Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. Ayu Afifah Puteri1. Diana Dewi Sartika2. Yuanita Dwi Hapsari3. Dyah Hapsari Eko Nueraheni4. Muhammad Fakhri Aziz5 Mahasiswa Jurusan Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sriwijaya 2,3,4,5 Jurusan Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Sriwijaya corresponding author: yuanitadwihapsari@fisip. Received: March 2025. Revision: April 2025. Accepted: May 2025. Published: May 2025 Abstract This study aims to analyze the myth of bullying experienced by the main character in the film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay through Roland BarthesAo semiotic approach. The film portrays the life of Angel, a girl with a hearing disability, who frequently faces discrimination and bullying from her This analysis applies BarthesAo concepts of denotation, connotation, and myth to uncover the hidden meanings behind the visual and narrative signs in the film. The findings reveal that the bullying of Angel is represented through various signs that indicate injustice, negative stereotypes, and the marginalization of people with disabilities. Denotatively, the signs in the film directly depict bullying, such as mockery and social rejection. The connotative meanings of these signs highlight the fear, sadness, and struggles the main character faces in confronting stigma. At the level of myth, the film both reproduces and challenges various social myths related to disability. Four central myths are identified: . persons with disabilities are portrayed as weak and objects of pity, . the belief that they do not need equal opportunities and recognition, . the dominance of power that determines their fate, and . the use of emotional expression, such as anger, as a means of social control. This study concludes that AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay is not merely a story of struggle, but also a form of social critique of the bullying still commonly experienced by people with disabilities. Keywords: Disability. Film. Bullying. Semiotics Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mitos perundungan yang dialami tokoh utama dalam film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Film ini menggambarkan kehidupan Angel, seorang gadis dengan disabilitas pendengaran, yang sering kali mengalami diskriminasi dan perundungan dari lingkungan sekitarnya. Analisis ini menggunakan konsep denotasi, konotasi, dan mitos Barthes untuk mengungkap makna tersembunyi di balik tandatanda visual dan naratif dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perundungan terhadap Angel direpresentasikan melalui berbagai tanda yang menunjukkan ketidakadilan, stereotip negatif, dan marginalisasi terhadap penyandang disabilitas. Secara denotatif, tanda-tanda dalam film menggambarkan perundungan secara langsung, seperti ejekan dan penolakan sosial. Konotasi dari tanda-tanda ini memperlihatkan ketakutan, kesedihan, dan perjuangan tokoh utama dalam menghadapi Sementara itu, pada level mitos, film ini mereproduksi sekaligus menantang berbagai mitos sosial yang berkaitan dengan disabilitas. Setidaknya terdapat empat mitos utama yang diidentifikasi: . penyandang disabilitas sebagai sosok lemah dan objek belas kasihan, . anggapan bahwa mereka tidak membutuhkan kesempatan dan pengakuan yang setara, . dominasi kekuasaan yang menentukan nasib mereka, dan . penggunaan ekspresi emosi, seperti kemarahan, sebagai alat kontrol sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay tidak hanya sekadar menceritakan kisah perjuangan, tetapi juga memaparkan kritik sosial terhadap perundungan yang masih sering dialami oleh penyandang disabilitas. Keywords: Disabilitas. Film. Perundungan. Semiotika ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. PENDAHULUAN Film, sebagai jenis karya seni, memiliki kemampuan untuk menjangkau kelompok sosial dan menyampaikan pesan dengan efektif. Film, sebagai media audio-visual, memiliki efek emosional dan popularitas yang luar biasa. Institusi media bukan hanya mengembangkan metode dan elemen sinematografi yang canggih untuk membuat film yang berkualitas tinggi, tetapi juga mengembangkan perspektif yang digunakan untuk melihat dan menyampaikan informasi (Wibisono & Sari, 2. Sebagai salah satu media yang memberikan representasi atau penggambaran kehidupan sosial masyarakat, film memiliki pengaruh besar dalam mempengaruhi pandangan masyarakat. Bagi sebagian orang, menonton film merupakan cara untuk menghilangkan kepenatan dan Film juga dapat berfungsi sebagai media untuk menyampaikan pesan moral serta memberikan inspirasi dan motivasi kepada penonton. Film merupakan karya estetis dan alat informasi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi bagi Selain itu, film juga dapat menyebarkan nilai-nilai budaya baru (Weisarkurnai & Nasution, 2. Film adalah objek kajian yang sangat cocok untuk analisis semiotika karena dibangun oleh berbagai tanda. Tanda-tanda tersebut mencakup berbagai sistem