Human-Machine Communication Dalam Interaksi Penggunaan AI Fandhi Tricahyo . Rahmawati Zulfiningrum . Program Studi Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Dian Nuswantoro Email: . fandhitric@gmail. zufiningrum@dsn. ARTICLE HISTORY Received . Februari 2. Revised . Mei 2. Accepted . Mei 2. KEYWORDS Artificial Intelligence (AI). Chat GPT. Human-Machine Communication (HMC). Interaksi. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang mulai dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, berpotensi merubah cara belajar dan berkomunikasi antara mahasiswa dan teknologi. Salah satu pergeseran penggunaan teknologi buatan dalam dunia pendidikan adalah maraknya penggunaan Chat GPT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi mahasiswa di Kota Semarang dalam menggunakan teknologi AI, khususnya Chat GPT, dalam aktivitas perkuliahan melalui Teori HumanMachine Communication (HMC) dan pendekatan Fenomenologi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara, observasi dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menganggap Chat GPT sebagai alat yang efektif untuk mendukung proses belajar, terutama dalam membantu pemahaman materi dan mempercepat pencarian informasi. Namun, beberapa mahasiswa juga menyampaikan kekhawatiran tentang potensi ketergantungan dan dampak negatif seperti plagiarisme. HMC menekankan pentingnya komunikasi yang efektif antara manusia dan mesin, di mana mahasiswa harus menguasai cara memberikan perintah atau prompt yang tepat agar Chat GPT dapat memberikan informasi yang relevan dengan kebutuhan akademik. Kehadiran Chat GPT, membuat terciptanya interaksi yang dinamis antara mahasiswa dengan AI. Teknologi AI dapat membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, namun disisi lain mahasiswa harus tetap mengasah kemampuan berfikir kritis, memanfaatkan AI secara bijak dengan menjadikan teknologi Chat GPT ini sebagai pendukung bukan pengganti proses berpikir manusia. ABSTRACT The rapid development of artificial intelligence technology that is starting to be utilized in the world of education has the potential to change how students and technology learn and communicate. One of the shifts in the use of artificial technology in education is the widespread use of Chat GPT. This study aims to determine the interaction of students in the city of Semarang in using AI technology, especially Chat GPT, in lecture activities through the Human-Machine Communication (HMC) Theory and the Phenomenology The research method used is qualitative, which involves conducting interviews, observations, and documentation. The results of the study showed that most students considered Chat GPT an effective tool to support the learning process, especially in helping to understand the material and speeding up the search for However, some students also expressed concerns about the potential for dependence and negative impacts such as plagiarism. HMC emphasizes the importance of effective communication between humans and machines, where students must master how to give the right commands or prompts so that Chat GPT can provide information relevant to academic needs. The presence of Chat GPT creates dynamic interactions between students and AI. AI technology can help students who have difficulty completing college assignments. However, on the other hand, students must continue to hone their critical thinking skills and utilize AI wisely by making this GPT Chat technology a supporter, not a substitute for the human thinking process. PENDAHULUAN Perkembangan pesat teknologi informasi dan kecerdasan buatan (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam bidang pendidikan. Dengan menggunakan media online, mahasiswa bisa dengan bebas mengakses informasi yang berhubungan dengan materi pembelajaran yang dibutuhkan (Tassia, 2. Mahasiswa saat ini memanfaatkan AI, seperti ChatGPT untuk mendukung proses pembelajaran mereka, seperti dalam penulisan makalah atau pencarian informasi. Menurut Jamaaluddin . AI merupakan bagian dari ilmu komputer yang bertujuan menciptakan sistem komputer yang memiliki kemampuan sebanding dengan atau bahkan melebihi kemampuan manusia. Dalam konteks ini, internet sebagai sarana informasi mempermudah akses dan pencarian