5 . SUSTAINABLE BUSINESS JOURNAL ISSN 2986-450X PENGARUH KOMPETENSI DAN EMPLOYEE EMPOWERMENT TERHADAP KINERJA KARYAWAN Umi Hidayati1*). Yuli Budiati. Christantius Dwi Atmaja. Info Artikel Sejarah Artikel: Diterima 14 Januari 2026 Disetujui 25 Maret 2026 Dipublikasikan 30 Maret 2026 ________________ Keywords: kinerja karyawan. employee empowerment. ____________________ Universitas Semarang, . Universitas Kristen Satya Wacana umianang86@gmail. Abstrak Permasalahan yang timbul seperti pada Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak adalah kinerja dari karyawan mengalami penurunan. Hasil inipun menunjukkan bahwa perlu adanya penelitian untuk dapat mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kompetensi dan employee empowerment yang dapat mempengaruhi employee engagement dan berdampak pada kinerja karyawan Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan dari 17 Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak yang memiliki karyawan dan mengijinkan peneliti untuk melakukan penyebaran kuesioner kepada karyawannya. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel yang digunakan adalah 72 orang sampel dari 17 Koperasi Simpan Pinjam. Alat analisis yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif, yaitu structural equation modelling. Berdasarkan hasil penelitian, untuk meningkatkan kinerja karyawan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak, dapat dipengaruhi oleh secara langsung oleh employee empowerment, kompetensi, dan employee engagement. Employee engagement juga dipengaruhi oleh kompetensi, dan employee empowerment. THE INFLUENCE COMPETENCE EMPOWERMENT ON EMPLOYEE AND EMPLOYEE Abstract The problem that arises in the savings and loan cooperative in Demak Regency is that employee performance has decreased. These results also show that there is a need for research to find out the factors that can influence the performance of savings and loan cooperative employees in Demak Regency. The aim of this research is to analyze the influence of competency and employee empowerment which can influence employee engagement and impact the performance of savings and loan cooperative employees in Demak Regency. n The population used in this research were all employees from 17 savings and loan cooperatives in Demak Regency which had employees and allowed researchers to distribute questionnaires to their Sample selection used purposive sampling. The sample used was 72 people from 17 Savings and Loans Cooperatives. The analytical tool used is a quantitative analysis method, namely structural equation modeling. Based on the research results, improving the performance of savings and credit cooperative employees in Demak Regency can be directly influenced by employee empowerment, competence and employee engagement. Employee engagement is also influenced by competence and employee empowerment. PENDAHULUAN Perusahaan dapat bekerja dengan baik ketika karyawannya mampu untuk bekerja dengan optimal. Kinerja karyawan yang optimal dilakukan oleh setiap karyawan sesuai dengan perannya akan menghasilkan kinerja perusahaan secara keseluruhan, sehingga perusahaan akan dapat bekerja secara optimal dan memenuhi tujuan organisasinya (Dessler. Kinerja karyawan sangat penting bagi tercapainya tujuan organisasi, dan perlu untuk berusaha agar karyawannya memiliki kinerja yang baik dan juga mempertahankan kinerjanya tersebut. Kinerja karyawan yang baik akan dapat tercapai ketika karyawan mampu menjalankan pekerjaannya sesuai standar-standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan, mampu untuk bekerja dengan disiplin dan bertanggung jawab dalam pekerjaannya (Robbins & Judge, 2. Kinerja karyawan tersebut dapat diukur dari perannya untuk pemenuhan tujuan perusahaan sehingga karyawan akan dapat memberikan kinerja terbaik bagi Ketika kinerja karyawan bermasalah, maka kinerja perusahaan secara keseluruhan juga akan mengalami masalah. Di sisi lain, perusahaan juga perlu untuk memberikan kenyamanan dan dukungan bagi karyawan sebab perusahaan membutuhkan peran karyawan dalam menjalankan keseluruhan operasional dari perusahaan (Kreitner & Kinicki, 2. Hal ini menjadikan kebutuhan kinerja karyawan yang baik semakin menjadi perhatian terutama setelah adanya pandemi Covid-19. Penggunaan kompetensi sebagai basic dari berbagai segi sumber energi manusia kini makin lama menjadi satu trend didalam mewujudkan satu organisasi pendidikan dan Kompetensi membedakan ilmu kerja . ob knowledg. didalam perilaku tersirat . nderlying behaviour. seseorang karyawan di didalam organisasi (Oktavia, 2. Permasalahan pada koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak adalah sebagian karyawan memulai bekerja tanpa pengalaman dimana karyawan bekerja secara on the job training. Hasil ini menimbulkan masalah karena kompetensi karyawan masih belum terbentuk dengan Berdasarkan berbagai kajian yang dilakukan, hampir 70% dari perusahaan swasta menggunakan modal kompetensi untuk menolong mereka didalam strategis bisnis dan sesudah itu memperbaiki kinerja karyawan. Kompetensi ilmu dan keahlian relatif mudah untuk dikembangkan, kalau bersama program pelatihan untuk menambah tingkat kekuatan sumber energi manusia. Dengan ada kompetensi yang baik maka karyawan terhitung akan dapat punyai keterampilan didalam menjalankan kinerjanya secara efisien (Meswantri & Awaludin, 2. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Salsabila & Lo . Oktavia . , dan Rahmayani et al . yang menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Namun hal tersebut bertentangan dengan hasil penelitian Meswantri & Awaludin . yang menyatakan kompetensi tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Konsep pemberdayaan dapat didefinisikan secara lebih luas sebagai peningkatan motivasi tugas intrinsic yang akan menghasilkan kinerja yang lebih baik (Afram et al, 2. Berdasarkan wawancara awal yang dilakukan oleh peneliti kepada karyawan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak, didapatkan hasil bahwa karyawan merasa belum diberdayakan secara maksimal. Karyawan merasa ada potensi di dalam dirinya yang masih dapat dikeluarkan untuk membantu koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Apabila suatu organisasi menjalankan pemberdayaan, di kalangan anggota, organisasi akan tumbuh perasaan menjadi anggota kelompok, tumbuh perasaan puas dalam mengambil tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya dan terdapat perasaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang berharga dan memperoleh kesenangan dalam melakukan komunikasi dan kerja sama dengan orang lain (Lestari & Yunianto, 2. Dengan demikian, pemberdayaan akan meningkatkan kinerja karena adanya perbaikan kerja sama yang lebih dekat dengan orang lain, bekerja dengan tujuan yang jelas, dan mendapatkan prestasi apabila tujuan tercapai. Bekerja dalam kondisi yang diberdayakan memiliki dampak yang positif bagi karyawan, yaitu meningkatkan perasaan keyakinan diri dan employee engagement, motivasi yang lebih tinggi, dan keletihan fisik/mental yang rendah sehingga karyawan dapat bekerja secara optimal (Hendrawijaya, 2. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Afram et al . Alhozi et al . , dan Lestari & Yunianto . yang menyatakan bahwa employee empowerment berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Namun hal tersebut bertentangan dengan hasil penelitian Hendrawijaya . yang menyatakan employee empowerment tidak berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan riset gap yang ada dan permasalahan yang ada dalam koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak, untuk memecahkan masalah dalam riset gap tersebut, digunakan variabel intervening yaitu employee engagement. Employee engagement adalah hubungan emosional dan intelektual yang tinggi yang dimiliki oleh karyawan terhadap pekerjaannya, organisasi, manajer, atau rekan kerja yang memberikan pengaruh untuk menambah discretionary effort dalam pekerjaannya. Setiap perusahaan tentu sangat ingin mempertahankan karyawan terbaiknya untuk tetap berada di dalam perusahaan. Karyawan tersebut sebisa mungkin dipelihara agar karyawan akan merasa betah dalam perusahaan. Untuk itu perilaku karyawan dipelajari oleh perusahaan agar mampu memelihara mereka dengan baik. Perusahaan akan lebih beruntung lagi jika karyawan mereka sudah terikat dengan perusahaan. Karyawan yang memiliki keterikatan dengan perusahaan akan berkomitmen secara emosional dan intelektual terhadap perusahaan serta akan memberikan usaha terbaiknya melebihi apa yang dijadikan target dalam suatu pekerjaan. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Meswantri & Awaludin . Bale & Pilay . Rahmayani et al . , dan Afram et al . yang menyatakan bahwa employee engagement memediasi pengaruh variabel bebas terhadap kinerja karyawan. Namun hal tersebut bertentangan dengan hasil penelitian Salsabila & Lo . yang menyatakan employee engagement tidak memediasi pengaruh variabel bebas terhadap kinerja karyawan. Permasalahan yang timbul seperti pada Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak adalah kinerja dari karyawan mengalami penurunan. Hasil inipun menunjukkan bahwa perlu adanya penelitian untuk dapat mengetahui faktor yang dapat mempengaruhi kinerja karyawan Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Berdasarkan riset gap yang didapatkan dari penelitian-penelitian sebelumnya dimana didapatkan hasil pengujian yang berbeda-beda dimana variabel-variabel bebas yang menjadi determinan kinerja karyawan menunjukkan pengaruh yang saling bertentangan. Hal ini membuat peneliti menggunakan variabel intervening untuk dapat memecahkan riset gap yaitu dengan penggunaan variabel employee engagement. Sehingga rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan kinerja karyawan Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak? Tujuan penelitian ini disusun berdasarkan permasalahan yang muncul pada latar belakang penelitian, yaitu untuk menguji dan menganalisis pengaruh kompetensi dan employee empowerment terhadap employee engagement karyawan Koperasi Simpan Pinjam di Kabupaten Demak, serta menganalisis pengaruh kompetensi, employee empowerment, dan employee engagement terhadap kinerja karyawan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji peran employee engagement sebagai variabel pemediasi dalam hubungan antara kompetensi dan kinerja karyawan, serta antara employee empowerment dan kinerja karyawan pada Koperasi Simpan Pinjam di Kabupaten Demak. Pengaruh Kompetensi dengan Employee engagement Employee engagement adalah hasil dari serangkaian faktor yang berkontribusi. Sementara beberapa faktor hanya dipengaruhi pada tingkat organisasi, banyak elemen berada di bawah kendali langsung karyawan individu. Seorang karyawan yang terampil, oleh karena itu, dapat sangat meningkatkan keterlibatan timnya. Kompetensi karyawan mewakili keterampilan utama yang harus dikuasai karyawan untuk menciptakan lanskap yang menarik bagi karyawan yang mereka layani. Bagian dari memahami kompetensi atau perilaku karyawan yang akan menciptakan lingkungan yang menarik adalah memahami bagaimana keterlibatan Karyawan memainkan peran penting dalam menciptakan lanskap keterlibatan di Mereka membentuk pengalaman karyawan dengan cara yang tidak dapat disentuh oleh SDM, pemimpin senior, atau bahkan CEO. Mereka lebih dekat dengan kesuksesan unik karyawan, kebutuhan pengembangan mereka, dan detail kehidupan pribadi Singkatnya, karyawan memiliki posisi yang baik untuk membantu membangun proposisi keterlibatan organisasi yang semakin baik. Uraian ini didukung oleh hasil penelitian Alzueta et al. , . Ghoniyah & Masurip . dan Hendrawijaya . menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif pada employee engagement. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H1: Kompetensi berpengaruh terhadap employee engagement. Pengaruh Employee empowerment dengan Employee engagement Apabila suatu organisasi menjalankan pemberdayaan, di kalangan anggota, organisasi akan tumbuh perasaan menjadi anggota kelompok, tumbuh perasaan puas dalam mengambil tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya dan terdapat perasaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang berharga dan memperoleh kesenangan dalam melakukan komunikasi dan kerja sama dengan orang lain (Lestari & Yunianto, 2. Pemberdayaan karyawan memupuk lingkungan kolaborasi dan kepercayaan, mendorong karyawan untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi pada tim. Ini membantu mengembangkan anggota tim dan membangun kepercayaan, yang mengarah pada keterlibatan dan produktivitas yang lebih besar. Keterlibatan dan pemberdayaan saling terkait. Keterlibatan meningkatkan produktivitas, meningkatkan kinerja, menurunkan perputaran, dan menarik bakat. Pemberdayaan adalah bahan bakar dan keterlibatan karyawan adalah apinya. Pemberdayaan menyediakan struktur dan sarana bagi keterlibatan karyawan untuk berkembang. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Oktavia . Alhozi et al . Salsabila & Lo . yang menyatakan bahwa employee empowerment berpengaruh positif terhadap employee Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H2: Employee empowerment berpengaruh terhadap employee engagement Pengaruh Kompetensi dengan Kinerja Karyawan Penggunaan kompetensi sebagai basic dari berbagai segi sumber energi manusia kini makin lama menjadi satu trend didalam mewujudkan satu organisasi pendidikan dan pelatihan. Kompetensi membedakan ilmu kerja . ob knowledg. didalam perilaku tersirat . nderlying behaviour. seseorang karyawan di didalam organisasi (Oktavia, 2. Berdasarkan berbagai kajian yang dilakukan, hampir 70% dari perusahaan swasta menggunakan modal kompetensi untuk menolong mereka didalam strategis bisnis dan sesudah itu memperbaiki kinerja karyawan. Kompetensi ilmu dan keahlian relatif mudah untuk dikembangkan, kalau bersama program pelatihan untuk menambah tingkat kekuatan sumber energi manusia. Dengan ada kompetensi yang baik maka karyawan terhitung akan dapat punyai keterampilan didalam menjalankan kinerjanya secara efisien (Meswantri & Awaludin, 2. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Salsabila & Lo . Oktavia . Rahmayani et al . yang menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H3: Kompetensi berpengaruh terhadap Kinerja karyawan Pengaruh Employee empowerment dengan Kinerja karyawan Konsep pemberdayaan dapat didefinisikan secara lebih luas sebagai peningkatan motivasi tugas intrinsic yang akan menghasilkan kinerja yang lebih baik (Afram et al, 2. Dengan demikian, pemberdayaan akan meningkatkan kinerja karena adanya perbaikan kerja sama yang lebih dekat dengan orang lain, bekerja dengan tujuan yang jelas, dan mendapatkan prestasi apabila tujuan tercapai. Bekerja dalam kondisi yang diberdayakan memiliki dampak yang positif bagi karyawan, yaitu meningkatkan perasaan keyakinan diri dan kepuasan kerja, motivasi yang lebih tinggi, dan keletihan fisik/mental yang rendah sehingga karyawan dapat bekerja secara optimal (Hendrawijaya, 2. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Afram et al . Alhozi et al . Lestari & Yunianto . yang menyatakan bahwa employee empowerment berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik hipotesis sebagai berikut: H4: Employee empowerment berpengaruh terhadap Kinerja karyawan Pengaruh Employee engagement dengan Kinerja karyawan Employee engagement adalah hubungan emosional dan intelektual yang tinggi yang dimiliki oleh karyawan terhadap pekerjaannya, organisasi, manajer, atau rekan kerja yang memberikan pengaruh untuk menambah discretionary effort dalam pekerjaannya. Setiap perusahaan tentu sangat ingin mempertahankan karyawan terbaiknya untuk tetap berada di dalam perusahaan. Karyawan tersebut sebisa mungkin dipelihara agar karyawan akan merasa betah dalam perusahaan. Untuk itu perilaku karyawan dipelajari oleh perusahaan agar mampu memelihara mereka dengan baik. Perusahaan akan lebih beruntung lagi jika karyawan mereka sudah terikat dengan perusahaan. Karyawan yang memiliki keterikatan dengan perusahaan akan berkomitmen secara emosional dan intelektual terhadap perusahaan serta akan memberikan usaha terbaiknya melebihi apa yang dijadikan target dalam suatu pekerjaan Penelitian Meswantri & Awaludin . Bale & Pilay . Rahmayani et al . , dan Afram et al . menyatakan bahwa employee engagement akan berdampak positive terhadap kinerja karyawan. Dengan demikian, berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan sementara melalui hipotesis penelitian sebagai berikut: H5: Employee engagement berpengaruh terhadap Kinerja karyawan Pengaruh employee engagement memediasi pengaruh kompetensi dan employee empowerment terhadap kinerja karyawan Bagian dari memahami kompetensi atau perilaku karyawan yang akan menciptakan lingkungan yang menarik adalah memahami bagaimana keterlibatan diciptakan. Karyawan memainkan peran penting dalam menciptakan lanskap keterlibatan di organisasi. Mereka membentuk pengalaman karyawan dengan cara yang tidak dapat disentuh oleh SDM, pemimpin senior, atau bahkan CEO. Mereka lebih dekat dengan kesuksesan unik karyawan, kebutuhan pengembangan mereka, dan detail kehidupan pribadi mereka. Singkatnya, karyawan memiliki posisi yang baik untuk membantu membangun proposisi keterlibatan organisasi yang semakin baik. Apabila suatu organisasi menjalankan pemberdayaan, di kalangan anggota, organisasi akan tumbuh perasaan menjadi anggota kelompok, tumbuh perasaan puas dalam mengambil tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya dan terdapat perasaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang berharga dan memperoleh kesenangan dalam melakukan komunikasi dan kerja sama dengan orang lain (Lestari & Yunianto, 2. Pemberdayaan karyawan memupuk lingkungan kolaborasi dan kepercayaan, mendorong karyawan untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi pada tim. Ini membantu mengembangkan anggota tim dan membangun kepercayaan, yang mengarah pada keterlibatan dan produktivitas yang lebih besar. Keterlibatan dan pemberdayaan saling Dengan demikian, pemberdayaan akan meningkatkan kinerja karena adanya perbaikan kerja sama yang lebih dekat dengan orang lain, bekerja dengan tujuan yang jelas, dan mendapatkan prestasi apabila tujuan tercapai. H6: employee engagement memediasi pengaruh kompetensi terhadap kinerja karyawan H7: employee engagement memediasi pengaruh employee empowerment terhadap kinerja karyawan METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian kausal, yaitu penelitian yang bertujuan untuk menguji hubungan sebabAeakibat antarvariabel penelitian. Desain kausal dipilih karena penelitian ini berfokus pada pengujian pengaruh kompetensi dan employee empowerment terhadap employee engagement serta implikasinya terhadap kinerja karyawan Koperasi Simpan Pinjam di Kabupaten Demak. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menjelaskan hubungan struktural antarvariabel secara empiris berdasarkan data yang diperoleh dari responden. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang bersifat kuantitatif. Data primer diperoleh secara langsung dari responden melalui penyebaran kuesioner terstruktur kepada karyawan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Sumber data penelitian ini adalah seluruh karyawan yang bekerja pada koperasi simpan pinjam yang bersedia memberikan izin penelitian dan memenuhi kriteria sebagai responden, sehingga data yang diperoleh merepresentasikan persepsi karyawan terhadap variabel-variabel yang Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan dari 17 Koperasi Simpan Pinjam di Kabupaten Demak yang memiliki karyawan aktif dan memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan pengumpulan data. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria karyawan yang telah bekerja minimal satu tahun dan bersedia mengisi kuesioner penelitian. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin, jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 72 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner yang disusun berdasarkan indikator masing-masing variabel penelitian. Kuesioner dirancang untuk mengukur persepsi responden mengenai kompetensi, employee empowerment, employee engagement, dan kinerja karyawan. Seluruh pernyataan dalam kuesioner disusun dalam bentuk pertanyaan tertutup guna memudahkan proses pengolahan dan analisis data secara Pengukuran variabel dalam penelitian ini menggunakan skala Likert lima poin, yang berkisar dari sangat tidak setuju hingga sangat setuju. Variabel kompetensi diukur melalui indikator kompetensi dinamis dan kompetensi teknis. Variabel employee empowerment diukur melalui indikator desire, trust, confidence, credibility, accountability, dan communication. Variabel employee engagement diukur melalui indikator vigor, dedication, dan absorption, sedangkan kinerja karyawan diukur melalui indikator kualitas pekerjaan, kuantitas pekerjaan, pelaksanaan tugas, dan tanggung jawab kerja. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation ModelingAePartial Least Square (SEM-PLS). Metode SEM-PLS dipilih karena mampu menganalisis hubungan struktural yang kompleks serta sesuai digunakan pada ukuran sampel yang relatif kecil. Analisis dilakukan melalui pengujian outer model untuk menilai validitas dan reliabilitas konstruk, serta inner model untuk menguji hubungan antarvariabel dan peran mediasi employee engagement dalam model penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengujian R Square tersaji pada Tabel 1 Tabel 1 Evaluasi R Square Keterangan Nilai Kinerja karyawan 0,702 Employee engagement 0,704 Evaluasi Moderate Moderate Sumber : Data primer yang diolah, 2024 R square terdiri dari 3 kategori yaitu substantial dengan nilai r square diatas 0,75, moderate dengan nilai r square 0. 5 - 0. 75, dan weak dengan nilai r square 0. 25 Ae 0. Dari tabel 4. dapat dilihat bahwa model penelitian ini memiliki nilai R Square yang sebesar 0,702 yang menunjukkan bahwa ada pengaruh moderate dari prediktor dalam mempengaruhi kinerja Hasil dari nilai Square menunjukkan nilai 0,704 yang menunjukkan besar varians kompetensi dan employee empowerment dalam mempengaruhi employee engagement termasuk dalam pengaruh moderate. Penilaian fit model PLS juga dapat dilihat melalui perhitungan f square. Hasil pengujian f Square ada pada Tabel 2: Tabel 2 Evaluasi f Square Keterangan f-square Kategori Eemployee empowerment -> Employee engagement 0,157 Menengah Eemployee empowerment -> Kinerja karyawan 0,118 Menengah Employee engagement -> Kinerja karyawan 0,103 Menengah Kompetensi -> Employee engagement 0,425 Besar Kompetensi -> Kinerja karyawan 0,072 Kecil Sumber : Data primer yang diolah, 2024 Penilaian fit model PLS dilihat melalui perhitungan Q square. Hasil pengujian Q Square ada pada Tabel 3. Tabel 3 Evaluasi Q Square QA (=1SSO SSE SSE/SSO) Eemployee 600,000 600,000 0,000 Employee engagement 600,000 316,146 0,473 Kinerja karyawan 400,000 191,092 0,522 Kompetensi 600,000 600,000 0,000 Sumber : Data primer yang diolah, 2024 Predictive Relevance menunjukkan nilai observasi yang ada di dalam penelitian dimana pada penelitian ini menggunakan metode blindfolding pada SmartPLS. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa model penelitian ini memiliki nilai Q Square employee engagement yang sebesar 0,473 yang menunjukkan bahwa model dapat digunakan untuk memprediksi employee engagement secara kuat karena nilainya > 0,35. Berdasarkan data diatas terlihat bahwa nilai QA memiliki nilai 0,522 > 0,35 yang berarti model mempunyai predictive relevance kuat untuk memprediksi kinerja karyawan. Penilaian fit model PLS dilihat melalui perhitungan SRMR. Hasil pengujian SRMR adalah sebagai berikut: Keterangan SRMR Tabel 4 Evaluasi SRMR Saturated model 0,080 Estimated model 0,080 Sumber : Data primer yang diolah, 2024 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa model penelitian ini memiliki nilai SRMR sebesar 0,080 yang berada di bawah 0,1 sehingga dapat diindikasikan adanya kecocokan dari data empiris dengan model. Penilaian fit model PLS dilihat melalui perhitungan Predict PLS. Hasil pengujian PLS Predict tersaji pada Tabel 5 Tabel 5 Evaluasi PLS Predict PLSPLSQApredict SEM_RMSE SEM_MAE LM_RMSE LM_MAE EEG1 0,443 0,722 0,557 0,756 0,581 EEG2 0,388 0,906 0,706 0,960 0,749 EEG3 0,284 0,841 0,654 0,858 0,661 EEG4 0,615 0,708 0,552 0,658 0,510 EEG5 0,488 0,760 0,587 0,779 0,601 EEG6 0,514 0,844 0,620 0,895 0,657 KK1 0,558 0,752 0,567 0,668 0,512 KK2 0,504 0,882 0,707 0,862 0,685 KK3 0,425 0,810 0,609 0,724 0,566 KK4 0,457 0,895 0,723 0,863 0,691 Sumber : Data primer yang diolah, 2024 Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa berdasarkan 10 pengukuran, terdapat 5 nilai RMSE dan MAE pada model PLS yang lebih rendah bila dibandingkan dengan model LM sehingga dapat dinyatakan bahwa model memiliki kekuatan prediksi medium. Pengujian hipotesis digunakan untuk menguji hipotesis