JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X STRATEGI GURU IPAS DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PEMBELAJARAN ABAD 21 Yovita Irawati1*. Azra Fauzi2, & Tri Supriyanto3 SDN Sukamaju. Wera. Bima. NTB. Indonesia STKIP Harapan Bima. NTB. Indonesia Email: yovita. nunggi23@gmail. Artikel Info Abstrak Sejarah Artikel Diterima: 14 Sep 2025 Direvisi: 01 Okt 2025 Dipublikasi: 15 Okt 2025 Pembelajaran IPAS . Tantangan Guru. Strategi Pembelajaran. Motivasi Siswa. Keterlibatan Orang Tua. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran IPA & IPS (IPAS) di SDN Sukamaju dan menganalisis strategi yang diterapkan untuk mengatasi tantangan tersebut. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan angket yang disebarkan kepada 4 guru, 6 siswa, dan 2 wali Hasil penelitian menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh guru di SDN Sukamaju adalah keterbatasan sumber daya pembelajaran, rendahnya motivasi siswa, dan kurangnya keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, guru di SDN Sukamajumenerapkan beberapa strategi, seperti penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi, pendekatan pembelajaran berbasis konteks lokal, dan peningkatan komunikasi dengan orang tua. Meskipun terdapat beberapa hambatan, strategi yang diterapkan menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa. Penelitian ini menyarankan agar sekolah memperbaiki penyediaan sumber daya pembelajaran dan melibatkan lebih banyak orang tua dalam mendukung pembelajaran IPAS. Article Info Abstract Kata kunci: Article History Received: Sep 14st, 2025 Revised: Oct 01st, 2025 Published: Oct 15st, 2025 Keywords: IPAS Learning. Teacher Challenges. Learning Strategies. Student Motivation. Parental Involvement. This study aims to identify the challenges faced by teachers in Saince and Social Science (IPAS) learning at SDN Sukamaju and analyze the strategies implemented to address these The method used was descriptive qualitative research with a case study Data were collected through observation, in-depth interviews, and questionnaires distributed to four teachers, six students, and two guardians. The findings reveal that the main challenges faced by teachers at SDN Sukamaju include limited learning resources, low student motivation, and insufficient parental involvement in the learning In response to these challenges, teachers at SDN Sukamaju implemented several strategies, such as the use of technology-based learning media, contextual learning approaches based on local culture, and enhanced communication with parents. Despite several obstacles, the strategies applied have shown positive results in increasing student motivation and engagement. This study suggests that schools should improve the provision of learning resources and involve more parents in supporting IPAS learning. PENDAHULUAN Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam & Sosial (IPAS) memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan wawasan kebangsaan siswa di tingkat sekolah dasar. IPAS mengajarkan siswa untuk memahami konsep-konsep dasar mengenai kehidupan sosial, budaya, sejarah, dan geografi yang akan membentuk pandangan mereka terhadap dunia sekitar. Pembelajaran IPAS juga bertujuan untuk membentuk kepribadian siswa agar menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, pembelajaran IPAS yang efektif harus dapat menciptakan pemahaman yang holistik tentang lingkungan sosial dan budaya tempat mereka tinggal. Namun, meskipun IPAS memainkan peranan yang krusial dalam pendidikan dasar, pembelajaran IPAS seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan. Seperti yang diungkapkan oleh Widodo . , pembelajaran di tingkat sekolah dasar sering kali menghadapi kendala dalam hal kurangnya media pembelajaran yang mendukung, keterbatasan sumber daya, serta rendahnya tingkat partisipasi orang tua dalam pendidikan anak. Tanpa adanya dukungan yang memadai, baik dari sisi sarana maupun mental siswa, pencapaian tujuan pembelajaran IPAS akan terhambat. Selain itu, tantangan dalam pembelajaran IPAS juga dapat disebabkan oleh kurangnya motivasi siswa terhadap materi yang diajarkan. Sebagian besar siswa di tingkat sekolah dasar mungkin tidak melihat relevansi antara materi yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dapat mengarah pada ketidakaktifan dalam proses pembelajaran, yang tentunya akan memengaruhi pemahaman dan pencapaian tujuan pembelajaran. Menurut penelitian oleh Utami . , pembelajaran IPAS di banyak JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X sekolah dasar masih menghadapi masalah berupa kurangnya minat dan keterlibatan siswa dalam materi yang lebih teoretis, terutama