MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Stereotip Islam dalam Film Hollywood . ari Era 1960-an sampai 2020-a. *Fajriatul Mustakharoh1. Mustain2. Ahmad Hidayatullah 3 UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto 3UIN K. Abdurrahman Wahid Pekalongan Email: haurafajriya@gmail. comA, mustain@uin-saizu. idA, hidayatullah@uingusdur. DOI: https://doi. org/10. 35878/muashir. Article Info Article history: Received : 28-03-2025 Revised : 21-05-2025 Accepted : 26-05-2025 ABSTRACT History records that the contestation between the West and Islam has been occurring for a long time, particularly during the Crusades, which lasted for three centuries . thAe13th centurie. Over time, these interactions gave rise to various stereotypes, especially about Islam, including within the narratives of HollywoodAos film industry. Using a qualitative research method with a critical discourse analysis approach, combined with the theory of social construction, this study seeks to explore how stereotypes of Islam have been narrated through Hollywood films from the 1960s to the 2020s. The findings of this study conclude that the representation of Muslims in the Western film industry is often portrayed with a biased image, associating Islam with terrorism, violence, and fanaticism. These stereotypes emerge as a result of the long history of tensions between the Western world and the Islamic world, reinforced by political interests and media influence in shaping public opinion. The seven film samples each from different decades presented in this study illustrate how Muslim characters are depicted as threats, ultimately reinforcing negative prejudices against Islam in global society for nearly the past century. Keywords: Stereotype. Islamophobia. Hollywood MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam. P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International (CC BY-SA 4. Copyright A2025 TheAuthor. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 ABSTRAK Sejarah mencatat kontestasi antara Barat dan Islam sudah terjadi sejak lama, utamanya pada Perang Salib selama tiga abad (XI-X. Dalam perjalanannya berbagai persinggungan itu akhirnya melahirkan berbagai stereotip, utamanya bagi Islam, tidak terkecuali dalam narasi industri perfilman Hollywood. Menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis dengan memadukan pada teori kontruksi sosial, penelitian ini mencoba menggali tentang bagaimana stereotip Islam dinarasikan melalui film-film Hollywood sejak era 1960-an sampai 2020-an. Adapun hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa representasi umat Islam dalam industri perfilman Barat kerap ditampilkan dalam citra yang bias, seperti mengasosiasikan Islam dengan terorisme, kekerasan, dan Stereotip ini muncul sebagai akibat dari sejarah panjang ketegangan antara dunia Barat dan dunia Islam, diperkuat oleh kepentingan politik dan media yang membentuk opini publik. Tujuh sampel film dari tiap dekade yang berbeda yang dipaparkan dalam penelitian ini menjadi contoh bagaimana karakter muslim digambarkan sebagai ancaman, dan pada akhirnya memperkuat prasangka negatif terhadap Islam di masyarakat global nyaris dalam satu abad terakhir. Kata Kunci: Stereotip. Islamophobia. Hollywood *Corresponding author : UIN Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Yani No. Purwanegara. Kec. Purwokerto Utara. Kabupaten Banyumas. Jawa Tengah Email : haurafajriya@gmail. Pendahuluan Sebagai agama Samawi yang lahir di periode paling terakhir abad ke VII M Islam memang sudah mendapatkan tentangan dari sebagian pengikut agama samawi lainnya, yakni Yahudi dan Nasrani. Alasannya tentu Islam dianggap sebagai nilai baru yang mengancam eksistensi Vol. 3 No. Mei 2025 Meskipun sebenarnya pada periode itu dua agama Samawi tersebut bukanlah satu-satunya pihak yang memusuhi Islam, sebab para Kafir Quraisy juga memiliki latar belakang keyakinan dari leluhur bukan melulu berasal dari dua agama tersebut. Pada sisi yang lain bahkan sejarah mencatat nama-nama tokoh dari dua agama tersebut justru menjadi pembenar akan tanda-tanda Nabi Muhammad sebagai Nabi akhir zaman, salah satunya Pendeta Bukhairah dan Pendeta Mastrurah (Hadidjah, 2006: Namun sekali lagi, dakwah Nabi di era-era awal begitu keras mendapat tentangan dari masyarakat Mekah. Kontestasi Islam dan agama Samawi lainnya ini pada akhirnya mengalami pasang surut dan terus saja terjaga bara apinya, bahkan semakin memuncak selama tiga abad, tepatnya pada Perang Salib (Abad XI-X. (Irma Sari Pulungan et al. , 2. John M. Robertson mengemukakan bahwa korban dari peperangan ini mencapai total sembilan juta korban jiwa dari kedua belah pihak. (Moncrief, 1. Sebuah fakta sejarah yang seharusnya cukup membuat umat manusia belajar betapa dalam perang siapa pun akan merasakan dampak negatifnya. Namun bukannya reda, bias kebencian Islam terus saja muncul dari Barat dengan berbagai kemasannya. Barat selalu menjadi pihak yang dicurigai mendalangi berbagai perselisihan di dunia Arab / Timur