STUDI DESKRIPTIF TENTANG ALIH STATUS INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MENJADI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) IMAM BONJOL PADANG Reza Fahmi dan Prima Aswirna Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang Email: rfahmi870@gmail. com dan primaaswirna1971@yahoo. Abstrak: Penelitian ini bermula dari keberadaan IAIN Imam Bonjol Padang yang berkeinginan untuk melakukan AumetamorfosaAy menjadi UIN Imam Bonjol Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan Pengumpulan data menggunakan metode kuesioner dan Hasil penelitian mendapati adanya hubungan antara kekuatan - kelemahan dan peluang - tantangan. Peluang perlu diperluas melalui kebijakan yang mendukung alih status. Kelemahan perlu disikapi secara bijaksana untuk tidak terjadinya konflik. Peluang perlu ditingkatkan melalui berbagai kerjasama intra sektoral dengan Kementerian Agama, kerjasama ekstra sektoral dengan pemerintah daerah maupun lembaga donor. Tantangan perlu diubah menjadi pemicu atau motivasi untuk memajukan lembaga ini. Kata Kunci : Alih Status. IAIN. UIN dan SWOT Abstract: The research was from the existence of IAIN Imam Bonjol Padang which want to change to the status as UIN Imam Bonjol Padang. The research used quantitative research approach. The data collecting procedure was by questionaire and interview. The result of research found that there were correlation between strength-weakness and oppurtunity-threath. In this case, the oppurtunity should be wider to be wisdom which supported the status changing. The weakness should be prevented wisely in order to stop the conflicts. The oppurtunity should be increased through relationship with the religion ministry, extrasectoral relationship with local government or anothe private institution. Otherwise the challange which faced on the institution should be changed to motivate the institution to be better for the futur. Keywords: Status changing. IAIN. UIN and SWOT Pendahuluan Terdapat beberapa persoalan mendasar yang perlu diperhatikan untuk mewujudkan cita-cita tersebut, di antaranya: Pertama, mempersiapkan dana yang memadai, hal sedemikian merupakan persoalan fundamental untuk membangun lembaga keagamaan ini menjadi sebuah lembaga yang lebih besar. Oleh karenya perlu trobosan ke berbagai lembaga donor untuk membantu merealisasikan cita-cita Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang tersebut. Sebagai contoh: bagaimana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah yang ketika itu dipimpin oleh Azzumardi Azra menggandeng lembaga donor untuk merealisasikan perubahan IAIN Syarif Hidayatullah menjadi UIN Syarif Hidayatullah. Adapun lembaga donor yang dilibatkan adalah Islamic Development Bank (IDB) dan pemerintah Jepang untuk membangun Fakultas Kedokteran di UIN Syarif Hidayatullah. Dalam kegiatan AuRefresher ProgrammeAy (Program Peningkatan Kompetensi Dose. Tahun 2011 lalu, beliau menyatakan. AuPerlu adanya loby-loby kepada lembaga donor . pemerintah Jepan. merupakan persoalan mendasar untuk mendapatkan dana bantuan dalam mewujudkan Fakultas Kedokteran di UIN Syarif HidayatullahAy. Hingga kini, telah ada dua puluh orang lebih dosen dalam bidang kedokteran yang telah menamatkan pendidikan spesialisasi dan Program Doktorall di bidang yang sama. Kedua, mempersiapkan sumberdaya manusia yang memadai, persoalan merubah IAIN menjadi UIN juga perlu didukung oleh ketersediaan sumberdaya manusia . osen atau tenaga administras. Kemudian IAIN Imam Bonjol Padang bisa belajar dari apa yang telah dilakukan oleh UIN Malang. Secara khusus. Imam Suprayogo menggambarkan realitas perjuangan yang telah dilakukannya untuk merubah STAIN Malang menjadi UIN Malang. Di mana ketersediaan tenaga manusia yang terbatas ketika STAIN Malang akan dirubah menjadi UIN Malang diatasi dengan cara : . Meminta bantuan kepada Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) lain untuk AumembagiAy dosen-dosen yang tidak produktif dan pemalas untuk diberdayakan di UIN Malang. Kemudian mereka disekolahkan ke jenjang Starata 2 dan Strata 3 oleh UIN Malang. Mengontrak tenaga profesional, hal ini dimungkinkan karena kontribusi lembaga penelitian, yang memberikan 5 Ae 10 % dana penelitian yang diperoleh sebagai Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 sumbangan pada lembaga. Rektor tidak pernah mengambil tunjangan jabatan sebagai rektor dan sepenuhnya disumbangkan untuk pemberdayaan lembaga. Ketiga, mempersiapkan fasilitas penunjang pendidikan, perubahan IAIN menuju UIN tentunya membutuhkan prasarana penunjang fasilitas pendidikan. Oleh karenanya. IAIN Imam Bonjol Padang perlu merancang dan menginventarisir kebutuhan sarana dan prasarana penunjang pendidikan tersebut. Sehingga mahasiswa tidak hanya meningkat pengetahuan kognitifnya, namun berkembang pula aspek afektif dan psikomotoriknya. Keempat, memberdayakan lembaga penelitian, ketika IAIN Imam Bonjol Padang AubermetamorfosaAy menjadi UIN Imam Bonjol, maka dana penelitian yang dikelola tidak lagi hanya bersumber dari dana DIPA IAIN Imam Bonjol Padang yang sangat terbatas . anya sekitar 200 -300 juta pertahu. Kemudian UIN Imam Bonjol Padang juga dapat menggandeng lembaga penelitian luar negeri, seperti Ford Foundation dan Toyota Foundation yang memiliki backup dana penelitian luar biasa. Belum lagi berbagai penelitian di bidang sains yang dipatenkan, tentunya hal ini memberikan keuntungan Aulangsung atau tidak langsung bagi pengelolan lembagaAy. Kelima, mempersiapkan proses pengintegrasian ilmu umum dan agama dalam konteks aplikatif, sehingga forum-forum halaqah Ini bermakna bahwa mahasiswa yang mengkaji ilmu umum juga mengkaji ilmu alqurAoan dalam keseharian mereka. Keenam, menjadikan pelatihan sebagai tradisi, semua dosen dan karyawan dilibatkan dalam berbagai pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan mereka dalam berbagai Sehingga semua kalangan merasa terlibat dan merasa memiliki lembaga dan terhapus dikotomi pekerjaan: dosen lebih tinggi derajatnya dari karyawan atau pegawai dilingkungan kampus. Ketujuh, mengikis pemikiran segmental di lingkungan kampus, di mana secara faktual IAIN Imam Bonjol Padang memiliki tiga mainstreem kelompok ke-Islaman yang memiliki paradigma berbeda dalam memahami Islam. Sebut saja. Nahdlatul Ulama. Muhamadiyah dan Perti yang secara substantif mewarnai pola pikir anggotanya. Sehingga penghakisan pemikiran terkotak-kotak dalam kungkungan pemikiran sempit bisa dihindari. Hal ini telah dilakukan oleh UIN Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Malang, di mana pemikiran segmental tadi tidak lagi dipandang sebagai sebuah persoalan yang perlu diperdebatkan dalam kerangka pemikiran civitas akademika kampus. Fakta empiris yang dihadapi IAIN Imam Bonjol Padang