n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1121-1132 Available online at http://jurnal. id/dedikasi ISSN 2548-8848 (Onlin. Universitas Abulyatama Jurnal Dedikasi Pendidikan RELEVANSI NEURO-LINGUISTIC PROGRAMMING (NLP) TERHADAP POLA KOMUNIKASI GURU DALAM PEMBELAJARAN Muhammad Qadhafi1* Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Fakultas Agama Islam. Universitas Islam Jakarta Kota Jakarta Timur. Kode Pos 13120. Indonesia. *Email korespondensi : mqdafi12@gmail. Diterima Mei 2025. Disetujui Juni 2025. Dipublikasi 31 Juli 2025 Abstract: Effective communication between teachers and students is a key element in creating meaningful learning experiences. One approach that can enhance the quality of teacher communication is NeuroLinguistic Programming (NLP), which offers practical techniques to understand and influence thought patterns and behavior. This study aims to examine the relevance of NLP to teachers' communication patterns in learning through a descriptive qualitative approach using literature review methods. The focus is on three NLP techniques: rapport, reframing, and modeling. The results show that rapport helps teachers build emotional closeness and trust with students, reframing enables the transformation of negative perceptions into positive ones during learning, and modeling encourages learning through the emulation of successful strategies and behaviors. These three techniques strengthen the role of the teacher as an inspiring and empowering communicator. This study recommends that teachers participate in NLP training to gain deeper understanding and practical skills for applying this approach effectively in educational settings. Keywords : Neuro-Linguistic Programming, teacher communication, learning. Abstrak: Komunikasi efektif antara guru dan siswa merupakan kunci utama dalam menciptakan proses pembelajaran yang bermakna. Salah satu pendekatan yang dapat meningkatkan kualitas komunikasi guru adalah Neuro Linguistic Programming (NLP), yang menawarkan berbagai teknik praktis untuk memahami dan memengaruhi pola pikir serta perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi NLP terhadap pola komunikasi guru dalam pembelajaran melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode kajian pustaka. Fokus utama diarahkan pada tiga teknik NLP, yaitu rapport, reframing, dan modeling. Hasil kajian menunjukkan bahwa rapport membantu guru membangun kedekatan dan kepercayaan dengan siswa, reframing memungkinkan perubahan persepsi negatif menjadi positif dalam proses belajar, dan modeling mendorong pembelajaran melalui peneladanan terhadap perilaku dan strategi sukses. Ketiga teknik tersebut dapat memperkuat peran guru sebagai komunikator yang inspiratif dan memberdayakan. Kajian ini merekomendasikan agar guru mengikuti pelatihan NLP guna memperoleh pemahaman dan keterampilan yang lebih mendalam dalam menerapkan pendekatan ini secara efektif di lingkungan pembelajaran. Kata kunci : Neuro Linguistic Programming. Komunikasi Guru. Pembelajaran PENDAHULUAN Dalam proses pembelajaran, guru memegang peran sentral sebagai fasilitator, motivator, dan komunikator dalam menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik. Keterampilan komunikasi yang baik bukan hanya menjadi pelengkap, melainkan merupakan fondasi utama dalam membangun interaksi yang efektif antara guru Relevansi Neuro-Linguistic Programming. (Qadhafi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1121-1132 http://jurnal. id/index. php/dedikasi dan siswa dalam pembelajaran. Komunikasi yang tepat dan berkualitas memungkinkan terjadinya transfer ilmu yang lebih optimal, membangun kedekatan emosional antara guru dan siswa, serta menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan. Komunikasi guru merupakan elemen kunci dalam keberhasilan proses pembelajaran. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai komunikator yang membentuk dinamika kelas. Namun, proses komunikasi guru sering kali menghadapi berbagai tantangan seperti perbedaan latar belakang siswa, hambatan psikologis, dan kurangnya strategi komunikasi yang efektif. Komunikasi dalam pembelajaran mencakup lebih dari sekadar penyampaian materi secara verbal. Ia juga melibatkan bahasa tubuh, ekspresi wajah, intonasi suara, serta kemampuan mendengarkan dan merespons dengan empati. Guru yang memiliki keterampilan komunikasi yang baik cenderung lebih mampu memahami kebutuhan belajar siswa, merespons perbedaan karakter individu, dan memotivasi siswa untuk aktif dalam proses Sebaliknya, kurangnya keterampilan komunikasi dapat menimbulkan hambatan, seperti kesalahpahaman, rendahnya partisipasi siswa, bahkan konflik dalam kelas keberhasilan pembelajaran di kelas sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam membangun komunikasi dua arah yang efektif. Guru yang mampu mengembangkan komunikasi yang terbuka, jelas, dan interaktif akan lebih mudah mencapai tujuan pembelajaran. Terlebih di era pendidikan abad ke-21, keterampilan komunikasi menjadi bagian penting dari kompetensi profesional guru yang harus dikembangkan secara Efektivitas proses pembelajaran di sekolah sangat dipengaruhi oleh kualitas interaksi antara guru dan siswa (Hattie, 2. Rendahnya prestasi belajar siswa disebabkan oleh adanya komunikasi guru dan motivasi belajar siswa yang Rendahnya komunikasi guru dengan siswa dapat dilihat adanya acuh tak acuh antara guru dengan siswa. Motivasi belajar yang rendah dapat dilihat dari keengganan siswa mengikuti proses pembelajaran dengan maksimal, seperti sering bolos, malas mengerjakan tugas dan tingginya siswa yang absen/tidak masuk mengikuti pembelajaran. (Muhtadin, 2. Guru yang memiliki keterampilan komunikasi interpersonal yang baik dapat meningkatkan interaksi belajar siswa, memperkuat kedisiplinan, serta membangun hubungan emosional yang sehat antara guru dan siswa. Dalam pembelajaran yang bersifat student-centered, keterampilan komunikasi guru menjadi alat utama untuk mendorong partisipasi aktif siswa serta menyesuaikan pendekatan belajar dengan karakteristik masing-masing Pola komunikasi yang diterapkan guru di ruang kelas tidak hanya menjadi media penyampaian materi saja, tetapi juga memegang peranan penting dalam menumbuhkan motivasi belajar, meningkatkan keterlibatan siswa, membangun iklim kelas yang positif, serta mendukung perkembangan sosial-emosional mereka Oleh karena itu, pemahaman mendalam dan upaya peningkatan pola komunikasi guru menjadi krusial dalam konteks pendidikan di Indonesia. Dalam pembelajaran Guru adalah perantara utama antara pengetahuan dan siswa, serta antara sekolah dan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1121-1132 orang tua. Kemampuan untuk menyampaikan instruksi dengan jelas, mendengarkan dengan empati, dan mengatasi konflik dengan bijaksana akan mempengaruhi efektivitas pengajaran dan interaksi sosial di dalam (Qadhafi, 2. Komunikasi yang baik antara guru dan siswa tentunya akan menghasilkan mutu siswa yang lebih baik, diantaranya ditandai dengan peningkatan prestasi akademik siswa. (Kusman, 2. Untuk menjawab tantangan ini, pendekatan Neuro-Linguistic Programming (NLP) menawarkan alternatif yang berorientasi pada hubungan interpersonal dan efektivitas pesan dalam proses belajar-mengajar. Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah pendekatan berbasis psikologi dan linguistik yang dikembangkan oleh Richard Bandler dan John Grinder pada tahun 1970-an. Pendekatan ini menjelaskan bagaimana hubungan antara pikiran, bahasa, dan perilaku memengaruhi interaksi manusia. (Bandler & Grinder, 1. Dalam konteks pendidikan, khususnya komunikasi guru. NLP menyediakan berbagai teknik yang memungkinkan guru memahami dan merespons kebutuhan siswa secara lebih fleksibel dan efektif. Neuro linguistic programming sangat efektif untuk merubah pola pikir siswa yang awalnya negatif menjadi positif dalam pencapaian tujuan apa yang diinginkannya. Selain itu NLP merupakan salah satu cara memetakan proses yang terjadi di dalam otaknya berdasarkan pengalaman-pengalamannya yang ada di otaknya untuk mencapai tujuannya dengan melalui bahasa . (Sanjaya, 2. Dalam konteks pendidikan. NLP dapat digunakan untuk membantu siswa mengembangkan sikap positif terhadap belajar, meningkatkan selfefficacy, dan mengatasi