ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI CABAI MERAH (Capsicum annum L) DI TINJAU DARI ASPEK PRODUKSI DI DESA KALI TAWANG KECAMATAN TANJUNG MORAWA KABUPATEN DELI SERDANG Sapnani Garamba1. Leni Handayani2 Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UMN Al-Washliyah Medan Jl Garu II A No. 93 Medan Telp . 7867044 Fax 78627471 Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian UMN Al-Washliyah Medan Jl Garu II A No. 93 Medan Telp . 7867044 Fax 78627472 sapnanigaramba@umnaw. lenihandayani@umnaw. ABSTRAK Analisis kelayakan usahatani adalah upaya untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu jenis usaha, dengan melihat beberapa parameter atau kriteria kelayakan tertentu. Dengan demikian suatu usaha dikatakan layak jika keuntungan yang diperoleh dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan baik biaya yang langsung maupun yang tidak langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar pendapatan yang diterima petani dan kelayakan usahatani cabai merah per musim tanam di daerah penelitian. Analisis data yang digunakan adalah rumus pendapatan ( A = TR Ae TC) dan rumus kelayakan (B/C Rasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan yang diperoleh dari usahatani tanaman cabai merah yang dihasilkan petani responden di Desa Kali Tawang Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang sebesar Rp. 915 per musim tanam dengan rata-rata luas lahan yang dimiliki petani sebesar 0,12 Ha dengan rata-rata produksi 1. 134 Kg per musim tanam. Hasil kelayakan usahatani cabai merah di peroleh nilai B/C Ratio sebesar 4,94. Hal ini berarti untuk setiap Rp. 100,- yang dikeluarkan petani akan memberikan keuntungan sebesar 4,94 kali lipat. Sesuai dengan kriteria kelayakan yang diperoleh yaitu B/C Ratio > 1, maka usahatani cabai merah layak untuk di usahakan atau Kata Kunci : Cabai Merah. Kelayakan. Produksi. Usahatani. ABSTRACT Feasibility analysis of farming is an effort to determine the level of feasibility of a type of business, by looking at several parameters or certain feasibility criteria. Thus, a business is said to be feasible if the profits obtained can cover all costs incurred, both direct and indirect costs. The purpose of this study was to determine how much income farmers receive and the feasibility of red chili farming per planting season in the research area. The data analysis used is the income formula (A = TR - TC) and the feasibility formula (B / C Rati. The results of the study showed that the average income obtained from red chili farming produced by respondent farmers in Kali Tawang Village. Tanjung Morawa District. Deli Serdang Regency was Rp. 38,655,915 per planting season with an average land area owned by farmers of 0. 12 Ha with an average production of 1,134 Kg per planting season. The results of the feasibility of red chili farming obtained a B / C Ratio value of 4. This means that for every Rp. 100, - spent by farmers will provide a profit of 4. 94 times. According to the feasibility criteria obtained, namely B/C Ratio > 1, then the red chili farming business is feasible to be run or profitable. Keywords: Red Chili. Feasibility. Production. Farming. PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor pertanian Indonesia terbagi menjadi lima subsektor, yaitu subsektor pangan dan hortikultura, subsektor subsektor peternakan, dan subsektor Subsektor hortikultura menjadi salah satu subsektor yang berguna dalam memenuhi konsumsi pangan setiap individu. Salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di Indonesia adalah cabai merah. Cabai merah diusahakan masyarakat hampir diseluruh wilayah Indonesia, karena komoditas ini dibutuhkan masyarakat untuk dikonsumsi sehari-hari baik dalam keadaan segar maupun olahan. Selain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, permintaan