ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 Pemulihan Fungsi Ekosistem Lahan Reklamasi Bekas Tambang Di Area Roto Samurangau PT. Kideco Jaya Agung Restoration of Ecosystem Functions of Reclaimed Ex-Mine Land in the Roto Samurangau Area of PT. Kideco Jaya Agung Muhamad Handoyo Hadi1*). Radjali Amin2 1 P T. Kideco Jaya Agung. Batu Kajang. P aser. Indonesia 2 P rogram Studi Magister Ilmu Lingkungan. Fakultas P ascasarjana. Institut Teknologi Yogyakarta. Yogyakarta. Indonesia *) Corresponding author: muhamadhandoyohadi@gmail. Article history: Received: 30 March 2025 Revised: 19 July 2025 Accepted: 30 July 2025 Kata kunci: Sekuistrasi karbon Pulai Sengon Mahoni ABSTRAK Revegetasi lahan bekas tambang adalah kewajiban perusahaan tambang yang harus dilaksanakan untuk mengembalikan fungsi-fungsi ekosistem. Kriteria keberhasilan revegetasi telah ditetapkan oleh pemeritah dan menjadi acuan strategi Fungsi-fungsi ekosistem belum ada kriteria keberhasilannya sehingga lebih bersifat deskriptif di dalam Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat strategi revegetasi PT Kideco Jaya Agung dan memaparkan pemulihan fungsi-fungsi ekosistem lahan reklamasi. Metode penelitian ini adalah survey kuantitatif deskriptif dimana data primer, seperti diameter, tinggi, umur, dan species tanaman revegetasi dikumpulkan di lapangan. Data ini dihitung secara matematis menggunakan rumus alometrik untuk mengetahui cadangan karbon dan produksi oksigen (O. Rumus alometrik cadangan karbon dikumpulkan dari data sekunder dengan melakukan kajian pustaka dan dipilih yang paling mirip dengan kondisi di lapangan. Strategi revegetasi telah berhasil memenuhi kriteria keberhasilan revegetasi melalui pengaturan jarak tanam dan penerapan hydroseeding. Keberhasilan revegetasi ini telah berangsur-angsur memulihkan fungsi ekosistem setempat dengan penyerapan gas CO2 dan produksi oksigen (O. Perhitungan cadangan karbon dari pohon pioner revegetasi. Albizia falcataria dan Acacia mangium, adalah masing-masing 7,8 ton/ha dan 12,0 ton/ha atau sebesar 19,8 ton/ha secara total. Produksi O2 adalah sebesar 0,4 ton/ha dari A. falcataria dan sebesar 0,7 ton/ha dari A. mangium atau sebesar 1,1 ton/ha dari kedua species ini. ABSTRACT Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 Keywords: Carbon sequestration Pulai Sengon Mahoni Revegetation of mined area land is an obligation of mining companies that have to be carried out to restore ecosystem functions. Revegetation success criteria have been set by the government and become a reference for revegetation programme. Ecosystem functions have no success criteria so they are more descriptive in their achievement. The purpose of this study was to examine PT Kideco Jaya Agung's revegetation programme and describe the recovery of ecosystem functions of the reclaimed area. The method was a descriptive quantitative survey where primary data, such as diameter, height, age, and species of revegetation plants were collected in the field. These data were mathematically calculated using allometric formulas to determine carbon stocks and oxygen (O. The allometric formula was collected from secondary data by conducting a literature review and selected the most similar to the field conditions. The revegetation program had successfully fulfilled the success criteria of revegetation through the setting of plant spacing and the application of The success of revegetation had gradually been restoring the function of local ecosystem by absorbing CO 2 gas and producing O2. The carbon stocks of the revegetated pioneer trees. Albizia falcataria and Acacia mangium, were 7. 8 tonnes/ha and 12. 