dalam proses alih status menjadi UIN Imam Bonjol Padang adalah: kental sekali aroma pro-kontra tentang rencana perombakan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang juga terlihat berdasarkan data berikut: sebanyak 60 orang mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang dilibatkan untuk memperoleh gambaran tentang pandangan mereka tentang perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang. Hasil yang didapati menunjukkan bahwa 50 orang mahasiswa atau setara dengan . ,33%) menerima rencana perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang. Sedangkan 10 orang . etara dengan 16,67%) diantara keenampuluh mahasiswa yang dilibatkan dalam survey awal ini menolak perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang. Ini bermakna bahwa dukungan mahasiswa terhadap perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang tergolong besar atau tinggi. Disamping itu, berangkat dari studi pendahuluan ini diperoleh gambaran bahwa, pro-kontra perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang tidak saja melibatkan para tenaga pengajar . atau karyawan /pegawai semata. Namun juga telah menyentuh keberadaan mahasiswa sebagai bagian integral dari civitas akademika yang ada di lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri ini. Lebih jauh adapun masalah dalam penelitian ini adalah : AuApakah ada hubungan antara aspek . ekuatan dan kelemaha. eluang dan ancama. dalam perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang?Ay Signifikansi penelitian ini adalah: . Mengetahui . ekuatan dan kelemaha. yang dimiliki oleh lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam ini dalam menghadapi perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang? . Mengetahui . eluang dan ancama. dalam perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang? . Mengetahui hubungan antara . ekuatan dan kelemaha. elaung dan ancama. perubahan IAIN menjadi UIN Imam Bonjol Padang? Untuk lebih mudah memahami penelitian ini maka, gambaran kerangka teori dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 IAIN Kekuatan (Strangt. : . Kualitas tenaga pengajar profesional . Fasilitas . uang kuliah, ruang dosen, asrama, sarana olah raga, perpustakaan. fakultas dan jurusan dan . Kewenangan. Kelemahan (Weaknes. : . Kinerja dosen dan . Sumbe rdaya manusia belum . Masih pengajar untuk disiplin Ilmu. Umum. Terbatasnya Komitmen. Peluang . : . Masih banyaknya tanaga pendidik yang pendidikan (S-. di tinggi di tanah air . Adanya bantuan atau dana hibah penelitian yang . Kerjasama lembagalembaga di bawah Kementerian Agama Republik Indonesia. Kerjasama dengan lembaga asing atau lintas kementerian (Kemendikbud. Lipi. LSM. Ikatan Profesi dan sebagainy. SWOT Ancaman (Challange. Terbatasnya . osen dan karyawa. Disharmoni dalam pengembangan . pakah Ilmu Umum diutamakan atau Ilmu Agam. Kecemburuan sebagai akibat besaran pengembangan lembaga yang tak berimbang (Ilmu Umum dan Ilmu Agam. Tidak Ilmu Umum dan Ilmu Agama UIN IMAM BONJOL PADANG Gambar 1 : Kerangka Teori Penelitian Metode Penelitian Model rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Adapun yang dimaksudkan dengan metode kuantitatif disini adalah metode yang bersifat realitas . apat Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 diklasifikasikan, komkrit, teramati dan teruku. Kemudian dari aspek hubungan antara peneliti dan objek penelitian bersifat independen . supaya terbangun objektivitas. Lalu cenderung menunjukkan sebab Ae akibat. Seterusnya memiliki kecenderungan membuat Manakala dari sudut pandang nilai, maka cenderung bebas nilai1. Kemudian lokasi penelitian adalah IAIN Imam Bonjol Padang, yang terdiri dari lima fakultas, antara lain : Fakultas Ushuluddin (FU). Fakultas Dakwah (FD). Fakultas Tarbiyah (FT). Fakultas Adab (FA) dan Fakultas Syariah (FS). Disamping itu juga melibatkan karyawan dan mahasiswa dilingkungan IAIN Imam Bonjol Padang. Selanjutnya populasi dalam penelitian ini adalah seluruh civitas akademika IAIN Imam Bonjol Padang sebanyak 6825 orang2. Sungguhpun demikian sampel dalam penelitian ini sebanyak 682 Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini meliputi dosen atau tenaga pendidik, karyawan dan juga pegawai dilingkungan IAIN Imam Bonjol Padang. Adapun teknik penarikan sampel yang digunakan adalah probability random sampling3. imple random samplin. Adapun metode pengambilan sampel acak sederhana . imple random samplin. yang dipilih dengan mengundi unsure-unsur penelitian atau satuan-satuan elementer dalam populasi. Hal sedemikian dipilih mengingat unit elementer . nit penelitia. telah tersusun dalam kerangka sampling . ampling fram. berupa daftar hadir mahasiswa, daftar hadir karyawan dan daftar hadir dosen atau tenaga pendidik. Kemudian dari kerangka samping ditarik sebagai sampel beberapa unsur atau satuan yang akan diteliti. Selanjutnya sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa, dosen dan karyawan dilingkungan IAIN Imam Bonjol Padang. 1Sugiyono. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kualitatif dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2. , hlm. 2Sirajuddin Zar. Berpikir Kedepan (Padang: IAIN Imam Bonjol Press, 2. , hlm. 3Probality sampling adalah tekhnik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur . untuk menjadi anggota sampel. Lebih spesifikasi dari tekhnik ini yaitu Proportionet Stratified Random Sampling yang digunakan apabila populasi mempunyai anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Berikutnya, terdapat tiga bentuk teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, antara lain: . Observasi langsung,4 yaitu mengumpulkan data melalui pengamatan langsung , . angket atau keusioner,5 yaitu menyusun daftar pertanyaan yang diajukan kepada para mahasiswa yang dilibatkan sebagai responden dalam penyelidikan ini. Dokumentasi,6 yaitu mengkaji bahanAebahan penyelidikan terdahulu dalam bentuk buku, jurnal atau karya ilmiah lain yang dapat menunjang proses penyelidikan. Penelitian ini menggunakan kuesioner atau angket yang dibuat sendiri oleh Kemudian sebelum kuesioner tersebut digunakan oleh penyelidik maka, terlebih dahulu diadakan uji validas dan realibilitas alat ukur penelitian, agar hasil yang diperoleh dapat mengukur apa yang hendak diukur dalam penelitian ini dengan baik dan benar. Satu set kuesioner yang telah digunakan dalam penyelidikan ini untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Kuesioner yang digunakan adalah dalam bentuk skala likert lima mata yaitu dari selalu, sering, kadang-kadang, pernah dan tidak pernah. Sedangkan pada bagian identitas responden pertanyaan berkisar biodata responden. Adapun cara penilaian terhadap kuesioner didasarkan pada bentuk item pertanyaan yang diajukan. Apakah item pertanyaan yang diajukan bersifat positif atau item pertanyaan yang diajukan bersifat Pada tabel berikut ini akan ditunjukkan tata cara penilaian berdasarkan item pertanyaan yang bersifat positif dan negatif: 4Observasi langsung yang dilakukan tidak hanya melahirkan pengamatan empiris semata, namun juga catatan lapangan yang sangat diperlukan untuk melengkapi hasil pengumpulan data melalui pengamatan langsung yang bersifat empiris tadi. 5Kuesioner yang diajukan berkaitan erat dengan variabel penelitian. 