Jurnal Peduli Masyarakat Volume 7 Nomor 3. Mei 2025 e-ISSN 2721-9747. p-ISSN 2715-6524 http://jurnal. com/index. php/JPM OPTIMASILSASI CONTINUITY OF CARE DALAM PROGRAM KELUARGA BERENCANA PASCA PERSALINAN Asliati Muzayanah*. Mei Lia Nindya Zulis Windyarti Department of Midwifery. Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan. Universitas Karya Husada Semarang. Jl. Soekanto No. Sambiroto. Kec. Tembalang. Kota Semarang. Jawa Tengah 50276. Indonesia *liakinan944@gmail. ABSTRAK Program Keluarga Berencana Pasca Persalinan membantu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan meningkatkan peserta Keluarga Berencana (KB) baru dengan merancang program kehamilan yang aman dan sehat sejak dini. KB Pasca Persalinan adalah pelayanan KB yang diberikan kepada pasien pasca persalinan hingga 42 hari setelah persalinan. Keluarga Berencana Pasca Persalinan (KBPP) adalah intervensi hemat biaya yang dapat mencegah 30% kematian ibu dan 10% kematian anak dengan meningkatkan jarak kelahiran. KBPP telah terbukti mengurangi risiko keguguran, anemia, dan kematian Berdasarkan data Puskesmas Bawang Kabupaten Batang tahun 2024 terdapat 405 ibu bersalin normal, 7 kasus kala II lama, 51 kasus KPD, 18 kasus kala I lama, 34 kasus pre-eklapmsia. Sementara itu ibu yang mendapatkan konseling KBPP sebanyak 357 orang dan yang telah menjadi akseptor KBPP sebanyak 320 Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut dilakukan upaya continuity of care guna meningkatkan kesehatan ibu serta mengoptimalkan cakupan layanan KBPP. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Puskesmas Bawang Kabupaten Batang selama 6 bulan. Kegiatan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu: Penyuluhan. Pendampingan dan Monitoring. Komunikasi efektif terjalin antara Bidan dan ibu hamil untuk meningkatkan hubungan serta kepercayaan diantara keduanya dan tentunya dengan waktu yang berkelanjutan. Kata kunci: continuity of care. keluarga berencana. KBPP, optimalisasi. pasca persalinan. OPTIMIZING CONTINUITY OF CARE IN THE POSTPARTUM FAMILY PLANNING PROGRAM ABSTRACT The Postpartum Family Planning Program creates safe and healthy pregnancy programs at an early stage, which lowers the maternal mortality rate (MMR) and increases the number of new family planning Up to 42 days following delivery, postpartum patients can get postpartum family planning By improving birth spacing, postpartum family planning is an affordable strategy that can reduce 10% of child fatalities and 30% of mother mortality. It has been demonstrated that KBPP lowers the risk of anaemia, mortality, and miscarriage. According to data from 2024, there were 34 cases of pre-eclampsia, 51 cases of KPD, 18 cases of prolonged kala I, 7 cases of prolonged kala II, and 405 normal births in Puskesmas Bawang. Batang Regency. In the meantime, 320 moms had accepted the KBPP, and 357 mothers had received counselling. Efforts are made to maximise the coverage of KBPP services and enhance maternal health through continuity of care to foresee these issues. Community service projects were conducted at the Puskesmas Bawanng Batang Regency for six months. Three phases of activities are conducted: monitoring, assistance, and counselling. Pregnant women and midwives build relationships and trust via effective communication, naturally leading to a sustainable period. Keywords: continuity of care. family planning. KBPP. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group PENDAHULUAN Program Keluarga Berencana Pasca Persalinan membantu menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan meningkatkan peserta Keluarga Berencana (KB) baru dengan merancang program kehamilan yang aman dan sehat sejak dini (Amallkariana & Sutarno, 2025. Khikmi et al. , 2. KB Pasca Persalinan adalah pelayanan KB yang diberikan kepada pasien pasca persalinan hingga 42 hari setelah persalinan (He & Wu, 2. Menerapkan KBPP sangat penting karena dapat membantu ibu nifas untuk mendapatkan kembali kesuburannya sebelum siklus menstruasi, bahkan pada ibu menyusui (Khikmi et al. , 2. Strategi kontrasepsi pascapersalinan yang ideal seharusnya tidak mengganggu produksi ASI. Program Keluarga Berencana bertujuan untuk mengatur dan menjarangkan kelahiran. Program keluarga berencana menyasar para PUS, yaitu Wanita Usia Subur (WUS) yang berusia 15-49 tahun (Amallkariana & Sutarno, 2. Continuity of care adalah jenis layanan terencana dan berkelanjutan yang diberikan oleh bidan atau dokter kandungan selama kehamilan, persalinan, dan hingga 6 minggu setelahnya (Hastuti et , 2024. Satimah et al. , 2. Continuity of care merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu yang disebabkan oleh tiga keterlambatan. Keterlambatan ini menyebabkan diagnosis terlambat, yang menyebabkan penyakit memburuk dan pengobatan tertunda (Mujahidah et al. , 2019. Satimah et al. , 2. Keluarga Berencana Pasca Persalinan (KBPP) adalah intervensi hemat biaya yang dapat mencegah 30% kematian ibu dan 10% kematian anak dengan meningkatkan jarak kelahiran. KBPP telah terbukti mengurangi risiko keguguran, anemia, dan kematian ibu. Masa nifas sering mencakup peningkatan kontak dengan layanan kesehatan profesional, yang dapat dimanfaatkan untuk menyediakan KBPP. Kebutuhan keluarga berencana yang tidak terpenuhi sejak dini berkontribusi terhadap kehamilan berulang dan jarak kelahiran yang pendek (Baker et al. , 2. Berdasarkan data Puskesmas Bawang Kabupaten Batang tahun 2024 terdapat 405 ibu bersalin normal, 7 kasus kala II lama, 51 kasus KPD, 18 kasus kala I lama, 34 kasus pre-eklapmsia. Sementara itu ibu yang mendapatkan konseling KBPP sebanyak 357 orang dan yang telah menjadi akseptor KBPP sebanyak 320 orang. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut dilakukan upaya continuity of care guna meningkatkan kesehatan ibu serta mengoptimalkan cakupan layanan KBPP. Tujuan kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan metode Continuity of Care yaitu meningkatkan kesehatan ibu serta mengoptimalkan cakupan layanan kesehatan bagi masyarakat di Puskesmas Bawang Kabupaten Batang. Pelayanan yang diberikan pada ibu bertujuan agar ibu hamil dan pasangannya dapat mengetahui dan memilih alat kontrasepsi apa yang akan digunakan setelah persalinan. METODE Teknik pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat AuOptimasilsasi Continuity of Care Dalam Program Keluarga Berencana Pasca Persalinan Di Puskesmas BawangAy dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2024 sampai dengan 8 Januari 2025 di Puskesmas Bawang. Kabupaten Batang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dibagi menjadi tiga sesi yaitu penyuluhan, pendampingan continuity of care, serta monitoring dan evaluasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan 18 orang ibu hamil. Penyuluhan Penyuluhan yang diberikan mengenai continuity of care pada ibu hamil guna mempersiapkan penggunaan KBPP. Penyuluhan ini dilakukan pada tanggal 6 Juli 2024. Penyuluhan ini berisi mengenai materi mengenai penggunaan alat kontrasepsi, pilihan alat kontrasepsi dan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group bagaimana cara menggunakan alat kontrasepsi. Tujuan dari kegiatan penyuluhan ini adalah agar ibu hamil dan pasangannya dapat mengetahui dan memilih alat kontrasepsi apa yang akan digunakan setelah persalinan nantinya. Tujuan dari konseling keluarga berencana adalah untuk membantu seorang wanita dalam memilih suatu bentuk kontrasepsi yang akan memungkinkannya untuk