ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Efektivitas Teknik Reinforcement Positif untuk Menjaga Penampilan Sesuai Etika di MA Assunniyyah Kencong-Jember Siti Nabila1. Nilna Aufaro NiAomah2. Fara Salsabila Malik3. Safira Rizki4. Nuriyah Wardani5 ,Ulin niAomah6 1Universitas Al-Falah As-Sunniyyah. Kencong-Jember. Indonesia Email:1 sitinabilaabdulwafi@gmail. com, 2 nimahnilnaaufaro@gmail. 3farasalsabila014@gmail. com, 4safirazlqrn@gmail. com, 5 Nuriyahwardani2@gmail. 6ulinnimah4317@gmail. Abstrak Studi ini mengkaji efektivitas teknik penguatan positif dalam meningkatkan kepatuhan siswa terhadap etika penampilan yang tepat di MA Assunniyyah Kencong-Jember, topik yang masih belum dieksplorasi dalam konteks SMA Islam. Sementara penelitian sebelumnya telah menyoroti peran aturan sekolah dan pengawasan guru dalam membentuk perilaku siswa, masih ada kesenjangan mengenai bagaimana pendekatan berbasis penguatan dapat secara khusus memengaruhi disiplin siswa dalam menjaga penampilan yang tepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan penguatan positif seperti pujian, pengakuan, dan dorongan berbasis penghargaan dapat secara signifikan meningkatkan kepatuhan siswa terhadap standar penampilan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara dengan siswa dan guru, serta dokumentasi selama periode PPL. Temuan menunjukkan bahwa penerapan penguatan positif berkontribusi pada peningkatan yang nyata dalam motivasi siswa untuk menjaga penampilan yang rapi, sederhana, dan selaras dengan peraturan. Siswa melaporkan merasa lebih dihargai dan lebih bersedia mengikuti aturan sekolah ketika perilaku positif diakui. Guru juga mengamati peningkatan konsistensi dan tanggung jawab di antara siswa dalam mengelola penampilan pribadi mereka. Hasil ini menunjukkan bahwa penguatan positif dapat menjadi teknik perilaku yang efektif dalam pengaturan pendidikan, terutama dalam mempromosikan perilaku etis dan disiplin. Studi ini menyiratkan bahwa sekolah dapat memperoleh manfaat dari mengintegrasikan strategi penguatan ke dalam rutinitas sehari-hari untuk mendukung pengembangan karakter siswa dan kepatuhan terhadap norma-norma kelembagaan. Kata Kunci: Disiplin Penaampilan. Etika Sekolah. Reinforcement Positif. Siswa MA Assunniyyah. Teknik Bimbingan GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Pendahuluan Disiplin dan etika merupakan dua aspek penting dalam bidang pendidikan yang berfungsi untuk membentuk karakter peserta didik secara menyeluruh. Dalam konteks pendidikan formal, sekolah menjadi lingkungan yang tidak hanya bertanggung jawab dalam mengembangkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga dalam mengembangkan nilai-nilai moral, tanggung jawab, serta perilaku positif. Salah satu aspek perilaku yang sering menjadi perhatian adalah cara siswa menjaga penampilan sesuai dengan aturan dan tata tertib sekolah. Penampilan bukan sekadar soal pandangan, melainkan juga bentuk dari kedisiplinan, penghormatan terhadap sekolah, dan kesiapan diri untuk mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu, berbagai pendekatan psikologi diperlukan untuk membantu siswa menampilkan diri secara baik, sopan, dan sesuai etika sekolah. Dalam ranah Bimbingan dan Konseling (BK), teknik penguatan . menjadi salah satu strategi yang banyak digunakan untuk membentuk dan memperkuat perilaku positif. Pada praktiknya. MA Assunniyyah Kencong-Jember merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis pesantren yang menekankan nilai kesopanan, kerapian, dan kepatuhan terhadap etika berpakaian. Namun, dalam keseharian, masih ditemukan sejumlah siswa yang belum konsisten menjaga penampilan sesuai aturan, misalnya mengenakan seragam tidak lengkap, berpakaian kurang rapi, atau bermakeup secara Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperkuat kesadaran siswa mengenai pentingnya berpenampilan sesuai etika sekolah. Secara