Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. PENYULUHAN PHBS DALAM PENCEGAHAN SKABIES DI PANTI ASUHAN HOLEI ROO KABUPATEN JAYAPURA. PAPUA(Phbs counseling in the prevention of scabies in holei roo orphanage, jayapura district, papu. Received: 02 Desember 2025 Revised: 10 Desember 2025 Accepted: 24 Desember 2025 Christy Wattimena1*. Zusana A. Sasarari 2. Theresie C. Herman3. Yunita Kristina4 1Program Studi Profesi Ners Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Papua. Indonesia 2,4Program Studi Sarjana Keperawatan. Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih. Papua. Indonesia 3Profesi Dokter Fakultas Kedokteran. Universitas Cenderawasih. Papua. Indonesia *e-mail: wattimenachristy@gmail. ABSTRACT Scabies is an infectious skin disease caused by the Sarcoptes scabiei mite. Scabies disease mostly affects children and the transmission can occur directly or indirectly. This community service aims to provide understanding about scabies disease in Holei Roo Orphanage. The results of the counseling activity on Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) in the prevention of scabies at Holei Roo Orphanage gave a significant positive impact on increasing the knowledge and awareness of the residents of the orphanage about the importance of maintaining personal and environmental hygiene. Through interactive and practical education, the residents of the orphanage understand the ways to prevent scabies, such as washing hands with soap, keeping the bed clean, not sharing clothes or towels, and immediately reporting if they experience symptoms. The results of the activity show that this counseling is effective in shaping preventive behavior that can minimize the spread of scabies and support the creation of a healthy and comfortable living environment in Keywords: Counseling. PHBS. Scabies. Holei Roo Orphanage ABSTRAK Skabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Penyakit scabies banyak menyerang anak-anak yang penularannya dapat terjadi secara lengsung maupun tidak langsung. Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang penyakit skabies di Panti Asuhan Holei Roo. Hasil kegiatan penyuluhan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pencegahan skabies di Panti Asuhan Holei Roo memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran para penghuni panti mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Melalui edukasi yang interaktif dan praktis, para penghuni panti memahami cara-cara pencegahan skabies, seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan tempat tidur, tidak berbagi pakaian atau handuk, serta segera melapor jika mengalami gejala. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penyuluhan ini efektif dalam membentuk perilaku preventif yang dapat meminimalisir penyebaran skabies dan mendukung terciptanya lingkungan hidup yang sehat dan nyaman di panti asuhan Kata Kunci: Penyuluhan. PHBS . Skabies. Panti Asuhan Holei Roo PENDAHULUAN Sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan dua aspek penting dalam mencegah berbagai penyakit menular, termasuk skabies. Skabies atau kudis adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei var. hominis, yang dapat menular dengan cepat melalui kontak langsung antarmanusia maupun melalui benda yang telah terkontaminasi. Penyakit ini sering kali ditemukan dalam lingkungan dengan tingkat kepadatan tinggi dan kebersihan yang kurang memadai, seperti di panti asuhan. Panti Asuhan Holei Roo, sebagai salah satu lembaga sosial yang menampung anak-anak dari berbagai latar belakang, menghadapi tantangan besar dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan penghuninya. Terbatasnya fasilitas, keterbatasan P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Christy Wattimena. Zusana A. Sasarari. Theresie C. Herman. Yunita Kristina8 pengetahuan anak-anak terhadap pentingnya perilaku hidup bersih, serta kurangnya perhatian terhadap kebiasaan higienis dalam kehidupan sehari-hari menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit kulit, termasuk skabies. Oleh karena itu, intervensi melalui penyuluhan kesehatan mengenai PHBS menjadi sangat penting untuk dilakukan secara berkala dan terstruktur di lingkungan panti asuhan(Nuraini & Wijayanti, 2016. Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu strategi promotif dan preventif dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan. Dalam konteks panti asuhan, penyuluhan tidak hanya berperan sebagai media informasi, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang dapat membentuk perilaku sehat anak-anak secara berkelanjutan. Penyuluhan tentang PHBS yang disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak panti asuhan, seperti cara mencuci tangan yang benar, pentingnya mandi secara rutin, menjaga kebersihan tempat tidur, tidak saling bertukar pakaian atau handuk, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, dapat membantu memutus rantai penularan Selain itu, penyuluhan juga dapat melibatkan pengasuh panti sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, sehingga pencegahan skabies tidak hanya bergantung pada anak-anak, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh penghuni panti (Istanti & Antara, 2. Masalah skabies di lingkungan panti asuhan menjadi sangat signifikan karena dapat berdampak terhadap kualitas hidup anak-anak. Rasa gatal yang luar biasa, terutama pada malam hari, dapat mengganggu tidur, konsentrasi belajar, bahkan berdampak psikologis terhadap anak. Bila tidak ditangani secara serius, skabies juga dapat menyebabkan infeksi sekunder akibat garukan dan menimbulkan komplikasi kulit yang lebih serius. Di sisi lain, persebaran penyakit ini cenderung cepat, terutama karena anak-anak di panti asuhan memiliki intensitas interaksi fisik yang tinggi dan sering kali berbagi barang pribadi. Kondisi ini menjadikan panti asuhan sebagai lingkungan berisiko tinggi terhadap penularan skabies. Dengan demikian, pendekatan promotif seperti penyuluhan kesehatan berbasis PHBS menjadi sangat strategis dalam menciptakan ketahanan kesehatan kolektif di lingkungan panti (Theresiana et al. , 2. Selain sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, kegiatan penyuluhan PHBS juga merupakan bagian dari tanggung jawab tenaga kesehatan atau calon tenaga kesehatan dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki secara langsung di lapangan. Penyuluhan ini diharapkan tidak hanya memberikan pemahaman teoretis, tetapi juga mampu membentuk kebiasaan baru yang positif dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari anak-anak panti. Melalui pendekatan komunikatif dan interaktif, materi penyuluhan dirancang agar mudah dipahami dan diterapkan oleh anak-anak dari berbagai jenjang usia. Aktivitas seperti demonstrasi cuci tangan, permainan edukatif, serta diskusi kelompok kecil menjadi metode yang efektif untuk menginternalisasi pesan-pesan kesehatan dalam kehidupan mereka (Wahyuni et al. , 2. Dengan latar belakang tersebut, kegiatan penyuluhan kesehatan PHBS dalam upaya pencegahan skabies di Panti Asuhan Holei Roo menjadi salah satu solusi nyata yang dapat menjawab permasalahan kesehatan yang dihadapi anak-anak panti. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran, membentuk perilaku hidup bersih dan sehat, serta menciptakan lingkungan panti yang bersih, sehat, dan nyaman. Tidak hanya berdampak pada pencegahan skabies, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup anak-anak secara keseluruhan. Penyuluhan ini menjadi awal dari upaya pembudayaan PHBS di lingkungan panti, yang pada akhirnya dapat memperkuat sistem ketahanan kesehatan berbasis komunitas secara berkelanjutan (Fetriyah et al. , 2. METODE Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan partisipatif, yang bertujuan untuk menggambarkan proses dan hasil penyuluhan kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pencegahan skabies di Panti Asuhan Holei Roo. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap kondisi kebersihan lingkungan dan perilaku anak-anak panti, melakukan pre-test dan post-test dengan pengasuh 4 orang dan anak-anak panti sebanyak 55 orang sebagai responden untuk mengetahui pengetahuan awal dan perubahan setelah penyuluhan, serta dokumentasi kegiatan berupa foto dan hasil evaluasi. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dengan cara mereduksi data, menyajikan data dalam bentuk narasi deskriptif, kemudian menarik kesimpulan untuk melihat efektivitas dan dampak dari penyuluhan yang diberikan terhadap peningkatan pemahaman dan perilaku anak-anak terkait PHBS dalam upaya pencegahan skabies (Yuliansyah, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Peran PHBS dalam Mencegah Penyakit Skabies di Lingkungan Panti Asuhan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) memiliki peran penting dalam mencegah penyebaran skabies di Panti Asuhan Holei Roo. Berdasarkan observasi awal, sebagian besar anak-anak panti belum menerapkan perilaku hidup bersih secara konsisten, seperti mencuci tangan sebelum makan, menggunakan handuk secara bersamaan, mandi dua kali sehari, serta mengganti pakaian dan sprei secara rutin. Hal ini menyebabkan beberapa anak mengalami gejala khas skabies, seperti gatal hebat di malam hari, ruam di sela-sela jari, dan luka bekas garukan. Namun, setelah dilakukan penyuluhan dan edukasi mengenai PHBS, terlihat perubahan perilaku yang cukup Anak-anak mulai memperhatikan kebersihan pribadi mereka, seperti mandi secara teratur dan tidak lagi berbagi handuk maupun pakaian. Selain itu, para pengasuh juga berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, misalnya dengan rutin menjemur kasur dan membersihkan lantai serta kamar tidur. Perubahan ini memberikan dampak positif terhadap penurunan gejala skabies di antara anak-anak panti dalam waktu dua hingga tiga minggu setelah penyuluhan. Dengan demikian. PHBS terbukti berperan besar sebagai strategi preventif dalam mengatasi skabies, terutama di lingkungan yang padat seperti panti asuhan, yang rentan terhadap penularan penyakit kulit akibat kedekatan fisik dan kebiasaan berbagi barang pribadi. Gambar 1. Kondisi Kulit beberapa anak panti Penyuluhan Kesehatan sebagai Media Edukasi dan Perubahan Perilaku Anak Panti P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Christy Wattimena. Zusana A. Sasarari. Theresie C. Herman. Yunita Kristina8 Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Panti Asuhan Holei Roo memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan perubahan perilaku anak-anak dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sebelum penyuluhan dilakukan, sebagian besar anak-anak belum memahami penyebab dan cara penularan skabies serta belum memiliki kebiasaan hidup bersih yang konsisten, seperti mencuci tangan sebelum makan, mandi dua kali sehari, dan menjaga kebersihan tempat tidur. Setelah penyuluhan berlangsung, terjadi peningkatan pemahaman yang signifikan hal ini terlihat dari hasil pretes dan postest serta diskusi interaktif dan evaluasi lisan yang menunjukkan bahwa lebih dari 80% anak-anak mampu menjelaskan kembali materi yang disampaikan, termasuk gejala skabies dan cara pencegahannya. Selain itu, dalam pengamatan pasca-penyuluhan, anak-anak mulai menunjukkan perubahan perilaku seperti mencuci tangan menggunakan sabun di tempat yang telah disediakan, menghindari pemakaian handuk dan pakaian secara bergantian, serta membersihkan kamar secara rutin. Aktivitas penyuluhan yang disertai praktik langsung dan permainan edukatif terbukti efektif dalam meningkatkan antusiasme serta daya ingat anak-anak terhadap pesan-pesan kesehatan. Dengan demikian, penyuluhan kesehatan tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga berhasil menjadi sarana transformasi perilaku yang mendukung upaya pencegahan skabies secara berkelanjutan di lingkungan panti asuhan. Gambar 2. Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan Efektivitas Penyuluhan PHBS dalam Menekan Risiko Penyebaran Skabies Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi selama dan setelah pelaksanaan penyuluhan kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), diperoleh beberapa temuan penting yang menunjukkan adanya perubahan positif pada penghuni Panti Asuhan Holei Roo terkait upaya pencegahan skabies. Sebelum penyuluhan dilakukan, sebagian besar anak-anak belum memahami penyebab dan cara penularan skabies. Mereka juga belum memiliki kebiasaan mencuci tangan dengan benar, masih sering berbagi handuk dan pakaian, serta kurang memperhatikan kebersihan tempat tidur. Lingkungan panti juga belum menerapkan standar kebersihan yang memadai, seperti kurangnya ventilasi kamar, tumpukan pakaian kotor, dan tempat tidur yang jarang dijemur. Setelah penyuluhan diberikan, terjadi peningkatan pemahaman tentang skabies dan cara Hal ini ditunjukkan melalui hasil wawancara, di mana anak-anak dapat menjelaskan kembali penyebab skabies, cara penularan, dan langkah-langkah pencegahan secara sederhana namun Dan dilihat dari hasil pretest dan postest yang dilakukan. Anak-anak juga mulai menerapkan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, mandi secara rutin dua kali sehari, dan tidak lagi saling meminjam barang pribadi. Selain itu, mereka mulai membersihkan tempat tidur secara rutin dan mengganti sprei setiap minggu. Pengasuh panti juga menunjukkan partisipasi aktif dengan membuat jadwal bersih-bersih kamar bersama anak-anak dan mengawasi kebersihan pribadi para penghuni P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Pretest Postest Gambar 3. Hasil uji pemahaman scabies pada awal dan akhir kegiatan pengabdian. Keterangan Pertanyaan: Tungau penyebab scabies bernama tungau Sarcoptes scabiei? Tungau penyebab scabies hidup dipermukaan kulit tidak masuk ke dalam kulit? Penyakit scabies merupakan penyakit menular? Scabies hanya bisa menyerang orang dewasa? Penggunaan pakaian bersama tidak dapat menularkan scabies? Mandi secara teratur dapat mencegah scabies? Scabies dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan? Mandi air panas dapat membunuh tungau scabies? Scabies tidak bisa kambuh setelah sembuh sekali? Gejala Utama Scabies adalah gatal terutama pada malam hari? Dari sisi efektivitas, penyuluhan terbukti mampu meningkatkan kesadaran serta mengubah perilaku anak-anak dalam menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan. Dalam kurun waktu dua minggu setelah kegiatan. Lingkungan panti terlihat lebih bersih dan tertata, serta tercipta suasana yang lebih nyaman dan sehat. Secara umum, kegiatan penyuluhan ini dinilai berhasil karena mampu membentuk kesadaran kolektif dan perilaku preventif yang sesuai dengan prinsip PHBS, yang berdampak langsung pada penurunan risiko penyebaran skabies di Panti Asuhan Holei Roo. PEMBAHASAN Peran PHBS dalam Mencegah Penyakit Skabies di Lingkungan Panti Asuhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) memiliki peran sentral dalam mencegah penyebaran berbagai penyakit menular, salah satunya adalah skabies. Dalam konteks kesehatan masyarakat. PHBS didefinisikan sebagai sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan individu atau kelompok mampu menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan yang sehat. Teori perilaku kesehatan (Health Belief Mode. menjelaskan bahwa seseorang akan melakukan tindakan preventif terhadap penyakit jika ia menyadari bahwa dirinya berisiko, memahami manfaat dari perilaku tersebut, dan merasa yakin bahwa hambatan dalam penerapannya dapat diatasi. Dalam hal ini, penerapan PHBS di lingkungan panti asuhan menjadi penting karena para penghuni, yaitu anak-anak, hidup dalam kondisi komunal yang memungkinkan interaksi fisik yang intens dan berbagi fasilitas Bersama (Saumah & Manalu, 2. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Christy Wattimena. Zusana A. Sasarari. Theresie C. Herman. Yunita Kristina8 Skabies sebagai penyakit kulit menular sangat bergantung pada faktor kebersihan individu dan Menurut teori ekologi sosial dari McLeroy, perilaku kesehatan dipengaruhi oleh berbagai tingkatan, termasuk faktor individu . engetahuan, sika. , interpersonal . ukungan dari teman dan pengasu. , serta faktor lingkungan . ondisi fisik dan sosial tempat tingga. Anak-anak panti yang tidak memiliki kesadaran terhadap kebersihan diri akan berisiko lebih tinggi tertular skabies, apalagi bila mereka saling meminjam pakaian, tidur di tempat yang sama, dan tidak menjaga kebersihan tubuh secara teratur. Di sinilah PHBS berfungsi sebagai dasar yang membentuk perilaku sehat secara Ketika anak-anak mulai dibiasakan mencuci tangan dengan sabun, mandi dua kali sehari, menjaga kebersihan kuku, dan tidak berbagi barang pribadi, maka risiko penularan tungau Sarcoptes scabiei dapat diminimalkan secara signifikan. Implementasi PHBS tidak hanya melibatkan aspek pengetahuan, tetapi juga pembentukan Menurut teori behavioristik, perubahan perilaku dapat terjadi melalui pembiasaan dan penguatan positif. Jika perilaku bersih dipraktikkan secara terus-menerus dan mendapatkan dukungan dari lingkungan, maka anak-anak akan terbiasa dan menjadikannya sebagai gaya hidup. Di lingkungan panti, peran pengasuh dan fasilitas sangat menentukan keberhasilan PHBS. Pengasuh berfungsi sebagai role model yang menanamkan nilai kebersihan melalui teladan dan pengawasan. Sementara itu, fasilitas seperti ketersediaan air bersih, sabun, tempat tidur yang layak, serta ruang yang bersih dan ventilatif menjadi pendukung utama penerapan PHBS. Tanpa dukungan lingkungan fisik yang memadai, perilaku sehat yang diharapkan sulit untuk tumbuh secara konsisten(Setiawati & Karima. Lebih lanjut, teori difusi inovasi dari Rogers menjelaskan bahwa adopsi perilaku baru di masyarakat, termasuk PHBS, sangat bergantung pada persepsi terhadap manfaat, kemudahan, serta dukungan sosial. Ketika anak-anak panti mulai merasakan manfaat dari kebersihan diriAimisalnya, tidak lagi merasakan gatal, tidur lebih nyenyak, atau merasa lebih percaya diriAimaka mereka akan cenderung mempertahankan dan bahkan menyebarkan perilaku tersebut kepada teman-temannya. Penyebaran praktik PHBS secara horizontal ini sangat penting dalam menciptakan budaya hidup sehat secara kolektif. Oleh karena itu, dalam upaya pencegahan skabies, penting tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun persepsi positif dan lingkungan yang mendukung untuk menginternalisasi perilaku bersih. Dalam konteks panti asuhan, penerapan PHBS sebagai upaya pencegahan skabies juga harus mempertimbangkan aspek emosional dan sosial anak. Sebagaimana dijelaskan dalam teori pembelajaran sosial Bandura, anak-anak belajar dari mengamati lingkungan sosialnya. Jika dalam lingkungan panti terdapat norma-norma sosial yang kuat tentang pentingnya kebersihan, maka anakanak akan terdorong untuk menyesuaikan perilaku mereka. Sebaliknya, jika kebersihan tidak menjadi nilai yang dijunjung, maka perilaku sehat pun sulit bertahan. Oleh sebab itu, program