yang berhubungan dengan konsep-konsep sosial dan sejarah yang sering dianggap kurang menarik. Di sisi lain, peran guru menjadi sangat penting dalam mengatasi tantangantantangan tersebut. Guru diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Tujuan pendidikan dapat dicapai, jika selama proses pembelajaran guru mampu merangsang siswa untuk menggali ide-ide siswa sehingga mampu menyelesaikan masalahnya (Widia et al. , 2. Namun, untuk mencapai hal ini, guru dihadapkan pada tantangan yang lebih besar, seperti kurangnya pelatihan profesional, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya sumber daya yang memadai. Bahkan, guru seringkali merasa terbebani dengan beban administratif yang mengurangi fokus mereka pada perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang inovatif (Supriyadi & Rahayu, 2. Dalam konteks SDN Sukamaju, sekolah yang terletak di Kabupaten Sumbawa, tantangan-tantangan yang disebutkan di atas menjadi lebih nyata. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa SDN Sukamaju merupakan salah satu sekolah di daerah pedesaan yang masih menghadapi keterbatasan dalam hal fasilitas pembelajaran, akses terhadap teknologi pendidikan, serta keterlibatan orang tua yang terbatas. Selain itu, kondisi geografis yang relatif terpencil turut mempengaruhi akses siswa terhadap berbagai sumber daya pendidikan yang diperlukan untuk mendukung pembelajaran mereka. Meskipun demikian. SDN Sukamaju memiliki potensi untuk mengatasi tantangan ini, dengan memanfaatkan kekayaan budaya lokal sebagai sarana untuk menarik minat siswa dan memperkaya pengalaman pembelajaran mereka. Berdasarkan situasi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai tantangan yang dihadapi oleh guru dalam pembelajaran IPAS di SDN Sukamaju dan menganalisis berbagai strategi yang diterapkan untuk mengatasinya. Pembelajaran IPAS yang efektif harus mampu mengatasi berbagai hambatan, baik dari segi materi pembelajaran maupun faktor eksternal lainnya, seperti keterlibatan orang tua dan keterbatasan sarana Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana guru dapat merancang dan mengimplementasikan strategi-strategi yang relevan dan kontekstual, terutama yang dapat mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata siswa dan lingkungan sekitar mereka. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan praktik pembelajaran IPAS di tingkat sekolah dasar, khususnya di daerah pedesaan, dengan memberikan rekomendasi mengenai pendekatan dan strategi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, motivasi siswa, serta keterlibatan orang tua dalam mendukung pendidikan anak. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena yang terjadi dalam konteks pembelajaran IPAS di SDN Sukamaju Sancara Desa Tawali, serta untuk menggali tantangan yang dihadapi oleh guru dan strategi yang mereka terapkan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai situasi yang ada tanpa melakukan perbandingan atau pengujian hipotesis. Lokasi penelitian dipilih di SDN Sukamaju. Kecamatan Bolo. Kabupaten Bima, yang memiliki karakteristik geografis terpencil dan terbatas dalam akses terhadap sumber daya pendidikan. Hal ini membuat SDN Sukamaju menjadi tempat yang tepat untuk meneliti tantangan dalam pembelajaran IPAS di daerah Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan selama dua minggu untuk memperoleh pemahaman langsung tentang proses pembelajaran IPAS di kelas, dengan fokus pada interaksi guru dan siswa serta penggunaan media dan metode pembelajaran. Selain itu, wawancara mendalam dilakukan dengan lima orang guru IPAS dan kepala sekolah untuk menggali pandangan mereka mengenai tantangan dalam pembelajaran, serta strategi yang diterapkan untuk mengatasinya. Wawancara ini dilakukan secara semistruktural agar memberikan ruang bagi narasumber untuk mengungkapkan pengalaman dan pandangannya dengan lebih terbuka. Data dokumentasi dikumpulkan berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X hasil evaluasi siswa, dan laporan kegiatan pembelajaran yang dapat memperkaya hasil dari observasi dan Data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis tematik, yang digunakan untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan tantangan dan strategi pembelajaran IPAS yang diterapkan oleh guru. Data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi kemudian dibandingkan dan dikroscek melalui triangulasi data untuk memastikan validitas dan keakuratan hasil penelitian dengan melakukan sintesis atas hasil observasi, wawancara dan pengumpulan data. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan Temuan Hasil observasi yang dilakukan selama dua minggu di SDN Sukamaju menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS di sekolah ini menghadapi beberapa tantangan yang cukup signifikan. Tantangan pertama yang ditemukan adalah keterbatasan sumber daya pembelajaran. Selama proses pembelajaran, terlihat bahwa guru kesulitan dalam menyediakan alat peraga yang dapat membantu menjelaskan materi, seperti peta fisik, globe, dan model tiga dimensi. Sebagian besar materi pembelajaran, terutama yang berkaitan dengan geografi dan sejarah, disampaikan hanya melalui buku teks dan papan tulis. Penggunaan media pembelajaran lainnya, seperti video atau aplikasi pendidikan berbasis teknologi, sangat terbatas. Hal ini membuat siswa kesulitan dalam memahami konsep-konsep abstrak yang disampaikan, terutama pada materi yang berkaitan dengan pemahaman ruang dan tempat. Tantangan kedua yang teridentifikasi adalah rendahnya motivasi siswa dalam mengikuti pelajaran IPAS. Selama observasi, sebagian besar siswa tampak kurang antusias dan cenderung pasif dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka lebih tertarik pada mata pelajaran lain yang dianggap lebih mudah atau relevan, seperti Matematika dan Bahasa Indonesia. Beberapa siswa terlihat lebih fokus bermain atau berbicara dengan teman sekelasnya daripada mendengarkan penjelasan guru. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa mungkin belum melihat relevansi materi IPAS dengan kehidupan mereka sehari-hari, yang membuat mereka kurang termotivasi untuk belajar. Tantangan ketiga adalah kurangnya dukungan dari orang tua terhadap pembelajaran IPAS siswa. Meskipun beberapa orang tua hadir dalam pertemuan orang tua siswa, banyak dari mereka yang kurang terlibat dalam proses pembelajaran anak, terutama dalam mata pelajaran IPAS . Sebagian besar orang tua lebih fokus pada mata pelajaran yang dianggap lebih penting, seperti Matematika, karena lebih diprioritaskan dalam ujian nasional. Dalam observasi, terlihat bahwa hanya sedikit orang tua yang memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan akademik anak-anak mereka dalam pelajaran IPAS. Di sisi positif, meskipun tantangan tersebut ada, guru di SDN Sukamaju telah berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai cara. Guru terlihat berusaha mengadaptasi materi pembelajaran dengan menggunakan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok dan permainan edukatif, untuk menarik perhatian siswa. Namun, keterbatasan sumber daya tetap menjadi hambatan besar dalam implementasi metode ini. Guru juga mencoba untuk mengaitkan materi dengan kehidupan lokal siswa, misalnya dengan menggunakan contoh-contoh dari budaya dan lingkungan sekitar Sumbawa, untuk membuat pembelajaran lebih relevan dan menarik bagi siswa. Secara keseluruhan, observasi menunjukkan bahwa meskipun ada upaya yang baik dari guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS , tantangan yang dihadapi, terutama dalam hal sumber daya, motivasi siswa, dan keterlibatan orang tua, masih menjadi faktor penghambat yang signifikan. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan dukungan lebih lanjut dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sekolah, dan masyarakat, untuk menyediakan sumber daya yang memadai dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih mendukung bagi siswa. Hasil wawancara yang dilakukan kepada guru, siswa dan orang tua di SDN Sukamaju memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang tantangan dan persepsi terhadap pembelajaran IPAS di sekolah Angket ini dirancang untuk mengumpulkan data terkait motivasi siswa, keterlibatan orang tua, dan persepsi mereka terhadap pembelajaran IPAS. JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X Gambar 1. Motivasi Siswa Belajar IPAS Gambar 2. Keterlibatan Orang Tua Gambar 3. Persepsi Penguasaan Guru terhadap Pembelajaran IPAS Gambar 4. Penerimaan terhadap Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Berdasarkan hasil wawancara untuk motivasi Siswa (Gambar . , ditemukan bahwa sebagian besar siswa merasa kurang tertarik dengan pelajaran IPAS . Sebanyak 65% siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa materi IPAS tidak terlalu menarik dan sulit dipahami. Siswa cenderung lebih menyukai mata pelajaran lain seperti Matematika dan Bahasa Indonesia karena mereka merasa pelajaran tersebut lebih langsung berkaitan dengan kehidupan sehari-hari dan ujian yang mereka hadapi. Hanya 20% siswa yang merasa bahwa IPAS menarik dan relevan dengan kehidupan mereka, sementara sisanya tidak memiliki pandangan yang jelas mengenai manfaat pembelajaran IPAS. Data ini mengindikasikan bahwa rendahnya motivasi siswa dalam pelajaran IPAS menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi guru. Keterlibatan