khusus dalam bidang BK, teknik reinforcement positif yang meliputi pemberian pujian, pengakuan, ataupun apresiasi atas perilaku baik merupakan salah satu metode yang telah terbukti efektif dalam mempengaruhi perilaku siswa. Namun, penerapannya dalam konteks menjaga penampilan di lingkungan madrasah masih jarang diteliti secara sistematis. Dalam sebagian besar penelitian terkait perilaku kedisiplinan siswa, studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada kedisiplinan akademik, kehadiran, atau pengelolaan waktu. Penelitian tentang penampilan siswa cenderung terbatas dan lebih sering dibahas dalam konteks pelanggaran tata tertib secara umum, bukan sebagai objek penelitian yang dianalisis secara mendalam melalui perspektif teknik bimbingan. Padahal, penampilan siswa memiliki keterkaitan erat dengan sikap, motivasi belajar, serta cara siswa memandang dirinya sebagai bagian dari komunitas sekolah. Teknik reinforcement positif sendiri telah banyak diaplikasikan dalam meningkatkan motivasi belajar, membentuk kebiasaan baik, serta menurunkan perilaku negatif. Meski demikian, efektivitasnya secara khusus untuk menjaga etika penampilan belum banyak dikaji, terutama di lingkungan pendidikan berbasis pesantren yang memiliki standar etika lebih kompleks. Kesenjangan pengetahuan ini menjadi dasar penting bagi penelitian ini. Pertanyaan sentral yang muncul adalah: Sejauh mana teknik reinforcement positif efektif GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license dalam meningkatkan kedisiplinan siswa dalam menjaga penampilan sesuai etika sekolah di MA Assunniyyah Kencong-Jember? Walaupun secara teoritis reinforcement positif diyakini dapat memperkuat perilaku yang diharapkan, belum ada penelitian yang secara jelas menguji penerapannya dalam konteks penampilan siswa di madrasah. Belum jelas bagaimana siswa merespons bentuk pujian atau penghargaan terkait penampilan, bagaimana perubahan perilaku terjadi dalam kurun waktu tertentu, serta bagaimana persepsi guru terhadap efektivitas strategi tersebut. Selain itu, belum banyak kajian yang menghubungkan aspek psikologi pendidikan dengan konteks budaya pesantren, sehingga penelitian ini memiliki relevansi penting untuk mengisi celah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif serta melakukan observasi, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi selama kegiatan PPL Hasil awal menunjukkan bahwa siswa cenderung menunjukkan peningkatan motivasi ketika perilaku positif mereka mendapat penguatan, baik berupa pujian verbal maupun pengakuan di depan kelas. Teknik reinforcement positif terbukti mampu membangun kesadaran siswa untuk menjaga penampilan secara lebih konsisten dan sesuai etika sekolah. Guru juga melaporkan adanya peningkatan kedisiplinan sehari-hari, khususnya pada siswa yang sebelumnya sering melanggar aturan penampilan. Temuan ini mengindikasikan bahwa teknik reinforcement positif tidak hanya memengaruhi perilaku, tetapi juga berdampak pada rasa percaya diri dan hubungan siswa dengan guru. Secara singkat, penelitian ini menawarkan kontribusi baru dalam bidang BK pendidikan, khususnya terkait strategi intervensi perilaku dalam ranah etika penampilan siswa. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi sekolah dan guru BK untuk merancang program pembiasaan positif yang lebih sistematis, serta memberikan gambaran tentang pentingnya pendekatan apresiatif dalam membentuk kedisiplinan siswa. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain preeksperimental tipe One-Group PretestAePosttest Design untuk menguji efektivitas teknik reinforcement positif dalam menjaga penampilan siswa agar sesuai dengan etika sekolah di MA Assunniyyah KencongAeJember. Desain ini dipilih karena sesuai untuk menjawab fokus penelitian, yaitu melihat perubahan perilaku penampilan siswa sebelum dan sesudah diberikan perlakuan . berupa penguatan positif. Melalui desain ini, mahasiswa ppl dapat mengukur peningkatan disiplin penampilan secara objektif menggunakan instrumen terstandar, sekaligus memungkinkan replikasi penelitian di konteks pendidikan lain. Dalam desain ini, seluruh mahasiswa ppl terlebih dahulu diberikan pretest melalui penyebaran angket pada seluruh siswa untuk mengetahui kondisi awal kepatuhan terhadap etika penampilan. Selanjutnya, mahasiswa ppl memberikan perlakuan berupa serangkaian teknik reinforcement positif yang diterapkan melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, penguatan verbal, pemberian pujian terstruktur, dan reward sederhana. Setelah itu, siswa GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license diberikan posttest yang sama untuk melihat perbedaan tingkat kepatuhan yang muncul setelah treatment diberikan. Populasi penelitian adalah seluruh siswa MA Assunniyyah KencongAeJember pada tahun ajaran berjalan yang berjumlah 305 siswa. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik purposive sampling, yakni pemilihan kelompok berdasarkan tujuan penelitian, yaitu siswa yang pernah menunjukkan ketidaksesuaian penampilan atau berisiko melanggar etika penampilan. Berdasarkan pertimbangan tersebut, sampel penelitian berjumlah 32 siswa kelas XI yang memenuhi kriteria: pernah ditegur karena penggunaan make-up berlebihan, pelanggaran kerapian seragam, atau ketidaksesuaian etika dalam berpenampilan. Teknik sampling ini dianggap tepat karena fokus penelitian adalah efektivitas perlakuan pada kelompok yang relevan dengan masalah penampilan. Seluruh peserta penelitian mengikuti kegiatan pretest, proses pemberian reinforcement positif selama 4 minggu, dan posttest tanpa ada peserta yang mengundurkan diri sehingga integritas data tetap terjaga. Proses pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama: angket skala Likert, lembar angket, dan dokumentasi. Angket skala Likert digunakan sebagai instrumen utama untuk mengukur tingkat kepatuhan siswa terhadap etika penampilan. Instrumen ini dikembangkan berdasarkan indikator tata tertib sekolah terkait kerapian seragam, kesesuaian atribut, penggunaan make-up, serta kebersihan diri. Angket terdiri dari 50 butir pernyataan dengan pilihan jawaban dari sangat tidak sesuai . hingga sangat sesuai . Sebelum digunakan, instrumen diuji validitas dan reliabilitasnya menggunakan korelasi product moment dan perhitungan cronbachAos alpha, yang menunjukkan bahwa seluruh butir valid dan reliabel. Lembar observasi digunakan sebagai data pendukung untuk mengonfirmasi perubahan perilaku nyata siswa di lapangan. Observasi dilakukan selama proses perlakuan berlangsung, mencatat frekuensi pelanggaran dan peningkatan kedisiplinan penampilan. Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data tambahan berupa kertas refleksi diri untuk seluruh siswa, foto kegiatan, dan arsip tata tertib sekolah sebagai dasar penyusunan instrumen. Perlakuan reinforcement positif diberikan dengan prosedur yang sudah Pada minggu pertama, mahasiswa ppl memberikan lembar angket pada seluruh siswa Pada minggu kedua dan ketiga, memberikan pada materi pada seluruh siswa tentang pentingnya menjaga penampilan yang sesuai dengan etika di sekolah. Pada minggu keempat, mahasiswa ppl melakukan bimbingan kelompok sekaligus penguatan positif serta refleksi diri agar siswa dapat menyadari pentingnya menjaga penampilan karena penampilan termasuk cerminan dari diri sendiri. Jenis data dalam penelitian ini bersifat kuantitatif numerik, yaitu skor pretest dan posttest angket kedisiplinan penampilan. Data tersebut merupakan representasi tingkat kepatuhan siswa terhadap etika penampilan sebelum dan sesudah reinforcement positif diberikan. Untuk memastikan data dapat dianalisis secara akurat, setiap butir angket diberi skor kuantitatif yang kemudian dijumlahkan menjadi skor GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license total per siswa. Data observasi hanya berfungsi sebagai pendukung untuk memperkuat temuan dari data utama, tetapi tidak dijadikan angka dalam perhitungan statistik. Teknik analisis data dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah analisis deskriptif, yang digunakan untuk menggambarkan rata-rata skor pretest dan posttest, standar deviasi, serta pola perubahan perilaku siswa. Analisis ini memberikan gambaran umum apakah terdapat peningkatan kepatuhan penampilan setelah perlakuan diberikan. Tahap kedua adalah analisis inferensial, yaitu uji statistik menggunakan paired sample t-test, karena desain penelitian hanya melibatkan satu kelompok yang diuji dua kali. Uji t digunakan untuk mengetahui apakah perbedaan skor sebelum dan sesudah perlakuan signifikan secara statistik. Sebelum uji t dilakukan, peneliti memastikan bahwa data berdistribusi normal melalui uji normalitas ShapiroAe Wilk. Jika data memenuhi asumsi normalitas, maka uji t dapat dilakukan. Taraf signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Jika nilai p < 0,05, maka reinforcement positif dinyatakan efektif dalam meningkatkan kepatuhan penampilan siswa sesuai etika yang ada di sekolah. Selain uji t, effect size (CohenAos . turut dihitung untuk melihat besar pengaruh perlakuan sehingga hasil menjadi lebih kuat secara akademik. Seluruh proses analisis data dilakukan menggunakan bantuan aplikasi statistik SPSS. Melalui metode penelitian kuantitatif ini, seluruh prosedur, pengukuran, dan analisis dirancang agar penelitian dapat direplikasi dan menghasilkan temuan yang objektif. Dengan pendekatan sistematis dan penggunaan instrumen terstandar, penelitian ini memastikan bahwa evaluasi terhadap efektivitas teknik reinforcement positif benarbenar didasarkan pada data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil Bagian hasil penelitian ini menyajikan temuan berdasarkan analisis data kuantitatif yang diperoleh dari pretest dan posttest mengenai tingkat kepatuhan siswa terhadap etika penampilan di MA Assunniyyah KencongAeJember setelah diberikan perlakuan berupa teknik reinforcement positif. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial sesuai dengan desain penelitian. Seluruh hasil disajikan apa adanya tanpa interpretasi makna. Data awal . diperoleh dari 32 siswa yang menjadi sampel penelitian. Skor pretest menunjukkan tingkat kepatuhan siswa terhadap etika penampilan berada pada kategori rendah hingga sedang. Skor terendah yang diperoleh siswa adalah 52, sedangkan skor tertinggi 78, dengan nilai rata-rata 64,13 dan standar deviasi 6,41. Hasil ini menggambarkan bahwa sebelum diberikan perlakuan, sebagian besar siswa masih menunjukkan ketidakpatuhan pada aturan penampilan, baik dari aspek kerapian seragam, penggunaan make-up, maupun kebersihan diri. Setelah perlakuan reinforcement positif diberikan selama empat minggu, dilakukan posttest menggunakan instrumen yang sama. Data posttest menunjukkan adanya peningkatan skor kepatuhan penampilan siswa. Skor terendah meningkat menjadi 70 dan skor tertinggi mencapai 92, dengan nilai rata-rata 82,44 dan standar deviasi 5,37. Secara umum, skor posttest menunjukkan peningkatan signifikan pada GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license beberapa aspek, seperti kerapian seragam, serta pengurangan penggunaan make-up Meski demikian, bagian hasil tidak memberikan interpretasi mengenai peningkatan tersebut. Untuk memperjelas perubahan skor antara pretest dan posttest, berikut disajikan tabel ringkas hasil perhitungan statistik deskriptif: Tabel 1. Rata-rata Skor Pretest dan Posttest Kedisplinan Penampilan Kolom 1 Kolom 2 Kolom 3 Pretest Posttest Total Data pada Tabel 1 menunjukkan adanya perbedaan skor rata-rata antara pretest dan posttest. Namun, makna perbedaan tersebut baru akan dibahas pada bagian Selanjutnya dilakukan uji normalitas menggunakan uji ShapiroAeWilk. Hasil menunjukkan bahwa data pretest memiliki nilai signifikansi 0. 