data (Najihah, 2. Akademisi diharapkan untuk memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk komputer, dalam pembelajaran (Utomo & Yulianti, 2. ChatGPT, sebagai platform AI berbasis pemrosesan bahasa alami (Setiawan, 2. , telah menjadi pilihan populer di kalangan mahasiswa karena kemampuannya memberikan jawaban yang terstruktur dengan baik dan akurat. AI memudahkan mahasiswa dalam memperoleh informasi dengan cara yang lebih efisien dan cepat. Namun, di sisi lain. AI dianggap sebagai pisau bermata dua. Meskipun memudahkan. AI juga menimbulkan kekhawatiran bahwa dalam waktu Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 83 Ae 92 | 83 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X dekat. AI akan menggantikan pekerjaan manusia (Fadila, 2. Di lingkup perguruan tinggi, penggunaan AI yang tidak bijaksana dapat mempengaruhi kebiasaan belajar mahasiswa, seperti kecenderungan menyontek dan plagiarisme (Mulianingsih, 2. Lingkungan belajar bagi seorang mahasiswa sangat penting dalam menunjang pendidikan mereka selama masa studi dan mendorong minat mereka dalam menggunakan Chat GPT. Lingkungan yang kondusif dapat mempengaruhi mahasiswa untuk berpikir kritis tanpa menggunakan bantuan chat gpt, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang mendukung menjadi kewajiban bagi setiap institusi pendidikan yakni memberikan pengajaran dan berpikir kritis tanpa teknologi (Hidayat & Purnamasari, 2. Di sisi positif, penggunaan AI memungkinkan pembelajaran yang lebih interaktif dan personal, serta memberikan umpan balik secara real-time sesuai dengan kebutuhan individu (Abimanto, 2. Dalam konteks ini. AI dapat membantu mahasiswa, terutama dalam pembelajaran bahasa dan budaya asing, dengan menyediakan akses informasi yang lebih mudah tanpa perlu mencari dari berbagai sumber tradisional seperti buku atau artikel. Selain itu. AI memberikan kemudahan dalam memperoleh informasi yang lebih terstruktur dan mudah dipahami. Namun, meskipun teknologi ini memberi kemudahan, dampak negatif yang ditimbulkan, seperti potensi menurunnya kemampuan kritis mahasiswa, juga perlu diperhatikan. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran harus disertai dengan bimbingan akademis yang baik untuk mencegah kebiasaan buruk, seperti ketergantungan pada AI dan kurangnya keterlibatan dalam proses belajar (Ayuni, 2. Keterbukaan diri dalam berinteraksi dengan sistem AI juga menjadi penting, karena mahasiswa perlu menyadari potensi ketidaksempurnaan dalam saran yang diberikan oleh AI. Chat GPT adalah teknologi kecerdasan buatan yang semakin berkembang yang memungkinkan orang berbicara secara otomatis seperti dengan manusia dan menggunakan bahasa alami. Dengan kemampuan ini. Chat GPT dapat membantu banyak orang dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, bisnis, atau kesehatan. Open AI, sebuah lembaga penelitian kecerdasan buatan yang berbasis di San Fransisco, membangun ChatGPT. Lembaga ini didirikan pada tahun 2015 dan dipimpin oleh banyak pengusaha dan ahli teknologi, termasuk Elon Musk. ChatGPT dapat membantu pekerjaan manusia dengan teks atau tulisan, seperti menulis surat, copywriting, esai, makalah, buku, puisi, dan tugas akhir kuliah seperti tesis, disertasi, skripsi, dan artikel ilmiah. Pengguna ChatGPT telah mencapai 100 juta hanya dalam waktu dua bulan sejak peluncurannya pada bulan November 2022, menurut survey yang dilakukan oleh perusahaan finansial UBS yang dikutip Reuters. Pada bulan Januari 2023, ada sekitar 13 juta pengguna yang mengakses ChatGPT setiap hari, dua kali lipat dari jumlah pengguna pada bulan Desember 2022. Salah satu pengguna dengan jumlah kunjungan terbanyak berasal dari kalangan mahasiswa perguruan tinggi (Kurniawan, 2. Semarang, sebagai salah satu kota dengan jumlah mahasiswa tertinggi di Indonesia, menjadi lokasi yang tepat untuk meneliti bagaimana interaksi antara mahasiswa dengan AI dalam penggunaan ChatGPT untuk mendukung kegiatan akademik atau perkuliahan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2. dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi . , lebih dari 100. 000 mahasiswa tersebar di lebih dari 50 perguruan tinggi di Semarang. Mahasiswa pada rentang usia 18-25 tahun yang merupakan pengguna utama teknologi ini, seringkali mencari solusi cepat dan efisien untuk berbagai persoalan akademik mereka dengan menggunakan ChatGPT. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara manusia dan AI dalam penggunaan ChatGPT pada aktivitas Penelitian ini berbeda dari studi sebelumnya karena menggunakan wawancara sebagai metode pengumpulan data. Pendekatan ini memberikan keunggulan dalam memperoleh wawasan mendalam dan kontekstual mengenai persepsi mahasiswa, yang sulit dicapai dengan kuesioner kuantitatif. Melalui wawancara, peneliti dapat mengeksplorasi motivasi, pengalaman pribadi, dan interaksi mahasiswa dengan ChatGPT dalam konteks nyata. Hal ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh data kualitatif yang lebih kaya dan mendetail tentang bagaimana mahasiswa berinteraksi dengan teknologi dan faktorfaktor yang memengaruhi persepsi mereka (Creswell & Poth, 2. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat menganalisis bagaimana proses interaksi antara mahasiswa dengan AI melalui penggunaan ChatGPT, serta implikasi positif dan negatif yang dapat timbul dalam aktivitas perkuliahan. LANDASAN TEORI Teori Human - Machine Communications Human-Machine Communication (HMC) berfokus pada makna yang tercipta dalam interaksi antara manusia dan teknologi, serta implikasinya terhadap individu dan masyarakat (Guzman, 2. HMC berkembang dari penelitian sebelumnya dalam Human-Computer Interaction (HCI) dan Human-Robot Interaction (HRI), dengan fokus khusus pada komunikasi di mana salah satu mitra interaksinya adalah HMC mencakup aspek-aspek HCI. HRI, dan Human-AI Interaction (HAI) serta menginvestigasi 84 | Fandhi Tricahyo,Rahmawati Zulfiningrum . Human-Machine Communication . peran mesin dalam komunikasi, bukan hanya sebagai mediator, tetapi juga sebagai komunikator yang dapat bertukar pesan langsung dengan manusia (Spence, 2. HMC memanfaatkan pendekatan epistemologis dan metodologis yang berbeda untuk menyelidiki teknologi sebagai subjek komunikatif. Penelitian ini melibatkan studi tentang interaksi antara manusia dan teknologi sebagai upaya untuk memahami bagaimana teknologi berfungsi sebagai komunikator dalam proses pembuatan makna. HMC berfokus pada aspek fungsional, relasional, dan metafisik dari AI sebagai komunikator, serta implikasi ontologis terkait perubahan peran komunikasi yang sebelumnya eksklusif bagi manusia (Peter & Kyhne, 2018. Spence, 2. Aspek Fungsional AI sebagai Komunikator Penelitian HMC pertama-tama mengkaji bagaimana teknologi AI dirancang sebagai komunikator dan bagaimana masyarakat memandang teknologi tersebut. Teknologi AI, seperti ChatGPT, dirancang untuk memenuhi peran komunikasi tertentu, apakah itu dalam konteks komunikasi antarpribadi atau komunikasi massa (Reeves & Nass, 1. Penelitian dalam HMC mengkaji bagaimana interaksi manusia dengan AI dapat dianalogikan dengan komunikasi antarpribadi dan bagaimana AI membentuk kembali definisi komunikasi itu sendiri (Waddell et al. , 2. Penelitian ini penting untuk memahami sejauh mana jenis komunikasi yang terjadi antara manusia dan AI sesuai dengan skema komunikasi manusia-manusia yang sudah ada (Lievrouw, 2. Aspek Relasional AI sebagai Komunikator Interaksi manusia dengan AI tidak hanya melibatkan pertukaran pesan, tetapi juga membentuk hubungan sosial yang baru. Komunikasi antara manusia dan AI dapat mengubah cara orang memahami diri mereka sendiri dan peran teknologi dalam masyarakat. Pendekatan ini mengembangkan pemahaman tentang bagaimana individu mempersepsikan teknologi sebagai komunikator dan bagaimana teknologi tersebut memengaruhi hubungan sosial (Goffman, 1. Penelitian ini juga mengkaji peran sosial yang diberikan pada teknologi canggih, seperti AI, yang tidak hanya berfungsi sebagai alat tetapi juga sebagai mitra komunikasi yang membentuk hubungan sosial baru (Suchman, 2. Aspek Metafisik AI sebagai Komunikator Seiring dengan kemajuan AI, muncul pertanyaan ontologis mengenai peran AI sebagai komunikator. Schramm . menyebut fenomena ini sebagai Aumesin berpikir,Ay di mana komputer atau AI tidak lagi sekadar mesin tetapi mulai memasuki ranah yang lebih dekat dengan entitas yang memiliki karakteristik komunikatif. Turkle . juga menyoroti perubahan besar dalam pemahaman tentang teknologi, di mana kesenjangan