Tengah, di samping memang motif penguasaan sumber daya berupa minyak dan lain sebagainya. (Muttaqin, 2. Puncaknya, bias negatif terhadap Islam lagi-lagi mencapai tensinya yang cukup tinggi pada saat muncul kejadian 9/11 pada 2001. Kejadian itu benar-benar semakin membuat Barat mengarahkan jari telunjuknya kepada Islam sebagai dalang di balik peristiwa tersebut. (Rafidah, 2. Sebuah tuduhan tidak berdasar yang tentunya masih bisa diperdebatkan, namun terlampau jauh membawa Barat pada angin Islamophobia yang begitu kencang di zamannya. Islamophobia yang akhirnya harus dihadapi kaum muslim di seluruh dunia ini benar-benar masif dihembuskan Barat dalam berbagai propaganda media, tidak terkecuali melalui industri showbiz Hollywood MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 melalui film-filmnya. Dalam pengamatan penulis, terhitung sejak tahun 60an Hollywood senantiasa konsisten melahirkan karya film di tiap dekadenya yang memiliki bias negatif baik itu secara terang-terangan maupun simbolis terhadap Islam. Terhitung ada tujuh sampel film yang akhirnya penulis pilih dalam rangka mencari sumbu kontruksi Hollywood akan stereotip Islam, diantaranya Lawrance of Arabia . Black Sunday . The Delta Force . True Lies . Body of Lies . London Has Fallen . , dan Hidden Strike . Setidaknya dari tujuh sampel film tersebut minimal tidak ditemui perihal keseriusan Hollywood dalam memandang Islam secara Hal bisa dilihat perihal bagaimana sejak kali pertama Hollywood mulai memperkenalkan stereotip Islam dalam film-film nya . ang dalam penelitian ini diambil sampel pada kurun 1960-a. Gejalanya adalah munculnya standar yang digunakan dengan memosisikan segala unsur atau simbol yang terkait dengan arab atau Islam sebagai bagian dari karakter antagonis dalam cerita. Dengan posisi yang ada pada ranah antagonis akan mudah pula dalam menarasikan hal-hal negatif tentang Islam dalam cerita tersebut. Lawrance of Arabia . , misalnya merupakan sebuah propaganda tentang sosok Lawrence dalam menyatukan serta memimpin berbagai suku Arab dalam perlawanan terhadap Turki. Ia juga berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Arab dari kekuasaan Turki Ustmani. Padahal pada sisi yang lain Dunia Islam, khususnya Arab justru menganggap sosok Lawrance sebagai pemecah belah Bangsa Arab itu sendiri. Secara faktual, selain memang kenyataannya nanti salah satu Bangsa Arab merdeka dengan menyandang nama Saudi Arabia, fakta lain yang tidak dijelaskan juga Arab Saudi adalah hasil dari kudeta Abdul Aziz terhadap Syarif Husein Sang Penguasa Hijaz (MekahMadina. Pola ini terus berlanjut dan cukup konsisten sampai pada sampel film Hidden Strike . yang dibintangi oleh Jackie Chan dan John Cena Vol. 3 No. Mei 2025 ini mengangkat cerita tentang dua mantan tentara yang bersatu untuk melindungi sekelompok warga sipil di Timur Tengah dari serangan kelompok bersenjata yang berencana mencuri sumber daya alam. Meski dibanding dengan keenam judul lain praktis film ini paling smooth dalam menarasikan Islam, namun narasi yang muncul tetap saja mengandung beberapa bias terhadap dunia Timur Tengah dan muslim. Hal itu terlihat dalam gambaran dunia Islam sebagai Zona Perang, di mana Timur Tengah diperlihatkan sebagai daerah yang dilanda kekacauan, konflik, dan perang. Tentu ini sebuah representasi ini memperkuat stereotip bahwa negaranegara Islam adalah tempat yang berbahaya dan tidak stabil. Pada akhirnya tentu tidak berlebihan jika ini adalah bagian dari propaganda Barat yang memang sudah sejak lama memiliki sentimen terhadap Islam itu sendiri. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Gunawan . 3: . , secara harfiah penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui proses kuantifikasi, perhitungan statistik, atau metode lain yang berbasis angka. Penelitian ini lebih menitikberatkan pada aspek kualitas, nilai, dan makna yang terkandung di balik suatu fenomena. Adapun pisau analisis yang digunakan adalah Analisis Wacana Kritis (Critical Discourse Analysis/CDA), yakni merupakan metode untuk mengungkap bagaimana kekuasaan, dominasi, dan ketidaksetaraan dimanifestasikan, dipertahankan, atau ditentang melalui teks tertulis maupun percakapan dalam berbagai konteks sosial dan politik (Supriadi. Adapun secara prosedur. CDA diterapkan melalui lima tahapan, di antaranya sebagai berikut (Vaandering & Reimer, 2. Identifikasi Teks dan Konteks Tahap ini dilakukan dengan cara menggali teks . yang disesuaikan dengan mengenali konteks sosial, politik, dan budaya di mana teks tersebut diproduksi dan dikonsumsi. Dalam hal ini tujuh sampel film Hollywood yang diasumsikan memiliki stereotip Islam. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 di antaranya Lawrance of Arabia . Black Sunday . The Delta Force . True Lies . Body of Lies . London Has Fallen . , dan Hidden Strike . merupakan sumber utama yang digali dalam menentukan identifikasi teks dan konteks. Analisis Mikro (Tek. dan Makro (Konteks Sosia. Dalam tahapan ini penulis melihat wacana dan memperhatikan keterkaitannya dengan konteks sosial yang lebih luas, termasuk struktur sosial yang berlaku, dinamika kekuasaan antara kelompok-kelompok dalam masyarakat, serta ideologiideologi dominan yang memengaruhi cara pandang dan Karena wacana tidak muncul secara netral atau terlepas dari lingkungan sosialnya, melainkan dibentuk dan membentuk relasi-relasi sosial yang ada. Oleh karena itu, memahami wacana secara kritis berarti juga membaca bagaimana narasi tertentu mendukung atau menantang kekuasaan dan ideologi tertentu dalam masyarakat. Masyarakat dalam konteks perfilman Hollywood tentu dimaksudkan mencakup jangkauan global berikut isu-isu di dalamnya, dan secara spesifik adalah isu Islamophobia. Interaksi Wacana dan Konteks Apa yang digali dalam tahap sebelumnya kemudian melahirkan sebuah wacana yang kemudian akan dikaitkan dengan konteks yang dimaksud, yakni perihal stereotip terhadap Islam bahkan Islamophobia. Interaksi ini penting untuk bisa masuk ke tahap berikutnya yang tentu akan melibatkan subjektifitas penulis, seberapa pun kecil itu kadarnya. Tahap ini dilalui agar tidak terjadi bias sehingga subjektifitas hanyalah bersifat intersubjektif yang menyusun sebuah objektivitas. Interpretasi dan Penarikan Kesimpulan Ini adalah tahapan di mana hasil dari interaksi wacana dan konteks kemudian ditafsirkan seobjektif mungkin agar apa yang muncul sebagai bukti stereotip Islam dari tujuh sampel film Hollywood bukanlah tuduhan kosong belaka. Ia ditafsirkan dengan Vol. 3 No. Mei 2025 bukti real dari pertemuan antara wacana dan konteks itu sendiri, untuk kemudian bisa ditarik sebuah kesimpulan yang bisa Tahapan-tahapan CDA yang dilakukan secara proporsional dan mendalam ini pada akhirnya bisa dijadikan sebagai alat yang ideal dalam membedah praktik stereotip Islam yang muncul dan sengaja dikonstruksi dalam beberapa sampel film produksi Hollywood di atas. Hasil dan Pembahasan Stereotip Manstead dan Hewstone dalam The Blackweel Encyclopedia of Social Psychology . ebagaimana dikutip Murdianto, 2. , mendefinisikan stereotip sebagai: Asocietally shared beliefs about the characteristics . uch as personality traits, expected behaviors, or personal value. that are perceived to be true of social groups and their members. Keyakinan-keyakinan tentang karakteristik seseorang . iri kepribadian, perilaku, nilai pribad. yang diterima sebagai suatu kebenaran kelompok sosial. Stereotip merupakan penilaian yang tidak proporsional terhadap suatu kelompok masyarakat, yang muncul akibat kecenderungan untuk melakukan generalisasi tanpa mempertimbangkan perbedaan. De Jonge menyatakan bahwa stereotip lebih dipengaruhi oleh perasaan dan emosi daripada rasionalitas. Sementara itu. Barker mendefinisikan stereotip sebagai bentuk representasi yang bersifat sederhana namun mencolok, yang mengurangi kompleksitas individu menjadi sekumpulan karakteristik yang dilebih-lebihkan, biasanya dengan konotasi negatif. Stereotip juga berfungsi sebagai cara memaknai orang lain dalam kerangka (Murdianto, 2. Adapun bentuk nyata dari sestereotip kerap kali terjadi pada pandangan antar individu, masyarakat, suku terhadap pihak eksternal mereka, begitu pula bisa terjadi sebaliknya. Jika di Indonesia ini bisa dilihat dalam bias pandangan antar masyarakat, semisal etnis China yang kerap MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 diidentikkan dengan sifat AupelitAy, orang Padang dengan sifat AuperhitunganAy, orang Timur dengan sifat AukerasAy, orang Jawa dengan gambaran Ausuka basa-basiAy dan seterusnya. Stereotip terbagi menjadi dua jenis, yaitu heterostereotip dan Heterostereotip mengacu pada stereotip yang dimiliki terhadap kelompok lain, sedangkan autostereotip adalah stereotip yang berkaitan dengan kelompoknya sendiri. Stereotip tidak selalu bersifat negatif, tetapi juga dapat mengandung gambaran positif. Stereotip ini bisa berupa pandangan yang baik maupun buruk, dan bisa saja sepenuhnya benar ataupun sepenuhnya keliru. (Triandis, 1994: . Dalam kenyataan sehari-hari, stereotip ini kemudian berfungsi menginternalisasi nilai bersama kepada individu, juga digunakan untuk membangun identitas bersama, dan juga memberi justifikasi tindakan seseorang terhadap kelompok sosial lain. Dalam kaitan hubungan antar kelompok stereotip, sangat determinan dalam membangun hubungan antara kelompok sosial. (Manstead dan Hewstone dalam Murdianto, 2. Berbagai stereotip negatif pada akhirnya menimbulkan prasangka yang berujung pada diskriminasi, bahkan kekerasan terhadap kelompok sosial Stereotip negatif dapat memicu prasangka yang mengakar dalam masyarakat, menciptakan persepsi keliru terhadap kelompok sosial Ketika prasangka ini semakin kuat, hal itu dapat berkembang menjadi perlakuan diskriminatif, seperti pengucilan, ketidakadilan dalam berbagai aspek kehidupan, hingga pembatasan hak dan peluang. Dalam kasus yang lebih ekstrem, diskriminasi yang berkelanjutan dapat memicu tindakan kekerasan, baik secara verbal maupun fisik, terhadap kelompok yang distigmatisasi. Oleh karena itu, penting untuk menyadari dampak