menggunakan hak-haknya atas kesehatan reproduksi dan mencapai tujuan-tujuan keluarga berencana. (Abebaw et al. , 2. Pendampingan Ibu hamil mendapatkan pendampingan continuity of care melalui ANC terpadu dan penjelasan rinci mengenai berbagai alat kontrasepsi yang tersedia bagi ibu setelah melahirkan. Pada sesi pendampingan ini, dibentuklah sebuah grup WA untuk memantau dan mendampingi ibu hamil melakukan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi terkait keluhan yang mereka alami. Monitoring dan Evaluasi Tahap akhir adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan setelah ibu bersalin, dilaksanakan pada tanggal 28 Desember 2024 - 8 Januari 2025. Monitoring dilakukan melalui kunjungan rumah masa nifas oleh bidan desa dengan memantau ibu setelah melahirkan dan pemasangan KBPP untuk mengamati masa nifas. Tindak lanjut dilakukan dengan mengevaluasi hasil pemantauan masa nifas. Diharapkan kedepannya, ibu dan kader yang telah mendapatkan pelatihan dapat menjadi pendukung bagi ibu hamil lainnya untuk dapat memilih dan menggunakan KBPP melalui kesinambungan pelayanan dan memberikan informasi kepada masyarakat luas untuk mendukung penggunaan KBPP untuk menjaga, mencegah dan mengatur jarak kehamilan berikutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan tanggal 5 Juli 2024 sampai dengan 8 Januari 2025 di Puskesmas Bawang. Kabupaten Batang. Kegiatan dilakukan dalam 3 tahap yaitu: Penyuluhan Penyuluhan yang diberikan mengenai continuity of care pada ibu hamil guna mempersiapkan penggunaan KBPP. Penyuluhan ini dilakukan pada tanggal 6 Juli 2024. Penyuluhan ini berisi mengenai materi mengenai penggunaan alat kontrasepsi, pilihan alat kontrasepsi dan bagaimana cara menggunakan alat kontrasepsi. Tujuan dari kegiatan penyuluhan ini adalah agar ibu hamil dan pasangannya dapat mengetahui dan memilih alat kontrasepsi apa yang akan digunakan setelah persalinan nantinya. Gambar 1 Kegiatan Penyuluhan (Sumber: Data Primer, 2. Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group Pendampingan Ibu hamil mendapatkan pendampingan continuity of care melalui ANC terpadu dan penjelasan rinci mengenai berbagai alat kontrasepsi yang tersedia bagi ibu setelah melahirkan. Pada sesi pendampingan ini, dibentuklah sebuah grup WA untuk memantau dan mendampingi ibu hamil melakukan pemeriksaan kesehatan dan konsultasi terkait keluhan yang mereka alami. Gambar 2 Kegiatan Pendampingan (Sumber: Data Primer, 2. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan akhir adalah monitoring dan evaluasi yang dilakukan setelah ibu bersalin, dilaksanakan pada tanggal 28 Desember 2024-8 Januari 2025. Gambar 3. Kegiatan Monitoring (Sumber: Data Primer, 2. Peserta kegiatan sebanyak 18 orang ibu hamil, setelah mengikuti rangkaian kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dengan adanya sesi penyuluhan, pendampingan dan monitoring didapatkan ibu menggunakan KBPP dengan pilihan berikut: Tabel 1. Jenis KBPP Jenis KBPP IUD 10 IUD 48 IMPLANT KONDOM PIL 55,56 16,67 27,77 Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group Kesesuaian dan keampuhan konseling keluarga berencana sangat mempengaruhi proses pengambilan keputusan klien dalam hal kontrasepsi. Kualitas konseling keluarga berencana pada akhirnya harus menjadi faktor penentu dalam keputusan klien untuk menggunakan kontrasepsi dengan sukses dan tepat (Abebaw et al. , 2. Aspek penting dalam membantu memberikan informasi yang tepat, lengkap, dan obyektif mengenai metode kontrasepsi, mengidentifikasi dan mengakomodasi perasaan negatif yang berkaitan dengan perencanaan keluarga, membantu dalam pemilihan metode kontrasepsi yang terbaik, membantu menggunakan metode kontrasepsi yang dipilih secara aman dan efektif, memberikan