JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 705-714 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PAI INKLUSIF: TRANSFORMASI NILAI MODERASI MENJADI KARAKTER KEBANGSAAN SISWA Nurjaya 1. Abdul Muhyi2 1,2 Universitas Pamulang. Indonesia Email: dosen01605@unpam. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Inclusive Islamic Religious Education Religious Moderation National Character Digital Media MAN Palopo City ABSTRAK Today, the world of education faces significant challenges in the form of the strengthening of religious exclusivism and intolerance among students due to the rapid flow of unfiltered information on social media. This study aims to analyze the process of internalizing the values of moderation in Islamic Religious Education (PAI) learning, identify factors inhibiting the strengthening of national character, and formulate an effective inclusive PAI learning model at MAN Palopo City. The method used is descriptive qualitative with the researcher as the key instrument. Data were collected through observation, in-depth interviews with the Madrasah Principal. PAI teachers, and students, and curriculum documentation. Data analysis follows the interactive model of Miles and Huberman which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results show that the transformation of moderation values is carried out through the integration of three domains: cognitive . ontextual understandin. , affective . mpathy developmen. , and psychomotor . eal The novelty of this study lies in the use of digital media as a means of disseminating moderation that transforms students from content consumers to producers of peace narratives. The research conclusion confirms that the inclusive Islamic Religious Education (PAI) learning model supported by an egalitarian school culture is able to transform the value of moderation into a strong national character, thereby creating a generation that is both nationalistic and religious in the digital era. ABSTRAK Dewasa ini, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan besar berupa menguatnya eksklusivisme beragama dan intoleransi di kalangan pelajar akibat derasnya arus informasi tanpa filter di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses internalisasi nilai-nilai moderasi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), mengidentifikasi faktor penghambat penguatan karakter kebangsaan, serta merumuskan model pembelajaran PAI inklusif yang efektif di MAN Kota Palopo. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan peneliti sebagai instrumen kunci. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan Kepala Madrasah, guru PAI, dan siswa, serta dokumentasi Analisis data mengikuti model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi nilai moderasi dilakukan melalui integrasi tiga domain: kognitif . emahaman kontekstua. , afektif . enumbuhan empat. , dan psikomotorik . ksi nyat. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan media digital sebagai sarana syiar moderasi yang mengubah siswa dari konsumen konten menjadi produsen narasi perdamaian. Simpulan penelitian menegaskan bahwa model pembelajaran PAI inklusif yang didukung oleh budaya sekolah yang egaliter mampu mentransformasi nilai moderasi menjadi karakter kebangsaan yang kokoh, sehingga menciptakan generasi yang nasionalis sekaligus religius di era digital. Kata kunci: PAI Inklusif. Moderasi Beragama. Karakter Kebangsaan. Media Digital. MAN Kota Palopo. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa PENDAHULUAN Dewasa ini, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan besar berupa menguatnya gejala eksklusivisme beragama dan intoleransi di kalangan pelajar yang dipicu oleh derasnya arus informasi tanpa filter di media sosial(Bakar, 2. (Luky Maulana Firmansyah Ae, 2. Fenomena ini diperparah dengan munculnya pemahaman keagamaan yang kaku di lingkungan sekolah(Ifendi et al. , 2. , di mana agama seringkali dipahami secara tekstual tanpa menyentuh dimensi sosial-kemanusiaan(Rohman & Hairudin, 2018. Yunus, 2. Pendidikan Agama Islam (PAI) yang seharusnya menjadi motor penggerak perdamaian, terkadang masih terjebak pada pengajaran aspek ritual-formal semata, sehingga kurang mampu membendung pengaruh ideologi radikal yang mengancam kohesi sosial bangsa(Fita Mustafida, 2020. Suryadi, 2. Kehidupan beragama, khususnya Muslim di Indonesia, dikenal memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap masyarakat modern. Hefner, misalnya, berpendapat bahwa Muslim Indonesia bergerak menuju bentuk Islam yang demokratis dan pluralis. Argumen ini didasarkan pada fakta upaya menciptakan masyarakat Muslim yang demokratis dan moderat dalam beragama(Ghazali & Busro, 2017. Idrus Ruslan, 2017. Mustaqim Hasan, 2. Lebih lanjut, perkembangan masyarakat Muslim Indonesia menuju komunitas Islam modern didasarkan pada gerakan politik yang mulai memahami dan merespons isu-isu yang berkaitan dengan budaya Barat dan Islam. Isu-isu seperti hak asasi manusia (HAM), demokrasi, kesetaraan gender, ekstremisme, radikalisme, dan nasionalisme telah menjadi agenda penting yang dihadapi para cendekiawan Muslim sejak tahun 1990-an hingga saat ini(Amaluddin. Sekarbuana et al. , 2. Penelitian ini sangat mendesak untuk dilakukan karena sekolah merupakan benteng pertahanan terakhir dalam menjaga jati diri bangsa yang majemuk. Tanpa adanya internalisasi nilai moderasi yang sistematis dalam PAI, generasi muda rentan kehilangan identitas nasionalnya dan terjebak dalam konflik berbasis agama. Penguatan moderasi beragama menjadi kunci untuk memastikan bahwa pemahaman agama yang mendalam berjalan selaras dengan komitmen kebangsaan, guna menjaga stabilitas Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa depan. Meskipun pemerintah telah menggaungkan moderasi beragama sebagai program nasional, masih terdapat kesenjangan antara kebijakan kurikulum di tingkat atas dengan praktik pembelajaran di kelas. Secara teoretis, siswa mungkin memahami definisi moderasi, namun secara praktis mereka seringkali gagal menerapkan sikap toleran dalam interaksi lintas keyakinan. Selain itu, banyak pendidik yang masih kesulitan menemukan metode yang tepat untuk menyisipkan nilai-nilai moderasi ke dalam materi PAI yang bersifat dogmatis tanpa mengurangi substansi akidah. Letak kebaruan penelitian ini berada pada pengembangan strategi integrasi nilai moderasi yang tidak hanya berfokus pada materi teks di buku ajar, tetapi juga menyentuh aspek afektif dan psikomotorik melalui pendekatan Penelitian ini menawarkan model internalisasi karakter kebangsaan yang berbasis pada budaya sekolah dan pemanfaatan media digital sebagai sarana syiar moderasi, yang mana pendekatan ini masih jarang dieksplorasi secara komprehensif dalam penelitianpenelitian sebelumnya. Secara teoretis, penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya khazanah keilmuan mengenai pedagogi PAI yang inklusif, sementara secara praktis dapat menjadi panduan bagi guru dalam membentuk karakter siswa yang nasionalis sekaligus Adapun tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis proses internalisasi nilai-nilai moderasi dalam pembelajaran PAI, mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat penguatan karakter kebangsaan di sekolah, serta merumuskan model pembelajaran PAI yang efektif dalam menciptakan generasi yang moderat dan cinta tanah air. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk mengungkapkan fakta secara mendalam mengenai proses transformasi nilai moderasi beragama menjadi karakter kebangsaan melalui pembelajaran PAI yang inklusif. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci yang berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, serta melakukan analisis dan penafsiran data secara mandiri untuk merumuskan model internalisasi nilai yang efektif di lapangan. Lokasi penelitian ditetapkan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Palopo, dengan melibatkan berbagai pihak sebagai sumber data primer guna mendapatkan gambaran komprehensif mengenai praktik moderasi di lingkungan pendidikan. Sumber data dalam kajian ini terdiri dari data primer yang bersumber dari hasil interaksi langsung dengan informan, yaitu Kepala Madrasah sebagai penentu kebijakan, guru PAI sebagai pelaksana kurikulum, dan peserta didik sebagai subjek internalisasi nilai, serta data sekunder yang dikumpulkan dari dokumen resmi seperti perangkat pembelajaran, kurikulum sekolah, dan catatan perilaku siswa. Untuk memperoleh data yang mendalam, peneliti menerapkan tiga teknik pengumpulan data utama, yaitu observasi untuk mengamati interaksi sosial dan praktik pembelajaran inklusif di kelas, wawancara mendalam guna menggali persepsi serta kendala dalam menanamkan nilai toleransi, dan dokumentasi untuk menghimpun arsip terkait program penguatan karakter kebangsaan. Proses analisis data dilakukan secara berkelanjutan mengikuti model interaktif dari Miles dan Huberman, yang meliputi tahap reduksi data untuk memfokuskan temuan pada aspek afektif dan psikomotorik, penyajian data dalam bentuk narasi model pembelajaran yang sistematis, hingga penarikan kesimpulan sebagai hasil akhir penelitian. Seluruh data yang terkumpul kemudian diuji keabsahannya melalui teknik triangulasi guna memastikan bahwa hasil analisis mengenai model pembelajaran PAI inklusif dan efektivitas pemanfaatan media digital dalam syiar moderasi memiliki validitas serta kredibilitas yang tinggi dalam membentuk generasi yang nasionalis sekaligus religius. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Moderasi Islam di MAN Palopo Dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan serius berupa penetrasi ideologi eksklusivisme yang masuk melalui ruang digital. Di MAN Kota Palopo, sebagai lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama, fenomena ini tidak hanya dipandang sebagai ancaman terhadap stabilitas sekolah, tetapi juga terhadap jati diri bangsa. PAI tidak boleh lagi hanya diajarkan sebagai ritual formal. ia harus bertransformasi menjadi ideologi Fokus utama materi ini adalah bagaimana nilai moderasi tidak berhenti di buku teks, melainkan meresap dalam karakter kebangsaan siswa. Konsep Islam di Indonesia, sebagaimana dikaji oleh Robert Hefner, menunjukkan karakter yang demokratis dan pluralis. Moderasi Islam (Wasathiya. bukanlah upaya untuk menciptakan agama baru, melainkan mengembalikan pemahaman agama ke jalur tengah (Tawassu. Di lingkungan MAN Kota Palopo, landasan ini diperkuat dengan prinsip keseimbangan antara teks keagamaan . dengan konteks kemanusiaan. Hal ini menjadi fondasi agar siswa mampu merespons isu HAM, gender, dan demokrasi tanpa kehilangan identitas religiusnya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, di mana peneliti terjun langsung sebagai instrumen kunci. Fokus penelitian diarahkan pada interaksi antara Kepala Madrasah, guru PAI, dan siswa. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kelas. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa wawancara mendalam mengenai persepsi toleransi, dan dokumentasi kebijakan sekolah. Pengujian keabsahan data dilakukan melalui triangulasi untuk memastikan bahwa temuan mengenai strategi internalisasi nilai ini benar-benar valid dan kredibel secara akademik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI di MAN Kota Palopo memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya moderasi, namun tantangan muncul pada metode penyampaian yang terkadang masih dogmatis. Budaya sekolah di MAN Kota Palopo didesain untuk menjadi "laboratorium kerukunan". Kegiatan harian, mulai dari literasi Al-Qur'an hingga diskusi isu terkini, diarahkan untuk membuka ruang dialog. Kepala Madrasah berperan sebagai pengambil kebijakan yang memastikan bahwa moderasi beragama masuk ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara eksplisit. Hasil penelitian di MAN Kota Palopo menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai moderasi dalam pembelajaran PAI dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu transformasi pengetahuan . , transaksi nilai . , dan transinternalisasi . Pada tahap awal, guru PAI mengintegrasikan materi moderasi beragama tidak hanya