ontologis antara manusia dan mesin semakin kabur. Dalam konteks ini. HMC mematahkan asumsi bahwa komunikasi hanya terjadi antar manusia, dengan memperkenalkan konsep AI sebagai entitas yang dapat berperan sebagai komunikator (Guzman. Penelitian ini menunjukkan bahwa HMC tidak hanya memperhatikan aspek praktis penggunaan teknologi dalam komunikasi, tetapi juga menggali pertanyaan mendalam mengenai perubahan sifat komunikator yang dapat mempengaruhi cara kita memahami diri sendiri dan teknologi. Seiring dengan meningkatnya penggunaan AI dalam berbagai aspek kehidupan. HMC menawarkan pandangan yang lebih luas tentang bagaimana interaksi dengan mesin dapat meredefinisi makna komunikasi dan hubungan sosial dalam masyarakat modern. Dengan demikian. HMC memberikan kontribusi penting dalam mempelajari AI sebagai subjek komunikatif, yang tidak hanya berperan sebagai mediator tetapi juga sebagai mitra dalam interaksi sosial dan komunikasi. METODE PENELITIAN Metode Analisis Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengidentifikasi, menyelidiki dan memahami suatu fenomena yang tidak dapat ditentukan hanya dengan menggunakan data atau Menurut Denzin dan Lincoln . alam Munthe, 2. penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan untuk menjelaskan suatu fenomena dengan menggunakan berbagai metode. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode pengumpulan data primer, melalui wawancara lisan dan tertulis dengan beberapa mahasiswa di Kota Semarang. Data sekunder merupakan bahan yang berkaitan dengan penelitian, baik berupa bacaan atau artikel yang dipublikasikan di internet, seperti jurnal, artikel, majalah, atau surat kabar. Teknik pengambilan keabsahan data memakai triangulasi data sebagai suatu teknik pemeriksaan data yang menggunakan berbagai jenis sumber data. Data tersebut berasal dari dokumen, hasil observasi, dan juga hasil wawancara dengan beberapa subyek yang memiliki perbedaan sudut pandang Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 83 Ae 92 | 85 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X maupun latar belakang. Melalui penerapan triangulasi dalam berbagai bentuk ini, penelitian dapat mencapai tingkat keabsahan yang lebih tinggi, dengan meminimalkan potensi kesalahan atau bias, dan memperkaya pemahaman terhadap fenomena yang diteliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Contextual Understanding dari Chat GPT ChatGPT merupakan salah satu pencapaian signifikan dalam pengembangan model bahasa berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence. AI). Dikembangkan oleh OpenAI, model ini menggunakan arsitektur Generative Pre-trained Transformer (GPT) yang mengintegrasikan teknik pembelajaran mendalam . eep learnin. untuk menghasilkan teks yang menyerupai bahasa manusia. Model ini dirancang dengan proses pelatihan dua tahap. Tahap pertama adalah unsupervised pretraining, di mana model dilatih menggunakan data teks dalam jumlah besar dari berbagai domain untuk memahami pola-pola bahasa secara umum. Tahap kedua adalah fine-tuning yang melibatkan dataset yang lebih terfokus, sering kali melalui teknik pembelajaran berbasis penguatan (Reinforcement Learning from Human Feedback atau RLHF). Teknik ini memungkinkan model memahami konteks percakapan secara lebih akurat dan responsif terhadap masukan pengguna. Keunggulan ChatGPT terletak pada kemampuan contextual understanding-nya. Model ini mampu mempertahankan konteks dari pertanyaan atau pernyataan yang diajukan pengguna, sehingga menghasilkan respons yang relevan dan konsisten. Sebagai contoh, ketika pengguna mengajukan serangkaian pertanyaan beruntun. ChatGPT dapat menghubungkan konteks antar pertanyaan tersebut tanpa memerlukan klarifikasi ulang. Dari sisi aplikasi. ChatGPT telah dimanfaatkan di berbagai bidang, seperti layanan pelanggan, pendidikan, hingga pengembangan kreatif. Dalam layanan pelanggan. ChatGPT membantu menjawab pertanyaan secara otomatis, menghemat waktu dan tenaga manusia. dunia pendidikan, teknologi ini digunakan untuk membantu pelajar memahami materi yang sulit dengan penyampaian yang lebih sederhana. Selain itu. ChatGPT juga berfungsi sebagai alat brainstorming dalam pengembangan ide kreatif di bidang seni dan penulisan. Namun demikian, terdapat