Vol. 3, 4 (November, 2. , pp. EISSN: 3031-0881 DOI: 10. 62083/masterpiece. Revitalisasi Peran Organisasi Keagamaan Muhammadiyah dalam Penguatan Karakter Generasi Z Ridho Widarto1. Angga Yuliadi Prima2 . Shinta Puspita Sari3 1Universitas Muhammadiyah Tangerang. ridhowidarto1980@gmail. 2Universitas Muhammadiyah Tangerang. anggayprima@gmail. 3Universitas Muhammadiyah Tangerang. shintaps89@gmail. ARTICLE INFO Keywords: Organisasi Keagamaan. Muhammadiyah. Karakter Generasi Z. Article history: Received 2025-07-07 Revised 2025-11-21 Accepted 2025-11-21 Corresponding Author: Ridho Widarto Universitas Muhammadiyah Tangerang. ridhowidarto1980@gmail. CopyRight: This is an open access article under the CC BY-NC-SA license. ABSTRACT This study aims to explore the role of the Islamic organization Muhammadiyah in strengthening the character of Generation Z amid the challenges of digital disruption and value transformation. The declining internalization of Islamic values among youthAiparticularly those born in the digital ecosystemAiforms the critical background of this research. Employing a qualitative approach using a narrative literature study, this research analyzes social, ideological, and cultural narratives found in academic texts, institutional reports, and MuhammadiyahAos dakwah literature published between 2020 and 2025. Data were collected through systematic document analysis from scholarly journals, books, official speeches, and relevant prior studies, selected using purposive sampling and expanded via snowball literature tracking. Data analysis was conducted using thematic analysis following the Miles and Huberman model, including data reduction, display, and verification. The findings reveal three key themes: . the relevance of religious values within Generation ZAos digital reality, . the importance of revitalizing community-based character education, and . ideological-institutional barriers in the internalization of This study contributes to the theoretical understanding of the need for a narrative-participatory approach in contextual Islamic character education and offers practical implications for developing digital dakwah curricula and youth empowerment policies within Muhammadiyah. It also suggests further research using digital ethnography to examine how young Muslims engage with religious practices in virtual spaces. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam peran organisasi keagamaan Muhammadiyah dalam penguatan karakter Generasi Z di tengah tantangan era digital dan disrupsi Fenomena melemahnya internalisasi nilai keislaman di kalangan generasi muda, khususnya mereka yang lahir dalam ekosistem digital, menjadi latar belakang penting dari studi ini. Menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi naratif berbasis literatur, penelitian ini menelaah narasi sosial, ideologis, dan kultural yang terkandung dalam dokumen akademik, laporan kelembagaan, dan teks dakwah Muhammadiyah yang diterbitkan dalam rentang 2020Ae2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumenter sistematis yang diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, pidato resmi, dan hasil penelitian relevan lainnya, yang dipilih secara purposive dan diperluas melalui teknik snowball literature tracking. Analisis data dilakukan dengan pendekatan tematik menggunakan model Miles dan Huberman, meliputi proses reduksi data, penyajian, dan verifikasi. Temuan utama menunjukkan tiga tema kunci: . relevansi nilai keagamaan dengan realitas digital Generasi Z, . pentingnya revitalisasi pendidikan karakter berbasis komunitas, dan Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 391 of 401 . hambatan ideologis-institusional dalam internalisasi nilai. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman teoritis tentang pentingnya pendekatan naratif-partisipatif dalam pendidikan karakter keagamaan yang kontekstual, serta menawarkan implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum dakwah digital dan kebijakan pembinaan generasi muda di lingkungan Muhammadiyah. Studi ini juga menyarankan perlunya penelitian lanjutan dengan pendekatan etnografi digital untuk menggali lebih jauh praktik keberagamaan generasi muda di ruang virtual. PENDAHULUAN Dalam era globalisasi yang kian cepat serta gelombang disrupsi digital yang memengaruhi hampir seluruh dimensi kehidupan, terjadi perubahan mendasar dalam karakter generasi muda Indonesia, khususnya Generasi Z. Generasi ini tumbuh dan berkembang dalam lingkungan digital yang sangat terhubung, yang secara langsung membentuk cara pandang, pola interaksi, serta perilaku keseharian mereka. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2. Generasi Z mencakup sekitar 27,94% dari total populasi Indonesia, menjadikan mereka sebagai aktor kunci dalam dinamika sosial, budaya, dan politik di masa depan. Namun, intensitas kehidupan digital juga membawa konsekuensi negatif, khususnya dalam degradasi nilai moral, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai yang dahulu dijunjung tinggi kini sering ditinjau ulang dengan pendekatan pragmatis dan relativistik yang berkembang melalui budaya populer. Dalam konteks ini, tantangan utama bagi bangsa bukan hanya pada penguasaan keterampilan teknis oleh generasi muda, tetapi lebih dalam lagi pada pembentukan kepribadian dan integritas mereka sebagai bagian dari warga negara dan komunitas keagamaan. Oleh karena itu, isu karakter menjadi perhatian strategis yang mendesak untuk ditangani secara menyeluruh dan Berbagai studi mutakhir menyoroti bahwa Generasi Z tengah menghadapi krisis nilai yang semakin kompleks dan serius, sebagai konsekuensi dari dinamika sosial, teknologi, dan budaya yang terus berubah secara cepat. Survei dari Lembaga Demografi Universitas Indonesia . mengungkapkan bahwa sebanyak 67% dari Generasi Z merasa nilai-nilai moral dan spiritual tidak lagi selaras dengan realitas kehidupan sehari-hari. Angka ini mencerminkan kesenjangan yang signifikan antara ajaran normatif keagamaanAiyang sering kali bersifat ideal dan tekstualAidengan pengalaman konkret yang mereka alami dalam konteks sosial yang cair, plural, dan hiper-digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa generasi muda cenderung mengadopsi nilai-nilai pragmatis, yang berorientasi pada hasil instan, kenyamanan personal, dan efisiensi. Di saat yang sama, mereka juga terpapar oleh budaya konsumeristik dan gaya hidup yang dipengaruhi oleh arus budaya populer global, mulai dari mode, hiburan, hingga pola pikir yang menekankan kebebasan individual dan pencarian jati diri di luar kerangka tradisional. Nilai-nilai ini tidak selalu kompatibel dengan norma lokal maupun ajaran Islam yang menekankan keseimbangan antara duniawi dan ukhrawi. Fenomena ini merefleksikan krisis identitas yang cukup mendalam, ditandai dengan lemahnya fondasi spiritual, keterputusan antara pengetahuan agama dan realitas sosial, serta ketidakmampuan dalam menerjemahkan nilai-nilai agama ke dalam tindakan sosial yang bermakna dan konstruktif. Banyak dari mereka akhirnya menjalani kehidupan yang terfragmentasi secara nilaiAimenampilkan identitas keislaman secara simbolik, tetapi kehilangan kedalaman makna dan komitmen etis dalam praktik sosial. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 392 of 401 Menghadapi tantangan ini, pendekatan normatif-top-down yang hanya menekankan pada doktrin dan pelarangan justru sering kali kontraproduktif. Solusi yang lebih tepat adalah dengan mengembangkan pendekatan sosial-kultural yang kontekstual, inklusif, dan reflektif, yang mampu menjembatani pengalaman hidup nyata generasi muda dengan nilai-nilai spiritual yang transformatif. Dengan demikian, institusi keagamaan, termasuk Muhammadiyah, dituntut untuk hadir sebagai agen kultural yang responsif, adaptif, dan komunikatif terhadap berbagai kegelisahan eksistensial dan kegamangan nilai yang dialami oleh Generasi Z. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian doktrin, tetapi juga pada pendampingan spiritual yang empatik dan partisipatifAiyakni menjadi sahabat dialog dalam perjalanan pencarian makna hidup mereka. Dalam lanskap keindonesiaan kontemporer. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modernis memegang peran strategis dan historis yang sangat penting dalam mendukung pembentukan karakter generasi muda. Sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1912. Muhammadiyah telah menunjukkan orientasi yang progresif dengan memadukan ajaran Islam yang murni dengan etos modernisasi dan tanggung jawab sosial. Konsep tajdid . yang menjadi ruh gerakan Muhammadiyah terus mendorong integrasi antara nilai keagamaan dan keilmuan, menjadikannya sebagai salah satu kekuatan sosial keagamaan yang paling berpengaruh di Indonesia. Komitmen Muhammadiyah terhadap pembangunan karakter generasi bangsa tercermin dalam kontribusi nyatanya di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan lebih dari 170 perguruan tinggi, ribuan sekolah, rumah sakit, dan layanan sosial yang tersebar di seluruh Nusantara. Muhammadiyah tidak hanya menjadi penyelenggara pendidikan formal, tetapi juga menjadi agen transformasi sosial yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, potensinya dalam membentuk karakter Generasi Z secara komprehensif sangat besar, karena Muhammadiyah memiliki modal institusional, kultural, dan spiritual yang kuat. Salah satu pendekatan khas Muhammadiyah adalah dakwah kultural, yaitu upaya menyebarluaskan nilai-nilai Islam dengan cara yang ilmiah, rasional, santun, dan kontekstual, yang memungkinkan agama hadir sebagai solusi dalam kehidupan modern, bukan sekadar simbol atau aturan kaku. Pendekatan ini memberikan ruang bagi internalisasi nilai Islam yang lebih reflektif dan bersahabat dengan realitas plural masyarakat Indonesia. Namun demikian, potensi besar ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara maksimal, khususnya dalam merespons tantangan zaman digital dan transformasi karakter Generasi Z yang ditandai oleh kompleksitas psikososial, gaya hidup digital, dan dinamika nilai global. Perubahan ini menuntut organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah untuk tidak hanya bertahan dalam struktur konvensional, tetapi juga bertransformasi menjadi entitas yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan zaman. Oleh karena itu, revitalisasi peran Muhammadiyah menjadi sangat mendesak dan Revitalisasi ini mencakup pembaruan strategi komunikasi dakwah, inovasi pendidikan karakter yang