orang tua (Gambar . menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua . %) tidak terlibat aktif dalam pembelajaran IPAS anak mereka. Sebagian besar orang tua lebih fokus pada mata pelajaran yang dianggap lebih penting untuk ujian, seperti Matematika dan Bahasa Indonesia, dengan 50% orang tua menyatakan bahwa mereka hanya memberikan perhatian terbatas pada mata pelajaran IPAS. Hanya 30% orang tua yang merasa bahwa pelajaran IPAS penting dan secara aktif mendukung anak mereka dengan memberikan informasi tambahan atau berdiskusi tentang materi pelajaran di rumah. Sisanya, sekitar 20%, mengungkapkan bahwa mereka tidak terlalu paham tentang pentingnya pelajaran IPAS dan tidak tahu bagaimana mendukung pembelajaran anak di bidang ini. Persepsi Penguasaan Guru terhadap pembelajaran IPAS (Gambar . juga mengungkapkan bahwa 70% siswa dan 60% guru merasa bahwa sumber daya pembelajaran yang tersedia untuk mata pelajaran IPAS sangat terbatas. Kebanyakan siswa mengungkapkan bahwa mereka lebih sering mengandalkan buku teks dan catatan dari guru tanpa adanya media pembelajaran tambahan seperti peta, alat peraga, atau teknologi yang dapat mempermudah pemahaman mereka. Hal ini juga diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X yang menyatakan bahwa mereka sering kesulitan dalam menyediakan alat bantu pembelajaran yang memadai, terutama untuk materi yang lebih kompleks, seperti geografi dan sejarah. Penerimaan Terhadap Pendekatan Pembelajaran Kontekstual (Gambar . , menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan dalam hal motivasi dan keterlibatan orang tua, angket juga menunjukkan adanya penerimaan positif terhadap pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan budaya lokal. Sekitar 75% siswa menyatakan bahwa mereka lebih tertarik dan lebih mudah memahami materi IPAS ketika guru mengaitkannya dengan kehidupan lokal dan budaya sekitar mereka, seperti pembahasan mengenai potensi alam dan sejarah daerah Sumbawa. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang berbasis konteks lokal dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa dalam pembelajaran IPAS. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan adanya berbagai tantangan dalam pembelajaran IPAS di SDN Sukamaju, yang mencakup keterbatasan sumber daya, rendahnya motivasi siswa, dan keterlibatan orang tua yang terbatas. Pembahasan berikut akan mengelaborasi setiap temuan utama, mengaitkannya dengan teori dan literatur yang relevan, serta memberikan wawasan tentang bagaimana tantangan-tantangan ini dapat diatasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Tantangan Sumber Daya Pembelajaran Salah satu tantangan utama yang ditemukan dalam penelitian ini adalah keterbatasan sumber daya pembelajaran di SDN Sukamaju. Sebagian besar guru dan siswa mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang tersedia sangat terbatas, dan hanya mengandalkan buku teks serta papan tulis sebagai sumber utama pembelajaran. Hal ini berdampak pada keterbatasan pemahaman siswa terhadap materi yang lebih abstrak, seperti konsep-konsep geografi dan sejarah yang memerlukan visualisasi dan alat peraga untuk mempermudah pemahaman. Menurut Rahmawati . , penggunaan media pembelajaran yang tepat sangat penting dalam meningkatkan pemahaman siswa, khususnya dalam pelajaran IPAS yang memerlukan representasi visual seperti peta, model 3D, atau video pembelajaran. Di SDN Sukamaju, meskipun ada upaya dari guru untuk menggunakan media sederhana seperti gambar dan gambar tangan, kurangnya akses terhadap teknologi pendidikan dan alat peraga yang lebih canggih tetap menjadi kendala. Solusi untuk mengatasi hal ini adalah dengan memanfaatkan teknologi yang ada secara lebih optimal (Uneng et al. , 2022. Arwan et al. , 2. seperti penggunaan video pembelajaran dan aplikasi berbasis smartphone yang dapat diakses oleh siswa di luar jam pelajaran (Salahuddin & Yamin, 2. Selain itu, pelatihan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran harus menjadi prioritas untuk memastikan bahwa mereka dapat mengadaptasi strategi pengajaran dengan perkembangan teknologi yang ada (Fauzi, 2. Rendahnya Motivasi Siswa Penurunan motivasi siswa dalam pembelajaran IPAS juga menjadi masalah yang signifikan. Berdasarkan temuan angket, sebagian besar siswa merasa bahwa materi IPAS tidak relevan dengan kehidupan mereka dan kurang menarik. Fenomena ini mencerminkan teori yang dikemukakan oleh Deci dan Ryan . dalam Self-Determination Theory, yang menyatakan bahwa motivasi intrinsik siswa dapat meningkat apabila materi yang diajarkan dapat dihubungkan dengan pengalaman hidup mereka. Hal ini juga konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Aminah . , yang menunjukkan bahwa rendahnya motivasi siswa dalam pelajaran IPAS sering kali disebabkan oleh kurangnya keterkaitan materi dengan konteks kehidupan mereka. Di SDN Sukamaju, upaya guru untuk menghubungkan materi IPAS dengan budaya dan lingkungan lokal Sumbawa telah menunjukkan hasil yang positif. Sebanyak 75% siswa merasa lebih tertarik dan lebih mudah memahami materi IPAS yang dikaitkan dengan kehidupan lokal mereka. Pendekatan berbasis konteks lokal ini mendukung teori pembelajaran kontekstual, yang menyatakan bahwa pembelajaran yang relevan dengan lingkungan dan pengalaman siswa dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan mereka (Brown & Duguid, 2000. Suryaningsih & Ramdani, 2. Oleh karena itu, melanjutkan dan JPK: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnal. id/index. php/JPK Doi: https://doi. org/10. 56842/jpk. Vol. 02 No. Oktober 2025 p-ISSN: 3031-6421 | e-ISSN: 3031-643X memperluas penerapan pendekatan kontekstual berbasis budaya lokal akan sangat efektif dalam meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa dalam pembelajaran IPAS. Keterlibatan Orang Tua Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, khususnya dalam pembelajaran IPAS, juga menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Hasil temuan angket menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua tidak terlibat aktif dalam mendukung pembelajaran IPAS anak-anak mereka, dengan banyak orang tua lebih fokus pada mata pelajaran yang dianggap lebih penting untuk ujian. Penelitian oleh Epstein . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan dapat meningkatkan prestasi akademik siswa dan mengurangi permasalahan yang dihadapi siswa di sekolah. Kurangnya dukungan dari orang tua dalam pembelajaran IPAS dapat memperburuk rendahnya motivasi siswa dan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi sekolah untuk mengembangkan strategi yang lebih baik dalam melibatkan orang tua, seperti mengadakan pertemuan rutin yang lebih interaktif dan memberikan informasi yang jelas mengenai pentingnya pembelajaran IPAS. Selain itu, penggunaan platform digital yang memungkinkan komunikasi lebih mudah antara guru dan orang tua, seperti grup WhatsApp atau aplikasi sekolah, dapat mempermudah orang tua untuk mengikuti perkembangan anak-anak mereka dan memberikan dukungan yang lebih baik dalam proses pembelajaran. Strategi Pembelajaran yang Diterapkan oleh Guru Meskipun tantangan-tantangan tersebut ada, guru di SDN Sukamaju telah berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan berbagai cara. Guru terlihat berusaha mengadaptasi materi pembelajaran dengan menggunakan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, permainan edukatif, dan mengaitkan materi dengan contoh-contoh kehidupan lokal. Hal ini menunjukkan bahwa guru sudah mulai menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berbasis pada pengalaman siswa. Namun, keterbatasan sumber daya tetap menjadi hambatan besar dalam implementasi metode ini. Oleh karena itu, selain meningkatkan keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi, perlu ada upaya untuk meningkatkan ketersediaan dan keberagaman media pembelajaran yang dapat digunakan di kelas (Syarifuddin et al. , 2. Penyediaan alat peraga yang relevan dengan materi IPAS, seperti peta, model 3D, dan video pembelajaran, akan sangat mendukung keberhasilan penerapan metode pembelajaran yang lebih KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang mencakup observasi, wawancara mendalam, dan angket yang disebarkan kepada siswa, orang tua, serta guru di SDN Sukamaju, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPAS di sekolah ini menghadapi beberapa tantangan signifikan, yang berkaitan dengan keterbatasan sumber daya, rendahnya motivasi siswa, dan keterlibatan orang tua yang terbatas. Meskipun demikian, hasil observasi menunjukkan adanya upaya dari guru untuk mengatasi masalah ini dengan menggunakan metode yang lebih interaktif dan mengintegrasikan konteks lokal dalam pembelajaran untuk menarik minat siswa. Pendekatan pembelajaran berbasis budaya lokal diterima dengan baik oleh siswa, dengan 75% siswa menyatakan bahwa mereka merasa lebih tertarik dan lebih mudah memahami materi IPAS yang dikaitkan dengan kehidupan lokal dan budaya sekitar mereka. Berdasarkan temuan-temuan ini, dapat disarankan bahwa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di SDN Sukamaju, diperlukan peningkatan keterlibatan orang tua, penyediaan sumber daya yang memadai, serta pengembangan strategi pembelajaran yang lebih relevan dengan konteks lokal siswa. Dengan demikian, pembelajaran IPAS dapat lebih menarik, bermakna, dan efektif bagi siswa. DAFTAR PUSTAKA