beberapa keterbatasan yaitu meskipun ChatGPT telah dilatih menggunakan dataset besar, responsnya tetap bergantung pada kualitas data yang menjadi sumber pelatihan. Hal ini menyebabkan potensi penyimpangan, seperti bias atau ketidakakuratan informasi. Selain itu. ChatGPT tidak memiliki kesadaran atau pemahaman dunia nyata. model ini hanya mengandalkan probabilitas linguistik untuk menghasilkan respons, bukan pada pengetahuan faktual yang independen (Fazira, 2. Implikasi etis dari penggunaan ChatGPT juga menjadi perhatian utama. Salah satunya adalah potensi penyalahgunaan untuk menyebarkan informasi palsu atau konten yang merugikan. Oleh karena itu, penggunaan teknologi ini memerlukan pengawasan yang ketat, terutama dalam aplikasi yang melibatkan publik secara luas. Sebagai model berbasis teknologi generatif. ChatGPT menunjukkan potensi besar dalam mendorong inovasi di bidang AI. Namun, seperti halnya teknologi lainnya, efektivitasnya bergantung pada bagaimana manusia memanfaatkannya. Gambar 1 menampilkan hasil survei dari Populix Databoks pada tahun 2023, sebagai berikut : Gambar 1. Aplikasi AI yang paling banyak digunakan di Indonesia Sumber: Survei Populix Databoks . 86 | Fandhi Tricahyo,Rahmawati Zulfiningrum . Human-Machine Communication . Potensi Ketergantungan dan Penurunan Daya Berpikir Kritis Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa Kota Semarang mengenai interaksi mereka terhadap penggunaan ChatGPT dalam aktivitas perkuliahan, dapat dianalisis bahwa ChatGPT merupakan teknologi yang dinilai sangat membantu dalam menyelesaikan tugas akademik. Mahasiswa umumnya mulai menggunakan ChatGPT setelah memasuki perkuliahan, dan mengenalnya melalui teman, dosen, atau media sosial seperti TikTok dan Twitter. Sebagian besar narasumber menganggap bahwa ChatGPT mempermudah proses pencarian informasi, mempercepat pengerjaan tugas, dan memberikan referensi yang relevan. Teknologi ini sering dimanfaatkan untuk brainstorming ide atau mencari solusi ketika mahasiswa mengalami kebuntuan dalam berpikir. Namun, para narasumber juga menyadari adanya risiko, seperti menurunnya produktivitas berpikir dan potensi ketergantungan jika tidak digunakan secara bijak. Mereka sepakat bahwa jawaban dari ChatGPT tidak selalu akurat dan perlu diperiksa ulang. Meskipun demikian, mayoritas narasumber tidak merasa ketergantungan karena mereka tetap berpikir kritis dan memanfaatkan ChatGPT hanya sebagai alat bantu. Secara keseluruhan, mahasiswa menilai bahwa penggunaan ChatGPT masih relevan selama tidak menggantikan kemampuan analisis individu dan tetap digunakan secara seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki peran penting sebagai teknologi pendukung perkuliahan yang efisien, namun tetap memerlukan pengelolaan yang bertanggung jawab dari penggunanya. Teori Human-Machine Communication (HMC) diimplementasikan untuk menganalisis interaksi mahasiswa dengan ChatGPT melalui tiga aspek utama yaitu: aspek fungsional, relasional, dan metafisik. Secara fungsional, mahasiswa memanfaatkan ChatGPT sebagai alat pendukung yang membantu mereka menyelesaikan tugas akademik dengan lebih cepat dan efisien. ChatGPT digunakan untuk mencari referensi, menyusun ide, hingga menyederhanakan informasi kompleks, sehingga mampu mempercepat proses belajar dan meningkatkan produktivitas (Suciati et al. , 2. Dalam aspek relasional, interaksi mahasiswa dengan ChatGPT mencerminkan hubungan yang bersifat kolaboratif. Mahasiswa melihat ChatGPT bukan hanya sebagai alat statis, tetapi sebagai entitas yang memberikan jawaban atau saran yang relevan. Hubungan ini menciptakan dinamika kerja yang membantu mahasiswa sehingga merasa terbantu ketika menghadapi kebuntuan, meskipun mereka tetap mengandalkan pemikiran kritis untuk mengevaluasi hasil yang diberikan (Nenia et al. , 2. Hal ini mencerminkan keseimbangan antara tantangan intelektual dan kemudahan akses informasi, yang tepat untuk mendukung proses pembelajaran mereka, hal ini sesuai dengan yang disampaikan Kaetza & Purnamasari . dimana konsumen pastinya memiliki selera yang berbeda-beda pula maka dengan memberikan opsi-opsi tertentu, konsumen akan memainkan goldilocks effect. Dalam konteks pendidikan, komunikasi, atau ilmu pengetahuan. Goldilocks Effect