negatif stereotip dan berupaya membangun pemahaman yang lebih inklusif serta adil dalam interaksi sosial. Vol. 3 No. Mei 2025 Konstruksi Sosial Konstruksi sosial merupakan teori yang dikemukakan oleh Peter L. Berger. Titik berat dari teori yang merupakan wilayah keilmuan sosiologi kontemporer ini mendasarkan bentuknya pada sosiologi pengetahuan. Asumsi dasar dari konstruksi sosial adalah adanya pemahaman bahwa kenyataan/realitas itu dibentuk oleh sistem sosial. Maka dalam teori ini realitas dan pengetahuan menjadi keywords untuk bisa memahami konstruksi sosial secara komprehensif dan mendalam. Artinya realitas merupakan sebuah susunan kualitas yang ada pada berbagai fenomena dan diklaim mempunyai being-nya secara mandiri yang memunculkan sebuah konsekuensi bahwa realitas tentu tidak bergantung pada manusia. Sementara pada sisi lainya, pengetahuan . merupakan sebuah kepastian yang menyatakan ihwal fenomena adalah nyata dan mempunyai ciri khasnya secara spesifik. (Berger, 1. Namun secara implementatif apa yang dicetuskan oleh Berger itu, di-breakdown ke dalam empat tahapan, yakni (Littlejohn & Foss, 2. Konstruksi . Tahap ini merupakan tahap awal bagaimana sebuah fenomena/nilai dibentuk. Ia merupakan sesuatu yang tidak terlihat namun bisa dirasakan saat terwujud. Tahapan ini juga sering kali disebut tahapan pengetahuan. Pemeliharaan . Tahap ini adalah ketika nilai yang terkonstruksi di atas kemudian terus dirawat dan diterapkan secara masif hingga keberadaannya benar-benar real di masyarakat. Nilai ini akan terus dipertahankan jika memang masih dianggap relevan, dan pada gilirannya ketika yang terjadi sebaliknya maka konstruksi itu akan mencair dan perlahan akan ditinggalkan. Perbaikan . Perbaikan ini biasanya akan dilakukan oleh aktor sosial yang tidak lain adalah masyarakat itu sendiri. Perbaikan ini merupakan adaptasi atas realitas baru yang butuh penyesuaian. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Ketika ia bisa beradaptasi, maka konstruksi nilai itu masih akan tetap ada. Perubahan . Tahap ini adalah ketika berbagai konstruksi terjadi dan nilai itu mengirimkan pesan kepada pelakunya . Ketika itu dianggap sudah tidak relevan maka akan muncul konstruksi baru sebagai gantinya. Tahapan ini bisa diartikan sebagai tahapan hilangnya konstruksi lama berganti dengan konstruksi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat menghadapi ruang dan waktu yang terus berubah. Stereotip Islam dalam Film Hollywood dari Era 1960-an sampai 2020-an Stereotip terhadap Islam di sini akan dipaparkan berdasar sampel film produksi Hollywood dari era ke era. Hal ini ditujukan untuk mengetahui tren penggambaran Islam secara komprehensif dan menghindarkan adanya klaim sepihak dari penulis. Setidaknya penulis mencoba menggali isu stereotip Islam ini dimulai pada era 1960-an hingga modern ini, dan mengambil sampel satu film di setiap dekade. Dan berikut secara detail analisis yang dilakukan oleh penulis: Lawrance of Arabia . Film Lawrence of Arabia disutradarai oleh David Lean dan diproduksi oleh Sam Spiegel. Beberapa aktor ternama yang membintangi film ini antara lain Peter O'Toole. Omar Sharif. Alec Guinness, dan Anthony Quinn. Lawrence of Arabia adalah film biografi bertema perang yang mengangkat kisah Thomas Edward Lawrence, seorang perwira intelijen Inggris selama Perang Dunia I. Diproduksi pada tahun 1962 oleh Inggris dan Amerika Serikat, film ini menggambarkan upaya Lawrence dalam menyatukan serta memimpin berbagai suku Arab dalam perlawanan terhadap Turki. Vol. 3 No. Mei 2025 Ia juga berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Arab dari kekuasaan Turki Ustmani. Film ini sejatinya merupakan propaganda Amerika Serikat dalam menampilkan heroism sosok Lawrence sebagai pemersatu bangsa Arab, sebagai representasi masyarakat muslim. Oleh karenanya yang ditampilkan di dalam film tersebut adalah tentang bagaimana ia membangun komunikasi dengan Syarif Husein penguasa Hijaz dan juga Abdul Aziz keturunan Saud penguasa Najd guna melawan kekuasaan Turki Usmani yang memang perlahan mulai melemah. Kelak, melalui strategi dan kepemimpinannya digambarkan Bangsa Arab meraih kemerdekaannya. Padahal pada sisi yang lain Dunia Islam, khususnya Arab justru menganggap sosok Lawrance sebagai pemecah belah Bangsa Arab itu sendiri. Secara faktual, selain memang kenyataannya nanti salah satu Bangsa Arab merdeka dengan menyandang nama Saudi Arabia, fakta lain yang tidak dijelaskan juga Arab Saudi adalah hasil dari kudeta Abdul Aziz terhadap Syarif Husein Sang Penguasa Hijaz (Mekah-Madina. Pada gilirannya kudeta ini melahirkan pengusiran Syarif Husein yang akhirnya lari ke Urdun (Yordani. dan kemudian mendirikan Negara di sana. Singkatnya film ini mencoba memposisikan Barat sebagai solusi atas ketertindasan dan keterbelakangan Bangsa Arab yang dalam hal ini menjadi representasi mayoritas pemeluk Islam. Maka scene-scene tentang Lawrance yang dielu-elukan Bangsa Arab bertebaran dalam film ini, sebagai simbolisme atas dominasi dan glorifikasi Barat