I Wayan Setem. Gede Yosef Tjokropramono, dan I Wayan Gulendra Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 JANA KERTIH: HUMAN GLORY IN THE CREATION OF PAINTING ART JANA KERTIH : KEMULIAAN MANUSIA DALAM PENCIPTAAN SENI LUKIS I Wayan Setem1. Gede Yosef Tjokropramono2, dan I Wayan Gulendra3 Program Studi Seni Murni. Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar1,2,3 Email: wayansetem@isi-dps. id1, gedeyoz@gmail. com2, wayangulendra@isi-dps. ABSTRACT The aim of this research and art creation is to create and present the work AuJana Kertih: Human Glory in the Creation of PaintingAy as a representation of efforts to build the quality of human resources towards a Suputra Sadhu Gunawan quality human being. The model of creating painting art is a cultural expression that is able to play a role as a medium for increasing public appreciation to raise Jana Kertih towards Jana Hita, building quality human beings individually to become human resources who are physically and spiritually healthy. Such human resources can play a role in building a life together to create a sense of security, peace and prosperity. This creation is research-based, so the method consists of two inseparable parts, namely the research method and the creation Meanwhile, the creation method goes through three stages, namely: exploration, improvisation, and realization of the work, which is preceded by a study of similar works of art and literature study. The stage of experimentation/trying out tools and materials to find a work presentation design that is new which is then disseminated to convey the Jana Kertih concept of glorifying humans who know the nature and purpose of life as humans according to religious teachings and understand ethical, aesthetic and religious values. Keywords: Breeding, humans, creation, and painting. ABSTRAK Tujuan dari penelitian dan penciptaan seni ini adalah mencipta dan menyajikan karya AuJana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni LukisAy sebagai representasi upaya membangun kualitas sumber daya manusia menuju manusia berkualitas suputra sadhu gunawan. Model penciptaan seni lukis menjadi ekspresi budaya yang mampu memainkan peran sebagai media peningkatan apresiasi masyarakat untuk membangkitkan Jana Kertih menuju Jana Hita membangun manusia berkualitas secara individu agar menjadi SDM yang sehat secara jasmani, dan rohani. SDM yang demikian itulah yang dapat berperan membangun kehidupan bersama untuk menciptakan rasa aman, damai, dan sejahtera. Penciptaan ini berbasis riset dengan demikian metodenya terdiri dari dua bagian yang tidak terpisah yakni metode penelitian dan metode penciptaan. Sedangkan metode penciptaan melewati tiga tahap yakni: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan karya yang didahului dengan telaah karya seni sejenis dan kajian literatur. Tahapan eksprimen/percobaan alat dan bahan untuk menemukan desain penyajian karya yang memiliki kebaruan yang kemudian diseminasikan untuk menyampaikan konsep Jana Kertih memuliakan manusia yang mengetahui hakikat dan tujuan hidup sebagai manusia sesuai ajaran agama dan memahami nilai-nilai etis, estetis dan religius. Kata kunci: Pemuliaan, manusia, penciptaan, dan seni lukis. Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 21 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. PENDAHULUAN Latar Belakang Umat Hindu di Bali memiliki banyak sistem nilai, moral, etika, kearifan lokal dan filsafat yang menuntun mereka mencapai kehidupan yang bahagia dan sejahtera baik secara lahir . maupun bathin . Selain tri hita karana yang sudah terkenal, umat Hindu juga memiliki ajaran yang dikenal dengan sad kertih yang merupakan enam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Bagian-bagian sad kertih merupakan satu kesatuan nilai yang terhubung antara satu nilai dan nilai lainnya yakni atma kertih, jana kertih, danu kertih, segara kertih, jagat kertih, dan wana kertih. Jana kertih meliputi dimensi