sebagai teks statis, tetapi mengaitkannya dengan isu-isu kontemporer seperti hak asasi manusia dan kesetaraan gender untuk merespons arus informasi di media sosial. Secara praktis, guru menggunakan metode diskusi kelompok dan studi kasus untuk membedah fenomena eksklusivisme, sehingga siswa mampu mengidentifikasi risiko radikalisme secara mandiri. Transformasi pada level kognitif di MAN Kota Palopo dilakukan dengan melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman tekstual yang kaku. Guru PAI mengajak siswa membedah ayat-ayat tentang perang dan perdamaian dalam konteks sejarah (Asbabun Nuzu. dan relevansinya di masa kini. Siswa diajarkan untuk memahami bahwa perbedaan keyakinan adalah sunnatullah . etetapan Alla. Tahap ini bertujuan agar siswa memiliki "filter mental" saat menemui konten radikal di media sosial. Aspek afektif adalah inti dari transformasi karakter(Marinda, 2. Di sini, siswa diajak untuk menumbuhkan empati. Melalui metode refleksi, siswa MAN Kota Palopo diminta membayangkan posisi kaum minoritas atau korban konflik berbasis agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan emosional ini lebih efektif dalam mengubah sikap siswa daripada sekadar menghafal definisi toleransi. Siswa mulai merasakan bahwa menghargai orang lain adalah bagian dari ibadah sosial yang setara dengan ibadah ritual. Manifestasi dari nilai moderasi terlihat pada perilaku sehari-hari siswa. Di MAN Kota Palopo, aspek psikomotorik diwujudkan melalui proyek kolaborasi antar-siswa tanpa memandang latar belakang sosial atau organisasi keagamaan . eperti perbedaan Muhammadiyah/NU). Siswa dilatih untuk bekerja sama dalam kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi siswa (OSIM). Tindakan nyata ini menjadi bukti bahwa nilai moderasi telah berubah menjadi karakter kebangsaan yang aktif, bukan sekadar teori pasif(Amin, 2019. Desa et al. , n. Yunus, 2. Menghadapi derasnya arus informasi tanpa filter. MAN Kota Palopo memanfaatkan media digital sebagai instrumen syiar. Siswa didorong untuk membuat konten kreatifAiseperti vlog singkat, poster digital, atau tulisan blogAiyang mempromosikan nilai-nilai Islam yang Transformasi ini sangat krusial karena mengubah peran siswa dari sekadar konsumen informasi menjadi agen perubahan . gent of chang. di dunia maya, sekaligus membendung narasi kebencian dengan narasi kesejukan. Selain itu, ditemukan bahwa budaya sekolah memainkan peran krusial sebagai laboratorium sosial bagi siswa dalam mempraktikkan toleransi lintas kelompok. Implementasi program "Syiar Moderasi Digital" yang memanfaatkan media sosial sekolah menjadi wadah bagi siswa untuk memproduksi konten kreatif bertema perdamaian, yang secara efektif mengalihkan kecenderungan konsumsi konten negatif. Meskipun infrastruktur teknologi seperti e-learning dan RDM telah tersedia. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa efektivitas transformasi karakter lebih banyak dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam melakukan pendekatan kontekstual yang menyentuh aspek emosional siswa, sehingga pemahaman agama yang mendalam berjalan selaras dengan komitmen kebangsaan. Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa di lingkungan madrasah saat ini berada dalam pusaran arus informasi digital yang sangat masif, di mana konten-konten bermuatan eksklusivisme keagamaan sering kali muncul tanpa filter yang memadai. Fenomena ini menciptakan tantangan baru bagi pendidik PAI karena pemahaman keagamaan siswa cenderung menjadi kaku jika hanya dipelajari melalui teks tanpa pendampingan kontekstual. Di MAN Kota Palopo, ditemukan bahwa gejala awal intoleransi biasanya muncul dari ketidakmampuan siswa membedakan antara prinsip akidah yang fundamental dengan wilayah muamalah sosial yang sangat dinamis dan plural. Oleh karena itu, madrasah memandang perlunya langkah strategis untuk membendung pengaruh ideologi radikal yang dapat mengikis semangat nasionalisme dan kohesi sosial di kalangan generasi muda(Massoweang, 2020. Wahyudi & Novita, 2021. Yunus & Salim, 2. Secara teoretis, transformasi nilai moderasi di madrasah berakar pada konsep Islam Wasathiyah yang mengedepankan keseimbangan antara teks wahyu dan konteks Temuan penelitian menegaskan bahwa moderasi Islam di Indonesia memiliki daya adaptasi yang luar biasa terhadap nilai-nilai modernitas, demokrasi, dan hak asasi manusia, sebagaimana yang berkembang dalam pemikiran cendekiawan Muslim sejak era 1990-an. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti harus menolak identitas kebangsaan, melainkan justru memperkuat komitmen terhadap NKRI. Di MAN Kota Palopo, landasan ini diterjemahkan ke dalam kurikulum yang tidak hanya mengajarkan ritual-formal, tetapi juga menyentuh aspek etika sosial dan kemanusiaan sebagai manifestasi dari iman yang inklusif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang menempatkan peneliti sebagai instrumen kunci untuk menggali data secara mendalam di MAN Kota Palopo. Proses pengumpulan data primer dilakukan melalui interaksi langsung dengan Kepala Madrasah, guru PAI, dan siswa untuk memotret realitas proses internalisasi nilai secara Teknik observasi digunakan untuk melihat perilaku sosial siswa dalam berinteraksi lintas kelompok, sementara wawancara mendalam digunakan untuk menyerap persepsi mereka mengenai toleransi. Seluruh data sekunder berupa dokumen kurikulum dan laporan kegiatan kesiswaan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman guna menghasilkan simpulan yang valid mengenai efektivitas model pembelajaran inklusif yang Hasil penelitian pada tahap kognitif menunjukkan bahwa transformasi nilai dimulai dengan reorientasi pemahaman teks keagamaan di dalam kelas. Guru PAI tidak lagi menyampaikan materi secara searah, tetapi menggunakan metode diskusi kritis untuk membedah ayat-ayat Al-Qur'an tentang keberagaman sebagai ketetapan Tuhan . Siswa diajarkan untuk memahami bahwa perbedaan pendapat dalam fikih adalah rahmat, sehingga mereka memiliki fleksibilitas berpikir saat menghadapi keragaman ekspresi keagamaan di masyarakat. Transformasi kognitif ini menjadi pondasi penting agar siswa memiliki "imunitas intelektual" terhadap narasi-narasi kebencian yang sering bertebaran di platform media digital. Pada aspek afektif, penelitian menemukan bahwa internalisasi nilai moderasi dilakukan melalui penyentuhan rasa dan empati siswa terhadap penderitaan sesama manusia tanpa melihat latar belakang agama. Guru menggunakan pendekatan naratif dan studi kasus Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa mengenai konflik berbasis agama untuk menunjukkan betapa mahalnya harga sebuah Di MAN Kota Palopo, siswa diajak untuk merefleksikan nilai-nilai Pancasila sebagai payung besar yang melindungi seluruh warga negara, sehingga muncul rasa cinta tanah air yang tumbuh dari kesadaran religius. Transformasi pada tingkat rasa ini terbukti lebih membekas dalam ingatan siswa dibandingkan sekadar hafalan materi ujian, karena melibatkan keterikatan emosional antara keyakinan agama dan komitmen kebangsaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi nilai moderasi telah mencapai tahap psikomotorik atau tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di madrasah. Siswa MAN Kota Palopo menunjukkan sikap inklusif melalui kerjasama dalam organisasi siswa (OSIM) dan kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan interaksi lintas latar belakang organisasi Tidak ditemukan adanya pengkotak-kotakkan kelompok berdasarkan aliran keagamaan tertentu, yang menunjukkan bahwa karakter kebangsaan telah terinternalisasi dengan baik. Praktik toleransi ini tercermin dari cara mereka berkomunikasi yang santun, menghargai pendapat orang lain, dan kemauan untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan tugas-tugas bersama yang bersifat sosial-kemanusiaan. Salah satu temuan kebaruan dalam penelitian ini adalah pemanfaatan media digital sebagai sarana untuk memperkuat karakter moderat siswa. Madrasah mendorong siswa untuk menjadi produsen konten kreatif yang mempromosikan pesan-pesan perdamaian, toleransi, dan cinta tanah air di media sosial. Dengan