Indonesian Journal for Social Responsibility (IJSR) Vol. No. 02, . , pp. https://doi. org/10. 36782/ijsr. Pelatihan Pengembangan Kapasitas Organisasi Desa Wisata Sukarame untuk Mendukung Program Geowisata di Kabupaten Pandeglang Eli Jamilah Mihardja1. Jurica Lucyanda2*. Dominica Arni Widyastuti3. Rexy Fajrin Ismail1. Denisa Azzura3 Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, 2Program Studi Akuntansi, 3Program Studi Manajemen. Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial. Universitas Bakrie. Jl. Rasuna Said No. 2 Kav C-22. Karet. Setiabudi. Kuningan. Jakarta Selatan. DKI Jakarta, 12940. Indonesia E-mail: eli. mihardja@bakrie. id, jurica. lucyanda@bakrie. id*, dominica. widyastuti@bakrie. rexyfajrinismail@gmail. com, denisaazzura@gmail. Received: November 24, 2023 | Revised: May 13, 2024 | Accepted: May 29, 2024 Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan kapasitas organisasi Desa Wisata Sukarame sebagai program geowisata di Kabupaten Pandeglang. Kegiatan dilaksanakan bersama mitra kegiatan yaitu Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang dan Badan Pengelola Geopark Ujung Kulon. Desa Wisata Sukarame telah mencapai prestasi sebagai salah satu desa wisata terbaik di Indonesia. Namun sebagai salah satu wilayah dalam kawasan Geopark Ujung Kulon, organisasi desa wisata masih mengalami keterbatasan literasi terkait dengan strategi branding, promosi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan, sehingga memerlukan pelatihan dan pendampingan untuk melaksanakan dan meningkatkan program geowisata tersebut. Metode kegiatan yang dilakukan yaitu pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat untuk merancang dan melaksanakan promosi geowisata serta pengelolaan keuangan dengan optimalisasi penggunaan media. Pelatihan dalam bentuk pemaparan materi dan diskusi terkait dengan strategi branding, promosi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro. Kecil, dan Menengah. Sedangkan kegiatan pendampingan dalam bentuk membantu peserta membuat media sosial untuk promosi usaha. Berdasarkan hasil kegiatan dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai strategi branding, promosi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan sederhana sesuai standar akuntansi. Peningkatan tersebut dilihat dari hasil pre-test dan post-test, peningkatan pemahaman peserta terkait pengelolaan dan laporan keuangan dengan rata-rata kenaikan pemahaman diatas 80%. pemahaman terkait promosi dan pemasaran dengan rata-rata kenaikan pemahaman diatas 12%. dan pemahaman terkait pentingnya media dalam promosi dan pemasaran sebanyak 88%. Kegiatan ini juga memberikan luaran lainnya seperti konten-konten yang diunggah di media sosial, film dokumenter, dan web khusus untuk pengembangan program geowisata. Kata kunci: Desa Wisata. Geowisata. Pengelolaan Keuangan. Promosi dan Pemasaran. Strategi Branding Eli Jamilah Mihardja. Jurica Lucyanda. Dominica Arni Widyastuti. A Abstract The purpose of this activity is to develop the organizational capacity of Sukarame Tourism Village as a geo-tourism program in Pandeglang Regency. The activity was carried out with partners, namely the Pandeglang Regency Tourism Office and the Ujung Kulon Geopark Management Agency. Sukarame Tourism Village has achieved achievements as one of the best tourist villages in Indonesia. However, as one of the areas in the Ujung Kulon Geopark area, tourism village organizations still experience limited literacy related to branding strategies, promotion and marketing, and financial management. The method of community service is training and mentoring to design and implement