mikro yakni manusia itu sendiri dan menjadi penting karena keseimbangan alam semesta . dan segala isinya sangat tergantung dari sikap dan karakteristik manusia yang tinggal dan hidup di dalamnya. Begitu juga sebaliknya, lingkungan alam dan lingkungan sosial adalah wadah yang sangat berpengaruh pada pembentukan sikap dan karakter Lingkungan alam dan lingkungan sosial yang tidak seimbang, akan berpengaruh pada ketidakseimbangan kondisi mental dan kejiwaan manusia. Membangun manusia seutuhnya tidak hanya menyentuh aspek fisikal atau jasmani saja, melainkan juga rohani atau aspek spiritual. Perilaku mulia manusia dibangun dengan cara internalisasi ajaran-ajaran tattwa (Ketuhana. dan tata susila . melalui pelaksanaan pendidikan, sementara secara niskala . perilaku mulia dibangun melalui pelaksanaan yadnya khususnya manusa yadnya. Atma kertih membangun lingkungan rohani dengan daya spiritual kuat konsisten. Samudra, wana, dan danu kertih membangun lingkungan alam yang sejuk. Sedangkan jagat kertih membangun lingkungan sosial yang kondusif. Perpaduan lingkungan rohani, lingkungan alam yang sejuk, dan lingkungan sosial yang kondusif itulah yang akan menjadi wadah membangun manusia . yang utuh lahir batin. Manusia sebagai agent of change menempatkan diri dalam posisi privilege atas Pernyataan tersebut menurut Sztompka . merupakan sebuah keistimewaan manusia karena dapat membentuk dan merubah sistem serta pola hidupnya menyesuaikan dengan pemikiran yang dimiliki terhadap lingkungannya. Disebut seperti itu dikarenakan manusia menjadi sentral dalam perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Manusia merupakan bagian integral penyusun dari masyarakat, yang pada dasarnya adalah mahluk yang hidup dalam kelompok dan mempunyai organisme yang terbatas dibandingkan jenis mahluk hidup lainnya. Sistem-sistem yang terbentuk dari manusia yang mengembangkan akal pikirnya membentuk pola interaksi antara inividu dengan individu lainnya. Keadaan tersebut mendorong naluri akan kebutuhan dengan mahluk lainnya disebut dengan AugregariousnessAy, dan oleh karena itu manusia disebut mahluk sosial (Anwar dan Adang, 2013: . Perubahan merupakan suatu hal yang hakiki dalam dinamika masyarakat dan kebudayaan. Adalah suatu yang tak terbantahkan, bahwa AuperubahanAy merupakan suatu fenomena yang selalu mewarnai perjalanan sejarah setiap masyarakat dan kebudayaannya (Pitana, 1994: . Tidak ada suatu masyarakatpun yang statis dalam arti yang absolut, melainkan setiap masyarakat selalu mengalami transformasi dalam fungsi dan waktu, sehingga tidak ada satu masyarakat pun yang Volume 16 No. 2 Desember 2024 I Wayan Setem. Gede Yosef Tjokropramono, dan I Wayan Gulendra Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 mempunyai potret yang sama, kalau dicermati pada waktu yang berbeda, baik masyarakat tradisional, maupun masyarakat modern, meskipun dalam laju perubahan yang bervariasi. Masyarakat dan kebudayaan Bali bukanlah suatu perkecualian dalam hal ini. Perkembangan pariwisata yang didukung oleh kemajuan teknologi yang canggih menjadi media yang menguntungkan bagi agent-agent yang menjadikan Bali sebagai destinasi wisata dunia dengan konstruk sistem budayanya. Akan tetapi terlepas dari kemajuan perkembangan wisata yang terjadi sekarang, banyak pengaruh kebudayaan luar masuk ke Bali yang memperkuat proses Auglobal interconnectednessAy di mana keterhubungan tidak mungkin terhindarkan. Globalisasi beserta manifestasinya merasuk pada tiap aspek kehidupan manusia dengan menembus ruang dan waktu. Kemajuan teknologi dengan peralatan dan sistem yang canggih membuat gaya hidup manusia menjadi semakin kompleks. Dimensi ruang dan waktu tidak menjadi halangan, bahkan sekat-sekat kehidupan menjadi semakin mudah dijangkau dan hal tersebut membuat manusia harus beradaptasi dengan kemajuan jaman. Begitu juga perjalanan peradaban manusia dapat direpresentasikan melalui revolusi industri dari industri 1. 0 dalam sejarah kehidupan manusia modern pada abad XVII yakni mekanisasi produksi diciptakan untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia. Selanjutnya, pada awal abad XX terjadi revolusi industri 2. 0 yang ditandai dengan proses produksi masal dan tenaga listrik memiliki eksistensi yang masif serta diikuti dengan penemuan mobil sebagai alat tarnsportasi yang mempercepat mobilitas. Selanjutnya terjadi revolusi industri 3. 0 yang terjadi sekitar Perang Dunia II. Pada masa ini teknologi komputer dan robot mulai ditemukan hingga akhirnya perkembangan komputerisasi dan robotisasi tidak berhenti pada masa itu saja, namun keadaannya semakin bertambah pesat terutama pada revolusi industri 4. Revolusi industri 4. 0 merupakan sebuah masa peran teknologi otomasi dan cyber menguasai hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Lifter dan Tschiener . menyatakan bahwa prinsip dasar industri 4. 0 adalah jaringan cerdas yang menggabungkan teknologi mesin, alur kerja, dan sistem di sepanjang rantai dan proses produksi. Revolusi industri 4. 0 disebut juga sebagai revolusi digital dan era disrupsi teknologi dikarenakan terjadinya proliferasi komputer di mana konektivitas sangat diperlukan dalam membuat pergerakan dunia industri. Kecerdasan buatan Artificial Intellegence juga merupakan karakteristik dari revolusi industri 0 (Tjandrawinata, 2. Era globalisasi juga melahirkan sebuah konsep new wave marketing akibat maraknya negara yang menjalankan liberalisasi maupun reformasi ekonomi yang ditunjang dengan kemajuan teknologi informasi, komunakasi, dan transportasi. Proses globalisasi mengubah pola komunikasi dan relasi sosial-budaya manusia. Orang-orang dari berbagai belahan bumi dapat saling terhubung secara real-time. Teknologi informasi yang telah menembus ruang dan waktu dapat meningkatkan komunikasi dan konektivitas para manusia modern. Untuk itu diperlukan adaptasi menghadapi perubahan lingkungan, baik alam maupun sosial budaya, yang berlangsung demikian cepat khusunya bagi masyarakat Bali. Alienasi, ketakberartian diri, dan culture shock menggambarkan beberapa kondisi yang potensial dialami individu tatkala berhadapan dengan lingkungan sosial baru yang tidak pernah diprediksi sebelumnya. Semenjak Bali memasuki era industrialisasi pariwisata tahun 1970-an, manusia Bali yang bercorak manusia ekonomis semakin tumbuh dan berkembang (Sujana, 1994. Kehadiran industri pariwisata dan pembangunan daerah telah banyak membawa manfaat kepada masyarakat Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 21 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Bali. Kemudian muncul sifat-sifat yang menuju proses tak serupa, yang semakin mencuat ke Proses industrialisasi telah menghasilkan manusia Bali yang majemuk dari orientasi tujuan hidupnya dan kesenjangan akan sistem pola kehidupan. Era modernisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi menyebabkan perubahanperubahan dalam sikap dan pandangan masyarakat Bali yang menyangkut berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya yang dapat menimbulkan benturan-benturan nilai yang berkaitan dengan kemampuan adaptasi. Sesungguhnya ada pesimisme dan keteganganketegangan pada suatu tatanan ruang dan waktu di pulau Bali. Masyarakat merasakan tidak begitu kuasa berhadapan dengan investasi global, ruang dan waktu tidak lagi menjadi bagian utuh penduduk Bali. Aktivitas pembangunan yang tidak terkontrol dan pesatnya perkembangan sektor pariwisata telah menyebabkan kerusakan lingkungan, penduduk luar datang membludak, sikap hedonismaterialistik berhadapan dengan nilai tradisi religius, dan ruang . sering dieksploitasi sehingga merusak tatanan sakral-propon, hulu-teben, dan sebagainya. Pada konteks itulah, pencipta menempatkan eksplorasi kreatif penciptaan karya seni lukis sebagai upaya refleksi kritis terhadap fenomena kemuliaan atau kemasyuran perilaku manusia. Jana kertih juga diartikan sebagai manusia yang memiliki perilaku mulia dalam kehidupannya. Perilaku