0 tonnes/ha respectively or 19. 8 tonnes/ha in total. O 2 production was 0. tonnes/ha from A. falcataria and 0. 7 tonnes/ha from A. mangium or 1 tonnes/ha in total. PENDAHULUAN Kegiatan pertambangan, terlalu sering dikaitkan dengan perusakan lingkungan. Padahal sesungguhnya, pertambangan yang benar harus dilakukan dengan menerapkan beberapa kegiatan pemulihan lahan dan ekosistem yaitu kegiatan reklamasi lahan bekas tambang dan penutupan tambang. Stigma pertambangan yang merusak lingkungan harus diubah dengan memberikan pemahaman apa itu kegitan pertambangan dan bukti-bukti keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang yang dilakukan oleh operator tambang. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang mengelola kawasan hutan di Indonesia merasa bertanggung jawab dan perlu mengatur bagaimana kawasan hutannya dikembalikan setelah digunakan untuk kegiatan Reklamasi hutan didefinisikan sebagai upaya untuk memperbaiki atau memulihkan kawasan hutan yang rusak agar berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya (Nurbaya, 2. KLHK menentukan kriteria keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang yang terjadi di dalam kawasan hutan. Di dalam Surat Edaran (SE) nomor SE. 1/MENLHK/SETJEN/KUM. 1/ 1/2024 tentang Pedoman Reklamasi Hutan Akibat Penggunaan Kawasan Hutan, kriteria keberhasilan revegetasi terdiri dari beberapa parameter yaitu luas areal penanaman, persentase tumbuh tanaman, jumlah tanaman per hektar, komposisi jenis tanaman, dan pertumbuhan atau kesehatan tanaman. Kriteria ini sangat kuantitatif dan meliputi sebagian peran dan fungsi revegetasi yang Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 diharapkan dapat menyerupai kriteria suksesi positif eksosistem hutan hujan tropis dimana sebelumnya perusahaan tambang beroperasi. Pemulihan ekosistem melalui reklamasi lahan juga akan memberikan pemulihan jasa-jasa ekosistem seperti perbaikan hidroorologis kawasan, produksi oksigen, sekuistrasi karbon, penyejuk udara, keh ati, pencegah erosi, potensi healing, penahan angin (Mayasari. Fadilah. Reflis. Utama, & Ramdhon, 2. Menurut Johnston . di dalam Encyclopedia Brittanica, jasa ekosistem adalah keluaran, kondisi atau proses dari alam yang secara langsung dan tidak langsung memberi manfaat kepada manusia atau meningkatkan harkat sosial. Penelitian ini ingin melihat secara kuantitatif manfaat revegetasi terhadap 2 . jasa ekosistem utama yang dihasilkan yaitu produksi oksigen dan sekuistrasi karbon (KrzemieE. Prusek. Bondaruk. FrIczek, & Fidalgo Valverde, 2. dengan mengambil data kegiatan revegetasi di salah satu tambang batubara di Kalimantan Timur. Di dalam program revegetasi lahan bekas tambang, peranan tanah pucuk sebagai media pertumbuhan tanaman revegetasi adalah kritikal. Menurut Kepmen ESDM nomor K/30/MEM/2018 tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan Yang Baik, penggunaan tanah pucuk disarankan untuk bisa langsung digunakan untuk revegetasi, artinya tanah pucuk tidak disimpan/ditimbun dulu untuk nanti digunakan. BAHAN DAN METODE Lokasi penelitian pada tesis ini adalah waste dump (WD) Samurangau (SMA) Ae 3 Roto Samurangau. PT Kideco Jaya Agung pada kordinat 1A50'39. 7"S 115A52'35. 