geo-tourism promotion and financial management by optimizing the use of media. Training activities in the form of material presentation and discussion related to branding strategies, promotion and marketing, and financial management. While mentoring activities in the form of helping participants create social media for their business promotion. The results of the activity concluded that there was an increase in knowledge and understanding of branding, promotion and marketing strategies, and simple financial management according to accounting standards. The increase was seen from the results of the pre-test and post-test, there was an increase in participants' understanding related to financial management and reporting above 80%. related to promotion and marketing above 12%. and understanding related to the importance of media in promotion and marketing as much as 88%. This activity provides other outputs such as content uploaded on social media, documentaries, and special websites for the development of geotourism programs. Keywords: Branding Strategy. Financial Management. Geotourism. Promotion and Marketing. Village Tourism Pendahuluan Desa Wisata Sukarame berada di bagian barat Provinsi Banten dan merupakan destinasi unggulan untuk penggemar wisata pantai. Selain terdapat pantai yang indah. Desa Wisata Sukarame juga memiliki keindahan hutan, air terjun, sungai, ladang, dan perkebunan. Wilayah ini juga berfungsi sebagai area Rehabilitasi Terumbu Karang yang terletak di Kecamatan Carita. Desa Wisata Sukarame memfokuskan diri pada jenis wisata khusus, yakni Birding Tour atau wisata pengamatan burung, yang terletak di Hutan Carita dengan luas lebih dari 50 hektar. Desa Wisata Sukarame juga menawarkan pengalaman wisata sejarah yang terkait dengan peristiwa tsunami yang disebabkan oleh letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Selain itu. Desa Wisata Sukarame memiliki dua destinasi pantai utama di sepanjang Pantai Carita, yakni Pantai Karang Sari dan Pantai Seapark Perum Perhutani. Dari sisi kebudayaan, padu padan atraksi zikir saman menambah khazanah pengayaan ragam budaya yang merupakan salah satu keunikan dan daya tarik wisata (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, 2. Pelatihan Pengembangan Kapasitas Organisasi Desa Wisata Sukarame A Pada tahun 2021. Desa Wisata Sukarame Pandeglang berhasil dipilih sebagai 50 Desa Wisata Tingkat Nasional terbaik dalam kategori AuWisata Indonesia BangkitAy. Desa Wisata Sukarame Pandeglang telah meraih keunggulan dibandingkan dengan 1. 800 desa lainnya di Indonesia yang turut serta dalam kompetisi Anugerah Desa Wisata Nasional. Hal ini disebabkan oleh fokus Desa Wisata Sukarame pada pengembangan ekowisata, mencangkup kegiatan seperti wisata konservasi, snorkeling, diving, dan pameran produk-produk ekonomi kreatif (Pemerintah Kabupaten Pandeglang, 2. Desa Wisata Sukarame merupakan satu tujuan wisata yang terletak di area Geopark Ujung Kulon. Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang menginisiasi Kawasan Geopark Ujung Kulon yang melibatkan 8 kecamatan, yakni Kecamatan Sumur. Kecamatan Cimanggu. Kecamatan Panimbang. Kecamatan Cigeulis. Kecamatan Sukaresmi. Kecamatan Pagelaran. Kecamatan Labuan, dan Kecamatan Carita. Kawasan Geopark Ujung Kulon ini juga mencakup Taman Nasional Ujung Kulon. Ujung Kulon termasuk ke dalam area pengembangan Geopark Ujung Kulon karena memiliki karakteristik geologis yang unik (Putra dkk. , 2. Pulau Panaitan, sebuah pulau yang termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kolon, merupakan sebuah gunung berapi kuno pada dua puluh juta tahun lalu. Pada