Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2022 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 PENGARUH PELATIHAN KADER TERHADAP KESIAPAN KADER DALAM PENCEGAHAN STUNTING Ni Made Sri Rahyanti1. Ni Kadek Sriasih2 1Ao2 Institut Teknologi dan Kesehatan Bali (ITEKESBal. Jalan Tukad BalianNo. 180,Renon,Denpasar,Bali e-mail: nimadesri. rahyanti@gmail. Artikel Diterima : 15 Agustus 2022. Direvisi : 7 September 2022. Diterbitkan : 27 September 2022 ABSTRAK Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu gangguan pertumbuhan yang sulit dideteksi di masyarakat dan masih menjadi penanganan utama dalam pembangunan kesehatan. Pembangunan kesehatan memerlukan dukungan dari seluruh masyarakat termasuk kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. Keterlibatan kader dalam pencegahan stunting telah dilaksanakan, namun kesiapan kader dalam mencegah stunting belum diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh pelatihan kader terhadap kesiapan kader dalam pencegahan stunting. Metode: Penelitian ini menggunakan metode praexperiment one group pre post test. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling yangberjumlah 15 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kesiapan kader dan lembar observasi pengukuran pertumbuhan anak yang telah dilakukan uji content validity. Hasil: Uji Wilcoxon digunakan dalam analisa data dengan hasil nilai p<0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari pelatihan kader terhadap kesiapan kader dalam pencegahan stunting. Pelatihan stunting pada kader harus berkelanjutan untuk pencegahan dan deteksi dini stunting. Kata Kunci : kesiapan kader, pelatihan kader, pencegahan stunting ABSTRACT Introduction: Stunting is a growth disorder that is difficult to detect in society and as the main treatment in health development. Health development had been implemented by the government and required support from the entire community, including cadres of Public Integrated Service at The involvement of cadres had been carried out, but readiness of cadres in preventing stunting has not been studied. This study aims to determined the effect of cadre training to cadreAos readiness in preventing stunting. Method: This study used a pre-experimental one group pre post test method. The sampling technique was total sampling involving 15 partisipant. Data were collected using CadreAos Readiness Questionaire and Growth Measurement Observation Sheet, developed by theauthor and have been tested using content validity test. Result: The result of data analysis using Wilcoxon test showed that there were significant difference of cadreAos readiness score between pre and post intervention . value 0,001 with =0. Discussion: Cadre training about stunting must be continued to prevented and early detection of stunting. Keywords: cadre readiness, cadre training, preventing stunting Jurnal Menara Medika Vol 5 No 1 September 2022 | 46 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index PENDAHULUAN Pertumbuhan yang linier merupakan indicator paling baik dalam menilai kesehatan anak. Panjang badan atau tinggi badan merupakan salah satu indikator pertumbuhan anak. Jutaan anak diseluruh mencapai pertumbuhan yang optimal. Hal ini disebabkan oleh kekurangan nutrisi dan kesehatan yang terganggu. Faktor ini pertumbuhan yang terganggu pada anak (Onis & Branca, 2. Perawakan pendek atau tinggi badan yang tidak sesuai usia merupakan gangguan pertumbuhan pada anak. Hal ini dikenal dengan sebutan stunting. Stunting sering tidak terdeteksi di masyarakat. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa pendek itu adalah sesuatu yang wajar. Stunting juga sulit dideteksi hanya secara visual dan pertumbuhan berkontribusi untuk mengenali stunting yang tersembunyi. Stunting juga merupakan jantung dari enam target nutrisi global untuk 2025 yang diadopsi Majelis Kesehatan Dunia pada tahun 2012 (WHO2. , dan telah diusulkan sebagai indikator utama untuk agenda pembangunan pasca-2015 (Onis & Branca, 2. Pada tahun 2018, balita stunting di dunia berjumlah 154,8 jutabalita. Indonesia memilikiangka stunting tertinggi di Asia Tenggara. Pada tahun 2019 prevalensi stunting mencapai 27,67. Pada tahun 2020 Indonesia mencapai24,1% (Kemenkes RI, 2. Berdasarkankondisidiatasmakapemer intahmencanangkan pembagunan kesehatan penanganan masalah stunting. Keberhasilan masyarakat dalam memerangi stunting diperlukan dukungan dan peran aktif yang JMM 2022 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 dilakukan oleh seluruh masyarakat seperti Dalam hal ini kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyand. mempunyai peran yang besar karena kader secara langsung berhadapan dengan