Jurnal Abdimas Prakasa Dakara https://doi. org/10. 37640/japd. e-ISSN 2776-768X Peningkatan Literasi Kewirausahaan Digital Bagi Pengurus Panti Asuhan Sosial Tunas Bangsa Princhita Nabila Maram Pahlawan1*. Risty Rahma Dafina2 Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta *princhitanabila@upnvj. Abstrak Pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia membuka peluang baru dalam dunia usaha, namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh institusi sosial seperti panti asuhan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan kewirausahaan digital bagi para pengurus Panti Asuhan Sosial Tunas Bangsa, sehingga mereka dapat mengembangkan kemandirian ekonomi secara berkelanjutan. Metode kegiatan dilaksanakan dalam bentuk ceramah, diskusi, dan tanya jawab secara partisipatif, dengan materi seputar dasar kewirausahaan, strategi bisnis digital, dan pemanfaatan e-commerce. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2024 dan diikuti oleh empat orang pengurus panti. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan mampu memahami konsep dasar kewirausahaan digital yang disampaikan. Kesimpulannya, edukasi kewirausahaan digital berperan penting dalam mendorong pengurus panti untuk mulai berpikir kreatif dan mandiri secara ekonomi melalui pemanfaatan teknologi digital. Kata kunci: kewirausahaan digital, e-commerce, pengabdian masyarakat, panti asuhan, ekonomi Dikirim: 05 Februari 2025 Direvisi: 29 April 2025 Diterima: 29 April 2025 PENDAHULUAN Transformasi digital telah mendorong perubahan signifikan dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia usaha. Ekonomi digital di Indonesia mengalami pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan meningkatnya transaksi e-commerce dan penggunaan platform digital oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Laporan Google. Temasek, dan Bain & Company . menyebutkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai USD 130 miliar pada tahun 2025. Namun, pemanfaatan peluang tersebut belum merata, terutama di kalangan institusi sosial seperti panti asuhan, yang pada umumnya masih bergantung pada bantuan donatur dan belum memiliki strategi ekonomi yang berkelanjutan. Panti Asuhan Sosial Tunas Bangsa merupakan salah satu lembaga sosial yang menghadapi tantangan dalam mengelola sumber daya ekonomi secara mandiri. Minimnya pemahaman tentang kewirausahaan digital, keterbatasan akses terhadap pelatihan, dan rendahnya literasi digital di kalangan pengurus menjadi hambatan utama dalam mengembangkan unit usaha atau layanan yang berbasis teknologi. Padahal, dalam konteks pemberdayaan sosial, panti asuhan memiliki potensi untuk mengelola usaha produktif sederhana yang dapat mendukung keberlanjutan lembaga dan meningkatkan kualitas layanan kepada anak asuh. Permasalahan mitra ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi pemanfaatan teknologi dan Content from this work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. Peningkatan Literasi Kewirausahaan Digital A | 68 realitas di lapangan, yang perlu diintervensi melalui pendekatan edukatif yang Urgensi program ini diperkuat oleh pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan panti asuhan, agar tidak hanya menjalankan fungsi sosial secara konvensional, tetapi juga mampu mengadopsi praktik kewirausahaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kewirausahaan digital dapat meningkatkan kemandirian ekonomi dan literasi digital pada kelompok-kelompok rentan atau terpinggirkan (Fitriyani & Nurchayati, 2021. Jannah et al. , 2. Program pelatihan semacam ini juga berperan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem kewirausahaan sosial yang inklusif dan berbasis komunitas. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar pengurus Panti Asuhan Sosial Tunas Bangsa dalam bidang kewirausahaan Tujuan ini diharapkan dapat tercapai melalui penyampaian materi yang aplikatif, mudah dipahami, dan relevan dengan kondisi serta kebutuhan mitra. Sasaran jangka panjang dari kegiatan ini adalah terbentuknya kesadaran dan inisiatif usaha mandiri berbasis digital yang dapat mendukung keberlangsungan operasional panti secara lebih otonom. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatifpartisipatif yang berorientasi pada kebutuhan mitra, yakni pengurus Panti Asuhan Sosial Tunas Bangsa. Metode ini dipilih karena sesuai dengan prinsip pemberdayaan yang menempatkan mitra sebagai subjek aktif pembelajar, bukan hanya sebagai penerima manfaat. Dalam perspektif pemberdayaan, seperti yang dikemukakan oleh Ife dan Tesoriero . , pendekatan partisipatif memungkinkan proses pembelajaran berjalan dua arah dan mendorong transformasi sosial melalui dialog dan keterlibatan aktif. Oleh karena itu, metode pelaksanaan kegiatan ini dirancang dalam beberapa tahap sistematis: identifikasi kebutuhan mitra, perancangan materi pelatihan, pelaksanaan pelatihan, dan evaluasi kegiatan. Gambar 1. Diagram alur metode pelaksanaan PKM Tahap pertama diawali dengan observasi dan komunikasi informal bersama pengurus panti, guna mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan aktual mereka. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa meskipun pengurus memiliki minat terhadap pengembangan usaha mandiri, mereka belum memahami konsep kewirausahaan digital dan belum memiliki pengalaman dalam memanfaatkan platform digital sebagai alat produksi maupun pemasaran. Kondisi ini sesuai dengan temuan 69 | Pahlawan & Dafina Jannah. Arifin, dan Subekti . yang menyebutkan bahwa rendahnya literasi digital masih menjadi tantangan utama dalam upaya pemberdayaan ekonomi berbasis teknologi di kalangan masyarakat akar rumput, termasuk kelompok pengelola lembaga sosial. Berdasarkan temuan tersebut, tahap kedua difokuskan pada penyusunan materi yang kontekstual, sederhana, dan aplikatif. Materi pelatihan meliputi pemahaman dasar kewirausahaan, pengenalan ekosistem bisnis digital, strategi memulai usaha online dengan sumber daya terbatas, serta pemanfaatan media sosial dan ecommerce sebagai saluran pemasaran. Materi ini dirancang dengan memperhatikan prinsip pembelajaran orang dewasa . , yaitu memfokuskan pada pengalaman konkret, pemecahan masalah nyata, dan keterlibatan aktif peserta dalam proses belajar (Knowles. Holton, & Swanson, 2. Tahap ketiga merupakan inti kegiatan, yaitu pelaksanaan edukasi kewirausahaan digital yang dilaksanakan pada 26 Oktober 2024 dan diikuti oleh empat orang pengurus panti. Kegiatan disampaikan melalui kombinasi metode ceramah interaktif, diskusi kelompok kecil, studi kasus ringan, dan refleksi Dalam sesi ceramah, peserta dikenalkan dengan konsep bisnis digital yang sederhana dan berbasis kebutuhan lokal. Diskusi kelompok digunakan untuk memfasilitasi pemikiran kritis terhadap potensi usaha yang bisa dikembangkan sesuai dengan konteks panti. Sementara itu, studi kasus digunakan untuk menggambarkan model-model usaha digital sederhana seperti penjualan produk makanan, kerajinan anak asuh, atau jasa percetakan online yang bisa dijalankan secara bertahap. Pendekatan ini sejalan dengan model experiential learning dari Kolb . , yang menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman langsung dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan peserta. Tahap terakhir adalah evaluasi kegiatan, yang dilakukan secara kualitatif melalui pengamatan interaksi peserta selama kegiatan, catatan refleksi, serta wawancara singkat setelah pelatihan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta menunjukkan antusiasme tinggi dan mengungkapkan pemahaman awal yang baik terhadap konsep kewirausahaan digital. Mereka juga menyampaikan beberapa gagasan usaha potensial seperti