tentang koefisien regresi, yaitu untuk mengetahui apakah persamaan regresi yang diperoleh tersebut dapat dipertanggungjawabkan atau tidak, yang tersaji pada Gambar 1. Gambar 1 Analisis Model Struktural Hasil perhitungan SmartPLS untuk signifikansi dalam uji hipotesis terhadap kinerja karyawan adalah sebagai berikut: Tabel 6 Hasil Uji Hipotesis Original Sample Keterangan Values Keterangan (O) Eemployee empowerment -> Employee engagement 0,336 2,661 0,008 Diterima Eemployee empowerment -> Kinerja karyawan 0,314 3,107 0,002 Diterima Employee engagement -> Kinerja karyawan 0,321 2,947 0,003 Diterima Kompetensi -> Employee engagement 0,553 3,966 0,000 Diterima Kompetensi -> Kinerja karyawan 0,272 2,177 0,030 Diterima Sumber : Data primer yang diolah, 2024 Pengujian Pengaruh Tidak Langsung Tujuan analisis indirect effect atau tidak langsung berguna untuk menguji hipotesis tidak langsung suatu variabel yang mempengaruhi . terhadap variabel yang dipengaruhi . yang diantarai/mediasi oleh suatu variabel intervening Pengujian hipotesis digunakan untuk mengetahui apakah employee engagement mampu memediasi pengaruh antara kompetensi terhadap kinerja karyawan. Hasil perhitungan SmartPLS untuk signifikansi dalam uji t terhadap kinerja karyawan ada pada Tabel 7 Tabel 7 Hasil Uji Pengaruh Tidak Langsung Original Keterangan Keterangan Sample (O) P Values Eemployee empowerment -> Employee engagement -> Kinerja 0,108 2,046 0,041 Diterima Kompetensi -> Employee engagement -> Kinerja karyawan 0,178 2,188 0,029 Diterima Sumber : Data primer yang diolah, 2024 Hasil penelitian bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap employee engagement pegawai Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Kompetensi merupakan seperagkat pengetahuan, keterampilan, perilaku yang harus dimiliki oleh seseorang individu dalam melaksanakan tugas tugas dan tanggung jawab yang diterimanya. Kompetensi seseorang individu dapat dilihat pada tingkat pengetahuannya, skill, dan sikap yang dimiliki. Pemenuhan kebutuhan pegawai oleh organisasi seperti kompetensi, kesempatan untuk berkembang dan employee engagement yang diperlukan oleh pegawai. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Alzueta et al. , . Ghoniyah & Masurip . dan Hendrawijaya . yang menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap employee engagement. Berdasarkan atas hasil pengamatan dan jawab responden dari indikator indikator pertanyaan yaitu karyawan mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan memiliki pengetahuan yang memadai untuk dapat bekerja dalam organisasi yang membuat karyawan tetap gigih bekerja walaupun dihadapkan dengan masalah dan kesulitan dalam melakukan pekerjaannya. Karyawna juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan pekerjaan dengan baik yang membuatnya selalu antusias dalam bekerja. Karyawan merasa ada kesesuaian antara konsep diri karyawan dengan nilai dalam organisasi sehingga karyawan juga memiliki energi yang besar dalam bekerja. Hal ini juga karena karyawan memiliki karakteristik pribadi yang kuat yang membuatnya merasa tertantang dalam organisasi. Di sisi lain karyawan memiliki motivasi kuat untuk dapat berhasil dalam organisasi sehingga selalu berkonsentrasi penuh saat bekerja serta merasa terikat dalam bekerja pada koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Hasil penelitian bahwa employee empowerment berpengaruh positif terhadap employee engagement pegawai Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Apabila suatu organisasi menjalankan pemberdayaan, di kalangan anggota, organisasi akan tumbuh perasaan menjadi anggota kelompok, tumbuh perasaan puas dalam mengambil tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya dan terdapat perasaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang berharga dan memperoleh kesenangan dalam melakukan komunikasi dan kerja sama dengan orang lain. Hasil ini konsisten dengan penelitian Oktavia . Alhozi et al . Salsabila & Lo . yang menyatakan employee empowerment berpengaruh positif terhadap employee engagement. Berdasarkan analisis indeks yang telah dilakukan, terlihat bahwa rata Ae rata angka indeks jawab responden terhadap variabel employee empowerment yaitu 3,61 . Hal ini menunjukkan bahwa secara umum karyawan Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak diberikan peluang untuk terlibat dalam pengambilan keputusan yang membuatnya selalu antusias dalam bekerja. Hal ini juga karena adanya rasa percaya diri dalam kemampuan karyawan yang membuatnya memiliki energi besar dalam bekerja. Karyawan juga tetap gigih bekerja walaupun dihadapkan dengan masalah dan kesulitan dalam melakukan pekerjaannya sebab merasa ada saling percaya antara manajemen dengan karyawan. Karyawan merasa lingkungan kerja yang ada saat ini sudah kondusif sehingga mampu berkonsentrasi penuh saat bekerja. Adanya dukungan yang konsisten dari manajemen terhadap karyawan membuat karyawan menjadi terikat dalam pekerjaan saya. Hasil penelitian bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak, menunjukkan nilai koefisien positif dan signifikan. Penggunaan kompetensi sebagai basic dari berbagai segi sumber energi manusia kini makin lama menjadi satu trend didalam mewujudkan satu organisasi pendidikan dan Kompetensi membedakan ilmu kerja . ob knowledg. didalam perilaku tersirat . nderlying behaviour. seseorang karyawan di didalam organisasi Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Salsabila & Lo . Oktavia . Rahmayani et al . yang menyatakan bahwa kompetensi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Kompetensi ilmu dan keahlian relatif mudah untuk dikembangkan, kalau bersama program pelatihan untuk menambah tingkat kekuatan sumber energi manusia. Dengan ada kompetensi yang baik maka karyawan terhitung akan dapat punyai keterampilan didalam menjalankan kinerjanya secara efisien. Berdasarkan hasil data kuisioner dan jawaban responden, kompetensi di Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak telah diimplementasikan dengan cukup baik. Kompetensi dapat tercapai dengan cara memberikan pelatihan kepada pegawai yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya dan tujuan organisasi. Pemahaman terhadap indikator kompetensi di dalam perusahaan dapat membantu perusahaan untuk memilih pegawai dengan nilai dan keyakinan yang sesuai dengan organisasi dan membentuk pengalaman Ae pengalaman yang dapat memperkuat kesesuaian antara jobdesk dan tingkat kemampuan yang dimiliki pegawai. Semakin tinggi tingkat kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan akan semakin meningkatkan kinerja mereka. Untuk meningkatkan kompetensi perlu adanya usaha untuk memperbaiki dan meningkatkannya, terutama dalam mengenai hasil dari pelatihan dapat memotivasi peningkatan kinerja karyawan. Hasil penelitian bahwa employee empowerment berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Dengan demikian, pemberdayaan akan meningkatkan kinerja karena adanya perbaikan kerja sama yang lebih dekat dengan orang lain, bekerja dengan tujuan yang jelas, dan mendapatkan prestasi apabila tujuan Bekerja dalam kondisi yang diberdayakan memiliki dampak yang positif bagi karyawan, yaitu meningkatkan perasaan keyakinan diri dan kepuasan kerja, motivasi yang lebih tinggi, dan keletihan fisik/mental yang rendah sehingga karyawan dapat bekerja secara optimal Hasil ini konsisten dengan penelitian Afram et al . Alhozi et al . Lestari & Yunianto . yang menyatakan employee empowerment berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan tingkat employee empowerment yang tinggi akan memberikan dorongan dan rangsangan untuk meningkatkan kinerja karyawan. Hal itu dapat terjadi karena karyawan merasa bahwa manajemen memberikan peluang yang besar kepada karyawan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan dan ada rasa saling percaya antara manajemen dengan karyawan serta ada lingkungan yang kondusif yang dapat membuat karyawan bekerja dan memenuhi standar kualitas dalam koperasi. Komunikasi yang baik antar karyawan dengan atasan membuat karyawan mampu dalam mengerjakan sejumlah pekerjaan yang menjadi tugas dari karyawan dengan supervisi pimpinan. Karyawan dapat melakukan pekerjaan dengan akurat dan mampu bertanggung jawab dalam mengerjakan tugasnya dengan baik sebab secara konsisten dinilai berdasarkan Hasil penelitian bahwa employee engagement berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak. Employee engagement adalah hubungan emosional dan intelektual yang tinggi yang dimiliki oleh karyawan terhadap pekerjaannya, organisasi, manajer, atau rekan kerja yang memberikan pengaruh untuk menambah discretionary effort dalam pekerjaannya. Setiap perusahaan tentu sangat ingin mempertahankan karyawan terbaiknya untuk tetap berada di dalam perusahaan. Karyawan tersebut sebisa mungkin dipelihara agar karyawan akan merasa betah dalam perusahaan. Untuk itu perilaku karyawan dipelajari oleh perusahaan agar mampu memelihara mereka dengan baik. Perusahaan akan lebih beruntung lagi jika karyawan mereka sudah terikat dengan perusahaan. Karyawan yang memiliki keterikatan dengan perusahaan akan berkomitmen secara emosional dan intelektual terhadap perusahaan serta akan memberikan usaha terbaiknya melebihi apa yang dijadikan target dalam suatu pekerjaan. Hasil ini sesuai dengan penelitian Meswantri & Awaludin . Bale & Pilay . Rahmayani et al . , dan Afram et al . yang menyatakan bahwa employee engagement berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Hasil sebaran tanggapan koresponden menujukkan bahwa indikator paling tinggi mengenai pola komunikasi yang terjalin antar pegawai dalam bekerja di Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak karena suasana kerja yang terjalin kondusif, sehingga membuat pegawai senang memilih organisasi sebagai tempat kerja. Hasil peneliian ini memberikan bukti empiris mengenai pentingnya employee engagement antara nilai individu dengan nilai organisasi dalam upaya peningkatan kinerja karyawan. Sesuia dengan kondisi dilapangan pada Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak hubungan pegawaia dengan sesama rekan kerja maupun dapat memberikan wadah bagi pegawai agar dapat melakukan koordinasi mengenai pekerjaannya dengan sesama rekan kerja maupun atasan. Koordinasi ini dilakukan setiap satu minggu sekali yaitu membahas progress pekerjaan yang sudah tercapai dan yang belum tercapai. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga keharmonisan antar pegawai dengan employee engagement sehingga dapat mencegah terjadinya konflik yang timbul. Apabila keharmonisan tersebut dapat tercapai, maka akan menciptakan suasana kerja yang nyaman dan akan berefek pada peningkatan kinerja karyawan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa employee engagement dapat memediasi pada pengaruh kompetensi, dan employee engagement terhadap kinerja Sejalan dengan penelitian Lestari dan Yunianto . yang menyatakan bahwa employee engagement mampu memberikan efek mediasi terhadap kinerja karyawan. Hal ini sesuai dengan kondisi dilapangan bahwa semakin tinggi employee engagement merupakan kemampuan yang dimiliki oleh para pegawai Koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak dalam mencapai tujuan dan kebijakan organisasi yang disebut dengan kompetensi serta adanya kesesuain antara nilai organisasi dengan nilai individu dari pegawai di kantor. Dalam aspek kompetensi pengetahuan dasar tentang prosedur kerja, pengetahuan teknis tentang pekerjaan dijalankan secara baik meskipun perlu ada arahan dari pimpinan. Dalam aspek employee engagement karyawan koperasi simpan pinjam memiliki employee engagement yang cukup dengan dibuktikan kesesuian tanggung jawab dan tugas yang diberikan. Bagian dari memahami kompetensi atau perilaku karyawan yang akan menciptakan lingkungan yang menarik adalah memahami bagaimana keterlibatan Karyawan memainkan peran penting dalam menciptakan lanskap keterlibatan di organisasi. Mereka membentuk pengalaman karyawan dengan cara yang tidak dapat disentuh oleh SDM, pemimpin senior, atau bahkan CEO. Mereka lebih dekat dengan kesuksesan unik karyawan, kebutuhan pengembangan mereka, dan detail kehidupan pribadi mereka. Singkatnya, karyawan memiliki posisi yang baik untuk membantu membangun proposisi keterlibatan organisasi yang semakin baik. Apabila suatu organisasi menjalankan pemberdayaan, di kalangan anggota, organisasi akan tumbuh perasaan menjadi anggota kelompok, tumbuh perasaan puas dalam mengambil tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya dan terdapat perasaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang berharga dan memperoleh kesenangan dalam melakukan komunikasi dan kerja sama dengan orang lain (Lestari & Yunianto, 2. Pemberdayaan karyawan memupuk lingkungan kolaborasi dan kepercayaan, mendorong karyawan untuk mengambil inisiatif dan berkontribusi pada tim. Ini membantu mengembangkan anggota tim dan membangun kepercayaan, yang mengarah pada keterlibatan dan produktivitas yang lebih besar. Keterlibatan dan pemberdayaan saling terkait. Dengan demikian, pemberdayaan akan meningkatkan kinerja karena adanya perbaikan kerja sama yang lebih dekat dengan orang lain, bekerja dengan tujuan yang jelas, dan mendapatkan prestasi apabila tujuan tercapai. PENUTUP Penelitian ini menyimpulkan bahwa kompetensi dan employee empowerment memiliki peran strategis dalam meningkatkan kinerja karyawan Koperasi Simpan Pinjam di Kabupaten Demak, baik secara langsung maupun melalui penguatan employee Karyawan yang memiliki kompetensi yang memadai dan merasa diberdayakan cenderung menunjukkan keterikatan kerja yang lebih tinggi, yang selanjutnya mendorong peningkatan kualitas, kuantitas, serta tanggung jawab dalam pelaksanaan pekerjaan. Temuan ini menegaskan bahwa employee engagement berfungsi sebagai mekanisme penting yang menjembatani pengaruh kompetensi dan pemberdayaan terhadap kinerja karyawan, sehingga pengelolaan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada aspek kemampuan teknis, tetapi juga pada penciptaan keterikatan kerja yang berkelanjutan. Implikasi manajerial dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengelola koperasi simpan pinjam perlu merancang program pengembangan kompetensi yang berkesinambungan, disertai dengan praktik pemberdayaan karyawan yang menekankan kepercayaan, komunikasi terbuka, dan pelibatan karyawan dalam pengambilan keputusan, guna memperkuat keterikatan kerja dan mendorong kinerja organisasi secara keseluruhan. Namun demikian, penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan wilayah penelitian yang terbatas pada koperasi simpan pinjam di Kabupaten Demak serta jumlah responden yang relatif terbatas, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas objek dan wilayah penelitian serta mempertimbangkan variabel lain yang relevan guna memperkaya pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja karyawan dalam konteks koperasi maupun organisasi sejenis. DAFTAR PUSTAKA