Vol. No. Oktober 2025. DOI: https://doi. org/10. 60011/jumpa. SEKAMI AS A FORMER OF COMMUNAL SPIRITUALITY IN THE DIGITAL ERA FOR THE ALPHA GENERATION IN THE PARISH ST. ALFONSUS MARIA DE LIQUORI LEWOTALA Mateus Dangga. Skolastika LeluAA. Alfonsus Mudi Aran. 1-2-3 Sekolah Tinggi Pastoral Reinha Larantuka. Indonesia dangga@stprenya-lrt. skolastika@stprenya-lrt. alfonsus@stprenya-lrt. Abstrak Kegiatan SEKAMI menjadi sebuah misi penting dalam mendewasakan iman anak melalui kemasan kegiatan kerohanian pada era digitalisasi saat ini. Melalui kegiatan ini tentunya akan semakin mendekatkan iman anak secara intim kepada Allah sesuai ajaran gereja Katolik. Namun, masih ditemukan persoalan yang ada di paroki-paroki. Salah satunya di Paroki Lewotala ditemukan bahwa banyak anak yang belum terlibat aktif dalam kegiatan baik dalam kegiatan doa bersama, maupun kegiatan liturgi seperti perayaan Ekaristi pada hari minggu. Maka tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui dan mendeskripsikan peran SEKAMI dalam membentuk Spiritualitas Komunal di Era Digital Bagi Generasi Alpha. Metode yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan Teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun Subjek dalam penelitian ini terdapat 9 orang informan. Hasil yang ditemukan bahwa SEKAMI memainkan peran penting dalam membentuk spiritualitas generasi alpha di era digital. Melalui kegiatan kerohanian dan sosial, anak-anak diajarkan nilai-nilai Kristiani, kepedulian terhadap orang lain, dan semangat persaudaraan. SEKAMI harus terus menjadi wadah pembinaan iman dan mengajarkan nilai-nilai Kristiani, serta mendorong anak-anak untuk menghidupi semangat 2D2K (Doa. Derma. Kurban, dan Kesaksia. Dengan demikian, anak-anak SEKAMI dapat tumbuh dalam iman dan menjadi saksi Yesus Kristus, serta menggunakan teknologi secara positif. Kata Kunci: SEKAMI. Spritualitas Komunal. Generasi Alpha Abstract SEKAMI activities are an important mission in maturing children's faith through the packaging of spiritual activities in the current era of digitalization. Through this activity, of course, it will bring children's faith closer to God in accordance with the teachings of the Catholic Church. However, problems are still found in the parishes. One of them in Lewotala Parish was found that many children have not been actively involved in activities both in joint prayer activities, as well as liturgical activities such as Eucharistic celebrations on Sundays. Therefore, the purpose of this study is to find out and describe the role of SEKAMI in forming Communal Spirituality in the Digital Era for the Alpha Generation. The method used is a type of qualitative research with a descriptive approach. Interview data collection techniques, observations, and documentation. The subjects in this study were 9 informants. The results found that SEKAMI plays an important role in shaping the spirituality of the alpha generation in the digital era. Through spiritual and social activities, children are taught Christian values, concern for others, and the spirit of SEKAMI must continue to be a forum for fostering faith and teaching Christian values, as well as encouraging children to live the spirit of 2D2K (Prayer. Donation. Sacrifice, and Testimon. Thus. SEKAMI children can grow in faith and become witnesses of Jesus Christ, as well as use technology positively. Keywords: SEKAMI. Communal Spirituality. Generation Alpha Page | 45 PENDAHULUAN Gereja Katolik merupakan gereja yang memiliki perhatian khusus kepada anak-anak dalam hal pembinaan iman dan mendukung generasi penerus sebagai pewarta dan menjadi misioner di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Hal tersebut ditunjukkan melalui terbentuknya sebuah organisasi atau komunitas Rohani yang memberikan pembinaan iman anak yaitu SEKAMI. SEKAMI (Serikat Kepausan Anak-anak Remaja Misione. merupakan sebuah komunitas atau kelompok rohani yang menghimpun dan memberikan pembinaan kepada anak-anak. Adapun moto yang dihidupi oleh SEKAMI yaitu AuAnak-anak Menolong Anak-anakAy atau yang lebih dikenal dengan istilah AuChildren Helping ChildrenAy (Langkamau. Moto tersebut dikembangkan melalui semangat 2D2K (Doa. Derma. Kurban dan Kesaksia. Melalui Semangat 2D2K ini anak-anak diajarkan untuk memiliki sikap dan relasi yang baik bersama Tuhan dan menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan kepedulian kepada sesama melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan seperti berdoa bersama, memberikan sumbangan atau bantuan kepada orang yang membutuhkan dan berkorban bagi orang lain baik berupa waktu, tenaga dan pikiran. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan dan membentuk spiritualitas Komunal. Spiritualitas Komunal merupakan Pengalaman iman yang dihayati dalam konteks komunitas, mencakup partisipasi dalam ritual keagamaan bersama, pengalaman doa komunal, pengembangan nilainilai Kristiani dalam kelompok, dan kesadaran akan persaudaraan iman. Ganzevoort & Roeland, . Spiritualitas komunal dalam tradisi Katolik dapat didefinisikan sebagai dimensi kehidupan rohani yang berpusat pada pengalaman iman dalam konteks komunitas, dengan penekanan pada relasi, solidaritas, dan tanggung jawab bersama. Konsep ini berakar kuat dalam pemahaman teologis tentang Gereja sebagai "communio" . , yang mendapat penekanan khusus dalam teologi Konsili Vatikan II. Dokumen "Lumen Gentium" memberikan landasan teologis untuk pemahaman Gereja sebagai persekutuan menyatakan bahwa "Gereja adalah, dalam Kristus, bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia" (Moraes Correia, 2024:. Lebih lanjut, dokumen ini menegaskan bahwa Gereja bukanlah semata-mata institusi hierarkis, melainkan "Umat Allah" di mana semua anggota dipersatukan oleh Pembaptisan dan dipanggil untuk hidup dalam persekutuan. Spiritualitas komunal dapat terbentuk melalui berbagai macam kegiatan yang diadakan dalam kelompok atau komunitas SEKAMI seperti kegiatan doa bersama, memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan dan memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus. Spiritualitas komunal juga tercermin dalam praktik Ekaristi, yang merupakan ekspresi tertinggi dari persekutuan Gereja. Dalam "Ecclesia de Eucharistia" (Paus Paulus Yohanes II, 2. menegaskan bahwa "Ekaristi membangun Gereja dan Gereja melakukan Ekaristi. Setiap perayaan Ekaristi mewujudkan persekutuan dengan Gereja universal". Melalui Ekaristi, umat beriman tidak hanya bersatu dengan Kristus tetapi juga satu sama lain. Dengan adanya kegiatan tersebut dapat membentuk spiritualitas komunal anak-anak yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI di era digital dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat khususnya bagi generasi alpha saat ini. Hal ini pun dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam "Evangelii Gaudium" menekankan dimensi inklusif dan misioner dari spiritualitas komunal: "Gereja 'keluar' adalah komunitas murid-murid misionaris yang mengambil inisiatif, yang terlibat, yang mendampingi, yang berbuah dan bersukacita" (Fransiskus, 2013:. Spiritualitas komunal, dengan demikian, tidak bersifat tertutup tetapi terus menjangkau ke luar, mencerminkan sifat misioner hakiki dari Gereja. Generasi alpha merupakan generasi yang lahir dan berinteraksi di era digital dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Generasi Alpha merujuk pada anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, mengikuti Generasi Z . Istilah ini dipopulerkan oleh Mark McCrindle, seorang peneliti sosial Australia, yang dalam publikasinya "Understanding Generation Alpha") mengidentifikasi mereka sebagai "generasi pertama yang sepenuhnya lahir di abad ke-21 dan terpapar teknologi digital sejak lahir" (McCrindle & Fell, 2020:. Generasi alpha dikenal dengan kemahiran dalam menggunakan teknologi Page | 46 seperti yang dijelaskan oleh Jha . dalam penelitiannya tentang "Understanding Generation Alpha" menunjukkan bahwa anak-anak generasi ini memiliki kecepatan adopsi teknologi yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, dengan keahlian navigasi perangkat touchscreen bahkan sebelum mereka dapat berbicara dengan lancar. Melihat potensi tersebut SEKAMI sebagai sebuah wadah yang mampu memberikan pembinaan iman kepada anak-anak harus memanfaatkan teknologi untuk mempermudah dalam melakukan kegiatan pembinaan iman anak melalui platform media sosial dan aplikasi seperti Youtube. Whatsapp. Zoom Meeting dan facebook. Beberapa platform media sosial tersebut akan mempermudah komunikasi dan membangun interaksi secara online. Dalam hal ini Pembina atau pendamping SEKAMI memiliki peran untuk merealisasikan kegiatan pembinaan iman anak dalam kegiatan-kegiatan rohani dan juga kegiatan sosial. Namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di Paroki Lewotala, ditemukan bahwa banyak anak-anak yang belum terlibat aktif dalam kegiatan baik dalam kegiatan doa bersama, maupun kegiatan liturgi seperti perayaan Ekaristi pada hari minggu. Generasi Alpha di paroki ini menunjukkan pola partisipasi keagamaan yang berbeda dari generasi sebelumnya, dengan kecenderungan yang lebih individualistis dan kurang terhubung dengan komunitas gereja. Maka dari itu untuk menanggapi kesenjangan tersebut. SEKAMI sebagai wadah pembinaan iman anak harus hadir untuk membangun spiritualitas komunal anak yang berkaitan dengan keterlibatannya dalam kegiatan doa bersama dan perayaan liturgi seperti perayaan Ekaristi pada hari minggu. Adapun penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kurniadi dan Sibarani . tentang AuPeran Orang Tua Sebagai Pendidik Iman Kaum Remaja di Era Digital di Stasi Santa Theresia Perumnas Simalingkar Paroki Santo Fransiskus Asisi Padang Bulan. Ay mengungkapkan realitas yang kontras dengan harapan ini, di mana remaja lebih menggemari konten hiburan digital dibanding aktivitas pembinaan iman. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Setiani dan Girsang . tentang Auperan permainan edukatif dalam proses katekese digital anak-anak usia diniAy. Hasil yang ditemukan bahwa pendekatan katekese tradisional semakin kehilangan relevansinya bagi generasi yang tumbuh dalam budaya digital interaktif. Lebih lanjut penelitian yang dilakukan oleh Keban dan Dangga . tentang Auupaya membentuk karakter anak sekami di Lingkungan Waitiu Paroki St. Alfonsus Maria De Liguori melalui kegiatan keagamaanAy mengungkapkan fenomena melemahnya keterlibatan anak dalam kegiatan rohani seperti doa bersama dan misa mingguan. Penelitian yang dilakukan oleh Darina et al. , . dengan judul penelitian AuPelaksanaan Kegiatan Sekami di Paroki Santa Maria Bunda Karmel Mansalong menemukan bahwa anak-anak yang tidak terlibat dalam SEKAMI cenderung mengalami kesulitan dalam membangun ikatan dengan komunitas gerejaAy. Ditemukan bahwa fenomena ini menegaskan pentingnya SEKAMI sebagai jembatan yang menghubungkan anak dengan komunitas iman yang lebih luas. Hal serupa juga diungkapkan oleh Atasoge dan Aran dalam bahwa pendekatan Paradigma Pedagogi Refleksi dalam Kegiatan Sekami di Paroki Lewotala menemukan bahwa pendekatan pedagogi reflektif dalam SEKAMI mampu meningkatkan pemahaman anak akan peran mereka sebagai umat Katolik (Dore et al. , 2. Dalam penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian terdahulu yang mana penelitian ini berfokus pada peran sekami dalam membentuk spiritualitas komunal di era digital bagi generasi alpha melalui kegiatan-kegiatan kerohanian dan kegiatan sosial dengan semangat 2D2K (Doa. Derma. Kurban, dan Kesaksia. yang mengajarkan anak-anak untuk memiliki sikap dan relasi yang baik dengan Tuhan untuk berpartisipasi dalam kegiatan doa bersama di KBG. Lingkungan dan Gereja. Dalam penelitian ini juga, peneliti ingin mengkaji lebih dalam tentang bagaimana SEKAMI memanfaatkan perkembangan teknologi dalam melakukan kegiatan-kegiatan pembinaan iman selain itu lokasi dan waktu penelitian ini pun tentunya berbeda dengan penelitian sebelumnya yang mana penelitian ini terjadi di stasi Lewotala. Paroki St. Alfonsus Maria De Liquori. Penelitian ini penting dilakukan karena melihat perkembangan dunia teknologi saat ini akan mempengaruhi rendahnya partisipasi anak-anak khususnya pada generasi alpha Page | 47 dalam kegiatan keagamaan seperti kegiatan berdoa bersama dan kegiatan perayaan ekaristi pada hari minggu dengan semangat 2D2K (Doa. Derma. Kurban dan Kesaksia. Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang SEKAMI sebagai Pembentuk Spiritualitas Komunal bagi Generasi Alpha di Paroki St. Alfonsus Maria De Liquori Lewotala. Hal ini penting untuk diteliti agar dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan iman anak dalam era digitalisasi dengan adanya pelaksanaan kegiatan SEKAMI ini sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk terus berproses membuka diri dalam hal kegiatan kerohanian sebagai generasi Alpha yang memiliki iman yang kuat. KAJIAN PUSTAKA SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misione. Konsep SEKAMI berpijak pada kesadaran akan peran penting anak-anak dalam misi Gereja, sebagaimana ditekankan dalam "Redemptoris Missio": "Kegiatan misioner yang benar selalu dimulai dengan kesadaran keterpanggilan untuk berpartisipasi dalam misi Kristus, yang ditujukan bagi semua umat beriman pada berbagai tingkatan, sesuai dengan situasi masing-masing". Dokumen ini menekankan bahwa semangat misioner bukan hanya milik kaum dewasa, tetapi perlu ditanamkan sejak masa kanak-kanak sehingga anak-anak dapat terlatih sejak dini untuk menjadi misioner masa depan Gereja (Yohanes Paulus II, 1990:. Dalam konteks Indonesia. SEKAMI merupakan wujud konkret dari upaya Gereja Katolik untuk membina iman anak-anak dengan pendekatan yang kontekstual dan sesuai dengan perkembangan psikologis mereka. Ini sejalan dengan arahan Konsili Vatikan II dalam "Gravissimum Educationis" yang menekankan bahwa "pendidikan Kristiani tidak hanya bertujuan untuk pematangan pribadi manusia, tetapi juga agar orang-orang yang telah dibaptis, secara berangsur-angsur diperkenalkan dengan misteri keselamatan, makin menyadari karunia iman yang telah mereka terima" (Paus Paulus VI, 1956:. SEKAMI mengembangkan pendekatan katekese yang berfokus pada tiga aspek utama: . pengenalan akan Yesus Kristus secara personal, . pembentukan spiritualitas komunal dalam kebersamaan dengan sesama anak, dan . penumbuhan semangat misioner. Ketiga aspek ini mencerminkan keseimbangan antara dimensi personal dan komunal dalam iman Kristiani, sebagaimana ditekankan dalam "Catechesi Tradendae": "Katekese merupakan pendidikan iman anak-anak, kaum muda, dan orang dewasa, yang mencakup terutama pengajaran doktrin Kristiani, yang pada umumnya diberikan secara organis dan sistematis, dengan maksud menghantar para pendengar menuju kepenuhan hidup Kristiani" (Yohanes Paulus II, 1979:. Tujuan SEKAMI, sebagaimana tercermin dalam berbagai dokumen pastoral, meliputi: Pertama. Menumbuhkan kesadaran misioner pada anak-anak, sesuai dengan anjuran "Ad