berbagai permasalahan di masyarakat termasuk masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat (Tse. Suprojo, & Adiwidjaja, l2. Berdasarkan hal tersebut diatas maka pengetahuan dan kemampuannya dalam mengenali stunting, sehingga stunting dapat Hasil studi pendahuluan di Desa Marga ditemukan bahwa masih banyak kader posyandu balita yang salah dalam melakukan pengukuran tinggi badan (TB) serta tidak pernah memberikan pendidikan Hal payapencegahan stunting. Pada saatini data stunting juga masih sangat minimal. Berdasarkan data diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh pelatihan kader terhadap kesiapan kader dalam pencegahan BAHAN DAN METODE Desain penelitian yang digunakan adalah pre experimental design with one group pretest and posttest design. Pada ramengukurberat badan, panjang badan dan tinggi badan. Partisipandiberikanpelatihanselama 2 Partisipan diberikan pre test sebelum pelatihan dan post tes setelah pelatihan. Penelitian ini bertempat di Desa Marga pada bulan Maret-April 2020. Populasi dalam Jurnal Menara Medika Vol 5 No 1 September 2022 | 47 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index penelitian ini adalah seluruh kader posyandu balita di Desa Marga. Responden dalam penelitian ini adalah kader posyandu balita di Desa Marga yang berjumlah 15 Teknik nonprobability sampling dengan jenis Total Kriteria inklusi sampel yaitu seseorang yang menjadi kader posyandu balita di Desa Marga. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah kader yang tidak hadir pada saat penelitian dengan alasan Instrume yang digunakan untuk mengukur kesiapan kader adalah Kuesioner Kesiapan Kader dalampencegahan stunting yang terdiri dari 20 pertanyaan. Kuesioneri ini mengukur pengetahuan kader mengenai stunting yang terdiri diri beberapa komponen pertanyaan meliputi definisi, penyebab, cara pencegahan, dampak JMM 2022 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 stunting, cara pengukuran Panjang dan tinggi badan. Lembar observasi Pengukuran Pertumbuhan juga digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur ketrampilan kader dalam mengukur pertumbuhan anak. Instrumen dikembangkan oleh peneliti dan telah dinyatakan valid setelah dilakukan uji content validityyaitu face validity. Uji face validity ini melibatkan panel expert di bidang keperawatan anak. Pengumpulan data dilaksanakan setelah penelitian ini ketik oleh Komisi Etik Penelitian Institut Teknologi dan Kesehatan (ITEKES) BALI Nomor 2/KEPITEKES-BALI/IV/2020. Proses informed concent dilakukan sebelum partisipan berpartisipasi dalam penelitian. Data hasil penelitian diuji dengan menggunakan uji Wilcoxon. HASIL Tabel1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Pendidikan Formal Kader di Desa Marga Maret-April 2020 . Variabel Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Formal Kader SMP SMU Di S1/DIV/Sederajat Jumlah . Prosentase (%) Sumber:dataprimer2020 Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa keseluruhan kader berjenis kelamin perempuan dan hampir keseluruhan . %) berpendidikan SMU/sederajat. Jurnal Menara Medika Vol 5 No 1 September 2022 | 48 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2022 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Tabel 2 Distribusi Responden Berdasarkan Usia dan Lama Menjadi Kader di Desa Marga Maret-April 2020 . Variabel Mean St. Min-Mak 95% CI Usia (Th. Variabel 40,73 Median 6,45 Varian Min-Mak 37,16-44,31 95% CI Lama kader (Th. 5,00 38,74 2,35-9,25 Distribusi data normal Berdasarkan tabel 2, mean usia kader adalah 40,73 tahun. Usia 29 tahun merupakan usia minimum sedangkan 50 tahun merupakan usia maksimum. Karakteristik responden dilihat dari lama menjadi kader ditemukan median sebesar 5,00 dengan lama minimum menjadi kader adalah 1 tahun dan terlama 10 tahun. Tabel 3 Distribusi Skor Kesiapan Kader Sebelum dan Setelah Pelatihan di Desa Marga Maret-April 2020 . Variabel Mean Skor Sebelum 32,87 Intervensi* Variabel Median Skor Setelah 40,00 Intervensi Std. Deviasi Min-Mak 95% CI 2,50 31,48-34,25 Varian Min-Mak 95% CI 1,06 39,49-40,64 *Distribusi data normal Tabel 3 menunjukkan bahwa mean skor kesiapan kader sebelum intervensi adalah 32,87 dengan skor minimum 29 maksimun Median dari skor kesiapan kader setelah intervensi adalah 40,00 dengan skor minimum adalah 38 dan maksimum adalah Tabel 4 Perbedaan Skor Kesiapan Kader Sebelum Dan Setelah Pelatihan di Desa Marga Maret-April 2020 . Variabel Skor Kesiapan Pre Test Post Test Tabel 4 menunjukkan nilai p pada uji Wilcoxon adalah 0,001 dengan =0,05. Berdasarkan data tersebut diatas dapat dinyatakan bahwa terdapat perbedaan yang Median Nilai p 33,00 signifikan antara skor kesiapan kader sebelum