atas Arab/Islam. Black Sunday . Black Sunday merupakan film thriller yang dirilis pada tahun 1977 dan diadaptasi dari novel karya Thomas Harris. Film ini menceritakan rencana aksi teroris yang menargetkan Super Bowl X di Orange Bowl. Miami, dengan menggunakan balon udara yang dilengkapi bahan peledak. Seorang agen Mossad, yang diperankan MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 oleh Robert Shaw, berusaha mencegah serangan tersebut sebelum menimbulkan ribuan korban jiwa. Dengan latar ketegangan politik di era Perang Dingin dan meningkatnya ancaman terorisme internasional, film ini menghadirkan suasana yang menegangkan. Dibintangi oleh Bruce Dern. Marthe Keller, dan Fritz Weaver. Black Sunday menjadi salah satu film thriller klasik yang menggambarkan isu keamanan global pada masanya. Dalam film ini. Islam sering kali digambarkan dengan cara yang memperkuat stereotip negatif, terutama dalam kaitannya dengan terorisme. Film ini menampilkan kelompok teroris Timur Tengah yang merencanakan serangan besar-besaran di Amerika, seolah-olah aksi terorisme selalu berasal dari dunia Islam. Para karakter antagonis digambarkan sebagai fanatik, kejam, dan siap mengorbankan nyawa demi tujuan mereka, tanpa banyak menggali latar belakang atau motivasi yang lebih kompleks. Stereotip seperti ini memperkuat anggapan bahwa muslim identik dengan kekerasan dan ancaman terhadap dunia Barat. Selain itu. Black Sunday juga mencerminkan ketakutan era Perang Dingin terhadap kelompok-kelompok asing yang dianggap berbahaya, termasuk dari dunia Islam. Tidak ada upaya untuk menampilkan sisi lain dari komunitas muslim atau menggambarkan keberagaman dalam Islam itu sendiri. Film ini seolah mempertegas narasi bahwa muslim selalu berada di balik aksi teror global, tanpa memberikan perspektif yang lebih adil. Penggambaran seperti ini bukan hanya memperkuat prasangka, tetapi juga berkontribusi pada citra negatif Islam di mata masyarakat luas, yang kemudian terus direproduksi dalam berbagai film Hollywood lainnya. The Delta Force . The Delta Force adalah film aksi Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 1986, dibintangi oleh Chuck Norris dan Lee Marvin dalam peran terakhirnya di dunia film. Mereka berperan sebagai Vol. 3 No. Mei 2025 pemimpin tim elit pasukan operasi khusus yang terinspirasi dari unit Delta Force Angkatan Darat AS di dunia nyata. Film ini disutradarai, ditulis, dan diproduksi oleh Menahem Golan, serta menampilkan aktor-aktor seperti Martin Balsam. Joey Bishop. Robert Vaughn. Steve James. Robert Forster. Shelley Winters, dan George Kennedy. Selain itu. Liam Neeson juga turut serta dalam film ini meskipun awalnya tidak disebutkan dalam daftar pemeran Pada film ini heorisme Barat dibangun melalui plot pembajakan pesawat oleh dua teroris bernama Abdul dan Mustafa yang tentu sangat identik dengan nama-nama dari kebudayaan Islam. Barat dalam hal ini Amerika Serikat kemudian menerjunkan pasukan Delta Force untuk mengatasi pembajakan tersebut, yang ujungnya pasti happy ending. Selain menempatkan dua nama berbahasa Arab tadi menjadi antagonis, detail-detail plot saat mereka memburu pemilik perhiasan berlambangkan Yahudi, juga menambah kesan sadis dalam teror ini. Di saat yang sama ditampilkan pula scene tentang heroiknya seorang Pendeta Nasrani yang menyatakan bahwa kalau para Yahudi dibawa, maka ia hendaknya juga dibawa. Terus-menerus sepanjang teror dari antagonis ini seakanakan menjadi representasi tentang fakta kejamnya terorisme yang harus diperhatikan oleh dunia. Islam dalam konteks ini kemudian dianggap sebagai landasan teologis dari para teroris tersebut, tanpa ada keseimbangan argumen dalam porsi narasi atau apapun dalam film tersebut. Alih-alih pamungkas dari film ini adalah bahwa seorang diri protagonis utama mampu menggagalkan pembajakan tersebut dan menyelamatkan para penumpang dan awak pesawat True Lies . True Lies adalah film aksi-komedi Amerika Serikat yang dirilis pada tahun 1994, dengan sebagian besar pengambilan gambar MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 dilakukan di Miami. Florida. Film ini diproduksi, ditulis, dan disutradarai oleh James Cameron, serta dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger. Jamie Lee Curtis. Tom Arnold. Bill Paxton. Tia Carrere, dan Art Malik. Stephanie Austin berperan sebagai True Lies merupakan adaptasi yang diperluas dari film Prancis tahun 1991 berjudul La Totale, yang disutradarai oleh Claude Zidi dan menampilkan Thierry Lhermitte serta Miou-Miou. Film ini menerima nominasi Academy Award untuk kategori Efek Visual Terbaik, sementara Jamie Lee Curtis meraih Penghargaan Golden Globe atas perannya sebagai Helen Tasker dalam kategori komedi. Selain itu. True Lies juga memenangkan tiga Saturn Award dan menerima total tiga belas nominasi lainnya. Film ini mengisahkan kehidupan ganda Harry Tasker (Arnold Schwarzenegge. , yang bekerja sebagai mata-mata, namun bagi keluarganya termasuk sang istri. Helen Tasker (Jamie Lee Curti. , ia hanyalah seorang salesman komputer