6Menurut teknik pemeriksaan dokumen adalah pengumpulan informasi dan data secara langsung sebagai hasil pengumpulan sendiri. Data yang dikumpulkan tersebut bersifat orisinil untuk dapat dipergunakan secara langsung. Teknik pemeriksaan dokumen ini khusus digunakan untuk melakukan pengumpulan data terhadap prestasi belajar. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Tabel 1. Tata Cara Penilaian Item Pernyataan Item Positif Selalu Sering Kadang-Kadang Pernah Tidak Pernah Skor Item Negatif Selalu Sering Kadang-Kadang Pernah Tidak Pernah Skor Menurut Black dan Champion, terdapat dua aspek penting bagi sebuah alat ukur penelitian adalah: . aspek validitas alat ukur penelitian, . aspek relialibilitas alat ukur penyelidikan7. Selanjutnya Kerlinger menyatakan pula bahwa. AyReliabilitas adalah keajegan hasil yang diperoleh dari alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Sehingga apabila dilakukan ujian yang sama akan menghasilkan temuan yang konsisten pada masa yang berlainan. Reliabilitas untuk pengujian alat ukur adalah dengan menggunakan CronbachAos Alpha yang memberikan petunjuk kepada derajat reliabilitas suatu pengujian yang dijalankan menurut CronbachAos Alpha. 8 Kaedah CronbachAos Alpha sesuai untuk digunakan untuk mengukur reliabilitas bagi itemitem yang menggunakan skala likert. Oleh karenanya penyelidik menggunakan kaedah CronbachAos Alpha untuk mengkaji aspek reliabilitas alat ukur hubungan antara rata-rataat, motivasi terhadap hasil evaluasi belajar siswa, mengingat item pertanyaan yang diajukan berbentuk skala likert Hasil pengujian reliabilitas alat ukur penelitian mendapati nilai alpha pada masing-masing item pertanyaan adalah 0,929. Manakala reliabilitas alat ukur merujuk kepada konsistensi nilainilai yang diperoleh oleh seorang responden penelitian yang sama pada waktu dan keadaan pengujian yang berbeda. Sedangkan Kaplan9 menyatakan bahwa nilai alpha yang baik pada pengujian reliabilitas Sehingga dapat disimpulkan bahwa alat ukur yang 7Sutarto Wijono. Metodologi Penelitian (Salatiga : UKSW 1. , hlm. Anastasi. The Principles of Measurement (New York: Prentice Hall, 2. , hlm 27. 9Ibid. , hlm. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 digunakan dalam penelitian ini tergolong baik. Artinya alat ukur yang digunakan ini dapat dan layak untuk digunakan dalam penyelidikan. Seterusnya, penelitian ini direncanakan berjalan selama lebih kurang tiga bulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan Sebelum kuesioner diberikan kepada responden, maka dijelaskan terlebih dahulu tujuan penelitian ini kepada mereka. Selanjutnya responden diminta untuk menjawab 50 item pernyataan dalam jangka waktu lebih kurang 30 menit. Setelah responden menyerahkan hasil jawaban terhadap kuesioner yang diajukan maka, langkah selanjutnya adalah pengecekan ulang terhadap semua jawaban yang diberikan, serta mengkonfirmasi jawaban yang dirasakan masih terdapat berbagai informasi yang belum tergali dari proses pengumpulan data yang menggunakan kuesioner itu. Data yang dihimpun pada hari biasa . enin hingga jumAoa. Apabila data dikumpulkan pada hari biasa maka, waktu pengambilan data adalah antara jam 07. 30 sampai dengan jam 15. Paket statistik yang digunakan sebagai alat bantu penganalisaan data adalah Statistical Package for the Social Sciences (SPSS Versi . Data yang tidak menepati jawaban dan tidak lengkap dianggap tidak valid dan tidak diproses lebih lanjut. Teknik analisa pearson correlation digunakan untuk melihat hubungan di antara masing-masing Hasil Penelitian dan Pembahasan Uraian Tentang Karakteristik Responden Pada bagian ini akan dijelaskan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, . aki-laki dan perempua. Adapun berdasarkan jenis kelamin responden yang terlibat dalam penelitian ini tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu saja . aki-laki atau perempuan semat. Artinya mahasiswa yang terlibat dalam penelitian ini adalah berasal dari kedua kategori jenis kelamin tersebut, baik laki-laki dan perempaun. Sementara bila ditinjau secara keseluruhan maka, jemlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 321 orang atau setara dengan empat puluh tujuh koma nol tujuh persen . ,07%). Sedangkan responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 361 orang atau sama dengan lima puluh dua Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 koma sembilan tiga persen . ,93%). Lebih lanjut Tabel 1. 2 di bawah ini menjelaskan karakteristik responden menurut jenis kelamin: Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Jumlah Jumlah Persentase 47,07 52,93 Berdasarkan data pada Tabel 1. 2 di atas diperoleh gambaran bahwa sebagian besar responden dalam penyelidikan ini adalah berjenis kelamin perempuan. Selanjutnya pada karakteristik pendidikan terakhir responden diperoleh gambaran bahwa, sebagian besar responden, yaitu sebanyak 320 orang . ,92%) adalah Sekolah Menengah Atas (SMA/MAN/MAS). Kemudian responden yang berpendidikan sarjana sebanyak 117 . ,16%) Selanjutnya responden yang berpendidikan magister sebanyak 189 orang . ,71%). Manakala responden yang berpendidikan doktor sebanyak 56 orang . ,21%). Pada tabel di bawah ini dipaparkan karakteristik responden menurut rentang pendidikan terakhir mereka: Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir Mereka Pendidikan Terakhir SMA/MA Sarjana (S-. Magister (S-. Doktor (S-. Total Jumlah Persentase 46,92 17,16 27,71 8,21 Berdasarkan data pada Tabel 1. 