mulia ini dibangun melalui pendekatan secara sekala . dan niskala . on empiri. Ini sesuai dengan pandangan dunia yang dualistik dari umat Hindu di Bali yang tidak bisa memisahkan konsep sakala dan niskala serta menganggap keduanya sebagai satu kesatuan. Berdasarkan fenomena kreativitas penciptaan seperti di atas dapat dijelaskan, bahwa pada tingkatan ide dasar representasi jana kertih itulah sisi eksistensi pencipta melekat dalam sebuah karya seni lukis. Pada satu sisi ada hak mutlak menentukan yang dipunyai dan diterapkan dalam pengambilan keputusan akhir bagaimana wujud karya yang inginkan. Di samping itu, diperlukan pertimbangan-pertimbangan yang bermuara pada terbangunnya kondisi keindahan . dan muatan simbol sehingga dapat menggugah kesadaran masyarakat. Metode Penciptaan Karya Penciptaan AuJana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni LukisAy, dilandasi/ berbasis riset dengan demikian metodenya terdiri dari dua bagian yang tidak terpisah yakni metode penelitian dan metode penciptaan. Metode penelitian menggunakan pendekatan Antropologi, khususnya terkait etnografi untuk mengumpulkan data empiris tentang prilaku dan budaya masyarakat di Bali. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara terhadap subyek penelitian yang sudah sesuai dengan kriteria yang ditentukan, dan Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran secara sistematis, aktual, dan akurat mengenai sifat-sifat, fakta-fakta, serta hubungan antara fenomena yang diteliti. Setelah melakukan penelitian kemudian dikompilasi dan dipilah-pilah hasil-hasil pengamatan yang menjadi AuamunisiAy ide-ide kreatif untuk diwujudkan menjadi kekaryaan. Sehubungan dengan itu dibutuhkan juga metode pendekatan kreatif. Secara garis besar metode penciptaan seni diperlukan untuk membantu mengembangkan kemampuan mencipta dengan menguasai sejumlah metode yang mampu: . melihat potensi dan peluang dari permasalahan yang dijadikan subjek kekaryaan, . mengabstraksi relasi-relasi kontekstual terberi dan lingkungannya, . memanfaatkan Volume 16 No. 2 Desember 2024 I Wayan Setem. Gede Yosef Tjokropramono, dan I Wayan Gulendra Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 potensi tersebut di atas secara kreatif, imajinatif, dan orisinal, . menciptakan dari subjek itu suatu karya seni yang inovatif, berkarakter, menawarkan kebaruan dalam wacana dan bahasa yang memenuhi standar relatif kepatutan zaman, . secara luas. Metode penciptaan yang digunakan dalam penciptaan ini mengacu pada pendapat Hawkins, dalam bukunya yang berjudul Creating Trought Dance, . alam Soedarsono, 2001: . yang nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan pengkarya. Hawkins menandaskan bahwa penciptaan sebuah karya tari yang baik selalu melewati tiga tahap yakni: pertama, exploration . dan ketiga, forming . embentukan atau komposis. Ketiga tahap tersebut ditinjau dari prinsip kerjanya sebenarnya dapat pula diterapkan dalam proses penciptaan karya seni lukis. HASIL DAN PEMBAHASAN Gagasan penciptaan bermula dari pengalaman, dan pengamatan mendalam tentang kemuliaan manusia. Persepsi manusia tentang dirinya sendiri akan sangat menentukan sikap dan prilakunya dalam kehidupan ini. Konsep diri yang baik akan membantunya untuk berbuat kebaikan demikian juga sebaliknya. Orang yang merasa dirinya hina, terhina atau dihinakan akan cenderung untuk menghinakan dirinya sendiri dan menghinakan orang lain. Tuhan telah anugerahkan kepada manusia ini berbagai kemuliaan dan keunggulan. Menyadari keunggulan dan kemuliaan dapat membantu manusia menjaga kemuliaan dirinya, mencintai kebaikan yang sesuai dengan sifat mulianya dan menjauhi keburukan yang akan merendahkan martabatnya. Menyegarkan kesadaran manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang telah diberikan berbagai macam kelebihan, keunggulan, dan kemuliaan sekligus keterbatasan-keterbatasan akan memperngaruhi pilihan sikap dan prilakunya. Menyadari keterbatasan akan mengantarkan manusia