membuat vlog, poster digital, dan tulisan pendek mengenai keindahan keberagaman, siswa secara tidak langsung melakukan "perlawanan naratif" terhadap konten radikal. Langkah ini sangat efektif karena menyentuh dunia remaja yang tidak bisa lepas dari teknologi, sekaligus mengubah media sosial dari ancaman menjadi alat transformasi nilai yang positif bagi penguatan identitas nasional. Penelitian mengungkapkan bahwa lingkungan sekolah atau budaya madrasah memegang peranan vital sebagai laboratorium sosial bagi siswa. Kebijakan Kepala Madrasah dalam menciptakan suasana yang demokratis dan terbuka memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi pemikiran mereka tanpa rasa takut. Kegiatan kolektif seperti upacara bendera yang dikaitkan dengan nilai-nilai kepahlawanan dalam Islam, serta perayaan hari besar nasional yang diisi dengan doa bersama, menjadi sarana integrasi nilai religius dan nasionalis. Budaya sekolah yang inklusif ini memberikan ruang bagi siswa untuk mempraktikkan moderasi secara konsisten, sehingga karakter kebangsaan yang terbentuk menjadi lebih permanen dan tidak mudah goyah oleh pengaruh luar. Meskipun proses transformasi berjalan baik, penelitian mengidentifikasi beberapa faktor penghambat, seperti masih adanya pengaruh lingkungan keluarga atau pertemanan di luar sekolah yang terkadang membawa paham kaku. Selain itu, keterbatasan literasi digital pada sebagian kecil pendidik juga menjadi tantangan dalam mengimbangi kecepatan informasi yang diterima siswa. Namun, faktor pendukung seperti dukungan penuh kepemimpinan madrasah, ketersediaan fasilitas teknologi, dan antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran kontekstual menjadi mesin penggerak utama. Sinergi antara guru, manajemen madrasah, dan pemanfaatan teknologi informasi terbukti mampu meminimalkan hambatan tersebut dan mempercepat tercapainya tujuan pembentukan karakter siswa yang Model pembelajaran PAI inklusif yang efektif melalui integrasi tiga domain: kognitif . emahaman kriti. , afektif . mpati mendala. , dan psikomotorik . ksi nyata berbasis Transformasi nilai moderasi menjadi karakter kebangsaan bukan lagi sekadar slogan, melainkan telah menjadi realitas perilaku siswa di MAN Kota Palopo yang ditandai dengan sikap toleran, anti-kekerasan, dan cinta tanah air. Secara praktis, model ini dapat dijadikan panduan bagi madrasah lain untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa secara intelektual dan religius secara spiritual, tetapi juga memiliki integritas kebangsaan yang Stabilitas bangsa di masa depan sangat bergantung pada keberhasilan sekolah dalam menjalankan peran sebagai institusi penyemai moderasi dan penjaga jati diri bangsa yang Pengembangan model pembelajaran PAI inklusif di MAN Kota Palopo Hasil penelitian di MAN Kota Palopo menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) saat ini berada pada titik krusial di mana paparan ideologi eksklusif dari media sosial mulai memengaruhi pola pikir siswa. Data lapangan mengungkapkan bahwa sebagian siswa cenderung memahami agama secara tekstual-skriptural, yang jika tidak diimbangi dengan pedagogi yang tepat, dapat mengarah pada sikap intoleran terhadap Kondisi objektif ini diperparah dengan melimpahnya informasi keagamaan tanpa filter di ruang digital yang sering kali mempertentangkan antara ketaatan beragama dan loyalitas kebangsaan. Oleh karena itu, madrasah memandang perlunya reorientasi model pembelajaran dari yang bersifat doktriner-monolog menuju model inklusif-dialogis guna membentengi jati diri siswa sebagai generasi Muslim yang moderat. Secara teoretis, pengembangan model pembelajaran PAI inklusif di lokasi penelitian didasarkan pada integrasi nilai Islam Wasathiyah ke dalam struktur kurikulum madrasah yang Temuan penelitian menunjukkan bahwa model ini tidak bermaksud mengubah substansi akidah, melainkan memperluas cakrawala pemahaman siswa mengenai dimensi kemanusiaan dalam Islam. Model inklusif ini menempatkan perbedaan keyakinan dan keragaman budaya sebagai sunnatullah yang harus dikelola dengan