hambatan psikologis yang menghalangi mereka dari mencapai tujuan akademik mereka. (Yemima dkk. , 2. , oleh karena itu guru di harapkan mampu mempersuasi para siswa melalui komunikasi yang baik dan efektif dalam pembelajaran. NLP dapat diterapkan dalam proses pembelajaran yang positif dan praktis sebagai salah satu cara yang efektif bagi pembelajar pada segala lapisan usia. Dengan menggunakan prinsip NLP, kita dapat memanfaatkan fleksibilitas tingkah laku dalam proses pembelajaran yang baru dan menyenangkan. (Wikanengsih, 2. Di dalam NLP terdapat istilah presuposisi tentang mekanisme kerja pikiran dan berbagai cara individu dalam beriteraksi dengan lingkungan dan antar sesamanya, disertai dengan seperangkat metode untuk melakukan perubahan. (Ismuzaroh, 2. , melalui presuposisi guru mampu membuat daya tarik yang bisa mempersuasi peserta didik agar terbangun motivasi dalam belajar. Penerapan NLP dalam pembelajaran sangat relevan karena pendekatan ini berangkat dari asumsi bahwa setiap individu memiliki cara unik dalam memproses informasi, baik secara visual, auditori, maupun kinestetik. Dengan memahami perbedaan ini, guru dapat menyesuaikan metode penyampaiannya agar lebih sesuai dengan gaya belajar masing-masing siswa. menunjukkan bahwa pendekatan NLP dapat meningkatkan efektivitas interaksi pembelajaran karena guru mampu merancang strategi komunikasi yang lebih persuasif dan empatik terhadap kebutuhan siswa. Ada beberapa teknik dalam NLP yang bisa di terapkan dalam pola komunikasi Guru dalam proses pembelajaran, seperti rapport . embangun kedekatan emosiona. , reframing . engubah sudut pandang terhadap suatu peristiw. , dan modeling . eniru pola keberhasila. sangat relevan untuk diterapkan dalam Relevansi Neuro-Linguistic Programming. (Qadhafi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1121-1132 http://jurnal. id/index. php/dedikasi komunikasi guru. Selain itu, pemahaman terhadap sistem representasi sensorik . isual, auditori, kinesteti. juga membantu guru menyesuaikan gaya komunikasinya dengan gaya belajar siswa. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini akan membahas sejauh mana relevansi NLP dalam membentuk pola komunikasi guru yang efektif dalam pembelajaran, agar para guru memiliki pola dan strategi yang baik dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan di dalam kelas. KAJIAN PUSTAKA Secara definisi komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi . esan, ide, gagasa. dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling memengaruhi di antara keduanya,(Qadhafi, 2. dalam kamus besar besar Bahasa Indonesia. Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. (Arti kata komunikasi - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, t. Seorang guru harus memiliki cara efektif untuk bisa berkomunikasi dalam pembelajaran di kelas. Karena Komunikasi yang efektif menjadi kunci dalam membangun hubungan yang saling percaya antara guru dan siswa, sehingga siswa merasa didengar, dipahami, dan didukung dalam perjalanan belajar mereka. (Qadhafi, 2. , dan pada penelitian ini akan memaparkan bagaimana teknik NLP bisa di terapkan sebagai pola komunikasi Guru dalam pembelajaran dalam kelas. Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah sebuah teknik untuk mengkodekan bagaimana manusia mengorganisasikan pikiran, perasaan, bahasa, dan perilaku mereka agar memberikan hasil sesuai keinginannya. NLP menyediakan suatu metodologi untuk memodel performa luar biasa yang dicapai oleh para jenius dan pemimpin di bidangnya. NLP juga merupakan teknik yang dapat membantu seseorang agar memiliki pengalaman baru dalam hidupnya dengan cara mengubah peta mental mereka sendiri. (Divisi Kurikulum NeoNLP, 2. Menurut Bandler & Grinder tentang NLP, individu adalah suatu keseluruhan sistem pikirantubuh dengan hubungan yang telah dipola diantara pengalaman internal . , bahasa . , dan perilaku. Dengan mempelajari hubunganhubungan tersebut, individu secara efektif bertransformasi dari cara lama mereka dalam merasakan, berfikir, dan berperilaku, menjadi bentuk baru dan jauh lebih membantu dalam komunikasi manusia. Sedangkan menurut Bandler sendiri. NLP adalah sikap dan metodologi yang mengajak orang untuk berpikir dan berkomunikasi lebih efektif. Dan NLP adalah sebagai sebuah model yang memprogram interaksi antara pikiran dan bahasa . erbal dan nonverba. sehingga dapat menghasilkan pikiran atau perilaku yang diharapkan (Imah & Purwoko, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode kajian pustaka sebagai teknik pengumpulan datanya. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi secara mendalam teori-teori dan konsep-konsep yang relevan tanpa harus melakukan pengumpulan data lapangan ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1121-1132 secara langsung. Sumber data dalam kajian ini berasal dari berbagai literatur ilmiah yang kredibel, termasuk buku akademik, artikel jurnal nasional dan internasional, laporan penelitian, serta tulisan ilmiah lain yang membahas tentang Neuro- Linguistic Programming (NLP) dan kaitannya dengan pola komunikasi guru dalam proses Proses kajian pustaka dilakukan secara sistematis dengan tujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan menganalisis prinsip-prinsip dasar NLP yang dapat diaplikasikan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam meningkatkan efektivitas komunikasi guru di kelas. Data yang diperoleh dari berbagai sumber tersebut dianalisis melalui tahapan interpretasi dan sintesis, sehingga menghasilkan pemahaman yang utuh dan menyeluruh mengenai bagaimana konsep NLP dapat memberikan kontribusi dalam membentuk pola komunikasi guru yang lebih empatik, persuasif, dan memberdayakan siswa. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan teoretis dan menjadi rujukan dalam pengembangan strategi komunikasi guru berbasis pendekatan NLP dalam konteks pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Setiap manusia memiliki naluri bawaan untuk berkomunikasi. Komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan satu sama lain, mengarahkan kita pada pemahaman, kerja sama, dan koneksi emosional yang Dalam dunia pendidikan penyampaian dan penerimaan Informasi sangat penting dalam proses pembelajaran. Komunikasi memungkinkan kita untuk menyampaikan pesan, gagasan, dan pengetahuan kepada orang lain. Ini memungkinkan kita untuk berbagi informasi penting, mengajar, dan belajar dari orang lain. Komunikasi yang efektif memperluas wawasan kita dan memperkaya kehidupan kita. (Qadhafi, 2. Neuro-Linguistic Programming (NLP) memberikan pemahaman mendalam mengenai cara individu memproses informasi, berkomunikasi, dan membentuk perilaku. Dalam pembelajaran, guru berperan sebagai komunikator utama yang tidak hanya menyampaikan informasi tetapi juga membangun suasana emosional yang memengaruhi motivasi dan keterlibatan siswa. Dengan NLP, guru dibekali dengan strategi untuk membentuk komunikasi yang tidak hanya jelas, tetapi juga menyentuh aspek psikologis siswa, karena NLP dikenal sebagai sebuah pendekatan yang menawarkan hasil akhir yang relatif cepat. (Yuliawan, 2014. , maka dengan teknik NLP Guru mampu mengaplikasikan dengan mudah dan cepat dalam berkomunikasi dalam pembelajaran di kelas. Pada pembahasan kali ini peneliti menggunakan tiga teknik NLP dalam membentuk pola komunikasi Guru yang baik dalam proses belajar mengajar di kelas. Yang pertama adalah teknik rapport atau biasa di kenal dengan teknik membangun kedekatan, yang kedua adalah teknik Reframing atau biasa di gunakan untuk memberi makna baru, dan teknik yang ketiga adalah modeling atau biasa di gunakan untuk meniru atau memodel orang exellent yang ingin kita tiru atau ikuti. Teknik NLP pertama untuk membentuk pola komunikasi yang baik untuk Guru adalah rapport, yaitu kemampuan membangun hubungan yang harmonis dan empati antara guru dan siswa. Ketika rapport terjalin dengan baik, siswa akan merasa dihargai dan lebih terbuka dalam proses pembelajaran. Teknik ini Relevansi Neuro-Linguistic Programming. (Qadhafi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1121-1132 http://jurnal. id/index. php/dedikasi memungkinkan guru menyelaraskan bahasa tubuh, intonasi suara, dan gaya bahasa dengan siswa, sehingga terbangun kedekatan emosional yang mendukung proses