3 di atas diperoleh gambaran bahwa, secara umum responden dalam penelitian ini adalah kelompok individu yang memiliki tingkat pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah. Hanya sebagian kecil responden berpendidikan teakhir Doktor. Pada dimensi karakteristik responden berdasarkan aspek status maka, diperoleh gambaran Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 bahwa sebagian besar responden berstatus mahasiswa sebanyak 480 orang . ,38%). Sedangkan responden yang berstatus karyawan sebanyak 101 orang atau setara dengan . ,81%). Sedangkan responden yang bestatus dosen sebanyak 101 orang . ,81%). Secara rinci, pada tabel di bawah ini diuraikan karakteristik responden berdasarkan status: Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan Orang Tua Karakteristik Jenis Responden Mahasiswa Dosen Karyawan Jumlah Jumlah Persentase 70,38 14,81 14,81 Hasil Analisa Kuantatif Uji Korelasi Uji korelasi pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara aspek kekuatan dengan aspek kelemahan. Pengujian ini digunakan untuk membuktikan ada atau tidak ada hubungan antara dua variabel tersebut. Uji hipotesis dengan menggunakan analisis korelasi Product Moment. Hasil dari uji korelasi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Hasil Korelasi Kedua Variabel Kekuatan Kelemahan Pearson Correlation Sig. -taile. Pearson Correlation Sig. -taile. Kekuatan 871(**) Kelemahan 871(**) Berdasarkan tabel di atas diperoleh data mengenai aspek kekuatan dengan aspek kelemahan yang dianalisis korelasi dengan menggunakan product moment dan dibantu dengan program SPSS Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 0 for windows. Dan diperoleh nilai adalah 0,871 sementara 0,352. Dikutip dari Hartono10 bahwa, jika maka Ha maka Ho diterima Ha ditolak. Dari uji diterima Ho ditolak, dan jika korelasi penelitian, > berarti 0,871 > 0,352. Artinya. Ha diterima Ho ditolak berarti ada hubungan antara aspek kekuatan dengan aspek Kemudian berdasarkan tabel 4. 4 juga didapati bahwa hasil analisis signifikansi mendapati nilai Sig. -taile. 0,000 dengan taraf signifikansi 5 % . atau 0,000 < 0,05. Artinya, hubungan antara kedua variabel bersifat signifikan. Selanjutnya pada uji korelasi dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara aspek peluang dengan aspek Pengujian ini digunakan untuk membuktikan ada atau tidak ada hubungan antara dua variabel tersebut. Uji hipotesis dengan menggunakan analisis korelasi Product Moment. Hasil dari uji korelasi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Hasil Korelasi Kedua Variabel Peluang Peluang Tantangan 962(**) Pearson Correlation 1 Sig. -taile. Tantangan Pearson Correlation . 962(**) Sig. -taile. ** Correlation is significant at the 0. 01 level . -taile. Berdasarkan Tabel 1. 6, di atas diperoleh data mengenai aspek peluang dengan aspek tantangan yang di analisis korelasi dengan menggunakan product moment dan dibantu dengan program SPSS 0 for windows. Dan diperoleh nilai adalah 0,962 sementara 0,372. Dikutip dari Hartono11 bahwa, jika maka Ha maka Ho diterima Ha ditolak. Dari uji diterima Ho ditolak, dan jika 10Hartono. Statistik Untuk Penelitian (Pekanbaru: LSFKP, 2. , hlm. 11Ibid. , hlm 40. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 korelasi penelitian, > berarti 0,962 > 0,372. Artinya. Ha diterima Ho ditolak berarti ada hubungan antara aspek peluang dengan aspek Kemudian berdasarkan tabel 4. 5 juga didapati bahwa hasil analisis signifikansi mendapati nilai Sig. -taile. 0,000 dengan taraf signifikansi 5 % . atau 0,000 < 0,05. Artinya, hubungan antara kedua variabel bersifat signifikan. Pembahasan Hasil penelitian ini menyisakan dualisme pandangan yang bertentangan tentang urgensi alih status Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Selanjutnya di bawah ini akan dipaparkan kedua pandangan yang saling bertolak belakang tersebut. Polemik alih status Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN-IB) Padang telah bergulir sedemikian kencang. Bahkan telah melibatkan berbagai opini alumni yang nota bene tidak memahami secara substantif persoalan alih status tersebut secara komprehensif. Sehingga dengan pemahaman yang minim dan tidak menye-luruh tadi maka, seolah-olah perubahan alih status lem-baga pendidikan tinggi ke-Islaman di Sumatera Barat ini di pandang sempit : proyek dan bisnis semata, akan memarjinalkan pengembangan ilmu-ilmu ke-Islaman, hanya persoalan pragmatis dan Sedangkan pada sudut pandang kontra lain ianya diasumsikan sebagai syahwat . aca: nafs. yang tidak Pandangan di atas me-wakili penolakan sebagian kecil kelompok warga yang ada ditengah-tengah masya-rakat. Hal ini adalah wajar karena, tidak ada perubahan yang tidak akan ditentang karena orang sudah merasa dalam zona nyaman . em-pertahankan status qu. Dalam tulisan ini saya ingin memberikan sudut pandang lain tentang perubahan alih status Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang menjadi Universitas Islam negeri Imam Bonjol (UIN-IB) Padang. Adapun argumentasinya antara lain: Pertama, kita sering terjebak dan bahkan masuk dalam arus putaran dikotomi ilmu. Di mana kita memandang ilmu umum dan ilmu agama Sehingga warisan sekularisme tersebut telah Aumendarah dagingAy dalam pola pikir sebagaian anggota masyarakat umum dan juga sebagian kecil pakar ilmu ke-Islaman. Padahal sesungguhnya Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Islam memandang ilmu itu adalah satu dan tidak pernah terpisahkan. ilmu umum terintegrasi de-ngan ilmu ke-Islaman. Sehingga apa yang digagas oleh Ismail Al Farouqi tentang integrasi ilmu ke-Islaman dan Ilmu umum perlu diperjuangkan. Artinya ilmu ke-Islaman akan menjelma dalam pengembangan ilmu umum dan pada sisi lain ilmu umum merujuk pada ilmu ke-Islaman. Ini bermakna bahwa apa yang diperbuat oleh kaum ilmuan yang mengusai ilmu umum selalunya berdasarkan etika ke-Islaman yang bertujuan bagi kemaslahatan umat Sementara sarjana ilmu-keIslaman selalu membaharui ke-Islamannya pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat selaras pengembangan ilmu umum. Kedua, pandangan skeptis dan apriori terhadap pengintegrasian ilmu tersebut, iro-ninya lebih banyak diperjuangkan oleh orang-orang yang konon memperjuangkan Islam. Kemudian mereka memandang persoalan integrasi ilmu ke-Islaman dan ilmu umum berdasarkan perspektif hitam-putih. Dimana pengintegrasian ilmu tersebut sama dengan mencampur Aubarang yang haram dan barang yang halalAy. Sehingga seolah-olah keduanya merupakan dua sudut pan-dang yang berdepan dan saling bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Meminjam istilah Samuel P Huntington AuClash of Ci-vilizationAy (Benturan peradaban Islam dan Bara. Sehubungan dengan alih status Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN-IB) Padang merupakan bentuk yang konkrit tentang perjuangan pengintegrasian ilmu ke-Islaman dengan ilmu umum. Makna pengintegrasian keilmuan tersebut sesungguhnya tidak tepat. Namun istilah yang lebih sesuai adalah tranformasi. Makna tranformasi dipandang sesuai mengingat ilmu ke-Islaman bertransformasi dengan ilmu umum dengan terus mengkaji ilmu keIslaman dan tidak mengabaikan kemajuan dan perkembangan teknologi dan pengetahuan. Sehingga perbincangan kajian keIs-laman selalunya bersifat kontemporer . Selanjutnya dalam sudut pandang lain, transformasi ilmu umum dengan ilmu ke-Islaman justru akan memperkaya etika dan menambah tebal keimanan dari ilmuan tadi bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 membutuhkan etika yang mengikat ilmu umum tersebut pada