Journal of Divinity. PeaceStudies and Conflict Studies Journal of Divinity. Peace and Conflict Volume 5 Nomor 2 (Januari-April 2. Submitted: 25 Juli 2025 Acepted: 8 Agustus 2025 Published: 30 Agustus 2025 THE MARGINALISED GOD Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Josua Estomihi Butarbutar Universitas Kristen Duta Wacana. Yogyakarta estomihij@gmail. DOI: 10. 21460/aradha. Abstract This article explores the concept of a marginalised God in the context of modernity and postmodernity, where secularization is understood not as the erasure of religion but as a transformation of humanityAos relationship with the Divine. Through a transdisciplinary approach integrating theopoetics, mystical paths, and sexuality, the text critically reflects on reconstructing spirituality amid technological dominance and data-driven logic. Theopoetics reimagines God not as an absolute entity but as an AueventAy manifest in everyday experiences, while Meister EckhartAos mysticism emphasizes union with God (Unio Mystic. through ego dissolution and contemplative silence. The body and sexuality are positioned as mediums of transcendence, overcoming spirit-matter dualism, and fostering spiritual inclusivity amid diverse gender identities and sexual orientations. Challenges faced by Generation Z and Alpha in the digital age, such as alienation and existential void, are addressed through anatheism, which embraces doubt and cross-boundary dialogue. The document concludes that future spirituality must be inclusive, dialogical, and rooted in unconditional love, where God is present not through dogma but in grounded human relations. Principles like respect, compassion, sensitivity, and intimacy serve as pillars for building new spiritual spaces in the digital world. Keywords: theopoetics. God After God. Unio Mystica, mysticism, sexuality, nothingness. The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Abstrak Artikel ini mengeksplorasi konsep Tuhan yang termarginalkan dalam konteks modernitas dan postmodernitas, di mana sekularisasi dipahami bukan sebagai penghapusan agama melainkan sebagai transformasi relasi manusia dengan Yang Ilahi. Melalui pendekatan transdisipliner yang mengintegrasikan teopoetika, jalur-jalur mistik, dan seksualitas, teks ini merefleksikan secara kritis upaya rekonstruksi spiritualitas di tengah dominasi teknologi dan logika berbasis Teopoetika menghadirkan ulang Tuhan bukan sebagai entitas absolut melainkan sebagai sebuah AuperistiwaAy . yang termanifestasi dalam pengalaman sehari-hari. Sementara itu, mistisisme Meister Eckhart menekankan penyatuan dengan Tuhan (Unio Mystic. melalui pelenyapan ego dan kesunyian kontemplatif. Tubuh dan seksualitas diposisikan sebagai medium transendensi, mengatasi dualisme spirit-materi, serta memupuk inklusivitas spiritual di tengah beragam identitas gender dan orientasi seksual. Tantangan yang dihadapi Generasi Z dan Alpha di era digitalAiseperti alienasi dan kehampaan eksistensial, yang merangkul keraguan dan dialog lintas-batas. Dokumen ini menyimpulkan bahwa spiritualitas masa depan harus bersifat inklusif, dialogis, dan berakar pada cinta tanpa syarat, di mana Tuhan hadir bukan melalui dogma melainkan dalam relasi manusia yang membumi. Prinsip-prinsip seperti rasa hormat, welas asih, kepekaan, dan keintiman berfungsi sebagai pilar untuk membangun ruang-ruang spiritual baru di dunia digital. Kata-kata kunci: teopoetika. Tuhan Pasca Tuhan. Unio Mystica, mistik, seksualitas, kehampaan. Pendahuluan Dalam dunia modern yang didominasi oleh narasi-narasi sekularisasi. Tuhan tampaknya semakin terpinggirkan dari ruang-ruang diskursif yang pernah menjadi pusat eksistensinya. Namun, sekularisme itu sendiri adalah bagian dari fenomena religius, bahkan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tradisi kekristenan yang kini semakin banyak diadopsi. Mark C. Taylor, dalam sebuah karyanya. After God menegaskan bahwa modernitasAidan bahkan pasca modernitas tidak dapat dipisahkan dari revolusi kekristenan pada abad ke-16. Taylor menegaskan bahwa sekularisasi yang terjadi tidak berdiri sebagai lawan dari agama, melainkan sebuah transformasi dalam bentuk yang berbeda, yang memulai desentralisasi hubungan antara manusia dan Tuhan (Taylor, 2009: . Dengan desentralisasi hubungan atau katakanlah sebuah ruang privat hubungan manusia dengan Tuhan di mana modernitas terus berkembang di atas warisan ini. Hal ini menciptakan ruang baru bagi subjektivitas yang terus berubah hingga era pasca modern. Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Teopoetika dalam gagasan John D Caputo, memberikan sudut pandang yang baru yang menggeser cara kita memahami Tuhan. Alih-alih melihat entitas yang disebut Tuhan sebagai entitas absolut yang tidak pernah berubah. Caputo justru memandang Tuhan sebagai sebuah panggilan . yang terus-menerus hadir melalui kejutan, interupsi, dan bahkan kerapuhan (Caputo, 2019: 106Ae. Dalam pandangan ini, jika melihat Deus Absconditus (Caputo, 2019: 142Ae. , sebuah pemaknaan Tuhan yang tersembunyi, bukanlah makna kehancuran dari iman, melainkan sebuah peluang untuk membangun ulang dan memaknai ulang apa itu spiritualitas dengan cara yang lebih mendalam. Teopoetika mengajak kita untuk memahami Tuhan melalui cerita, puisi, pengalaman, bahkan klaim-klaim absolut atau makna terhadap narasi teologis yang kaku dan konvensional (Caputo, 2019: 110Ae. Melalui ini. Tuhan tidak lagi digapai dengan sebuah pemahaman, rasio, dan hanya berfokus pada logos saja (Tamawiwy, 2024: 25Ae. melalui sesuatu yang lebih segar. Tuhan menjadi bagian integral, memori, atau bahkan yang melampaui imaji. Kini. Tuhan dapat dinikmati. Kenikmatan yang membuat ekstasi bagi siapa saja yang ingin menikmati-Nya, baik individu maupun kolektif. Dalam tinjauan yang lebih dalam lagi, menarik bahwa narasi tentang sekularisasi ini tidak hanya mengubah ruang religius tetapi juga merambah hingga tatanan sosial-ekonomi dan bahkan biologis manusia. Yuval Noah Harari, dalam analisisnya tentang evolusi Homo Sapiens menuju Homo Deus, menggarisbawahi bagaimana teknologi dan humanisme modern telah mengubah manusia menjadi arsitek utama dari eksistensi (Harari, 2017: tit. Breaking the Law of the Jungl. Tuhan, yang dahulu menjadi pusat otoritas dan ontologis, kini digantikan oleh algoritma dan data. Manusia kini berhadapan dengan kondisi di mana mereka pertama kalinya dalam sejarah, berhadapan dan berinteraksi dengan alat non-biologis yang memahami siapa Interaksi yang bukan hanya soal alat, tetapi soal apa yang kita pikirkan tentang diri kita dan akan menjadi apa kita kini dan saat ini (Hardiman, 2021: 21Ae. Harari mengungkapkan bahwa manusia modern, dalam obsesinya mengatasi keterbatasan biologis dan eksistensial, semakin bergeser dari narasi transendensi menuju narasi imanen yang terwujud dalam proyek-proyek teknosentris (Harari, 2017: tit. The Humanist Schis. Transformasi ini tentu menimbulkan pertanyaan serius: AuDalam dunia yang dikuasai oleh logika data, bagaimana narasi tentang theos dapat merespons dan beradaptasi?Ay Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif interdisipliner dengan menggabungkan perspektif teologi, filsafat, dan studi budaya kontemporer. Sebuah perpaduan antara teopoetika, jalan mistik, dan seksualitas sebagai lokus refleksi atau mungkin sebuah praksis Aukritis,Ay yang memunculkan argumen AuTuhan Pasca TuhanAy adalah lebih dari sekadar ketiadaan teologis. ia adalah peluang untuk menghidupkan dan menciptakan ulang dimensi spiritualitas yang sudah lama atau pernah tertanam dalam setiap interseksi dari tekstur kehidupan manusia. Melalui pendekatan ini, sebuah pendekatan yang mungkin dimaknai sebagai pendekatan The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. interdisipliner, tulisan ini menawarkan pembacaan sampai reka. ulang atas bagaimana Tuhan yang termarginalisasi