Anangga Widya Pradipta Penerapan PBL Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Mata Kuliah Evaluasi Pendidikan Mahasiswa 2017/2018 Anangga Widya Pradipta ananggawidya@budiutomomalang. Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Pendidikan Ilmu Eksakta dan Keolahragaan IKIP Budi Utomo Malang Abstract This study aims to improve the understanding of the concept of Educational Evaluation through the implementation of PBL (Problem-based learnin. This type of research is a classroom action research that includes 4 steps of activities in 1 cycle of planning, action, observation and reflection. The research subjects are and lecturers in the fourth semester of academic year 2016/2017. All are given action using PBL (Problem-based learnin. Data collection techniques used were interviews, observations, and tests. The results of this study indicate that the use of PBL (Problem-based learnin. can improve the understanding of the concept of PJKR IKIP Budi Utomo Malang up to very good criteria in cycle i. Aspects of student concept comprehension increase from the average pre-action score of 56 to Keywords: PBL (Problem-based learnin. Concept comprehension. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep Evaluasi Pendidikan melalui implementasi PBL (Problem-based learnin. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang mencakup 4 langkah kegiatan dalam 1 siklus yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian yaitu dan dosen pada semester keempat tahun ajaran 2016/2017. Seluruhmahasiswa diberi tindakan menggunakan PBL (Problem-based learnin. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan PBL (Problem-based learnin. dapat meningkatkan pemahaman konsep PJKR IKIP Budi Utomo Malang hingga kriteria sangat baik pada siklus i. Aspek pemahaman konsep mahasiswa meningkat dari rata-rata skor pra-tindakan 56 menjadi 84,00 Kata kunci: PBL (Problem-based learnin. Pemahaman konsep PENDAHULUAN Mata kuliah Evaluasi Pendidikan bertujuan untuk menguasai konsep pengembangan instrumen evaluasi perkuliahan test dan non-test dalam perkuliahan secara runtut serta mempraktikkan teknik analisis kualitas tes dan butir soal untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi perkuliahan. Mengkaji tujuan perkuliahan tersebut, mata kuliah Evaluasi Pendidikan memiliki materi yang sangat banyak dengan berbagai peristiwa, konsep dan generalisasi yang harus dikuasai mahasiswa, sehingga dalam mempelajari materi tersebut diperlukan pemahaman konsep yang baik. Sebagai aktualisasi mata kuliah Evaluasi Pendidikan, beberapa strategi telah dilakukan dosen untuk mengatasi permasalahan tersebut. Strategi pertama yaitu dengan memangkas waktu pengajaran teori dan menambah waktu mengerjakan soal-soal, namun strategi tersebut menimbulkan masalah baru EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018 Anangga Widya Pradipta karena mahasiswa kurang menunjukkan pemahaman konsep terhadap materi yang dipelajari tidak Strategi kedua yaitu dengan memberikan tugas tambahan, namun strategi ini belum mampu mengembangkan pemahaman konsep masih dalam tataran rendah. Berdasarkan observasi pendahuluan dan pemberian pre-test pemahaman konsep Evaluasi Pendidikan tanggal 19 Februari 2018, diperoleh data bahwa mahasiswa telah menunjukkan tingkat pemahaman konsep sebesar 16,5 butir soal dengan konfersi persentase ketercapaian 58,68% dari 28 butir soal . asih dibawah KKM yaitu 70%). Sesuai dengan wawancara yang dilakukan kepada mahasiswa diperoleh hasil mahasiswa sulit memahami konsep mata kuliah Evaluasi Kependidikan. Mahasiswa bersikap pasif dan banyak mengandalkan dosen sebagai sumber belajar dan kurang berusaha untuk mencari sumber belajar lain yang relevan untuk mata kuliah tersebut dikarenakan pengajaran teori disajikan melalui presentasi power point oleh dosen, buku teks dan e-book semata. Mengkaji permasalahan yang dihadapi menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman konsep mata kuliah evaluasi pendidikan yang perlu ditingkatkan. Peningkatan pemahaman konsep mahasiswa memerlukan model perkuliahan yang mampu memfasilitasi perbedaan individu mahasiswa. Penggunaan model perkuliahan yang sesuai dengan karakter mata kuliah adalah kunci kualitas Desain model perkuliahan harus sesuai kompetensi yang dicapai. Selain itu, desain model perkuliahan juga harus memperhatikan karakteristik mahasiswa, materi dan sumberdaya yang dimiliki. Salah satu usaha untuk meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa dalam perkuliahan mata kuliah Evaluasi Pendidikan yaitu penggunaan PBL (Problem Based Learnin. Dalam pelaksanaannya model perkuliahan ini mampu mengatasi permasalahan tersebut karena model perkuliahan ini memerlukan kemampuan memecahkan permasalahan sehingga mahasiswa memperoleh pemahaman konsep terhadap materi yang dipelajari. Digunakannya PBL pada mata kuliah Evaluasi Pendidikan memiliki beberapa keunggulan. Keunggulan ini lebih mengedepankan pengetahuan awal mahasiswa dan mengandung kegiatan dan pengalaman nyata. Keunggulan lain diterapkannya model perkuliahan ini yaitu mampu membuat mahasiswa terlibat dalam interaksi sosial dan membuat mahasiswa peka terhadap lingkungan serta mampu menumbuhkan, menggerakkan, mengarahkan serta mengorganisasikan perilakunya untuk belajar dalam mencapai tujuan perkuliahan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep Evaluasi Pendidikan mahasiswa melalui implementasi PBL. Hasil penelitian diharapakan memiliki manfaat secara teoretis maupun praktis. Manfaat teoretis sebagai upaya pengembangan teori tentang PBL sebagai usaha meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa. Manfaat praktis bagi dosen dapat memberikan konsep penggunaan PBL yang sistematis dalam melaksanakan perkuliahan mata kuliah Evaluasi Pendidikan dan menambah bukti bahwa PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep mata kuliah Evaluasi Pendidikan mahasiswa PJKR IKIP Budi Utomo. Manfaat praktis bagi mahasiswa dapat membantu mahasiswa untuk mengatasi permasalahan pemahaman konsep Evaluasi Pendidikanmahasiswa PJKR sebagai contoh peningkatan kualitas perkuliahandi IKIP Budi Utomo Malang. Definisi operasional variabel sebagai berikut : . PBL yaitu model perkuliahan yang menekankan pada situasi bermasalah yang autentik dan bermakna kepada mahasiswa sebagai dasar penyelidikan. Pemahaman konsep Evaluasi Pendidikan didefinisikan sebagai kemampuan diri dalam mengenal ciri khas, menyatakan sifat, menghubungkan, membandingkan dan menjelaskan kembali Konsep Evaluasi Kependidikan. Konsep Evaluasi Pendidikandibatasi pada konsep prosedur pengembangan evaluasi perkuliahan. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji situasi sosial dengan maksud meningkatkan pemahaman konsep Evaluasi Pendidikanmahasiswa PJKR. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018 Anangga Widya Pradipta penelitian tindakan . ction reseac. (Permana, 2. Proses dasar penelitian tindakan terdiri dari penyusunan rencana . , tindakan . , observasi . dan refleksi . tiap siklusnya. Penelitian tindakan yang dilakukan adalah penelitian tindakan partisipan. Penelitian ini disebut dengan penelitian partisipan karena peneliti langsung dalam tindakan yang dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Februari-April 2018. Lokasi penelitian yaitu IKIP Budi Utomo Malang Kampus A Program Studi PJKR. Subyek penelitian ini mahasiswa PJKR Semester IV berjumlah 40 orang mahasiswa. Mahasiswa dikategorikan tahap perkembangan usia 18 hingga 25 tahun. Tahap ini digolongkan masa remaja akhir hinggadewasa awal dan dilihat dari segi perkembangan, tugas perkembangan pada usia mahasiswa ini adalah pemantapan pendirian hidup. Tindakan adalah kegiatan perkuliahan yang telah direncanakan. Siklus yang dilakukan meliputi: Observasi untuk mengetahui pemahaman konsep awal Evaluasi