penyuluhan PHBS tidak hanya menargetkan anak-anak sebagai individu, tetapi juga komunitas panti secara menyeluruh sebagai sistem sosial yang saling memengaruhi(Oktarina, 2. Dengan demikian. PHBS memainkan peran fundamental dalam upaya pencegahan skabies di panti asuhan. Pendekatan ini tidak hanya melindungi anak-anak dari penyakit, tetapi juga membentuk perilaku hidup bersih sebagai investasi jangka panjang terhadap kualitas hidup mereka. Melalui penerapan teori perilaku dan dukungan lingkungan yang memadai. PHBS dapat menjadi landasan kuat untuk membangun komunitas panti yang sehat, mandiri, dan tangguh dalam menghadapi risiko penyakit menular. Penyuluhan Kesehatan sebagai Media Edukasi dan Perubahan Perilaku Anak Panti Penyuluhan kesehatan memiliki peran strategis sebagai media edukasi dalam upaya mengubah perilaku individu maupun kelompok, termasuk anak-anak yang tinggal di panti asuhan. Dalam konteks penyuluhan PHBS di Panti Asuhan Holei Roo, perubahan perilaku yang diharapkan adalah P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. meningkatnya kesadaran anak terhadap pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan guna mencegah penyakit skabies. Analisis ini dapat ditinjau melalui teori perubahan perilaku kesehatan, salah satunya Health Belief Model (HBM), yang menjelaskan bahwa seseorang akan mengubah perilakunya jika ia merasa memiliki kerentanan terhadap suatu penyakit . erceived susceptibilit. , memahami tingkat keparahan dampaknya . erceived severit. , meyakini adanya manfaat dari tindakan pencegahan . erceived benefi. , serta merasa hambatan untuk berubah dapat diatasi . erceived Dalam penyuluhan ini, materi yang diberikan dirancang untuk membangkitkan persepsi anakanak terhadap risiko tinggi tertular skabies akibat kebersihan diri yang buruk, sekaligus menjelaskan dampak negatifnya terhadap kesehatan seperti gatal, infeksi kulit, dan ketidaknyamanan dalam Dengan demikian, melalui pendekatan edukatif, anak-anak mulai menyadari urgensi perubahan perilaku mereka. Teori lain yang relevan adalah Teori Belajar Sosial dari Albert Bandura, yang menyatakan bahwa perilaku baru dapat dipelajari melalui observasi dan peniruan model yang dianggap relevan atau berpengaruh. Dalam kegiatan penyuluhan ini, metode demonstrasi menjadi kunci untuk membentuk perilaku higienis. Ketika fasilitator menunjukkan cara mencuci tangan yang benar, menjaga kebersihan tempat tidur, atau menyortir pakaian bersih dan kotor, anak-anak tidak hanya menerima informasi secara verbal, tetapi juga mengamati dan meniru secara langsung. Proses ini diperkuat melalui keterlibatan aktif mereka dalam praktik, yang memungkinkan pengalaman belajar konkret yang lebih membekas. Hal ini membuktikan bahwa penyuluhan kesehatan yang disampaikan secara interaktif dan menyenangkan akan lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebersihan, dibandingkan penyuluhan yang bersifat satu arah dan teoretis (Ulya et al. , 2. Selain itu. Teori Difusi Inovasi dari Everett Rogers juga relevan dalam menganalisis keberhasilan penyuluhan ini sebagai agen perubahan. Penyuluhan PHBS di panti asuhan dapat dianggap sebagai bentuk inovasi dalam bentuk pengetahuan dan praktik baru yang diperkenalkan kepada anak-anak dan pengasuh. Dalam proses difusi, anak-anak sebagai kelompok sasaran melalui lima tahap yaitu: pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Penyuluhan berperan pada tahap awal sebagai sumber pengetahuan dan persuasi, sementara praktik langsung serta pengawasan pasca-penyuluhan mendorong pengambilan keputusan untuk mulai menerapkan perilaku Setelah itu, pengulangan kebiasaan yang sama dan dukungan dari pengasuh serta teman sebaya akan menguatkan keputusan tersebut dan membentuk pola perilaku baru yang berkelanjutan. Lebih