7"E dengan luas lahan sekitar 1 hektar, dan secara administrasi terletak di Desa Batu Kajang. Kabupaten Paser. Kalimantan Timur. Area ini merupakan lahan bekas kegiatan penambangan yang telah direvegetasi sejak tahun 2013 dan selesai pengerjaannya di Data species dan diameter pohon revegetasi dikumpulkan dengan membuat petak ukur berukuran 20 m y 20 m sebanyak 5 buah petak ukur yang diposisikan secara random di dalam areal reklamasi WD SMA Ae 3 Roto Samurangau. Tingkat pertumbuhan pohon yang masuk di dalam perhitungan/pengamatan adalah tingkat pohon dengan ciri-ciri adalah berdiameter pada setinggi dada . ,3 . lebih dari 20 cm. Data revegetasi dari perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur ini akan dievaluasi dengan menggunakan beberapa formula penghasil oksigen dan sekuistrasi karbon untuk mengungkap perbaikan jasa ekosistem secara kuantiatif. Perhitungan cadangan karbon dengan mengacu kepada dokumen Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 772:2011 tentang Pengukuran dan Penghitugnan Cadangan Karbon Ae Pengukuran Lapangan Untuk Penaksiran Cadan gan Karbon Hutan. Formula yang digunakan untuk menghitung cadangan karbon di dalam biomasa atau karbon tersekuistrasi adalah . CK = B 0,47 . Keterangan: CK = cadangan karbon, dinyat akan dalam kg. = total biomasa, dinyatakan dalam kg Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 Perhitungan biomasa pohon dihitung dengan menggunakan formula dasar . (Hairiah et al. , 2011. Ketterings. Coe, van Noordwijk. Ambagau, & Palm, 2. Keterangan: B = Biomasa pohon. a = intercept. = kerapatan D = diameter pohon setinggi dada . ,3 . koefisien pangkat . ower coefficien. Perhitungan biomasa tingkat pertumbuhan pohon secara alometrik tergantung dari speciesnya: A. (Hairiah & Rahayu, 2007. Perawati. Hardiansyah, & Idham, 2. (Purwitasari, 2. (Lokbere. Pollo, & Tasirin, 2. , dan A. scholaris yang dihitung dengan formula menggunakan pendekatan jenis kayu campuran . (Ketterings et al. dalam Krisnawati. Adinugroho, & Imanuddin, 2. Keterangan: BAf = Biomasa A. Keterangan: BAm = Biomasa A. Keterangan: BSm = Biomasa S. Keterangan: BAs = Biomasa A. Perhitungan cadangan karbon per hektar biomasa di atas permukaan tanah menggunakan formula . Keterangan: Cn = kandungan karbon per hektar pada masingmasing carbon pool pada tiap plot, dinyatakan dalam ton/ha. Cx = kandungan karbon pada masing-masing carbon pool pada tiap plot, dinyatakan dalam kg. lplot = luas plot pada masing-masing pool, dinyatakan dalam m2. Perhitungan pendugaan produksi oksigen dengan menggunakan rumus alometrik berat kering tanaman dimana 1 gram berat kering tanaman setara dengan 0,9375 gram oksigen (Anggraini. Jayadi, & Astuti, 2024. Paransi & Wuisang, 2. Data kerapatan kayu ( dari masing-masing species dikumpulkan dari data sekunder yang diambil dari Dryad dimana disusun oleh Zanne et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Revegetasi Proses revegetasi di lapangan dimulai dengan kegiatan penataan lahan seperti resloping lahan reklamasi, pembangunan saluran pembunagan aliran permukaan atau drainase, dan penyebaran tanah pucuk sebagai media tanam tanaman revegetasi. Tanah pucuk yang disebar berasal dari stockpile tanah pucuk yang sengaja diadakan untuk menimbun sementara tanah pucuk hingga suatu saat dibutuhkan untuk Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 kegiatan revegetasi. Ketebalan tanah pucuk yang kembali dihamparkan pada area sebesar 30-50 cm. Proses reklamasi lahan bekas tambang sering bahkan hampir selalu menggunakan tanah pucuk yang Autidak sesungguhnyaAy. Proses pengupasan, pengangkutan, penimbunan/ penyimpanan, dan penghamparan kembali tanah pucuk di lahan reklamasi telah menjadikannya, yang seharusnya kaya akan bahan organik dari seresah tumbuhan, tidak mengandung bahan organik yang cukup atau rusak atau tidak tersedia (Ghose, 2001. Iskandar & Suryaningtyas, 2. Operator tambang tidak bisa mengandalkan kehandalan tanah pucuk yang semestinya untuk melakukan revegetasi, sehingga sejumlah kompos atau pupuk harus ditambahkan ke dalam lubang tanam seperti yang diatur di dalam Permen Hut nomor P. 4 tahun 2011 tentang