Gentes" yang menyatakan bahwa "Semua orang Kristiani, di manapun mereka hidup, melalui teladan hidup dan kesaksian kata, wajib menyatakan manusia baru, yang telah mereka kenakan ketika dibaptis" (Konsili Vatikan II, 1965:. Kedua. Membantu anak-anak mengembangkan relasi personal dengan Yesus Kristus, sebagaimana ditekankan dalam "Dei Verbum" menyatakan bahwa "Melalui wahyu ini Allah yang tak kelihatan dari kelimpahan cinta kasih-Nya menyapa manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya dan bergaul dengan mereka, untuk mengundang mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan menyambut mereka di dalamnya" (Paus Paulus VI, 1964:. Ketiga. Membentuk spiritualitas komunal yang berakar pada pengalaman Gereja sebagai persekutuan, sesuai dengan visi "Gaudium et Spes" yang menyatakan bahwa "Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga" (Paus Paulus VI, 1965:. Page | 48 Konsep Spiritualitas Komunal dalam Gereja Katolik Spiritualitas komunal dalam tradisi Katolik dapat didefinisikan sebagai dimensi kehidupan rohani yang berpusat pada pengalaman iman dalam konteks komunitas, dengan penekanan pada relasi, solidaritas, dan tanggung jawab bersama. Konsep ini berakar kuat dalam pemahaman teologis tentang Gereja sebagai "communio" . , yang mendapat penekanan khusus dalam teologi Konsili Vatikan II. Dokumen "Lumen Gentium" memberikan landasan teologis untuk pemahaman Gereja sebagai persekutuan: "Gereja adalah, dalam Kristus, bagaikan sakramen, yakni tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia" (Moraes Correia, 2024:. Lebih lanjut, dokumen ini menegaskan bahwa Gereja bukanlah semata-mata institusi hierarkis, melainkan "Umat Allah" di mana semua anggota dipersatukan oleh Pembaptisan dan dipanggil untuk hidup dalam persekutuan. Spiritualitas komunal juga tercermin dalam praktik Ekaristi, yang merupakan ekspresi tertinggi dari persekutuan Gereja. Dalam "Ecclesia de Eucharistia" (Paus Paulus Yohanes II, 2003:21,. menegaskan bahwa "Ekaristi membangun Gereja dan Gereja melakukan Ekaristi. Setiap perayaan Ekaristi mewujudkan persekutuan dengan Gereja Melalui Ekaristi, umat beriman tidak hanya bersatu dengan Kristus tetapi juga satu sama lain. Paus Fransiskus dalam "Evangelii Gaudium" menekankan dimensi inklusif dan misioner dari spiritualitas komunal: "Gereja 'keluar' adalah komunitas murid-murid misionaris yang mengambil inisiatif, yang terlibat, yang mendampingi, yang berbuah dan bersukacita" (Fransiskus, 2013:. Dengan demikian, spiritualitas komunal tidak bersifat tertutup tetapi terus menjangkau ke luar, mencerminkan sifat misioner hakiki dari Gereja. Era digital telah menghadirkan tantangan dan peluang baru bagi spiritualitas komunal. Beberapa dokumen Gereja telah mengantisipasi dan menanggapi realitas ini: Paus Yohanes Paulus II dalam "Ecclesia in Asia" menyoroti tantangan modernisasi dan globalisasi: "Gereja di Asia dipanggil untuk membantu Asia mempertahankan nilai-nilai tradisional keluarga, nilai-nilai budaya dan religius, sambil berhadapan dengan pengaruh modernisasi yang positif maupun negatif" (Yohanes Paulus II, 2010:. Pernyataan ini semakin relevan di era digital yang kerap kali mendorong individualisme. Paus Fransiskus dalam "Fratelli Tutti" mengkritisi ilusi kedekatan digital: "Kita perlu komunikasi fisik, tempat-tempat pertemuan, di mana kita dapat belajar mengapresiasi keheningan dan menikmati kehadiran satu sama lain" (Fransiskus, 2020:. Namun, beliau juga mengakui potensi digital untuk membangun "persaudaraan universal" jika digunakan dengan bijak. Relevansi spiritualitas komunal di era digital menjadi semakin penting ketika generasi baru umat beriman tumbuh dalam konteks di mana relasi virtual sering kali menggantikan pertemuan fisik. Tantangan ini membutuhkan pendekatan pastoral yang kreatif, yang mempertahankan esensi komunal dari iman Kristiani sekaligus menginkorporasikan aspek-aspek positif dari teknologi digital. Generasi Alpha dan dan Tantangan Spiritualitas di Era Digital Generasi Alpha merujuk pada anak-anak yang lahir setelah tahun 2010, mengikuti Generasi Z . Istilah ini dipopulerkan oleh Mark McCrindle, seorang peneliti sosial Australia, yang dalam publikasinya "Understanding Generation Alpha") mengidentifikasi mereka sebagai "generasi pertama yang sepenuhnya lahir di abad ke-21 dan terpapar teknologi digital sejak lahir" (McCrindle & Fell, 2020:. Beberapa karakteristik utama Generasi Alpha berdasarkan penelitian terkini: Digital Natives Sejati: Generasi Alpha lahir dalam dunia yang sepenuhnya digital. Menurut studi oleh (Rideout. Vicky dan Michael Robb. , 2011:. dalam "Zero to Eight: Children's Media Use in America," anak-anak berusia di bawah delapan tahun menghabiskan rata-rata 2 jam 19 menit per hari dengan media digital, meningkat dari 1 jam 55 menit pada 2013. Page | 49 Kemahiran Teknologi Tinggi: Penelitian (Jha, 2020:. tentang "Understanding Generation Alpha" menunjukkan bahwa anak-anak generasi ini memiliki kecepatan adopsi teknologi yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, dengan keahlian navigasi perangkat touchscreen bahkan sebelum mereka dapat berbicara dengan lancar. Terkoneksi Global: Generasi Alpha memiliki perspektif global yang lebih kuat karena konektivitas digital mereka, yang memungkinkan mereka terhubung dengan budaya dan ide-ide dari seluruh dunia sejak usia dini (Jha, 2020:. Nilai Autentisitas: Twenge pada tahun 2017 dalam "iGen: Why today's super-connected kids are growing up less rebellious, more tolerant, less happy and completely unprepared for adulthood" mengidentifikasi kecenderungan generasi yang tumbuh dengan media sosial untuk menghargai autentisitas dan transparansi lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, karakteristik yang juga muncul pada Generasi Alpha (Twenge, 2017:. Preferensi Visual dan Interaktif: Penelitian yang dilakukan oleh A. Jha pada tahun 2020 dalam penelitiannya tentang AuUnderstanding Generation AlphaAy menunjukkan bahwa Generasi Alpha memiliki preferensi kuat untuk pembelajaran visual dan interaktif, dengan kecenderungan lebih rendah terhadap teks statis dan pengajaran tradisional (Jha, 2020:. Perhatian Lebih Singkat namun Multitasking: Menurut Liu, . dalam studi "The attention crisis of digital interfaces and how to consume media more mindfully" mengidentifikasi tren penurunan rentang perhatian, namun dengan peningkatan kemampuan untuk memproses informasi secara paralel . METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan Menurut Creswell dan Poth pendekatan kualitatif tepat digunakan ketika peneliti ingin memahami konteks atau lingkungan tempat partisipan mengatasi permasalahan, serta untuk mengembangkan pemahaman mendetail tentang suatu fenomena (Creswell & Poth, 2016:. Lokasi penelitian dilakukan di Paroki St. Alfonsus Maria De Liquori Lewotala. Subjek Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Anak-anak Generasi Alpha yang tergabung dalam Anggota Sekami. Adapun informan dalam penelitian ini berjumlah sembilan orang yang terdiri dari lima orang Anak-Anak Generasi Alpha, dua Pembina Sekami, dan dua orang tua anak SEKAMI. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang dilakukan melalui tiga tahap yaitu Familiarisasi dengan data, pendefinisian dan penamaan tema, dan penulisan laporan. HASIL DAN PEMBAHASAN SEKAMI dalam Semangat 2D2K (Doa. Derma. Kurban dan Kesaksia. Sekami dalam spirit 2D2K (Doa. Derma. Kurban dan Kesaksia. merupakan suatu semangat dan gerakan yang dapat menumbuhkan dan meneguhkan iman anak-anak dalam menjadi misioner cilik sebagai saksi Kristus di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Melalui semangat 2D2K ini anak-anak yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI mengalami perubahan positif yang mereka tunjukan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kehidupan rohani maupun sosial. Berikut uraian yang menjadi fokus penelitian sebagai berikut. Page | 50 1 Doa Doa merupakan sebuah sikap yang ditunjukkan oleh seseorang untuk menyampaikan permohonan dan juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas segala berkat yang telah diterima dalam kehidupan sehari-hari. Doa dapat dilakukan dengan cara berdoa bersama-sama dengan orang lain dalam sebuah komunitas maupun secara pribadi. Melalui doa, seseorang dapat membangun relasi yang semakin baik dengan Tuhan dan memperteguh imannya kepada Tuhan. Hal tersebut didukung oleh hasil wawancara bersama anak-anak yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI. Menurut R1 dan R2 mengatakan bahwa dengan adanya kegiatan doa dalam kegiatan SEKAMI dapat membantu untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan semakin memotivasi untuk rajin berdoa baik bersama-sama dengan teman maupun berdoa secara pribadi di rumah. Pandangan tersebut juga didukung oleh R3 yang mengatakan bahwa doa merupakan sikap yang dilakukan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan. Dengan mengikuti kegiatan doa dapat memberikan ketenangan batin dan merasa diberkati oleh Tuhan. Anak-anak yang mengikuti doa bersama dalam kegiatan SEKAMI mengalami perubahan sikap yang positif dalam hal berdoa yang ditunjukkan kegiatan doa di rumah, di gereja maupun di KBG. Hal tersebut diungkapkan oleh R6 yang merupakan salah satu orang tua dari anak-anak SEKAMI mengatakan anaknya yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI mengalami perubahan yang baik dimana anaknya semakin terlibat aktif dalam kegiatan doa bersama di rumah dan di KBG. Berdasarkan pengamatan peneliti diketahui bahwa anak-anak yang terlibat aktif dalam kegiatan SEKAMI memiliki sikap doa dan keterlibatannya yang baik dalam setiap kegiatan kerohanian khususnya pada misa hari minggu perayaan ekaristi dan doa bersama dalam kegiatan SEKAMI. Berdasarkan hasil penelitian di atas peneliti menyimpulkan bahwa dengan adanya kegiatan doa bersama dalam kegiatan SEKAMI dan kegiatan liturgi lainnya, telah memberikan perubahan sikap yang baik terhadap anak. Sikap tersebut ditunjukkan melalui partisipasi aktif mereka dalam kegiatan doa bersama baik di rumah, di KBG maupun di Gereja. Selain itu, dengan adanya kegiatan doa juga dapat mengajarkan kepada anak-anak yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI untuk semakin tekun dalam doa dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Hasil penelitian ini pun didukung oleh dokumen gereja "Sacrosanctum Concilium" yang memberikan penegasan bahwa "Liturgi merupakan puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan sekaligus merupakan sumber dari mana mengalir segala kekuatannyaAy. 