Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (JEPA) Volume 10. Nomor 2 . : 458-468 ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . EFEKTIVITAS PENYULUHAN DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MANAJEMEN USAHA SAPI POTONG DI DESA TONSEWER KECAMATAN TOMPASO BARAT EFFECTIVENESS OF COUNSELING IN IMPROVING BEEF CATTLE BUSINESS MANAGEMENT SKILLS IN TONSEWER VILLAGE. TOMPASO BARAT SUB-DISTRICT Judy Mathilda Tumewu 1*. Jolyanis Lainawa 2 (Universitas Sam Ratulangi. Manado. Indonesi. (Email: tumewujudy@unsrat. (Universitas Sam Ratulangi. Manado. Indonesi. (Email: jolylainawa@unsrat. Penulis korespondensi: tumewujudy@unsrat. ABSTRACT Extension effectiveness, is the ability of extension workers to achieve the objectives of extension that have been set including knowledge, attitudes and skills of the target. Farmers' skills in business management, is related to the ability of farmers to manage beef cattle businesses ranging from planning, organizing, directing, and controlling. The purpose of the study was to describe and analyze the relationship between the effectiveness of extension in improving beef cattle business management skills in Tonsewer village. West Tompaso sub-district. Minahasa This research was conducted in January-April 2025. The research approach was mixed Variables and indicators measured the role of extension workers as motivators, educators, catalysts, communicators, consultants, facilitators and organizers and the ability of farmers to manage beef cattle businesses ranging from planning, organizing, directing, and controllinguantitative data analysis, using descriptive statistics, inferential (SPSS), while Qualitative data, namely theme coding, narrative analysis manually. The results of the study stated, the more the effectiveness of beef cattle business management extension to farmers is improved, the skills of farmers in terms of planning, organizing, directing and controlling beef cattle business will increase. Keywords: Effectiveness. Skills. Management. ABSTRAK Efektifitas penyuluhan, merupakan kemampun penyuluh dalam mencapai tujuan penyuluhan yang telah ditetapkan mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan sasaran. Keterampilan petani dalam manajemen usaha, adalah berkaitan dengan kemampuan petani mengelola usaha ternak sapi potong mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Tujuan penelitian mengdeskripsikkan dan menganalisis hubungan antara efektivitas penyuluhan dalam meningkatkan keterampilan manajemen usaha ternak sapi potong di desa Tonsewer kecamatan Tompaso barat kabupaten Minahasa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan JanuariApril 2025. Pendekatan penelitian campuran . ixed method. Variabel dan indikator yang diukur peran penyuluh sebagai motivator, edukator, katalisator, komunikator, konsultan, fasilitator dan organisator dan kemampuan petani mengelola usaha ternak sapi potong mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Analisis data kuantitatif, https://doi. org/10. 21776/ub. Judy Mathilda Tumeru Ae Efektivitas Penyuluhan Dalam Meningkatkan menggunakan statistik deskriptif, inferensial (SPSS), sedangkan data Kualitatif, yaitu koding tema, analisis naratif secara manual. Hasil penelitian menyatakan, semakin ditingkatkan efektivitas penyuluhan manajemen usaha ternak sapi potong kepada petani, maka keterampilan peternak dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian usaha ternak sapi potong akan meningkat. Kata kunci: Efektivitas. Keterampilan. Manajemen PENDAHULUAN Usaha peternakan sapi potong di desa Tonsewer kecamatan Tompaso Barat kabupaten Minahasa provinsi Sulawesi Utara, masih memiliki kendala dalam pengembangannya, sistem pemeliharaan masih cara tradisional, kurangnya pemanfaatan lahan untuk ditanami hijauan, belum adanya pakan ternak yang bermutu seperti pakan hasil permentasi dari limbah pertanian, kandang belum sesui standar, belum ada pemberian vitamin dan konsentrat yang sesuai, belum ada pengolahan pemanfaatan limbah kotoran ternak secara ekonomis serta peternak belum memahami pemasaran