Pedoman Reklamasi Hutan, walaupun Permen ini sedang dalam proses pembaharuan. Di lokasi penelitian, sesaat setelah tanah pucuk selesai dihamparkan, hydroseeding dengan menggunakan biji cover crop dari jenis Aejenis legume atau kacangkacangan atau yang biasa disebut legume cover crop (LCC) segera diaplikasikan di permukaan tanah untuk mencegah erosi dan sekaligus mempertahankan hingga meningkatkan kesuburan lahan untuk direvegetasi (Gambar . Gambar 1. Kegiatan Hydroseeding P ada Lahan yang Telah Selesai Dilapisi Tanah P ucuk . Hasil Hydroseeding Di Sepanjang Lereng Jalan Angkutan Menggunakan LCC . Beberapa jenis LCC yang terdapat di dalam bubur hydroseeding akan cepat tumbuh dan menutupi tanah. Detil kontribusi masing-masing LCC terhadap ekosistem lahan reklamasi, terutama komponen tanah seperti di dalam Error! Reference source not found. Tabel 1. Jenis LCC dan Manfaat Utama yang Diharapkan Terhadap P erbaikan Ekosistem Jenis LCC Manfaat Utama Calopoginium pubescens Menahan laju air limpasan Menambah unsur hara N Memperbaiki sifat fisik, kimia, biologi tanah Sesbania grandiflora (Tur. Megurangi pencucian unsur hara Pueraria javanica Mempercepat pelapukan debris LCC Mucuna conchinchinensis Menekan pertumbuhan gulma Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 Sumber: PT Kideco Jaya Agung Dengan mengacu kepada kriteria minimal keberhasilan revegetasi lahan bekas tambang di kawasan hutan yang terdapat di dalam Lampiran 3. SE KLHK nomor 1 tahun 2024 yaitu sebesar > 625 pohon per hektar dan berusia minimal 3 . tahun maka penanaman pohon revegetasi diatur dengan jarak 3 m 4 m sehingga dalam satu hektar memiliki kerapatan 833 pohon guna mengantisipasi kematian tanaman sebesar 20% atau sebesar 667 pohon agar tetap memenuhi target kerapatan yang ditentukan oleh pemerintah. Jenis-jenis tanaman reklamasi yang ditanam di WD SMA Ae 3 Roto Samurangau adalah jenis pioner seperti Albizia falcataria dan Acacia mangium, dan jenis kayu klimaks atau juga dikenal dengan jenis kayu sisipan seperti Swietenia macrophylla dan Alstonia Fungsi Lingkungan LCC yang diaplikasikan di permukaan lahan reklamasi tidak diperhitungkan di dalam hitungan cadangan karbon tetapi hanya pohon -pohon berkayu yang ditanam yang Dari 5 . petak ukur yang dipasang, berukuran total 2. 000 m 2, ditemukan hasil inventarisasi sebanyak 144 batang pohon berkayu. Persebaran species tanaman revegetasi, terdapat 4 . species yaitu A. macrophylla, dan A. scholaris yang masing-masing terdiri dari 36 batang. Hasil inventarisasi lahan reklamasi disajikan di dalam Tabel 2. Tabel 2. Hasil Inventarisasi Tanaman Revegetasi pada Lahan Reklamasi WD SMA Ae 3 Roto Samurangau Diameter . Tinggi . Species Rerata SD Rerata SD Keterangan: SD = Standar deviasi. NA = tidak diukur karena tingkat pertumbuhan pancang Pertumbuhan keempat species tanaman revegetasi relatif seragam (Tabel . baik dilihat dari parameter diameter dan atau parameter tinggi karena mempunyai standar deviasi atau simpangan data hasil pengukuran diameter yang kecil, berkisar 4,8% pada A. mangium hingga 13,3% pada S. macrophylla dan A. Sementara untuk pertumbuhan meninggi, berkisar antara 5,5% untuk A. mangium sampai 5,7% untuk A. Tabel 2 menunjukkan hanya 2 . species yaitu A. falcataria dan A. yang telah mencapai tingkat pertumbuhan pohon sementara 2 . species lainnya, yaitu S. macrophylla dan A. scholaris, masih pada tahap pertumbuhan pancang. Hal ini terjadi karena ada perbedaan waktu tanam. falcataria dan A. mangium sebagain tanaman jenis pioner yang cepat tumbuh, lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras, dan diharapkan dapat menciptakan iklim mikro sebelum tanaman sisipan