sikap saling menghargai . Di MAN Kota Palopo, landasan teoretis ini diperkuat dengan pemikiran bahwa pendidikan agama harus menjadi ruang aman bagi siswa untuk mengeksplorasi nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender tanpa kehilangan akar religiusitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang menempatkan peneliti sebagai instrumen kunci untuk membedah proses transisi model pembelajaran di Melalui pengamatan mendalam terhadap interaksi di dalam kelas, peneliti menemukan bahwa peran guru PAI telah bergeser dari sekadar pemberi informasi menjadi fasilitator dialog inklusif. Sumber data primer yang diperoleh dari wawancara dengan Kepala Madrasah, guru, dan perwakilan siswa memberikan gambaran autentik mengenai kebutuhan akan model pembelajaran yang lebih menyentuh realitas sosial. Seluruh data tersebut kemudian diuji keabsahannya melalui teknik triangulasi sumber untuk memastikan bahwa model pembelajaran inklusif yang dikembangkan memiliki validitas yang tinggi untuk diterapkan secara berkelanjutan. Hasil penelitian pada ranah kognitif memperlihatkan bahwa pengembangan model PAI inklusif dimulai dengan melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman ayat-ayat keagamaan yang selama ini dipahami secara sempit. Guru PAI di MAN Kota Palopo menerapkan metode kontekstualisasi, di mana siswa diajak untuk memahami asbabun nuzul . ebab turunnya aya. dan mengaitkannya dengan tantangan kemajemukan di Indonesia saat ini. Siswa didorong untuk berpikir kritis dalam menganalisis narasi keagamaan yang beredar di internet agar tidak mudah terjebak dalam pelabelan negatif terhadap kelompok yang berbeda. Transformasi kognitif ini bertujuan untuk menciptakan kecerdasan intelektual yang inklusif, di mana siswa mampu melihat kebenaran agama dalam bingkai keragaman sosial yang luas. Pada domain afektif, model pembelajaran inklusif di MAN Kota Palopo fokus pada penanaman empati sosial yang mendalam sebagai bagian dari karakter siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa internalisasi nilai moderasi dilakukan melalui penyajian kisah-kisah keteladanan tokoh Islam dalam sejarah yang sangat menghargai entitas nonJurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa Muslim. Siswa tidak hanya diajarkan untuk menghafal definisi toleransi, tetapi dilibatkan dalam sesi refleksi untuk merasakan pentingnya harmoni dalam masyarakat yang majemuk. Perubahan sikap ini terlihat dari meningkatnya sensitivitas siswa terhadap isu-isu ketidakadilan dan kekerasan berbasis agama, yang kemudian diubah menjadi kesadaran untuk menjaga kedamaian dan kerukunan di lingkungan madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model PAI inklusif telah mencapai tahap psikomotorik, di mana nilai-nilai moderasi dimanifestasikan dalam perilaku nyata siswa sehari-hari. Di MAN Kota Palopo, hal ini terlihat pada partisipasi aktif siswa dalam berbagai proyek kolaboratif yang mengesampingkan perbedaan latar belakang organisasi keagamaan atau status sosial. Praktik inklusivitas ini juga tercermin dalam cara siswa mengelola konflik di lingkungan sekolah, di mana musyawarah dan dialog dikedepankan sebagai solusi utama. Tindakan nyata ini menjadi bukti bahwa model pembelajaran yang dikembangkan berhasil mengubah pengetahuan teoritis menjadi keterampilan hidup yang mendukung terciptanya karakter kebangsaan yang religius. Keberhasilan model pembelajaran PAI inklusif sangat dipengaruhi oleh ekosistem atau budaya sekolah yang mendukung. MAN Kota Palopo menciptakan lingkungan yang egaliter, di mana setiap siswa merasa dihargai dan memiliki hak yang sama untuk berpendapat terlepas dari perbedaan pandangan keagamaan. Kebijakan madrasah yang mengintegrasikan nilai moderasi ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, upacara bendera, dan peringatan hari besar nasional menjadi sarana penguatan jati diri bangsa. Budaya sekolah yang inklusif ini berfungsi sebagai "kurikulum tersembunyi" . idden curriculu. yang secara konsisten membentuk pola pikir dan perilaku siswa agar selaras