cabai oleh industri dari hari ke hari terus meningkat, seiring dengan meningkatnya industri pengolahan bahan makanan yang menggunakan cabai merah sebagai bahan baku utamanya (Hiskia, 2. Tanaman tanaman yang berbasis budidaya kebun. Tanaman hortikultura terbagi atas lima jenis diantaranya jenis tanaman buah, obat-obatan lansekap/taman (Diyanto, 2. Tanaman hortikultura termasuk ke dalam tanaman budidaya kebun yang menghasilkan sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) cukup besar di Indonesia. Cabai merupakan terna tahunan yang tumbuh tegak dengan batang berkayu, banyak cabang, serta ukuran yang mencapai tinggi 65-120 cm dan lebar tajuk Umumnya, daun cabai berwarna hijau muda sampai hijau gelap, tergantung Daun cabai yang ditopang oleh tangkai daun mempunyai tulang Daun cabai berbentuk bulat telur, lonjong, ataupun oval dengan ujung meruncing, tergantung spesies dan Analisis kelayakan usahatani adalah upaya untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu jenis usaha, dengan melihat beberapa parameter atau kriteria kelayakan tertentu. Dengan demikian suatu usaha dikatakan layak jika keuntungan yang diperoleh dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan baik biaya yang langsung maupun yang tidak langsung. Secara finansial kelayakan usaha dapat dianalisis dengan menggunakan beberapa indikator pendekatan atau alat analisis yaitu dengan menggunakan titik peluang pokok (Break Event Poin. Revenue Cost Ratio (R/C rati. Benefit Cost Ratio (B/C rati. Payback period, dll Dengan menganalisis kelayakan usahatani dapat diketahui apakah usahatani tersebut layak atau tidak. Kelayakan usahatani cabai merah dapat dihitung menggunakan R/C. R/C diketahui dengan cara pembagian antara penerimaan dengan biaya total (Prajnanta. Final dalam Waldi, 2. Cabai merupakan tanaman yang berasal dari bagian tropis dan subtropis Benua Amerika khususnya Amerika Selatan. Tanaman Cabai termasuk famili Solanaceae, genus Capsicum. Capsicum annuum L merupakan salah satu spesies dari 20-30 spesies dalam genus yang sama. Spesies ini paling banyak dibudidayakan dan penting secara ekonomi. Berdasarkan karakter buahnya spesies Capsicum annuum digolongkan dalam empat tipe yaitu cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika (Syukur, 2. Tanaman cabai merupakan salah satu sayuran buah yang memiliki peluang bisnis yang baik. Besarnya kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri menjadikan cabai sebagai komoditas Permintaan cabai yang tinggi untuk kebutuhan bumbu masakan, industri makanan, dan obatobatan merupakan potensi untuk meraup keuntungan. Tidak heran jika cabai merupakan komoditas hortikultura yang mengalami fluktuasi harga paling tinggi di Indonesia (Nurfalach, 2. Cabai merah (Capsicum annuum L). adalah salah satu produk pangan rempah yang paling penting dan paling banyak diproduksi di Asia. Cabai merah digunakan sebagai rempah dalam berbagai makanan di seluruh dunia. Bisnis budidaya cabai terlihat sangat menjanjikan dan berpotensi memberikan keuntungan yang cukup besar. Hal ini disebabkan nilai pemasaran cabai yang tinggi bila ditinjau dari volume serta nilai ekspor dan impor di tingkat domestik dan internasional (Winarno, 2. Tanaman cabai merah yang memiliki nama ilmiah (Capsicum annuum L). ini berasal dari kawasan Amerika Selatan dan Tengah. Tanaman cabai dapat diperbanyak dengan biji. Komoditas cabai digunakan hampir pada semua jenis makanan karena merupakan bumbu masak utama yang umumnya dikonsumsi dalam komoditas yang banyak digunakan, cabai memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan banyak diusahakan oleh petani di Sumatera Utara Kabupaten Deli Serdang merupakan wilayah yang industri unggulannya adalah Salah satu sumber daya alam yang dapat diperbaharui maupun sebagai sumber penghasilan masyarakat untuk