seperti S. macrophylla dan A. scholaris ditanam. Beda waktu penanaman antara tanaman Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 pioner dan tanaman sisipan adalah 2 . Dengan kondisi seperti ini maka perhitungan biomasa, karbon . , dan produksi oksigen dengan menggunakan rumus-rumus di atas hanya bisa dilakukan pada A. falcataria dan A. mangium (Tabel . Tabel 3. Perhitungan Biomasa. Karbon Tersekuistrasi, dan Produkasi O2 Rata-rata dari Satu Pohon A. falcataria dan A. Species Diameter . Rerata Densitas Kayu 0,33 0,73 Biomasa . Rerata Karbon . Rerata P roduksi O2 . Rerata Keterangan: SD = Standar deviasi Perhitungan dengan menggunakan formula . maka untuk 1 ha lahan reklamasi PT Kideco Jaya Agung yang dijadikan lokasi penelitian terdapat cadangan karbon atau karbon tersekuistrasi sebesar 7,8 ton/ha dari A. falcataria dan 12,0 ton/ha dari A. mangium atau sebesar 19,8 ton/ha secara total dari kedua species itu. Sedangkan oksigen yang dihasilkan sebesar 0,4 ton/ha dari A. falcataria dan sebesar 0,7 ton/ha dari mangium atau sebesar 1,1 ton/ha dari kedua species ini. Dilihat dari karbon tersekuistrasi dari perhitungan di atas, fakta di lapangan cadangan karbon pasti lebih besar daripada itu karena LCC yang ditanam pada awal kegiatan revegetasi tidak termasuk di dalam perhitungan dan beberapa species tanaman sisipan yang relatif lebih tinggi kandungan karbonnya masih dalam tahap pancang sehingga belum diperhitungkan di dalam penelitian ini. Jika mengacu kepada penelitian Yuningsih. Lensari, and Milantara . yang berhasil menghitung cadangan karbon semak belukar maka ada tambahan karbon sebesar 21,8 ton/ha, jika diasumsikan LCC sebagai semak belukar. Untuk tingkat pertumbuhan pancang, penelitian Noor. Hafizianoor, and Suyanto . menyimpulkan cadangan karbonnya berkisar antara 0,16 ton/ha Ae 0,83 ton/ha pada 4 tahun dan 6 tahun usia revegetasi dengan menggunakan jenis tanaman utama A. macrophylla, dan Anthocepahlus chinensis pada lahan bekas tambang batubara di PT Borneo Indobara. Kabupaten Tanah Bumbun Provinsi Kalimantan Selatan. Cadangan karbon oleh kedua species yang dihitung relatif masih rendah karena usia kedua species ini masih relatif muda sehingga pertumbuhannya belum maksimal yang berakibat pada akumulasi karbon yang belum maksimal pula. Sebagai contoh, hutan tanaman A. mangium berusia lebih dari 20 tahun mempunyai cadangan karbon sebesar 62,1 ton/ha (Sadelie. Kusumastanto. Kusmana, & Hardjomidjojo, 2. sedangkan untuk A. falcataria mempunyai cadangan karbon sebesar 12,0 ton/ha Ae 51,0 ton/ha dengan rata-rata 31,5 ton/ha (Ohorella. Febriadi, & Sangadji, 2. macrophylla yang ditanam di area reklamasi juga mempunyai potensi cadangan karbon yang tinggi walaupun sekarang masih belum dapat dihitung Hutan tanaman S. macrophylla di provinsi Sumatera Selatan yang berusia 16 Ae 20 tahun mempunyai cadangan karbon sebesar 64,1 Ae 166,6 ton/ha (Gintings, 1. sedangkan di hutan tanaman provinsi Jawa Timur, pada usia 15 tahun cadangan karbon S. macrophylla dihitung sebesar 67,3 ton/ha (Mustikaningrum & Rosida, 2. Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 Pada hutan campuran yang didominasi oleh S. macrophylla, dimana hal ini sangat mungkin terjadi pada kegiatan reklamasi lahan bekas tambang karena dalam kegiatan revegetasi yang tanaman tidak monokultur S. macrophylla saja tetapi juga species lainnya, cadangan karbonnya mampu mencapai sekitar 100 ton/ha (Markum. Ichsan. Saputra, & Mudhofir, 2. Walaupun di dalam penelitian ini cadangan karbon A. scholaris masih belum diperhitungkan, karena tingkat pertumbuhannya masih dalam tingkat pancang, namun potensi cadangan karbon yang dimiliki oleh A. scholaris