dapat berfungsi sebagai subversi kreatif terhadap homogenisasi spiritualitas pasca modern atau pemahaman akan era ini. Metode utama yang diterapkan adalah analisis teks kritis terhadap karya-karya pemikir seperti John D. Caputo. Mark C. Taylor. Meister Eckhart, serta literatur terkait teopoetika, mistisisme, dan transformasi spiritualitas di era digital. Pendekatan dekonstruktif digunakan untuk membongkar narasi tradisional tentang Tuhan, sementara sintesis filosofis dan teologis diterapkan untuk membangun argumen tentang AuTuhan Pasca TuhanAy sebagai respons terhadap sekularisasi dan kemajuan teknologi. Dalam usaha membahas konsep AuTuhan yang TermarginalisasiAy di era modernitas dan pasca modernitas secara interdisipliner. Argumen utama disajikan dalam empat bagian Pertama tulisan ini akan membahas transformasi spiritualitas pasca sekular dengan menganalisis pergeseran relasi manusia-Tuhan pasca sekular dan transformasi spiritualitas melalui teopoetika dan mistisisme Eckhart, yang mendekonstruksi narasi Tuhan tradisional. Berikutnya, tulisan ini membahas teopoetika sebagai jalan mistik di mana teopoetika sebagai alternatif yang melampaui teologi dogmatis, mengeksplorasi jalan spiritual dan konsep Unio Mystica, serta menegaskan relevansi kontemplasi dan keheningan di tengah alienasi digital. Selanjutnya, tulisan ini mengeksplorasi tubuh dan seksualitas sebagai medium transendensi, akan membahas inklusivitas spiritual dalam keragaman gender/LGBTQ dengan lensa embodiment dan teknologi. Berikutnya, tulisan ini membahas spiritualitas kehampaan untuk generasi digital di mana mengevaluasi respons generasi Z/Alpha terhadap krisis eksistensial digital, sebagai kerangka dialogis untuk spiritualitas inklusif pasca modern. Pada kesimpulan, tulisan ini menyintesis temuan dan menawarkan visi spiritualitas masa depan berbasis prinsip respect, compassion, sensitivity, dan intimacy. Tulisan ini memandu dari dekonstruksi narasi Tuhan tradisional menuju rekonstruksi spiritualitas yang relevan dengan tantangan Melalui kombinasi metode ini, tulisan ini bertujuan menawarkan pembacaan kreatif sekaligus subversif terhadap homogenisasi spiritualitas di era pasca-Tuhan. Walking to the Margin God: Antara Sekularisasi dan Transformasi Spiritualitas Era kematian Tuhan adalah awal agar umat manusia dapat terus menerus berevolusi di luar batas ruang agama. Friedrich Nietzsche dengan deklarasi nya yang terkenal. AuGod is dead. God remains dead. And we have killed HimAy (Nietzsche dan Kaufmann, 1. , membiarkan Tuhan yang lama. Tuhan yang sama yang telah terkurung dalam sebuah kurungan yang dituhankan, yaitu agama. Tuhan itu sudah mati dan terbebas dari dalam penjara yang dibuat manusia. Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Tuhan yang telah lama mengurung manusia berabad-abad lamanya. Pernyataan ini bukanlah sekadar deklarasi nihilistik, tetapi sebuah gugatan terhadap fondasi metafisika Barat yang berakar pada kebergantungan kepada Tuhan sebagai pusat moralitas dan makna. Dalam era modern, kematian Tuhan tidak hanya mencerminkan kehancuran agama institusional, tetapi juga mengantarkan manusia pada krisis spiritualitas sekaligus peluang untuk merekonstruksi makna baru. Setidaknya, untuk berangkat dan memulai ini, perkataan Nietzsche memang benar adanya, ini adalah era yang memulai dekonstruksi Tuhan dan rekonstruksi Tuhan untuk mencari kembali entitas Tuhan. Dalam dunia yang semakin terjebak dalam narasi sekularisasi. Tuhan tampak tergeser ke pinggiran, seolah menjadi entitas usang yang hanya relevan di masa lampau. Namun, seperti yang telah diungkapkan oleh Mark C Taylor, sekularisasi bukanlah penghapusan Tuhan, melainkan transformasi yang mendalam terhadap hubungan manusia dengan entitas Yang Ilahi. Sekularisme lahir dari akar tradisi religius itu sendiri, yang justru menciptakan ruang untuk mendefinisikan ulang spiritualitas di batas dogma (Taylor, 2009: . Krisis akan kebutuhan sesuatu yang bersifat metafisika ini diiringi oleh kebangkitan Auhumanisme lenturAy (Hardiman dan Udiani, 2012: 3Ae. , di mana manusia mengambil alih peran Tuhan dalam menentukan nilai dan makna. Proses ini bukan hanya menyingkirkan Tuhan ke ranah pribadi, tetapi juga membuka peluang baru untuk mendekati spiritualitas melalui perspektif yang lebih dinamis dalam pendekatan hadirnya teopoetika untuk menambah wacana baru dalam jalan mistik. Ranah pribadi era ini adalah sebuah pemutarbalikan atau dari ranah publik yang dulu pernah Artinya, apa yang dulu menjadi ranah pribadi kini menjadi ranah publik. Dari sana datang kebutuhan kolektif untuk kembali memaknai entitas yang disebut Tuhan. Era ini, sebuah era dengan kebanggaan akan modernitas, yang dengan obsesinya pada rasionalitas dan efisiensi, telah membawa manusia pada kehampaan eksistensial yang tidak dapat diisi oleh narasi-narasi rasional semata (Hardiman dan Udiani, 2012: 1Ae. Dalam pencarian makna, manusia yang modern atau manusia yang hidup di era pasca modern sering kali menggantikan Tuhan dengan logika, bahkan kini dengan hadirnya algoritma dari teknologi Dalam proses ini, sekularisasi tentunya belum atau tidak mematikan spiritualitas, karena melalui ini memang manusia semakin didorong untuk mencari kembali hubungan dengan dimensi transendental yang sering kali hilang dalam kesibukan duniawi. Namun, hal ini belum cukup menjawab bagaimana nantinya akan sampai pada AuTuhan yang dinikmati. Ay Oleh karena itu, keseriusan untuk kembali memaknai dan menghidupi jalan mistik di era ini, sebuah pendekatan akan kebutuhan spiritualitas kian diperlukan. Menjawab nantinya bahwa Tuhan dapat turut dirasakan. Matthew Fox, dalam tinjauannya terhadap Thomas Merton dan Meister Eckhart menawarkan sebuah jalur alternatif untuk memahami Tuhan yang termarginalisasi dalam The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. dunia ini. Esensi yang penting dalam pemahaman ini adalah Audivine presenceAy dalam setiap aspek kehidupan (Fox, 2016: tit. Every Non Two-legged is a Sain. , bukan melalui pemahaman akan dogma atau doktrin yang kaku, tetapi melalui sesuatu yang empiris, sesuatu yang dapat dialami langsung secara serius dan mendalam. Thomas Merton, misalnya, mengidentifikasi jalan kesunyian atau jalan kepedihan . ia negativ. sebagai jalan menuju transformasi spiritual, di mana Tuhan tidak lagi dipahami sebagai objek eksternal, tetapi sebagai panggilan . calling t. yang terus-menerus hadir dalam keberadaan. Berbicara tentang kesunyian. Merton dan Eckhart adalah teladan yang sangat baik. Untuk memaknai ulang, menciptakan makna baru, berperannya theos, kembalinya posisi Tuhan. Bagi Eckhart. AuYou should love God mindlessly, that is, so that your soul is without mind and free from all mental activities, for as long as your soul is operating like a mind, so long does it have images and But as long as it has imagesAit has neither oneness nor simplicity. And therefore our soul should be bare of all mind and should stay there without mind. For if you love God as God is God or mind or person or picture, all that must be dropped. You should love God as God is, a not-God, not-mind, not-person, not-image, even more, as God is a pure, clear One, separate from all twoness. And we should sink eternally from something to nothing into this One. May God help us to do thisAy (Fox, 2016: tit. I Shall Certainly Have Solitude. Beyond All AuWhereA. Melepaskan Tuhan dari batasan batasan imaji, dari apa yang selama ini sebatas kita akui sebagai sebuah norma tentang Tuhan yang kepribadian dan wataknya sudah ditentukan oleh agama. Melepas logos membuat theos mati atau kehilangan maknaAi tentu tidak benar, karena theos akan tetap menjadi theos. Eckhart kembali menegaskan bahwa hendaknya manusia membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Bukan manusia yang menjadi Tuhan atau manusia yang kerap membatasi