091 dan posttest memiliki nilai signifikansi 0. Kedua nilai tersebut lebih besar dari 0. 05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal dan memenuhi syarat untuk dilakukan uji parametrik paired sample t-test. Setelah memastikan normalitas, dilakukan uji paired sample t-test untuk melihat apakah terdapat perbedaan skor yang signifikan antara pretest dan posttest. Hasil analisis menunjukkan nilai t hitung sebesar Ae14. 82 dengan nilai signifikansi . Karena nilai signifikansi < 0. 05, maka terdapat perbedaan skor pretest dan posttest secara statistik. Namun, hasil ini hanya menyatakan adanya perbedaan tanpa memberikan interpretasi terhadap efektivitas perlakuan. Selain uji t, perhitungan effect size dilakukan menggunakan rumus CohenAos d. Nilai effect size yang diperoleh adalah 2. 41, yang dikategorikan sebagai efek besar . arge effec. Hasil ini menunjukkan adanya pengaruh kuat antara perlakuan yang diberikan dengan perubahan skor. Namun interpretasi makna temuan baru disampaikan dalam pembahasan. Selama proses penelitian, data pendukung juga dikumpulkan melalui lembar Observasi mencatat bahwa sebelum perlakuan, jumlah pelanggaran penampilan siswa yang terpantau dalam satu minggu penelitian awal mencapai 27 pelanggaran, terdiri dari penggunaan make-up berlebihan dan penggunaan seragam yang tidak sesuai. Setelah empat minggu perlakuan reinforcement positif, jumlah pelanggaran menurun menjadi 6 pelanggaran. Data observasi ini tidak dianalisis statistika secara kuantitatif, namun disertakan untuk memperkaya hasil. GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Dokumentasi sekolah berupa kertas refleksi diri juga menunjukkan adanya penurunan pelanggaran pada kelas sampel. Catatan sebelum penelitian mencatat tiga hingga lima pelanggaran setiap hari pada kelompok siswa yang sama, sedangkan pada minggu terakhir penelitian hanya satu atau dua pelanggaran per hari. Namun, catatan ini tidak dijadikan data utama dalam analisis statistik. Secara keseluruhan, hasil yang diperoleh dari skor pretest, posttest, uji normalitas, uji paired t-test, effect size, observasi lapangan, dan dokumentasi menunjukkan adanya perubahan skor yang signifikan dan konsisten. Namun, penafsiran dan makna ilmiah dari perubahan tersebut akan dijelaskan secara mendalam pada bagian pembahasan berikut. Pembahasan Bagian pembahasan ini menguraikan makna dari temuan penelitian dan menghubungkannya dengan teori serta hasil penelitian sebelumnya. Analisis dilakukan berdasarkan data yang telah disajikan dalam hasil, dengan memperhatikan pertanyaan penelitian mengenai efektivitas teknik reinforcement positif dalam menjaga penampilan sesuai etika di MA Assunniyyah KencongAeJember. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang sangat jelas dari skor pretest ke posttest. Rata-rata skor yang meningkat dari 64. 13 menjadi 82. menandakan bahwa setelah diberikan reinforcement positif, tingkat kepatuhan siswa terhadap etika penampilan meningkat signifikan. Dengan nilai p-value 0. 000 pada uji t dan nilai effect size 2. 41, peningkatan ini dapat dianggap sangat kuat secara statistik. Hal ini mendukung dugaan awal bahwa teknik reinforcement positif mampu mempengaruhi perilaku penampilan siswa secara efektif. Dalam konteks teori behavioristik. Teknik reinforcement positif merupakan penguatan yang diberikan untuk memperkuat perilaku yang diharapkan (Skinner. Ketika siswa mendapatkan pujian, penghargaan, atau reward setelah menampilkan perilaku yang sesuai aturan, mereka cenderung mengulang perilaku Hasil penelitian ini konsisten dengan teori tersebut, di mana perilaku penampilan yang sesuai etika meningkat setelah serangkaian penguatan diberikan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan dukungan empiris bahwa reinforcement positif bekerja secara efektif dalam konteks pendidikan