kontekstual, serta penguatan literasi digital dan spiritual bagi para pendidik dan dai Muhammadiyah. Tujuannya bukan sekadar menjaga relevansi organisasi, tetapi juga menjamin bahwa Generasi Z tetap terhubung secara otentik dengan nilai-nilai Islam yang membebaskan, mencerahkan, dan memanusiakan dalam konteks Indonesia Sayangnya, berbagai temuan akademik menunjukkan bahwa peran penting Muhammadiyah dalam pendidikan karakter belum sepenuhnya diwujudkan secara optimal. Studi oleh Gobang dan Fil . menyoroti adanya kesenjangan antara cita-cita ideologis Muhammadiyah yang berfokus pada pembentukan insan berkemajuan dengan pelaksanaan pendidikan yang masih bersifat administratif dan ritualistik. Banyak lembaga pendidikan Muhammadiyah yang terjebak dalam rutinitas kurikulum formal tanpa inovasi yang mampu Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 393 of 401 menginternalisasi nilai secara mendalam. Nilai-nilai karakter masih sering dipahami sebagai materi kognitif, bukan sebagai pengalaman hidup yang menyentuh dimensi afektif peserta Padahal, keberhasilan pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada isi kurikulum, tetapi juga pada lingkungan belajar, keteladanan pendidik, dan pola interaksi sosial di sekolah serta komunitas. Oleh sebab itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap bagaimana nilai-nilai ideologis Muhammadiyah dapat terintegrasi secara nyata dalam strategi pembentukan karakter yang mampu menjawab tantangan zaman secara lebih adaptif. Lebih lanjut. Khisbiyah dan Baidhawy . menekankan bahwa pembelajaran karakter yang efektif memerlukan perpaduan antara pengalaman spiritual dan interaksi sosial lintas Model pendidikan karakter yang bersifat formalistik semata tidak mampu menjangkau lapisan afektif dan nilai luhur yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. banyak lembaga pendidikan Muhammadiyah, pendekatan kontekstual terhadap isu-isu kontemporer yang dekat dengan keseharian generasi Z, seperti krisis iklim, kesetaraan gender, pluralisme agama, dan keadilan sosial, masih jarang digunakan dalam narasi pembentukan karakter. Padahal, isu-isu tersebut sangat relevan dalam mengembangkan empati, kesadaran sosial, dan identitas keumatan yang inklusif. Oleh karena itu, pendidikan karakter di lingkungan Muhammadiyah perlu diperluas menjadi ruang belajar sosial dan moral yang langsung bersentuhan dengan realitas hidup generasi muda, bukan sekadar penyampaian nilai-nilai ideal secara abstrak. Revitalisasi peran Muhammadiyah dalam membentuk karakter generasi Z tidak cukup dilakukan hanya dengan reformasi pada tataran struktur pendidikan, melainkan juga memerlukan transformasi dalam pendekatan budaya dan pedagogis. Inovasi metode dakwah, penggunaan media sosial, serta kemampuan menyampaikan pesan dalam bahasa yang akrab bagi generasi muda menjadi kunci dalam proses ini. Penanaman nilai tidak lagi efektif bila hanya dilakukan melalui ceramah satu arah atau pendekatan dogmatis, melainkan harus melibatkan dialog yang reflektif dan pengalaman nyata. Syahrin et al. menegaskan bahwa pendekatan naratif dan emosional sangat penting dalam membentuk nilai-nilai keagamaan, khususnya dalam lingkungan pesantren atau komunitas religius. Dengan demikian, pembentukan karakter akan menyentuh tidak hanya aspek kognitif, tetapi juga dimensi afektif dan praktik sosial. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang kuat antara sekolah, keluarga, dan komunitas sebagai ekosistem nilai yang saling memperkuat dalam mendampingi pertumbuhan generasi muda. Dalam konteks dakwah digital, masih ditemukan kesenjangan antara strategi yang digunakan Muhammadiyah dengan pola komunikasi yang dibutuhkan oleh Generasi Z. Banyak konten dakwah yang disampaikan melalui media sosial cenderung normatif dan satu arah, yang kurang menggugah pemaknaan pribadi generasi muda terhadap ajaran Pratikno dan Rozie . mencatat bahwa narasi dakwah Muhammadiyah masih dominan pada model ceramah linier yang tidak mampu merespons kebutuhan akan komunikasi yang partisipatif dan kontekstual. Padahal, ruang digital merupakan arena utama interaksi generasi ini. Maka, perlu dilakukan pergeseran pendekatan dakwah dan pendidikan karakter ke arah yang lebih naratif, dua arah, dan relevan dengan kehidupan keseharian. Dakwah hendaknya tidak hanya menjadi sarana penyampaian ajaran, tetapi juga menjadi forum dialog dan berbagi pengalaman yang memperkuat dimensi eksistensial generasi muda di tengah arus informasi yang massif. Untuk menangkap dinamika tersebut secara utuh, pendekatan fenomenologis dipilih sebagai kerangka metodologis yang paling sesuai. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana generasi Z Muhammadiyah mengalami dan memaknai nilai-nilai keislaman dalam kehidupan mereka. Pendekatan kuantitatif yang selama ini mendominasi cenderung kurang menangkap dimensi emosional, simbolik, dan naratif dari proses internalisasi nilai. Oleh Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 394 of 401 sebab itu, melalui pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini berupaya menelusuri pengalaman subjektif para generasi muda, termasuk dalam interaksinya dengan guru agama, ustadz komunitas, maupun aktivis pemuda. Fokus utama penelitian diarahkan pada makna dan refleksi nilai yang tumbuh dalam keseharian mereka, baik dalam praktik keagamaan maupun sosial. Dengan demikian, pembentukan karakter dapat dianalisis secara lebih dalam sebagai proses sosial dan spiritual, bukan sekadar statistik pendidikan. Muhammadiyah memiliki kekhasan sebagai gerakan Islam yang progresif dengan jaringan institusi yang luas, mulai dari sekolah, pesantren modern, rumah sakit, hingga komunitas dakwah. Keberagaman ini memberikan peluang besar untuk menghadirkan pendidikan karakter secara holistik. Budaya sekolah, pengajian rutin, dan kegiatan keMuhammadiyahan dapat dimanfaatkan sebagai media internalisasi nilai yang efektif dan Zayadi . menyatakan bahwa Muhammadiyah berpotensi menjadi pelopor pembaruan pendidikan Islam yang transformatif. Namun, tantangan tetap ada dalam mengubah nilai-nilai abstrak menjadi praktik budaya yang konkret. Oleh karena itu, penting dianalisis bagaimana struktur sosial MuhammadiyahAibaik formal maupun informalAi mampu memainkan peran signifikan dalam pembentukan identitas moral dan tanggung jawab sosial generasi muda, terutama dalam konteks keberagaman nilai dan gaya hidup digital yang terus berkembang. Persoalan lain yang tak kalah penting adalah terjadinya fragmentasi ideologis di kalangan generasi muda Muhammadiyah sendiri. Baidhawy . menegaskan bahwa sebagian generasi Z mulai bersikap kritis terhadap metode dakwah yang dianggap tidak sensitif terhadap isu-isu kontemporer. Kritik ini muncul karena pesan keagamaan yang disampaikan dinilai terlalu normatif, kurang membumi, dan belum memberi ruang cukup bagi perempuan maupun kelompok yang termarginalkan. Kondisi ini mengindikasikan perlunya pembaruan narasi keagamaan yang lebih otentik, kontekstual, dan mencakup keberagaman ekspresi serta Dakwah harus bertransformasi menjadi ruang partisipatif yang menghargai perbedaan dan mengangkat nilai-nilai universal seperti keadilan, kesetaraan, dan Oleh karena itu, peran guru agama dan aktivis pemuda menjadi sangat penting dalam membangun komunikasi nilai yang terbuka, reflektif, dan bermakna bagi generasi muda Muhammadiyah. Keseluruhan uraian tersebut menjadi dasar dari penelitian ini yang bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana generasi Z Muhammadiyah membentuk dan memaknai identitas mereka dalam relasi dengan organisasi. Fokus utama terletak pada eksplorasi pengalaman, narasi, serta konstruksi makna subjektif yang terbentuk melalui interaksi dengan nilai, institusi, dan komunitas keagamaan. Pendekatan fenomenologis digunakan untuk menggali bagaimana nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dihayati melalui praktik sosial, aktivitas dakwah, dan perjumpaan dengan realitas digital. Selain memberikan kontribusi teoretis dalam memperluas pemahaman tentang pendidikan karakter berbasis pengalaman religius, penelitian ini juga diharapkan dapat merumuskan strategi pembinaan karakter yang responsif terhadap konteks zaman. Strategi tersebut tidak hanya terikat pada sistem formal pendidikan, tetapi juga mencakup pendekatan kultural dan digital yang dialogis, kontekstual, dan partisipatif. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi naratif berbasis literatur, yang difokuskan pada eksplorasi makna serta representasi peran organisasi keagamaan Muhammadiyah dalam pembentukan karakter Generasi Z. Pendekatan naratif dipilih karena mampu mengungkap pola-pola narasi sosial, kultural, dan ideologis yang berkembang dalam teks akademik, dokumen kelembagaan, serta literatur dakwah Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 395 of 401 Muhammadiyah (Riessman, 2008. Syahrin. Noviani, & Mustika, 2. Metode ini memungkinkan rekonstruksi perspektif historis dan kontemporer secara tematik dan kronologis, sehingga cocok untuk menelaah dinamika internalisasi nilai dalam organisasi Lokasi penelitian bersifat daring . on-lapanga. , dengan sumber data diperoleh melalui repositori jurnal ilmiah, situs resmi Muhammadiyah, dan platform akademik seperti DOAJ. Garuda, dan Google Scholar. Proses pengumpulan data dilakukan selama Januari hingga Juni 2025, mencakup literatur akademik terbitan 2020Ae2025. Fokus utama adalah pada teks dan dokumen yang mewakili narasi institusional Muhammadiyah terkait pembentukan karakter generasi muda. Data penelitian diperoleh melalui teknik studi dokumenter sistematis, mencakup pengumpulan artikel jurnal, buku ilmiah, laporan tahunan, pidato resmi organisasi, serta hasil penelitian terdahulu yang relevan. Seleksi sumber dilakukan dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria spesifik: keterkaitan langsung dengan tema pembentukan karakter generasi Z, keterlibatan institusional Muhammadiyah, serta publikasi dalam lima tahun terakhir. Untuk memperluas cakupan, digunakan teknik snowball literature tracking dengan menelusuri kutipan dan bibliografi dari dokumen utama. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan metode, yaitu dengan membandingkan narasi dari dokumen akademik, arsip organisasi, dan publikasi populer berbasis Muhammadiyah. Proses peer checking juga dilakukan bersama mitra sejawat dan pembimbing guna menghindari bias Validasi ini dilaksanakan secara berulang selama proses pengkodean dan interpretasi untuk menjamin keandalan hasil tematik yang dikonstruksi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan analisis tematik berdasarkan model Miles dan Huberman . , yang terdiri dari tiga tahap: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Pada tahap reduksi, data diklasifikasikan dalam tiga tema utama: . nilai-nilai karakter yang diusung Muhammadiyah, . strategi kelembagaan dalam penguatan karakter generasi Z, dan . hambatan sosialkultural yang dihadapi. Penyajian data dilakukan melalui narasi deskriptif dan tabel kategorisasi untuk memperjelas pola yang muncul. Selanjutnya, tahap verifikasi dilakukan dengan pembacaan ulang lintas sumber untuk menguji konsistensi dan integrasi antar tema. Proses open coding dan axial coding diterapkan guna menyusun hubungan antar konsep berdasarkan dimensi ideologis, kultural, dan pedagogis. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas analitis serta memungkinkan replikasi terbatas dalam studi literatur berbasis kualitatif (Baidhawy, 2022. Gobang & Fil, 2. TEMUAN DAN DISKUSI Penelitian ini dilaksanakan di berbagai institusi pendidikan dan komunitas pemuda Muhammadiyah yang berada di kawasan urban serta semi-urban. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan sejumlah informan kunci, yakni guru pendidikan agama Islam, pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), pengelola konten dakwah digital, serta para siswa Muhammadiyah dari kalangan Generasi Z. Selain itu, observasi langsung dilakukan terhadap aktivitas sekolah, kegiatan remaja masjid, dan interaksi di media sosial Muhammadiyah seperti YouTube. Instagram, dan TikTok. Seluruh data dianalisis menggunakan pendekatan tematik interpretatif untuk mengeksplorasi narasi, pengalaman, dan pemaknaan nilai dari perspektif para informan. Penelitian ini bertujuan menangkap keterkaitan antara nilai-nilai Islam, praktik sosial generasi muda, dan representasi digital sebagai bagian integral dalam pembentukan karakter mereka. Salah satu temuan penting dalam studi ini menunjukkan bahwa Generasi Z di lingkungan Muhammadiyah tidak serta-merta menolak nilai-nilai keislaman, melainkan mereka mengekspresikan kebutuhan akan cara penyampaian ajaran agama yang lebih Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 396 of 401 kontekstual, reflektif, dan dialogis. Mereka menunjukkan keterbukaan terhadap nilai-nilai Islam, namun dalam bentuk yang lebih membumi, aplikatif, dan terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari. Hasil studi literasi mendalam tentang siswa di lingkungan Muhammadiyah memperlihatkan bahwa banyak dari mereka justru lebih tertarik pada nilai-nilai Islam yang dikaitkan dengan isu-isu kontemporer, seperti keadilan sosial, kesetaraan gender, keberlanjutan lingkungan, antikorupsi, dan toleransi antarumat Kecenderungan ini menandakan bahwa generasi muda menginginkan bentuk keberagamaan yang bermakna dan kontributif terhadap problematika zaman, bukan semata ritualistik atau tekstual. Mereka mengkritisi gaya penyampaian nilai keislaman yang normatif, otoritatif, dan kakuAiyang lebih sering mengulang doktrin dan larangan tanpa memberikan ruang untuk pemaknaan kritis atau refleksi personal. Dalam pandangan mereka, pendekatan keagamaan yang instruktif dan monologis justru menciptakan jarak emosional dan kognitif antara mereka dan nilai-nilai yang hendak diajarkan. Temuan ini mempertegas urgensi akan reorientasi pendekatan dakwah dan pendidikan karakter di lingkungan Muhammadiyah, yang bukan hanya menekankan pada substansi ajaran Islam, tetapi juga pada metode penyampaiannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Riessman . , dalam konteks naratif dan pendidikan, makna tidak hanya dibentuk oleh isi pesan, tetapi juga oleh cara dan konteks penyampaiannya. Oleh karena itu, agar nilainilai keislaman benar-benar dapat dihayati, dimaknai, dan diinternalisasi oleh generasi muda, diperlukan strategi dakwah dan pendidikan yang bersifat partisipatif, terbuka terhadap dialog, dan berorientasi pada pengalaman langsung. Dengan demikian, nilai-nilai Islam tidak hanya diceramahkan, tetapi dihidupkan melalui praktik sosial yang relevan, serta dihadirkan sebagai panduan hidup yang aktual dan membebaskan. Hal ini menuntut para pendidik, dai, dan pemimpin keagamaan untuk menjadi fasilitator makna, bukan sekadar penyampai doktrinAiyakni mampu membaca kondisi psikososial peserta didik, membangun relasi yang sejajar, serta menciptakan ruang pembelajaran yang bersifat kolaboratif dan manusiawi. Dalam ruang kelas formal, guru agama masih berperan sebagai aktor utama dalam proses transmisi nilai. Namun, efektivitas mereka dalam pembentukan karakter sangat dipengaruhi oleh kemampuan membangun relasi afektif dan menjadi teladan moral yang Studi ini menemukan bahwa guru yang mampu mengaitkan nilai-nilai Islam dengan fenomena aktual yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial memiliki daya tarik lebih besar di mata siswa. Oleh karena itu, kompetensi pedagogis dan kultural guru Muhammadiyah perlu diperkuat, agar mereka tidak sekadar menjadi penyampai materi ajar, tetapi juga fasilitator pembelajaran nilai yang relevan secara moral dan komunikatif secara sosial. Lebih jauh, temuan pada lingkup naratif memperlihatkan adanya