dan setelah intervensi . ilai p<0,. Jurnal Menara Medika Vol 5 No 1 September 2022 | 49 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index PEMBAHASAN Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan kader terhadap kesiapan kader dalam pencegahan Hasil menggunakan uji Wilcoxon diperoleh data yaitu terdapat pengaruh yang signifikan dari pelatihan terhadap kesiapan kader dalam pencegahan stunting. Nilai p pada uji Wilcoxon adalah 0,001 dengan =0,05 . ilai p<). Saat pelatihan, kader mendapatkan tambahan informasi atau pengetahuan mengenai stunting serta mengembangkan ketrampilan secara bertahap. Ketrampilan yang diberikan dalam pelatihan adalah deteksi dini stunting melalui ketrampilan mengkaji tinggi badan dan panjang badan. Pelatihan juga memberikan kesempatan kepada kader untuk bereksperimen melalui simulasi sehingga dapat meningkatkan ketrampilan (Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan Pokjanal Posyandu Pusat, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuliani. Immawanti. Yunding. Irfan. Haerianti, dan Nurpadila . yaitu melalui pelatihan mengenai stunting, penyebab, dan tanda gejala serta simulasi pengukuran panjang badan dan tinggi badan dapat meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan kader secara Paparan informasi merupakan faktor eksternal yang dapat meningkatkan Peningkatan pengetahuan akan memberikan kesadaran yang berujung pada perubahan perilaku (Notoatmodjo, 2. Peningkatan yang diperoleh pelatihan dapat ditunjang oleh pendidikan Berdasarkan hasil analisa data diperoleh data bahwa hampir keseluruhan kader yaitu sebanyak 12 . %) dari 15 orang memiliki pendidikan formal SMU atau sederajat. Menurut Notoatmodjo. JMM 2022 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 dalam Rohani . dan dalam Munfarida dan Adi . , dinyatakan bahwa peningkatan pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dipengaruhi oleh pendidikan Hal yang sama juga diungkapkan oleh Rohmad . yaitu keberhasilan suatu pelatihan dapat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan peserta pelatihan. Semakin tinggi pendidikan kader maka cara berpikir dan cara pandang kader semakin luas sehingga daya tampung informasi yang diterima akan semakin banyak (Munfarida dan Adi, 2. Pemberian materi pelatihan dengan bahasa yang mudah dipahami serta melatih kader perindividu mampu meningkat kanpengetahuan kader mengenai penyebab dan cara pencegahan stunting serta meningkatkan ketrampilan kader dalam mengukur panjang dan tinggi badan anak. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan kader ini juga didukung oleh lama responden menjadi kader. Berdasarkan hasil analisa data diperoleh data bahwa rata-rata lama responden menjadi kader adalah 5 Menurut Munfarida dan Adi . , semakin lama seseorang menjadi kader maka pengetahuan yang dimiliki semakin banyak karena sudah berpengalaman dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Usia peningkatan pengetahuan dan ketrampilan saat pelatihan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data yaitu usia kader berada antara rentang 29-50 tahun. Usia ini merupakan usia dewasa dimana kader dengan usia dewasa memiliki kemampuan berpikir rasional yang lebih baik dibandingkan dengan kader yang berusia muda sehingga mudah dalam memahami informasi. (Sumartini, 2. Jurnal Menara Medika Vol 5 No 1 September 2022 | 50 Jurnal Menara Medika https://jurnal. id/index. php/menaramedika/index JMM 2022 p-ISSN 2622-657X, e-ISSN 2723-6862 Kurikulum dan modul pelatihan kader posyandu. Jakarta: kementerian kesehatan ri Megawati. , & Wiramihardja. Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu Dalam Mendeteksi Dan Mencegah Stunting. Dharmakarya, 8. , 154159. Saran https://doi. org/10. 24198/dharmakary Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian mengenai pelatihan kader Munfarida. , & Adi. Faktor dengan metode true experiment dengan yang berhubungan dengan tingkat jumlah sampel yang lebih banyak. pengetahuan dan keterampilan kader Pelayanan kesehatan tingkat primer dan Dewan Redaksi, 1458. Desa yang menaungi kader posyandu balita Onis. Branca. Childhood diharapkan melakukan pelatihan secara stunting: a global perspective. rutin untuk penyegaran pengetahuan dan Maternal and child nutrition. Doi: ketrampilan kader dalam deteksi dini 1111/mcn. stunting sehingga angka kejadian stunting Riadi. Pengertian, aspek, ciri dan faktor yang mempengaruhi kesiapan UcapanTerimakasih https://w. com/2019 Penelitimengucapkanterimakasihkep /04/kesiapan-kerja. ada ITEKES Bali dan seluruh pihak yang Rohani. Faktor-faktor yang telahpartisipasi dalampenelitianini. mempengaruhi pengetahuan dan keterampilan ibu dalam perawatan KEPUSTAKAAN