belajar. Rapport digunakan untuk membangun hubungan dengan orang lain secara cepat dan mendapat kepercayaan dari orang tersebut sehingga tujuan dapat tercapai. Rapport juga salah satu cara berkomunikasi melalui subconcious atau pikiran bawah sadar. Sedangkan Building rapport adalah keberadaan dari kepercayaan, harmoni, keseimbangan dan kerjasama didalam sebuah hubungan. (RifAoati, 2. Building rapport bertujuan agar anak dapat merasa aman dan nyaman berproses belajar bersama Terutama dalam kaitannya dengan upaya pendidik untuk dapat membantu anak merubah perilaku negative ke perilaku yang lebih positif. Rapport menjadi pondasi awal yang dibangun pendidik pada anak. Karena dengan sikap ini pendidik akan lebih mudah masuk dalam diri anak, karena pada dasarnya perubahan perilaku adalah berasal dari motivasi diri, namun bagi anak, diperlukan contoh, dorongan dan motivasi dari eksternal untuk dapat berubah. (Astuti & Siregar, 2. Rapport dalam NLP mengacu pada situasi yang terjadi antara dua orang atau lebih dimana terjadi keharmonisan, keselarasan, atau keterhubungan. John Grinder menyebutnya sebagai state of unconscious responsiveness, yaitu ketika seseorang merespon Anda secara nonverbal melalui gerakan tubuh atau intonasi suara yang terjadi secara AuunconsciousAy. Rapport merupakan elemen terpenting dalam komunikasi. Dengan terciptanya Rapport. Anda dapat membuat lawan bicara menerima dan merespon informasi yang diberikan dengan baik. Rapport dalam komunikasi dapat di bangun dengan cara mencocokkan bahasa verbal dan nonverbal dari lawan bicara. (Divisi Kurikulum NeoNLP, 2. Mencocokkan bahasa verbal dan nonverbal dalam NLP biasa disebut dengan istilah Matching dan mirroring, matching terbagi dua yaitu verbal dan non verbal, matching yang verbal adalah dengan cara mencocokkan perkataan, sedangkan matching secara Non-Verbal : Mencocokkan Physiology . ahasa tubu. dan Tonality . , sedangkan mirroring yaitu Meniru gerakan seperti cermin. (Divisi Kurikulum NeoNLP. Salah satu manfaat dalam membangun rapport adalah kemudahan dalam menyampaikan pesan dengan jelas, pengurangan kecemasan sebelum presentasi melalui visualisasi positif, dan kemampuan membangun hubungan dengan audien menggunakan teknik rapport. (Wachidah dkk. , 2. dengan penjelasan di atas seorang guru harus mampu menguasai teknik rapport atau membangun kedekatan ketika mengajar, karena dengan membangun rapport seorang guru akan mampu menguasai teknik komunikasi dengan bawah sadar para siswa, dan pikiran bawah sadar para peserta didik secara tidak sadar akan menyukai gurunya, sehingga para peserta didik akan lebih merasa nyaman dalam belajar, karena para peserta didik itu paling mudah menerima pelajaran ketika dalam suasana yang menyenangkan, maka seorang guru bisa menciptakan suasana belajar di kelas dengan membangun kedekatan dengan peserta didik. Tips mudah untul guru dalam mempraktikkan rapport di dalam adalah dengan menerapkan matching dan mirroring, hal ini bisa di terapkan dengan mudah sehingga para peserta didik merasa keberadaannya di terima ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1121-1132 oleh guru di dalam kelas, mirroring bisa kita samakan melalui hal yang ringan yaitu melalui pertanyaan, misal, siapa yang berangkat ke sekolah naik kendaraan umum angkat tangan kanan?, maka peserta didik yang menggunakan kendaraan umum akan angkat tangan, dan berikan pertanyaan berikutnya, siapa yang naik kendaraan pribadi? Murid yang lain pun angkat tangan kanan, tujuannya adalah menyamakan semua peserta didik dengan guru sama-sama angkat tangan kanan. Sedangkan untuk matching bisa kita menggunakan pertanyaan lain seperti, tadi pagi sarapan apa? Lalu peserta didik menjawab nasi uduk, maka guru bisa menyamakan jawabannya, wah sama saya juga sarapan nasi uduk, maka kesamaan ini akan membuat peserta didik merasa sama dengan gurunya dan nyaman kalau belajar dengan gurunya, karena pada hakikatnya sebagian besar manusia akan senang dengan hal yang sama dengan orang lain. Teknik NLP kedua untuk membentuk pola komunikasi yang baik untuk Guru adalah Reframing yaitu memungkinkan guru membantu siswa melihat