memanfaatkan media sosial untuk promosi makanan anak asuh, menjual kerajinan tangan, dan membangun akun digital panti yang berorientasi pada wirausaha sosial. Hal ini mencerminkan bahwa pendekatan yang digunakan sesuai dengan kondisi mitra dan mampu menjawab permasalahan mereka secara langsung. Secara keseluruhan, metode pelaksanaan yang digunakan dalam program ini dirancang secara kontekstual, adaptif, dan sesuai dengan prinsip pemberdayaan berbasis komunitas. Kegiatan ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kritis dan motivasi internal bagi pengurus panti untuk memulai langkah awal dalam mengembangkan usaha digital yang berkelanjutan. Dengan demikian, pendekatan ini terbukti selaras dengan tujuan program, serta menjawab tantangan riil mitra melalui strategi edukasi yang tepat guna. HASIL DAN PEMBAHASAN Peningkatan Literasi Kewirausahaan Digital A | 70 Kegiatan ini dipersiapkan 1 minggu sebelum kegiatan ini dilakukan. Hal pertama yang dilakukan adalah berkoordinasi dengan pihak panti asuhan untuk mengkonfirmasi peserta yang ikut dalam kegiatan ini. Dalam hari pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat yang dibantu oleh beberapa mahasiswa dalam menyiapkan tempat kegiatan, mempersiapkan konsumsi yang akan diberikan kepada peserta, mencetak sertifikat sebagai kenang-kenangan yang diberikan kepada kepala pengurus panti asuhan. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan baik dan lancar, dan diikuti oleh pengurus Panti Asuhan Tunas Bangsa yang berjumlah 4 orang, berdasarkan pengurus yang bertugas di hari itu. Sebagai narasumber dalam kegiatan ini terdiri dari Dosen Jurusan Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta, yaitu Princhita Nabila Maram Pahlawan. Sc. , dan Risty Rahma Dafina. , dan dibantu juga oleh mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Manajemen dalam menyiapkan Kegiatan ini disimak dan diikuti oleh seluruh peserta dengan sangat Pembukaan yang diberikan oleh Ibu Risty Rahma Dafina. menjelaskan maksud dari dilaksanakannya Pengabdian Kepada Masyarakat ini kepada seluruh peserta yang hadir dalam kegiatan ini. Selanjutnya dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Princhita Nabila Maram Pahlawan. Sc. tentang kewirausahaan berbasis digital, dan di akhir setelah pemberian materi diadakannya diskusi yang dilakukan dengan seluruh peserta untuk mengetahui pemahaman mereka tentang materi yang disampaikan selama ceramah dilakukan. Setelah dilakukan diskusi dapat disimpulkan bahwa mereka sudah memahami materi yang telah disampaikan oleh penceramah tentang kewirausahaan digital. Kegiatan ini juga masuk kedalam laman Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta. Gambar 2. Laman Fakultas Ekonomi dan Bisnis tentang kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Panti Asuhan Tunas Bangsa. Cipayung. Jakarta Timur Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta menunjukkan respons positif dan antusiasme tinggi selama pelatihan berlangsung. Dalam sesi diskusi, peserta mampu mengidentifikasi potensi usaha yang dapat dikembangkan, seperti penjualan produk kerajinan tangan anak-anak, jasa cetak online berbasis komunitas, 71 | Pahlawan & Dafina dan penjualan makanan ringan melalui platform media sosial. Observasi fasilitator mencatat bahwa tiga dari empat peserta dapat menyebutkan kembali minimal tiga platform e-commerce, dua strategi pemasaran digital, dan memahami alur sederhana proses penjualan online dalam waktu satu hari pelatihan. Hal ini menunjukkan peningkatan pemahaman dan kesadaran praktis yang signifikan dibandingkan sebelum pelatihan. Hasil ini sejalan dengan temuan Saryono et al. , yang menyatakan bahwa peningkatan keterampilan literasi digital melalui pelatihan langsung dapat memberdayakan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan pelayanan dan kemandirian