Tuhan. Menurut Eckhart, bahwa justru Tuhan yang sejati adalah Tuhan yang dapat dialami dan bukan hanya sekadar pengalaman. Tuhan yang sejati itu adalah keberadaan yang benar-benar kosong dalam keheningan yang hanya dapat dialami melalui pelepasan total ego manusia. Ego dalam diri manusia ini sering kali menjadi kecohan yang membuat manusia dipenuhi oleh delusi-delusi dan dikendalikan yang membuat manusia menyangsikan segala sesuatu (Hardiman, 2021: . Dalam pengajarannya tentang mistik. Eckhart menunjukkan bahwa manusia dapat menemukan Tuhan bukan di luar, tetapi dalam diri melalui jalan kontemplasi yang membebaskan. Berangkat dari dalam diri manusia sendiri, menemukan kecohan yang membuat delusi bagi dirinya, ia dapat membebaskan dirinya dengan mencari di mana posisi Tuhan dalam diri manusia sendiri. Dalam paradigma baru di era pasca Tuhan diri dan keberadaan tubuh sebagai pusat untuk menemukan Tuhan menjadi esensi yang penting. Nantinya ini akan membuat manusia Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies untuk dan menjawab banyak pertanyaan tentang cara menjadi dirinya dan menemukan Tuhan dalam dirinya melalui kehadirannya sendiriAibeing presence. Hal ini muncul sebagai respons terhadap pergeseran dari metafisika logosentris yang memisahkan roh dan tubuh, menuju pandangan yang lebih integratif, di mana tubuh tidak lagi di anggap sebagai penghalang menuju entitas Tuhan, tetapi sebagai jembatan menuju pengalaman transendensi. Pemahaman ini akan bergerak dari tubuh menuju keberadaan seksualitas manusia yang nantinya akan mendapatkan tempat baru dalam diskursus tentang spiritualitas. Pengalaman tubuh akan bergerak menuju pemahaman baru di mana pengalaman tubuh sering kali menjadi medium transendensi, tempat Tuhan hadir secara mendalam dalam keseharian umat manusia. Sementara di sisi lain. Nietzsche juga menantang adanya dikotomi antara roh dan tubuh dengan menyatakan bahwa tubuh perlu diberikan kebebasan, dari sana akan lahir Authe great soulAy (Nietzsche dan Kaufmann, 1974: 150Ae. Tubuh adalah sumber kebijaksanaan, pengalaman, dan kreativitas yang sering diabaikan oleh tradisi yang menempatkan roh sebagai yang lebih superior. Seksualitas bukanlah lagi sesuatu yang dianggap sebagai dosa atau sesuatu yang harus dielakkan atau ditaklukkan. Seksualitas adalah bagian integral dari ekspresi manusiawi yang dapat membawa manusia lebih dekat pada Yang Ilahi. Tubuh, termasuk seksualitas manusia justru menjadi pengalaman manusia untuk melepaskan egonya. Pengalaman cinta tentunya adalah peristiwa spiritual yang melibatkan tubuh dan jiwa dalam hubungan yang penuh pengorbanan dan transformasi (Marler, 2013: . Cinta eros, yang sering dianggap sebagai sesuatu yang profan, diintegrasikan ke dalam hubungan baru dengan Tuhan, sehingga melampaui dualisme antara tubuh dan roh. Jika kembali meninjau Caputo yang menunjukan bahwa Tuhan hadir dalam hal-hal paling biasa, dalam hemat sayaAitermasuk seksualitas manusia. Bagi Caputo. Tuhan sebagai event, sesuatu yang terus-menerus mengundang manusia untuk melihat kehadiran Yang Ilahi melalui kehidupan sehari-hari. Tubuh dan seksualitas adalah bagian integral manusia. Dalam dunia pasca Tuhan, tubuh manusia tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang inferior dalam hierarki dualistik roh-tubuh, melainkan medium pengalaman spiritual yang sejajar dengan dimensi mental dan rohani. Pengakuan atas tubuh sebagai medium spiritualitas membuka jalan baru bagi pemahaman yang lebih inklusif dan membebaskan ruang bagi spiritualitas. Di luar dogma dan doktrin agama yang sering membatasi, seksualitas dapat menjadi ruang kontemplasi dengan Tuhan. Ini bukan sekadar penghapusan batasan-batasan moral tradisional, tetapi penciptaan baru di mana manusia dapat merayakan keberadaan Ilahi di dalam dirinya sendiri dan hubungannya dengan orang lain. Sekularisasi, yang ditandai dengan pergeseran fokus manusia dari otoritas metafisik ke rasionalitas dan otonomi individu, telah memaksa spiritualitas untuk berevolusi. Rekonstruksi spiritualitas di era sekular bukan sekadar mengganti Tuhan tradisional dengan nilai-nilai The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. humanistik, tetapi juga membuka ruang baru untuk memahami transendensi secara kreatif. sinilah konsep teopoetika menjadi relevan: sebagai pendekatan yang tidak lagi berpusat pada dogma teologis, melainkan pada pengalaman penciptaan makna ilahi melalui bahasa, seni, dan praktik hidup. Dalam era tanpa pusat metafisik, praktik kontemplatif seperti meditasi dan refleksi menjadi cara untuk menemukan dimensi ilahi. Pengalaman spiritual adalah tentang membuka hati terhadap kehadiran Tuhan di setiap momen, tanpa perlu kebergantungan pada struktur keagamaan formal. Di dunia modern yang pluralistik, teopoetika memungkinkan berbagai bentuk pengalaman spiritual untuk saling berdialog tanpa kehilangan identitasnya. Teopoetika memungkinkan pemahaman transenden yang melintasi batas agama, dengan menempatkan pengalaman manusia di pusat eksplorasi . Rekonstruksi spiritualitas melalui teopoetika bukan hanya respon terhadap sekularisasi, tetapi juga sebuah upaya untuk menciptakan kosmologi baru di mana manusia dan Tuhan berada dalam hubungan dinamis. Dalam pandangan ini, spiritualitas tidak lagi bersifat hierarkis tetapi dialogisAimengundang manusia untuk menjadi rekan cipta dalam proyek ilahi yang terus berlangsung. Pendekatan ini, dengan merangkul keindahan, misteri, dan kreativitas, menawarkan spiritualitas yang relevan dan membumi di tengah dunia yang berubah. Dalam era sekular. Tuhan tidak menghilang. Ia hadir dalam puisi, seni, keheningan, teknologi, dan kehidupan itu sendiri. Teopoetika sebagai Teologi Tanpa Teologi: Menyelisik Jalan Mistik di Era Pasca Tuhan Jalan mistik adalah sesuatu yang telah lama ditinggalkan. Jalan mistik adalah barang usang yang tidak dipakai lagi. Namun, mari melihatnya dari titik di mana kesadaranAibeing presenceAi tambahan saya being presence of the essence of being. Berangkatnya jalan mistik dari kesadaran adalah hal yang tidak pernah disadari sebelumnya. Tidak ada pertanyaan Aumengapa?Ay untuk menjawab ini. Demikian teopoetika, sebuah teologi yang tidak pantas, namun radikal! (Tamawiwy, 2024: . Tidak pula punya jawaban dari hal yang sama. Berangkatnya dari jalan mistik dari kesadaran dengan menjadi hadir seutuhnya sebagai diri dalam bungkusan esensi dari eksistensi. Manusia adalah makhluk yang radikal, ia berpikir maka ia adaAiada karena berpikir dan sebaliknya. Cogito ergo sum, demikianlah semboyan terkenal dari Rene Descartes. Dale Cannon, dalam karyanya Six Ways oF Being Religious (Cannon, 1. , menawarkan tesis tentang bagaimana menemukan jalan spiritual dari keberadaan kita sebagai manusia. Cannon menawarkan setidaknya ada enam jalan atau cara untuk mencapai pemahaman untuk mengenal Tuhan. Jika kembali, saya menyebutkan jalan mistik haruslah berangkat dari kesadaran yang sebelumnya tidak pernah disadari. Maka, pertanyaan Aumengapa?Ay pantas Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies untuk dipertanyakan disini. Tanpa sadar sebenarnya manusia selalu mencari-cari keberadaan Tuhan. Dalam hal ini mari kembali kepada tawaran Cannon dalam pencarian enam jalan Pertama. Reasoned Inquiry (Cannon, 1996: . Jalan spiritual ini memulainya dengan lingkup yang lebih akademis. Tuhan terus-menerus dicari pemahaman yang lebih rasional. Tuhan dimengerti melalui apa yang selama ini telah dikonstruksi oleh manusia sebagai sesuatu yang pada awalnya lebih besar lalu mengerucut sebagai Tuhan yang manusia inginkan Tuhan menjadi kemauan manusia. Namun, saya tidak ingin mengkritik tentang keberadaan jalan spiritual ini atau nanti yang lainnya. Karena memang begitulah adanya. Upaya manusia untuk menemukan Tuhan adalah upaya terhadap cintanya untuk bersatu kembali dengan cinta Tuhan. Setidaknya saya ingin