untuk senantiasa siap diatur, diarahkan, dikendalikan tunduk dan patuh kepada aturan. Sedangkan menyadari kelebihan, keunggulan dan kemuliaan akan dapat mengantarkanya untuk menjaga diri dari perbuatan tercela, berprestasi dalam menghadirkan kebaikan-kebaikan selama berada di alam dunia. Memuliakan diri sendiri setelah menyadari bahwa anugerah kemuliaan dan harga diri itu dari Tuhan adalah dengan beriman dan amal. Memuliakan diri sendiri dapat pula dilakukan dengan mensyukuri nikmat itu sebaik-baikanya. Memuliakan diri sendiri dapat pula dilakukan dengan tidak melakukan perbuatan tercela, tidak melakukan perbuatan nista, durhaka dan maksiat. Cara lain dalam memuliakan diri sendiri adalah dengan mendayagunakan karunia pendengaran, penglihatan dan akal fikiran untuk diisi dengan ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu yang berguna, wawasan yang luas, dan pengetahuan yang cukup akan meningkatkan kinerja dan kualitas amal seseorang. Orang mulia tidak cukup hanya dengan memuliakan dirinya sendiri, apalagi minta dimuliakan orang lain. Orang mulia hakekatnya adalah orang yang dapat memuliakan orang lain di sekitarnya. Pertama yang harus dimuliakan oleh setiap orang adalah kedua orang tuanya. Karena kedua orang tua itulah yang sangat berjasa dalam menghadirkannya ke muka bumi ini. Rangkaian penderitaan panjang telah orang tua lalui untuk mengantarkan anaknya lahir ke muka bumi. Setelah kedua orang tuanya, maka orang terdekat yang berhak untuk dimuliakan adalah keluarganya, istri dan anak-anaknya. Orang mulia itu adalah orang yang dapat memuliakan sanak kerabat dan handai Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 21 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Penciptaan ini berbasis riset dengan demikian metodenya terdiri dari dua bagian yakni metode penelitian dan metode penciptaan. Metode penelitian menggunakan pendekatan antropologi khususnya terkait etnografi, sedangkan metode penciptaan melewati tiga tahapan yakni: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan karya yang didahului dengan telaah karya seni sejenis dan kajian Metode di atas sangat relevan untuk penciptaan ini yang dapat merangkum berbagai persoalan namun tetap fokus dalam tujuan pencapaian serta nilai-nilai penciptaan yang mencakup tahapan-tahapan terstruktur maupun langkah yang tidak terduga, spontan dan intuitif. Melalui penciptaan karya yang dilandasi oleh penelitian memungkinkan pengkarya dapat mengalami percepatan gagasan. Berbagai kebolehjadian muncul, suatu keterbukaan menuju hal-hal yang tidak ketahui sebelumnya. Ini mampu membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk menciptakan karya-karya inovatif, berkarakter, dan menawarkan kebaruan dalam wacana. Begitu juga pemanfaatan metode penciptaan seni yang tepat dapat membantu mengembangkan kemampuan mencipta dalam melihat potensi dan peluang dari permasalahan yang dijadikan subjek karya penggarapan serta mengabstraksi relasi-relasi kontekstual. Observasi dilakukan lawatan sejarah dengan mengunjungi situs . trip to historical site. ke tempat-tempat bersejarah . agar budaya, museum, monumen. yang sekiranya bisa menggambarkan peradaban pemuliaan manusia. Begitu juga melakukan pengamatan terhapat perkembangan kehidupan manusia. Sejak anak di dalam kandungan, orang tuanya selalu berdoa, memohon kepada Tuhan, agar keturunan yang dilahirkan kelak menjadi anak suputra. Demikian pula, segera setelah lahir, seorang bayi disambut dengan rangkaian upacara manusia yadnya. Hal itu menggambarkan bahwa, kehadiran seorang anak disambut dengan cara-cara mulia. Selanjutnya, anak mendapat pendididikan dengan diperkenalkan tentang dirinya sendiri, dengan alam semesta, sejarah kehidupan manusia, cara berkomunikasi, baik dengan sesama. Wawancara dilakukan secara langsung terhadap beberapa tokoh agama dan tokoh Tokoh agama seperti pendeta, pemangku, dan orang-orang yang disucikan. Sedangkan tokoh masyarakat yakni bendesa adat, pimpinan