Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 287-298 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Penggunaan Media Kartu Gambar Untuk Mengatasi Hambatan Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Pada Anak Usia 5-6 Tahun Delika Putri Sri Suryadi 1. Edi Hendri Mulyana 2. Alfian Azhar Yamin3 Info Artikel Abstract Keywords: Picture Cards. Consonant Letters. Child Articulation. Early Childhood. This study aims to examine the effectiveness of using picture card media in overcoming articulation difficulties of consonant sounds in children aged 5Ae6 years. Articulation problems, such as inaccurate pronunciation of sounds like /d/, /g/, /p/, /f/, and /r/, can hinder children's language and communication development. The research employed an experimental method using a Single Subject Research (SSR) approach with an A-B-A design, consisting of three phases: baseline-1 (A. , intervention (B), and baseline-2 (A. The subject of the study was a single child experiencing articulation difficulties with consonant sounds. Data were collected through structured observation using an articulation assessment instrument and analyzed descriptively with visual graph representation. The results showed a significant improvement in the childAos articulation ability after the intervention using picture card media. In the A1 phase, the average articulation percentage was 34. 15%, which increased to 78. 18% during the intervention phase (B), and remained at 76. 33% in the A2 phase. This improvement indicates that picture card media can strengthen children's visual-verbal associations with letter sounds, enhance concentration, and motivate them to pronounce consonants more accurately. This study recommends the use of picture card media as a fun, structured, and effective learning alternative for teachers and parents in supporting early childhood language development, particularly in addressing consonant articulation difficulties. Kata kunci: Kartu Gambar. Huruf Konsonan. Artikulasi Anak. Anak Usia Dini. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan media kartu gambar dalam mengatasi hambatan kemampuan artikulasi huruf konsonan pada anak usia 5Ae6 tahun. Permasalahan artikulasi konsonan seperti ketidaktepatan dalam pengucapan bunyi /d/, /g/, /p/, /f/, dan /r/ dapat menghambat perkembangan bahasa dan komunikasi anak. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan Single Subject Research (SSR) dan desain A-B-A, yang terdiri dari tiga fase: baseline-1 (A. , intervensi (B), dan baseline-2 (A. Subjek penelitian merupakan satu orang anak yang mengalami hambatan artikulasi huruf Data dikumpulkan melalui observasi terstruktur menggunakan Pendidikan Guru Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: delikaputrisrisuryadi@upi. Pendidikan Guru Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: Email Penulis Pendidikan Guru Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Tasikmalaya. Indonesia Email: alfianazharyamin@upi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 instrumen penilaian artikulasi dan dianalisis secara deskriptif dengan representasi grafik visual. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam kemampuan artikulasi anak setelah diberikan intervensi menggunakan media kartu gambar. Pada fase A1, rata-rata persentase artikulasi anak sebesar 34,15%, meningkat menjadi 78,18% pada fase intervensi (B), dan bertahan pada 76,33% pada fase A2. Peningkatan ini mencerminkan bahwa media kartu gambar mampu memperkuat asosiasi visual-verbal anak terhadap bunyi huruf, meningkatkan konsentrasi, serta memotivasi anak untuk melafalkan huruf konsonan dengan lebih tepat. Penelitian ini merekomendasikan penggunaan media kartu gambar sebagai alternatif pembelajaran yang menyenangkan, terstruktur, dan efektif bagi guru serta orang tua dalam mendukung perkembangan bahasa anak usia dini, khususnya dalam mengatasi hambatan artikulasi huruf konsonan. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 06 Agustus 2025 17 Agustus 2025 19 Agustus 2025 20 Agustus 2025 Cara Mensitasi Artikel: Suryadi. Mulyana. , & Yamin. Penggunaan Media Kartu Gambar Untuk Mengatasi Hambatan Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Pada Anak Usia 5Ae6 Tahun. Jurnal Ar-Raihanah, . , 287-298, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korenpondensi Penulis: Alfian Azhar Yamin, alfianazharyamin@upi. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan upaya strategis dalam menstimulasi, membimbing, dan mengasuh anak sejak lahir hingga enam tahun sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Masa ini dikenal sebagai periode emas . olden ag. karena menjadi fase yang sangat menentukan perkembangan anak, baik fisik, kognitif, sosial-emosional, spiritual, maupun bahasa. Dari berbagai aspek tersebut, keterampilan berbicara menempati posisi penting karena berfungsi bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan juga sebagai sarana untuk membangun konsep, mengekspresikan gagasan, serta menjalin interaksi sosial yang efektif. Anak dengan kemampuan berbicara yang baik umumnya lebih percaya diri, mudah beradaptasi, serta mampu mengembangkan potensi kognitif dan sosialnya secara optimal (Cahyani et al. , 2. Salah satu aspek penting dalam keterampilan berbicara adalah artikulasi, yakni kemampuan melafalkan bunyi bahasa secara jelas dan tepat. Hambatan pada aspek ini dapat berupa penggantian, penghilangan, atau pengucapan yang keliru, yang pada akhirnya memengaruhi pemahaman lawan bicara serta menurunkan kualitas komunikasi anak. Jika dibiarkan, hambatan artikulasi bukan hanya berdampak pada keterampilan berbicara, tetapi juga dapat mengganggu kesiapan anak dalam belajar membaca dan menulis di jenjang berikutnya, sekaligus menurunkan rasa percaya diri dalam berinteraksi (Pertiwi, 2016. Dhieni, 2. Pada usia 5Ae6 tahun, anak seharusnya sudah mampu mengucapkan sebagian besar fonem konsonan dengan benar. Namun kenyataannya, masih banyak anak yang mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan bunyi-bunyi tertentu, terutama pada konsonan /f/, /g/, /r/, /s/, dan /t/ (Nurhayati. Perlu digarisbawahi bahwa huruf AuEAy yang sering disebut dalam daftar sebelumnya adalah vokal, sehingga tidak termasuk target konsonan. Penelitian ini secara khusus memfokuskan pada fonem konsonan /d, g, p, f, r/, yang dipilih karena dua alasan utama. Pertama, fonem-fonem tersebut merupakan bunyi yang paling sering mengalami kesalahan pada anak usia 5Ae6 tahun, khususnya /r/ dan /f/. Kedua, fonem tersebut menuntut koordinasi motorik artikulatoris yang lebih kompleks, misalnya Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 getaran alveolar pada /r/ dan frikatif labiodental pada /f/, sehingga memerlukan stimulasi yang lebih Hasil pengamatan awal di TK Arrohmah menunjukkan bahwa beberapa anak usia 5Ae6 tahun masih mengalami kesulitan dalam mengartikulasikan konsonan-konsonan tersebut. Guru cenderung hanya menggunakan metode lisan secara konvensional tanpa memanfaatkan media visual yang Akibatnya, anak-anak tidak memperoleh stimulus fonologis yang cukup untuk memperbaiki pelafalan mereka. Kondisi ini berpotensi memperkuat kebiasaan produksi bunyi yang keliru dan dapat berdampak negatif pada kesiapan akademik serta interaksi sosial mereka. Dalam konteks inilah media kartu gambar dipandang relevan sebagai solusi. Media ini tidak hanya menarik bagi anak-anak, melainkan juga mampu menghubungkan antara representasi visual dan simbol bunyi. Dengan cara