memperlihatkan di mana letak ketidaksadaran manusia dalam menikmati Tuhan. Dari jalan ini jelas, bahwa Tuhan dinikmati dengan ekstasi pencarian fragmentasi Tuhan menjadi yang lebih rasional. Letak ketidaksadaran manusia memang agak kabur jika dilihat melalui jalan ini. Namun, letak ketidaksadarannya adalah bahwa manusia menikmati cara mereka merasionalkan Tuhan tanpa disadari menjadi suatu konstruksi hingga saat ini. Kedua. Sacred Right (Cannon, 1996: . Pencarian akan Tuhan dilakukan melalui sesuatu yang bersifat ritual. Orang yang memiliki jalan spiritual ini atau mendekati jalan spiritual ini akan peka dengan ritual-ritual. Tradisi kekristenan misalnya mencatat tentang kalender liturgi dalam gereja. Penggunaan warna, benda-benda, ikon atau hal-hal lain yang membuat ritual tetap berjalan. Mereka akan mencari Tuhan dengan melakukan ritual yang sama yang bersifat berulang-ulang. Menjadi ciri khas tertentu dalam pencarian Tuhan. Di sini memang kelihatannya agak jelas bahwa manusia benar benar sadar dan hadir sepenuhnya dalam tuntunannya untuk menemukan Tuhan. Namun, ia nantinya akan tidak sadar karena lama kelamaan ia akan merasakan satu titik di mana ia mengalami kekeringan . Ritual yang tadinya dilakukan dengan penuh kesadaran pada akhirnya menjadi kering dan hanya menjadi sebuah rutinitas belaka. Ketiga. Right Action (Cannon, 1996: . Jalan ini adalah jalan yang memberi kesan cukup unik dibandingkan yang lainnya, karena pencarian Tuhan dilakukan dengan turun ke dalam suasana tertentu di mana di sana ada ketidakadilan, kekerasan, atau sesuatu yang secara moral adalah keliru. Saya akan menyebutnya sebagai pengalaman pencarian Tuhan saat Auterjun ke lapangan. Ay Kekristenan sering menyebutnya sebagai Aupelayanan terhadap Ay Menolong orang yang kesusahan, memberi makan orang miskin, mengobati orang yang menderita. Semua itu tentu dilakukan tanpa pamrih. Asumsinya adalah melayani orang disekitar kita artinya melayani Tuhan yang menciptakan kita. Di sini manusia secara sadar merasakan ada sesuatu yang menggerakkan hati mereka. Namun, mereka tidak sadar bahwa The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. sesuatu yang menggerakkan hati mereka itu disebut sebagai apa? Hal itu nantinya juga disebut dengan lebih rasional sebagai sesuatu yang kini dikenal dengan hati nurani. Ketidaksadaran manusia ini adalah pemaknaan mereka nantinya untuk mencapai Tuhan yang justru tidak dapat dijelaskan. Mereka hanya merasakan sukacita dalam melakukannya. Keempat. Devotion (Cannon, 1996: . Jalan ini adalah jalan yang cukup umum seperti melakukan doa rutin, memiliki waktu khusus untuk melakukan pertemuan dengan Tuhan, sebuah jadwal yang memang sudah menjadi keseharian. Doa examen (Martin, 2024: . , misalnya sebagai ciri devosi. Punya waktu tersendiri untuk berdoa, membuat jadwal doa tetap dengan cara yang sama yang telah ditentukan dengan disiplin rohani tertentu atau mengulang doa-doa Berpantang seperti puasa misalnya membuat orang-orang dengan jalan ini merasa nyaman untuk menemukan Tuhan dalam diri mereka. Asumsinya sama dengan Sacred Right, jika saya menambahkan maka ada titik tertentu atau titik temu di mana devotion membutuhkan sacred right dan sebaliknya. DrynessAikekeringan akan menjadi masalah pada kedua jalan ini. Kelima. Shamanic Mediation (Cannon, 1996: . Jalan ini adalah jalan yang cukup unik juga, pencarian dan perjumpaan dengan Tuhan ditempuh dengan melakukan karyakarya mukjizat atau sesuatu yang bersifat supranatural. Pengurapan pada peristiwa-peristiwa tertentu, pengusiran setan, atau karya lainnya yang mungkin melibatkan divine touch atau divine authority. Perjumpaan dengan Tuhan dilakukan apabila mereka dapat melakukan karya yang melampaui orang-orang biasa. Letak dari ketidaksadaran dalam jalan ini amat mudah untuk ditemukan. Peluang keberhasilan jaan spiritual ini adalah dengan iman sepenuhnya. Integrasi penuh pola keimanan yang ditanamkan untuk berhasilnya praktik ini. Maka secara rasional pun peluang keberhasilan jalan spiritual ini adalah win win solution atau lose lose Mudahnya, hanya ada peluang benar-benar terjadi atau tidak terjadi sama sekali. Keenam. Mystical Quest (Cannon, 1996: . Jalan ini adalah jalan terakhir yang saya jelaskan karena ini adalah jalan ketidaksadaran yang sebenarnya berangkat dari kesadaran. Kesadaran itu hanya tidak dimengerti sebagai sesuatu yang esensial. Untuk mengerti jalan ini lebih mudah. James Martin. SJ, menjelaskannya demikian. AuDi sekitar saya ada banyak tanda-tanda kehidupanAipemandangan, bunyi, dan bauAidan seketika muncul hasrat untuk tidak hanya menjadi bagian darinya, tetapi juga untuk memahaminya dan Saya merasa dicintai, digenggam dan dipahami. Saya dipenuhi hasrat untuk segala sesuatu, untuk dengan cara tertentu bersatu dengan semesta, dan untuk memahami mengapa saya ada di bumi ini. A saya tahu bahwa sesuatu telah terjadi, seakan-akan jantung saya berhenti berdetak dan muncul firasat akan sesuatu yang ada di kedalaman relung batin saya, suatu hasrat A untuk apa? Saya belum yakin sepenuhnyaAy (Martin, 2024: . Sebuah jalan yang bukan hanya dengan mencari pemahaman, tetapi juga praksis hidup untuk menemukan Tuhan. Praksis yang bukan hanya untuk menemukan Tuhan, tetapi juga Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies untuk menikmati Tuhan. Sebuah cara untuk terus menyelidiki relung batinAidiscernment. Discernment yang dilakukan dengan melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan melalui segala sesuatu yang ada di sekitar kita, mulai dari hal-hal paling kecil seperti merasakan hembusan angin atau hangatnya mentari sampai kepada hal-hal besar atas keberadaan orang-orang di sekitar kita. Mendengar suara Tuhan, melihat apa yang Tuhan juga lihat, dan membaca tandatanda kehidupan (Nouwen dkk. , 2019: tit. Read The Way Forwar. Aia deep communion with the Spirit of God (Nouwen dkk. , 2019: tit. Distinguishing Spirits of Truth and Falsehoo. Dari semua jalan di atas tentu setiap orang tidak hanya memiliki satu jalan spiritual Setiap orang bisa memilih jalan spiritual atau bahkan tanpa sadar sudah memiliki satu di antara beberapa jalan spiritual, bahkan lebih. Semua jalan itu merujuk pada satu hal yaitu apa yang saya sebut sebagai kebersatuan yang secara sadar benar-benar hadir atau yang sudah saya jelaskan di atas Aua communion,Ay atau istilah lain yang saya suka dalam nilai filosofi Jawa. Aumanunggaling kawula lan GustiAy dengan apa yang kali ini saya sebut Tuhan, bukan lagi sebuah entitas, hanya Tuhan yang menjadi Tuhan. Meister Eckhart, akan lebih membantu dalam menjelaskan hal ini, istilah yang unik dalam mistismeAiAuUnio Mystica. Ay Istilah ini menyangkut pada penyatuan seutuhnya jiwa manusia dengan Tuhan, bukan sebagai hubungan eksternal, tetapi sebagai pengalaman batin yang melampaui semua dualitas. Eckhart melihat penyatuan ini sebagai panggilan jiwa untuk masuk ke dalam keheningan dan kehampaan, di mana manusia menemukan Tuhan dalam inti keberadaan eksistensinya. Unio Mystica terjadi ketika manusia melepaskan semua keinginan, gambaran, dan konsep tentang Tuhan (Gottschall, 2013. Fox, 2014. AuPsychotherapy and the AoUnio MysticaAo: Meister Eckhart Meets Otto RankA. Ia menegaskan bahwa penyatuan sejati hanya mungkin terjadi ketika manusia melampaui pikiran, karena selama jiwa manusia bergantung pada pikiran, ia tidak dapat mencapai kesatuan dengan Tuhan. Dalam pemikiran ini. Tuhan bukanlah entitas yang dapat dipahami melalui pikiran atau representasi, melainkan sebagai Yang Absolut yang hadir dalam keheningan jiwa. AuMenjadiAy Tuhan, dalam hal ini masuk ke dalam misteriAiletting be (Gelassenhei. (Fox, 2014: tit. The Historical Jesus: Meister Eckhart Meets Marcus Borg. Bruce Chilton, and John Dominic Crossa. adalah kunci untuk membuka pintu menuju pengalaman Unio Mystica. Dalam kehampaan ini, manusia membiarkan dirinya