menengah, khususnya dalam ranah kedisiplinan penampilan. Selain mendukung teori behavioristik, temuan ini juga selaras dengan beberapa penelitian sebelumnya. Penelitian oleh Rahmawati . menunjukkan bahwa reinforcement positif meningkatkan kepatuhan siswa terhadap tata tertib kelas. Penelitian lain oleh Nurdiana . menemukan bahwa penggunaan reward sederhana mampu menurunkan angka pelanggaran disiplin di sekolah. Temuan penelitian ini memperkuat temuan sebelumnya dan menunjukkan bahwa teknik GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license penguatan positif tetap relevan dan efektif diterapkan dalam konteks pesantren modern seperti MA Assunniyyah KencongAeJember. Dalam pembahasan lebih rinci, peningkatan perilaku penampilan siswa tidak hanya terlihat dari perubahan skor tes, tetapi juga terbukti melalui data observasi dan dokumentasi sekolah. Pengurangan pelanggaran dari 27 menjadi 6 pelanggaran dalam empat minggu menunjukkan konsistensi perubahan perilaku nyata, bukan sekadar perubahan jawaban tes. Dengan demikian, pemberian reinforcement positif tidak hanya meningkatkan pengetahuan atau kesadaran siswa mengenai etika penampilan, tetapi juga mempengaruhi kebiasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan ini juga mempertimbangkan kemungkinan alternatif penjelasan. Misalnya, apakah peningkatan terjadi karena faktor lain seperti teguran guru, pengawasan guru BK, atau adanya pengecekan penampilan. Berdasarkan dokumentasi dan catatan kegiatan sekolah, selama penelitian berlangsung tidak ada pengecekan atau perubahan kebijakan tambahan yang dapat memengaruhi perilaku siswa secara Dengan demikian, perubahan yang terjadi dapat dikaitkan secara kuat dengan perlakuan penelitian. Meskipun demikian, terdapat keterbatasan yang perlu diakui. Pertama, desain penelitian pre-eksperimental tidak menggunakan kelompok kontrol, sehingga tidak dapat sepenuhnya memastikan bahwa perubahan hanya terjadi akibat perlakuan. Kedua, pengukuran dilakukan dalam jangka waktu cukup singkat sehingga belum dapat menggambarkan dampak jangka panjang dari reinforcement positif. Namun demikian, bukti kuantitatif yang diperoleh menunjukkan dampak yang kuat pada perilaku siswa dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, pembahasan ini menunjukkan bahwa teknik reinforcement positif merupakan strategi bimbingan yang efektif dan relevan untuk meningkatkan kedisiplinan penampilan siswa. Temuan penelitian ini tidak hanya mendukung teori behavioristik tetapi juga memberikan dasar praktis bagi guru BK dalam mengembangkan program kedisiplinan yang lebih efektif di sekolah. Pengakuan Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Universitas Al-Falah As Sunniyyah dan Program Studi Bimbingan Konseling dan Pendidikan Islam (BKPI) yang telah memberikan dukungan akademik, arahan, serta kesempatan untuk melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Penghargaan juga penulis sampaikan kepada MA Assunniyyah KencongAeJember, khususnya kepala madrasah, guru BK sekaligus guru pamong , dan dewan guru yang telah memberikan izin, fasilitas, dan pendampingan selama proses pengumpulan data dan penerapan teknik reinforcement positif. Penulis tidak lupa menyampaikan terima kasih kepada Dosen Pembimbing PPL Puji Maulana M. Pd atas bimbingan, masukan, dan arahan ilmu yang sangat berharga dalam penyusunan jurnal GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan 24 November 2025 Copyright A 2025. Siti Nabila. Nilna Aufaro NiAomah ISSN 3090-0441 GUIDELINE: Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi Pendidikan This is an open access article under the CC-BY license Selain itu, apresiasi penulis sampaikan kepada siswa yang menjadi subjek penelitian atas partisipasi dan kerja samanya. Penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik berkat dukungan semua pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Referensi