2 Derma Derma merupakan suatu tindakan dan sikap peduli yang dilakukan oleh seseorang dengan memberikan bantuan baik berupa uang, materi atau barang sebagai bentuk amal kasih kepada orang lain yang sedang membutuhkan bantuan. Dalam kegiatan SEKAMI, semangat berderma atau memberikan bantuan kepada orang lain ini terus di kembangkan dan diajarkan kepada anak-anak dengan tujuan menumbuhkan sikap peduli kepada orang lain. Berdasarkan hasil wawancara dengan anak-anak SEKAMI dalam kaitannya dengan hal berderma ditemukan R1 mengatakan bahwa dalam kegiatan SEKAMI mengajarkan untuk berbagi kepada orang lain yang membutuhkan. Hal senada juga disampaikan oleh R2 yang mengatakan bahwa dalam kegiatan SEKAMI membantu kami untuk saling berbagi bersama dengan teman-teman baik dalam lingkungan sekolah maupun di rumah. Sikap berbagi tersebut kemudian didukung oleh R3 yang menyatakan bahwa pada hari raya paskah atau hari raya natal kami pergi ke panti asuhan untuk memberikan bantuan berupa pakaian dan makanan kepada anak-anak panti asuhan dan kegiatan berbagi ditutup dengan kegiatan doa dan nyanyi bersama dengan anak-anak Panti Asuhan. Kegiatan berbagi tersebut merupakan sikap amal kasih yang sederhana sebagai bentuk perwujudan kasih Allah kepada orang-orang yang membutuhkan Berdasarkan hasil pengamatan peneliti ditemukan bahwa anak-anak yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI memiliki sikap berbagi yang sangat tinggi baik berupa uang, waktu maupun tenaga. Page | 51 Berdasarkan hasil wawancara dan observasi tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa semangat berderma ini memiliki peran yang sangat penting dalam mendorong dan mengembangkan sikap peduli dari anak-anak SEKAMI kepada orang lain yang ditunjukkan lewat sikap berbagi mereka kepada teman-teman dalam kelompok SEKAMI dan bahkan diluar kelompok SEKAMI yaitu memberikan sumbangan kepada anak-anak di Panti asuhan. Hasil penelitian tersebut didukung dengan penekanan dalam dokumen gereja Deus Caritas Est yang menyatakan bahwa "Kasih kepada sesama yang berakar dalam kasih kepada Allah merupakan kewajiban pertama-tama bagi setiap orang beriman Kristiani". (Paus Benediktus XVI, 2005:. Dengan demikian kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan dalam kegiatan Sekami menjadi bentuk perwujudan kasih Allah kepada sesama. 3 Kurban Kurban merupakan sebuah sikap yang ditunjukkan seseorang berupa pengorbanan dalam dirinya baik waktu, tenaga maupun pikiran sebagai bentuk rasa hormat dan kesetiaannya pada suatu hal. Dalam konteks ekaristi, kurban dapat dilihat dalam penyerahan diri Yesus Kristus dalam rupa roti dan anggur untuk menghadirkan misteri keselamatan yang nyata bagi umat manusia. Kegiatan SEKAMI menghidupi semangat berkurban untuk mengajarkan kepada anak-anak untuk membangun sikap pengorbanan kepada orang lain baik berupa waktu, tenaga maupun pikiran. Berdasarkan hasil wawancara bersama R1 mengatakan bahwa dalam hal berkorban, terkadang ia mengorbankan waktu bermainnya dan lebih memilih untuk pergi mengikuti kegiatan SEKAMI dan kegiatan doa di KBG dan pada misa perayaan ekaristi. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada sikap dari anak SEKAMI berkorban untuk menunda waktu bermain dan memilih untuk terlibat dalam kegiatan Sekami. Hal serupa juga disampaikan oleh R2 yang mengatakan bahwa ia rela berkorban untuk tidak jajan di sekolah demi membeli obat bagi teman yang sedang sakit. Dari beberapa peristiwa tersebut telah menunjukkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam kegiatan Sekami memiliki sikap berkorban dan sikap saling menolong serta tidak mementingkan diri sendiri. Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa sikap berkurban yang dilakukan dan dihidupi dalam kegiatan SEKAMI memberikan dampak yang positif terhadap sikap anak-anak dalam menganggapi persoalan ataupun persitiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tentunya dari hasil penelitian ini menjadi bukti bahwa anak SEKAMI menjadi lebih mencintai sesama dengan penuh pengorbanan hal ini selaras seperti yang dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam dokumen ensiklik Fratelli Tutti yang ditegaskan mengenai persaudaraan dan persahabatan dalam kehidupan bersama. H SEKAMI al ini ditegaskan dalam alkitab Galatia 6:10 yang menyatakan bahwa AuKarena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Hal ini mau mengajarkan kepada anak-anak Sekami agar terus berbuat baik kepada sesama dalam dan mau berkurban dalam hal apapun. 