parisada, dan akademisi. Dari wawancara secara esensi ditemukan bahwa perilaku mulia akan terwujud apabila manusia mengetahui hakikat dan tujuan hidup sebagai manusia sesuai ajaran agama Hindu, dan memahami nilai-nilai etis, estetis dan religius yang tertuang dalam teks-teks sastra. Perilaku mulia ini dibangun melalui pendekatan secara skala . dan niskala . on empiri. Secara skala perilaku mulia dibangun dengan cara internalisasi ajaran-ajaran Ketuhanan dan moralitas melalui pelaksanaan pendidikan, sementara secara rohani perilaku mulia dibangun melalui pelaksanaan upacara yadnya khususnya manusa yadnya. Studi dari karya-karya sejenis terdahulu dari seniman-seniman panutan baik secara konsep maupun bentuk karya sebagai rujukan untuk bisa mencari posisi yang belum digarap dan menghindari duplikasi. Sedangkan kajian literatur dilakukan untuk memperkuat konsep sebagai landasan, arah kekaryaan, dan tujuan penciptaan. Tahap percobaan merupakan tahapan eksperimentasi dalam proses penciptaan ini, adalah dengan melakukan percobaan-percobaan teknik dan metode kerja untuk menghasilkan bentukbentuk imajinatif yang bermakna melalui penganalisaan bahan dan penguasaan teknik Sedangkan tahap pembentukan merupakan pewujudan dan penggalian berbagai aspek visual artistik dan penajaman estetika dengan kemampuan teknis maupun analisis intuitif. Volume 16 No. 2 Desember 2024 I Wayan Setem. Gede Yosef Tjokropramono, dan I Wayan Gulendra Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Dalam proses perwujudan, pengkarya menggali/memanfaatkan nilai-nilai probabilitas dari berbagai aspek yang terkait dengan visual maupun teknik artistik lainnya. Tahap pembentukan merupakan pewujudan dan penggalian berbagai aspek visual artistik dan penajaman estetika dengan kemampuan teknis maupun analisis intuitif. Tahap awal dalam penciptaan karya seni lukis adalah persiapan media meliputi alat dan bahan yang akan digunakan dalam penciptaan karya seni lukis. Dalam menciptakan karya seni berupa seni lukis, meggunakan berbagai alat dan bahan yakni : spanram, kanvas, pensil, kuas, palet, warna akrilik, dan peralatan bantu lainnya yang memperlancar praktik penciptaan seni lukis. Proses pengerjaan karya dengan tahapan diawali pembuatan sketsa. Sebelum memulai menuangkan gagasan di atas kanvas, yang dilakukan terlebih dahulu adalah membuat beberapa sketsa-sketsa sebagai pencarian esensi bentuk objek yang diinginkan. Pada proses ini dapat menghasilkan beberapa sketsa, yang selanjutnya dipilih salah satu sketsa untuk divisualkan. Langkah-langkah visualisai di awali dengan memindahkan sketsa terpilih yang dibuat sebelumnya di kanvas, peminahan sketsa di kanvas kadang-kadang mengalami pengembangan atau perombakan yang berarti, maupun kadang juga tidak mengalami perubahan sama sekali. Walaupun berpedoman pada sketsa yang telah dibuat sebelumnya, namun pengkarya tetap menjaga kebebasan dalam berkarya. Sket pada kanvas bisa ditambahkan atau dikurangi bagian-bagian tertentu yang pengkarya anggap perlu namun tidak merubah wujud pokok dari sket sebelumnya. Tahap yang pengkarya lakukan setelah pembuatan sketsa di media kanvas adalah pembuatan background atau latar belakang, tujuan dari pembuatan latar belakang terlebih dahulu adalah agar tidak ada media kanvas yang tidak terkena warna. Pada tahap kedua pengkarya mulai dengan pengeblokan objek, pengeblokan yang pengkarya lakukan dengan teknik plakat menggunakan kuas. Pengeblokan objek ini bertujuan untuk memberi dasar pada objek yang dibuat, selain itu tujuannya adalah memberikan keseimbangan antar objek, dengan menggunakan perbedaan warna yang digunakan. Setelah pengeblokan objek sudah selesai, tahap selanjutnya adalah, mendetailkan sekaligus memberikan kesan penyinaran pada objek. Tujuan dari tahapan ini adalah, untuk memberikan kesan volume pada setiap objek yang dilukis. Akumulasi teknik untuk karya seni lukis dengan media kanvas, pen, tinta, cat akrilik, cat minyak menerapkan 4 teknik yakni: . teknik basah menggunakan medium bersifat basah atau cair yang terapkan pada saat pengeblokan latar belakang. teknik opaque, dilakukan dengan mencampur cat dengan sedikit pengencer sehingga warna yang sebelumnya dapat tertutup atau . teknik dusel diterapkan pada saat pengeblokan objek serta penggabungan antar warna yang pengkarya anggap perlu untuk menciptakan transisi warna. teknik plakat, pengkarya terapkan sehingga warna yang ditimbulkan menjadi pekat dan padat. Karya-karya yang ditampilkan dalam penciptaan ini pada hakikatnya adalah sebuah bahasa dalam bentuk visual, selain dapat dinikmati secara tekstual dalam tampilan artistiknya yaitu keindahan unsur elemen seni juga ingin mengkomunikasikan pemikiran secara kontekstual yakni kandungan isi atau pesan/makna. Dengan demikian antara nilai tekstual dengan kontekstual karya bisa seiring keberadaannya (Setem, 2018: 166-. Untuk menjelaskan tentang wujud karya, pengkarya mendeskripsikan dalam kajian yang menyangkut aspek ideoplastis dan wujud fisikoplastis. Aspek ideoplastis merupakan gambaran tentang gagasan ide dan konsep dasar pemikiran yang diekspresikan dalam karya. Aspek Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 21 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. fisikoplastis merupakan suatu gambaran riil dari ide. Aspek fisikoplastis menyangkut pesona fisik dan teknis serta elemen visual seperti garis, bentuk, warna, tekstur, bidang dan ruang, serta struktur penciptaan seperti harmoni, kontras, irama, gradasi, kesatuan, keseimbangan, aksentuasi dan Setiap lukisan memiliki pengolahan aspek fisikoplastis yang berbeda dan masing-masing menghadirkan karakter visual yang memiliki keterkaitan dengan makna yang ingin disampaikan. Dalam aspek fisikoplastis karya dijelaskan sesuai dengan wujud fisiknya (Setem, 2018: 166-. Ulasan yang dilakukan hanya menyampaikan deskripsi karya, tetapi saya menyadari sebuah pemaknaan akan selalu bersifat arbitrer, dengan demikian pemirsa bebas menginterpretasikannya. Untuk lebih jelasnya akan dibahas sebanyak 3 karya dari 8 buah karya sebagai berikut: Gambar 01. Mengkosmos, cat akrilik pada kanvas, 160 x 140 cm, 2024. Foto: I Wayan Setem 2024 Karya Mengkosmos terdapat petanda dengan objek yang diacu, yaitu seorang wanita yang menyelam di kedalaman lautan. Karya ini bercerita bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari alam sama seperti makhluk hidup dan benda fisiokimis. Manusia bersama makhluk hidup lainnya bersama-sama membentuk dunia dan berhubungan secara timbal balik. Adanya ketergantungan yang mutlak antara yang satu dengan yang lain. Mengkosmos Nuswantara dengan visi kosmos . nner visio. -nya itu tersimpan sebagai gagasan bawah sadar kolektif masyarakat kepulauan Nusantara yang diyakini secara kolektif. Visi kosmos masyarakat kepulauan Nusantara itu laksana cairan halus air laut kepulauan Nusantara yang berhati lembut namun mengalir secara konstan dan efektif ke dalam hidup setiap substansi kosmos kepulauan Nusantara di daratan pulau-pulau yang keras, beku dan saling berjauhan. Sambil menyusup, ia menyerap dalam hati, jiwa dan pikiran masing-masing substansi pengkosmos kepulauan Nusantara yang berbhinneka, baik yang bersifat infrahuman maupun human di bumi Nusantara untuk saling mengalir dan saling mengkosmos secara harmoni-bipolar . , sebagai saudara dalam rumah tangga kosmos Nusantara. Volume 16 No. 2 Desember 2024 I Wayan Setem. Gede Yosef Tjokropramono, dan I Wayan Gulendra Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 Gambar 02. Menuju Samudra Keabadian, cat akrilik pada kanvas, 160 x 140 cm, 2024. Foto: I Wayan Setem 2024 Karya Mengkosmos terdapat petanda dengan objek yang diacu, yaitu seorang dewi air yang menumpahkan air untuk memenuhi lautan. Pada bagian lainnya tergambar kepala Dewa Wisnu sebagai dewa pemelihara kehidupan. Karya ini bercerita bahwa misi manusia sebagai khalifah di dunia, selain penghambaan kepada Tuhan juga penyapaan pada sesama, serta