masa kini dan masa mendatang adalah bidang pertanian. Usahatani yang banyak dilakukan oleh petani di Kabupaten Deli Serdang yaitu usahatani cabai merah karena cabai merah memiliki nilai jual yang tinggi. Usahatani cabai merah tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga tetapi juga bertujuan untuk menjadi sumber pendapatan bagi petani. Cabai merah di Kabupaten Deli Serdang dapat bertahan dengan lama walaupun disimpan berharihari dengan keadaan suhu tinggi maupun suhu rendah (Novita, 2. Petani yang menanam cabai merah di Desa Kali Tawang menanam di lahan sawah dengan sistem irigasi menggunakan sumur bor dengan teknik budidaya secara Berdasarkan pengamatan di lapangan. Desa Kali Tawang didominasi oleh jenis lahan tegalan/ladang yang digunakan petani untuk menanam sayuran seperti ketimun, kacang panjang, dan kangkung. Budidaya cabai merah dilakukan oleh petani pada lahan sawah, sehingga cabai merah ditanam setelah pertanaman padi sawah. Oleh karena itu, pola tanamnya dipengaruhi oleh pertanaman padi yang bergantung pada iklim. Pola tanam cabai merah di Desa Kali Tawang dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1 Pola Tanam Cabai Merah di Desa Kali Tawang Gambar 1. menunjukkan bahwa Tawang Kecamatan Tanjung Morawa usahatani cabai merah di Desa Kali Kabupaten Deli Serdang dilakukan selama satu kali dalam setahun. Cabai merah ditanam pada musim kemarau. Periode tanam pada bulan Juli Ae Agustus. Cabai merah mulai bisa dipanen setelah tanaman berusia 100 Ae 120 hari. Periode panen cabai merah dimulai pada bulan November sampai Desember. Proses panen cabai merah dilakukan setiap dua sampai lima hari sekali, disesuaikan dengan tingkat kematangan buah. Oleh karena itu, usahatani cabai merah berlangsung selama O 7 bulan, mulai dari waktu tanam hingga waktu panen selesai. Selain cabai merah, petani di Desa Kali Tawang menanam padi pada lahan yang sama. Periode tanam padi dimulai pada bulan Februari Ae Maret dan periode panennya pada bulan Mei Ae Juni, kemudian lahan diberakan sebelum menanam cabai merah dengan tujuan untuk memberantas hama. Petani di Desa Kali Tawang memulai persiapan pengolahan lahan untuk cabai merah pada awal Juli. Persiapan pengolahan lahan yang dimaksud yaitu melakukan penyemprotan herbisida untuk menekan pertumbuhan gulma berdaun lebar dan gulma berdaun sempit setelah pertanaman padi sawah. Petani menggunakan benih cabai merah verietas hibrida. Varietas yang umumnya digunakan adalah jenis Lado F1. Alasan petani memilih varietas Lado F1 karena cocok untuk ditanam di dataran Selain itu, dengan perawatan yang intensif dan pengaturan pupuk yang tepat, benih varietas Lado F1 berpotensi menghasilkan 18 Ae 20 ton/ha. Saat ini, produktivitas cabai merah di Kecamatan Tanjung Morawa sebesar 1. 243 kw/ha. Berdasarkan hasil wawancara, pada tahun 2025, petani cabai merah di Desa Kali Tawang Kecamatan Tanjong Morawa diarahkan untuk menggunakan varietas lokal, dengan pertimbangan perawatannya lebih mudah, waktu panen genjah, dan panen dapat dilakukan lebih dari enam belas kali pemetikan. Umumnya petani yang menjalankan usahatani cabai merah ini jarang sekali biaya-biaya dikeluarkan secara terperinci. Selain itu mereka juga jarang mencatat berapa penerimaan yang diperoleh, besarnya biaya dan penerimaan petani dari usahatani yang sebenarnya mereka terima sulit untuk R/C usahataninya sehingga mereka tidak mengetahui apakah layak atau tidaknya usahatani cabai merah tersebut. Produksi cabai merah di Kabupaten diduga dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi, karena secara teoritis hubungan tersebut digambarkan dalam fungsi Faktor produksi dapat berupa tenaga kerja dan modal produksi maupun faktor iklim. Masukan . seperti sarana produksi pertanian masih dapat dikendalikan oleh petani, sedangkan curah hujan, suhu dan berbagai