yang bekerja sama untuk menghasilkan efek yang diinginkan. Sesuai dengan konsep Roland Barthes, film memiliki makna yang terdiri dari penanda . dan petanda . Penonton umumnya hanya memahami makna keseluruhan film, namun melalui analisis lebih dalam, dapat ditemukan banyak makna denotatif, konotatif, dan mitos (Wirianto, 2. Industri Perfilman Nasional telah mengalami pertumbuhan yang cukup menggembirakan selama lima tahun terakhir. Beberapa metrik, seperti jumlah produksi film dan jumlah penonton, menunjukkan tren positif. Perfilman Indonesia terbukti mampu bertahan dalam kondisi dinamis saat pandemi COVID-19 bergejolak hebat dari tahun 2020 hingga 2022. Lebih dari sepuluh film insan Perfilman Indonesia telah mencapai lebih dari satu juta penonton. Keberhasilan ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan masyarakat akan tontonan film Indonesia, namun juga merupakan pencapaian gemilang berupa raihan sekitar 61% market share penonton film di Indonesia, lebih tinggi daripada market share film impor yang hanya memperoleh sekitar 39%. Ini adalah pencapaian tertinggi dalam sejarah film Indonesia. Prestasi gemilang yang dicapai pada akhir tahun 2022 merupakan momentum penting yang mengokohkan Perfilman sebagai industri dan pranata sosial yang memiliki potensi untuk menjadi lebih kuat dan lebih maju, meskipun masih menghadapi banyak tantangan (Iskandar. ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 Seiring perkembangan zaman, perfilman Indonesia semakin memiliki banyak genre seperti drama, horror, romansa, komedi, dan lain-lain. Menurut data dari Badan Perfilman Indonesia (BPI), pada tahun 2022, genre horor mencapai 32 juta penonton, drama mencapai 9,3 juta, laga aksi 5,6 juta, komedi 4,9 juta, dan romansa 2,2 juta (Ambarwati, 2. Selain genre tersebut, industri perfilman di Indonesia juga telah banyak mengangkat kisah inspiratif , seperti kisah inspiratif tentang penyandang disabilitas. Kisah-kisah inspiratif mengenai penyandang disabilitas telah banyak diangkat dalam dunia perfilman. Menonton film yang mengangkat tema ini akan meningkatkan kesadaran untuk saling menghargai perbedaan. Memang setiap sutradara film mempunyai caranya masing-masing dalam menyampaikan pesan dari setiap adegan yang ditampilkan kepada penontonnya, dan penonton pun bisa memaknai pesan yang terkandung dalam film tersebut. Penyandang disabilitas sering kali dipandang secara negatif oleh masyarakat karena dianggap tidak sesuai dengan standar normal yang berlaku. Dalam konteks disabilitas, istilah AudisabilitasAy merujuk pada adanya perbedaan biologis pada individu yang tidak sejalan dengan norma sosial yang dominan, dan perbedaan ini membawa konsekuensi sosial yang signifikan (Green et al. , 2. Penelitian ini secara khusus menyoroti individu dengan disabilitas sensorik, yakni Tunarungu. Tunarungu merujuk pada kondisi di mana seseorang mengalami hambatan dalam fungsi pendengaran, sehingga tidak mampu merespons rangsangan suara maupun bentuk rangsangan auditif lainnya. Meskipun demikian, sebagian besar individu dengan kondisi ini lebih memilih istilah "Tuli" untuk merujuk pada diri mereka (Lane, 2002. Patil, 2. Kasus perundungan terhadap penyandang disabilitas masih menjadi persoalan serius. Misalnya, pada 2022 di Cirebon, seorang siswa disabilitas menjadi korban kekerasan fisik oleh sejumlah remaja berseragam sekolah, meskipun korban sudah menangis kesakitan (Syahroni. Selain itu, kekerasan seksual juga menimpa penyandang disabilitas, seperti kasus di Musi Banyuasin. Sumatra Selatan, di mana seorang perempuan dengan disabilitas intelektual dan daksa diketahui hamil enam bulan (Kustiani, 2. , serta kasus sodomi terhadap pemuda Tunagrahita di Cirebon. Jawa Barat (Ashri, 2. Pada tahun 2011 dirilis film yang mengangkat tentang penyandang disabilitas tuna rungu yang berjudul AuAyah. Kenapa Aku Berbeda?Ay. Film ini bercerita tentang sebuah keluarga yang dikaruniai anak perempuan dengan kondisi mengalami keterbatasan pendengaran sejak lahir. Dinda Hauw tampil sebagai pemeran utama yang memerankan tokoh Angel yang merupakan seorang penyandang tuna rungu. Film merupakan salah satu contoh film Indonesia yang ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. berhasil menyampaikan pesan moral dan memotivasi masyarakat untuk lebih peduli pada Peneliti mencoba untuk memaparkan bagaimana mitos perundungan yang dialami oleh tokoh Angel sebagai penyandang disabilitas dalam film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay dengan menganalisisnya menggunakan analisis semiotika dari Roland Bartes. Semiotika merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang tanda . , berfungsinya bagaimana produksi makna. Semiotika memandang komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang berada diluar diri individu (Sobur, 2. Semiotika memberikan pandangan bahwa sistem tanda mencerminkan asusi suatu masyarakat dalam waktu tertentu (Fatimah, 2. Alasan peneliti memilih film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay karena film ini mengisahkan tentang nilai kesetaraan terhadap penyandang disabilitas. Selain itu di dalam film ini juga terdapat adegan adegan yang mengarah pada tindakan perundungan atau bullying terhadap penyandang disabilitas karena adanya anggapan bahwa mereka berbeda dari masyarakat secara Perundungan sendiri menjadi permasalahan penting yang membawa konsekuensi negatif bagi anak (Borualogo, et al. , 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika sebagai alat untuk analisis konten. Analisis semiotika digunakan untuk mengkaji tanda atau simbol perundungan dalam konteks skenario, gambar, teks, dan adegan pada film. Subjek dari penelitian ini adalah tokoh Angel sebagai tokoh utama dalam film, sedangkan objek penelitian adalah nilai intoleransi penyandang disabilitas tuna rungu dalam film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay. Strategi penelitian yang digunakan adalah etnografi visual yang berkaitan dengan simbol visual yang dapat dilihat melalui potongan adegan dalam film. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dengan mengamati potongan-potongan adegan dan dialog dalam film yang memenuhi unsur perundungan. Selain itu teknik dokumentasi dengan bentuk screenshot potongan atau bagian gambr dan dialog yang mengadung unsur intoleransi. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis Semiotika dari Roland Barthes yang meliputi denotasi, konotasi, dan mitos yang digunakan untuk menunjukkan representasi perundungan pada penyandang disabilitas dalam setiap potongan adegan film. ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Sinopsis Film AuAyah. Mengapa Aku BerbedaAy Angel yang diperankan oleh Dinda Hauw ini terlahir dengan keadaan Tunarungu, bahkan ibunya meninggal setelah melahirkan Angel. Sehingga dalam kesehariannya. Angel hidup bersama Surya Saputra yang berperan sebagai ayahnya dan Rima Melati yang berperan sebagai nenek Angel. Awalnya Angel bersekolah di SLB atau Sekolah Luar Biasa khusus anak-anak Tunarungu, walaupun demikian. Angel berkemampuan layaknya anak-anak lain bahkan Angel pintar bermain piano seperti ibunya. Dikarenakan kepintaran Angel, ayahnya bertekad untuk memasukkan Angel ke sekolah umum. walaupun sempat berbeda pendapat dengan nenek Angel, tapi pada akhirnya mereka pindah ke Jakarta dan Angel mulai bersekolah SMP di sana. dan pembahasan berisi hasil-hasil temuan penelitian dan pembahasannya secara ilmiah. Data harus disediakan sesingkat mungkin dan, jika perlu, tabel atau angka harus digunakan. Dimulai saat bersekolah di SMP Tunas Harapan Jakarta inilah Angel banyak mendapat tantangan. Agnes yang diperankan oleh Kiki Azhari bersama teman-temannya sering membully Angel. Walaupun demikian, masih ada Hendra yang diperankan oleh Rafi Cinoun yang menjadi sahabat Angel dan selalu bersama Angel. Pembully-an paling parah di masa SMP ini ialah pada saat Angel bergabung dengan kelas musik, yang mana hal ini membuat Agnes sangat marah sampai melukai tangan Angel. Kejadian ini menyebabkan Agnes dikeluarkan dari Seiring berjalannya waktu dan memasuki fase SMA. Angel dan Hendra tetap menjadi sahabat dan bersekolah di sekolah yang sama. Akan tetapi, hal tak terduga muncul bahwa Agnes juga bersekolah di SMA tersebut dan menjadi siswi pindahan. Selain itu, ayah Angel juga sakit dan didiagnosa terdapat penyumbatan di area jantungnya. Angel yang hanya manusia biasa pun hampir ingin menyerah, walaupun demikian, tantangan dan rintangan terus dilalui oleh Angel karena Tuhan selalu punya cara untuk menguatkan dan membangkitkan Hingga pada akhirnya. Angel mendapat jawaban terkait pertanyaan yang pernah ia ajukan kepada sang ayah. Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Mengurai Mitos Perundungan yang Dialami Tokoh Angel Perundungan Secara Fisik Penelitian ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes untuk mengeksplorasi petanda dan penanda serta makna yang terkandung dalam adegan-adegan dari film AuAyah Mengapa Aku Berbeda?Ay. Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda agar dapat memahami bagaimana tanda berfungsi dan menghasilkan makna (Isfandiyary, 2. Menurut ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. Barthes, semiotika adalah bagian dari linguistik karena tanda-tanda dalam berbagai bidang dapat dianggap sebagai bahasa. Tanda-tanda ini berfungsi untuk mengungkapkan ide dan makna, serta membentuk hubungan antara penanda dan petanda dalam suatu struktur (Barthes. Simbol dan tanda-tanda dalam film dianalisis melalui adegan-adegan yang dipilih oleh Analisis tanda dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup penelaahan tanda secara denotatif, yang berfokus pada makna asli dari simbol yang terlihat atau melihat makna sesungguhnya dari bahasa atau simbol yang muncul. Denotasi adalah tingkat makna pertama yang bersifat tertutup, pasti, langsung, dan eksplisit. Denotasi juga dikenal sebagai makna sebenarnya yang telah disepakati secara sosial dan mengacu pada