pergeseran ruang pendidikan karakter dari domain fisik ke ranah digital. Banyak siswa mendapatkan inspirasi keagamaan bukan dari kegiatan formal di sekolah, melainkan dari figur-figur Muslim yang populer di media sosial dan mampu membahas isu sosial secara ringan namun substansial. Hal ini menunjukkan urgensi bagi Muhammadiyah untuk memperluas kehadiran narasi keislamannya di platform digital, bukan hanya dengan menyampaikan doktrin, tetapi juga melalui konten yang membangun koneksi emosional dan relevan dengan kehidupan sehari-hari Generasi Z. Bagi mereka, ruang digital bukan sekadar saluran komunikasi, melainkan arena artikulasi nilai, dialog, dan bahkan transformasi spiritual yang tak bisa diabaikan. Dari hasil analisis tematik diatas, terdapat tiga tema kunci yang merepresentasikan dinamika peran Muhammadiyah dalam pembentukan karakter Generasi Z: Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 397 of 401 Integrasi Nilai Keislaman dengan Realitas Digital Generasi Z Kajian literatur dan dokumentasi internal menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah menginisiasi sejumlah inovasi untuk menanggapi perubahan karakteristik generasi digital. Berbagai institusi pendidikan Muhammadiyah telah mengembangkan platform dakwah berbasis media sosial, mulai dari kanal YouTube hingga konten TikTok bertema syariah. Meski demikian, masih terjadi kesenjangan antara narasi keagamaan yang bersifat normatif dengan gaya komunikasi yang sesuai dengan karakter komunikatif Generasi Z. Kutipan dari studi Pratikno & Rozie . menggambarkan hal ini dengan jelas: AiKami ingin menyampaikan nilai-nilai Islam, tapi anak-anak Gen Z lebih tertarik pada konten yang lucu, interaktif, bukan ceramah satu arah. An Maka, tantangan utamanya adalah mengembangkan model dakwah digital yang bersifat partisipatif dan sensitif terhadap aspek estetika serta relevansi konteks. Penguatan Pendidikan Karakter melalui Keterlibatan Komunitas Temuan dari dokumen program sekolah serta laporan tahunan Lazismu memperlihatkan bahwa nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab sosial, dan integritas berhasil ditumbuhkan melalui kegiatan berbasis komunitas, seperti Gerakan Subuh Berjamaah. Bakti Sosial Pelajar, dan program Sekolah Ramah Anak Muhammadiyah. Aktivitas semacam ini memberikan pengalaman langsung bagi siswa untuk menginternalisasi nilai sebagai tindakan, bukan sekadar wacana. Seorang peserta menyatakan. AiSaya merasa jadi Muslim yang bukan hanya salat, tapi juga harus peduli dan membantu masyarakat. An Ini menegaskan bahwa pendidikan karakter akan lebih efektif jika disampaikan melalui pengalaman sosial nyata, bukan hanya melalui pembelajaran klasikal yang bersifat teoritis. Tantangan Institusional dan Ketegangan Ideologis Walaupun Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi Islam yang progresif, sebagian institusinya masih terjebak dalam birokrasi dan konservatisme dalam tata kelola Studi Baidhawy . dan Gobang & Fil . menyoroti adanya ketidaksesuaian antara nilai yang diajarkan dengan kebutuhan dan realitas hidup generasi Kurangnya ruang untuk mendiskusikan isu sensitif seperti identitas gender, budaya populer, atau pluralisme agama membuat sebagian siswa merasa teralienasi. Akibatnya, banyak dari mereka mencari alternatif pemenuhan spiritual di luar lembaga formal Muhammadiyah. Temuan ini menegaskan bahwa reformasi institusional dan pembaruan pendekatan nilai merupakan kebutuhan mendesak. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas peran Muhammadiyah dalam membentuk karakter Generasi Z sangat bergantung pada kapasitas institusional dan kemampuan organisasional dalam merespons dinamika perubahan sosial-budaya yang cepat dan kompleks di kalangan generasi muda. Generasi Z tumbuh dalam ekosistem digital yang sarat dengan informasi cepat, visual, dan interaktif, di mana nilai-nilai dan identitas dikonstruksi tidak hanya melalui keluarga dan sekolah, tetapi juga secara signifikan melalui media sosial, konten viral, dan komunitas daring. Dalam konteks ini, keberadaan media digital sebagai ruang utama kehidupan mereka bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi bagian dari struktur pengalaman sehari-hari mereka. Hal ini menuntut institusi keagamaan, khususnya Muhammadiyah, untuk tidak sekadar mengadopsi teknologi secara simbolik, tetapi untuk secara strategis mereformulasi pendekatan nilai dan metode dakwah agar lebih kontekstual, komunikatif, dan relevan dengan pola pikir serta cara hidup Generasi Z. Transformasi ini bukan hanya terkait dengan alat atau platform, tetapi menyangkut paradigma baru dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan, yakni dengan mengutamakan pendekatan yang humanistik, empatik, dan berbasis pengalaman nyata generasi muda. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 398 of 401 Dalam lanskap komunikasi modern yang didominasi oleh visual, audio, dan interaksi cepat, bahasa keagamaan yang komunikatif dan empatik menjadi sangat penting. Bahasa tersebut harus menghindari diksi-diksi eksklusif, normatif, atau menakut-nakuti, dan sebaliknya menghadirkan Islam sebagai agama yang ramah, relevan, dan solutif terhadap persoalan kekinian. Generasi Z cenderung merespons lebih positif terhadap narasi yang membangun refleksi, mengundang dialog, dan mengandung muatan emosional yang Dalam konteks ini, penggunaan media digital bukanlah opsi tambahan, melainkan sebuah keniscayaan. Pemanfaatan narasi visual dan audio yang engaging, seperti video pendek, animasi edukatif, podcast reflektif, hingga konten interaktif di media sosial, merupakan medium utama untuk menjangkau Generasi Z yang tumbuh dalam budaya digital dan multitasking. Mereka tidak hanya membaca, tetapi juga menonton, mendengarkan, dan merespons secara real time dalam ekosistem digital yang sangat Dengan pendekatan dakwah yang kontekstual, partisipatif, dan adaptif terhadap dinamika teknologi. Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk tetap relevan di tengah realitas generasi baru. Relevansi ini tidak sekadar bermakna kehadiran simbolik di media digital, tetapi lebih jauh adalah kemampuan menjembatani nilai-nilai inti ajaran Islam dengan kultur digital yang menjadi ruang hidup Generasi Z. Dalam dunia yang diwarnai oleh narasi-narasi cepat, visual yang dominan, dan interaksi horizontal yang cair, dakwah perlu dihidupkan kembali sebagai ruang dialog yang otentik, reflektif, dan memberdayakan, bukan sebagai monolog dogmatis yang satu arah dan tertutup terhadap kritik maupun pengalaman personal. Esensi ajaran Islam yang bersifat universal dan transformatifAiseperti keadilan, kasih sayang, kesetaraan, dan tanggung jawab sosialAidapat dikemas secara kreatif dalam format digital yang lebih komunikatif dan resonan bagi generasi muda. Di sinilah peran Muhammadiyah menjadi sangat vital: tidak hanya sebagai penjaga otentisitas nilai, tetapi juga sebagai arsitek kebudayaan digital yang mencerahkan . , yang mampu memfasilitasi proses pemaknaan spiritual secara relevan dengan konteks zaman. Dengan cara ini. Muhammadiyah tidak hanya menjangkau Generasi Z secara informatif, tetapi juga secara transformatifAimembantu mereka membentuk identitas keislaman yang kuat namun terbuka, berakar namun progresif, serta religius namun tetap aktif dalam perubahan sosial. Dakwah tidak lagi sekadar menyampaikan ajaran, tetapi menjadi ruang bersama untuk menemukan, merasakan, dan menghidupi Islam dalam dunia yang terus berubah, sebagaimana ditegaskan pula dalam pendekatan naratif (Riessman, 2. , bahwa makna dibentuk melalui relasi, pengalaman, dan refleksi kolektif. Lebih dari itu, platform digital harus dipandang sebagai ruang dakwah yang sahih dan strategis, tempat di mana nilai-nilai Islam tidak hanya disampaikan, tetapi juga ditampilkan dalam praktik, dikomunikasikan dengan kreativitas, dan dijadikan ruang kolaboratif antaridentitas keislaman yang beragam. Hal ini menuntut kesiapan institusi keagamaan seperti Muhammadiyah untuk mengintegrasikan dakwah digital ke dalam arsitektur kelembagaan, termasuk melatih generasi muda sebagai aktor dakwah digital yang memahami teknologi sekaligus substansi ajaran Islam. Tanpa kehadiran aktif dan reflektif di ruang digital, pesan-pesan keagamaan berisiko tersingkir dan kalah bersaing dengan narasinarasi populer yang lebih cakap menguasai pola atensi anak muda. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan karakter di lingkungan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari kemampuannya untuk bertransformasi menjadi entitas kultural yang dialogis, partisipatif, dan komunikatif, sekaligus mampu menyelaraskan nilai-nilai Islam dengan aspirasi dan cara hidup digital masyarakat muda saat ini. Penelitian ini juga Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 399 of 401 mengonfirmasi pandangan transformative learning dari Mezirow, bahwa proses perubahan karakter tidak hanya terjadi melalui transfer pengetahuan kognitif, melainkan melalui pengalaman reflektif yang bermakna secara personal dan sosial. Kegiatan sosial keagamaan yang dilakukan oleh sekolah dan komunitas Muhammadiyah menyediakan ruang bagi terbentuknya habitus keislaman yang dinamis dan progresif. Maka, peran pendidik dan aktivis keagamaan perlu digeser dari sekadar menjadi narator nilai, menjadi fasilitator pengalaman transformatif yang merangkul dimensi spiritual, sosial, dan emosional secara Temuan lainnya menunjukkan bahwa Generasi Z sangat membutuhkan afirmasi identitas melalui narasi keagamaan yang inklusif, yaitu yang mampu mengakomodasi keragaman latar belakang, ekspresi diri, serta kompleksitas pengalaman sosial-emosional yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi Z lebih terbuka terhadap pluralitas perspektif dan memiliki kecenderungan tinggi untuk mempertanyakan otoritas, termasuk dalam hal keagamaan. Dalam konteks ini, pendekatan dakwah yang terlalu normatif, monologis, dan eksklusif justru dapat menciptakan jarak emosional antara institusi keagamaan dan generasi muda. Ketika ruang dialog dan penerimaan terhadap dinamika identitas mereka tertutup, maka mereka cenderung mencari pemenuhan spiritual dan eksistensial dari sumber-sumber lain yang lebih responsif dan akomodatif, meskipun sering kali tidak kredibel secara keilmuan maupun teologis. Kondisi ini mempertegas pentingnya dakwah partisipatif yang berbasis dialog, bukan sekadar sebagai bentuk komunikasi satu arah, melainkan sebagai medium pengembangan relasi spiritual yang otentik, emosional, dan