Pendidikan awal mahasiswa. Tindakan berupa penerapan PBL yang berupa pemberian orientasi permasalahan kepada mahasiswa, mengorganisasi mahasiswa untuk meneliti, membantu investigasi mandiri dan kelompok, mengembangkan serta mempresentasikan hasil, menganalisis dan mengevaluasi proses. Observasi dilakukan oleh peneliti dibantu satu orang pengamat dengan tujuan mengamati proses perkuliahan menggunakan PBL. Refleksi yang dilakukan untuk melihat proses dan untuk mengetahui kendala selama proses tindakan kegiatan ini meliputi mendeskripsikan penerapan PBL terhadap pemahaman konsep serta mencari permasalahan yang muncul dalam satu siklus sebagai dasar tindakan siklus Instrumen penelitian berupa lembar wawancara, lembar observasi dan tes pemahaman konsep evaluasi pendidikan. Teknik pengumpulan data terdiri dari: . Wawancara untuk menggali permasalahan yang ada dalam perkuliahan, yaitu dilakukan saat studi pendahuluan serta mengetahui hambatan dalam perkuliahan selama siklus tindakan menggunakan PBL menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur. Observasi digunakan untuk mengamati kegiatan perkuliahan mata kuliah Evaluasi Pendidikan menggunakan PBL, mengamati dan mencatat perilaku yang menunjukkan situasi rumit dan halangan serta mengetahui masalah yang akan dikenakan tindakan yaitu pemahaman konsep evaluasi pendidikanmahasiswa. Tesdigunakan untuk memperoleh data mengenai pemahaman konsep evaluasi pendidikan. Instrumen harus mempunyai ketepatan dan kecermatan dalam melakukan fungsi ukurannya (Sugiyono, 201: . Dalam penelitian yang dilakukan, peneliti menggunakan uji validitas konstruk dan validitas isi. Pelaksanaan Uji Validitas Instrumen. Uji Validitas Tes Pemahaman Konsep Evaluasi Pendidikan dilakukan dengan jenis pengujian validitas isi. Pengujian validitas isi dilakukan dengan analisis statistik menggunakan korelasi product moment dalam Sugiyono . 3: . dan dianalisis menggunakan software ITEMAN. Keputusan uji: Bila r hitung > r teori instrumen dinyatakan valid . Bila r hitung < r teori instrument tidak valid . Stainback dalam Sugiyono . berpendapat bahwa reliabilitas berhubungan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data temuan. Salah satu cara untuk mengetahui data reliabel, dalam penelitian tindakan kelas dapat dilakukan dengan mempercayai penilaian peneliti itu sendiri. Berdasarkan pendapat yang telah dikemukakan ahli tentang reliabilitas, maka salah satu cara meyakinkan reliabilitas data dilakukan dengan sajian data asli seperti hasil observasi dan tes pemahaman konsep. Berdasarkan pendapat tersebut maka uji reliabilitas instrumen dilakukan menggunakan sajian data asli. Khusus untuk test pemahaman konsep evaluasi kependidikan dianalisis secara statistik. Reliabilitas instrumen pemahaman konsep EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018 Anangga Widya Pradipta dilakukan dengan teknik non belah dua yang dikembangkan oleh Kuder dan Richardson yaitu formula KR-20 dalam Sugiyono . 2: . Keterangan: R11 : reliabilitas tes secara keseluruhan. p : proporsi subjek yang menjawab benar butir soal ke-i. q : proporsi subjek yang menjawab salah butir soal ke-I . = 1 Ae . Ocpq : jumlah hasil kali p dan q. N : banyaknya item. S : standar deviasi . kar varian. Perolehan data dianalisis menggunakan teknik analisis data statistik deskriptif melalui tabel, diagram, penyajian rerata serta perhitungan persentase pencapaian pemahaman konsep tiap Analisisdeskriptif kuantitatifdimaknai secara kualitatif menggunakan kriteria penilaian ideal melalui konversi skor 5 skala. Kriteria kategori penilaian ideal disajikan pada tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Kriteria Kategori Penilaian Ideal Kriteria Sangat Baik Skor Interval meanXi 1,80 SBi< X Baik Cukup Kurang Sangat Kurang meanXi 0,60 SBi< X O meanXi 1,80 SBi meanXi- 0,60 SBi < X OmeanXi 0,60 SBi meanXi -1,80 SBi< XOmeanXi - 0,60 SBi X OmeanXi-1,80 SBi Sumber: Kumpulan Materi Evaluasi Perkuliahan. Sukardjo . 