informasi mengenai cara memperoleh bantuan dan tempat mencari pelayanan KB adalah dengan memberikan konseling perencanaan keluarga(Mayangsari et al. , 2. Berdasarkan penelitian Anastasia J. Gage et al, prediktor lain yang signifikan adalah penolakan terhadap mitos dan miskonsepsi tentang keluarga berencana. Menurut istilah interaksi, ada perbedaan dalam hubungan antara harapan normatif dan niat KBPP di antara kelompok etnis. Selain itu, terdapat peningkatan yang signifikan dalam hubungan positif antara niat KBPP dan norma-norma injunctive ketika masyarakat umum dianggap menentang penggunaan KBPP. Ekspektasi normatif dan efikasi diri terkait KBPP menjelaskan dua pertiga dari variasi niat KBPP Berdasarkan temuan ini, mungkin penting untuk memahami beberapa tekanan normatif untuk mendorong perempuan menggunakan kontrasepsi selama beberapa bulan pertama setelah Program-program harus mempertimbangkan untuk menyertakan taktik berbasis norma dan pemberdayaan selain menangani faktor kelembagaan, individu, dan sosial dari KBPP (Gage et al. , 2. Menjaga jarak kehamilan dan kelahiran penting bagi kesehatan ibu dan anak. Setelah melahirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan untuk menunggu setidaknya 24 bulan sebelum mencoba kehamilan berikutnya(Abebaw et al. , 2024. Allen et al. , 2025. Amuka et al. Rahmadana et al. , 2. Jarak antar kehamilan yang pendek dikaitkan dengan hasil akhir yang merugikan bagi ibu, termasuk kematian ibu, perdarahan trimester ketiga, ketuban pecah dini, endometritis nifas, dan anemia(Afobunor et al. , 2023. Allison et al. , 2024. Creinin et al. Guo et al. , 2022. Karra et al. , 2. Peningkatan risiko kematian neonatal, bayi, dan anak, dan kekurangan gizi pada anak dikaitkan dengan jarak kelahiran kurang dari 36 bulan (Baker et , 2022. Niu & Qi, 2020. Piotrowski et al. , 2020. Shemu et al. , 2. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa efek dari jarak kelahiran yang pendek terhadap peningkatan kematian bayi sangat kuat di negara-negara berpenghasilan rendah. Menghilangkan jarak kelahiran pendek dapat mencegah hampir 10 persen kematian balita(Baker et al. , 2022. Berwick et al. , 2024. Council & Planning, 2021. Khikmi et al. , 2025. Niu & Qi, 2020. Piotrowski et al. , 2020. Putri. Shemu et al. , 2. Penelitian lain baru-baru ini mengungkapkan penurunan tinggi badan anak di empat negara berpenghasilan rendah dan menengah yang lahir kurang dari tiga tahun setelah saudara kandungnya dibandingkan dengan anak-anak yang lahir tiga hingga tujuh tahun setelah saudara kandungnya yang lebih tua(Amallkariana & Sutarno, 2025. Cartwright et al. Henderson Riley et al. , 2021. Koroma et al. , 2022. Nandagiri, 2. Jarak kelahiran yang pendek telah ditemukan berhubungan dengan risiko kematian ibu, bayi, dan anak yang lebih tinggi(Abdi et al. , 2021. Ahi & yNetinkaya, 2024. Bahadir et al. , 2021. Koops, 2023. Senderowicz, 2. SIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Puskesmas Bawanng Kabupaten Batang selama 6 bulan. Kegiatan dilakukan dalam 3 tahap, yaitu : Penyuluhan. Pendampingan dan Jurnal Peduli Masyarakat. Volume 7 No 3. Mei 2025 Global Health Science Group Monitoring. Tujuan kegiatan Pengabdian Masyarakat dengan metode Continuity of Care yaitu meningkatkan kesehatan ibu serta mengoptimalkan cakupan layanan kesehatan bagi masyarakat di Puskesmas Bawang Kabupaten Batang. Pelayanan yang diberikan pada ibu bertujuan agar ibu hamil dan pasangannya dapat mengetahui dan memilih alat kontrasepsi apa yang akan digunakan setelah persalinan. Komunikasi efektif terjalin antara Bidan dan ibu hamil untuk meningkatkan hubungan serta kepercayaan diantara keduanya dan tentunya dengan waktu yang berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA