Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI (TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS SISWA PADA MATERI PERSAMAAN GARIS LURUS DI KELAS Vi MTsN LHOKSEUMAWE Siti Khaulah Program Studi Pendidikan Matemtika FKIP Universitas Almuslim Bireuen ABSTRAK Rendahnya kemampuan koneksi matematis siswa didasari dengan model pembelajaran selama ini yang dilaksanakan guru cenderung tidak mampu menciptakan suasana aktif. Kemampuan koneksi yang masih rendah dalam Mengenali dan menggunakan koneksi antar topic matematika, mengkoneksikan antar disiplin ilmu lain, mengenali dan menggunakan matematika dengan keterkaitan di luar matematika. Siswa hanya bisa menyelesaikan soal matematika yang tertera contoh dan konsep dibuku tanpa memikirkan penyelesaian mereka sendiri. Untuk mengatasi masalah tersebut peneliti melakukan sebuah penelitian dengan menggunakan model pembelajaran Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualizatio. lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus di kelas Vi MTsN Lhokseumawe. Penelitian ini mengunakan pendekatan Kuantitatif kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualizatio. dengan jenis penelitian eksperimen. Desain eksperimen yang digunakan Pretes-Postes Control Group Design. Populasi adalah seluruh siswa kelas Vi MTsN Lhokseumawe, sedangkan sampel yaitu kelas Vi 2 sebagai kelas kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualizatio. dan kelas Vi8 sebagai kelas konvensional. Hasil penelitian diperoleh thitung > ttabel yaitu 1,90 > 1,671. pada taraf signifikan yu = 0,05. Dan hasil aktivitas Guru dan siswa pada pertemuan pertama dan kedua masing-masing menunjukkan bahwa taraf keberhasilan pembelajaran rata-rata berkategori baik sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan koneksi matematis siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualizatio. lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus di kelas Vi MTsN Lhokseumawe. Kata Kunci: kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualizatio. Kemampuan Koneksi Matematis Siswa. PENDAHULUAN Di antara beberapa kemampuan matematis, salah satu kemampuan yang tidak kalah pentingnya dalam mempelajari matematika adalah kemampuan koneksi matematis. Model dan media pembelajaran juga sangat berpengaruh dalam pengelolaan suatu kelas, karena pengelolaan yang terstruktur dan terencana akan meningkatkan keterlibatan siswa sehingga akan meningkatkan kemampuan matematisnya. Oleh karena itu, peneliti akan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI (Team Assisted Individualizatio. Model pembelajaran ini lebih menarik, dimana siswa dapat bertanya secara langsung, mengemukakan pendapat maupun ide-idenya, dan dapat belajar dengan aktif. Model pembelajaran kooperatif sangat cocok diterapkan pada pembelajaran matematika, karena dalam mempelajari matematika tidak hanya mengetahui dan menghafal konsep matematika, tetapi juga dibutuhkan suatu pemahaman serta mampu menyelesaikan persoalan matematika dengan baik dan benar. Pada pembelajaran kooperatif, siswa dituntut harus mampu untuk bekerjasama dalam kelompok kecil yang heterogen, adanya ketergantungan positif . aling membutuhka. , saling membantu, dan saling memberikan motivasi. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang kemampuan akademik, jenis kelamin, ras atau suku yang berbeda . sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar. Pada saat belajar kooperatif Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ sedang berlangsung, guru terus melakukan pemantauan melalui observasi dan penekanan belajar tidak hanya pada penyelesaian tugas tetapi juga hubungan interpersonal. Jadi, pembelajaran kooperatif menekankan pada kehadiran teman sebaya yang berinteraksi dengan Model pembelajaran TAI termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran TAI, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil . sampai 5 sisw. yang heterogen untuk menyelesaikan tugas kelompok yang sudah disiapkan oleh guru, selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang Keheterogenan kelompok mancakup jenis kelamin, ras, agama, tingkat kemampuan . inggi, sedang, renda. Kemudian guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan. METODE PENELITIAN Pendekatan dan Jenis Penelitian Pendekatan Sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa pada materi persamaan garis lurus melalui pembelajaran kooperatif tipe TAI di kelas Vi MTsN Lhokseumawe, maka jenis pendekatan pada penelitian ini adalah Penelitian kuantitatif adalah pendekatan penelitian yang banyak dituntut mengunakan angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta penampilan hasilnya. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakam jenis eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan salah satu bentuk penelitian yang memerlukan syarat yang relative lebih ketat jika dibandingkan dengan jenis penelitian lainnya. Penelitian eksperimen sangat sesuai untuk pengujian hipotesa tertentu dan dimaksudkan untuk mengetahui hubungan sebab akibat variable penelitian. Dalam penelitian eksperimen yang tidak menggunakan kelompok control hasil penelitian tersebut diragukan keabsahannya, karena beberapa variable yang mengancam atau yang melemahkan validitas penelitian tidak dikontrol. Maka untuk menghindari masalah tersebut, berbagai penelitian eksperimen menggunakan kelompok pembanding. Rancangan Penelitian Desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian eksperimen dengan menggunakan desain penelitian berbentuk Aupretest-postest control groupAy. Penelitian ini melibatkan dua kelas, yakni kelas yang pembelajarannya dengan model pembelajaran TAI dan kelas yang pembelajarannya biasa. Sebelum mendapatkan perlakuan, dilakukan pretest . es awa. dan setelah mendapatkan perlakuan dilakukan postest . es akhi. Sementara itu, tujuan dilaksanakan pretest dan postest adalah untuk melihat perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematis pada kedua kelas tersebut. Adapun desain penelitian ini digambarkan sebagai berikut : Rancangan Penelitian Menggunakan Pretes-Postes Control Group Design KELOMPOK PRE-TEST TREATEMEN POST-TEST Keterangan: E= simbol untuk kelompok eksperimen K= simbol untuk kelompok kontrol Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ O1= pemberian soal pretest untuk kemampuan awal siswa pada kelas eksperimen O2= pemberian soal posttest untuk kemampuan akhir siswa pada kelas eksperimen O3= Pemberian soal pretest untuk kemampuan awal siswa pada kelas kontrol O4= Pemberian soal posttest untuk kemampuan akhir siswa pada kelas kontrol X1= Perlakuan dengan model pembelajaran TAI X2= Perlakuan dengan model pembelajaran konvensional X= Perlakuan yang akan diberikan O1= Tes awal sebelum mendapat perlakuan kelas eksperimen 02= Tes akhir setelah mendapat perlakuan kelas eksperimen 03= Tes awal kelas sebelum mendapat perlakuan kelas konvensional 04=Tes akhir kelas setelah mendapat perlakuan kelas konvensional Oleh karena itu, dalam penelitian ini sampel akan didesain menjadi dua kelompok penelitian yaitu kelompok yang diberi perlakuan model pembelajaran TAI sebagai kelompok eksperimen, dan kelompok yang diberi perlakuan pembelajaran secara konvensional yang biasa dilakukan di sekolah sebagai kelompok kontrol. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di MTsN Lhokseumawe. Pada kelas Vi Semester 1 . Tahun ajaran 2015/2016. Yang berlokasi di pusat kota Lhokseumawe. Secara geografis. MTsN Lhokseumawe berada disekitar sekolah lainnya seperti SMP Negeri 5 Lhokseumawe. Pemilihan lokasi terpilih MTsN Lhokseumawe dikarenakan belum ada penelitian disana yang menggunakan Model TAI serta banyak pertimbangan lainnya. Populasi dan Sampel Darmadi . mengatakan bahwa AuPopulasi adalah keseluruhan atau himpunan objek dengan ciri yang sama, populasi dapat terdiri dari orang, benda, kejadian, waktu dan tempat dengan sifat atau ciri yang samaAy. Jadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas Vi MTsN Lhokseumawe. Mengingat populasi yang banyak maka ditetapkan sampel dengan cara random sampling yaitu kelas dipilih secara acak, karena penelitian ini dibutuhkan kelas yang homogen, maka ditetapkan sampel pada dua kelas saja. Menurut Darmadi . 1 : . AuMenyatakan bahwa teknik memilih secara acak dapat dilakukan dengan manual atau tradisional maupun dengan menggunakan table random Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi . Mengingat populasi yang banyak maka ditetapkan sampel dengan cara random sampling yaitu kelas dipilih secara acak, karena penelitian ini dibutuhkan kelas yang homogen, maka ditetapkan sampel pada dua kelas saja. Menurut Darmadi . Au Menyatakan bahwa teknik memilih secara acak dapat dilakukan dengan manual atau tradisional maupun dengan menggunakan table random Teknik Pengumpulan Data Tes Tes merupakan prosedur sistematik di mina individual yang di tes direpresentasikan dengan suatu set stimuli jawaban mereka yang dapat menunjukkan ke dalam angkaAy. Dengan tes seorang peneliti juga dapat mengukur konstruk yang diinginkan melalui indikator yang dipilih oleh peneliti sendiri, dan juga peneliti kemudian dapat mengidentifikasi konstruk yang hendak diukur. Adapun tes yang akan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pre-test dan post-test Adapun menurut . uspitasari, 2010:. AuBahwasanya indikator koneksi matematis diklasifikasikan menjadi tiga macam meliputi: Koneksi antar topik dan proses matematika Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Koneksi antar konsep matematika dengan disiplin ilmu lain Koneksi antar konsep matematika dengan kehidupan seharhari Lembar Observasi Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar pengamatan tertutup. Kegiatan observasi dilakukan untuk mengamati seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran. Lembar observasi merupakan alat untuk mengetahui sikap serta aktivitas siswa dan guru selama proses pembelajaran berlangsung. Data ini dapat bersifat relatif karena dapat dipengaruhi oleh subjektivitas observer. Teknik Analisis Data Analisis data merupakan tahap yang paling penting dalam suatu penelitian, karena pada tahap inilah peneliti dapat merumuskan hasil penelitiannya untuk menguji hipotesis yang telah Uji Normalitas Uji normalitas diperlukan untuk menguji apakah sebaran data berdistribusi normal atau tidak. Apabila hasil pengujian menunjukkan bahwa sebaran data berdistribusi normal maka dalam menguji kesamaan dua rata-rata digunakan uji t. Apabila hasil pengujian menunjukkan bahwa sebaran data tidak berdistribusi normal maka untuk menguji kesamaan dua rata-rata digunakan statistik nonparametrik, yaitu uji man whitney. Uji normalitas ini dilakukan terhadap skor pretes, postes, dan gain dari dua kelompok siswa . elas eksperimen dan Untuk menguji normalitas digunakan uji Chi-kuadrat, dengan hipotesis sebagai Ho : sebaran data mengikuti distribusi normal HA : sebaran data tidak mengikuti distribusi normal Untuk uji normalitas digunakan rumus Chi Kuadrat (Riduwan, 2006:. ya yce0 Oe yceyce ycu = yceya yaOe1 Keterangan : X2= Harga chi kuadrat yang dicari fo = Frekuensi yang ada . rekuensi observasi atau frekuensi sesuai dengan keadaan ) fe= Frekuensi yang diharapkan, sesuai dengan teori Data dikatakan tersebar secara normal apabila harga chi kuadrat lebih kecil dari harga chi kuadrat dalam table atau bisa ditulis (A2hitung A2. ,05, k-. Hipotesis nol diterima jika A2hitung C A2. ,05, k-. Menguji homogenitas varians dari kedua kelompok Uji homogenitas varians digunakan untuk menguji kesamaan varians dari skor pretes, postes, dan gain pada kedua kelompok . elompok kontrol dan kelompok eksperime. untuk setiap aspek kemampuan matematika. Apabila hasil pengujian menunjukkan kesamaan varians maka untuk uji kesamaan dua rata-rata digunakan uji t . pabila berdistribusi norma. dan digunakan varians gabungan. Apabila hasil pengujian menunjukkan tidak homogen maka untuk uji kesamaan dua rata-rata digunakan uji t . pabila berdistribusi norma. dan tidak digunakan varians gabungan. Operasionalnya pengujian ini akan dilakukan dengan menggunakan software SPSS. Adapun hipotesis statistik yang digunakan adalah: Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Hipotesis: Ho: A2t = A2c . arians kelompok eksperimen sama dengan varians kelompok kontro. HA: A2t C A2c . arians kelompok eksperimen tidak sama dengan varians kelompok kontro. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan rumus statistik uji F sebagai berikut: S t2 FA 2 S2t: varians kelompok eksperimen S2c: varians kelompok control Kriteria uji homogenitas adalah: Hipotesis nol ditolak jika Fhitung > Fdaftar Hipotesis nol diterima jika Fhitung O Fdaftar Uji Homogenitas Mengukur homogenitas pada dasarnya adalah memperhitungkan dua sumber kesalahan yang muncul pada tes yang direncanakan. Untuk menguji homogenitas kedua kelas yang diteliti terlebih dahulu ditentukan nilai rata-rata dan varians dari tes awal kedua kelas tersebut. Menghitung nilai rata-rata dan varians. Untuk menghitung rata-rata ycu menurut Sudjana dapat digunakan rumus: yceycn ycuycn ycu= yceycn Keterangan : ycu = Skor rata-rata siswa yceycn = Frekuensi kelas interval data ycuycn = Nilai tengah atau tanda kelas interval Untuk mengetahui varians ( S2 ) gabungan dengan menggunakan rumus: ycu ycu2ycn Oe ( ycuycn ) ycI21 = ycu . cu Oe . Keterangan : xi = nilai tengah hasil tes fi = tanda kelas dalam interval n = banyak data s = simpangan baku Untuk menghitung varians gabungan dilakukan dengan menggunakan rumus: ycI2yaycayca = ycu1Oe 1ycu ycI 1 ycu Oeycu22Oe 1 ycI2 Keterangan: n1 = Banyaknya data kelompok kelas eksperimen n2 = Banyaknya data kelompok kelas kontrol ycI21 = Varians sampel kelas eksperimen ycI22 = Varians sampel kelas kontrol Untuk menguji homogenitas kedua kelas yang diteliti dapat dilakukan dengan uji Fisher . ji F), yaitu dengan membandingkan antara varians terbesar dengan varians terkecil. Maka Fhitung adalah sebagai berikut: Varians Terbesar Varians Terkecil Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Fhitung < Ftabel : maka kedua varians homogen Fhitung > Ftabel : maka kedua varians tidak homogeny Menghitung N-gain Menyatakan gain dalam hasil proses pembelajaran tidaklah mudah. Mana yang sebenarnya dikatakan gain tinggi dan mana yang dikatakan gain rendah, kurang dapat dijelaskan melalui gain absolut . elisih antara skor postes dengan prete. Misalnya, siswa yang memiliki gain 2 dari 4 ke 6 dan siswa yang memiliki gain 2 dari 6 ke 8 dari suatu soal dengan skor maksimal Gain absolut menyatakan bahwa kedua siswa memiliki gain yang sama. Secara logis seharusnya siswa yang kedua memiliki gain yang lebih tinggi dari siswa yang pertama. Hal ini karena usaha untuk meningkatkan dari 6 ke 8 . ang juga 8 merupakan skor maksima. akan lebih berat daripada meningkatkan dari 4 ke 6. Menyikapi kondisi bahwa siswa yang memiliki gain absolut sama belum tentu memiliki gain hasil belajar yang sama. Rumus N-gain sebagai berikut: ycyycuycycyceycycOe ycuycnycoycaycn ycyycyceycyceycyc N-Gain . = ycuycnycoycaycn ycuycnycoycaycn ycaycoycycnycoycyco ycnyccyceycaycoOe ycuycnycoycaycn ycyycyceycyceycyc Skor gain ternormalisasi dapat dikategorisasi kedalam tiga kategori, yaitu rendah, sedang, dan tinggi yaitu sebagai berikut: g < 0,3 : Rendah 0,3 O g < 0,7 : Sedang g Ou 0,7 : Tinggi Statistik Uji t Adapun menurut Sudjana . Au untuk menguji kesamaan rata-rata, uji dua pihak maka peneliti memerlukan perbandingan atau tepatnya dua populasi. adapun yang menjadi hipotesis statistiknya adalah: H0: A1 A A 2 : Peningkatan model TAI sama dengan metode konvensional terhadap kemampuan koneksi matematis siswa pada materi persamaan garis lurus di kelas Vi MTsN Lhokseumawe Peningkatan model TAI lebih baik daripada model konvensional terhadap kemampuan koneksi matematis siswa pada materi persamaan garis lurus di kelas Vi MTsN Lhokseumawe Ha: A1 A A 2 : Keterangan: A1 = rata-rata data kelompok kelas eksperimen A 2 = rata-rata data kelompok kelas kontrol Kriteria pengujian dapat dari distribusi t dengan yccyco = . cu1 ycu2 . dan pelang . Oe y. Uji t digunakan untuk menguji apakah kelompok eksperimen dan kelompok control yang telah ditetapkan memiliki perbedaan rata-rata signifikan, rumus yang digunakan adalah: Untuk data yang berditribusi normal dan homogen, menggunakan rumus: ycu1 Oe ycu2 yc= yc ycu ycu ycu Oe 1 ycI21 ycu2 Oe 1 ycI22 ycI2 = 1 ycu1 ycu2 Oe 2 Keterangan : yc = statistik uji t Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ ycu1 = banyaknya data kelompok kelas eksperimen ycu2 = banyaknya data kelompok kelas kontrol ycI1 = varians sampel kelas eksperimen ycI2 = varians sampel kelas control ycu1 = nilai rata-rata siswa kelompok eksperimen ycu2 = nilai rata-rata siswa kelompok control Analisis Hasil Observasi Dari hasil observasi dua orang pengamat terhadap aktifitas guru maupun siswa dalam pembelajaran, keduanya akan dianalisis dengan menggunakan rumus persentase yang dikemukakan oleh Arikunto (Dewi, 2013:. sebagai berikut: yaycycoycoycayci ycycoycuyc Skor persentase (SP) A ycycoycuyc y 100 %. ycoycaycoycycnycoycayco Selanjutnya taraf keberhasilan proses pembelajaran ditentukan berdasarkan kriteria keberhasilan pembelajaran yaitu: Skor (%) 81 Ae 100 61 - 80 41 - 60 21 - 40 0 Ae 20 Kategori Sangat Aktif Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Tidak Aktif Sedangkan untuk menentukan skor persentase rata-rata dari kedua pengamat, digunakan rumus berikut: SPP A ycIycE1 2A ycIycE2a. Keterangan: SPP : Skor persentase rata-rata ycIycE1 : skor persentase pengamat I ycIycE2 O skor persentase pengamat II Kategori keaktifan siswa selama proses pembelajaran HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berdasarkan dari perhitungan rata-rata ,varians dan simpangan baku. Maka, data tes akhir (Post-Te. untuk kelas eksperimen diperoleh nilai rata-rata . = 72,70 varians (S. = 204,33 dan simpangan baku (S. = 14,29. Sedangkan untuk kelas konvensional diperoleh nilai rata rata . cu2 )= 64,69, varians (S. = 250,41 dan simpangan baku (S. = 15,82. Uji Normalitas Tes Awal (Pre-Te. Normalitas pre-tes kelas Eksperimen (Kelas TAI) Ujii Normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dalam penelitian sebagai data yang akan di analisis berdistribusi normal atau tidak, dan untuk menentukan jenis uji statistik apa yang digunakan dalam penganalisaan selanjutnya. Berdasarkan perhitungan sebelumya diperoleh nilai sebagai berikut: Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Tabel 1. Daftar Nilai Rata- Rata. Varians, dan Simpangan Baku dari Nilai Tes Awal Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Rata-rata ycu Varians S2 Simpangan Baku . Eksperimen 17,46 77,04 8,77 Kontrol 82,14 9,06 Tabel 2. Daftar Nilai Rata- Rata. Varians, dan Simpangan Baku dari Nilai Tes Akhir Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Rata-rata ycu Varians S2 Simpangan Baku . Eksperimen 72,70 204,33 14,29 Kontrol 64,69 250,41 15,82 Berdasarkan tabel di atas diperoleh x2hitung = 2,08. Untuk menentukan x2tabel terlebih dahulu ditentukan derajat kebebasan . = banyak kelas Ae 3. Pada taraf signifikan = 0,05 dengan derajat kebebasan . = k Ae 3 = 6 Ae 3 = 3, maka dari tabel distribusi chi-kuadrat diperoleh x2. -). = x2 . ( . = 7,81. Data dikatakan normal apabila x2hitung < x2tabel, karena x2hitung < x2tabel yaitu 2,08 < 7,81, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Uji Homogenitas Pre-test Berdasarkan dari perhitungan rata-rata, varians dan simpangan baku. Maka, data tes awal (Pre-tes. untuk kelas eksperimen diperoleh nilai rata-rata ( ycu1 = 17,46 varians (S. = 77,04 dan simpangan baku (S. = 8,77 Sedangkan untuk kelas konvensional diperoleh nilai rata-rata ycu2 = 466,5 varians (S. = 82,14 dan simpangan baku (S. = 9,06 Untuk menghitung homogenitas kedua kelas dapat dilakukan dengan uji Fisher ( Uji F ) yaitu: AAycnycaycuyc Iuyceycycayceycycayc F =ycOycaycOycaycycnycaycuyc ycNyceycycoyceycaycnyco 82,14 F= 77,04 = 1,07 Berdasarkan tabel distribusi F diperoleh yayu ycu1 Oe1,ycu1 Oe2 A ya. 21,19 A 2,14 karena yayciycnycycycuyci < yaycycaycayceyco yaitu 1,07 < 2,14 maka dapat disimpulkan bahwa varians data tes akhir kedua kelas adalah homogen. Berdasarkan perhitungan diperoleh x2hitung = 6,23. Untuk menentukan x2tabel terlebih dahulu ditentukan derajat kebebasan . = banyak kelas Ae 3. Pada taraf signifikan = 0,05 dengan derajat kebebasan . = k Ae 3 = 6 Ae 3 = 3, maka dari tabel distribusi chi-kuadrat diperoleh x2. -). = x2 . ( . = 7,81. Data dikatakan normal apabila x2hitung < x2tabel, karena x2hitung < x2tabel yaitu 6,23 < 7,81, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Berdasarkan perhitungan diperoleh x2hitung = 4,25. Untuk menentukan x2tabel terlebih dahulu ditentukan derajat kebebasan . = banyak kelas Ae 3. Pada taraf signifikan = 0,05 dengan derajat kebebasan . = k Ae 3 = 6 Ae 3 = 3, maka dari tabel distribusi chi-kuadrat diperoleh x2. -). = x2 . ( . = 7,81. Data dikatakan normal apabila x2hitung < x2tabel, karena x2hitung < x2tabel yaitu 4,25 < 7,81, maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Uji Homogenitas Post tes Berdasarkan dari perhitungan rata-rata ,varians dan simpangan baku. Maka, data tes akhir (Post-Te. untuk kelas eksperimen diperoleh nilai rata-rata . = 72,70 varians (S. =204,33 dan simpangan baku (S. = 14,29 Sedangkan untuk kelas konvensional diperoleh nilai rata-rata . = 64,69 varians (S. =250,41 dan simpangan baku (S. = 15,82. Untuk menguji homogenitas kedua kelas yang diteliti dapat dilakukan dengan uji Fisher . ji F), yaitu dengan membandingkan antara varians terbesar dengan varians terkecil. Maka Fhitumg adalah sebagai berikut: Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ ycOycaycycnycaycuyc ycNyceycycayceycycayc F =ycO oycycnycaycuyc ycNyceycycoyceycaycnyco F = ycI1 2 204,33 F= 250,41 = 0,81 Berdasarkan tabel distribusi F diperoleh yayu ycu1 Oe1,ycu1 Oe2 A ya. 