6: . Keterangan: meanXi : rerata skor ideal. SBi : simpangan baku skor ideal : skor aktual Berdasarkan kriteriapenilaian ideal tabel 1, maka hasil observasi dan pre-tes pratindakan dapat disusun tabel klas interval untuk kriteria pemahaman konsep pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Kriteria Kategori Penilaian Ideal Tes Pemahaman Konsep Kriteria SangatBaik Baik Cukup Kurang SangatKurang Skor Interval 24,9 < X Nilai Interval 19,3 < X O 24,9 13,7 < X O 19,3 8,1 < X O 13,7 X O 8,1 77,2 < X O 99,6 54,8 < X O 77,2 32,4 < X O 54,8 X O 32,4 99,6 < X Setelah dilakukan analisis data, kemudian diperlukan adanya kriteria keberhasilan. Kriteria keberhasilan tindakan adalah acuan dalam mempertimbangkan dan memberikan makna terhadap capaian tindakan. Keberhasilan pelaksanaan tindakan pada panelitian ini jika seluruh maha siswa sudah mencapai standar keberhasilan peningkatan pemahaman konsep yaitu sekurang-kurangnya 70% dari jumlah mahasiswa . telah mencapai kategori baik dari 5 skala kategori. HASIL DAN PEMBAHASAN Digunakannya PBL memiliki ciri yang khas yaitu adanya pertanyaan dan masalah perangsang, fokus interdisipliner, investigasi autentik, adanya penemuan dan kolaborasi. Digunakannya model ini EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018 Anangga Widya Pradipta diharapkan mahasiswa dapat memahami konsep evaluasi pendidikan dalam perkuliahan. Digunakannya PBL diharapkan mampu meningkatkan pemahaman konsep Evaluasi pendidikan peserta Selain itu penggunaan PBL juga membantu mahasiswa untuk bertindak pada situasi nyata untuk menerapkan konsep evaluasi pendidikan. Siklus I Pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 19 Februari 2018. Pertemuan 1 terdiri dari dua Tahapan perkuliahan tersebut terdiri dari pemberian orientasi tentang permasalahan kepada mahasiswadan mengorganisasi mahasiswa untuk meneliti. Selama pertemuan 1 dosen mengkomunikasikan kepada mahasiswa bahwa setiap kegiatan mahasiswa dikelas diketahui dosen. Kegiatan mahasiswa di kelas dapat diketahui dengan memindai kelas secara keseluruhan dengan bantuan asisten pengajar. Saat pertemuan ini juga disampaikan kepada mahasiswa agar lebih terlibat dalam pelajaran dengan menunjukkan motivasi belajar dalam memperoleh pemahaman konsep Evaluasi Pendidikan yang tinggi. Pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2018. Pertemuan 2 adalah lanjutan dari Pertemuan 2 adalah kegiatan memberikan bantuan kepada mahasiswa untuk melakukan investigasi mandiri dan kelompok. Pada tahap ini mahasiswa dibantu dosen untuk menentukan subtopik, tugas-tugas penyelidikan dan jadwal yang spesifik. Dalam melaksanakan penyelidikan, tugas perencanaannya yaitu membagi situasi bermasalah yang lebih umum menjadi sub-topik yang tepat, kemudian membagi mahasiswa untuk memutuskan sub-topik yang akan diselidiki. Pertemuan 3 dilaksanakan pada tanggal 5 Maret 2018. Pertemuan 3 adalah rangkaian dari pertemuan 1 dan 2. Pertemuan 3 terdiri dari tahap mengembangkan, mempresentasikan hasil, mengevaluasi dan menganalisis proses perkuliahan. Pertemuan 4 dilaksanakan pada tanggal 12 Maret Pertemuan 4 adalah rangkaian dari pertemuan 3. Pertemuan 4 berupa tahap pemberian test pemahaman konsep Evaluasi pendidikan Pada akhir siklus I, seluruh tim penelitian yang terdiri dari peneliti, dosen dan asisten peneliti melakukan refleksi tentang keseluruhan proses tindakan siklus I. Hasil refleksi yaitu sebagai berikut: . Ada 5 orang mahasiswa di kelas yang kurang terlibat dalam kelompok selama perkuliahan mata kuliah evaluasi pendidikan menggunakan PBL. Berdasarkan hasil wawancara, kesulitan mengikuti perkuliahan tersebut dikarenakan mahasiswatidak terbiasa bekerjasama dalam kelompok, namun mahasiswa terbiasa belajar untuk bersaing medapatkan posisi terbaik secara individu. Kurang adanya kepercayaan antara dosen, peneliti dan peserta