4 Kesaksian Kesaksian merupakan suatu pernyataan iman yang dilakukan seseorang secara lisan ataupun melalui tindakan yang dilakukan untuk mewartakan injil dan kebernaran Kristus kepada orang lain. Dalam SEKAMI semangat kesaksian dihidupi melalu kegiatan pembinaan iman melalui materi dan kegiatan lain yang menambah wawasan dan pemahaman tentang iman akan Yesus Kristus. Hal tersebut biasa dilakukan oleh pembina SEKAMI dalam memberikan pembinaan iman kepada anak-anak yang terlibat aktif mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian. Berdasarkan hasil wawancara bersama dengan anak-anak SEKAMI yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI. R1. R2, dan R3 mengatakan bahwa mereka biasa memberikan kesaksian melalui cerita tentang Page | 52 Yesus Kristus kepada adiknya, dengan tujuan untuk menambah wawasan tentang iman akan Yesus Kristus. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk perwujudan semangat Kesaksian yang dihidupi dan dilaksanakan dalam kegiatan SEKAMI. Hal tersebut juga kemudian didukung oleh R7 yang merupakan orang tua dari R1, dalam hasil wawancara yang diperoleh R7 mengatakan bahwa berdasarkan pantauannya di rumah. R1 selalu mengajarkan tentang pengetahuan yang diperoleh dalam mengikuti kegiatan SEKAMI yakni materi-materi yang diajarkan oleh pembina sekami dalam kegiatan Sekami yang dilaksanakan. Berdasarkan hasil wawancara tersebut peneliti menyimpulkan bahwa dengan adanya kegiatan SEKAMI dapat memberikan ruang dan mengajarkan kepada anak-anak untuk menjadi saksi atau bersaksi tentang kristus kepada orang lain, dengan demikian kegiatan SEKAMI telah memberikan kontribusi yang baik dalam membantu seseorang menjadi saksi melalui cara-cara yang sederhana seperti menceritakan kisah tentang Yesus Kristus. Hasil penelitian tersebut pun didukung dan dipertegas oleh Dokumen "Directory for Catechesis" tentang pembinaan kepada anak-anak. Dalam dokumen tersebut menegaskan bahwa pentingnya membimbing anak-anak menuju "perjumpaan personal dengan Kristus" (Yohanes Paulus II, 1992. Dengan adanya semangat kesaksian ini , anak-anak dapat mengenal lebih dalam tentang Yesus Kristus melalui kehidupan rohani mereka. Pembentukan spiritualitas komunal dalam kegiatan SEKAMI Spritualitas komunal menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas iman anak guna menjadi dasar dalam menggerakkan SEKAMI menjadi lebih mandiri sebagai personal dan terlibat aktif dalam komunitas atau komunal. Berdasarkan hasil wawancara bersama dengan anak-anak yang terlibat dalam kegiatan SEKAMI R4 mengatakan bahwa dalam kegiatan SEKAMI mengajarkan kepada kami untuk membangun relasi yang baik dengan teman-teman, dalam kegiatan sekami juga mengajarkan untuk berdoa secara bersama yang bertujuan untuk membangun persekutuan doa bersama yang semakin kokoh antara anak SEKAMI. Hal tersebut juga didukung oleh R5 yang mengatakan bahwa pada bulan oktober diadakan doa rosario di Gua Maria bersama dengan teman-teman dan pendamping SEKAMI. Kegiatan doa tersebut membantu memperdalam iman mereka kepada Tuhan dan membangun sebuah komunitas atau kelompok SEKAMI. Hal tersebut kemudian didukung oleh penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Darina dkk pada tahun 2021 dengan judul penelitian Pelaksanaan Kegiatan Sekami di Paroki Santa Maria Bunda Karmel Mansalong dalam kaitannya dengan dimensi komunal dalam pengalaman iman yang mengatakan bahwa anak-anak yang tidak terlibat dalam SEKAMI cenderung mengalami kesulitan dalam membangun ikatan dengan komunitas gereja. Sehingga SEKAMI memiliki peran yang sangat penting untuk menjadi jembatan yang menghubungkan anak dengan komunitas iman yang lebih luas (Darina et al. , 2021:. Hal ini pun didukung oleh konsep spiritualitas komunal yang kembangkan oleh Ganzevoort & Roeland, . yang mengatakan bahwa spiritualitas komunal merupakan pengalaman iman yang dihayati dalam konteks komunitas, mencakup partisipasi dalam ritual keagamaan bersama, pengalaman doa komunal, pengembangan nilai-nilai Kristiani dalam kelompok, dan kesadaran akan persaudaraan iman. Dengan demikian, spiritualitas komunal dapat terbentuk dalam kegiatan yang diadakan dalam kegiatan SEKAMI. Page | 53 Generasi alpha di era digital. Generasi Alpha merupakan generasi yang dihidup dan berinteraksi dengan sesama di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat. Penelitian tentang "Understanding Generation Alpha" menunjukkan bahwa anak-anak generasi ini memiliki kecepatan adopsi teknologi yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, dengan keahlian navigasi perangkat touchscreen bahkan sebelum mereka dapat berbicara dengan lancar (Jha, 2. Anak-anak yang dihadapkan dengan berbagai kemajuan teknologi seperti penggunaan gadget dan media sosial tentunya akan menimbulkan kekhawatiran dari beberapa pihak baik dari orang tua maupun dalam masyarakat luas. Hal tersebut dapat berdampak pada rendahnya partisipasi