nilai, norma yang ter-tanam dalam ajaran Islam. Wacana tentang penggunaan istilah AukonversiAy institut Agama Islam Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang men-jadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (UIN-IB) adalah sangat keliru. Istilah konversi berasal dari bahasa asing (Bahasa Inggri. yang asal katanya adalah Auto convertAy. Dimana penggunaan istilah Auto convertAy ini kalau kita rujuk pada kamus Webster, maka bermakna perubahan yang menekankan pada aspek keyakinan atau agama. Dalam pengalih statusan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN-IB) Padang tidak pernah terbersit sedikitpun ingin melakukan perubahan aqidah Islam, artinya menukar agama yang melekat pada nama lembaga tersebut. Perubahan status kelembagaan (IAINIB menjadi UINIB) hendaknya perlu disikapi dengan kepala dingin dan jangan ditunjukkan dengan Auseperti orang yang kebakaran jenggotAy. Bahkan seolah-olah dunia akan runtuh atau kiamat. Namun perlu dipandang sebagai kemajuan yang progresif dalam proses tranformasi ilmu ke-Islaman dan ilmu Dukung pengalihan status ini sebagai kebijakan yang akan menguntungkan banyak pihak termasuk masyarakat Balai Gadang . empat kampus baru UINIB akan didirika. , karena daerah tersebut juga merupakan salah satu kawasan Inpres Desa Tertinggal (IDT). Akhirnya apa yang ingin digaris bawahi dalam tulisan ini adalah bahwa semangat pengalih statusan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN-IB) Padang merupakan bukti tranformasi ilmu umum dan ilmu ke-Islaman. Transformasi tersebut diharapkan menjadi cikal bakal perubahan menuju masa depan yang lebih cerah (Bright to the Futur. Yakni kemaslahatan dan bukan kemudharatan bagi masyarakat kampus . ivitas akademik. namun juga ma-syarakat Sumbar dan In-donesia umumnya. Selanjutnya buka mata dan hati untuk melihat perubahan, karena tidak semua perubahan harus diartikan kehancuran. Namun ianya juga bermakna kema-juan yang menguntungkan Islam, bangsa dan negara serta mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan ma-nusia itu sendiri. Kalaupun isu penolakan dan penentangan pangalih statusan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Sumbar ini harus disikapi Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 dengan arif dan bijaksana, dengan memandangnya se-bagai ma-sukan untuk perbaikan perubahan yang akan dijalankan. Pada masa yang sama perlu diatur strategi yang matang untuk mewujudkan pengalih statusran Institut Agama Islam negeri Imam Bonjol (IAINIB) Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UINIB) Padang karena akan penuh onak dan duri yang meng-hadang dan menentang seba-gai konsekuensi dari tindakan yang dijalankan. AuTidak ada yang tidak mungkin di duniaAy dan AuSiapa yang ber-sungguh-sungguh maka, dia akan berhasilAy. Pada pandangan lain yang berbeda menjelaskan bahwa. Pada sebuah iven nasional yang bertajuk AuMenelisik Masa Depan Pendidikan Agama Islam dan Ilmu-ilmu ke-IslamanAy, seorang teman dosen dari UIN Ciputat, . ulu bernama IAIN Syarif Hidayatulla. , yang sejaringan dengan penulis, dengan bahasa satir menohok langsung pada Profesor Azyumardi Azra dan Profesor Komarudin Hidayat termasuk Profesor Amin Abdullah, ia menyatakan: AuSalah satu prestasi dari para profesor tersebut di atas adalah keberhasilannya menghancurkan sistem pendidikan Islam melalui konversi IAIN menjadi UINAy. Kalimat satir yang disampaikan oleh teman di atas, suatu kali saya pinjam untuk memulai posting pada sebuah groups akun facebook uji coba yang diberi nama AuGerakan Melawan Konversi IAIN Menjadi UINAy dalam kasus IAIN Imam Bonjol. Tanggapan pertama datang dari seorang temen senior dosen IAIN Imam Bonjol yang saat ini sedang menyelesaikan program Ph. di negeri Aumantan penjajahAy. Belanda, menyatakan Auorang yang menolak konversi adalah orang yang tidak memahami perubahanAy. Spontan tanggapan dimaksud mendapat jempol dari beberapa dosen IAIN sendiri, termasuk fakultas tempat penulis nyantri. Tentu saja penulis terkejut membaca tanggapan spontanitas tersebut. Penulis menduga bahwa teman senior dimaksud sedang tidak fokus, bingung atau malah sedang mabuk menghadapi tumpukan tugas studi di negara para AuLondhoAy itu. Seakan tidak percaya kenapa kalimat itu bisa muncul dari seorang kandidat doktor yang seharusnya bersikap kritis atas perubahan yang ia maksudkan sendiri. 12Saiful Islam. AuUIN-IB. Bright to the Future,Ay Harian Haluan, 21 Mei 2012. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Penulis bukanlah seorang konservatif yang anti perubahan adalah sebuah pemahaman umum bahwa kehidupan adalah perubahan itu sendiri atau yang dalam bahasa Adonis disebut sebagai almutahawwil/al-mutaghayir. Dalam banyak kasus, penulis adalah orang yang sangat akomodatif atas banyak hal yang berubah. Sebab tiada yang tidak berubah di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri. Bahkan dalam hal perubahan penulis termasuk kelompok liberal dalam pengertian liberasi. Namun masih ada kalangan yang mempertanyakan Apakah konversi IAIN menjadi UIN yang dianggap sebagai respons positif atas perubahan akan mengandung banyak manfaat? Atau janganjangan justru setumpuk mudlarat yang akan dituai oleh anak cucu sebuah ranah yang begitu fasih menyebut adagium AuAdat basandi syaraAo syaraAobasandi KitabullahAy ini?Jika ditelisik dari geneologinya, bahwa AusyahwatAy yang sedemikian membuncah untuk sebuah perjuangan bernama AukonversiAy, tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah tuntutan memenuhi selera pasar dalam bingkai liberalisme IAIN akan sedemikian rupa dipermak dan dipoles menjadi Ausuper marketAy atau bahkan mall bagi berlalu lalangnya kapitalisme pendidikan bahkan para broker untuk sekadar mengeruk saku para konsumen pendidikan dengan embel-embel serba syariAoah atau embel-embel Islami. Antara lain berbankkan Islam, ekonomi syariAoah, kedokteran Islam, konseling Islam, jurnalis Islami dan Sekaitan dengan beberapa dampak sebagaimana tersebut di atas, beberapa kenyataan yang sungguh mengkhawatirkan antara lain: pertama, bahwa konsumen pasar pendidikan lebih akan melirik dan tertarik memasuki jurusan yang memungkinkan terbukanya lapangan kerja, sebab sistem pendidikan kita pada umumnya baru sekadar mampu menciptakan pencari kerja . ob seeke. dan atau akan menjadi Auskrup-skrupAy pembangunan. Sementara itu, sarana dan prasarana maupun sumber daya insani di IAIN Imam Bonjol masih amat sangat tidak memadai. Jangan-jangan ia justru akan menjadi AuriolAy tempat pembuangan orang-orang baik calon peserta didiknya maupun tenaga didiknya. Kedua, bahwa yang amat sangat memprihatinkan sekaitan dengan poin pertama adalah bahwa jurusan-jurusan yang akan memelihara khasanah intelektualisme Islam akan semakin termarjinalkan, orang