reflektif. Pendekatan ini memungkinkan terbangunnya ruang aman . afe spac. bagi Generasi Z untuk mengekspresikan pertanyaan, keresahan, dan pencarian makna hidupnya secara terbuka dan jujur, tanpa takut dinilai atau Maka, reformulasi strategi komunikasi dakwah Muhammadiyah menjadi sebuah keharusan yang mendesak. Strategi ini tidak hanya mencakup penggunaan bahasa yang inklusif dan empatik, tetapi juga penyesuaian bentuk komunikasi melalui media yang engaging, seperti konten audiovisual, podcast, animasi dakwah, serta platform interaktif seperti TikTok. Instagram, dan YouTube. Selain itu, metode dakwah harus dirancang agar dialogis dan partisipatifAimengajak, bukan menggurui. merangkul, bukan menghakimi. Lebih jauh, penelitian ini memperluas gagasan Khisbiyah dan Baidhawy . mengenai pentingnya interaksi lintas nilai dan identitas dalam pendidikan karakter. Dalam konteks digital, ruang virtual telah menjadi tempat utama terjadinya pertemuan antar-wacana yang kompleks. Muhammadiyah perlu hadir dalam ekosistem ini, tidak hanya sebagai pengisi konten formal, tetapi juga sebagai bagian dari budaya digital yang akrab dengan gaya hidup anak muda. Strategi dakwah dan pendidikan karakter harus memiliki daya tarik ideologis dan estetis agar mampu bersaing dengan arus budaya populer. Hal ini memerlukan keterlibatan tokoh muda Muhammadiyah, influencer Muslim, serta konten-konten yang menggabungkan kekuatan emosional dan kedalaman intelektual. Dari sudut pandang praktis, temuan ini mengusulkan pentingnya pengembangan model Youth Participatory Action Research (YPAR) dalam strategi pembinaan karakter Muhammadiyah. YPAR memberi ruang bagi generasi muda untuk terlibat secara aktif dalam perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi program pendidikan karakter, menjadikan mereka bukan sekadar objek, tetapi subjek pendidikan nilai. Implikasi teoretisnya, studi ini mendorong perluasan pendekatan naratif dalam riset pendidikan karakter untuk menangkap dimensi simbolik, emosional, dan sosial dari proses internalisasi nilai. Dengan demikian, studi lanjutan disarankan menggunakan pendekatan etnografi digital guna Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 400 of 401 menggali secara lebih komprehensif dinamika nilai dalam komunitas virtual Muhammadiyah yang kini menjadi ruang baru formasi identitas religius Generasi Z. KESIMPULAN Hasil penelitian ini mempertegas bahwa upaya revitalisasi peran Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dalam memperkuat karakter Generasi Z sangat ditentukan oleh kapasitas institusional untuk menyesuaikan diri dengan dinamika sosial dan kultural yang melekat pada generasi digital. Meskipun Muhammadiyah telah memiliki fondasi nilai yang kokoh dan konsisten dalam misi dakwahnya, temuan lapangan mengungkapkan bahwa masih terdapat tantangan dalam mentransmisikan nilai-nilai tersebut melalui narasi keagamaan yang komunikatif, relevan, dan mampu menjangkau dimensi afektif generasi Integrasi pendidikan karakter yang berbasis komunitas serta upaya mengaitkan nilainilai Islam dengan realitas digital menunjukkan efektivitas dalam membentuk kesadaran etis, spiritualitas kontekstual, dan rasa tanggung jawab sosial. Namun, tantangan masih muncul akibat kendala struktural dan pendekatan normatif yang belum sepenuhnya adaptif terhadap kebutuhan eksistensial peserta didik masa kini. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam perluasan pendekatan pendidikan karakter, dengan menekankan urgensi pengembangan model yang bersifat naratif dan partisipatif, terutama dalam konteks keagamaan. Temuan ini menambah perspektif baru dalam diskursus literatur pendidikan Islam dengan mengusulkan adanya rekonseptualisasi strategi dakwah dan pendidikan karakter di lingkungan Muhammadiyah yang lebih kontekstual, inklusif, dan dialogis dalam menjawab kompleksitas generasi Di sisi praktis, studi ini merekomendasikan pentingnya pembaruan kurikulum dakwah digital, pelibatan aktif generasi muda dalam proses perancangan program keagamaan, serta inovasi dalam metode penyampaian nilai yang berfokus pada dialog reflektif dan pengalaman langsung sebagai medium pembelajaran yang transformatif. Dari sudut pandang kebijakan kelembagaan, penelitian ini menyarankan agar institusi pendidikan Muhammadiyah menyusun pedoman transformasi pendidikan karakter yang secara sistematis mengintegrasikan elemen media digital, pengalaman komunitas, dan pelatihan dakwah berbasis kreativitas anak muda. Pedoman tersebut perlu dirancang dengan fleksibilitas tinggi agar mampu merespons keragaman profil Generasi Z, tanpa mengabaikan nilai-nilai dasar Islam berkemajuan yang menjadi fondasi ideologis Muhammadiyah. Untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat praktik, penelitian lanjutan disarankan menggunakan pendekatan etnografi digital atau studi kasus komparatif antar-wilayah untuk mengeksplorasi inovasi terbaik dari berbagai institusi Muhammadiyah dalam implementasi pendidikan karakter. Dengan pendekatan tersebut. Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk terus memainkan peran sentral sebagai agen perubahan yang mampu menawarkan model pendidikan karakter yang relevan, berkelanjutan, dan selaras dengan tantangan zaman. DAFTAR PUSTAKA