realitas. Sementara itu, tanda konotasi adalah tanda yang penandanya memiliki keterbukaan, dengan makna yang tidak langsung, tidak pasti, dan implisit, sehingga memungkinkan munculnya berbagai makna atau interpretasi baru (Agisa, et al. , 2. Analisis tanda secara konotasi, yang mempertimbangkan konteks budaya dan aspek-aspek lain yang memperkaya makna tanda tersebut. Singkatnya makna konotasi merupakan makna kiasan. Mitos adalah bagian dari sistem semiotik yang digunakan untuk membahas pemaknaan tanda. Mitos bukan sekadar representasi literal, melainkan juga mengandung konotasi dan makna mendalam yang berkaitan dengan nilai, norma, dan keyakinan suatu masyarakat. Menurut Roland Barthes, mitos merupakan perkembangan dari konotasi. Konotasi yang telah terbentuk dan berakar lama dalam masyarakat menjadi mitos (Vera, 2. Dengan kata lain, mitos merupakan wacana yang terbentuk melalui tanda atau simbol. Hal ini dikarenakan mitos terbentuk dari pembentukan makna yang dibuat oleh denotasi dan konotasi. Peneliti telah merangkum beberapa adegan yang memperlihatkan perundungan yang dialami oleh tokoh Angel. Perundungan yang dialami oleh tokoh Angel adalah perundungan secara fisik dan perundungan secara verbal. Perundungan fisik, atau yang sering disebut bullying fisik, adalah ketika seseorang yang lebih kuat berusaha menekan atau mendominasi individu yang lebih lemah. Bentuk kekerasan ini sering diwujudkan melalui tindakan seperti memukul, menendang, meninju, menghalangi langkah, menjegal, hingga menarik rambut korban (Fadillah, 2. Seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 1, dimana pada menit ke 47 menampilkan adegan Agnes dan teman-temannya yang menjebak Angel untuk datang ke ruang musik karena ketidaksukaan dan rasa tersaingi dalam bermain piano. Secara denotasi, terlihat jelas lima siswi berseragam sekolah berada di sebuah ruangan, di mana satu siswi tampak dominan melakukan aksi kekerasan dengan mendorong dan meremas wajah Angel, seorang siswi tunarungu, sementara tiga siswi lainnya hanya menyaksikan. Secara ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 konotasi, tindakan ini mencerminkan kemarahan dan rasa iri Agnes terhadap Angel yang mendapat pujian dan bergabung dalam kelas musik. Jika makna secara denotasi dan konotasi ini digabung maka akan menghasilkan sebuah mitos. Adegan ini menggambarkan asumsi bahwa penyandang disabilitas seperti Angel tidak layak mendapatkan pujian atau kesempatan yang sama dengan siswa lainnya. Hal ini mencerminkan stereotipe dan pandangan sempit masyarakat terhadap kemampuan penyandang disabilitas. Sikap tersebut menunjukkan tindakan merendahkan dan mengabaikan potensi yang dimiliki oleh penyandang disabilitas. Gambar 1. Adegan Tokoh Angel Didorong dan Diremas Wajahnya Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 1. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Gambar 1 Denotasi Menampilkan berseragam sekolah berada di sebuah ruangan, di mana satu melakukan aksi kekerasan meremas wajah Angel, seorang siswi tunarungu, sementara tiga Konotasi Menandakan kemarahan dan rasa iri Agnes terhadap Angel yang mendapat pujian dan bergabung dalam kelas Mitos Adanya penyandang disabilitas tidak layak mendapatkan pujian atau kesempatan yang sama dengan siswa lainnya. selain itu ada sempit masyarakat terhadap disabilitas dengan cenderung merendahkan dan mengabaikan potensi yang dimiliki oleh penyandang disabilitas. Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 Pada adegan di menit 31. 49 Ae 31. 57, terlihat Agnes dan teman-temannya melakukan perundungan fisik dengan menjambak atau menarik rambut Angel di dalam ruang musik setelah berhasil menjebaknya. Secara denotatif, adegan ini menampilkan lima siswi berseragam sekolah, dengan empat di antaranya melakukan kekerasan terhadap Angel, seorang siswi Kekerasan tersebut berupa aksi menjambak rambut Angel yang berada di ruang ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. Secara konotatif, tindakan Agnes mencerminkan kekuasaannya, kemarahan, dan rasa irinya karena Angel mendapat pujian dan diterima di kelas musik. Adegan ini menggambarkan sikap intoleransi dan penolakan terhadap penyandang disabilitas yang memperoleh kesempatan Secara tidak langsung, hal ini merupakan bentuk penindasan dan dominasi yang dilakukan Agnes terhadap Angel. Untuk mitos yang terbangun dalam adegan tersebut mencerminkan pandangan merendahkan yang masih ada dalam masyarakat terhadap penyandang disabilitas, di mana Agnes menganggap Angel tidak memiliki kemampuan atau potensi karena kondisinya sebagai tunarungu. Sikap ini menunjukkan intoleransi dan ketidaksetaraan yang dialami penyandang disabilitas, serta menyoroti diskriminasi dan prasangka yang menghalangi mereka untuk mendapatkan pengakuan yang setara. Gambar 2. Adegan Menjambak Rambut Angel Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 2. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 2 Denotasi Konotasi Mitos Menampilkan berseragam sekolah, dengan empat di antaranya melakukan kekerasan terhadap Angel. Kekerasan tersebut berupa aksi menjambak rambut Angel yang berada di ruang musik Mencerminkan kekuasaan, kemarahan, dan rasa iri Agnes karena Angel mendapat pujian dan diterima di kelas musik. Adegan intoleransi dan penolakan memperoleh kesempatan Secara penindasan dan dominasi yang dilakukan Agnes terhadap Angel. Adanya merendahkan yang masih ada dalam masyarakat terhadap penyandang disabilitas Sikap tersebut juga menunjukkan intoleransi dan ketidaksetaraan yang dialami penyandang disabilitas, serta menyoroti diskriminasi dan prasangka yang menghalangi mereka untuk mendapatkan pengakuan yang setara. Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 Pada adegan di menit 31. 59 Ae 32. 46, terlihat adegan perundungan dalam kelas musik di mana tangan Angel dijepit di atas piano oleh empat siswi, termasuk Agnes. Secara denotatif, adegan ini menampilkan aksi kekerasan fisik terhadap Angel, seorang siswi tunarungu, dengan menjepit tangannya menggunakan tutup piano. Secara konotatif, tindakan ini menggambarkan kemarahan Agnes yang diungkapkan dengan memberikan peringatan keras kepada Angel hingga ia merasakan kesakitan. Aksi ini tidak hanya merupakan bentuk perundungan dan kekerasan fisik, tetapi juga menunjukkan intimidasi dan dominasi. Ekspresi mulut terbuka dan raut wajah Angel yang menunjukkan kesakitan dan ketidaknyamanan menegaskan penderitaan yang dialaminya. Sedangkan untuk mitos yang dibangun dalam adegan ini menggambarkan adanya asumsi bahwa pengekspresian emosi, seperti kemarahan, dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan dapat diterima oleh semua orang. Sikap agresif yang ditampilkan seolah-olah menormalkan perilaku kekerasan sebagai cara yang dapat diterima dalam mengekspresikan perasaan, tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Gambar 3. Adegan Menjepit Tangan Angel dengan Tutup Piano Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 3. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 3 Denotasi Menampilkan aksi kekerasan fisik terhadap Angel, seorang menggunakan tutup piano. Konotasi Menggambarkan kemarahan Agnes yang memberikan peringatan keras kepada Angel hingga ia merasakan kesakitan. Aksi ini tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga menunjukkan intimidasi dan dominasi. Ekspresi mulut terbuka dan raut Mitos Adanya pengekspresian emosi, seperti kemarahan, dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan dapat diterima oleh semua orang. Sikap agresif yang ditampilkan seolah-olah perilaku kekerasan sebagai cara yang dapat diterima dalam dampaknya terhadap orang laiN ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. Denotasi Konotasi Angel menunjukkan kesakitan menegaskan, penderitaan yang dialaminya Mitos Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 Pada adegan di menit 45. 53 Ae 46. 27, terlihat pertengkaran di lapangan basket yang dipicu oleh ketidaksukaan Agnes terhadap interaksi antara Angel dan Martin . eorang laki-laki yang disukai Agne. Secara denotatif, adegan ini menunjukkan beberapa orang berkelahi di lapangan, namun yang paling mencolok adalah Agnes, yang berteriak sambil mendorong dan membenturkan kepala Angel yang kebetulan lewat di depan lapangan. Tindakan ini dilakukan Agnes karena ketidaksukaannya melihat Angel berinteraksi dengan Martin, siswa yang diidamkan Agnes. Secara konotatif, adegan ini mencerminkan dominasi dan kekuasaan Agnes serta rasa frustrasi dan ketidakadilan yang dirasakan Angel. Adegan ini mencerminkan mitos dalam masyarakat bahwa penyandang disabilitas, khususnya tunarungu, sering kali dijadikan objek belas kasihan dan tidak diperlakukan sebagai individu yang setara. Sikap Agnes terhadap Angel menunjukkan bagaimana penyandang disabilitas dapat dipandang rendah dan diperlakukan tidak adil, mengabaikan hak dan martabat mereka sebagai individu yang setara. Gambar 4. Adegan Membenturkan Kepala Angel Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 4. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 4 Denotasi Konotasi Mitos Menunjukkan beberapa orang berkelahi di lapangan, namun yang paling mencolok adalah Agnes, yang berteriak sambil mendorong dan membenturkan kepala Angel yang kebetulan lewat di depan lapangan. Tindakan ini dilakukan Agnes Mencerminkan dominasi dan kekuasaan Agnes serta dirasakan Angel. Penyandang khususnya tunarungu, sering kali dijadikan objek belas kasihan dan tidak diperlakukan sebagai individu yang setara. Sikap Agnes terhadap Angel penyandang disabilitas dapat ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 Denotasi Konotasi melihat Angel berinteraksi dengan Martin, siswa yang diidamkan Agnes. Mitos mengabaikan hak dan martabat mereka sebagai individu yang Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 Pada adegan di menit 1. 58 Ae 1. 