dilepaskan dari Audiri palsuAy yang terikat pada dunia material dan ego. Eckhart mengajarkan bahwa penyatuan dengan Tuhan bukanlah hasil dari upaya manusia semata, tetapi anugerah yang diterima dalam proses transformasi batin. menyebutnya sebagai AupeleburanAyAiletting go (Abgeschiedenhei. (Fox, 2014: tit. The Historical Jesus: Meister Eckhart Meets Marcus Borg. Bruce Chilton, and John Dominic Crossa. di mana manusia tidak lagi memandang Tuhan sebagai objek eksternal, melainkan sebagai inti keberadaan yang sejati di dalam dirinya sendiri. Dalam hal ini. Eckhart The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. menekankan bahwa Tuhan tidak ditemukan di luar, tetapi di dalam diri manusia, di Audasar jiwaAy (Seelengrun. (Palazzo, 2. Melampaui Dualitas: Tuhan sebagai AuOne Beyond TwoAy Ciri khas mistisisme Eckhart adalah pandangannya bahwa penyatuan sejati hanya terjadi ketika manusia melampaui dualitas. Dalam pandangannya, manusia sering kali memahami Tuhan sebagai Auyang lainAy dari dirinya. Namun, dalam Unio Mystica, manusia menyadari bahwa dirinya dan Tuhan adalah satu, tanpa ada perbedaan ontologis. Eckhart menyebut Tuhan sebagai AuYang EsaAy (Einhei. (Sweeney, 2017: . , terlepas dari semua kategori seperti AupersonAy atau Auimage. AyAiAuGod is not this or that, but rather. God is the is-ness itself, the pure being that underlies all existenceAy (Beccarisi, 2. Unio Mystica tidak hanya relevan dalam konteks spiritualitas abad pertengahan, tetapi juga menawarkan jawaban bagi kegelisahan eksistensial manusia modern. Dalam dunia yang dipenuhi distraksi digital dan kebisingan mental, ajaran Eckhart tentang keheningan dan kehampaan menjadi lebih signifikan. Dalam pencarian spiritual yang mendalam, manusia modern dapat menemukan kembali Tuhan di dalam dirinya melalui pelepasan dari gambarangambaran material dan egoisme. Meister Eckhart, melalui konsep Unio Mystica, mengajarkan bahwa penyatuan dengan Tuhan adalah pengalaman yang melampaui pikiran, dualitas, dan Penyatuan ini terjadi ketika manusia membebaskan dirinya dari segala keterikatan dan menemukan Tuhan di inti terdalam keberadaannya. Dalam dunia yang semakin sibuk dan teralienasi, ajaran Eckhart menawarkan jalan untuk menemukan kedamaian dan makna sejati melalui kehampaan dan keheningan batin. Jalan mistik, sebagaimana diajarkan Meister Eckhart melalui konsep Unio Mystica, menekankan penyatuan mendalam antara jiwa manusia dengan Tuhan. Penyatuan ini hanya dapat dicapai melalui keheningan, kehampaan, dan pelepasan dari ego serta ilusi duniawi. Unio Mystica mengajak manusia untuk menemukan Tuhan di inti keberadaan yang sejati, melampaui dualitas dan batasan pikiran, menemukan Tuhan dalam kontemplasi, menguji diri sampai ke relung batin terdalam. Teopoetika, yang juga melampaui klaim absolut teologi tradisional, mengundang manusia untuk mencipta ulang makna Tuhan melalui pengalaman dan refleksi yang kreatif. Seperti jalan mistik, teopoetika membuka ruang bagi spiritualitas yang hidup dan cair, menghadirkan Tuhan sebagai pengalaman transendental, bukan sebagai objek Dalam dunia modern yang penuh kebisingan dan alienasi, jalan mistik dan teopoetika menawarkan jalan untuk menemukan makna dan kedamaian. Keduanya mengajarkan bahwa spiritualitas adalah proses refleksi mendalam, di mana manusia dapat hadir seutuhnya dan mengalami Tuhan di dalam diri serta dunia sekitarnya. Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies The Presence of Body Essence: Orientasi Seksual. Identitas Gender. Ekspresi, dan Karakteristik Seks pada Perjumpaan di Persimpangan Era Pasca Tuhan Dalam dunia yang beranjak kian sekular, sebuah era di mana manusia yang lain terhubung satu sama lain, persoalan yang hadir semakin kompleks. Seperti yang saya jelaskan sebagai sebuah pemutarbalikan era ini. Ruang privat kini menjadi ruang publik. Sebuah ruang dalam dunia digital yang kini menyediakan apa saja untuk dinikmati secara kolektif. Kita menyebutnya ruang maya. Di dalamnya, komunikasi yang berlangsung bersifat aktual, walaupun segala sesuatu yang tersaji bagi kita bersifat maya (Supelli, 2010: . Pemutarbalikan ini terutama berakar pada keberadaan keutuhan manusia dalam seksualitasnya. Keberadaan ragam gender dan orientasi seksual yang seharusnya adalah ruang privat seseorang kini menjadi milik semua Kisah cinta orang lain, dengan siapa ia berpacaran misalnya, entah itu dianggap lakilaki atau perempuan, atau mungkin pula dengan gaya pacaran di antara manusia lain yang memiliki ragam gender dan orientasi seksual, atau apa yang pada era ini disebut LGBTQ . Sederhananya. Auurusan cinta dan hasrat orang lain kini menjadi urusan saya juga. Ay Melalui kacamata ruang maya tentunya manusia akan terus melihat perkembangan seksualitas manusia. Namun, ketika ruang maya disediakan sebagai ruang diskusi, yang terjadi adalah penindasan dan hadir kata-kata yang bersifat merendahkan atau bahkan menuju kekerasan berbasis gender online. Ada hierarki terselubung dalam ruang maya itu sendiri. Kini pijakan utamanya adalah Tuhan sendiri. Tuhan sebagai pijakan utama, dalam hemat saya adalah bahwa Tuhan menjadi aktor utama untuk merendahkan manusia lain karena manusia sudah memberi fragmentasi makna Tuhan Auyang benarAy dalam definisi mereka. Di sinilah menurut saya harus dihadirkan sebuah seni baru dalam memahami manusia yang telah menjadi Tuhan. Sebuah reinterpretasi atas telaah hermeneutis pembacaan kitab suci dalam AukeberadaanAy diri manusia. Namun, ruang maya yang memberikan kesempatan itu justru menjadi ruang penindasan atas kebenaran yang telah lama diklaim umat manusia. Padahal kebenaran tidak membatasi ataupun membelenggu. Masing-masing punya kebenarannya sendiri (Hardiman, 2023: . Dalam era ini, agama sebagai institusi telah banyak dipertanyakan, religiositas sering kali terjebak dalam partikularitas, dan spiritualitas meluas melampaui batas-batas tradisional menuju pengalaman yang lebih universal (Wattimena, 2020: . Hidup seseorang sangat tergantung pada cara pandangnya. Cara pandang seseorang tergantung pada identitasnya. Jika identitasnya sempit, sempit pula cara pandangnya. Hidupnya pun juga sempit. Sebaliknya, manusia spiritual adalah manusia semesta. Identitasnya seluas alam semesta. Hidupnya pun dengan demikian, seluas semesta (Wattimena, 2020: . The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Esensi tubuh menawarkan ruang eksplorasi yang melampaui kategori sosial dan normatif, menciptakan perjumpaan yang mendalam antara keberadaan individu dengan realitas semesta. Tubuh tidak hanya dipahami sebagai objek biologis, tetapi sebagai ruang transendensi, di mana orientasi, ekspresi, dan identitas menjadi cara manusia menghadirkan dirinya di dunia yang kompleks dan cair. Persimpangan ini mencerminkan spiritualitas yang melampaui agama, membuka jalan bagi kesadaran akan keberagaman yang esensial di tengah realitas majemuk. Era pasca Tuhan tidak menafikan nilai spiritualitas, melainkan menegaskan bahwa pencarian makna dapat ditemukan dalam pengalaman tubuh, yang melintasi dualitas antara sakral dan sekuler, universal dan partikular. Dalam konteks ini, orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi tubuh menjadi medium spiritual baru, di mana identitas individu bertemu dengan realitas ilahi yang luas dan inklusif. Esensi tubuh ini terwujud dalam yang mungkin menjadi pemahaman baru bagi orang banyak, apa yang saya ambil dari istilah yang diberikan oleh James B NelsonAiembodiment (Nelson, 1. Tubuh bukan hanya entitas fisik, melainkan medium yang kaya akan makna. Pemahaman kita tentang dunia berakar dari pengalaman tubuh (Nelson, 1979: . Di era pasca Tuhan, tubuh menjadi titik temu yang mendefinisikan ulang orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi, bukan sebagai kategori tetap, melainkan sebagai hasil interaksi dinamis antara individu dan masyarakat. Tubuh