melihat, menyebut, dan mengulang kata yang ditampilkan melalui gambar, anak dapat memperkuat kesadaran fonologis serta keterampilan artikulatorisnya (Wardani. Sari & Sumarni, 2. Beberapa penelitian sebelumnya juga mendukung efektivitas kartu Misalnya. Pertiwi . menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengenalan huruf setelah penggunaan media kartu huruf, sementara Dewi et al. menemukan bahwa kartu gambar berpengaruh positif terhadap kemampuan pra-membaca dan pelafalan fonem. Demikian pula. Oktaviyanti et al. melaporkan bahwa media ini dapat meningkatkan konsentrasi, daya ingat, dan kemampuan membaca awal anak. Namun, penelitian-penelitian tersebut lebih banyak berfokus pada literasi awal secara umum, dan belum menitikberatkan pada perubahan artikulasi konsonan tertentu yang terpantau secara sistematis. Dengan demikian, dapat ditegaskan adanya kesenjangan penelitian yang masih perlu dijawab. Pertama, belum banyak studi yang menargetkan fonem konsonan tertentu dengan alasan fonetik dan artikulatoris yang jelas. Kedua, penelitian yang menggunakan desain Single Subject Research (SSR) dengan pola AAeBAeA yang terstandar masih jarang ditemukan dalam konteks stimulasi artikulasi anak usia dini. Ketiga, sebagian besar penelitian belum menguji sejauh mana keterampilan artikulasi yang diperoleh dapat dipertahankan setelah intervensi dihentikan . maupun digeneralisasikan dari level fonem ke kata dan kalimat dalam konteks pembelajaran sehari-hari. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas media kartu gambar dalam meningkatkan kemampuan artikulasi fonem /d, g, p, f, r/ pada anak usia 5Ae6 Penelitian ini juga bermaksud menguji keberlangsungan keterampilan tersebut setelah intervensi dihentikan, serta melihat sejauh mana keterampilan itu dapat digeneralisasikan dari pengucapan fonem terisolasi ke dalam kata bermakna dan kalimat sederhana. Hipotesis operasional yang diajukan adalah bahwa media kartu gambar mampu meningkatkan ketepatan artikulasi konsonan target, mempertahankan hasil intervensi pada fase maintenance, serta memungkinkan terjadinya generalisasi keterampilan ke dalam penggunaan bahasa yang lebih luas di kelas. Dengan fokus pada fonem yang spesifik, desain SSR yang terstandar, serta pengujian pada aspek maintenance dan generalisasi, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi ilmiah yang lebih tajam mengenai efektivitas kartu gambar dalam memperbaiki artikulasi konsonan anak usia dini, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran bahasa yang efektif dan menyenangkan di kelas. METODE Metode penelitian menurut Sugiyono . , yaitu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Sedangkan menurut Djollong . menjelaskan bahwa metode penelitian merupakan suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal di atas terdapat empat kata kunci yang penting dan perlu diperhatikan yaitu cara Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Maka dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode penelitian merupakan suatu cara ilmiah untuk memperoleh data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen dengan subjek tunggal atau Single Subject Research (SSR). SSR merupakan penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada Subjek Tunggal yang bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari perlakuan ( treatmen. yang diberikan secara berulang-ulang dalam waktu tertentu. Menurut Daruhadi & Sopiati . Single Subject Research (SSR) disadari psikologi behaviorisme yaitu perubahan perilaku pada seseorang sesuai dengan etika dan norma yang berlaku dimasyarakat. Teori ini dikembangkan oleh B. Skiner berdasarkan teori-teori stimulus respons dari papluve. Psikologi behavior memandang perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan dan atau akibat dari perilaku itu sendiri. Oleh karena itu perilaku manusia dapat dimodifikasi atau diubah dengan memberikan stimulus. Tawney & Gast . alam Murjani, 2. , mengatakan bahwa single subject research sebagai metodelogi penelitian eksperimen yang digunakan untuk mengevaluasi suatu intervensi yang dilakukan pada satu atau lebih subjek dengan analisis Pendapat lain dari Horner, dkk. alam Iba & Wardhana, 2. , menyatakan single subject research dapat mengamati perubahannya dari hari kehari, apabila diperlakukan perubahan maka dapat segera dilakukan perubahan pada hari berikutnya. Pada penelitian ini desain yang digunakan yaitu A-B-A yang merupakan tahapan kondisi yang terdiri dari A1 (Baseline-. yaitu merupakan tahapan kondisi awal ketika subjek belum mendapatkan perlakuan apapun. Kemudian ada fase B yang merupakan kegiatan Intervensi yaitu subjek diberi perlakuan dan selanjutnya ialah A2 (Base line-. sebagai evaluasi akhir untuk melihat pengaruh intervensi pada subjek. Baseline 1 pada penelitian ini adalah kondisi awal peserta didik dalam mengucapkan kata yang mengandung artikulasi huruf konsonan di awal, di tengah, dan di akhir kata sebelum diberi perlakuan atau intervensi. Tahap A-1 dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan durasi yang disesuaikan dengan kebutuhan. Tahap B atau intervensi merupakan pembelajaran pengucapan artikulasi huruf konsonan dengan menggunakan ragam media kartu gambar, yang dilakukan selama delapan sesi. Penelitian ini menggunakan pendekatan Single Subject Research (SSR) dengan desain AAeBAeA. Desain ini dipilih karena sesuai untuk meneliti perubahan perilaku individu secara mendalam, di mana subjek berfungsi sebagai kontrol atas dirinya sendiri. SSR memungkinkan peneliti untuk mengamati kondisi sebelum intervensi, selama intervensi, dan setelah intervensi dihentikan sehingga dapat diketahui secara jelas ada atau tidaknya pengaruh perlakuan terhadap perubahan perilaku target. Tahap pertama adalah Baseline 1 (A. , yaitu kondisi awal sebelum diberikan intervensi. Pada tahap ini peneliti melakukan pencatatan kemampuan artikulasi anak usia 5Ae6 tahun melalui tes pengucapan huruf konsonan. Pencatatan dilakukan selama tiga sesi untuk memastikan kestabilan data. Tahap ini berfungsi untuk memperoleh gambaran awal kemampuan subjek sebelum menerima perlakuan dengan media kartu gambar. Tahap kedua adalah Intervensi (B). Pada fase ini, peneliti memberikan perlakuan berupa penggunaan media kartu gambar untuk membantu meningkatkan kemampuan artikulasi huruf Intervensi dilakukan berulang-ulang dalam tujuh sesi hingga data yang diperoleh stabil. Setiap sesi dirancang untuk menstimulasi anak agar lebih terarah dalam mengucapkan fonem target melalui tahapan melihat, menyebut, dan mengulang kata sesuai gambar yang ditampilkan. Hasil pada tahap ini kemudian dibandingkan dengan fase baseline untuk mengetahui adanya perubahan. Tahap ketiga adalah Baseline 2 (A. , yaitu kondisi setelah intervensi dihentikan. Tahap ini bertujuan untuk melihat apakah kemampuan artikulasi anak tetap bertahan meskipun tidak lagi diberikan perlakuan. Baseline kedua dilaksanakan selama tiga sesi dengan prosedur yang sama seperti baseline pertama. Apabila hasil pengamatan menunjukkan peningkatan dibandingkan A1 dan tidak Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 mengalami penurunan drastis setelah intervensi dihentikan, maka dapat disimpulkan bahwa perlakuan memiliki pengaruh positif yang bertahan. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Dadaha. Gang Melati. Kecamatan Kahuripan. Kota Tasikmalaya. Lokasi penelitian adalah rumah tinggal subjek yang sekaligus dijadikan tempat pelaksanaan intervensi. Subjek penelitian adalah seorang anak berusia 5Ae6 tahun yang dipilih berdasarkan hasil tes awal yang menunjukkan adanya hambatan artikulasi konsonan. Pemilihan subjek secara khusus ini sesuai dengan karakteristik penelitian SSR, di mana fokus terletak pada pengamatan mendalam terhadap individu dengan kondisi tertentu. Variabel penelitian terdiri dari dua, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen adalah penggunaan media kartu gambar, sedangkan variabel dependen adalah kemampuan artikulasi huruf konsonan anak usia dini. Variabel tersebut ditetapkan agar peneliti dapat menentukan instrumen, teknik pengumpulan data, serta metode analisis yang sesuai dengan tujuan Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer berupa hasil pengucapan artikulasi anak selama fase baseline dan intervensi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi langsung serta tes artikulasi, sementara instrumen yang digunakan berupa lembar observasi yang memuat indikator pengucapan fonem konsonan. Data kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif yang disajikan dalam bentuk grafik. Penyajian grafis dilakukan untuk menampilkan pola perubahan dari setiap fase penelitian, sehingga perbedaan level, tren, dan kestabilan data dapat terlihat jelas dari A1. B, hingga A2. Dengan menggunakan desain SSR AAeBAeA ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran empiris mengenai efektivitas media kartu gambar dalam meningkatkan kemampuan artikulasi huruf konsonan pada anak usia 5Ae6 tahun yang mengalami keterlambatan berbicara. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Desain penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen subjek tunggal (Single Subject Research/SSR) menggunakan desain A-B-A. Penelitian ini terdiri dari tiga fase utama, yaitu fase baseline-1 (A. , fase intervensi (B), dan fase baseline-2 (A. Subjek penelitian merupakan satu orang anak yang mengalami hambatan dalam kemampuan artikulasi huruf konsonan, dengan fokus intervensi pada aspek kebahasaan, khususnya pengenalan fonem awal dari huruf konsonan D. F, dan Q. Rangkaian kegiatan penelitian dilakukan dalam 12 sesi, dengan durasi A20 menit setiap sesinya. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan disajikan dalam bentuk grafik visual untuk menunjukkan perubahan perilaku subjek secara jelas dari waktu ke waktu. Adapun tahapan pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut: Baseline-1 (A. : Tahap ini merupakan kondisi awal untuk mengetahui kemampuan artikulasi huruf konsonan sebelum diberikan perlakuan. Subjek diminta menyebutkan gambar dari media kartu gambar huruf AAeZ. Tahapan ini dilakukan dalam 3 sesi selama 6 hari. Hasil dari tahap ini digunakan untuk melihat kestabilan data awal sebelum dilakukan intervensi. Intervensi (B): Pada tahap ini, subjek diberikan perlakuan menggunakan media kartu gambar yang telah disusun berdasarkan skenario kegiatan treatment. Media yang digunakan terdiri dari 10 kartu gambar dengan fokus pada huruf-huruf konsonan tertentu. Intervensi dilakukan sebanyak 6 sesi selama 12 hari. Tujuan dari tahap ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan artikulasi setelah diberikan perlakuan. Baseline-2 (A. : Tahap ini merupakan fase akhir yang dilakukan setelah intervensi dihentikan. Subjek tidak lagi diberikan perlakuan, namun tetap diminta melakukan aktivitas serupa seperti pada tahap awal. Tahap ini bertujuan untuk menguji konsistensi hasil intervensi dan melihat apakah Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 peningkatan kemampuan artikulasi dapat bertahan meskipun tanpa adanya perlakuan. Fase ini dilaksanakan selama 3 sesi dalam 6 hari. Secara keseluruhan, hasil pengamatan yang dicatat menunjukkan adanya perubahan positif dalam kemampuan artikulasi huruf konsonan pada subjek penelitian. Data hasil intervensi menunjukkan tren peningkatan dibandingkan dengan fase awal, dan hasil fase baseline-2 menunjukkan bahwa sebagian besar peningkatan tetap bertahan. Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan media kartu gambar memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan artikulasi huruf konsonan pada anak usia dini. Hasil Baseline-1 (A. Fase baseline-1 (A. dalam penelitian ini merupakan tahap pertama yang dilakukan untuk mengetahui kondisi awal kemampuan artikulasi huruf konsonan anak dengan memberikan beberapa pertanyaan sesuai dengan indikator soal pada instrumen. Pada tahap ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian yang di isi dengan skor berdasarkan kriteria penilaian. Pada fase baseline-1 (A. , peneliti menggunakan bentuk skor kemudian data yang telah diperoleh diolah ke dalam bentuk persentase pencatatan. Adapun skor kemampuan artikulasi huruf konsonan anak hasil keseluruhan tahap baseline-1 (A. ditunjukan pada tabel dan grafik berikut. Tabel 1. Skor Per Aspek Hasil Baseline-1 (A. Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Jumlah Skor Skor Perolehan Aspek Jumlah Soal Max 1 S. Pengucapan 35,80 Pengucapan 33,33 Pengucapan 33,33 Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa kemampuan artikulasi huruf konsonan subjek paling rendah pada aspek pengucapan kalimat dan pengucapan kombinasi konsonan dengan persentase 33,33%. Sedangkan kemampuan pengucapan huruf subjek paling tinggi, berada pada aspek pengucapan huruf dengan persentase 35,80%. Baseline-1 (A. Sesi 1 34,56 34,56 33,33 Sesi 2 Sesi 3 Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Gambar 1. Grafik Hasil Baseline-1 (A. Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Berdasarkan tabel dan gambar 1 dapat diketahui skor terendah yang diperoleh, ada pada sesi pertama yaitu 27 dengan persentase 33,33%. Hal tersebut disebabkan karena pada sesi pertama, kondisi awal kemampuan artikulasi huruf konsonan anak berinisial AW belum dapat melafalkan a-z Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 huruf dengan tepat ( masih terdapat kesalaha. Skor tertinggi pada sesi 3 mendapatkan skor perolehan 28 dengan persentase 34,56% dengan kriteria anak mulai berkembang pada indikator pengucapan huruf. Sehingga diperoleh rata-rata skor pada 3 sesi berjumlah 27,66% dengan persentase 34,15% kemampuan artikulasi huruf konsonan anak masih rendah dan memerlukan pemberian perlakuan . di tahap selanjutnya yaitu di tahap intervensi. Hasil Intervensi (B) Setelah diperoleh hasil yang stabil pada baseline-1 (A. , peneliti melakukan langkah selanjutnya, yaitu intervensi. Peneliti memberikan intervensi untuk meningkatkan kemampuan artikulasi huruf konsonan menggunakan kartu gambar. Setiap selesai intervensi peneliti melakukan evaluasi untuk mengetahui sejauh mana perkembangan subjek yang telah diberikan intervensi. Pengambilan data dilakukan selama enam sesi dengan jangka waktu 3 minggu. Durasi pemberian intervensi pada masing-masing sesi selama A 20 menit. Adapun skor yang diperoleh pada tahap ini dicantumkan pada tabel dan grafik berikut. Adapun skor yang diperoleh pada tahap ini dicantumkan pada tabel dan grafik berikut. Tabel 2. Skor Per Aspek Hasil Intervensi (B) Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Jumlah Soal Aspek Skor Max Skor Perolehan 2 S. Jumlah Pengucapan huruf 159,25 Pengucapan 165,43 Pengucapan 145,67 Pada tahap intervensi ini, peneliti melakukan treatment sebanyak enam sesi. Setiap dua sesi pemberian treatment, peneliti hanya fokus pada satu aspek yang dikembangkan. Pada sesi pertama dan kedua, aspek yang menjadi fokus utama adalah kemampuan artikulasi huruf. Adapun skor yang diperoleh pada tahap ini dicantumkan