anak-anak dalam kegiatan kerohanian seperti doa bersama, berbagi pengalaman, dan kegiatan sosial yang Namun kekhawatiran tersebut dapat diatasi jika ada pengawasan dan pembinaan yang efektif dari orang tua ataupun pembina di sebuah komunitas. Merespon hal tersebut. SEKAMI yang merupakan sebuah komunitas sebagai wadah pembinaan iman dan karakter anak, diharapkan dapat menanggapi kekhawatiran tentang penggunaan teknologi yang sedang dan akan dihadapi oleh generasi alpha melalui kegiatan Sekami yang diadakan seperti kegiatan doa bersama, pembinaan iman dengan menyajikan materi-materi seputar pengetahuan iman anak dan juga kegiatan peduli kasih kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti menemukan bahwa R1. R2. R3. R4, dan R5 yang merupakan anak SEKAMI mengatakan bahwa mereka sudah memiliki handphone dan biasanya mereka menggunakan handphone tersebut untuk mengakses beberapa platform media sosial seperti youtube. Facebook, whatsapps dan Tiktok. Hal tersebut kemudian direspon oleh R8 dan R9 selaku pendamping SEKAMI di Paroki Lewotala, mengadakan bimbingan dan pengarahan terhadap anak-anak SEKAMI untuk menggunakan teknologi secara baik seperti handphone. Lebih lanjut R9 hendak memberikan pembinaanpembinaan lewat online kepada anak-anak SEKAMI. Dengan demikian, kegiatan SEKAMI harus melibatkan teknologi sebagai salah satu sarana untuk menarik perhatian anak SEKAMI untuk berpartisipasi dalam kegiatan spiritualitas komunal yang diadakan oleh pembina atau pendamping SEKAMI. Dengan kata lain, kegiatan SEKAMI harus turut terlibat dalam perkembangan dunia saat ini dan menjadikan kesempatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan iman anak SEKAMI. Hal ini pun didukung hasil penelitian dari Jha, . tentang "Understanding Generation Alpha" yang menunjukkan bahwa anak-anak generasi ini memiliki kecepatan adopsi teknologi yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya, dengan keahlian navigasi perangkat touchscreen. Bahkan sebelum mereka dapat berbicara dengan lancar. Hal ini pun dipertegas oleh Paus (Yohanes Paulus II, 1992. dalam "Directory for Catechesis" yang menyatakan bahwa "Katekese dapat memanfaatkan potensi khusus budaya digital tanpa mengabaikan kekhasan pengalaman iman" . Melihat potensi yang dimiliki oleh Generasi Alpha tersebut maka SEKAMI harus hadir dengan berbagai macam kegiatan kerohanian yang dapat dijangkau melalui platform media sosial yang dapat mempermudah anak-anak untuk mengakses lewat online seperti kegiatan katekese pembinaan iman dan pemberian materi lewat aplikasi zoom Meeting SIMPULAN SEKAMI (Serikat Anak-anak Remaja Misione. merupakan sebuah komunitas iman yang bertujuan untuk memberikan pembinaan iman sejak dini bagi anak-anak katolik khususnya bagi Generasi Alpha di era digital. SEKAMI menghadirkan berbagai macam kegiatan rohani yang dapat memberikan pengajaran dan pengetahuan iman bagi anak-anak. Adapun kegiatan-kegiatan yang diadakan dalam komunitas atau kelompok SEKAMI yaitu kegiatan berdoa bersama di Gua Maria, bermain bersama, dan melakukan kegiatan sosial seperti memberikan bantuan kepada anak-anak di Panti Asuhan dan juga memberikan Page | 54 sumbangan bagi orang yang mengalami bencana alam yaitu letusan gunung Lewotobi, mengunjungi dan mendoakan orang sakit. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti tentang SEKAMI sebagai pembentuk spiritualitas komunal di era digital bagi Generasi Alpha di Paroki St. Alfonsus Maria De Liquori Lewotala, dapat disimpulkan bahwa SEKAMI memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk spiritualitas komunal di era digital bagi Generasi Alpha. Hal tersebut dapat dilihat pada perubahan positif yang dialami oleh anak-anak dimana mereka mulai terlibat secara aktif dalam kegiatan-kegiatan kerohanian yang diadakan baik di KBG (Komunitas Basis Gerejan. , di lingkungan dan maupun di Gereja. Selain itu juga anak-anak diajarkan untuk memiliki kepedulian kepada orang lain dan membangun semangat persaudaraan dalam kelompok serta mengembangkan nilai-nilai Kristiani yang diperoleh dalam mengikuti kegiatan SEKAMI. Maka dari itu SEKAMI harus terus menjadi wadah yang memberikan pembinaan iman, mengajarkan nilai-nilai kristiani, dan mendorong anak-anak untuk menghidupi semangat 2D2K (Doa. Derma. Kurban, dan Kesaksia. kepada anak-anak, khsususnya bagi Generasi Alpha di era perkembangan teknologi yang semakin maju. Dengan demikian anak-anak SEKAMI khususnya bagi Generasi Alpha yang terlibat aktif dalam kegiatan kerohanian dan kegiatan sosial, akan semakin tumbuh dalam iman dan menghidupi panggilan sebagai saksi Yesus Kristus dan menjadi misionaris cilik yang dapat mewujudkan kasih Allah bagi Gereja dan masyarakat. Selain itu juga anak-anak akan di bimbing dan diarahkan untuk menggunakan teknologi secara baik dalam hal-hal yang positif seperti pertemuan dan kegiatan pembinaan iman secara online sehingga anak-anak tetap mengikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat dan terus berubah. DAFTAR PUSTAKA