20, terlihat perundungan terhadap seorang peserta di backstage lomba. Secara denotatif, adegan ini menunjukkan lima siswi, dengan empat di antaranya melakukan perundungan dengan mencoret wajah dan penampilan seorang siswi penyandang disabilitas tunarungu yang sedang mengikuti lomba. Secara konotatif, tindakan ini melampaui aksi fisik, mencerminkan simbol ancaman atau intimidasi. Mencoret wajah Angel sebagai penyandang disabilitas tunarungu menandakan bahwa ia dianggap berbeda dan rentan. Tindakan perundungan ini merupakan bentuk penolakan dan ketidakpedulian terhadap keberagaman serta keunikan individu. Adegan ini mencerminkan mitos yang beredar di masyarakat bahwa penyandang disabilitas, seperti Angel, sering dianggap tidak mampu atau kurang berharga, sebuah pandangan yang merendahkan dan salah. Namun, adegan ini juga menantang mitos tersebut dengan menunjukkan bahwa Angel, meskipun menghadapi perundungan, memiliki kekuatan dan ketabahan. Ini menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan dan nilai yang tidak boleh diabaikan. Gambar 5. Adegan Mencoret-Coret Wajah Angel Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 5. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 5 Denotasi Konotasi Mitos Menunjukkan dengan empat di antaranya dengan mencoret wajah dan Tindakan ini melampaui aksi fisik, mencerminkan simbol ancaman atau Mencoret Penyandang disabilitas, seperti Angel, sering dianggap tidak mampu atau kurang berharga. ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. Denotasi Konotasi Mitos penampilan seorang siswi mengikuti lomba wajah Angel sebagai Tindakan perundungan ini ketidakpedulian terhadap keunikan individu. Namun, adegan ini juga menantang mitos tersebut dengan menunjukkan bahwa Angel, meskipun menghadapi kekuatan dan ketabahan. Ini menegaskan bahwa penyandang kemampuan dan nilai yang tidak boleh diabaikan. Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 Perundungan Secara Verbal Selain mengalami perundungan secara fisik, tokoh Angel juga mengalami perundungan secara verbal. Perundungan verbal, atau yang juga dikenal sebagai bullying verbal. Perundungan secara verbal merujuk pada tindakan menyakiti melalui ucapan atau kata-kata yang dilontarkan secara terus-menerus oleh individu maupun sekelompok orang. Bentuk perundungan ini biasanya dilakukan dengan cara mengejek, menghina, atau mengintimidasi korban secara lisan (Yuliana & Muslikah, 2. Pada adegan di menit 10. 32 Ae 11. 34, terdapat perdebatan antara ayah dan nenek Angel, di mana nenek merasa ragu jika Angel pindah ke sekolah umum. Secara denotatif, adegan ini menggambarkan seorang wanita dewasa berpakaian merah dengan corak dan rambut disanggul yang menyatakan kalimat: Au. tapi kalau disekolah yang baru dengan teman-teman baru, apakah mereka memahami AngelAy . ada menit 10. 50 Ae 10. Aubayangkan jika dia harus bergaul dengan anak-anak yang jauh berbeda dari dia . engan nada sedikit tingg. Ay . ada menit 11. 10 Ae 11. AuAngel memang berbeda, dia selamanya akan berbeda . ambil menangis dan nada putus as. Ay. (Pada menit 11. 25 Ae 11. Sementara pria yang mengenakan kaos ungu dan celana hitam tampak sedih dan kecewa karena sikap ibunya, adegan ini secara konotatif menunjukkan konflik internal keluarga terkait masa depan Angel. Nenek Angel mengekspresikan rasa takut dan kecemasan yang mendalam, sementara ayah Angel menunjukkan ekspresi tegang dengan gestur tubuh yang mencerminkan frustrasi atau kemarahan, secara jelas mengungkapkan emosi negatif. Dalam analisis semiotika Barthes, adegan ini diartikan sebagai gambaran dari tekanan dan tantangan yang dihadapi oleh keluarga dengan anak penyandang disabilitas, khususnya Tunarungu. Perdebatan ini mencerminkan bagaimana masyarakat sering kali kesulitan untuk menerima dan menghargai ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 individu dengan disabilitas, yang berujung pada intoleransi dan perundungan. Jadi, adegan ini tidak hanya menggambarkan konflik pribadi, tetapi juga menyoroti isu sosial yang lebih luas terkait dengan intoleransi terhadap penyandang disabilitas, seperti yang dialami oleh Angel. Mitos yang terbangun dalam adegan ini mencerminkan keyakinan atau anggapan sosial bahwa anak dengan kebutuhan khusus, seperti Angel, akan mengalami perlakuan yang berbeda di sekolah umum. Hal ini menunjukkan kekhawatiran nenek bahwa Angel mungkin tidak akan diterima atau dimengerti oleh teman-teman barunya. Gambar 6. Adegan Perdebatan Nenek dan Ayah Angel Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 6. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 6 Denotasi Adegan ini menggambarkan berpakaian merah dengan corak dan rambut disanggul yang keberatan jika Angel pindah ke sekolah umum. Sedangkan Ayah mendukung ide tersebut Konotasi Menunjukkan internal keluarga terkait masa depan Angel. Nenek Angel mengekspresikan rasa takut dan kecemasan sementara ayah Angel tegang dengan gestur tubuh yang mencerminkan frustrasi atau kemarahan. Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 Mitos Mencerminkan keyakinan atau anggapan sosial bahwa anak dengan kebutuhan khusus, seperti Angel, akan mengalami perlakuan yang berbeda di sekolah umum. Hal ini nenek bahwa Angel mungkin tidak akan diterima atau dimengerti oleh teman-teman Adegan di menit 19. 54 Ae 20. 20 menunjukkan Agnes mengejek Angel setelah mengetahui bahwa Angel adalah penyandang disabilitas Tunarungu. Adegan ini secara denotatif menampilkan Angel sebagai karakter utama dengan disabilitas Tunarungu yang sedang ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. memperkenalkan diri. Sementara itu, seorang siswi bernama Agnes mengungkapkan kalimat yang merendahkan. AuEh dia gagu ternyata . ambil tertaw. Ay (Pada menit 20. 08 Ae 20. Auseharusnya dia itu, sekolah di SLB. Ay (Pada menit 20. 17- 20. Secara konotatif, sikap Agnes menggambarkan meremehkan Angel, dengan menunjukkan ejekan dan ketidakrespek terhadap penyandang disabilitas. Adegan ini juga dapat diartikan sebagai momen keberanian dan ketegaran Angel dalam menghadapi tantangan sosial. Selain itu, penggunaan bahasa isyarat oleh Angel tampaknya tidak efektif dalam menghadapi ejekan dan ketidakpahaman Agnes, menyoroti tantangan komunikasi yang dialami oleh penyandang Mitos yang terbangun dalam adegan ini mencerminkan stigma sosial yang menganggap penyandang disabilitas Tunarungu sebagai individu yang aneh dan tidak mampu berkomunikasi dengan efektif. Gambar 7. Adegan Angel Memperkenalkan diri Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 7. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 7 Denotasi Konotasi Mitos Adegan ini menggambarkan seorang siswi yang berpakaian sekolah dan menyatakan bahwa Angel tidak layak untuk bersekolah di tempat tersebut. Adegan menggambarkan Agnes yang meremehkan Angel, menunjukkan ejekan dan sikap tidak menghormati Mencerminkan stigma sosial yang menganggap penyandang disabilitas Tunarungu sebagai individu yang aneh dan tidak mampu berkomunikasi dengan Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 Pada adegan 20. 46 Ae 21. Agnes mengajukan pertanyaan kepada guru tentang alasan Angel bersekolah di sekolah tersebut. Setelah menerima jawaban dari guru. Agnes dan temanteman sekelasnya menertawakan Angel karena dianggap berbeda dari mereka. Secara denotatif, adegan ini menampilkan beberapa siswa berseragam sekolah dan seorang guru perempuan berpakaian hijau, dengan salah satu siswi mengungkapkan kalimat. Auoh ya ampun, orang gagu ternyata bisa nulis ya. Gua pikir lumpuh semuanya . engan nada mengeje. Ay. (Pada scene menit 20. 46 Ae 20. 50, oleh Agne. Aubuk liat dong ke dia, dia udah beda dari kita. Kenapa harus dikasih kesempatan yang sama, ngomongnya aja gagu. Kemudian Agnes mencontoh cara bicara AngelAy . ang lainpun tertaw. (Pada scene menit 21. 03 Ae 21. 15, oleh Agne. Secara konotatif, tindakan siswi yang menirukan cara bicara Angel menunjukkan sikap ejekan dan penghinaan terhadap Angel karena keterbatasannya. Kurangnya pemahaman dan empati terhadap kondisi penyandang disabilitas ini mencerminkan ketidakpedulian terhadap perbedaan dan kebutuhan individu. Adegan ini mencerminkan mitos atau persepsi masyarakat yang sering menganggap penyandang disabilitas sebagai objek lelucon atau sebagai individu yang tidak mampu, yang menunjukkan adanya stigma sosial dan diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas. Gambar 8. Adegan Angel ditertawakan Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 Tabel 8. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 8 Denotasi Konotasi Mitos Adegan ini secara langsung menampilkan seorang siswi yang tertawa dan mengatakan, "Eh, dia gagu ternyata," sambil menunjuk ke Angel, seorang Tindakan siswi tersebut ejekan dan merendahkan terhadap Angel karena Mencerminkan mitos atau persepsi masyarakat yang sering menganggap penyandang lelucon atau sebagai individu ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. Denotasi Konotasi siswi penyandang disabilitas menunjukkan kurangnya Tunarungu. empati dan pemahaman penyandang disabilitas. Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 Mitos yang tidak mampu, yang menunjukkan adanya stigma sosial dan diskriminasi terhadap orang dengan disabilitas. Pada adegan 23. 52 Ae 25. Agnes dan teman-temannya berusaha mengganggu Angel dengan cara mencicipi makanan yang dibawa oleh Angel, lalu Agnes melepehkan makanan Secara denotatif, adegan ini menampilkan Agnes yang mencicipi dan melepehkan makanan Angel, dengan aksi tersebut ditunjukkan secara langsung. Selain itu, terdapat siswi lain, yang merupakan teman Angel, yang menertawakan tindakan tersebut, sementara seorang siswa lain tampak bingung dan kesal dengan sikap siswi-siswi tersebut. Secara konotatif, tindakan Agnes dan teman-temannya mengimplikasikan sikap ejekan dan merendahkan Angel karena keterbatasannya. Mereka sengaja mengganggu dan mengejek Angel melalui tindakan ini. Adegan ini juga mencerminkan kurangnya empati dan pemahaman terhadap kondisi penyandang disabilitas. Agnes dan teman-temannya terlihat senang saat mengganggu Angel, sementara Angel dan Hendra tampak