Journal of S. Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Training E-ISSN 2620-7699 | P-ISSN 2541-7126 https://doi. org/10. 37058/sport ANALISIS PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM PJOK JENJANG SMP DI KABUPATEN MAJALENGKA Agus Gunawan1. Tatang Muhtar1. Ayi Suherman1*. Anggi Setia Lengkana1. Pascasarjana Pendidikan Jasmani. Universitas Pendidikan Indonesia Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi masalah pembelajaran berdiferensiasi Kurikulum merdeka masih belum diterapkan pada mata pelajaran PJOK dengan optimal karena guru masih belum terbiasa degan inovasi yang baru dengan pembelajaran Tujuan peneliitan ini bertujuan untuk menganalisis penerapan pembelajaran berdiferensiasi PJOK Jenjang SMP Di Kabupaten Majalengka. Fokus kajian meliputi perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, serta hambatan dan solusi dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik triangulasi sumber melalui wawancara mendalam terhadap guru PJOK, kepala satuan pendidikan, dan pendamping satuan pendidikan, observasi kelas, serta dokumentasi modul Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PJOK telah mulai menerapkan prinsip pembelajaran berdiferensiasi dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, meskipun pada memerlukan penguatan dalam strategi pengelolaan kelas, refleksi dan asesmen. Hambatan utama yang dihadapi antara lain guru masih berpikir konvensional, belum terbiasa adanya pengembangan. Solusi yang ditemukan mencakup kolaborasi dengan rekan sejawat, dihidupkan forum MGMP, pendampingan intensif, dan penyusunan strategi pembelajaran yang lebih Penelitian ini merekomendasikan perlunya penelitian lanjutan dengan cakupan yang lebih luas dan pendekatan kuantitatif untuk mengukur dampak pembelajaran berdiferensiasi terhadap hasil belajar peserta didik. Kata Kunci: Analisis, pembelajaran berdiferensiasi. PJOK. Kurikulum Merdeka. Abstract This study was motivated by the issue that differentiated learning in the independent curriculum has not been optimally implemented in physical education subjects because teachers are still unfamiliar with the new innovation of differentiated learning. The purpose of this study was to analyse the implementation of differentiated learning in physical education at the junior high school level in Majalengka Regency. The focus of the study includes planning, implementation, evaluation, as well as obstacles and solutions in the application of differentiated learning. This study uses a descriptive qualitative approach with triangulation techniques through in-depth interviews with PJOK teachers, heads of educational units, and educational unit assistants, classroom observations, and teaching module documentation. The results show that PE teachers have begun to apply the Correspondence author: Ayi Suherman. Pascasarjana Pendidikan Jasmani. Universitas Pendidikan Indonesia. Email: ayisuherman@upi. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Agus Gunawan1. Tatang Muhtar2. Ayi Suherman3*. Anggi Setia Lengkana4 Analisis Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Pjok Jenjang Smp Di Kabupaten Majalengka principles of differentiated learning in planning and implementing learning, although they need reinforcement in classroom management strategies, reflection, and assessment. The main obstacles faced include teachers still thinking conventionally and not being accustomed to development. The solutions found include collaboration with colleagues, revitalising the MGMP forum, intensive mentoring, and developing more contextual learning strategies. This study recommends the need for further research with a broader scope and a quantitative approach to measure the impact of differentiated learning on student learning outcomes. Keywords: Analysis, differentiated learning. PJOK. Merdeka Curriculum, assessment. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran dan proses panjang yang dapat mengubah perilaku manusia ke arah yang lebih baik serta menghasilkan manusia yang memiliki kebudayaan (Soleman, 2. Salah satu hal yang sangat terkait erat dengan pendidikan adalah kurikulum. Kurikulum biasanya merupakan deskripsi dari visi, misi, dan tujuan pendidikan suatu negara, sehingga memiliki posisi strategis dan menjadikan kurikulum sebagai pusat nilai yang akan ditransfomasikan kepada peserta didik (Bahri, 2. Perubahan kurikulum merupakan bentuk adaftasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, penelitian-penelitian, teknologi, dan fakta di lapangan sabagai respon atas perkembangan yang terjadi. Kurikulum pendidikan di Indonesia telah berubah sejak tahun 1945, kemudian diubah pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, kurikulum 2013. Transformasi ini adalah hasil logis dari perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan teknologi yang terjadi dalam masyarakat berbangsa dan bernegara (Wirianto, 2. Era sekarang pemerintah menerapkan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional sejak tahun 2022. Kurikulum Merdeka menggabungkan pembelajaran intrakurikuler dengan konten yang beragam, sehingga siswa memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari ide dan menguatkan kemampuan mereka (Maulida, 2. Kerangka kurikulum Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan fleksibilitas kepada guru dan peserta didik selama proses pembelajaran (Cholilah et al. , 2. Pembelajaran Pendidikan perkembangan jasmani melalui berbagai aktivitas jasmani, namun juga memperhatikan aspek jiwa dan spiritual, seperti moral, karakter, dan sikap Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Y2025 | 630-640 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. (Sari, 2. PJOK dalam kerangka sistem pendidikan nasional merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik yang direncanakan dengan sistematis dengan tujuan untuk meningkatkan individu baik psikomotorik, dan emosional siswa (Kanca, 2. Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) adalah memanfaatkan berbagai aktivitas fisik dalam kegiatan pembelajaranya untuk mencapai tujuan pendidikan (Prakosa & Yuli Hartati, 2. Tidak ada bidang lain selain pendidikan jasmani yang berhubungan dengan perkembangan total manusia (Subarjah, 2. Kurikulum Merdeka berdifrensiasi pada kegiatan pembelajaannya. Karena setiap peserta didik memiliki kondisi dan metode belajar yang berbeda, guru memberikan dukungan kepada peserta didiknya sesuai dengan kebutuhan mereka (Fauzia & Hadikusuma Ramadan, 2. Pendekatan ini memungkinkan untuk mengakomodasi kebutuhan dan profil belajar peserta didik yang berbeda untuk meningkatkan potensi mereka (Purnawanto. Pd. , 2. Pembelajaran diantaranya: dapat meningkatkan kemampuan peserta didik sesuai dengan tahapan perkembangannya, memotivasi peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran karena tujuan pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan mereka sehingga dapat menumbuhkan rasa percaya diri mereka. Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru bertindak sebagai fasilitator sangat membantu peserta didik dalam menyelesaikan tugas dan meningkatkan kemandirian (Muhassanah et al. , 2. Pembebelajaran mendorong kreativitas guru dan peserta didik. Untuk belajar-mengajar kompetensi guru sangat penting. Kompetensi guru juga memengaruhi perilaku, nilai, komunikasi, tujuan, dan praktik sekolah, serta mendukung pengembangan profesional dan studi kurikuler (Patras et al. , 2. Dalam menjalankan profesinya, seorang guru perlu memiliki kompetensi Agus Gunawan1. Tatang Muhtar2. Ayi Suherman3*. Anggi Setia Lengkana4 Analisis Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Pjok Jenjang Smp Di Kabupaten Majalengka pedagogik, yang membedakan mereka dari profesi lainnya. Jadi, seorang guru harus benar-benar menguasai kompetensi pedagogik (Akbar, 2. Dalam pembelajaran berdiferensiasi guru bertindak sebagai fasilitator sangat membantu peserta didik dalam menyelesaikan tugas dan meningkatkan kemandirian (Muhassanah et al. , 2. METODE Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data kualitatif yang bersumber dari perspektif partisipan atau informan . Penelitian kualitatif merupakan aktifitas menggali makna yang diteliti berdasarkan perspektif partisipan (M. Sobry & Prosmala Hadisaputra. Informan pada penelitian ini adalah guru PJOK, kepala satuan dan pendamping satuan Pendidikan. Informan kunci yang diutamakan berasal dari ahli yang menguasai topik penelitian, serta individu yang beraktivitas sehari-hari di lokasi penelitian (Suriani et al. , 2. Teknik menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono . , purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel yang menentukan ciri atau kriteria tertentu sesuai dengan tujuan penelitian, sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian (UMMA, 2. Purposive sampling adalah metode pengambilan sampel non-random di mana peneliti memilih individu berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian, dengan harapan dapat menjawab pertanyaan penelitian (Lenaini, 2. Penelitian kualitatif biasanya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan dari berbagai sumber melalui teknik pengumpulan data yang bermacam-macam . Pada dasarnya, data, setelah diolah dan dianalisis, berguna sebagai dasar yang objektif memecahkan masalah bagi pengambil keputusan (Rizky Fadilla & Ayu Wulandari, 2. HASIL Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Y2025 | 630-640 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Berdasarkan hasil wawancara mendalam yang dilakukan selama bulan Mei 2025 terhadap sembilan informan inti yang terdiri atas tiga guru PJOK SMP, tiga kepala satuan pendidikan, dan tiga pendamping satuan pendidikan di Kabupaten Majalengka, diperoleh temuan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran PJOK telah berjalan pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, meskipun masih menghadapi sejumlah tantangan. Dalam aspek perencanaan, guru mempertimbangkan hasil asesmen awal untuk memetakan kemampuan peserta didik. Pada tahap pelaksanaan, pendekatan diferensiasi mulai diterapkan melalui pengelompokan peserta didik berdasarkan tingkat penguasaan keterampilan, serta penggunaan metode yang variatif dan kontekstual. Sementara itu, dalam evaluasi, dilakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, baik secara individual maupun dalam forum komunitas belajar, sebagai bentuk umpan balik untuk perbaikan. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya tantangan dan hambatan, antara lain keterbatasan waktu dan sarana, kesenjangan kompetensi guru dalam merancang diferensiasi secara menyeluruh, serta pemahaman yang belum seragam mengenai konsep pembelajaran berdiferensiasi itu sendiri. Gambar 1. Indikator Tematik Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi dalam PJOK Jenjang SMP di Kabupaten Majalengka Terdapat sejumlah aspek utama yang saling berhubungan dan membentuk kerangka implementasi pembelajaran berdiferensiasi, antara lain: pemahaman konsep dasar diferensiasi, proses identifikasi kebutuhan belajar peserta didik, serta perancangan perencanaan pembelajaran yang Agus Gunawan1. Tatang Muhtar2. Ayi Suherman3*. Anggi Setia Lengkana4 Analisis Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Pjok Jenjang Smp Di Kabupaten Majalengka Selain itu, juga dicakup strategi diferensiasi dalam praktik, pengelolaan kelas, keterlibatan peserta didik, serta asesmen dan tindak lanjut dari hasil belajar. Gambar 2. Pemahaman dan Dukungan Kebijakan Kepala Satuan Pendidikan terhadap Pembelajaran Berdiferensiasi Gambar di atas menyajikan peta tematik yang menggambarkan hubungan antara pemahaman kepala satuan pendidikan terhadap pembelajaran berdiferensiasi dan bentuk dukungan kebijakan sekolah yang diberikan dalam konteks pelaksanaannya. Visualisasi ini merupakan hasil pengkodean tematik dari wawancara dengan kepala sekolah sebagai informan ahli, dalam rangkaian penelitian tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam PJOK di jenjang SMP Kabupaten Majalengka. Gambar 3. Supervisi Pembelajaran oleh Pendamping Satuan Pendidikan terhadap Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi dalam PJOK Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Y2025 | 630-640 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Gambar di atas menggambarkan struktur tematik yang berfokus pada aspek supervisi pembelajaran yang dilakukan oleh pendamping satuan pendidikan, khususnya dalam mendukung penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran PJOK jenjang SMP di Kabupaten Majalengka. Visualisasi ini disusun berdasarkan hasil wawancara dengan informan ahli dari unsur pendamping pendidikan, yang memiliki peran strategis dalam melakukan pembinaan, pemantauan, dan evaluasi praktik pembelajaran di sekolah-sekolah binaan. PEMBAHASAN Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru PJOK di SMP Kabupaten Majalengka telah mulai merancang perencanaan pembelajaran berdiferensiasi secara sistematis melalui modul ajar yang disusun. Komponen penting seperti tujuan pembelajaran, asesmen awal, serta pemetaan profil belajar dan minat siswa telah diakomodasi dalam dokumen Temuan ini sejalan dengan teori Tomlinson . yang menyebutkan bahwa perencanaan pembelajaran berdiferensiasi dimulai dengan memahami kesiapan, minat, dan gaya belajar peserta didik. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, seperti studi oleh Lestari . mengenai penerapan diferensiasi dalam pembelajaran tematik, ditemukan kesamaan bahwa guru cenderung fokus pada perbedaan kemampuan, namun belum sepenuhnya menyentuh aspek minat dan gaya Implikasinya, berdiferensiasi dalam PJOK masih membutuhkan penguatan, terutama pada komponen refleksi guru dan penyesuaian strategi pembelajaran berbasis asesmen awal secara lebih rinci. Penerapan meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses belajar. Para guru melaporkan bahwa peserta didik menjadi lebih aktif, antusias, dan menunjukkan peningkatan motivasi belajar. Meskipun pada awalnya peserta didik mengalami hambatan dalam menyesuaikan diri, secara bertahap mereka mampu beradaptasi dan menunjukkan partisipasi yang lebih baik seiring dengan konsistensi penerapan pendekatan diferensiasi. Agus Gunawan1. Tatang Muhtar2. Ayi Suherman3*. Anggi Setia Lengkana4 Analisis Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Pjok Jenjang Smp Di Kabupaten Majalengka Namun, berdasarkan observasi, beberapa aspek belum optimal, seperti keterlibatan siswa dalam refleksi, asesmen formatif, serta variasi diferensiasi produk. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya penguatan kompetensi pedagogik guru, terutama dalam mengelola kelas heterogen benar-benar memberdayakan seluruh potensi peserta didik. Dalam aspek asesmen, guru melakukan penilaian dengan berbagai metode seperti observasi langsung, asesmen berbasis proyek, dan penggunaan rubrik yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Hasil penilaian digunakan sebagai dasar untuk memberikan umpan balik, menetapkan program remedial bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan, serta program pengayaan bagi mereka yang telah melampaui standar kompetensi. Program pengayaan dilaksanakan melalui pemberian Namun berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran belum sepenuhnya difokuskan pada asesmen Guru cenderung masih menggunakan pendekatan evaluasi konvensional yang seragam. Hal ini tidak sejalan dengan teori Black & Wiliam . yang menekankan bahwa asesmen dalam pembelajaran berdiferensiasi harus bersifat formatif dan responsif terhadap kebutuhan individu peserta didik. KESIMPULAN Perencanaan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran PJOK di SMP Kabupaten Majalengka telah dilakukan dengan mengacu pada prinsip diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka. Guru telah menyusun modul ajar yang memuat tujuan pembelajaran, asesmen awal, profil pelajar Pancasila, serta strategi yang mengakomodasi kebutuhan, minat, dan kesiapan belajar siswa. Namun demikian, beberapa aspek seperti pertanyaan pemantik, asesmen dan refleksi guru dan pemanfaatan teknologi dalam perencanaan masih memerlukan adanya perbaikan. Pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi telah diterapkan melalui strategi pengelompokan siswa, penggunaan metode yang bervariasi, dan Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Y2025 | 630-640 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. pemberian tugas yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Guru PJOK menunjukkan pemahaman terhadap prinsip-prinsip diferensiasi dalam proses belajar mengajar. Akan tetapi, perlu penguatan dalam strategi pembelajaran, pengelolaan kelas, umpan balik atau koreksi, dan refleksi. Evaluasi pembelajaran PJOK dengan pendekatan diferensiasi masih belum sepenuhnya diterapkan secara maksimal. Guru cenderung masih menggunakan pendekatan evaluasi konvensional yang seragam. Dibutuhkan pelatihan lanjutan mengenai desain evaluasi berdiferensiasi yang lebih responsif terhadap kebutuhan individu siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif. Ketika menyusun asesmen guru PJOK belum terbiasa menyusun rubrik, dengan diferensiasi dapat meningkatkan hasil REFERENSI