ekonomi. Dalam konteks ini, pengurus panti asuhan yang sebelumnya bergantung pada sumbangan mulai memahami pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi untuk mendukung keberlanjutan Dari perspektif teori pemberdayaan komunitas, kegiatan ini mengimplementasikan prinsip dasar sebagaimana dikemukakan oleh Ife dan Tesoriero . , yaitu mendorong partisipasi aktif, penguatan kapasitas lokal, dan pengembangan solusi berbasis konteks. Melalui proses diskusi dan studi kasus, peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga belajar mengidentifikasi potensi yang dimiliki panti asuhanAibaik dari segi produk, keterampilan anak asuh, maupun jejaring sosial yang sudah terbentukAiuntuk dijadikan sumber daya usaha. Gambar 3. infografis ringkasan hasil pelatihan kewirausahaan digital di Panti Asuhan Sosial Tunas Bangsa Selain itu, kegiatan ini selaras dengan pendekatan experiential learning (Kolb, 1. , yang menekankan pentingnya pembelajaran melalui pengalaman langsung. Dengan menyusun ide usaha sendiri dan mensimulasikan strategi pemasaran secara praktis, peserta mengalami sendiri proses berpikir kewirausahaan, sehingga pengetahuan tidak hanya terserap secara kognitif, tetapi juga membentuk kebiasaan dan motivasi internal. Peserta menyampaikan bahwa setelah mengikuti pelatihan, mereka merasa lebih percaya diri untuk memulai langkah-langkah kecil, seperti Peningkatan Literasi Kewirausahaan Digital A | 72 membuat akun media sosial panti yang digunakan untuk promosi kegiatan atau Data hasil umpan balik singkat yang dihimpun melalui kuesioner evaluasi menunjukkan bahwa . 100% peserta merasa kegiatan ini relevan dan sesuai dengan kebutuhan mereka, . 75% peserta menyatakan memahami materi dengan baik, . 50% peserta menyatakan siap menerapkan ide usaha dalam waktu dekat. Semua peserta mengusulkan agar pelatihan ini dilanjutkan dengan pendampingan teknis, terutama dalam pembuatan akun bisnis dan manajemen digital sederhana. Fakta ini menunjukkan bahwa selain memberikan pengetahuan baru, kegiatan ini juga membangkitkan motivasi kolektif untuk melakukan perubahan. Dalam hal ini, ketercapaian hasil program sangat erat dengan metode pendekatan yang digunakan yakni partisipatif, aplikatif, dan berbasis praktik langsung. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini telah memberikan dampak positif secara kognitif, afektif, dan sosial terhadap mitra sasaran. Pengurus panti tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengalami peningkatan motivasi, kesadaran akan potensi lokal, serta keterampilan awal yang menjadi bekal untuk memulai perjalanan kewirausahaan digital. Hasil ini menunjukkan bahwa model pelatihan semacam ini layak untuk direplikasi pada komunitas sosial lain dengan pendekatan yang serupa, disesuaikan dengan konteks lokal dan kebutuhan spesifik penerima manfaat. SIMPULAN Kegiatan pelatihan kewirausahaan digital bagi pengurus Panti Asuhan Sosial Tunas Bangsa berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran peserta terhadap pentingnya adaptasi teknologi dalam upaya menciptakan kemandirian ekonomi. Melalui metode ceramah interaktif, diskusi, dan simulasi, peserta mampu memahami konsep e-commerce, strategi pemasaran digital, serta menyusun ide usaha sederhana berbasis potensi lokal. Hasil ini menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan tujuan program, yaitu memberikan bekal literasi digital yang aplikatif dan memberdayakan. Peningkatan antusiasme dan kesiapan peserta untuk memulai usaha mencerminkan efektivitas pendekatan partisipatif yang digunakan. Untuk keberlanjutan program, diperlukan pendampingan teknis lanjutan seperti pelatihan manajemen usaha digital, pembuatan konten promosi, serta dukungan kelembagaan agar panti dapat mengembangkan unit usaha sosial berbasis digital secara berkelanjutan dan berdampak luas. DAFTAR PUSTAKA