lanjut, pendekatan partisipatif yang digunakan dalam penyuluhan ini sejalan dengan prinsip pendidikan orang dewasa . dari Malcolm Knowles, meskipun diterapkan pada anakanak usia sekolah. Dalam pendekatan ini, peserta dianggap sebagai subjek aktif dalam proses belajar, bukan sekadar objek penerima informasi. Oleh karena itu, anak-anak panti diajak berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta melakukan simulasi. Keterlibatan aktif ini menciptakan rasa memiliki . ense of ownershi. terhadap informasi yang diterima, sehingga lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa penyuluhan kesehatan yang dirancang secara komunikatif, menarik, dan partisipatif, tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mampu membentuk sikap dan perilaku yang lebih sehat (Handayani et al. , 2. Secara keseluruhan, hasil penyuluhan menunjukkan bahwa penyampaian materi dengan pendekatan yang tepat mampu membawa perubahan positif terhadap perilaku anak-anak dalam menjaga kebersihan dan mencegah skabies. Dengan landasan teori-teori perubahan perilaku tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan kesehatan berperan penting tidak hanya sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai alat transformasi perilaku yang efektif. Hal ini semakin memperkuat posisi penyuluhan sebagai intervensi promotif dan preventif dalam menciptakan lingkungan panti yang sehat, bersih, dan nyaman bagi seluruh penghuninya. Maka dari itu, penyuluhan PHBS perlu dilakukan P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Christy Wattimena. Zusana A. Sasarari. Theresie C. Herman. Yunita Kristina8 secara berkala dan terstruktur agar perilaku yang terbentuk dapat dipertahankan dalam jangka panjang serta mampu mencegah penyakit lain yang berpotensi muncul di lingkungan panti. Efektivitas Penyuluhan PHBS dalam Menekan Risiko Penyebaran Skabies Penyuluhan kesehatan sebagai salah satu bentuk intervensi promotif dan preventif memiliki peran sentral dalam membentuk perubahan perilaku individu maupun kelompok terhadap risiko penyakit tertentu, termasuk skabies. Dalam konteks ini, efektivitas penyuluhan PHBS di Panti Asuhan Holei Roo dapat dianalisis melalui teori Health Belief Model (HBM), yang menekankan bahwa perubahan perilaku kesehatan dipengaruhi oleh persepsi individu terhadap kerentanan, keseriusan penyakit, manfaat tindakan, serta hambatan dalam melakukan tindakan tersebut. Sebelum penyuluhan dilakukan, anak-anak panti belum menyadari tingkat kerentanan mereka terhadap penyakit kulit seperti skabies. Mereka menganggap gatal-gatal sebagai hal biasa dan tidak menghubungkannya dengan perilaku kebersihan yang buruk. Melalui penyuluhan, mereka mulai memahami bahwa skabies bukan hanya sekadar gatal, tetapi penyakit menular yang dapat memburuk dan menular dengan cepat jika tidak dicegah dengan pola hidup bersih. Penyuluhan ini meningkatkan persepsi mereka terhadap keseriusan penyakit, sehingga timbul motivasi untuk menghindarinya dengan menerapkan PHBS. Penyuluhan juga efektif dalam mengubah persepsi manfaat dari tindakan kebersihan seperti mencuci tangan, mandi rutin, dan menjaga kebersihan tempat tidur. Sebelumnya, anak-anak mungkin merasa malas atau tidak memahami pentingnya tindakan tersebut. Namun setelah dijelaskan melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, mereka mulai menyadari bahwa tindakan kecil tersebut memiliki dampak besar dalam mencegah penyakit. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran sosial Albert Bandura, yang menyatakan bahwa perilaku baru dapat dipelajari melalui observasi dan pengalaman langsung, serta diperkuat dengan adanya contoh atau role model. Dalam hal ini, penyuluh dan pengasuh panti bertindak sebagai model perilaku bersih yang ditiru oleh anak-anak. Dengan pendekatan demonstratif seperti simulasi cuci tangan dan penataan kamar tidur, anak-anak belajar secara visual dan kinestetik, yang lebih mudah diinternalisasi dibandingkan hanya penjelasan verbal (Nuraini & Wijayanti, 2016. Selain itu, efektivitas penyuluhan dapat dianalisis menggunakan teori perubahan perilaku menurut Lawrence Green, yaitu PRECEDE-PROCEED Model, yang menjelaskan bahwa perilaku kesehatan ditentukan oleh tiga faktor utama: predisposing . engetahuan dan sika. , enabling . arana dan dukunga. , dan reinforcing . enguatan atau dorongan berkelanjuta. Dalam kegiatan ini, penyuluhan meningkatkan aspek predisposing melalui peningkatan pengetahuan anak-anak tentang skabies dan PHBS. Enabling factor diperkuat dengan tersedianya fasilitas pendukung seperti sabun, handuk bersih, dan kegiatan bersih-bersih bersama. Sementara reinforcing factor dilakukan melalui keterlibatan pengasuh panti dalam memberikan pengawasan dan pujian terhadap perilaku bersih anakanak setelah penyuluhan. Kombinasi dari ketiga faktor ini menjadikan penyuluhan tidak hanya informatif, tetapi juga transformasional. Selanjutnya, dalam tinjauan teori komunikasi kesehatan, penyuluhan yang dilakukan dengan pendekatan interaktif mampu menciptakan proses komunikasi dua arah yang efektif antara penyuluh dan peserta. Anak-anak bukan hanya mendengar informasi, tetapi juga diberi kesempatan untuk bertanya, mencoba langsung, dan mendiskusikan pengalaman pribadi mereka. Pendekatan ini terbukti meningkatkan pemahaman dan memperkuat komitmen untuk menerapkan kebiasaan baru. Efektivitas ini terlihat dari perubahan perilaku yang diamati pasca-penyuluhan, seperti peningkatan frekuensi mandi, mencuci tangan sebelum makan, tidak saling bertukar pakaian, serta peningkatan kesadaran terhadap kebersihan lingkungan kamar. Dari hasil observasi dan wawancara, mayoritas anak-anak mengaku merasa lebih sehat dan nyaman setelah menerapkan kebiasaan bersih yang baru. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku sebagai hasil dari penyuluhan tidak hanya bersifat sementara, tetapi memiliki potensi berkelanjutan jika terus diperkuat (Nuraini & Wijayanti, 2016. P-ISSN 2829-5838 | E-ISSN 2829-2669 Jurnal Abdikemas Vol. 7 Nomor 2. Desember 2025 DOI: 10. 36086/abdikemas. Dengan demikian, berdasarkan berbagai teori di atas, dapat disimpulkan bahwa penyuluhan PHBS di Panti Asuhan Holei Roo telah terbukti efektif dalam menekan risiko penyebaran skabies. Penyuluhan ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk kesadaran dan perilaku nyata melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan komunikatif. Keberhasilan ini semakin menunjukkan bahwa intervensi berbasis edukasi kesehatan yang terencana dan berorientasi pada perubahan perilaku merupakan strategi yang tepat dalam mencegah penyakit menular, terutama di lingkungan rentan seperti panti asuhan. KESIMPULAN DAN SARAN Penyuluhan kesehatan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam pencegahan skabies di Panti Asuhan Holei Roo memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan kesadaran para penghuni panti mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan Melalui edukasi yang interaktif dan praktis, para penghuni panti memahami cara-cara pencegahan skabies, seperti mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan tempat tidur, tidak berbagi pakaian atau handuk, serta segera melapor jika mengalami gejala. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa penyuluhan ini efektif dalam membentuk perilaku preventif yang dapat meminimalisir penyebaran skabies dan mendukung terciptanya lingkungan hidup yang sehat dan nyaman di panti Saran untuk bisa diadakan pengobatan atau pemeriksaan kesehatan di panti asuhan Holei Roo dengan bekerja sama dengan pihak Puskesmas setempat. DAFTAR PUSTAKA