biasa. Harry mendapat tugas untuk melacak organisasi teroris bernama The Crimson Jihad, yang dipimpin oleh Salim Abu Aziz (Art Mali. Namun, misinya tidak berjalan mulus karena ia juga dihadapkan pada masalah pribadi kecurigaan bahwa istrinya mungkin berselingkuh dengan pria misterius. Hal ini bisa saja terjadi mengingat Harry jarang menghabiskan waktu bersama keluarganya akibat kesibukannya dalam pekerjaan. Tidak ingin kehilangan istrinya. Harry berusaha menyelidiki kebenaran dugaan perselingkuhan tersebut di tengah misinya memburu teroris. Bias stereotip terhadap Islam yang terdapat dalam film ini terletak pada kontruksi karakter antagonis Salim Abu Aziz. Dalam plot yang dibangun ia merupakan pimpinan organisasi teroris bernama The Crimson Jihad yang mencoba melakukan perlawanan terhadap Amerika Serikat yang dianggap sebagai imperialisme Barat. Karakter ini juga digambarkan dengan atribut fanatik pada Vol. 3 No. Mei 2025 satu sisi disertai dengan kekejaman yang luar biasa. Seakan mencoba merepresentasikan Islam sebagai sebuah pemahaman yang bisa memantik seseorang masuk ke dalam tindak teror dan brutalitas. Tentunya ending yang dibawa nyaris sama dengan semua film-film aksi Hollywood, di mana protagonis sebagai representasi Amerika Serikat mampu menumpas habis Salim Abu Aziz dengan penuh Body of Lies . Disutradarai oleh Ridley Scott. Body of Lies merupakan film thriller bertema spionase yang menampilkan Leonardo DiCaprio. Russell Crowe, dan Mark Strong sebagai pemeran utama. Film ini mengeksplorasi isu perang melawan terorisme, pengkhianatan, serta strategi manipulasi dalam dunia intelijen. Diceritakan Roger Ferris (Leonardo DiCapri. , seorang agen CIA, mendapat tugas di Timur Tengah untuk memburu pemimpin kelompok teroris bernama Al-Saleem. Dalam menjalankan misinya, ia berada di bawah komando Ed Hoffman (Russell Crow. , seorang petinggi CIA yang mengontrol operasi dari kejauhan melalui komunikasi satelit. Untuk menjerat Al-Saleem. Ferris menjalin kerja sama dengan Hani Salaam (Mark Stron. , kepala intelijen Yordania yang dikenal cerdas dan berpegang teguh pada prinsipnya. Namun. Ferris menghadapi dilema ketika Hoffman kerap mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan situasi di lapangan, yang justru membahayakan dirinya serta orang-orang di sekitarnya. Ketika Ferris mencoba menerapkan strategi jebakan dengan menciptakan sosok teroris palsu untuk menarik perhatian AlSaleem, situasi semakin rumit. Ia pun menyadari bahwa di dunia intelijen, kepercayaan adalah hal yang langka baik terhadap musuh maupun sekutunya sendiri. Lagi-lagi dalam film ini mengarahkan antagonis pada karakter dengan menggunakan nama bahasa Arab. Bahkan untuk nama kelompok teroris jelas-jelas menggunakan kata Al-Saleem. MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 yang memiliki akar kata yang sama dengan Islam. Ini semakin menegaskan kalau secara simbolik film ini mencoba mengonstruksi tentang sebuah kesan AonegatifAo pada Arab yang digunakan sebagai manifestasi lahirnya ajaran Islam. Semuanya semakin kentara di saat yang sama lagi-lagi penyelesaian/solusi atas keonaran Al-Saleem adalah Sang Protagonis. Roger Ferris (Leonardo DiCapri. karakter CIA sebagai manifestasi kulit putih dan Amerika Serikat. London Has Fallen . Film "London Has Fallen" adalah sekuel dari "Olympus Has Fallen" . Disutradarai oleh Babak Najafi, film aksi-thriller ini dibintangi oleh Gerard Butler yang berperan sebagai agen rahasia Mike Banning. Aaron Eckhart sebagai Presiden AS Benjamin Asher, dan Morgan Freeman sebagai Wakil Presiden Allan Trumbull. Kisah dimulai dengan kematian mendadak Perdana Menteri Inggris, yang mendorong sejumlah pemimpin dunia untuk berkumpul di London guna menghadiri upacara pemakaman. Sayangnya, acara tersebut menjadi sasaran serangan teroris yang dipimpin oleh Aamir Barkawi, seorang pedagang senjata dari Timur Tengah, yang berupaya membalas dendam terhadap Barat atas serangan drone yang merenggut keluarga. Dalam serangan yang tiba-tiba ini, banyak pemimpin dunia yang dibunuh dengan brutal. Presiden Benjamin Asher menjadi sasaran utama penculikan, namun berhasil diselamatkan oleh Banning. Di tengah kekacauan yang melanda London. Banning berjuang untuk melindungi Presiden sambil melawan teroris yang menyamar sebagai pasukan keamanan Inggris. Film ini dipenuhi dengan aksi, ketegangan, pengejaran, dan pertarungan sengit antara Banning dan kelompok teroris. Pada akhirnya. Banning dan Presiden berhasil selamat, sementara Barkawi tewas dalam serangan balasan militer AS. Vol. 3 No. Mei 2025 Stereotip dalam film ini terletak pada gubahan karakter antagonis utama. Aamir Barkawi dan kelompoknya. Mereka diekspresikan sebagai ekstremis muslim dari Timur Tengah yang memiliki kebencian mendalam terhadap Barat. Hal ini memperkuat stereotipe yang mengasosiasikan Islam dengan terorisme. Selain itu narasi Islam vs Barat juga nampak dalam film ini. Seperti biasa film ini juga memposisikan Barat, khususnya Amerika Serikat, sebagai pahlawan yang baik, sementara