didik. Meskipun perkuliahan membaik, dosen masih mengedepankan perkuliahan sesuai buku, sehingga keterkaitan materi dan lingkungan kurang . Situasi perkuliahan belum menunjukkan terlaksananya penggunaan PBL dan perhatian dosen tidak merata, namun mahasiswamerasa senang karena semua ide dan jawaban mahasiswadihargai sebagai perbedaan dalam memecahkan masalah. Berdasarkananalisis data siklus I menunjukkan bahwa PBL selama siklus I perlu direvisi untuk mengatasi kelemahankelemahannya tetapi masih mempertahankan unsur-unsur pokoknya. Perencanaan tindakan siklus II adalah lanjutan siklus I yaitu untuk memberikan perkuliahan evaluasi pendidikan menggunakan PBLyang telah direvisi. Topik mata pelajaran masih sama seperti siklus I yaitu tentang masalah-masalah yang terkait dengan terjadinya bencana alam angin puting beliung, gunung meletus, tsunami, gempa bumi dan banjir serta mencari solusi dalam mencegah dan Revisi model untuk siklus II menitik beratkan pada peran dosen sebagai manajer kelas. Untuk menjadi manajer kelas harus menguasai empat kegiatan yaitu AuWithitnessAy, overlapping activities, group focusing, dan movement managemement. Pembahasannya sebagai berikut: Withitness yaitu mengkomunikasikan kepada mahasiswa bahwa dosen mengetahui setiap hal yang terjadi di kelas. Lebih memotivasi mahasiswa agar lebih menunjukkan pemahaman konsep. Overlapping activities yaitu dengan mengikuti dan mengawasi beberapa kegiatan sekaligus. Kegiatan ini dilakukan dengan memantau kegiatan perkuliahan hingga perkuliahan selesai. EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018 Anangga Widya Pradipta Group focusing berarti menjaga agar sebanyak mungkin mahasiswa terlibat dalam kegiatan kelas yaitu dengan memerintahkan kepada mahasiswa untuk menyelesaikan tugas kelompok dengan berbagai alternatif jawaban, yaitu masing-masing anggota minimal memberikan 2 cara dalam menyelesaikan permasalahan yang terkait dengan teknik penyusunan instrument evaluasi test yang disesuaikan dengan kondisi peserta didik. Movement managemement disebut juga manajemen perpindahan yaitu menjaga agar perkuliahan bergerak dengan kecepatan yang tepat dan fleksibel dengan transisi dan variasi yang Langkah ini dilakukan dengan menyeragamkan materi yang sama tiap kelompok namun tiap kelompok menunjukkan penyelesaian yang berbeda. Diakhir perkuliahan, mahasiswa membuat karya tulis berupa artikel singkat tentang solusi penyusunan instrument evaluasi dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Siklus II sama dengan siklus I yang terdiri dari lima tahap. Tahap siklus II yaitu pemberian orientasi tentang permasalahan kepada peserta didik, mengorganisasi mahasiswa untuk meneliti, membantu investigasi mandiri dan kelompok, mengembangkan serta mempresentasikan hasil, menganalisis dan mengevaluasi proses. Pelaksanaan PBL dalam perkuliahan evaluasi pendidikan siklus II dilakukan dalam satu siklus yang terdiri dari 6 pertemuan . ertemuan 5-prtemuan . Pertemuan 5 dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2018. Pertemuan 5 terdiri dari dua tahap yaitu pemberian orientasi tentang permasalahan kepada mahasiswa dan mengorganisasikan untuk meneliti. Pada tahap ini dosen memberikan penjelasan bahwa perkuliahan masih tetap seperti siklus I yaitu menggunakan PBL dengan materi yang sama tiap kelompok untuk setiap pertemuannya. Selama pertemuan 5 dosen mengkomunikasikan kepada mahasiswa bahwa setiap kegiatan dikelas diketahui dosen. Kegiatan mahasiswa di kelas dapat diketahui dengan memindai kelas secara keseluruhan dengan bantuan asisten pengajar. Saat pertemuan ini juga disampaikan kepada mahasiswa agar lebih menunjukkan pemahaman konsep dasar evaluasi pendidikan. Pertemuan 6, 7 dan 8 dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2018, 2 April 2018 dan 9 April 2018. Pertemuan ini memiliki kemiripaan dengan pertemuan 2 berupa kegiatan memberikan bantuan kepada mahasiswa