saat ini di Pulau Panaitan, khususnya di puncak Gunung Raksa, terdapat artefak arkeologi berupa patung Ganesha. wilayah Cibunar terdapat sandstone yang merupakan jenis batuan yang terbentuk dari pengerasan pasir pantai. Sedangkan di wilayah Tanjung Layar, terdapat bukti-bukti sejarah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 (Pemerintah Pandeglang Banten, 2. Pengenalan dan pengembangan organisasi desa wisata sesuai dengan karakteristik geopark diperlukan dalam pengembangan wilayah sebagai destinasi Geopark Ujung Kulon. Geopark adalah area yang memperlihatkan karakteristik geologi yang istimewa, dimana penduduk lokal diundang untuk berpartisipasi dalam upaya melindungi dan meningkatkan keberlanjutan warisan alam. Hal ini mencakup nilai-nilai arkeologi, ekologi, dan budaya yang terkandung didalamnya. Istilah geopark merupakan singkatan dari geological park yang diterjemahkan sebagai taman geologi atau taman bumi (Pemerintah Pandeglang Banten. Pada upaya pengembangan kapasitas organisasi desa wisata ini, dipersiapkan pelatihan dan pendampingan pengelolaan desa berbasis geowisata dan perancangan optimalisasi media massa untuk pengembangan program geowisata di Desa Wisata Sukarame (Mihardja dkk. Mihardja dkk. , 2022. Mihardja dkk. , 2. Eli Jamilah Mihardja. Jurica Lucyanda. Dominica Arni Widyastuti. A Mitra kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini adalah Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang dan Badan Pengelola Geopark Ujung Kulon. Meskipun Desa Wisata Sukarame sudah menjadi desa wisata unggulan, pengenalan dasar-dasar pengelolaan geowisata diperlukan untuk mendukung kapasitas wilayah ini sebagai bagian dari Geopark Ujung Kulon. Mitra memerlukan pengalaman dan kepakaran pengusul untuk mempersiapkan organisasi masyarakat dalam merancang dan mengembangkan program geowisata berbasis pengelolaan dan optimaliasi media massa. Kegiatan ini diharapkan dapat juga mendukung upaya Geopark Ujung Kulon menuju penetapan sebagai Geopark Nasional (Adriati dkk. , 2. Pelatihan dan pendampingan dalam peningkatan kapasitas organisasi desa wisata dilakukan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh mitra. Pelatihan ini secara khusus dirancang untuk memberikan pengetahuan dasar dalam menjalankan program desa wisata yang berfokus pada bidang keahlian didalamnya, yaitu hospitality dan tourism-experienced. Sarana dan program yang telah ada sebelumnya dapat diperluas dan disesuaikan dengan strategi branding destinasi yang akan diimplementasikan. Pembinaan dan pendampingan dilakukan terutama untuk membantu terlaksananya program wisata sesuai dengan teknis pelaksanaan geowisata. Pelatihan dan pendampingan tidak terbatas pada aspek hospitality dan tourismexperienced, tetapi juga aspek pemasaran dan promosi untuk mengembangkan usaha. Pemasaran adalah suatu proses dimana individual atau kelompok memiliki kebutuhan dan keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk dan nilai kepada individual dan kelompok lainnya (Kotler & Amstrong, 2. Pemasaran dan promosi merupakan kegiatan yang penting karena berperan sebagai strategi usaha untuk memperkenalkan dan menawarkan produk kepada masyarakat/konsumen sehingga konsumen memutuskan untuk membeli produk yang ditawarkan (Nendi dkk. , 2. Selain itu, pengelolaan keuangan bagi usaha desa wisata sebagai entitas mikro, kecil, dan menengah (EMKM) juga diperlukan. Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi aktivitas keuangan perusahaan kepada pihak yang berkepentingan berdasarkan data atau aktivitas tersebut (Lucyanda dkk. , 2. Laporan keuangan dapat digunakan untuk pengembangan usaha dengan cara mengajukan pendanaan ke Bank. Bank memutuskan untuk memberikan dana melalui laporan keuangan yang dibuat oleh entitas. Laporan keuangan merupakan bukti dari transparansi dan akuntabilitas pemilik Pelatihan Pengembangan Kapasitas Organisasi Desa Wisata Sukarame A usaha ke pihak ketiga (Lucyanda dkk. , 2. Dikatakan pengelolaan keuangan yang baik jika EMKM dapat membuat laporan keuangan sesuai dengan standar yang ditentukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia . , khususnya Standar Akuntansi Keuangan (SAK) EMKM (Ikatan Akuntan Indonesia, 2. SAK EMKM merupakan standar akuntansi yang sederhana yang dibuat oleh Ikatan Akuntan Indonesia . untuk membantu EMKM dalam menyiapkan laporan keuangan sederhana (Djuitaningsih & Lucyanda, 2022. Lucyanda & Rudianto, 2. Tujuan kegiatan PkM ini adalah memberikan pelatihan dan pendampingan bagi anggota organisasi desa wisata dalam aspek kewirausahaan, manajemen usaha, pemasaran, dan Pelatihan ini dimaksudkan untuk mendukung organisasi desa wisata dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan bisnis, meningkatkan pendapatan, dan memastikan keberlanjutan usaha. Pelatihan tentang pemanfaatan teknologi dan platform media sosial juga dilakukan dalam upaya mempromosikan desa wisata. Tujuan dari pelatihan tersebut adalah mendukung organisasi desa wisata dalam mencapai pengunjung yang lebih besar dan memperluas cakupan promosi. Pelatihan juga dilakukan untuk meningkatkan keterampilan sebagai pemandu wisata yang unggul, melibatkan kemampuan bercerita, komunikasi, dan keterampilan interpersonal yang diperlukan untuk memberikan pengalaman wisata yang tidak Ruang lingkup kegiatan PkM berfokus pada sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan terkait pengelolaan dan laporan keuangan, promosi dan pemasaran, serta pengenalan program geowisata. Sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan ini diberikan khusus kepada kelompok sadar wisata . , pemandu wisata, dan pemilik usaha wisata. Kegiatan ini diharapkan dapat berkontribusi pada percepatan pembangunan Indonesia, terutama pada sektor pariwisata, dan sejalan dengan mandat untuk mewujudkan pembangunan Metodologi Kegiatan PkM dilaksanakan di Balai Desa Wisata Sukarame. Pandeglang. Kegiatan diawali dengan pelatihan dan kunjungan ke lokasi geowisata dan wisata air. Metode kegiatan yang digunakan berupa pendekatan dengan beberapa tahapan seperti yang ditampilkan pada Gambar 1. Kegiatan ini dilakukan secara bertahap agar tujuan kegiatan ini dapat dicapai secara maksimal dengan tujuan mengatasi atau memberikan solusi bagi mitra kegiatan. Eli Jamilah Mihardja. Jurica Lucyanda. Dominica Arni Widyastuti. A Tahap 1: Pengumpulan Data Awal Tahap 2: Mempersiapkan Materi Pelatihan Tahap 3: Pelatihan Tahap 4: Monitoring dan Evaluai Gambar 1. Diagram Alir Metode Kegiatan Tahap pertama adalah pengumpulan data awal . reliminary data gatherin. Pada tahap ini tim melakukan diskusi dengan pengurus Geopark Nasional Ujung Kulon. Diskusi yang dilakukan menghasilkan kesimpulan bahwa adanya keterbatasan literasi pembuatan laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi keuangan dan kurangnya pemahaman mengenai promosi dan pemasaran. sehingga tim merasa perlu dibantu untuk membuat laporan keuangan yang sederhana dengan SAK EMKM untuk mempermudah pengurus dalam membuat laporan keuangan. Selain itu, perlu diberikan akselerasi pelaksanaan program geowisata dalam rangka mendukung penetapan Geopark Ujung Kulon menjadi geopark Tahap kedua yaitu mempersiapkan materi pelatihan berupa modul terkait laporan keuangan bagi pelaku usaha Geopark Nasional Ujung Kulon. Tahap ini