21,19 A 2,14 karena yayciycnycycycuyci < yaycycaycayceyco yaitu 0,81 < 2,14 maka dapat disimpulkan bahwa varians data tes akhir kedua kelas adalah homogen. Analisis Data Gain Data yang diperoleh dari hasil tes awal dan tes akhir dianalisis untuk mengetahui peningkatan kemampuan koneksi matematis siswa. Skor yang diperoleh dari tes siswa sebelum dan setelah diberi perlakuan dianalisis dengan cara membandingkan skor siswa yang diperoleh dari hasil tes siswa sebelum dan setelah diberi perlakuan pembelajaran biasa. Besarnya peningkatan dan sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus gain ternormalisasi. Skor gain ternormalisasi yaitu perbandingan dari skor gain dan skor gain maksimal. Analisis data skor gain ternormalisasi dilakukan untuk menguji hipotesis. Adapun rumus gain ternormalisasi ( normalized gain ) sebagai berikut: ycIycoycuyc ycyycuycycyceyc OeycIycoycuyc ycyycyceycyceyc Gain Ternormalisasi . = ycIycoycuyc ycnyccyceycayco OeycIycoycuyc ycyycyceycyceyc Untuk menentukan nilai ttabel maka dihitung derajat kebebasan sebagai berikut: dk =. 1 n2 Ae . = . = 48. Dengan taraf signifikan = 0,05 dan derajat kebebasan 48, dari tabel distribusi diperoleh t. = 1,67. Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh thitung = 1,90 dan yctabel = 1,67. Kriteria pengujian hipotesisnya adalah tolak H0 jika thitung Ou yctabel dan terima H0 jika thitung O ttabel. Dari hasil pengolahan data diperolehh thitung > ttabel yaitu 1,90 > 1,671, maka H0 ditolak, dengan demikian Ha diterima pada taraf signifikan Oy = 0,05. Jadi dapat disimpulkan bahwa peningkatan Kemampuan koneksi matematis siswa melalui model pembelajaran TAI lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus di kelas Xi MTsN Lhokseumawe. Berdasarkan data hasil observasi yang akan dianalisis menggunakan analisis presentase. Jumlah skor dari tiap indikator, kemudian dihitung skor maksimal dan dikali 100 5. Observasi aktivitas pembelajaran dilakukan yaitu aktivitas peneliti sebagai guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang berlangsung di kelas, perhitungan skor presentase menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Arikunto ( Dewi, 2013:. sebagai berikut: Skor Presentase (SP) = ycycycoycoycayci ycycoycuyc x 100 % ycIycoycuyc ycoycaycoycycnycoycayco Analisis Hasil Observasi Aktivitas Pembelajaran di Kelas Eksperimen Hasil observasi terhadap aktivitas guru di kelas eksperimen model TAI Pengamat melakukan pengamatan terhadap kegiatan guru dalam proses pembelajaran yaitu kesesuaian kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran TAI yang diamati oleh dua orang pengam. Berdasarkan data observasi yang dilakukan pengamat I terhadap aktivitas siswa pada pertemuan kedua diperoleh skor 37 dan dari pengamat II diperoleh skor 39, dengan skor maksimal 45. Maka skor presentasenya dapat ditentukan dengan: Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ SP1 = 37 X 100 % = 82,22 % SP2 = 39 X 100 % = 86,66 % Setelah mendapatkan persentase dari masing-masing pengamat, selanjutnya ditentukan persentase rata-rata aktivitas guru dari kedua pengamat yaitu : SPP = 82,22 % 86,66 = 84,44 % Dari perhitungan tersebut diperoleh skor presentase rata-rata sebesar 84,44 %. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa taraf keberhasilan proses pembelajaran berdasarkan observasi pengamat pada pertemuan kedua di kelas pembelajaran TAI dikatgorikaan baik. Pembahasan Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh skor rata-rata pre-tes kemampuan koneksi siswa untuk kelas pembelajaran TAI yaitu 26,2, dan di kelas konvensional yaitu 25,6. Maka diperoleh nilai rata-rata hasil post-tes kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran TAI adalah 87,20 dan kelas kontrol dengan menggunakan model pembelajaran konvensional adalah 79,91. Dalam melakukan pengujian normalitas dan homogenitas untuk mengetahui apa data dari sampel yang diambil berdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen atau tidak, dari uji normalitas skor pre-tes di peroleh hasil ycu2 hitung < x2tabel, untuk kelas eksperimen yaitu 2,6073 < 7,81, dan kelas kontrol yaitu 2,0810 < 7,81. Hal ini berarti bahwa data skor pre-tes kedua kelas berdistribusi normal. Kemudian dari uji normalitas skor post-tes diperoleh ycu2 hitung < x2tabel, untuk kelas eksperimen yaitu 6,2334 < 7,81 dan untuk kelas kontrol yaitu 4,2516 < 7,81. Maka kedua data untuk sampel yang diambil berdistribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas terhadap skor pre-tes dari kedua kelas dan diperoleh hasil Fhitung < Ftabel, yaitu 1,07 < 2,14 yang berarti bahwa skor pre-tes dari kedua kelas eksperimen dan kontrol adalah homogen, sedangkan pada uji homogenitas post-tes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh hasil Fhitung < Ftabel, yaitu 0,81 < 2,14, sehingga menunjukkan untuk kedua kelas homogen. Dari data-data statistik yang ada dalam penelitian dan juga dari pengujian hipotesis yang telah dilaksanakan oleh peneliti dengan menggunakan rumus statistik, maka nilai akhir thitung > ttabel yaitu 1,90 > 1. 671, sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak dan Ha diterima atau dapat dikatakan bahwa kemampuan koneksi matematis siswa melalui model pembelajaran TAI lebih baik daripada kemampuan koneksi matematis siswa melalui model pembelajaran konvensional. Hasil observasi aktivitas pembelajaran yang meliputi kativitas guru dan siswa terlihat bahwa aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan pada kedua kelas dikategorikan baik, maka persentase rata-rata dari dua orang pengamat untuk model TAI Pada aktivitas guru dan siswa diperoleh skor persentase rata-rata untuk pertemuan pertama sebesar 82,22 % dan 84,44 % dan pertemuan kedua yaitu 83,33% dan 84,44 %. Sedangkan lembar observasi untuk model konvensional pada aktivitas guru dan siswa diperoleh skor persentase rata-rata untuk pertemuan pertama sebesar 87,77 % dan 86,64 % dan pertemuan kedua yaitu 86,66 % dan 88,88 %. PENUTUP Simpulan Berdasarkan dari hasil pengumpulan dan pengolahan data dalam penelitian ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa: Lentera ISSN: 2548-835X, e ISSN: 2548-7663 Jurnal Ilmiah Sains. Teknologi. Ekonomi. Sosial dan Budaya Vol. 1 No. 4 Desember 2017 ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ Peningkatan koneksi matematis siswa melalui pembelajaran kooperatif tipe TAI lebih baik daripada model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus di kelas Vi MTsN Lhokseumawe. Hasil observasi guru dan siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan pada pembelaja kooperatif tipe TAI dengan memerhatikan kriteria taraf keberhasilan pembelajaran yang telah ditetapkan, maka dapat disimpulkan bahwa taraf keberhasilan proses pembelajaran kooperatif tipe TAI dikategorikan baik. Saran Adapun saran-saran yang dapat penulis berikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Untuk mengetahui efektifitas model pembelajaran kooperatif tipe TAI maka kiranya perlu diadakan penelitian yang lebih lanjut baik untuk pokok bahasan persamaan garis lurus maupun pokok bahasn matematika yang lain. Guru diharapkan mampu mengatur pembagian waktu di setiap tahaapan pembelajaran seefektif mungkin sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai secara optimal. DAFTAR PUSTAKA