untuk melakukan investigasi mandiri dan kelompok. Topik yang akan dipelajari sama seperti Masing masing topik dipelajari mulai pertemuan 6 hingga pertemuan 8 sebagai lanjutan dari pertemuan sebelumnya yaitu menerapkan konsep dasar evaluasi pendidikan dalam perkuliahan. Pertemuan 9 dilaksanakan pada tanggal 16 April 2018. Pertemuan 9 adalah rangkaian dari Pertemuan 9 adalah proses mengembangkan, mempresentasikan hasil, mengevaluasi dan menganalisis proses perkuliahan. Pertemuan 10 dilaksanakan pada tanggal 23 April 2018. Pertemuan 10 adalah rangkaian dari pertemuan 9. Pertemuan 10 berupa tahap pemberian test pemahaman konsep evaluasi pendidikan. Pada akhir siklus II, seluruh tim penelitian yang terdiri dari peneliti, dosen dan asisten peneliti melakukan kembali refleksi keseluruhan proses tindakan siklus II. Keseluruhan mahasiswatelah menunjukkan perkembangan pemahaman konsep telah meningkat dari rata-rata cukup menjadi ratarata baik. Dari segi pemahaman konsep Evaluasi pendidikan ada 7 orang mahasiswayang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu masih berada pada kategori cukup, sehingga kriteria keberhasilan tindakan ditinjau dari aspek pemahaman konsep Evaluasi Pendidikan Perencanaan tindakan siklus i adalah lanjutan siklus II yaitu untuk memberikan perkuliahan Evaluasi pendidikan menggunakan PBL yang telah direvisi. Topik mata pelajaran masih sama seperti siklus i yaitu tentang masalah-masalah pembelajaran yang mampu diketahui melalui penilaian Revisi siklus i menitik beratkan pada perbedaan individu dalam kelompok. Perbedaan individu dapat dilihat dari gaya belajar masing-masing peserta didik. Gaya belajar mahasiswa terdiri dari gaya belajar field-dependent dan gaya belajar field-independen. Setiap gaya kognitif yang dimiliki mahasiswa memiliki kelebihan dan kekurangan. Kedua jenis gaya kognitif ini tidak bisa dibandingkan melainkan EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018 Anangga Widya Pradipta perlu difasilitasi selama perkuliahan. Untuk lebih meningkatkan pemahaman konsep pada siklus II, mahasiswa tersebut memerlukan cara belajar yang berbeda dengan teman yang lain yaitu mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field-dependent dimasukkan kedalam kelompok yang field-independent dengan harapan mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field-independent menjadi tutor sebaya. Siklus i memiliki kesamaan dengan siklus II, yaitu terdiri dari lima tahap. Tahap siklus i yaitu pemberian orientasi tentang permasalahan kepada peserta didik, mengorganisasi mahasiswa untuk meneliti, membantu investigasi mandiri dan kelompok, mengembangkan serta mempresentasikan hasil, menganalisis dan mengevaluasi proses. Pelaksanan perkuliahan dengan penerapan PBL selama siklus i sama seperti siklus II yaitu terdiri dari 5 tahapan. Tahapan tersebut terdiri dari pemberian orientasi tentang permasalahan kepada peserta didik, mengorganisasi mahasiswa untuk meneliti, membantu investigasi mandiri dan kelompok, mengembangkan dan mempresentasikan hasil, serta menganalisis dan mengevaluasi proses. Pertemuan 11 dilaksanakan pada tanggal 30 April 2018. Pertemuan 11 terdiri dari dua tahap yaitu pemberian orientasi tentang permasalahan kepada mahasiswa dan mengorganisasi mahasiswa untuk meneliti. Pada tahap ini dosen memberikan penjelasan bahwa perkuliahan masih tetap seperti siklus I dan II yaitu menggunakan PBL dengan materi yang sama tiap kelompok untuk setiap Selama pertemuan 11 dosen mengkomunikasikan kepada mahasiswa bahwa setiap kegiatan mahasiswa dikelas diketahui dosen. Kegiatan mahasiswa dikelas dapat diketahui dengan memindai kelas secara keseluruhan dengan bantuan asisten pengajar. Saat pertemuan ini juga disampaikan kepada mahasiswa bahwa mahasiswa lebih menunjukkan pemahaman konsep evaluasi pendidikan yang tinggi. Mengkaji hasil analisis data siklus II dan wawancara dengan mahasiswa dan revisi