melalui pembiasaan budaya sekolah sesuai dengan visi misi sekolah yaitu, terbentuknya siswa yang unggul, teladan. JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan. Sofannah, dkk | Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pembiasaan. beriman dan bertanggung jawab serta mengamalkan ilmu pengetahun dalam aktivitas sehari-hari. Sedangkan faktor pendukung meliputi kondisi lingkungan, peran guru dan kerja sama antara pihak sekolah . uru, petugas TU, dengan wali murid. Kondisi lingkungan dan kerja sama pihak sekolah sangat dibutuhkan Guru mengajarkan siswa untuk percaya diri, bertoleransi, sopa santun dan bertangung jawab. Faktor penghambat terdapat pada penolakan pada siswa maupun wali murid dalam diterapkan sekolah. Pihak sekolah hendaknya memiliki strategi selain sabar dan melakukan evaluasi saja. Akan tetapi harus saling bersinergi atau interaksi untuk menjadikan solusi yang tepat dengan wali murid maupun tokoh masyarakat setempat untuk keberlangsungan penanaman penguatan pendidikan karakter religius melalui pembiasaan budaya sekolah di SD Muhammadiyah 1 Driyorejo. Melalui penelitian ini, peneliti merekomendasikan pada peneliti selanjutnya untuk dapat secara mendalam mengkaji bagaimana manfaat penanaman penguatan pendidikan karakter religus melalui budaya sekolah, sehingga menjadikan generasi penerus bangsa memiliki karakter yang baik, beriman, bertanggung jawab dan memiliki sikap akhlaku karimah. DAFTAR PUSTAKA