dengan nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas. Beberapa faktor penghambat dalam pengembangan model inklusif, seperti resistensi dari sebagian kecil lingkungan luar sekolah yang masih memegang paham konservatifekstrim. Selain itu, keterbatasan variasi bahan ajar yang inklusif di perpustakaan juga menjadi tantangan bagi pendidik dalam memperkaya referensi siswa. Namun, solusi strategis dilakukan melalui pelatihan berkelanjutan bagi guru PAI dan kolaborasi aktif dengan orang tua siswa untuk menyamakan persepsi mengenai moderasi beragama. Pemanfaatan sumber belajar digital yang terbuka dan terverifikasi oleh Kementerian Agama menjadi alternatif efektif untuk menutupi kekurangan materi cetak, sehingga transformasi nilai tetap berjalan Pengembangan model pembelajaran PAI inklusif di MAN Kota Palopo telah berhasil mentransformasi nilai moderasi menjadi karakter kebangsaan yang kokoh pada diri siswa. Sintesis dari penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi antara kurikulum formal, pendekatan kontekstual, pemanfaatan teknologi digital, dan penguatan budaya sekolah merupakan kunci keberhasilan pendidikan agama di era modern. Model ini tidak hanya menciptakan siswa yang saleh secara ritual, tetapi juga warga negara yang nasionalis, toleran, dan cinta tanah air. Keberlanjutan model ini sangat direkomendasikan untuk terus dikembangkan dan disebarluaskan ke lembaga pendidikan lainnya guna menjamin stabilitas sosial dan integritas NKRI di masa depan. KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi nilai moderasi di MAN Kota Palopo berhasil dilakukan melalui pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif yang mengintegrasikan tiga domain utama: kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada ranah kognitif, siswa tidak lagi sekadar menghafal teks, tetapi mampu melakukan dekonstruksi terhadap pemahaman keagamaan yang kaku melalui pendekatan kontekstual. Secara afektif, model ini berhasil menumbuhkan empati sosial dan rasa toleransi yang mendalam, sementara secara Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Pengembangan Model Pembelajaran PAI Inklusif: Transformasi Nilai Moderasi Menjadi Karakter Kebangsaan Siswa psikomotorik, nilai-nilai tersebut termanifestasi dalam perilaku inklusif dan kolaboratif dalam kehidupan sehari-hari di madrasah. Salah satu temuan kunci adalah efektivitas pemanfaatan media digital sebagai sarana syiar moderasi yang adaptif bagi generasi Z. Strategi mengubah siswa dari konsumen informasi menjadi produsen konten kreatif . eperti vlog, poster, dan narasi perdamaia. terbukti ampuh membendung arus informasi radikal tanpa filter di media Hal ini membuktikan bahwa teknologi informasi, jika dikelola dengan pendekatan pedagogi yang tepat, dapat menjadi akselerator dalam memperkuat pemahaman agama yang moderat dan inklusif. Penelitian menunjukkan bahwa transformasi nilai moderasi berjalan selaras dengan penguatan karakter kebangsaan. Budaya madrasah yang egaliter dan terbuka berfungsi sebagai "laboratorium sosial" yang menjembatani kesenjangan antara kebijakan kurikulum nasional dengan praktik di kelas. Siswa MAN Kota Palopo menunjukkan identitas ganda yang harmonis: menjadi Muslim yang taat secara religius sekaligus warga negara yang nasionalis dan cinta tanah air. Komitmen kebangsaan ini muncul sebagai buah dari pemahaman bahwa moderasi beragama adalah kunci stabilitas NKRI. Meskipun terdapat hambatan berupa pengaruh lingkungan luar yang konservatif dan keterbatasan bahan ajar cetak, sinergi antara kepemimpinan madrasah yang visioner, kompetensi guru yang adaptif, dan pelibatan orang tua menjadi solusi strategis yang efektif. Keberlanjutan model PAI inklusif ini sangat bergantung pada konsistensi pendidik dalam memperbarui metode pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Sebagai simpulan akhir, model ini menawarkan kerangka kerja yang aplikatif bagi lembaga pendidikan lain dalam mencetak generasi muda yang moderat, toleran, dan berintegritas kebangsaan tinggi di era disrupsi digital. REFERENSI