ternak yang lebih efisien. Penyuluhan pertanian adalah suatu usaha atau upaya untuk mengubah perilaku petani dan keluarganya, agar mereka mengetahui dan mempunyai kemauan serta mampu memecahkan masalahnya sendiri dalam usaha atau kegiatan-kegiatan meningkatkan hasil usahanya dan tingkat kehidupannya. Penyuluhan pertanian secara teknis dan manajerial dilaksanakan oleh seorang penyuluh yang mempunyai fungsi untuk memberikan pelayanan pendidikan dan informasi yang dibutuhkan petani. (Rahmawati et al. , 2019. Makmur. et al. Efektivitas kinerja penyuluh dapat menjadi standar jaminan keberhasilan pembangunan pertanian di suatu daerah. Yohan et al. , . Efektifitas penyuluh merupakan kemampun penyuluh dalam mencapai tujuan penyuluhan yang telah ditetapkan mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan sasaran. (Rangga et al. , 2. Sejalan dengan hal itu menurut Afrinawati, et al . , efektivitas penyuluh adalah keberhasilan untuk mencapai tujuan penyuluhannya yang didasarkan pada karakteristik masyarakat sasaran itu sendiri. Keterampilan petani adalah berkaitan dengan kemampuan manajemen mengelola usaha ternak sapi potong, dimana berdasarkan teori George R. Terry . , adalah mengimplementasikan fungsi-fungsi manajemen POAC, yaitu. , pengorganisasian . , pelaksanaan . , dan pengawasan . Tingkat dukungan penyuluh direfleksikan oleh peran atau tugas penyuluh, menurut Khairunnisa, et al . , adalah sebagai. motivator, edukator, katalisator, komunikator, konsultan, fasilitator dan organisator. Hasil penelitian Lenzun, et al . , terdapat hubungan signifikan antara penyuluhan dengan peningkatan usaha ternak sapi potong di desa Tonsewer kecamatan Tompaso Barat kabupaten Minahasa, dimana petani yang sering mengikuti penyuluhan perkembangan usaha peternakan sapi potong lebih baik dibandingkan dengan yang kurang mengikuti penyuluhan. Tujuan penelitian menganalisis hubungan antara tingkat efektivitas penyuluhan dengan peningkatan keterampilan mengimplentasikan fungsi-fungsi manajemen dalam usaha ternak sapi potong di desa Tonsewer kecamatan Tompaso Barat kabupaten Minahasa. Kontribusi penelitian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan meliputi. penguatan teori penyuluhan . odel komunikasi dalam penyuluhan, peran penyuluh sebagai agen perubahan, hubungan antara transfer pengetahuan dan perubahan perilaku peterna. , integrasi manajemen ke dalam praktik peternakan . erencanaan usaha ternak, pengorganisasian sumber daya, pelaksanaan kegiatan usaha, pengawasan dan evaluas. , implikasi terhadap pemberdayaan peternak JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 458-468 . eningkatkan produktivitas, mendorong kemandirian usaha, menumbuhkan daya saing usaha ternak secara berkelanjuta. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada Desa Tonsewer Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa Povinsi Sulawesi Utara mulai bulan Januari-April 2025. Jenis Penelitian adalah Kuantitatif Korelasional, yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan . antara variabel efektivitas penyuluhan dengan keterampilan manajemen usaha sapi potong. Teknik pengambilan sampel adalah purposive, dengan pertimbangan usaha diatas 3 tahun, dengan jumlah yang dipelihara minimal 3 ekor, maka dipilih 35 peternak sebagai Sugiyono . , purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan tertentu. Tsalitsa, et al . , pengambilan sampel secara purposive sampling dari populasi berdasarkan kriteria. Variabel dan indikator yang diukur peran penyuluh sebagai motivator, edukator, katalisator, komunikator, konsultan, fasilitator dan organisator dan kemampuan petani mengelola usaha ternak sapi potong mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian. Analisis data kuantitatif, menggunakan statistik deskriptif, inferensial (SPSS). Analisis korelasi Rank Spearman digunakan untuk mencari hubungan atau menguji signifikansi hipotesis asosiatif , dimana masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk ordinal, dan sumber data antara variabel tidak harus sama. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan Umur. Umur responden bervariasi antara 22 tahun sampai 67 tahun. menurut Badan Pusat Statistik (BPS), usia produktif diukur dari rentang umur 15 hingga 64 tahun. Usia produktif adalah saat dimana seseorang masih mampu bekerja secara maksimal dan masih bisa terus mengembangkan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi maupun banyak orang. Menurut Anwar dan Prasetyowat . , umumnya seseorang yang berada pada umur produktif akan mampu memperoleh hasil pendapatan yang lebih dibandingkan umur non-produktif. Karakteristik umur petani responden sangat penting bagi keberlanjutan usahatani, karena produktivitas seseorang dalam bekerja sangat dipengaruhi oleh umur. Menurut undang-undang tenaga kerja No. Tahun 2003, usia produktif adalah usia antara 15 sampai 64 tahun. Petani yang memiliki umur produktif akan lebih memiliki fisik yang lebih kuat jika dibandingkan dengan petani yang sudah tidak produktif. Tabel 1. Karakteristik Berdasarkan Umur. Umur JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Jumlah Presentase % 27,5% 2,08% Judy Mathilda Tumeru Ae Efektivitas Penyuluhan Dalam Meningkatkan Tabel 1 dapat di lihat bahwa rata-rata jumlah peternak paling banyak di antara umur 50-59 tahun dengan jumlah 16 orang, sedangkan umur 40-49 berjumlah 141 orang, umur 30-39 berjumlah 4 orang, ada juga yang berjumlah sama banyak di kisaran umur 20-29 dan 60-69 dengan jumlah 4 orang dan yang paling sedikit di umur 70-75 dengan jumlah 1 orang. Umur produktif dari tenaga kerja dalam mengelola usahatani yaitu berkisar antara 14-62 tahun. Seseorang dikatakan produktif apabila memiliki usia 15-64 tahun. Artinya, secara fisik petani masih memiliki potensi yang besar untuk menghasilkan produk . arang dan jas. (Anwar dan Prasetyowat, 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan. Jenjang Pendidikan responden bervariasi mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai dengan Sarjana. Riyono dan Juliansyah . menyatakan tingkat pendidikan berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan petani karet di Desa Bukit Hagu. Kecamatan Lhoksukon. Kabupaten Aceh Utara. Hasil analisis Nurulia, et al . , menunjukkan bahwa secara serempak karakteristik peternak, umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, pengalaman beternak, jumlah dan skala kepemilikan mempunyai pengaruh terhadap adopsi teknologi pemeliharaan kambing. Tabel 2. Karakteristik Berdasarkan Pendidikan. Pendidikan Jumlah SMP SMA Presentase (%) 27,5% 12,5% Tabel 2 , lulusan paling banyak adalah pendidikan SMA dengan jumlah 22 orang selanjutnya pendidikan SD dengan jumlah 11 orang dan di ikuti pendidikan SMP 5 orang dan yang paling sedikit pendidikan S1 dengan jumlah 2 orang. Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata pendidikan berasal dari kata AodidikAo dan mendapat imbuhan AopeAo dan akhiran AoanAo, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya pengajaran dan pelatihan. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Utama. Jumlah responden yang berlatar belakang petani paling banyak dibanding dengan latar belakang pekerjaan utama lainnya dalam hal memelihara ternak sapi potong. Jumlah responden dengan latar belakang petani berjumlah 35 orang , swasta 4 orang dan ASN 1 orang. Ini menandakan bahwa usaha pemeliharaan ternak sapi potong masih diandalkan oleh petani. Oleh sebab itu untuk pengembangan usaha, sebaiknya petani dijadikan tulang punggung pengembangan usaha peternakan sapi potong. Tabel 3. Karakteristik Pekerjaan Utama. Pekerjaan Jumlah Presentase JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 458-468 PNS 2,5% Swasta Tani 87,5% Pekerjaan yang lebih digunakan sebagai pekerjaan utama adalah Tani dengan jumalah 35 orang serta Swasta berjumlah 4 orang dan terakhir PNS dengan jumlah 1 orang. Pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap jenis pekerjaannya, jika pendidikannya lebih tinggi maka jenis pekerjaannya pun akan lebih tinggi dan hal tersebut akan berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh seseorang. Selain itu jenis pekerjaan seseorang akan dilihat sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Oleh karena itu tingkat pendidikan dan keterampilan sangat mempengaruhi jenis pekerjaan. Karakteristik Responden BerdasrkanTanggungan Keluarga. Jumlah tanggungan keluarga merupakan banyaknya anggota keluarga yang dimiliki peternak sapi potong. Anggota keluarga yang dimiliki dapat memberikan dampak positif dalam usaha pemeliharaan ternak karena, anggota keluarga yang dimiliki dapat digunakan sebagai tenaga kerja. Banyaknya jumlah tanggungan keluarga dapat mempengaruhi peternak dalam menjalani usaha peternakannya. Jumlah tanggungan keluarga juga dapat membantu peternak dalam hal tenaga kerja, sebab jika anggota keluarganya banyak maka semakin ringan peternak dalam melakukan usaha peternakan karena dibantu dengan tenaga kerja keluarga. Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga Tanggungan Jumlah Presentase 27,5% 27,5% Jumlah tanggungan keluarga responden antara 1 orang sampai 4 orang. Responden dengan tanggungan keluarga 1 orang ada 11 responden, untuk tanggungan keluarga 2 orang 10 responden, tanggungan keluarga 3 orang 11 responden dan tanggungan keluarga 4 orang 8 Menurut Nurdiyansah et al . , menyatakan jumlah anggota keluarga akan mempengaruhi peternak dalam pengembangan usaha. Semakin banyak jumlah tanggungan keluarga maka semakin banyak pula beban hidup yang harus dipikul seorang peternak Karakteristik Usaha Ternak Sapi Potong Usaha peternakan sapi potong di Desa Tonsewer sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat, khususnya petani. Potensi pengembangannya sangat baik, namun usaha peternakan ini masih dilakukan dengan cara sambilan . Menurut hasil penelitian Arbi et al . Kecamatan Tompaso barat cocok untuk usaha peternakan sapi karena masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan. Hal ini terutama perkebunan masyarakat yang tidak diolah sehingga bisa digunakan untuk menggembalakan. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Judy Mathilda Tumeru Ae Efektivitas Penyuluhan Dalam Meningkatkan Peternakan sapi yang dikelola oleh masyarakat atau bisa diartikan sebagai peternakan rakyat merupakan hal pokok yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kerja pertanian dan juga untuk kebutuhan pangan serta tabungan, dimana jika sewaktu waktu bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang mendesak. Perkembangan ternak sapi di Desa Tonsewer belum menunjukkan kemajuan yang positif. Penurunan populasi ternak sapi ini dapat terjadi karena disebabkan kurangnya perhatian terhadap tatalaksana pemeliharaan ternak termasuk perkandangan serta perimbangan kebutuhan pemotongan ternak dengan kelahiran anak, pemberian pakan ternak yang berkualitas dan seleksi bibit dan induk yang unggul sehingga terjadi pengurasan genetic. Sapi Peranakan Ongole (PO) adalah jenis ternak sapi terbanyak dipelihara responden . %). Sapi PO adalah Hasil persilangan sapi ongole dengan sapi local Indonesia . api jaw. menghasilkan sapi yang sangat mirip dengan sapi ongole. Ukuran tubuh dan punuknya lebih kecil dibandingkan sapi ongole, bulu berwarna putih atau abu-abu, gelambirnya juga kelihatan lebih kecil atau sangat sediki. Hasil Analisis Korelasi Rank Spearman. Korelasi Rank Spearman digunakan untuk mencari hubungan atau untuk menguji signifikansi hipotesis asosiatif , karena masing-masing variabel yang dihubungkan berbentuk Ordinal, maka diperoleh hasil sebagai berikut. Tabel 5. Hubungan Efektivitas Penyuluhan dengan Keterampilan Perencanaan Efektivitas Keterampilan Penyuluhan Perencanaan Spearman's rho Efektivitas Correlation Penyuluhan Coefficient Sig. -taile. Keterampilan Correlation Perencanaan Coefficien Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Dari output diatas, diperoleh angka koefisien sebesar 0. 786**, ini mengartikan bahwa tingkat kekuatan hubungan . antara variabel efektivitas penyuluhan dengan keterampilan perencanaan adalah sebesar 0. Berdasarkan kriteria model D. de Vaus . , masuk dalam kategori hubungan sangat kuat . Selanjutnya tanda bintang 2 (**) artinya korelasi bernilai signifikan pada angka signifikan sebesar 0. Angka korelasi pada hasil diatas bernilai positif, yaitu 0. 