karakter muslim muncul sebagai teroris kejam yang hanya berambisi untuk menghancurkan. Sepanjang film penggunaan simbol Islam dalam Terorisme terus diperlihatkan. Terlihat adegan-adegan di mana pelaku teror bercampur dengan aksen Timur Tengah, mengenakan pakaian Arab, dan melakukan serangan dengan cara yang biasa diasosiasikan dengan kelompok ekstremis Islam. Ini semakin menguatkan anggapan bahwa Islam selalu berhubungan dengan kekerasan. Hal ini diperparah dengan tidak adanya karakter muslim Aobaik/protagonisAo dalam film ini. Dengan demikian nyaris tidak menghadirkan representasi positif karakter muslim atau Timur Tengah yang bisa menunjukkan sisi lain dari Islam. Karakter utama yang baik sepenuhnya berasal dari Amerika atau Inggris, sedangkan karakter muslim hanya berperan sebagai penjahat. Hidden Strike . Hidden Strike adalah film aksi yang disutradarai oleh Scott Waugh, serta dibintangi oleh Jackie Chan dan John Cena. Cerita ini berkisar pada dua mantan tentara yang bersatu untuk melindungi sekelompok warga sipil di Timur Tengah dari serangan kelompok bersenjata yang berencana mencuri sumber daya alam. Cerita dimulai dengan Luo Feng (Jackie Cha. , seorang mantan pasukan khusus Tiongkok yang ditugaskan untuk mengevakuasi para pekerja dari kilang minyak yang sedang diserang oleh militan. sisi lain, ada Chris Van Horne (John Cen. , mantan tentara yang kini bekerja sebagai tentara bayaran. Awalnya. Chris terjebak dalam MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 perekrutan oleh pihak yang salah, namun ia segera menyadari bahwa ia telah dimanfaatkan untuk kejahatan. Ketika serangan terhadap kilang minyak semakin gencar. Luo dan Chris dipaksa untuk bekerja sama menghentikan kelompok penjahat yang berusaha mencuri minyak serta menyelamatkan para Dengan adegan-adegan aksi yang menegangkan, seperti kejar-kejaran di padang pasir dan pertarungan seru, keduanya berhasil menggagalkan rencana jahat dan menyelamatkan warga sipil yang terjebak. Dibanding dengan keenam judul di atas, praktis film ini paling smooth dalam menarasikan Islam. Sebab di sini Islam benarbenar tidak diposisikan sebagai musuh, kendati tetap mengandung beberapa bias terhadap dunia Timur Tengah dan muslim. Hal itu terlihat dalam gambaran dunia Islam sebagai Zona Perang, di mana Timur Tengah diperlihatkan sebagai daerah yang dilanda kekacauan, konflik, dan perang. Tentu ini sebuah representasi ini memperkuat stereotip bahwa negara-negara Islam adalah tempat yang berbahaya dan tidak stabil. Meski tidak terang-terangan dalam melabeli Islam sebagai sesuatu yang negatif, namun lagi-lagi pendekatan gubahan karakter kelompok penjahat/antagonis berasal dari Timur Tengah. Di mana mereka tetap digambarkan sebagai kelompok bersenjata yang brutal, mencerminkan citra negatif tentang milisi Timur Tengah yang sering diasosiasikan dengan Islam. Sebaliknya pasti protagonis/pahlawannya pasti dari Barat dan Asia. Bukan muslim Lokal, yaitu seorang Tiongkok (Jackie Cha. dan seorang Amerika (John Cen. Karakter lokal sering kali hanya menjadi korban atau tokoh pendukung, bukan pahlawan utama. Vol. 3 No. Mei 2025 Stereotip Islam di Film Hollywood dalam Tinjauan Teori Kontruksi Sosial Sebagaimana pendapat Peter L. Berger bahwa asumsi dasar dari kontruksi sosial adalah adanya pemahaman bahwa kenyataan/realitas itu dibentuk oleh sistem sosial. Artinya kenyataan yang ada pada ranah tertentu telah ter/di-desain oleh sebuah sistem tertentu. Dalam konteks bias stereotip Islam pada film-film Hollywood maka hal itu sengaja diciptakan dalam rangka tujuan tertentu. Dan untuk melihatnya secara lebih sistematis maka setidaknya penulis paparkan dalam empat tahapan konstruksi sosial seperti berikut: Pertama. Konstruksi . Tahap ini merupakan tahap awal bagaimana sebuah fenomena/nilai dibentuk. Ia merupakan sesuatu yang tidak terlihat namun bisa dirasakan saat terwujud. Tahapan ini juga sering kali disebut tahapan pengetahuan. Dalam konteks penelitian ini konstruksi dilakukan sejak kali pertama Hollywood mulai memperkenalkan stereotip Islam dalam film-film nya. Biasanya standar yang digunakan adalah dengan memosisikan segala unsur atau simbol yang terkait dengan arab atau Islam sebagai bagian dari karakter antagonis dalam cerita. Dengan posisi yang ada pada ranah antagonis akan mudah pula dalam menarasikan hal-hal negatif tentang Islam dalam cerita tersebut. Setidaknya dalam fim-film tersebut yang peneliti kaji sebagai sampel utamanya pada film Lawrance of Arabia . Islam telah ditampilkan dalam simbol kekhalifahan Turki Usmani di akhir masa keruntuhannya. Pada era keruntuhan tersebut menjadi standing point bagi sang sutradara dalam menggambarkan kesewenang-wenangan Islam sehingga memunculkan perlawanannya sendiri. Agen Edward Thomas Lawrance akhirnya ditampilkan menjadi solusi yang membawa Saudi meraih Hal serupa juga digambarkan dalam sampel-sampel yang lain di mana inti dari stereotip selalu menampilkan simbol-simbol MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 Islam sebagai sisi yang