juga dipersiapkan pendampingan untuk pelaksanaan praktik geowisata. Tahap ketiga yaitu pelaksanaan pelatihan untuk memberikan pemahaman dan implementasi pembuatan laporan keuangan sesuai standar akuntansi, pemasaran, dan promosi. Pelatihan dilaksanakan dengan metode workshop untuk mengaplikasikan pengetahuan yang sudah didapat dalam bentuk penyusunan laporan keuangan, promosi, dan pemasaran. Pelatihan keuangan dan pemasaran dilaksanakan di kelas, dilanjutkan dengan praktik di lapangan. Tim pelaksana dan peserta pelatihan melakukan kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam aktivitas program geowisata, diantaranya yaitu mengikuti paket wisata dan mengunjungi geosite. Tahap keempat yaitu monitoring dan evaluasi melalui pemberian pendampingan kepada pelaku usaha Geopark Nasional Ujung Kulon. Pendampingan ini bertujuan untuk memastikan pengurus benar-benar mampu dan terampil dalam membuat laporan keuangan sederhana dan dapat mempromosikan serta memasarkan usahanya melalui platform media sosial. Pelatihan Pengembangan Kapasitas Organisasi Desa Wisata Sukarame A Hasil dan Pembahasan Mitra kegiatan ini adalah Badan Pengelola Geopark Ujung Kulon. Geopark Ujung Kulon berada di wilayah ujung barat Pulau Jawa, menempati 8 kecamatan di Kabupaten Pandeglang. Provinsi Banten dan kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang menjadi habitat terakhir Badak Jawa. Geopark Nasional Ujung Kulon memiliki luas sekitar 1. 245,66 km2, meliputi sebagian daratan di Pulau Jawa dan kepulauan di sekitarnya. Pulau-pulau tersebut diantaranya adalah Pulau Liwungan. Pulau Oar. Pulau Handeuleum. Pulau Peucang, serta satu pulau yang cukup besar yaitu Pulau Panaitan. Kawasan Geopark Nasional Ujung Kulon mencangkup kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang merupakan taman nasional tertua di Indonesia. Pada tahun 1991, taman nasional ini secara resmi diakui dan dilindungi oleh The United Nations Educational. Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan dunia. Walaupun letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 telah menghancurkan sabagian besar wilayah Ujung Kulon, namun beberapa tahun kemudian terungkap bahwa ekosistem tumbuhan dan hewan liar di Ujung Kulon dapat pulih dengan cepat dan berkembang dengan baik. Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beragam jenis satwa liar bersifat endemik dan memiliki nilai berkelanjutan yang penting untuk Tamana Nasional Ujung Kulon menjadi rumah bagi salah satu spesies langka di seluruh dunia, yaitu badak jawa (Rhinoceros sondaicu. yang bercula satu. Selain badak jawa, terdapat pula spesies lain yang dilindungi seperti owa jawa (Hylobates moloc. , surili (Presbytis aigul. dan anjing hutan (Cuon alpinus javanicu. Kegiatan pengabdian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu pelatihan dan pendampingan. Pelatihan diikuti oleh 25 orang anggota pokdarwis dan penggiat Desa Wisata Sukarame dengan sebaran demografi sebagaimana dapat dilihat Tabel 1. Pelatihan tersebut diikuti dengan pendampingan terhadap praktik geowisata yang dijalankan oleh Konservasi Alam Bawah Laut (KABL). Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa hanya kurang dari 10% saja para pelaku usaha yang mengenyam pendidikan tinggi (Diploma dan Sarjan. Dengan demikian, sangat perlu dilakukan Upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk mampu mengelola bisnis dengan lebih baik. Materi pelatihan yang diberikan kepada peserta disesuaikan dengan kebutuhan pokdarwis dan pelaku desa wisata. Materi yang diberikan terkait dengan pengelolaan keuangan dan pembuatan laporan keuangan sederhana serta pemasaran dan promosi desa wisata Eli Jamilah Mihardja. Jurica Lucyanda. Dominica Arni Widyastuti. A menggunakan teknologi dan media sosial. Selama pelatihan, peserta didampingi oleh pemandu wisata bersertifikat untuk pengembangan keterampilan sebagai pemandu wisata dengan materi kompetensi dasar. Pengelolaan keuangan dan laporan keuangan penting bagi peserta agar mampu mengelola keuangan dan membuat laporan keuangan jika ingin mengembangkan usaha melalu pendanaan dari bank. Sedangkan promosi dan pemasaran penting untuk membuat strategi promosi dan pemasaran menggunakan media sosial. Tabel 1. Demografi Peserta Pelatihan Karakteristik Responden Frekuensi Persentase Jenis Pria Wanita Total Pendidikan SMP SMA Diploma Sarjana (S. Total Jenis usaha Pemilik Usaha Wisata Pemandu Wisata Pemandu Wisata dan Pemilik Usaha Wisata Bukan Pemandu Wisata dan Pemilik Usaha Wisata Total Lama usaha < 2 tahun Ou 2 - 5 tahun > 5 tahun Total Pelatihan penggunaan teknologi dan media sosial untuk promosi desa wisata disampaikan dalam bentuk workshop praktik pembuatan konten TikTok dan Instagram. Desa Wisata Sukarame telah memiliki akun media sosial dan web yang aktif, tetapi jumlah postingan masih terbatas dan terdapat potensi penambahan unsur-unsur postingan yang lebih menarik. Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pengembangan keterampilan sebagai pemandu wisata dengan materi kompetensi dasar dari pemandu wisata bersertifikat. Pelatihan dan pendampingan ini menitikberatkan pada penyampaian narasi dan interpretasi potensi warisan geologi yang ada di wilayah Desa Wisata Sukarame dalam bentuk storytelling. Pelatihan Pengembangan Kapasitas Organisasi Desa Wisata Sukarame A Kegiatan ini menghasilkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman mengenai sistem pencatatan keuangan sederhana sesuai standar akuntansi serta promosi dan pemasaran. Peningkatan tersebut dapat diamati dari hasil pre-test dan post-test (Gambar 2 dan Gambar . Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, terdapat peningkatan pemahaman peserta terkait dengan pengelolaan dan laporan keuangan dengan rata-rata kenaikan pemahaman diatas pemahaman terkait promosi dan pemasaran dengan rata-rata kenaikan pemahaman diatas 12%. dan pemahaman terkait pentingnya media dalam promosi dan pemasaran sebanyak 88%. Dalam pengembangan geowisata, perlu upaya untuk memastikan pengelolaan memperhatikan keseimbangan antara promosi wisata dan pelestarian lingkungan. Perlindungan terhadap situs-situs geologi dan regulasi yang ketat diperlukan untuk mencegah kerusakan dan degradasi lingkungan. Dengan demikian, pelatihan dan pendampingan peningkatan kapasitas organisasi desa wisata dalam konteks pengembangan geowisata ini diharapkan dapat menghasilkan beberapa capaian. Capaian pertama yaitu edukasi lingkungan. Geowisata berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan yang interaktif. Wisatawan dapat belajar tentang sejarah geologi, evolusi planet, dan dampak manusia terhadap lingkungan melalui pengalaman langsung di lapangan. Capaian kedua yaitu nilai budaya dan sejarah. Geologi tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan sejarah dan budaya suatu daerah. Geowisata sering menggabungkan pengetahuan geologi dengan warisan budaya lokal, seperti situs arkeologi, tradisi, dan cerita rakyat. Jumlah Responden Sudah Pernah Pelatihan Sudah Mengetahui Tujuan Sudah Mengetahui Keuangan Pengelolaan Keuangan Pengelolaan Keuangan Pre-test Sudah Mengetahui SAK EMKM Post-test Gambar 2. Grafik Survei Pengelolaan dan Laporan Keuangan Eli Jamilah Mihardja. Jurica Lucyanda. Dominica Arni Widyastuti. A Jumlah Responden Sudah