786, sehingga hubungan antara variable bersifat searah . enis hubungan seara. , dengan demikian dapat diartikan bahwa semakin efektivitas penyuluhan manajemen usaha ternak sapi potong kepada petani, maka keterampilan peternak dalam membuat perencanaan usaha ternak sapi potong akan Selanjutnya diketahui nilai signifikan atau Sig. -taile. adalah sebesar 0,000, dimana lebih kecil dari 0,05. Maka hal ini menyatakan adanya hubungan yang signifikan . antar Dengan demikian hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan, jelas ditolak dan menerima hipotesis yang menyatakan ada hubungan. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 458-468 Tabe 6. Hubungan Efektivitas Penyuluhan dengan Keterampilan Pengorganisasian Efektivitas Keterampilan Penyuluhan Pengorganisasian Spearman's rho Efektivitas Penyuluhan Correlation Coefficient Sig. -taile. Keterampilan Correlation Pengorganisasian Coefficien Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Dari output diatas, diperoleh angka koefisien sebesar 0. 697**, ini mengartikan bahwa tingkat kekuatan hubungan . antara variabel Efektivitas Penyuluhan dengan Keterampilan Pengorganisasian adalah sebesar 0. Menurut D. de Vaus . , masuk dalam kategori Hubungan Kuat . Selanjutnya tanda bintang 2 (**) artinya korelasi bernilai signifikan pada angka signifikan sebesar 0. Angka korelasi pada hasil diatas bernilai positif, yaitu 0. 697, sehingga hubungan antara variable bersifat searah . enis hubungan seara. , dengan demikian dapat diartikan bahwa semakin ditingkatkan penyuluhan manajemen usaha ternak sapi potong kepada petani, maka keterampilan petani mengorganisasikan system usaha ternak sapi potong akan Selanjutnya diketahui nilai signifikan atau Sig. -taile. adalah sebesar 0,000, dimana lebih kecil dari 0,05. Maka hal ini menyatakan adanya hubungan yang signifikan . antar Dengan demikian hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan, jelas ditolak dan menerima hipotesis yang menyatakan ada hubungan. Tabe 7. Hubungan Efektivitas Penyuluhan dengan Keterampilan Pengarahan Spearman's rho Efektivitas Penyuluhan Keterampilan Pengarahan Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficien JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Efektivitas Keterampilan Penyuluhan Pengarahan Judy Mathilda Tumeru Ae Efektivitas Penyuluhan Dalam Meningkatkan Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Dari output diatas, diperoleh angka koefisien sebesar 0. 786**, ini mengartikan bahwa tingkat kekuatan hubungan . antara variabel efektivitas penyuluhan dengan keterampilan pengarahan adalah sebesar 0. Menurut D. de Vaus . , masuk dalam kategori Hubungan Sangat Kuat . Selanjutnya tanda bintang 2 (**) artinya korelasi bernilai signifikan pada angka signifikan sebesar 0. Angka korelasi pada hasil diatas bernilai positif, yaitu 0. 786, sehingga hubungan antara variable bersifat searah . enis hubungan seara. , dengan demikian dapat diartikan bahwa semakin ditingkatkan kegiatan penyuluhan manajemen usaha ternak sapi potong kepada petani, maka keterampilan peternak dalam mengelola pelaksaan usaha produksi dan pemasaran hasil akan meningkat. Selanjutnya diketahui nilai signifikan atau Sig. -taile. adalah sebesar 0,000, dimana lebih kecil dari 0,05. Maka hal ini menyatakan adanya hubungan yang signifikan . antar variabel. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan, jelas ditolak dan menerima hipotesis yang menyatakan ada hubungan. Tabe 8. Hubungan Efektivitas Penyuluhan dengan Keterampilan Pengendalian Spearman's rho Efektivitas Penyuluhan Correlation Coefficient Sig. -taile. Keterampilan Correlation Pengendalian Coefficien Sig. -taile. **. Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Efektivitas Keterampilan Penyuluhan Pengendalian Dari output diatas, diperoleh angka koefisien sebesar 0. 900**, ini mengartikan bahwa tingkat kekuatan hubungan . antara variabel efektivitas penyuluhan dengan keterampilan pengendalian adalah sebesar 0. Menurut D. de Vaus . , masuk dalam kategori mendekati sempurna . Selanjutnya tanda bintang 2 (**) artinya korelasi bernilai signifikan pada angka signifikan sebesar 0. Angka korelasi pada hasil diatas bernilai positif, yaitu 0. 