berfungsi sebagai simbol masyarakat dan kosmos, sehingga identitas tubuh mencerminkan nilai-nilai yang terus berubah di tengah pluralitas budaya (Nelson, 1979: . Lebih jauh, tubuh juga menjadi wahana komunikasi simbolik yang melampaui dimensi biologis (Nelson, 1979: . Sebagaimana manusia adalah homo symbolicus, orientasi seksual dan ekspresi gender memiliki dimensi sosial yang berlapis. Seksualitas, seperti halnya bahasa, tidak hanya memenuhi kebutuhan, tetapi juga membangun relasi yang lebih dalam, baik dengan sesama maupun dengan yang transenden. Cinta sensual tidak bertentangan dengan iman, melainkan menjadi bagian penting dari gerak tubuh menuju realitas ilahi (Nelson, 1979: Era pasca Tuhan membuka ruang bagi interpretasi ulang tubuh sebagai sarana perjumpaan Inkarnasi, sebagaimana dalam tradisi Kristen, menegaskan bahwa tubuh bukan sekadar instrumen biologis, melainkan manifestasi cinta yang hidup. Tubuh adalah body-word of love (Nelson, 1979: . , di mana identitas seksual dan gender menjadi sarana komunikasi yang mencerminkan kedalaman relasi manusia dengan Tuhan dan sesama. Dalam kerangka ini, tubuh adalah titik persinggungan antara iman, seksualitas, dan kebebasan berekspresi, yang mengatasi dualisme lama antara roh dan materi. Imago deiAibahwa manusia diciptakan dalam citra AllahAimenjadi landasan penting untuk memahami tubuh sebagai wahana relasi yang kompleks dengan dunia dan Tuhan. Imago dei tidak sekadar menggambarkan atribut fisik, tetapi juga mengacu pada panggilan untuk Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies mengenali kehadiran Allah dalam keragaman tubuh manusia, termasuk melalui pengalaman Kate Ott menunjukkan bahwa teknologi digital, meskipun tampak tidak spiritual, sebenarnya mencerminkan sifat kreatif manusia sebagai bagian dari citra Allah (Ott, 2022: tit. the Image of Go. Teknologi ini memungkinkan tubuh manusia untuk memperluas peran dan maknanya di ruang maya, bahkan ruang virtual, sekaligus merefleksikan kehadiran Allah dalam hubungan antarmanusia. Dalam konteks era digital, tubuh manusia tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga melalui representasi virtual, yang memperluas kemampuan manusia untuk menciptakan dan terlibat dengan sesama. Representasi ini menantang batasan tradisional tentang keberadaan tubuh dan menciptakan ruang baru untuk memahami orientasi seksual dan identitas gender sebagai bagian dari proses penciptaan yang terus berlangsung. Tubuh Kristus, sebagai simbol kehadiran ilahi, tidak terbatas pada keberadaan fisik, tetapi juga hadir dalam hubungan virtual. Ott mengajukan argumen bahwa perjumpaan di ruang virtual dapat menjadi peristiwa sakral. Ini membuka peluang untuk memahami hubungan digital, termasuk hubungan seksual, sebagai bentuk baru dari perjumpaan manusia yang melibatkan nilai-nilai kasih, keadilan, dan kehadiran ilahi (Ott, 2022: tit. Where Two or Three are Gathere. Hubungan seksual dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi sebagai bentuk komunikasi simbolik yang melibatkan tubuh sebagai medium makna. Sebagaimana tubuh fisik mencerminkan nilai-nilai spiritual dalam hubungan antarmanusia, tubuh virtual juga dapat menjadi ekspresi kehadiran Allah dalam ruang digital. Dalam kerangka ini, orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi menjadi bagian dari proses komunikasi spiritual yang terus berkembang, baik di dunia fisik maupun virtual. Era pasca Tuhan menghadirkan tantangan dan peluang baru untuk memahami tubuh dalam konteks orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi. Teknologi digital, sebagai perpanjangan tubuh manusia, menciptakan ruang baru untuk memaknai hubungan Namun, ini juga membutuhkan refleksi teologis yang mendalam tentang bagaimana teknologi dapat mencerminkan nilai-nilai keadilan, kasih, dan penghormatan terhadap keragaman. Kate Ott mengingatkan bahwa hubungan digital, seperti hubungan fisik, membutuhkan etika yang mempertimbangkan kekuasaan, kerentanan, dan keadilan. Dalam ruang ini, tubuh manusia tetap menjadi pusat makna, tetapi dengan dimensi baru yang melibatkan interaksi virtual (Ott, 2022: tit. Where Two or Three are Gathere. Tubuh tidak lagi hanya dipahami dalam kerangka biologis, tetapi sebagai medium yang terus berubah untuk menciptakan hubungan yang bermakna dengan sesama dan dengan Allah. Tubuh manusia di era pasca Tuhan adalah ruang perjumpaan yang kompleks, di mana orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi saling bertemu dengan nilai-nilai spiritual dan teknologi. Dalam konteks ini, tubuh menjadi lebih dari sekadar entitas biologis. ia adalah medium untuk menciptakan makna, membangun hubungan, dan merasakan kehadiran ilahi. The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Dengan memahami tubuh sebagai body-word of love dan ruang komunikasi simbolik, kita dapat melihat bahwa tubuh manusia, baik fisik maupun virtual, adalah sarana untuk mencerminkan kasih, keadilan, dan kehadiran Allah di dunia yang terus berubah. Dari semuanya itu untuk memahami esensi tubuh dalam ragam identitas gender dan orientasi seksual yang ada pada era ini dalam ruang digital, saya menawarkan empat cara dalam membangun atau menjembatani hubungan itu. Jembatan yang berusaha menggapai kembali pemaknaan baru. Empat jembatan yang saya maksud adalah: Respect. Compassion. Sensitivity, dan Intimacy. Respect dalam membangun hubungan adalah pengakuan terhadap keberadaan setiap individu tanpa diskriminasi (Martin, 2018: . Respect berarti memperlakukan semua orang, termasuk mereka yang memiliki ragam identitas gender dan orientasi seksual, sebagai anggota penuh dalam masyarakat berdasarkan hakikat mereka sebagai makhluk Tuhan. Pengakuan ini mencakup pemakaian nama dan identitas yang mereka pilih, termasuk mereka yang berada dalam sistem yang berada di pinggiran masyarakat. Dalam konteks ruang digital, respect dapat diwujudkan melalui inklusi, penggunaan bahasa yang inklusif, dan penghindaran bias algoritmik dalam sistem teknologi. Compassion adalah to suffer withAimengalami dan memahami penderitaan serta kebahagiaan orang lain (Martin, 2018: . Hal ini dapat diterapkan dalam mendukung individu di ruang digital dengan mendengarkan pengalaman mereka, baik itu tentang perjuangan identitas atau diskriminasi yang dialami. Dalam ruang digital, compassion dapat mencakup desain platform yang ramah bagi kelompok minoritas dan upaya aktif untuk melawan cyberbullying dan ujaran kebencian. Sensitivity (Martin, 2018: . , dalam memahami perasaan orang lain melalui pengalaman langsung, bukan dari jarak jauh. Masyarakat atau institusi lainnya sering kali gagal menunjukkan sensitivitas ini karena kurangnya hubungan langsung dengan mereka yang memiliki ragam identitas gender dan orientasi seksual. Dalam era digital, sensitivitas dapat diimplementasikan melalui kebijakan privasi yang kuat, fitur keamanan, dan dialog aktif dengan komunitas pengguna untuk memastikan bahwa platform digital benar-benar memenuhi kebutuhan mereka. Intimacy adalah bentuk keterbukaan diri yang melibatkan kepercayaan, kerentanan, dan pengakuan terhadap keunikan orang lain (Nouwen, 1996: tit. Intimacy and Sexualit. Keintiman, dalam pengertian ini, melampaui hanya hubungan fisik dan masuk ke dalam dimensi relasi spiritual dan emosional yang mendalam. Seksualitas mencerminkan hubungan antara manusia sebagai makhluk rentan, yang mencari pengakuan dan penerimaan diri dari orang lain untuk menciptakan hubungan yang bermakna. Keintiman memungkinkan manusia untuk saling memahami melalui pengalaman bersama tentang kerentanan dan penerimaan. Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Keintiman mengundang kita untuk membuka peluang demi memperdalam empati dan kasih Keempat pilar iniAiRespect. Compassion. Sensitivity dan IntimacyAiadalah dasar yang kuat untuk membangun jembatan, baik secara sosial maupun di ruang digital. Pendekatan ini tidak hanya relevan bagi hubungan interpersonal tetapi juga bagi cara kita mendesain teknologi dan memfasilitasi inklusi di ruang virtual. Tubuh manusia adalah ruang teopoetisAitempat di mana Yang Ilahi. Sang Sabda menjadi satu kesatuan dengan ciptaan-Nya dan makna Ilahi diwujudkan dalam tindakan kasih, penghormatan, dan inklusi. Di era pasca Tuhan, tubuh tidak hanya mencerminkan kebebasan dan keberagaman manusia, tetapi juga menjadi saksi hidup bagi kehadiran Yang Ilahi dalam hubungan manusia dengan sesamanya. Dari teopoetika. Tuhan tidak ditemukan dalam tatanan dogma dan doktrin yang itu-itu saja, tetapi dalam tindakan dan relasi manusia yang mencerminkan cinta tanpa syarat di tengah dunia yang terus berubah. Beyond Rel. Spiritualitas Kehampaan (Nothingnes. di Era Digital untuk Generasi Z dan Setelahnya Pembahasan era ini tentu tidak luput dari siapa yang tinggal pada era ini. Era Tuhan pasca Tuhan yang kini sedang dijalani oleh manusia di dalamnya. Dalam hal ini manusia yang hidup di era ini adalah manusia yang dalam kerangka berpikir atau pun praksisnya adalah manusia beyond rel. Melampaui batas fragmentasi yang ada dalam agama, batasan yang selama ini hanya dalam pengertian yang bersandar pada agama saja tanpa melampauinya. Era ini adalah era yang sudah dihuni dan didominasi oleh generasi Z dan generasi setelahnya yang sekarang sudah bertambah juga yang kita kenal sebagai generasi Alpha. Era yang didominasi oleh generasi Z saat ini adalah era yang mengalami banyak sekali perubahan besar dalam sejarah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia bisa berinteraksi dengan makhluk non-biologis. Generasi Z adalah generasi perubahan. Generasi yang memulai dirinya dengan banyak pemikiran di luar kendali dirinya sendiri. Generasi yang tampak kuat di luar tetapi rapuh di dalam (Kasali, 2. Generasi ini adalah generasi yang dengan mudahnya menerima segala bentuk kecohan. Generasi yang dalam hemat saya sebagai tanggapan atas apa yang populer akhir-akhir ini, generasi dunia berisik kata mereka. Bagi mereka dunia terlalu penuh dengan hiruk-pikuk yang tidak dapat mereka tangani. Sehingga generasi ini hanya kuat dalam dunia maya. Dalam realita mereka hanya makhluk rapuh! Generasi hobi healing demi menghindari pusing. Dalam masyarakat modern yang plural dan kompleks, agama tidak lagi hanya menjadi pandangan dunia yang eksklusif, tetapi juga sebuah ruang untuk refleksi moral yang bersifat The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. Fenomena fundamentalisme agama di Indonesia dapat kita temukan dinamika yang kompleks antara kebangkitan agama, demokrasi, dan pluralisme (Menoh, 2015: Fundamentalisme agama sering kali menampilkan sifat totalitarian yang tidak hanya mengancam ruang publik tetapi juga pluralisme politik dan sosial. Dengan klaim mutlak atas kebenaran, fundamentalisme berupaya mengatur setiap aspek kehidupan manusia, mulai dari politik hingga budaya, berdasarkan satu perspektif agama tertentu. Sebagaimana dikemukakan dalam analisis, fenomena ini melampaui spiritualitas dan masuk ke ranah ideologi, di mana fundamentalisme agama lebih mengutamakan agenda politik daripada nilai-nilai spiritual. Hal ini menunjukkan adanya transformasi agama menjadi alat kontrol sosial yang mereduksi kebebasan dan keberagaman. Ruang publik sebagai arena deliberasi yang inklusif, di mana seluruh elemen masyarakat dapat berpartisipasi secara setara. Namun, fundamentalisme agama di Indonesia telah mendistorsi ruang publik menjadi alat dominasi kelompok tertentu (Menoh, 2015: . Regulasi berbasis agama di tingkat lokal maupun nasional, menunjukkan bagaimana agama digunakan untuk mendikte aturan publik, yang seharusnya bersifat sekuler dan netral. Proses ini, seperti yang dijelaskan, tidak hanya mencederai demokrasi, tetapi juga menciptakan jurang yang semakin dalam antara kelompok mayoritas dan minoritas. Dalam konteks demokrasi deliberatif, solusi atas tantangan fundamentalisme agama adalah membuka ruang dialog yang rasional dan inklusif. Proses deliberasi ini menuntut semua kelompok, termasuk fundamentalis, untuk mengartikulasikan pandangan mereka dalam bahasa yang dapat dipahami dan diterima oleh seluruh warga negara, tanpa memaksakan keyakinan doktrinal mereka. Dengan cara ini, ruang publik dapat kembali menjadi arena yang inklusif, di mana kebijakan diambil berdasarkan konsensus yang rasional dan berorientasi pada kepentingan bersama. Richard Kearney dalam konsep anatheism menawarkan alternatif: menghidupkan kembali spiritualitas melalui pengalaman ketidakpastian dan keterbukaan terhadap yang asing. Ini bukan sekadar ketiadaan iman, tetapi juga peluang untuk menyambut Tuhan sebagai tamu yang tak terduga dalam hidup kita (Kearney, 2010: . Dalam masyarakat modern, agama sering kali menjadi alat kontrol sosial yang mendistorsi ruang publik dan mengancam pluralisme. John Caputo mengkritik Auteologi kekuasaanAy (Caputo dan Keller, 2007: 105Ae. yang mendominasi wacana agama tradisional, dan justru menawarkan paradigma kelemahan Tuhan . he weakness of Go. , di mana Tuhan dipahami sebagai kelemahan yang memanggil manusia untuk bertindak melalui cinta dan solidaritas. Di sisi lain. Kearney menunjukkan bahwa anatheism adalah ruang bagi wager atau taruhan iman baru (Kearney, 2010: . Alih-alih memaksakan keyakinan lama, generasi ini diajak untuk mempertimbangkan kembali iman melalui dialog dengan yang asing dan yang tidak diketahui, yang mencerminkan pengalaman-pengalaman dasar seseorang. Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies Fundamentalisme agama di Indonesia, seperti di banyak tempat lain, sering kali menciptakan jurang antara mayoritas dan minoritas, menghilangkan inklusivitas ruang publik. Solusi atas tantangan ini adalah membangun ruang publik yang inklusif melalui dialog rasional dan terbuka. Catherine Keller, melalui konsep progresivisme radikal-nya (Caputo dan Keller, 2. , juga berbicara tentang pentingnya menciptakan solidaritas lintas budaya dan keadilan ekologis dalam menghadapi tantangan global. Era digital menyediakan peluang besar bagi generasi Z untuk menciptakan ruang publik baru yang inklusif, tempat di mana agama dan spiritualitas dapat diwujudkan sebagai alat pembebasan, bukan kontrol. Dalam ruang ini, dialog antaragama dapat menciptakan kesadaran bahwa Tuhan sering kali hadir dalam bentuk tamu yang asing (Kearney, 2010: tit. Prefac. Salah satu gagasan utama dari Caputo dan Kearney adalah cinta sebagai kekuatan transformasi spiritual dan politik (Caputo dan Keller, 2. Dalam era ini, cinta dapat diwujudkan melalui empati global, solidaritas lintas batas, dan upaya bersama menghadapi tantangan seperti perubahan iklim dan ketidakadilan sosial. Dalam konsep ini, cinta tidak hanya menjadi afeksi personal, tetapi juga tindakan politik yang radikal. Wilde, sebagaimana dikutip Kearney, menyebutkan bahwa Kristus adalah seniman romantis terbesar yang mengekspresikan penderitaan dunia yang tak bersuara (Kearney, 2010: . Imajinasi ini mengundang generasi Z untuk menemukan kembali sakralitas dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang disarankan oleh Kearney dalam sacramental imagination (Kearney, 2010: . Generasi Z adalah generasi yang mencari makna dalam kehampaan. Spiritualitas mereka bukan lagi soal dogma, tetapi soal keberanian untuk memasuki momen ketidakpastian, seperti yang dikatakan Kearney. Aumomen suci ketidakpastianAy . oly insecurit. (Kearney, 2010: 5Ae. Dalam momen ini, mereka dapat mengalami kehadiran Tuhan yang baruAibukan Tuhan kekuasaan, tetapi Tuhan kasih, tamu, dan kehadiran yang asing. Dengan cinta, imajinasi, dan dialog, generasi Z dapat menemukan kembali makna yang hilang di tengah dunia modern yang penuh tekanan, dan menciptakan dunia yang lebih inklusif dan manusiawi. Spiritualitas masa depan adalah tentang menyambut yang