cukup tinggi. Berdasarkan penelitian pada arboretum Universitas Sumatera Utara cadangan karbon scholaris adalah sebesar 109,5 ton/ha (Banurea, 2. Terhadap kegiatan reklamasi tambang lainnya, sebuah penelitian cadangan karbon di lahan reklamasi tambang bauksit PT. Citra Mineral Investido. Tbk. (CMI) Kecamatan Sandai. Kabupaten Ketapang. Kalimantan Barat menunjukkan hasil yang lebih rendah daripada penelitian ini. Reklamasi pada tambang CMI menggunakan jenis pioner Acacia crassicarpa dan jenis tanaman sisipan Hevea brasiliensis memiliki cadangan karbon sebesar 11,0 ton/ha pada usia reklamasi 4 . tahun tanam (Irfan. Widhanarto, & Dewantara, 2. yang kurang lebih sama dengan usia tanaman reklamasi di dalam penelitian ini. Rendahnya cadangkan karbon di CMI terhadap penelitian diduga karena kualitas tanah pucuk yang rendah di tambang bauksit daripada tambang batubara di PT Kideco Jaya Agung sehingga pada umur yang relatif sama, kerapatan tanaman yang sama, dan metode revegetasi yang sama CMI memiliki pertumbuhan tanaman revegetasi yang lebih rendah daripada penelitian ini. Kurang suburnya tanah di tambang bauksit dikonfirmasi oleh Aprillia. Mukhtar. Setiawati, and Asbanu . yang meneliti tanah tambang bauksit di Kabupaten Sanggau. Kalimantan Barat dan oleh Gunawan et al. yang meneliti tanah tambang bauksit di Kabupaten Kotawaringain. Provinsi Kalimantan Tengah dimana disimpulkan jika pH tanah termasuk kelas agak asam (Aprillia et al. , 2. sampai asam (Gunawan et , 2. dengan konsekuensi redahnya kandungan bahan organik, nilai KTK, dan kejenuhan basa. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Jauhari. Mahyudin. Lilimantik, and Hafizianor di lahan tambang batubara di Kabupaten Banjar. Provinsi Kalimantan Selatan juga menyimpulkan pH yang termasuk kelas asam dan rendahnya bahan organik, namun untuk KTK-nya berkisar medium sampai tinggi. Sehingga, sedikit banyak, tanah di tambang batubara relatif sedikit lebih baik dari tanah tambang SIMPULAN Strategi revegetasi yang dilakukan oleh PT Kideco Jaya Agung dengan mengatur jarak tanam 3 m 4 m telah berhasil mencapai salah satu kriteria keberhasilan revegetasi yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu kerapatan pohon minimal 625 pohon/ha. Selain jarak tanam, hydroseeding yang dilaksanakan pada awal kegiatan revegetasi telah mempertahankan tingkat keberhasil pertumbuhan tanaman revegetasi sehingga mampu memulihkan fungsi-fungsi ekosistem lahan bekas pertambangan seperti penyerapan gas CO2 yang diekspresikan dalam perhitungan cadangan karbon Muhamad Handoyo Hadi and Radjali Amin / Environmental Insight Journal. Vol. No. July 2025 ENVIRONMENTAL INSIGHT JOURNAL e-ISSN 3090-6105 Volume 1. Number 2. Page 79 -89. July 2025 tanaman program revegetasi dan produksi O 2 yang terjadi sejalan dengan perjalannya proses pertumbuhan tanaman revegetasi. Perhitungan cadangan karbon dari pohon pioner revegetasi. falcataria dan A. mangium, adalah masing-masing sebesar 7,8 ton/ha dan 12,0 ton/ha atau sebesar 19,8 ton/ha secara total. Angka Ae angka ini masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan hasil penelitian lainnya karena usia tanaman revetasi yan g masih muda. Walaupun demikian, angka ini relatif lebih baik jika dibandingkan dengan perhitungan cadangan karbon dari kegiatan reklamasi lahan bekan tmabang yang dilakukan di tambang bauksit karena kondisi kesuburan tanah pucuk di tambang batubara, tempat penelitian ini dilaksanakan, relatif lebih baik daripada tanah tambang Produksi O2 dari kegiatan revegetasi adalah sebesar 0,4 ton/ha dari A. dan sebesar 0,7 ton/ha dari A. mangium atau sebesar 1,1 ton/ha dari kedua species ini. DAFTAR PUSTAKA