tidak lagi tertarik memilih Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 akidah filsafat, ilmu tafsir termasuk Auulym al-QurAoynAy dan tafsir hadits, sejarah peradaban Islam, ushul fiqh dan sebagainya, maka selain tantangan siapa yang kelak akan Auber-tafaqquh fy al-dynAy atau bersungguh-sungguh untuk berijtihad atau ber- bazl al-juhd fy thalab aldalyl, . ersungguh-sungguh mengelurkan kemampuan untuk menganalisis dali. atau ber- Aubazl al-juhd fy thalab ilm fy ulym al-IslymAy . ersungguh-sungguh mengerahkan kemampuan untuk mengkaji ilmu-ilmu ke-Islama. alias bukan sekeder melabeli dengan kata Islami. Bahkan siapa yang akan melakukan riset dan analisis kritis terhadap sumber-sumber otentik ke-Islaman atau yang dalam istilah ushul fiqh sebagai Aubazl al-nazar wa al-juhd al-qyrihahAy, yang di dalamnya disandarkan al-ilm ily al-matn atau ily al-qydhihal fy almatn . nalisis kritis konten atas sumber-sumber otenti. Jika ramalan penulis menjadi kenyataan, pertanyaannya adalah Ausarjana Islam macam apa yang akan dilahirkan oleh UIN atau mantan IAIN, itu? Sebab IAIN dengan segala karakternya saja belum mampu melahirkan pemikir dan generasi kritis, apatah lagi hanya belajar ilmu-ilmu instan yang dilabeli syariAoah. Jangan-jangan IAIN yang dikonversi menjadi UIN sekedar korban Augigitan vampir kapitalisme pendidikanAy sehingga pendidikan Islam pun tidak luput dari proyek komersialisasi. Akhirnya, masih adakah sisa-sisa sumber daya dari IAIN yang mampu Aubertafaqquh fy al-dynAy menjadikan IAIN dengan kajian ke-Islaman lebih mendalam dan substantif namun tetap segar, harum dan seksi, sehingga banyak syahwat meminatinya tanpa harus berkonversi. Jika persoalannya pada biaya, bukankah cukup banyak dana umat yang selama ini menguap untuk sedekah fisik masjid, atau kunjungan tanah suci berkali-kali sehingga tidak cukup fokus untuk memelihara substansi Islam, yang seharusnya menjadi kajian insan IAIN sendiri?. Kalau orang-orang muda dan dosen muda IAIN hanya menjadi generasi yang oleh ushul fiqh disebut mengikuti tanpa reserve . abl al-qawl bily hujja. Ay. Maka bersiap-siaplah disiplin ilmu tua diparkir dan dosennya non job atau sekadar memaksakan diri mencari-cari dalil kemudian dicicok-cocokkan dengan alasan Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Islamisasi ilmu, itulah yang dalam bahasa Jawa disebut Auotak atik madthukAy. Allah aAolam bi al-shawyb. Seterusnya, ada yang berpandangan bahwa dukungan yang padu baik bersifat internal dan eksternal terhadap pe-rubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang men-jadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN-IB) Padang, merupakan modal dasar bagi pengembangan lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Sumatera Barat ini. Sungguh pun demikian perubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang di pandang sebagai tuntutan mendesak yang realistik dan empiris. Terdapat beberapa pertimbangan yang mendasari tuntutan perubahan tersebut, diantaranya. Telaah filosofis keilmuan. Analisa politis dan kebijakan. Kondisi ekonomi, sosial budaya dan psikologis Ranah Minang (Sumatera Bara. Kebutuhan publik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, peru-bahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bon--jol (IAIN-IB) menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (UINIB) menjadi sebuah persoalan fundamental yang perlu disegerakan realisasinya. Keberadaan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang dalam ranah budaya Minagkabau tidak terlepas dari filosofi Adaik Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah (Adat Berdasarkan Syariat dan Syariat Berdasarkan Al QurAoan dan Hadis. Sehingga nilai-nilai ke-Islaman disatu pihak menjadi akar bagi pengembangan ilmu-ilmu yang berada di bawah naungan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri ini. Dilain pihak budaya Minang yang memperjuangkan ega-lita-riansme . , kewirausahaan, kemandirian dan kepedulian sosial juga terintegrasi dalam nilai-nilai yang dikembangkan di Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Pa-dang. Perubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang (IAINIB) menjadi Universitas Negeri Imam Bonjol Padang tentunya tidak akan menghakis keberadaan nilai filosofis tadi, namun justru akan lebih memperteguh dan memperkuat kesinambungan Islam dan 13Sudarto. AuAda Apa Dibalik Konversi IAIN Menjadi UIN,Ay Harian Haluan, 26 April Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Budaya yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat Minagkabau. Berdasarkan tinjauan filosofis ilmu ke-Islaman yang komprehensif mengkaji pengetahuan maka, eksistensi ilmu-ilmu umum (Psikologi. Sosiologi. Teknik. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fisika. Kimia. Biologi. Matematik dan sebagainy. juga merupakan bagian integral dalam pengembangan ilmu ke-Islaman itu sendiri. Sungguhpun demikian kehadiran kajian ilmu-ilmu umum tadi dalam konteks keilmuan keIslaman tidak untuk menggugat dan memarjinalkan ilmu-ilmu keIslaman, namun justru memperkaya pengetahuan secara lebih konkrit dan bersifat kontemporer. Sehingga tantangan pengintegrasian ilmuilmu umum dan ilmu ke-Islaman merupakan persoalan mendasar yang masih mengundang kritik dan perdebatan. Mengingat epistemologi pemisahan ilmu-ilmu umum dan ilmu ke-Islaman telah Aumendarah-dagingAy dalam pola pikir sebagaian pakar dan pemerhati serta praktisi pendidikan. Oleh karenanya, persoalan epistemologi pemisahan ilmu-ilmu umu dan ilmu ke-Islaman masih lagi di-pandang sebagai batu sandungan pengintegrasian ilmu-ilmu umum dan ilmu ke-Islaman keduanya secara utuh dan menyeluruh. Fenomena pemisahan ilmu-ilmu umum dan ilmu ke-Islaman telah berlangsung lama dan telah menjadi kondisi umum dilingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Walau bagaimanapun apa yang ingin dilaksanakan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang adalah trasformasi ilmu-ilmu ke-Islaman dan ilmu-ilmu umum. Sehingga keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan dan memberi kemaslahatan bagi umat manusia. Untuk menjebatani persoalan ini maka, proses transformasi Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang menjadi Universitas Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang perlu diimplementasikan melalui beberapa langkah, diantaranya: Pertama, mempertahankan kelembagaan IAIN dengan mandat formalnya sekarang, yakni dalam bidang ilmu agama, tetapi tetap mengupayakan pencapaian substansi yang berada di balik gagasan pembentukan UIN, misalnya, reapproachement antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum, dan agar kajian-kajian keilmuan di IAIN lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman. Akan tetapi jelas bahwa IAIN