masalah atau kesalahan dari sudut pandang yang berbeda. Dan dari hasil perubahan sudut pandang itu akan membuat sebuah cara pandang atau frame baru dalam pikiran. Sebelum masuk ke reframing kita memahami dulu Frame. Frame merupakan cara pandang seseorang memaknai suatu hal atau peristiwa pada konteks tertentu. Frame dalam komunikasi berguna sebagai parameter dalam membatasi ruang lingkup komunikasi. (Divisi Kurikulum NeoNLP, 2. dan melalui frame ini kita paham bagaimana cara memandang dan Guru bertugas untuk mereframing jika frame peserta didik kurang tepat. Framing atau penyusunan adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh pendidik ke peserta didik. (Gaffar dkk. Sedangkan reframing akan membuat kerangka berpikir atau mengatur situasi baru untuk menghasilkan makna baru yang diinginkan. (Nugraheny & Kusuma, 2. Framing atau penyusunan adalah membingkai sebuah peristiwa, atau dengan kata lain framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh pendidik ke peserta didik. Reframing merupakan cara untuk memaknai ulang suatu peristiwa. (Divisi Kurikulum NeoNLP, 2. Ketika siswa gagal dalam suatu tugas, guru dapat menggunakan pendekatan ini untuk menunjukkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Dengan cara ini, komunikasi guru tidak hanya bersifat informatif tetapi juga transformatif, dan guru mampu mempersuasi peserta didik agar semakin semangat dan memiliki dorongan motivasi lagi dalam tugas yang lain dan belajar. Prinsip dasar reframing adalah mengubah keberatan menjadi keuntungan. Dengan syarat keberatan tersebut adalah sesuatu yang tidak bisa diubah lagi. Misalnya, cacat tubuh, kejadian pada masa lalu, anggota keluarga, dan beberapa hal lain yang memang di luar lingkaran pengaruh kita untuk berbuat sesuatu guna menjadikannya sesuai dengan keinginan kita. Berdasar pada asumsi bahwa dibalik setiap perilaku/kejadian terkandung maksud positif, reframing mengajak kita untuk keluar dari kerangka berpikir 'masalah' dan melompat ke dalam kerangka berpikir 'solusi' atau 'tujuan/outcome'. (Yuliawan, 2014. Reframing terdapat dua cara, yang pertama adalah Context Reframing Melakukan pemaknaan ulang dengan cara meletakkan peristiwa pada suatu kondisi yang berbeda, seperti contoh, gagal dalam ulangan dan Relevansi Neuro-Linguistic Programming. (Qadhafi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1121-1132 http://jurnal. id/index. php/dedikasi siswa merasa murung dan selalu memikirkan hasil dan kondisinya, guru bisa memberikan makna baru berupa kalimat atau quote motivasi agar frame peserta didik dalam pikiranya bisa berubah dan termotivasi, misal dengan kalimat, semangatmu sangat kuat pasti tidak akan sia-sia di ulangan berikutnya dan hasilnya akan lebih bagus. Kedua adalah Content Reframing yaitu Melakukan pemaknaan ulang dengan cara mengubah sudut pandang, agar memiliki sudut pandang baru terhadap frame sebelumnya, seperti contoh. Frame para peserta didik adalah Guru AB adalah seorang yang sangat galak, kita bisa memberi sudut pandang baru bahwa Guru AB adalah orang yang tegas dalam mengajar. Dari sini memiliki makna baru melalui sudut pandang baru lalu menjadi motivasi baru dalam cara pandangnya. Reframing mencerminkan sikap positif guru yang selalu menstimulus para siswa dengan positif meskipun respons yang diberikan oleh siswa tidak selalu posistif, namun posisi guru yang menganggap siswa adalah klien, maka secara terus menerus guru mengafirmasi positif siswa. Kemudian, reframing systems berkaitan dengan aktifitas penghargaan dari hasil yang seharusnya dicapai yang tentunya melibatkan orang orang disekitarnya. Penghargaan inilah yang nantinya akan menguatkan sikap dan affirmasi yang didengar menjadi aksi yang positif bagi perkembangannya dalam belajar. (Mufliharsi & Candra, 2. Oleh karena itu, penting bagi setiap guru untuk mengembangkan kemampuan reframing dalam berkomunikasi dengan siswa. Dalam proses belajar yang penuh dinamika, seringkali siswa menghadapi hambatan, kesalahan, atau situasi yang membuat mereka merasa gagal dan kehilangan semangat. Di sinilah peran guru sangat vital, bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang mampu mengubah sudut pandang siswa terhadap pengalaman yang mereka alami. Dengan reframing, guru dapat membantu siswa melihat sisi lain dari setiap tantangan, membangkitkan motivasi, serta menumbuhkan rasa percaya diri. Kemampuan ini tidak hanya menciptakan suasana kelas yang lebih positif dan mendukung, tetapi juga membentuk karakter siswa menjadi lebih tangguh dan optimis. Maka dari itu, sudah saatnya guru menjadikan teknik reframing sebagai bagian dari keterampilan komunikasi harian dalam praktik pembelajaran, agar proses belajar tidak hanya berlangsung secara kognitif, tetapi juga menyentuh sisi emosional dan mental peserta didik. Teknik NLP ketiga untuk membentuk pola komunikasi yang baik untuk Guru adalah Teknik modeling. Modeling berarti memberi contoh, meniru. Ini adalah proses pemberian keteladanan melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. (Susanto dkk. , 2. , dalam hal ini Guru menjadi teladan kepada peserta didiknya baik dari perkataan dan Tindakan baik di dalam kelas atau ketika di luar kelas. Karena Manusia secara alami seringkali mempelajari suatu keterampilan dengan cara meniru gerakan, cara bicara, dll. Cara seperti itu biasa disebut sebagai Simple Modeling. (Divisi Kurikulum NeoNLP, 2. Modeling memberikan kesempatan bagi guru untuk meniru pola perilaku positif dari siswa atau rekan guru yang telah berhasil dalam pembelajaran. Guru dapat meniru gaya komunikasi, strategi pengajaran, atau cara membangun hubungan dengan siswa untuk meningkatkan efektivitasnya dalam kelas. (Bandler & Grinder, 1. Modeling dapat didefinisikan sebagai sebuah proses replikasi sebuah perilaku yang excellent. Alih-alih ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1121-1132 bertanya mengapa perilaku excellent tersebut bisa dimiliki seseorang, modeling mengurai bagaimana persisnya seseorang memunculkan perilaku excellent-nya secara konsisten. Bagaimana persisnya mereka. (Yuliawan, 2014. Tujuan dari NLP Modeling adalah dapat melakukan sesuatu sebaik yang dapat dilakukan oleh pakarnya, dan dapat mengajarkan orang lain untuk melakukannya sebaik itu. (Divisi Kurikulum NeoNLP, 2. , seorang Guru bisa mengajarkan hal yang bisa di lakukan pakar, dan bisa di praktekkan oleh peserta didik. NLP modeling merujuk pada proses meniru atau mempelajari strategi berpikir, perilaku, dan pola komunikasi individu yang telah terbukti sukses, untuk kemudian diadaptasi dan diterapkan dalam konteks yang Dalam dunia pembelajaran, teknik ini dapat dimanfaatkan oleh guru untuk meniru pola-pola pengajaran yang efektif, baik dari sesama pendidik maupun dari tokoh-tokoh inspiratif yang telah menunjukkan keberhasilan dalam mendidik dan memotivasi siswa. Melalui modeling, guru tidak hanya mengadopsi teknik mengajar secara mekanis, tetapi juga mempelajari cara berpikir, sistem keyakinan, dan nilai-nilai yang mendasari keberhasilan tersebut. Di sisi lain, guru juga dapat menjadi role model bagi siswa dengan menunjukkan sikap, kebiasaan, dan cara berpikir yang positif. Hal ini penting, mengingat siswa sering kali belajar tidak hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang diteladankan oleh gurunya. Dengan menerapkan modeling, proses belajar menjadi lebih terarah dan berorientasi pada pengembangan potensi, karena siswa memiliki contoh nyata dari perilaku dan sikap yang dapat mereka tiru untuk meraih Guru dapat secara sadar membimbing siswa untuk memodel strategi belajar dari teman yang berhasil, atau dari pengalaman positif mereka sendiri. Dalam praktiknya, modeling juga membantu guru dalam merancang pembelajaran yang lebih adaptif, karena mereka belajar dari berbagai gaya mengajar dan pendekatan yang berhasil di berbagai kondisi. Oleh sebab itu, pemanfaatan NLP modeling dalam pembelajaran bukan hanya memperkaya keterampilan guru dalam mengajar, tetapi juga menciptakan kultur belajar yang positif, kolaboratif, dan berorientasi pada keberhasilan yang bisa ditiru dan di replikasi. Guru yang mampu menerapkan modeling secara efektif akan menjadi fasilitator perubahan yang mampu membimbing siswa untuk belajar tidak hanya dari teori, tetapi dari pengalaman