penyatuan bersama alam semesta. Kesadaran semacam ini harus terinternalisasi dalam diri setiap individu, dalam sikap, perkataan, dan tindakannya. Sebagai hambat Tuhan manusia punya kesadaran bahwa ada Dzat Yang Maha Besar yang meliputi segalanya. Dia ada dan tak dapat dikatakan. Setiap penyebutan dan penamaan pada diri Tuhan, tidak akan mampu menggambarkan ke-Maha Agungan Tuhan. Orang bijak mengatakan, puncak spiritualitas seseorang adalah humanisme tanpa pamrih. Gambar 03. Hening, cat akrilik pada kanvas, 160 x 140 cm, 2024. Foto: I Wayan Setem 2024 Volume 16 No. 2 Desember 2024 Jurnal Brikolase Online: https://jurnal. isi-ska. id/index. php/brikolase/index pISSN 2087-0795 Proses Review : 21 Oktober 2024. Dinyatakan Lolos: 29 Desember 2024 eISSN 2622-0652 doi: 10. 33153/brikolase. Karya Hening terdapat petanda dengan objek yang diacu, yaitu seorang pertama seperti Budha yang yang duduk bersila dengan sikap semedi. Pada tangan kirinya terdapat bunga teratai yang memancarkan cahaya di tengah samudra biru yang maha luas. Karya ini bercerita bahwa sebagian orang mungkin menikmati atau bahkan lebih menyukai situasi hening daripada bising walaupun bagi sebagian lainnya, hanya memikirkan berada dalam keheningan, bisa jadi sesuatu yang sangat tidak nyaman. Sebagian dari kita mungkin sulit untuk menemukan waktu tenang/ waktu hening akhir-akhir ini sebab dunia terus bergerak dan selalu ada kebisingan yang terjadi di sekitar kita: Suara-suara di jalanan, bunyi konstruksi bangunan, anak-anak berteriak, dan orangorang. Namun demikian, kita sebaiknya mencoba meluangkan waktu hening untuk diri sendiri supaya dapat memiliki sedikit kedamaian dan ketenangan. Dengan demikian, ketika berada dalam lingkungan yang tenang, kita jauh lebih terlibat dengan pikiran kita dan jauh lebih mungkin mengalami pikiran dan perasaan yang lebih dalam ketika kita tidak berurusan dengan banyak rangsangan SIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, karya seni lukis ini menggunakan simbol sebagai cara untuk mengekspresikan perasaan dari objek penciptaan yaitu harapan kemuliaan manusia. Pengolahan bentuk dari manusia, dan objek-objek yang berkaitan dengan kehidupan manusia dipakai sebagai forma simbolis untuk mengekspresikan perasaan manusia. Garis, warna, bidang, dan bentuk sebagai kekuatan simbol utama dalam penyampaian ekspresi suatu perasaan melalui unsur visual yang dihadirkan pada karya seni lukis ini. Esensi dari konsep penciptaan ini merupakan implementasi bahwa membangun manusia yang sempurna sehingga mampu menumbuhkan kepedulian pada kesejahtraan alam dan kesejahtraan sosial yang adil. Tindakan bijaksana baru dapat disebut bijaksana apa bila mampu menumbuhkan kehidupan yang AuanandaAy bahagia lahir batin. Agama Hindu menuntun umatnya untuk mendapatkan kebahagian hidup jasmani dan rohani. Untuk dapat mempermulia kehidupannya, manusia harus dapat dan mampu mengerti, menghayati serta mengamalkan ajaran agama Hindu dalam setiap gerak langkah kehidupannya, yang didasarkan atas Panca Sradha. Metode yang digunakan untuk mendukung topik AuJana Kertih: memuliakan Manusia dalam Penciptaan seni LukisAy telah dapat merangkul secara sistimatis pendekatan karya yang diacu, hingga berhasil membangun keutuhan penciptaan secara keseluruhan. Berdasarkan kesimpulan yang termuat di atas, maka dapat diajukan saran-saran yang bersifat konstruktif sebagai berikut. Di zaman modern pendekatan dan prakarsa terhadap seni sangat perlu dihidupkan. Selain karena tantangan krisis peradaban dan krisis makna hidup yang sedang kita hadapi saat ini, juga karena seni merupakan sesuatu yang sangat essensial dan bisa berhubungan langsung dengan bagian terdalam hidup manusia. Volume 16 No. 2 Desember 2024 I Wayan Setem. Gede Yosef Tjokropramono, dan I Wayan Gulendra Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis Artikel ini dilindungi di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4. pISSN 2087-0795 eISSN 2622-0652 DAFTAR PUSTAKA