negatif, seperti keterbelakangan, kekejaman, teror dan berbagai kejahatan yang lain. Kedua. Pemeliharaan . Tahap ini adalah ketika nilai yang terkontruksi di atas kemudian terus dirawat dan diterapkan secara masif hingga keberadaannya benar-benar real di masyarakat. Nilai ini akan terus dipertahankan jika memang masih dianggap relevan, dan pada gilirannya ketika yang terjadi sebaliknya maka konstruksi itu akan mencair dan perlahan akan ditinggalkan. Dalam konteks penelitian ini pemeliharaan . diperlihatkan dengan konsistensi Hollywood yang selalu menampilkan film bernuansa stereotip Islam di hampir setiap Narasinya sama Islam sebagai antagonis dan Barat sebagai protagonis dan tensinya semakin naik saat momentum 9/11 terjadi dan membuat Islamophobia merebak dimana-mana. Momentum tersebut senantiasa membuat Hollywood menarasikan hal yang sama dari era ke era dan mulai menurun tensinya sejak pemerintahan Barack Obama berkuasa selama dua periode. Ketiga. Perbaikan . Perbaikan ini biasanya akan dilakukan oleh aktor sosial yang tidak lain adalah masyarakat itu sendiri. Perbaikan ini merupakan adaptasi atas realitas baru yang butuh penyesuaian. Ketika ia bisa beradaptasi, maka konstruksi nilai itu masih akan tetap ada. Sebagaimana tercantum pada bab sebelumnya bahwa tensi stereotip Islam mulai menurun dalam film Hollywood ketika Barak Obama berkuasa. Hal ini dikarenakan Obama dianggap dekat dengan muslim minimal mempunyai keluarga muslim sehingga berpengaruh besar terhadap sudut pandang dunia terhadap Islam. Setidaknya stereotip Islam sebagai agama teroris perlahan mulai pudar dan Hollywood harus menyesuaikannya. Hal itu terus berjalan dan semakin menemukan momentumnya. Hollywood pun perlahan mengadaptasi dan ini bisa terlihat pada era sekarang tensi terhadap stereotip tidak sekencang pada decade sebelumnya. Film AoHidden StrikeAo menjadi salah satu bukti tentang bagaimana Hollywood menyesuaikan diri untuk tidak terang-terangan menarasikan Islam sebagai Vol. 3 No. Mei 2025 agama teroris. Oleh karenanya dalam film ini penyesuaian . ditunjukkan dengan tidak memosisikan karakter Islam sebagai antagonis utama melainkan hanya pada setting atau alur yang memperlihatkan tentang keterbelakangan dan ketertindasan masyarakat muslim di Timur Tengah. Bukan seperti narasi-narasi sebelumnya di mana selalu memosisikan Islam vs Barat. Keempat. Perubahan . Tahap ini adalah ketika berbagai konstruksi terjadi dan nilai itu mengirimkan pesan kepada pelakunya . Ketika itu dianggap sudah tidak relevan maka akan muncul konstruksi baru sebagai gantinya. Tahapan ini bisa diartikan sebagai tahapan hilangnya konstruksi lama berganti dengan konstruksi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat menghadapi ruang dan waktu yang terus berubah. Secara kontekstual tahapan ini bisa dikatakan belum terjadi, sebab kendati tensi stereotip Islam telah menurun dalam fim-film Hollywood namun bukan berarti semuanya telah tiada. Justru yang ada hanya penyesuaian-penyesuaian kecil yang tidak secara frontal memosisikan Islam sebagai agama yang tidak harus dimusuhi. Kalaupun muncul tentang kontra narasi tentang stereotip Islam yang muncul bukanlah dari Hollywood, melainkan dari negara-negara yang memiliki penduduk muslim yang cukup besar kendati bukan mayoritas, seperti salah satunya adalah film AoMy Name is KhanAo dari India yang mencoba menjawab stereotip Islam pasca terjadinya tragedi 9/11. Kesimpulan Dalam konteks showbiz Hollywood. Islam sering kali distereotipkan secara negatif dalam beberapa film di sana. Representasi umat Islam dalam industri perfilman Barat kerap menampilkan citra yang bias, seperti mengasosiasikan Islam dengan terorisme, kekerasan, dan fanatisme. Stereotip ini muncul sebagai akibat dari sejarah panjang ketegangan antara dunia Barat dan dunia Islam, diperkuat oleh kepentingan politik dan media yang membentuk opini publik. Tujuh sampel film dari tiap dekade yang MuAoashir: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam Vol. 3 No. 1 Mei 2025 P-ISSN: 2987-7814. E-ISSN: 2987-7806 berbeda yang dipaparkan dalam penelitian ini menjadi contoh bagaimana karakter muslim digambarkan sebagai ancaman, dan pada akhirnya memperkuat prasangka negatif terhadap Islam di masyarakat global nyaris dalam satu abad terakhir. Dampak dari stereotip ini sangat luas, menciptakan pemahaman yang keliru tentang Islam serta meningkatkan diskriminasi terhadap muslim di berbagai belahan dunia. Representasi yang tidak adil dalam film Hollywood juga berkontribusi pada Islamofobhia, berpotensi pada munculnya perlakuan diskriminatif di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Akhirnya perlu ada penekanan pentingnya perubahan dalam industri perfilman agar lebih akurat dan adil dalam menampilkan keberagaman Islam. Representasi yang lebih positif dan seimbang dapat membantu menghapus prasangka serta membangun pemahaman yang lebih baik antara masyarakat muslim dan dunia Barat tentu menjadi sebuah harapan guna menyongsong perdamaian dunia tanpa bias. Daftar Pustaka