Mengetahui Perbedaan Promosi dan Pemasaran Sudah Mengetahui Promosi Pre-test Sudah Mengetahui 4P Pemasaran Sudah Mengetahui Media Sosisal untuk Promosi Post-test Gambar 3. Grafik Survei Promosi dan Pemasaran Capaian ketiga yaitu pelestarian dan konservasi. Melalui pengenalan geologi dan alam, geowisata dapat mendorong kesadaran terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. Wisatawan yang lebih memahami keunikan lingkungan cenderung lebih berkontribusi dalam menjaga kelestariannya. Capaian keempat yaitu sumber pendapatan baru bagi masyarakat Peningkatan kunjungan wisatawan dapat menggerakkan perekonomian melalui sektor perhotelan, restoran, penjualan suvenir, dan layanan lainnya. Capaian kelima yaitu program pendidikan formal dan nonformal. Sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan lainnya dapat mengintegrasikan geowisata dalam kurikulum untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang geologi dan lingkungan, tidak hanya di lokasi setempat namun juga untuk daerah-daerah lain. Pada akhir kegiatan, peserta diberikan kuesioner untuk memastikan kegiatan sudah dilaksanakan dengan baik. Berdasarkan hasil kuesioner dapat disimpulkan bahwa secara umum peserta kegiatan merasa sangat puas . %), puas . %), dan netral . %) dengan kegiatan PkM ini. Selain itu peserta merasa kegiatan ini sangat bermanfaat . %), bermanfaat . %), dan netral . %). Peserta kegiatan merasa bahwa materi yang dijelaskan oleh pemateri sangat jelas . %), jelas . %), dan netral . %). Peserta juga merasa bahwa materi yang dijelaskan oleh pemateri sangat mudah dipahami . %), mudah dipahami . %), dan netral . %). Peserta berpendapat bahwa kegiatan PkM ini sangat perlu dilakukan lagi . %), perlu dilakukan lagi . %), dan netral . %). Pendampingan mengenai program geowisata menghasilkan kontenkonten yang diunggah pada media sosial. Promosi Desa Wisata Sukarame dan publikasi kegiatan PkM ini dilakukan menggunakan akun Instagram @desawisatasukarame. Pelatihan Pengembangan Kapasitas Organisasi Desa Wisata Sukarame A Kesimpulan Tujuan kegiatan PkM ini adalah memberikan pelatihan terkait dengan pengelolaan dan pelaporan keuangan berdasarkan SAK EMKM, serta pelatihan promosi pemasaran berbasis Pelatihan dilakukan untuk memberikan peningkatan pemahaman pemandu dan pemilik usaha wisata Geopark Nasional Ujung Kulon dalam membuat laporan keuangan, promosi, dan Kegiatan pelatihan dan pendampingan peningkatan kapasitas organisasi desa wisata dalam konteks pengembangan geowisata ini menghasilkan beberapa capaian. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan mengatasi atau memberikan solusi bagi mitra kegiatan antara lain edukasi lingkungan, nilai budaya, sejarah, pelestarian, konservasi, sumber pendapatan baru bagi masyarakat lokal, program pendidikan formal, dan program pendidikan non-formal. Kegiatan pelatihan ini memberikan dampak positif pada peningkatan pemahaman peserta pokdarwis dan pelaku desa wisata. Hal ini dibuktikan dari hasil pre-test dan post-test yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman pengelolaan keuangan serta promosi dan pemasaran yang signifikan. Selain itu peserta kegiatan secara umum merasa puas dengan pelaksanaan kegiatan PkM dan merasa perlu adanya kegiatan lanjutan. Ucapan Terima Kasih Pelaksanaan kegiatan PkM ini terwujud berkat dukungan dan kerjasama dari Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPkM) Universitas Bakrie dan Bakrie Amanah. Kami mengucapkan rasa terima kasih atas dana dan fasilitas yang disediakan oleh LPkM Universitas Bakrie dan Bakrie Amanah dalam mendukung kelancaran kegiatan pengabdian ini. Daftar Pustaka