asing, merangkul kerentanan, dan menemukan sakralitas dalam hal-hal yang tampaknya biasa. Seperti yang dikatakan Kearney. AuTuhan harus mati agar Tuhan dapat dilahirkan kembaliAy (Kearney, 2010: tit. Prefac. Era digital adalah ruang untuk kelahiran kembali Tuhan, dan Generasi Z adalah saksi sekaligus pelaku transformasi ini. Era digital adalah ruang baru yang memungkinkan manusia melampaui batas agama tradisional dan mendekati spiritualitas yang lebih inklusif. Generasi Z dan Alpha, sebagai penghuni utama era ini, menghadapi tantangan hidup di tengah dunia yang berisik, penuh tekanan, dan sering kali sulit dimaknai. Mereka adalah generasi beyond rel. gion, generasi yang mencari Tuhan pasca Tuhan, atau seperti yang dijelaskan Richard Kearney, berada dalam momen anatheism: Aukembali kepada Tuhan setelah Tuhan. Ay Namun, momen ini juga The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. mengantar kita pada sebuah refleksi mendalam tentang konsep nothingness . , sebuah gagasan yang telah hadir dalam tradisi spiritual Barat dan Timur, menawarkan jalan baru menuju pemahaman tentang Tuhan, diri, dan realitas di tengah dunia modern. Spiritualitas kehampaan dalam tradisi Barat, seperti yang diajukan oleh Dionysius Areopagite dan Meister Eckhart, berakar pada konsep aphopatic way . ia negativ. , yaitu mengenal Tuhan melalui ketidakmengetahuan dan pengosongan diri (Haryono, 2021: . Dionysius menekankan bahwa Tuhan melampaui semua konsep manusia, bahkan melampaui kategori cahaya dan kegelapan. Tuhan hadir dalam Aukegelapan yang terangAy dan hanya dapat ditemukan melalui kontemplasi yang melampaui segala afirmasi maupun negasi (Haryono, 2021: . Sementara itu. Meister Eckhart memperkenalkan gagasan bahwa manusia hanya dapat bertemu dengan Tuhan ketika ia melepaskan segalanya dan masuk ke dalam kehampaan total. Tuhan, bagi Eckhart, bukanlah AusesuatuAy yang dapat digambarkan, tetapi AuketiadaanAy yang memanggil manusia ke dalam kesatuan mistis tanpa batas (Haryono, 2021: . Dari perspektif Timur, tradisi Hindu Advaita Vedanta yang diajukan oleh Sankara melihat kehampaan sebagai kesadaran murni (Atma. yang tak terpisahkan dari Brahman, sumber segala sesuatu (Haryono, 2021: . Dalam Buddhisme, sunyata . adalah kebenaran utama yang mencerminkan sifat dunia sebagai sesuatu yang saling bergantung dan terus berubah (Haryono, 2021: . Sementara itu. Ibn AoArabi, seorang sufi besar, menekankan pada transformasi spiritual melalui hubungan dinamis antara yang tersembunyi dan yang tampak dalam Tuhan (Haryono, 2021: . Generasi Z dan Alpha, yang hidup di era digital, menghadapi tantangan eksistensial yang Dunia maya yang menjadi tempat pelarian mereka sering kali menciptakan rasa isolasi dan alienasi yang mendalam. Dalam konteks ini, spiritualitas kehampaan menawarkan solusi yang Richard Kearney dalam anatheism berbicara tentang kembali kepada Tuhan melalui keraguan dan keterbukaan terhadap yang asing. Begitu pula, dalam artikelnya. Stefanus Christian Haryono menunjukkan bahwa nothingness adalah jalan interspiritualitas yang melampaui doktrin dan dogma agama, menciptakan ruang untuk dialog lintas iman di masyarakat plural. Spiritualitas kehampaan bukanlah nihilisme, melainkan jalan transformasi yang mengarah pada kesadaran akan realitas absolut di balik semua bentuk dan konsep. Dalam perspektif ini. Generasi Z dan Alpha dapat menemukan makna di tengah kehampaan, seperti yang diajukan oleh Nitisani Keiji: AuKehampaan bukanlah ketiadaan, tetapi dasar dari segala sesuatu yang saling terkaitAy (Haryono, 2021: . Kehampaan memungkinkan manusia untuk melepaskan kelekatan pada bentuk eksternal dan menemukan kedamaian dalam kebersatuan dengan seluruh realitas. Dengan mengintegrasikan pandangan Barat dan Timur, spiritualitas kehampaan menawarkan pendekatan baru untuk memahami kehidupan. Ia mengundang kita untuk memasuki ruang kontemplatif, di mana segala afirmasi dan negasi dilebur, meninggalkan kita dengan pengalaman ketakterbatasan Tuhan yang tak dapat dirumuskan. Seperti yang ditegaskan Josua Estomihi Butarbutar Journal of Divinity. Peace and Conflict Studies oleh Meister Eckhart. AuTuhan ditemukan ketika kita berhenti mencari apa pun di luar DiaAy (Haryono, 2021: 5Ae. Dalam era digital yang penuh dengan tantangan dan peluang, spiritualitas kehampaan adalah undangan untuk kembali kepada inti keberadaan kita. Ia mengajarkan bahwa kerapuhan, keraguan, dan kehampaan bukanlah kelemahan, tetapi pintu menuju transformasi dan hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan, sesama, dan dunia. Generasi Z dan Alpha memiliki kesempatan untuk membawa spiritualitas ini ke tingkat yang baru, menjadikannya alat untuk menciptakan dunia yang lebih inklusif, penuh cinta, dan manusiawi. Dalam kehampaan, seperti yang diajarkan tradisi Barat dan Timur. Tuhan tidak hanya ditemukan sebagai Aukehadiran,Ay tetapi juga AuketiadaanAy yang melampaui segalanya. Inilah jalan nothingness, jalan di mana manusia dapat mengalami kesatuan penuh dengan Tuhan dan realitas, melampaui segala batasan identitas, agama, dan konsep-konsep duniawi. Dengan ini, spiritualitas masa depan dapat menjadi cahaya baru bagi generasi-generasi mendatang. Kesimpulan Era modern dan pasca modern telah membawa perubahan radikal dalam cara manusia memahami Tuhan, spiritualitas, dan eksistensi. Di tengah kemajuan teknologi, sekularisasi, dan transformasi budaya. Tuhan tidak lagi dipahami sebagai entitas yang absolut dan tetap, melainkan sebagai panggilan yang terus hadir melalui kejutan, interupsi, dan pengalaman sehari-hari. Sekularisasi bukan berarti penghapusan Tuhan, melainkan transformasi hubungan manusia dengan Yang Ilahi, menciptakan ruang bagi rekonstruksi makna spiritualitas. Pendekatan teopoetika menjadi relevan dengan menggantikan klaim absolut teologi tradisional dengan pengalaman kreatif melalui bahasa, seni, dan refleksi hidup. Jalan mistik, seperti yang diajarkan oleh Meister Eckhart melalui konsep Unio Mystica, menegaskan pentingnya pelepasan ego dan pencarian Tuhan di inti keberadaan manusia. Tubuh manusia pun menjadi medium pengalaman transendensi, di mana seksualitas, identitas gender, dan ekspresi menjadi bagian integral dari spiritualitas baru yang melampaui dualitas roh-tubuh. Generasi Z dan setelahnya, yang kini hidup dalam dunia digital, menghadapi tantangan eksistensial berupa alienasi dan kehampaan. Namun, spiritualitas kehampaan menawarkan jalan transformasi melalui keterbukaan terhadap keraguan, kerentanan, dan dialog lintas batas. Kehampaan, baik dalam tradisi Barat maupun Timur, bukanlah ketiadaan melainkan dasar dari segala sesuatu yang saling terkait. Ia mengundang manusia untuk melepaskan kelekatan pada konsep duniawi dan menemukan makna sejati dalam hubungan dengan Tuhan dan realitas Era digital menghadirkan peluang baru untuk menciptakan spiritualitas yang lebih inklusif, dialogis, dan manusiawi. Dengan prinsip seperti respect, compassion, sensitivity, dan intimacy. The Marginalised God: Teopoetika. Jalan Mistik, dan Seksualitas Pasca Tuhan Volume 5 Nomor 2 (Mei-Agustus 2. tubuh manusiaAibaik fisik maupun virtualAidapat menjadi ruang perjumpaan spiritual yang mencerminkan kasih, keadilan, dan keberagaman. Dalam konteks ini. Tuhan tidak lagi dipahami hanya melalui doktrin agama, tetapi melalui tindakan cinta dan relasi yang hidup. Spiritualitas masa depan adalah undangan untuk merangkul ketidakpastian, menemukan makna dalam kehampaan, dan menciptakan ruang bagi cinta, empati, dan dialog lintas batas. Generasi Z dan setelahnya memiliki peran penting dalam membangun dunia baru yang mencerminkan nilai-nilai universal dan transendental, melampaui batas-batas agama dan konsep Dengan demikian. Tuhan pasca Tuhan hadir sebagai peluang untuk menciptakan kembali makna spiritualitas yang membumi dan relevan di tengah dunia yang terus berubah. Daftar Pustaka