900, sehingga hubungan antara variable bersifat searah . enis hubungan seara. , dengan demikian dapat diartikan bahwa semakin ditingkatkan kegiatan penyuluhan manajemen usaha ternak sapi potong kepada petani, maka kegiatan melakukan evaluasi dan monitoring yang dilakukan petani pada usaha ternak sapi potong akan meningkat. Selanjutnya diketahui nilai signifikan atau Sig. -taile. adalah sebesar 0,000. Dimana lebih kecil dari 0,05. Maka hal ini menyatakan adanya hubungan yang signifikan . antar Dengan demikian hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan, jelas ditolak dan menerima hipotesis yang menyatakan ada hubungan. JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . JEPA, 10 . , 2026: 458-468 Implikasi Fungsi-Fungsi Manajemen Dalam Mengembangkan Usaha Ternak Sapi Potong. Penyuluhan pertanian merupakan salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kapasitas peternak, terutama dalam aspek manajemen usaha. Dalam konteks usaha sapi potong, manajemen yang baik mencakup pengelolaan pakan, kesehatan ternak, reproduksi, pencatatan usaha, serta pemasaran. Efektivitas penyuluhan dalam meningkatkan keterampilan manajemen usaha sapi potong dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain peningkatan pengetahuan peternak, perubahan sikap, serta adopsi teknologi atau praktik baru. Implikasi fungsi-fungsi manajemen dalam mengembangkan usaha ternak sapi potong. Implikasi Perencanaan (Plannin. - Menentukan tujuan usaha ternak, seperti target produksi sapi per tahun, bobot sapi, atau omzet yang ingin dicapai. - Menyusun rencana pembelian bibit sapi, pakan, vaksinasi, hingga sistem pemeliharaan yang optimal. - Merancang strategi pemasaran, misal kerja sama dengan rumah potong hewan (RPH) atau restoran. - Mengidentifikasi risiko . enyakit hewan, fluktuasi harga pasa. dan Implikasi Pengorganisasian (Organizin. - Membagi tugas di dalam tim, misal: siapa bertugas memberi pakan, memeriksa kesehatan, mencatat pertumbuhan sapi. - Menyusun struktur organisasi sederhana, termasuk alur pelaporan. - Menyiapkan sumber daya . ahan, kandang, alat kebersihan, tenaga kerja, keuanga. agar tersedia sesuai kebutuhan. Implikasi Pengarahan (Leading/Directin. - Memberikan arahan teknis kepada pekerja ternak tentang SOP pemeliharaan sapi . emberian pakan, perawatan kebersihan, manajemen reproduks. - Memberikan motivasi kepada tim, termasuk pelatihan atau peningkatan keterampilan tentang kesehatan hewan dan teknik pemeliharaan. - Menjadi contoh dalam menerapkan prinsip biosecurity di peternakan. Implikasi Pengendalian (Controllin. - Melakukan evaluasi berkala terhadap performa usaha: pertumbuhan sapi, tingkat kematian, biaya pakan, dan hasil penjualan. - Membuat laporan keuangan, laporan kesehatan sapi, dan laporan produktivitas. - Melakukan koreksi jika ada penyimpangan dari rencana, seperti mengganti pakan jika hasil pertumbuhan sapi tidak optimal. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Tingkat kekuatan hubungan . antara variable-variabel efektivitas penyuluhan masuk dalam kategori hubungan sangat kuat. Korelasi bernilai signifikan dengan angka korelasi bernilai positif sehingga hubungan antara variable bersifat searah . enis hubungan seara. , yang diartikan semakin ditingkatkan efektivitas penyuluhan maka akan diikuti dengan meningkatnya keterampilan peternak dalam mengimplementasikan JEPA. ISSN: 2614-4670 . ISSN: 2598-8174 . Judy Mathilda Tumeru Ae Efektivitas Penyuluhan Dalam Meningkatkan fungsi-fungsi manajemen dalam usaha ternak sapi potong di desa Tonsewer kecamatan Tompaso Barat kabupaten Minahas. Saran Implementasi fungsi manajemen dalam usaha ternak sapi potong sangat penting, oleh sebab itu pemberdayaan petani melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan manajemen seharusnya rutin dilakukan kepada petani, agar petani bisa keluar dari kebiasaan memelihara ternak sapi potong dengan cara-cara tradisional. DAFTAR PUSTAKA