dengan mandat terbatas seperti ini, bukan hanya tidak selaras dengan Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 paradigma baru Perguruan Tinggi, tetapi juga akan membuat IAIN sulit untuk merespon berbagai perubahan dan perkembangan masyarakat baik pada tingkat lokal, regional maupun global. Kebijakan pemerintah yang memberikan peluang seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memperoleh pendidikan pada semua jenjang pendidikan berdampak pada peningkatan jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan, utamanya dari jenjang Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah dari tahun ke tahun di Sumatera Barat. Sehingga pembentukan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (UINIB) akan memberikan alternatif kesempatan pada lulusan sekolah menengah tadi dalam mempersiapkan diri mereka untuk menjadi sarjana yang berguna bagi Agama. Bangsa dan Negara. Dalam dimensi sosiologis, realitas empirik memperlihatkan bahwa IAIN Imam Bonjol Padang merupakan salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri pembina di kawasan Sumatera. Sehingga Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri ini memiliki sejarah panjang tentang keberadaannya dalam dunia pendidikan ke-Islaman di Ranah Minang. Interaksi yang intens telah dibangun dan dikembangkan oleh Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang dengan berbagai institusi ke-Islaman lain yang bersifat formal dan non formal. Dengan demikian secara psikologis telah terbina hubungan emosional yang erat di antara lembaga-lembaga ke-Islaman yang bergerak di bidang pendidikan, baik formal atau non formal dengan IAIN Imam Bonjol Padang. Institut Agama Islam Negeri Imam Bon-jol Pa-dang (IAIN-IB) telah membeli sebidang tanah yang luasnya 63 hektar di kawasan Balai Gadang. Koto Tangah Padang, untuk merealisasikan rencana pembangunan kampus baru yang bernama Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (UINIB). Pembelian tanah tersebut akan ditambah menjadi 150 hektar, dengan asumsi bahwa jumlah tanah yang ada tersebut tidak saja berisikan gedung ruang kuliah dan fasilitas pembelajaran lain semata. Namun juga disertai oleh asrama kampus yang dapat menampung ribuan mahasiswa yang akan belajar di Universitas Islam Negeri imam Bonjol (UINIB) Padang. Seterusnya Tim Islamic Development Bank (IDB) telah meninjau langsung ke lapangan untuk memastikan kemungkinan dibangunnya kampus baru Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Selain itu. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 Menteri Agama dan Sekjen Kemenag selaku pimpinan tertinggi dan tinggi di jajaran Kementerian Agama juga telah melakukan tinjauan ke tanah kampus Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang untuk menelaah kemungkinan lokasi pembangunan kampus baru Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN-IB) padang. Berpedoman pada berbagai pertimbangan di atas diharapkan mampu memberikan penjelasan tentang berbagai faktor internal dan eksternal yang mendukung perubahan Institut agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) menjadi Universitas Islam negeri Imam Bonjol (UINIB) Harapan ini tentunya bukan hanya dimiliki oleh civitas akademika Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang saja, tetapi juga keinginan Ninik Mamak. Cadiak Pandai dan tokoh tiga tungku sajarangan dan masyarakat Sumbar pada umumnya. Kemudian realisasi perubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UINIB) Padang ini diharapkan mampu mewujudkan aspirasi masyarakat Minangkabau yang berfilosofi Islam sebagai landasan Ideal dan Budaya sebagai landasan Real bagi pembangunan ma-nusia seutuhnya yang mengakar pada jati diri dan karakter masya-rakat Minagkabau yang merupakan bagain dari negara kesatuan Republik Indonesia. Semoga berhasil. Amin14. Manakala pandangan lain berpendapat bahwa, bapak pendiri bangsa (The Founding Father. pernah menyatakan Augantungkan citacitamu setinggi langitAy. Hal inilah yang sedang dirancang oleh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang. Sungguh ini merupakan cita-cita yang luhur dan perlu didukung oleh segenap civitas akademika Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Ada dua hal yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini: . Mewujudkan IAIN Imam Bonjol Padang menjadi UIN Imam Bonjol Padang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah dan AuimpianAy, tapi semangat bekerja keras dari seluruh komponen kampus. Kalaulah ada pandangan AusarkasmeAy yang menilainya sebagai mimpi, maka perlu difahami bahwa banyak penemu besar juga melahirkan gagasan besarnya berasal dari mimpi. Contoh: Wright bersaudara yang 14Reza Fahmi. AuPolemik Konversi IAIN Menjadi UIN,Ay Harian Haluan, 07 Mei 2012. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 bermimpi bahwa Aumanusia bisa terbangAy, kemudian hari ini tercipta pesawat terbang yang mampu membawa manusia terbang kemanapun mereka inginkan. Sehingga pepatah yang perlu dipegang adalah: Think Big. Start Small and Do Now (Berfikir tentang hal yang besar. Mulai dari hal-hal kecil dan lakukan sekaran. Sikap pesimisme dan apatisme terhadap perubahan IAIN Imam Bonjol Padang menjadi UIN Imam Bonjol Padang merupakan cara pandang Aukatak dalam tempurungAy yang takut memandang perubahan dan merasa aman dalam kukungan pemikiran sempit mereka. Oleh karenanya, pepatah yang perlu diyakini adalah AuBiar-lah anjing menggonggong, kafilah tetap berlaluAy. Seterusnya ada pandangan pula yang berpendapat bahwa. Dukungan yang padu baik bersifat internal dan eksternal terhadap perubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol (UIN-IB) Padang, merupakan modal dasar bagi pengembangan lembaga Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Sumatera Barat ini. Sungguhpun demikian perubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang dipandang sebagai tuntutan mendesak yang realistik dan empiris. Terdapat beberapa pertimbangan yang mendasari tuntutan perubahan tersebut, diantaranya. Telaah filosofis keilmuan. Analisa politis dan kebijakan. Kondisi ekonomi, sosial- budaya dan psikologis Ranah Minang (Sumatera Bara. Kebutuhan publik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, perubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol (IAIN-IB) menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (UINIB) menjadi sebuah persoalan fundamental yang perlu disegerakan realisasinya. Keberadaan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang dalam ranah budaya Minagkabau tidak terlepas dari filosofi Adaik Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah (Adat Berdasarkan Syariat dan Syariat Berdasarkan al-QurAoan dan Hadit. Sehingga nilainilai ke-Islaman disatu pihak menjadi akar bagi pengembangan ilmuilmu yang berada di bawah naungan Perguruan Tinggi Agama Iislam Negeri ini. Di lain pihak budaya Minang yang memperjuangkan 15Reza Fahmi. AuMetamorfosa IAIN Ke UIN,Ay Harian Haluan, 13 Mei 2012. Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 egalitariansme . , kewirausahaan, kemandirian dan kepedulian sosial juga terintegrasi dalam nilai-nilai yang dikembangkan di Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Perubahan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang (IAINIB) menjadi Universitas Negeri Imam Bonjol Padang tentunya tidak akan menghakis keberadaan nilai filosofis tadi, namun justru akan lebih memperteguh dan memperkuat kesinambungan Islam dan Budaya yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat Minagkabau. Berdasarkan tinjauan filosofis ilmu ke-Islaman yang komprehensif mengkaji pengetahuan maka, eksistensi ilmu-ilmu umum (Psikologi. Sosiologi. Teknik. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Fisika. Kimia. Biologi. Matematik dan sebagainy. juga merupakan bagian integral dalam pengembangan ilmu ke-Islaman itu sendiri. Sungguhpun demikian kehadiran kajian ilmu-ilmu umum tadi dalam konteks keilmuan keIslaman tidak untuk menggugat dan memarjinalkan ilmu-ilmu keIslaman, namun justru memperkaya pengetahuan secara lebih konkrit dan bersifat kontemporer. Sehingga tantangan pengintegrasian ilmuilmu umum dan ilmu ke-Islaman merupakan persoalan mendasar yang masih mengundang kritik dan perdebatan. Mengingat epistemologi pemisahan ilmu-ilmu umum dan ilmu ke-Islaman telah Aumendarah-dagingAy dalam pola pikir sebagaian pakar dan pemerhati serta praktisi pendidikan. Oleh karenanya, persoalan epistemologi pemisahan ilmu-ilmu umu dan ilmu ke-Islaman masih lagi dipandang sebagai batu sandungan pengintegrasian ilmu-ilmu umum dan ilmu ke-Islaman keduanya secara utuh dan menyeluruh. Fenomena pemisahan ilmu-ilmu umum dan ilmu ke-Islaman telah berlangsung lama dan telah menjadi kondisi umum dilingkungan Perguruan Tinggi Agama Islamm Negeri (PTAIN). Walau bagaimanapun apa yang ingin dilaksanakan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang adalah trasformasi ilmu-ilmu ke-Islaman dan ilmu-ilmu umum. Sehingga keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan dan memberi kemaslahatan bagi umat manusia. Untuk menjembatani persoalan ini, maka proses transformasi Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang menjadi Universitas Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang perlu diimplementasikan melalui beberapa langkah, dinataranya: Pertama, mempertahankan Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 kelembagaan IAIN dengan mandat formalnya sekarang, yakni dalam bidang ilmu agama, tetapi tetap mengupayakan pencapaian substansi yang berada di balik gagasan pembentukan UIN, misalnya, reapproachement antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum, dan agar kajian-kajian keilmuan di IAIN lebih kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman. Akan tetapi jelas bahwa IAIN dengan mandat terbatas seperti ini, bukan hanya tidak selaras dengan paradigma baru Perguruan Tinggi, tetapi juga akan membuat IAIN sulit untuk merespon berbagai perubahan dan perkembangan masyarakat baik pada tingkat lokal, regional maupun global. Kebijakan pemerintah yang memberikan peluang seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memperoleh pendidikan pada semua jenjang pendidikan berdampak pada peningkatan jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan, utamanya dari jenjang Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah dari tahun ke tahun di Sumatera Barat. Sehingga pembentukan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang (UINIB) akan memberikan alternatif kesempatan pada lulusan sekolah menengah tadi dalam mempersiapkan diri mereka untuk menjadi sarjana yang berguna bagi agama, bangsa dan negara. Penutup Pengelola dan civitas akademika IAIN telah membawa pengaruh yang cukup penting untuk semarak dan bergairahnya discursus dan pengembangan keilmuan Islam di negeri yang mayoritas umatnya beragama Islam. Alumni IAIN telah dengan nyata menjadi Auorangorang pentingAy yakninya orang-orang cukup mendapat tempat dan posisi strategis dalam berbagai lapangan kerja. IAIN telah dengan nyata menjadi tali penghela mobilitas anak bangsa, khususnya mereka yang berada dilembaga pendidikan agama dan keagamaan di daerah terpencil sekalipun. Meresponi wacana dan trend pemikiran yang ada di lingkungan pemikir dan cendikiawan muslim Indonesia, tentang perlunya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) mengkoversi diri menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), sebagaimana sudah ditempuh oleh 6 . IAIN (UIN Jakarta. UIN Bandung. UIN Jokyakarta. UIN Makasar. UIN Malang dan UIN Pekanbar. , maka adalah hal yang masuk akal jika semua komponen pemikir muslim Tadrys Volume 11 Nomor 1 Juni 2016 mencari format yang tepat bagaimana seharusnya UIN yang tepat dan prospektif itu. Tarik ulur pemikiran antara setuju murni, setuju bersyarat dan tidak setuju konversi IAIN menjadi UIN pada dasarnya berpusat disekitar permasalahan sejarah, misi, filosofis dan realitas UIN yang ada sekarang. Keanekaragaman sumber daya . dosen, mahasiswa dan tenaga administratif yang akan mengisi lembaga UIN tentu akan membawa ekses pada prilaku dan relasi sosial yang akhirnya membawa dampak tersendiri bagi pencapaian tujuan dan Tampilan dosen, mahasiswa dan personil administrasi UIN yang cendrung kurang mencirikan warga IAIN Ae baju sempit, pakai jilbab tapi celana sempit, pergaulan laki-laki perempuan kurang Islami Ae adalah sisi yang menjadi gusarnya beberapa pihak untuk berubah menjadi UIN. Khusus untuk IAIN Imam Bonjol yang lahir dan dibesarkan oleh umat Islam Sumatra Barat yang memiliki akar filosofis dan historis keislaman dalam bingkai adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah maka konversi menjadi UIN tentu harus dilakukan dengan kalkulasi yang matang. Ideologi keislaman dan keminangkabauan yang diusung IAIN Imam Bonjol sejak awal berdirinya harus dapat menjadi corak khusus yang tak boleh dimarginalkan oleh kepentingan Sibgah . yang melekat dalam diri IAIN Imam Bonjol berupa aktualisasi dan aksentuasi dosen, civitas akademika, dan alumni yang memiliki pemahaman keislaman yang memadu dengan kearifan lokal adat Minangkabau harus dapat dipertahankan. Sikap dan pola pikir cendikiawan muslim di IAIN Imam Bonjol yang menjadikan Islam bukan saja sebagai agama dalam artian ritual yang sempit, tetapi menempatkan Islam sebagai agama yang acceptable dengan perkembangan zaman serta dapat menjadi alternatif solusi manusia moderen hendaknya tidak boleh tergerus oleh orientasi populisnya UIN. Wa Allyh aAolam bi al-Shawyb. Daftar Pustaka