menekankan pentingnya menemukan keseimbangan untuk hasil yang optimal, seperti tingkat kesulitan tugas yang sesuai dengan kemampuan individu dan memilih pilihan yang sesuai dengan selera (Fazira, 2. Sementara itu, dari aspek metafisik, penggunaan ChatGPT menimbulkan refleksi tentang batasan antara manusia dan teknologi. Mahasiswa memahami bahwa ChatGPT adalah alat berbasis kecerdasan buatan yang tidak sempurna, sehingga informasi yang dihasilkan memerlukan verifikasi lebih lanjut. Hal ini memunculkan kesadaran bahwa teknologi hanya dapat menjadi pendukung, bukan pengganti dalam proses berpikir manusia. Ketiga aspek ini menunjukkan bahwa hubungan mahasiswa dengan ChatGPT bersifat multidimensional dan saling melengkapi. Berdasarkan hasil wawancara penggunaan ChatGPT dalam aktivitas perkuliahan, dapat dilihat pengaruhnya pada tiga aspek utama yakni fungsional, relasional, dan metafisik. Dalam aspek fungsional. ChatGPT terbukti membantu mahasiswa dalam menyelesaikan tugas kuliah dengan lebih cepat dan memberikan gambaran umum yang mudah dipahami. Namun, untuk tugas yang membutuhkan analisis data akurat. ChatGPT dianggap kurang efektif. Meskipun demikian, mahasiswa merasa bahwa ChatGPT memberikan kemudahan dalam menyusun jawaban singkat dan mengurangi kesalahan dalam penulisan. Di sisi lain, mahasiswa tidak menganggap ChatGPT dapat menggantikan peran dosen, karena masih ada kekurangan dalam teknologi tersebut. Dalam aspek relasional, mahasiswa menggunakan ChatGPT untuk berdiskusi dan bertukar ide dengan teman sekelas. ChatGPT juga membantu dalam menyusun pertanyaan yang relevan untuk sesi Namun, mereka tetap mengutamakan materi yang diberikan dosen dalam menjelaskan atau mendiskusikan materi kuliah. Sebagian besar mahasiswa di lingkungan perkuliahan sudah menggunakan ChatGPT, namun disarankan untuk tidak menyalin jawaban secara langsung. Pada aspek metafisik, penggunaan ChatGPT dianggap tidak memberikan dampak negatif yang signifikan, karena mahasiswa tidak tergantung sepenuhnya. Meski begitu, ada kekhawatiran bahwa penggunaan ChatGPT secara berlebihan dapat mempengaruhi kebiasaan mahasiswa dalam mencari informasi dan membuat usaha lebih sedikit. ChatGPT dianggap perlu terus dikembangkan untuk mendukung kemajuan teknologi di masa depan. Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 83 Ae 92 | 87 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Penggunaan ChatGPT menggunakan pisau analisis teori HMC (Human-Machine Communicatio. mendapatkan hasil bahwa dalam aspek fungsional, sebagian besar narasumber merasakan bahwa ChatGPT sangat membantu dalam menyelesaikan tugas kuliah, mempercepat pekerjaan, dan memberikan gambaran jawaban yang mudah dipahami. Mereka merasa ChatGPT meningkatkan efisiensi tugas, meskipun beberapa menekankan bahwa hasilnya tidak selalu 100% akurat. Sebaliknya, pula mahasiswa yang merasa bahwa kualitas tugas kuliah justru menurun jika menggunakan ChatGPT, mengingat ketidakakuratan dan keterbatasan referensinya. Analisis berdasarkan teori HMC menunjukkan bahwa meskipun ChatGPT mempercepat penyelesaian tugas, interaksi dengan mesin terkadang bisa mengurangi keterlibatan kognitif mahasiswa dalam berpikir kritis, sehingga memengaruhi kualitas hasil Dalam aspek relasional seluruh narasumber sepakat bahwa ChatGPT membantu dalam proses berdiskusi atau bertukar ide, namun ada perbedaan dalam penggunaan untuk mendiskusikan materi Narasumber pertama merasa lebih cenderung menggunakan ChatGPT untuk bertukar ide dan membandingkan jawaban dengan teman, sementara narasumber kedua lebih cenderung menggunakan ChatGPT hanya saat dibutuhkan dan tidak untuk berdiskusi materi lebih lanjut. Dalam konteks HMC, hubungan antara manusia dan mesin berperan sebagai alat bantu dalam diskusi, namun peran aktif teman sekelas dan dosen tetap dominan dalam memahami materi perkuliahan. Dalam Aspek Metafisik, terdapat ragam respon dari para narasumber. Terdapat mahasiswa yang pro dan tidak merasa adanya dampak negatif yang signifikan, dengan syarat penggunaan ChatGPT tidak berlebihan, dan menilai bahwa ChatGPT perlu terus dikembangkan. Namun, kelompok narasumber mahasiswa yang kontra mengemukakan bahwa mereka merasakan dampak negatif dalam penggunaan ChatGPT, seperti efek ketergantungan dan menurunnya kreativitas. Mereka juga merasa bahwa ChatGPT bisa membuat orang menjadi malas berpikir dan kurang kreatif. Terdapat kekhawatiran akan ketergantungan terhadap penggunaan teknologi, yang dapat mengurangi keterlibatan dan perkembangan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT memiliki kelebihan dalam hal efisiensi dan kemudahan akses informasi, namun juga dapat menurunkan kualitas berpikir dan ketergantungan, sesuai dengan prinsip-prinsip HMC yang menggarisbawahi interaksi manusia dengan teknologi. Analisis interaksi mahasiswa di Kota Semarang dalam penggunaan teknologi AI, khususnya Chat GPT pada aktivitas perkuliahan melalui Teori HumanMachine Communication (HMC) ditemukan beberapa poin penting seperti tercantum pada Gambar 2 Gambar 2. Analisis Interaksi Mahasiswa Dalam Penggunaan Chatgpt Pada Aktivitas Perkuliahan Sumber: Olahan hasil penelitian, . 88 | Fandhi Tricahyo,Rahmawati Zulfiningrum . Human-Machine Communication . Pentingnya Verifikasi Informasi Dalam Penggunaan Chatgpt Penggunaan ChatGPT di kalangan mahasiswa, terutama di Semarang, menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran (Yassir & Saharuna, 2. Salah satu narasumber yang merupakan pakar di bidang Teknologi Informasi (TI), mengemukakan bahwa ChatGPT sangat mudah digunakan oleh mahasiswa. Penggunaannya yang sederhana membuatnya menjadi alat yang bermanfaat untuk membantu dalam mempercepat proses belajar, terutama dalam hal pencarian informasi atau bahkan pembuatan tugas. Namun, ia juga mengingatkan bahwa meskipun aplikasi ini memiliki manfaat besar, ada beberapa potensi dampak negatif yang perlu diperhatikan, seperti kesalahan atau fabrikasi informasi yang dihasilkan oleh ChatGPT. Salah satu potensi permasalahan yang dapat muncul adalah ketergantungan pada AI yang dapat menyebabkan penggunanya, baik mahasiswa maupun dosen menjadi tidak cukup kritis karena informasi yang diberikan oleh ChatGPT seringkali kurang akurat. Dampak negatif lainnya yang bisa muncul adalah kesalahan yang disengaja atau tidak disengaja yang dikenal dengan istilah fabrikasi. Meskipun ChatGPT memberikan jawaban dengan cepat, jawaban tersebut tidak selalu akurat atau sesuai dengan konteks yang diinginkan. ChatGPT bisa menjadi kurang netral dalam menjawab, tergantung pada bagaimana prompt atau input yang diberikan oleh Oleh karena itu, pakar IT menyarankan agar pengguna selalu melakukan verifikasi informasi yang dihasilkan saat menggunakan ChatGPT, meskipun hasilnya terkadang masuk akal. Dengan demikian, mahasiswa sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu sumber informasi, melainkan harus tetap melakukan cross-check hasilnya dengan sumber lain yang lebih kredibel. Salmi et al. , . mengemukakan bahwa penggunaan teknologi dalam pendidikan menunjukkan bahwa meskipun alat berbasis AI seperti ChatGPT sangat membantu dalam mempercepat pencarian informasi dan menyelesaikan tugas, namun terdapat kekhawatiran terhadap potensi kesalahan yang dapat disebabkan oleh ketidaktepatan informasi yang diberikan oleh AI. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya verifikasi informasi menjadi hal yang krusial. Mahasiswa diharapakan tidak hanya menggunakan versi gratis dari ChatGPT, karena model tersebut lebih umum dan cenderung memberikan jawaban yang tidak spesifik. Mahasiswa disarankan untuk mengeksplorasi versi premium atau model khusus yang dirancang untuk kebutuhan tertentu seperti pemrograman atau analisis data, sehingga informasi yang diperoleh lebih akurat. Penggunaan ChatGPT dalam bidang pendidikan dapat berkontribusi positif dalam proses belajar, meskipun dalam konteks mengajar, alat ini tidak menggantikan peran dosen. ChatGPT dapat digunakan untuk mempercepat dalam pembuatan tugas akhir atau penelitian, namun mahasiswa harus tetap menjaga kualitas pemahaman mereka terhadap materi yang diberikan (Syahira et al. , 2. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Gaol & Manalu . yang menyatakan bahwa AI dapat membantu dalam meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga menekankan pentingnya penggunaan yang bijak agar teknologi ini tidak mengurangi kualitas pemikiran kritis mahasiswa. Secara keseluruhan, penggunaan ChatGPT di kalangan mahasiswa di Semarang dapat mendukung proses belajar dan memberikan manfaat signifikan dalam membantu ragam tugas perkuliahan, namun harus dilakukan dengan pengawasan dan verifikasi (Marlita et al. , 2. Meskipun ChatGPT sangat membantu, mahasiswa tetap harus menggunakan teknologi ini secara bijaksana dan tidak bergantung sepenuhnya pada hasil yang diberikan. Teknologi ini seharusnya berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti pemikiran kritis dan dedikasi dalam belajar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tren penggunaan ChatGPT di kalangan mahasiswa mencerminkan fenomena pertukaran dan produksi konsumen yang semakin berkembang, di mana pengguna tidak hanya mengonsumsi konten tetapi juga menjadi produsen. Novelty dari penelitian ini adalah mengkaji bahwa penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa bukan hanya untuk mendapatkan informasi tetapi juga untuk membuat ide, karya, dan materi akademik. Mereka menggabungkan peran konsumen dan produsen dalam lanskap digital melalui interaksi aktif dengan platform AI. ChatGPT mendorong mahasiswa untuk berpartisipasi dalam produksi, proses kolaboratif di mana teknologi dan pengguna bekerja sama untuk membuat konten yang dinamis. Proses ini seringkali dikombinasikan dengan interaksi sosial melalui platform daring seperti media sosial, yang membantu mahasiswa berkomunikasi dan bekerja sama. Mahasiswa dapat mengerjakan proyek dalam sebuah grup atau tugas penelitian dengan menggunakan informasi dari ChatGPT untuk membuat argumen atau analisis yang lebih mendalam, yang selanjutnya dibahas dalam forum online atau presentasi kelas. Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 83 Ae 92 | 89 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Proses pertukaran konsumen terjadi ketika mahasiswa tidak hanya menerima konten tetapi juga mengubahnya menjadi produk baru yang bermanfaat bagi mereka dalam bidang akademik. Hal ini menunjukkan pergeseran peran di dunia digital, dari konsumen menjadi produsen aktif, dengan mengembangkan keterampilan manajemen informasi dan pembuatan konten digital. Penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa dapat sebagai alat yang menunjukkan bagaimana hubungan yang semakin erat antara teknologi AI, proses pembelajaran serta produksi pengetahuan. Hal ini selaras dengan konsep dinamika prosumer dalam era digital yang dikemukakan oleh Zulfiningrum dan Yusriana . Penggunaan AI dikalangan mahasiswa mempunyai dampak positif dan negatif. Dari sisi positif, mahasiswa dapat memanfaatkan ChatGPT sebagai alat pendukung yang membantu mereka menyelesaikan tugas akademik dengan lebih cepat dan efisien. Dari segi relasional, mahasiswa melihat ChatGPT bukan hanya sebagai alat statis, tetapi sebagai entitas yang memberikan jawaban atau saran yang relevan, sedangkan dari segi metafisik, penggunaan ChatGPT menimbulkan refleksi tentang batasan antara manusia dan teknologi. Mahasiswa memahami bahwa ChatGPT adalah alat berbasis kecerdasan buatan yang tidak sempurna, sehingga hasilnya memerlukan verifikasi lebih lanjut. Saran Fenomena maraknya mahasiswa yang menggunakan Chat GPT dalam aktivitas perkuliahan merupakan salah satu contoh implementasi dari bagaimana teknologi merupakan perpanjangan tangan dari manusia dan dimanfaatkan untuk membantu manusia dalam ragam kegiatan. Mahasiswa menggunakan teknologi AI Chat GPT untuk mencari referensi, menyusun ide dan menyederhanakan informasi yang kompleks. Kesadaran mahasiswa dalam menggunakan Chat GPT ini juga dimanfaatkan sebagai bentuk interaksi antara manusia dengan teknologi tersebut. Interaksi yang dihasilkan mahasiswa dengan teknologi Chat GPT dapat membantu dalam proses belajar dan memberikan manfaat dalam aktivitas perkuliahan, namun pemanfaatannya secara bijak dan tidak bergantung sepenuhnya pada informasi yang diberikan oleh Chat GPT. Human Ae Machine Communication menekankan pentingnya komunikasi yang efektif antara manusia dan mesin, di mana mahasiswa juga menguasai cara memberikan perintah atau prompt yang tepat agar ChatGPT dapat menghasilkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan akademik. Keterampilan ini sangat diperlukan untuk mengoptimalkan manfaat dari AI dengan bijak dan tepat dalam mendukung aktivitas perkuliahan. DAFTAR PUSTAKA