nyata dan pola keberhasilan yang telah terbukti. Melihat kompleksitas peran guru di era pembelajaran modern, kemampuan berkomunikasi tidak lagi cukup jika hanya bersifat satu arah atau sekadar menyampaikan materi. Guru dituntut untuk mampu menjalin hubungan yang bermakna, membimbing pola pikir positif, dan menjadi teladan nyata bagi peserta didiknya. Di sinilah pendekatan Neuro-Linguistic Programming (NLP) memberikan ruang yang luas untuk berkembang. Melalui teknik rapport, guru dapat menciptakan koneksi emosional yang kuat dengan siswa, membangun kepercayaan dan kenyamanan dalam proses belajar. Teknik reframing memberi kekuatan bagi guru untuk mengubah sudut pandang siswa terhadap kesulitan atau kegagalan, menjadikannya sebagai peluang untuk tumbuh. Sementara modeling mendorong guru dan siswa untuk meniru strategi- strategi sukses, memperkuat pembelajaran melalui contoh nyata dan inspiratif. Ketiga teknik tersebut saling melengkapi dan mampu membentuk komunikasi Relevansi Neuro-Linguistic Programming. (Qadhafi, 2. Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vol. No. Juli 2025 : 1121-1132 http://jurnal. id/index. php/dedikasi pembelajaran yang lebih humanis, reflektif, dan transformatif. Oleh karena itu, semakin penting bagi para guru untuk tidak hanya memahami konsep NLP secara teoritis, tetapi juga menginternalisasikannya dalam praktik sehari-hari di dalam atau di luar kelas demi mewujudkan pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Sebagai kesimpulan, penerapan prinsip-prinsip dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP) memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kualitas komunikasi guru dalam proses pembelajaran. Teknik rapport memungkinkan guru membangun kedekatan emosional dan kepercayaan dengan siswa, menciptakan suasana kelas yang hangat dan terbuka. Teknik reframing membantu guru mengubah cara pandang siswa terhadap pengalaman belajar, menjadikan tantangan sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang. Sementara itu, modeling memungkinkan guru maupun siswa untuk meneladani pola-pola keberhasilan, sehingga proses belajar tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan karakter. Ketiga teknik ini, jika diterapkan dengan kesadaran dan konsistensi, akan memperkuat peran guru sebagai komunikator yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menginspirasi dan memberdayakan siswa. Namun, agar penerapannya lebih optimal, pemahaman guru terhadap NLP perlu diperkuat melalui pelatihan dan pendampingan yang tepat. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi para pendidik untuk mengikuti pelatihan atau workshop NLP secara langsung, agar dapat menguasai teknik-teknik tersebut secara mendalam, serta mampu menerapkannya secara efektif dalam konteks nyata di ruang kelas. Dengan bekal NLP yang kuat, guru dapat menjadi agen perubahan yang mampu membangun komunikasi pembelajaran yang lebih bermakna, personal, dan transformatif. Saran Adapun saran pada penelitian ini yaitu Untuk Guru agar meningkatkan efektivitas penerapan teknik NeuroLinguistic Programming (NLP) dalam komunikasi pembelajaran, disarankan kepada para guru untuk secara aktif mengikuti pelatihan dan workshop yang membahas tentang penerapan NLP dalam pendidikan. Melalui pelatihan tersebut, guru dapat memahami lebih dalam teknik rapport, reframing, dan modeling, serta mengasah keterampilan praktis dalam membangun komunikasi yang lebih efektif dengan siswa. Selain itu, guru juga diharapkan mampu mengadaptasi ketiga teknik tersebut secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa di kelas masing-masing, sehingga tercipta suasana belajar yang lebih positif, interaktif, dan Sedangkan saran untuk manajemen sekolah agar memberikan fasilitas untuk para guru mengikuti pelatihan atau workshop yang membahas tentang penerapan NLP dalam Pendidikan, atau bahkan mempelajari NLP secara menyeluruh, karena dengan mengikuti pelatihan atau workshop merupakan investasi yang berharga dalam keberlangsungan proses belajar mengajar di sekolah. ISSN 2548-8848 (Onlin. n Jurnal Dedikasi Pendidikan. Vo. No. Juli 2025 : 1121-1132 DAFTAR PUSTAKA