variabel iklim yang lain tentu diluar kendali petani. Masukan produksi mempunyai nilai ekonomis yang penting dalam usahatani. Masukan produksi merupakan sumber biaya pada suatu usahatani sehingga harus digunakan dengan efisien. Usahatani diharapkan dapat dilakukan dengan biaya produksi minimal, namun dihasilkan keuntungan yang maksimum. Biaya sarana produksi dapat dikendalikan melalui alokasi jumlah yang tepat, sehingga setiap masukan dapat digunakan dengan efisien. Keuntungan diharapkan dapat dicapai melalui efisiensi Produksi adalah sejumlah hasil dalam satu lokasi dalam waktu tertentu dengan demikian dapatdikatakan bahwa produksi yaitu kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh hasil produksi yang maksimal dengan menggunakan faktor produksi untuk memperbesar nilai. Jika permintaan akan produksi tinggi maka harga ditingkat petani akan tinggi pula, sehingga dengan biaya yang sama petani akan memperoleh pendapatan yang lebih Sebaliknya, jika petani telah berhasil meningkatkan produksi, tetapi harga turun maka pendapatan petani akan turun pula. Usahatani . adalah organisasi dari alam . , tenaga kerja, dan modal yang di tunjukkan kepada produksi di Organisasi tersebut ketatalaksanaannya berdiri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seseorang atau sekumpulan orang sebagai pengelolanya. Istilah usahatani diatas telahmencakup pengertian yang luas dari bentuk yang paling sederhana sampai yang paling Di Indonesia, selain usahatani dikenal pula istilah perkebunan yang sebenarnya juga merupakan usahatani yang dilaksanakan secara komersial. Biaya adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktorfaktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi perusahaan atau usaha tersebut. Biaya usahatani dipergunakan dalam usahatani. Biaya total adalah keseluruhan jumlah biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut: TC = TFC TVC Dimana: Total Cost = Total Fixed Cost Total Variabel Cost Penerimaan usahatani yaitu penerimaan dari semua sumber usahatani meliputi yaitu hasil penjualan tanaman, ternak, ikan atau produk yang dijual, produk yang dikonsumsi pengusaha dan keluarga selama melakukan kegiatan dan kenaikan nilai inventaris, maka bentuk-bentuk penerimaan dari sumber penerimaan Pendapatan merupakan hasil dari penjualan barang dan pemberian jasa dan diukur dengan jumlah yang dibebankan kepada langganan. Pendapatan penerimaan (TR) dan semua biaya (TC). Jadi Pd = TR Ae TC. Penerimaan (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (P. Biaya menjadi duayaitu biaya tetap . ixed cos. dan biaya tidak tetap . ariable cos. Berdasarkan uraian di atas penulis AuAnalisis Kelayakan Usahatani Cabai Merah (Capsicum Annum L) Di Tinjau Dari Aspek Produksi di Desa Kali Tawang Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, seperti keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti akan mengambil sampel dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari diberlakukan untuk populasi. Sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar representative (Sugiyono, 2. Teknik sampling sensus, juga dikenal sebagai sampling jenuh atau total sampling, adalah metode pengambilan sampel di mana seluruh anggota populasi dijadikan sampel dalam penelitian. Sebanyak 32 sampel Artinya, tidak ada anggota populasi yang dikecualikan dari penelitian, dan semua data dari setiap anggota populasi akan dikumpulkan. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini akan menemukan suatu informasi mengenai Analisis Kelayakan Usahatani Cabai Merah (Capsicum Annum L) Di Tinjau Dari Aspek Produksi (Studi Kasus : Petani Cabai Merah Desa Kali Tawang Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdan. Populasi dan Sampel Populasi Populasi pada penelitian ini adalah petani cabai merah di Desa Kaloi Tawang Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang yaitu sebanyak 32 petani. Sampel Sampel merupakan bagian atau jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan Keuntungan adalah Total penerimaan dikurangi dengan total biaya produksi Untuk menguji hipotesis kedua . , yaitu Untuk mengetahui nilai kelayakan usahatani cabai merah di daerah penelitian digunakan persamaan sebagai berikut : Lokasi dan Waktu Penelitian Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja . , dengan pertimbangan bahwa di Desa Kali Tawang Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang, penduduknya menanam cabai merah dimusim kemarau setelah selesai menanam padi sawah di lahan yang sama. Penelitian ini di rencanakan mulai pada bulan Mei hingga selesai Tahun 2025. Teknik Pengumpulan Data Data primer diperoleh melalui kuisioner dan wawancara langsung dengan para responden yaitu usahatani cabai Metode wawancara merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab antara pewawancara dengan responden dengan menggunakan alat atau penelitian wawancara, yang dalam penelitian ini adalah kuesioner. Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan data sekunder merupakan sumber yang tidak pengumpul data, misalnya lewat orang lain, melalui dokumen atau lembaga statistik lainnya Teknik Analisis Data Untuk menguji hipotesis pertama . yaitu untuk mengetahui pendapatan cabai merah permusim tanam digunakan persamaan sebagai berikut : A = TR Ae TC Keterangan : = Keuntungan = Total Revenue (Total Penerimaa. = Total Cost (Total Biay. Dengan rasio pengambilan keputusan sebagai berikut : B/C>1, usahatani cabai merah layak untuk B/C<1, usahatani cabai merah tidak layak untuk dikembangkan B/C=1, usahatani cabai merah dikatakan impas (Suratiyah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Dalam Usahatani Biaya tetap . ixed cos. Biaya tetap . ised cos. adalah biaya yang jumlahnya selalu sama meskipun jumlah produksi berubah-ubah. Biaya mempengaruhi produksi dan terus di keluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit dan meskipun tidak melakukan produksi, besarnya biaya tidak tergantung pada besar kecilnya biaya produksi yang di peroleh (Soekartawi, 2003 dalam Rico. Biaya tetap yang dikeluarkan dalam penelitian ini hanya meliputi nilai penyusutan alat (NPA) saja. nilai pajak (PBB) belun ada, karena responden tersebut belum mempunyai sertifikat tanah. Tabel 1. Rata-Rata Nilai Penyusutan Alat (NPA) Usahatani Cabai Merah Permusim Tanam Jenis Alat Total Biaya Cangkul Sprayer Jumlah Sumber : Data Primer Setelah Diolah Tahun 2025 Tabel 1 menunjukkan bahwa biaya cangkul rata-rata Rp. 053 per tahun dan biaya sprayer Rp. 968 per tahun dalam usahatani cabai merah di Desa Kali Tawang Kecamatan Tanjung Morawa Tabel 2. Hasil Rekapitulasi Rata-Rata Biaya Tetap dan yang dikeluarkan oleh Petani Cabai Merah Permusim Uraian Total biaya (R. Nilai penyusutan alat (NPA) Jumlah Sumber : Data Primer Setelah Diolah Tahun 2025 Tabel 2 menunjukkan bahwa total nilai penyusuta alat (NPA) adalah sebesar Rp 240. 021/tahun,yang terdiri dari sprayer. Sedangkan total pajak bumi dan bangunan (PBB) adalah sebesar Rp. 625 per tahun Biaya Variabel Biaya variabel adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh petani responden untuk pembelian pupuk, benih, dan sebagainya yang biayanya berubah-ubah. Biaya variabel dalam penelitian ini meliput pupuk, pestisida, benih, dan tenaga kerja. Tabel 3. Hasil Rekapitulasi Rata-Rata Biaya Variabel Usahatani Cabai Merah Uraian Total Biaya (R. Benih Pupuk Pestisida Tenaga Kerja Total Sumber : Data Primer di olah. Tahun 2025 Tabel Menunjukkan bahwa penggunaan pupuk rata-rata per hektar dengan total biaya Rp 400. pupuk yang digunakan yaitu pupuk Urea. TSP. ZA, dan KCl, pestisida dengan total biaya Rp. 968 yang terdiri dari herbisida, fungisida dan insektisida, tenaga kerja yaitu dengan total biaya Rp. 625, tenaga kerja mulai pengolahan lahan sampai pasca panen, biaya tenaga kerja tertinggi pada saat pengolahan lahan sebesar Rp. 000 dan pada saat penyiangan . erwatan tanama. Rp. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya. Adapun fungsi pendapatan memenuhi kebutuhan sehari Ae hari dan kebutuhan kegiatan usahatani selanjutnya. Selisih antara penerimaan tunai usahatani dan pengeluaran tunai usahatani di sebut pendapatan tunai usahatani dan merupakan ukuran kemampuan usahatani untuk menghasilkan uang (Soekartawi, 2. Pendapatan Usahatani Cabai Merah Pendapatan usahatani memiliki dua unsur yang digunakan yaitu unsur usahatani tersebut. Penerimaan adalah hasil perkalian jumlah produk total dengan satuan harga jual, sedangkan pengeluaran atau biaya yang dimaksudkan sebagai nilai penggunaan sarana produksi dan lain-lain yang dikeluarkan pada proses produksi Produksi berkaitan dengan penerimaan tersebut diterima petani karena masih harus dikurangi dengan biaya produksi yaitu keseluruhan biaya yang dipakai dalam proses produksi tersebut. Tabel 4. Analisis Biaya dan Pendapatan Rata-Rata Petani Responden Uraian Nilai Rata-Rata (R. Penerimaan (TR) = Y. Produksi (Y) (K. Harga Produksi (P) (R. Total Penerimaan Biaya Biaya Variabel (VC) Biaya Benih Total Tenaga Kerja Pupuk C Urea C TSP C Za C KCl Pestisida Eo Insektisida Eo Herbisida Eo Fungisida Total Biaya Variabel Total Biaya Tetap (FC) C Pajak Penyusutan Alat o Cangkul o Sprayer Total Biaya Tetap Tota Biaya (TC) Biaya Variabel (VC) Biaya Tetap Total Biaya Produksi Pendapatan (PD) = TR-TC Sumber : Data Primer Setelah Diolah Tahun 2025 Tabel 5. menunjukkan bahwa total penerimaan rata Aerata adalah sebesar Rp 500 dengan jumlah produksi 1. Kg dengan harga Rp 40. 000 Kg. Biaya 625 permusim tanam , pupuk urea Rp. TSP Rp. Za Rp 200. KCl Rp. 250, insektisida Rp. 750, herbisida Rp 199. 218, fungisida Rp. 000 dan benih Rp. 500 dengan jumlah biaya variabel rata-rata sebesar R p . 386 sedangkan rata-rata biaya tetap sebesar Rp. 021, di mana biaya penyusutan cangkul Rp. 053, sprayer Rp. 968 sedangkan nilai pajak bumi (PBB) sama dengan Rp 14. Jadi total pendapatan rata-rata per musim tanam adalah sebesar Rp 38. Berdasarkan latar belakang penelitian dimana peneliti ingin mengetahui besaran pendapatan petani dengan luas lahan yang cukup luas, apakah petani cabai merah di Desa Kali Tawang Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang tetap menguntungkan Hal ini dikarenakan harga cabai merah di pasaran bisa mencapai Rp. 000/Kg. Ketika dikonversi dalam empat bulan maka pendapatan petani rata-rata perbulan yaitu Rp 9. Analisa Keuntungan Usahatani Untuk menguji hipotesis pertama . menggunakan analisa keuntungan usahatani dengan menganalisa keuntungan suatu usahatani tanaman cabai merah, apakah mencapai keuntungan yang maksimal dalam satu kali musim tanam. Untuk mengetahui keuntungan dalam perhitungan sebagai berikut: A = TR Ae TC = Rp. 500 - Rp. = Rp. Dari hasil perhitungan diatas penerimaan rata-rata petani sampel adalah sebesar Rp. 500, biaya produksi rata-rata petani sampel adalah sebesar Rp. 407 dan pendapatan yang diperoleh petani sampel rata-rata adalah Rp. 915 artinya usahatani cabai merah di daerah penelitian menguntungakan. Apabila B/C Rasio > 1, maka hipotesis diterima, dikatakan layak diusahakan Apabila B/C Rasio < 1, maka hipotesis ditolak, dikatakan tidak layak diusahakan UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih di ucapkan kepada Dekan Fakultas Pertanian UMN AlWashliyah pembimbing, penguji I Bapak Dian Habibie. SP. MP. Penguji II Bapak Sugiar. SP. MP, atas arahan dan bimbingannya sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima Kasih juga disampaikan kepada Bapak Dian Habibie. SP. MP selaku Ketua Program Studi Agribisnis DAFTAR PUSTAKA