model untuk siklus II, maka mahasiswa dikelompokkan ulang dengan menyusun kelompok yang beragam berdasarkan gaya kognitifnya. Harapan disusunnya kelompok yang beragam gaya kognitifnya agar kelompok-kelompok menjadi seimbang perkembangannya. Mahasiswa yang memiliki gaya kognitif field-dependent diacak dan dimasukkan kedalam kelompok yang field-independent dengan harapan mahasiswayang memiliki gaya kognitif field-independent menjadi tutor sebaya selama perkuliahan siklus i. Pertemuan 12, 13, dan 14 dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2018,14 Mei 2018 dan 21Mei 2018. Pertemuan 12, 13, dan 14 adalah rangkaian dari pertemuan 11. Pertemuan ini memiliki kemiripaan dengan pertemuan 2 dan 5 yaitu berupa kegiatan memberikan bantuan kepada mahasiswa untuk melakukan investigasi mandiri dan kelompok. Topik yang akan dipelajari sama seperti pertemuan 2. Masing masing topik dipelajari mulai pertemuan 12 hingga pertemuan 14. Pada akhir siklus i, seluruh tim penelitian yang terdiri dari peneliti, dosen dan asisten peneliti melakukan kembali refleksi keseluruhan proses tindakan siklus i. Hasil refleksi yaitu bahwa keseluruhan mahasiswa telah menunjukkan perkembangan pemahaman konsep telah melebihi KKM (Kriteria Ketuntasan Minima. Hasil tindakan siklus i menunjukkan bahwa Jumlah mahasiswa yang memiliki pemahaman konsep sangat baik berjumlah 20 orang dan kategori baik berjumlah 20 orang. Berdasarkan seluruh tindakan yang telah dilakukan maka dapat dipaparkan bahwa Selama siklus I diperoleh hasil bahwa perolehan skor rata-rata sedikit meningkat dari 56 menjadi64 dengan kriteria nilai cukup. Selamasiklus II perolehan rata-rata semakin meningkat dari 64 menjadi 76 dengan criteria nilai cukup. Selama siklus i Perolehan nilai rata-rata semakin meningkat dari 76 menjadi 84 dengan kriteria skor baik. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Keterbatasan penelitian ini yaitu sebagai berikut: Adanya bias terhadap model pembelajaran menggunakan PBL pemahaman konsep jika diterapkan pada subyek dan seting yang berbeda. Subyek maupun setting penelitian hanya terbatas pada penerapan satu model perkuliahan yaitu PBL. Dosen dan peneliti masih kesulitan untuk secara langsung menghadirkan semua objek permasalahan yang dipecahkan. EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018 Anangga Widya Pradipta SIMPULAN Digunakannya PBL dapat meningkatkan pemahaman konsep Evaluasi pendidikan mahasiswa. Selama siklus I, peserta didik berkategori baik berjumlah 5 orang dan kategori cukup berjumlah 35 orang dengan rata-rata skor sedikit meningkat dari 56 menjadi 64 dengan kriteria skor cukup. Selama siklus II, peserta didik berkategori baik berjumlah 8 orang dan kategori cukup berjumlah 32 orang dengan rata-rata skor meningkat dari 64 menjadi 76 dengan kriteria skor cukup. Selama siklus i, peserta didik berkategori sangat baik berjumlah 5 orang dan kategori baik berjumlah 35 orang dengan rata-rata skor semakin meningkat dari 76 menjadi 84 kriteria skor baik. DAFTAR RUJUKAN Bloom. Taxonomy of educational objective the classification of educational goals. London: Longman. Budiningsih. Belajar dan pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Budiningsih. Karakteristik siswa. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Kemmis. , &McTaggart. Participatory action research. CA: Sage. Madya. Teoridanpraktikpenelitiantindakan. Bandung: Alfabeta. Permana. Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif Numbered Heads Together (NHT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran IPS SD. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 1. , 49Ae58. Sugiyono & Wibowo. Statistik untuk penelitian. Bandung: Alfabeta. Sugiyono. Metode penelitian kombinasi . ixed method. Bandung: Alfabeta. Sumitro. Pengantar ilmu pendidikan. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. EFEKTOR ISSN. 2355-956X . Volume 5 Nomor 2 Tahun 2018