kesal, sedih, dan pasrah menghadapi perlakuan tersebut. Sedangkan mitos yang tebangun dalam adekan tersebut mencerminkan asumsi atau stereotip negatif bahwa penyandang disabilitas, seperti Angel, sering menjadi sasaran perlakuan buruk dan dianggap tidak pantas mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain. Gambar 9. Adegan Agnes Memasukkan makanan dan Melepehnya Sumber: Dokumentasi peneliti 2024 ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Jurnal Empirika Vol. 10 No. 1 Mei 2025 Tabel 9. Makna Denotasi. Konotasi, dan Mitos pada Scene 9 Denotasi Adegan ini menampilkan Agnes dan teman-temannya yang mencicipi makanan Angel, lalu Agnes melepehkannya. Konotasi Adegan Agnes yang berusaha Angel dengan cara yang kasar. Mitos Mencerminkan asumsi atau penyandang disabilitas, seperti Angel, sering menjadi sasaran perlakuan buruk dan dianggap tidak pantas mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain. Sumber: Olah Data Peneliti, 2024 Mitos dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay Mitos merupakan bagian dari sistem semiotik yang membentuk makna melalui tanda dan simbol. Roland Barthes menekankan bahwa mitos tidak hanya menyampaikan makna harfiah, tetapi juga mengandung konotasi yang mencerminkan nilai, norma, dan keyakinan masyarakat. Dalam film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?Ay, mitos tentang penyandang disabilitas Tunarungu berperan dalam membentuk persepsi masyarakat, baik memperkuat maupun menantang pandangan yang sudah ada. Mitos ini dibangun melalui relasi antara denotasi dan konotasi. Denotasi memberi makna dasar, sementara konotasi memperluasnya menjadi mitos yang menggambarkan pandangan sosial. Film ini menunjukkan berbagai mitos tentang disabilitas, khususnya Tunarungu. Pertama mitos stigmatisasi dan belas kasihan. Penyandang disabilitas kerap ditampilkan sebagai sosok lemah dan patut dikasihani, bukan sebagai individu yang setara. Angel sebagai karakter utama mengalami pelabelan, prasangka, dan marginalisasi, yang memperkuat stereotipe negatif. Ia menghadapi double minority struggle karena selain sebagai penyandang disabilitas, ia juga ditempatkan dalam narasi yang mendramatisir kondisinya. Kedua, mitos tidak layak mendapat kesempatan yang sama. Angel dianggap tidak pantas bersekolah di sekolah umum, seolah ia hanya cocok di SLB. Namun, film ini juga membantah mitos tersebut, karena Angel mampu menunjukkan bakat dan memperoleh pengakuan, membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga memiliki potensi dan hak atas pendidikan serta Ketiga, mitos kekuasaan. Dalam narasi film, tokoh yang memiliki otoritas seperti Agnes memegang kendali atas nasib Angel. Kekuasaan ini membatasi kebebasan dan pilihan Angel sebagai individu, memperkuat ketimpangan relasi antara kelompok dominan dan minoritas. Keempat, mitos ekspresi emosi sebagai dominasi. Amarah digambarkan sebagai ekspresi yang wajar dan digunakan untuk mendominasi. Angel menjadi sasaran kemarahan verbal dan fisik dari Agnes, menunjukkan bagaimana emosi digunakan sebagai alat penindasan terhadap penyandang disabilitas. KESIMPULAN Makna denotasi dalam film tersebut menyimpulkan bahwa adegan-adegan yang ditampilkan menunjukkan tindakan fisik yang jelas, seperti perundungan, kekerasan, dan ISSN : 1410 Ae 8364 (PRINT) ISSN : 2503 Ae 3441 (ONLINE) Puteri et al. Mengurai Mitos Perundungan terhadap Disabilitas (Analisis Semiotika Roland Barthes dalam Film AuAyah. Mengapa Aku Berbeda?A. intimidasi, yang dilakukan oleh karakter-karakter tertentu terhadap Angel, seorang siswi Denotasi ini berfokus pada apa yang secara harfiah terlihat di layar, yaitu tindakan dan interaksi langsung tanpa mempertimbangkan makna atau interpretasi lebih dalam dari tindakan tersebut. Secara konotatif, aksi-aksi dalam film ini mencerminkan bentuk intoleransi yang sering berakar dari ketidakmampuan menerima perbedaan serta perasaan iri atau Tindakan tersebut mencakup perundungan fisik, seperti mendorong, menjambak rambut, menjepit tangan, membenturkan kepala, meremas wajah, dan mencoret wajah, serta mentertawakan, mengancam, dan menyumpahi. Selain itu, intoleransi dalam film ini juga tampak melalui marginalisasi dan stigma negatif terhadap Angel, yang memperlihatkan bagaimana masyarakat sering kali memperlakukan penyandang disabilitas dengan sikap yang diskriminatif dan tidak adil. Mitos dalam film "Ayah. Mengapa Aku Berbeda?" menggambarkan beberapa keyakinan dan pandangan yang keliru mengenai penyandang disabilitas, terutama yang sering terjadi dalam masyarakat. Hal ini melahirkan mitos bahwa tindakan intoleransi dianggap sebagai sesuatu yang normal karena penyandang disabilitas sering dianggap mudah ditindas dan hanya layak menjadi objek belas kasihan. Mitos ini menegaskan pandangan keliru bahwa penyandang disabilitas tidak mampu membela diri dan seolah-olah pantas menerima perlakuan diskriminatif, sehingga kekerasan dan perundungan terhadap mereka dianggap wajar dan tidak dipersoalkan. DAFTAR PUSTAKA