dalam grafik berikut. Intervensi (B) Sesi 1 Sesi 2 Sesi 3 Sesi 4 Sesi 5 Sesi 6 Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Gambar 2. Hasil Intervensi (B) Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Berdasarkan grafik 2. dapat diketahui bahwa adanya peningkatan kemampuan artikulasi huruf konsonan subjek pada saat diberikan intervensi. Pada sesi pertama persentase sebesar 59,25%, telah terjadi peningkatan pada sesi kedua dengan persentase sebesar 60,49%. Kemudian meningkan pada sesi ketiga menjadi 62,96%. Meningkat lagi pada sesi keempat menjadi 93,82. Pada sesi kelima Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 meningkat menjadi 96,29% terakhir pada sesi keenam persentase yang didapatkan menjadi 96,29%. Skor rata-rata yang diperoleh pada tahap ini yaitu sebesar 78,18%. Pada tahap intervensi (B) yang dilakukan sebanyak 6 sesi. Dari data tersebut, peneliti memperoleh dan skor terendah pada sesi 1 sejumlah 48 dengan persentase 59,29 %, karena subjek ketika diberikan treatment menggunakan media kartu gambar mendapatkan kriteria mulai berkembang pada indikator pengucapan huruf, pengucapan kalimat, pengucapan kombinasi huruf konsonan. Sedangkan untuk skor tertinggi pada sesi 6 sejumlah 78 dengan persentase 96,29% dengan kriteria berkembang sangat baik pada keseluruhan indikator. Namun, terkadang ada beberapa huruf yang tidak diketahui oleh anak. Rata-rata keseluruhan dari 6 sesi yang telah dilaksanakan mendapatkan skor perolehan 63,33% dengan persentase 78,18%, ketika diberikan intervensi terdapat keberhasilan anak yang mengalami peningkatan dalam pengucapan huruf, pengucapan kalimat, pengucapan kombinasi huruf konsonan termasuk pada kriteria berkembang sesuai harapan. Akan tetapi, untuk melihat kondisi akhir kemampuan artikulasi huruf konsonan anak membutuhkan percobaan ulang setelah diberikan treatment yang delanjutnya dilakukan pembelajaran tanpa memberikan perlakuan. Hasil Baseline-2 (A. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh pada tahap intervensi (B), yang menunjukkan bahwa data telah stabil, maka selanjutnya dilakukan tahap baseline-2 (A. untuk melihat kondisi akhir kemampuan artikulasi huruf konsonan subjek tanpa diberikan perlakuan apapun. Tahap ini dilakukan selama 3 sesi dengan jeda pemberian satu hari dalam jangka waktu 5 hari. Durasi pada fase baseline2 (A. untuk masing-masing sesi yaitu selama A 20 menit. Adapun skor yang diperoleh pada tahap ini dicantumkan pada tabel berikut. Tabel 3. Skor Per Aspek Hasil Baselien-2 (A. Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Aspek Jumlah Soal Skor Max Skor Perolehan Jumlah Pengucapan 93,82 Pengucapan 92,59 Pengucapan 96,29 Berdasarkan pada tabel tersebut, kemampuan artikulasi huruf konsonan subjek setelah diberikan intervensi menggunakan media kartu gambar mengalami peningkatan. Pada aspek pengucapan huruf persentase yang diperoleh sebesar 93,82%. Pada aspek pengucapan kalimat persentase yang diperoleh sebesar 92,59%. Pada aspek pengucapan kombinasi konsonan persentase Baseline-2 (A. Sesi 1 Sesi 2 Sesi 3 Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 yang diperoleh sebesar 96,29%. Untuk menjelaskan secara umum, skor hasil baseline-2 (A. kemampuan artikulasi huruf konsonan akan dipaparkan grafik berikut. Gambar 3. Grafik Hasil Baseline-2 (A. Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Berdasarkan grafik 3. secara umum kemampuan artikulasi huruf konsonan yang dimiliki subjek mengalami peningkatan dari kondisi awal setelah diberikannya perlakuan menggunakan media kartu Pada sesi pertama mendapatkan persentase skor sebesar 93,82%, pada sesi kedua dengan persentase skor sebesar 92,59% dan skor tertinggi berada pada sesi ketiga dengan persentase sebesar 96,29%. Tabel 4. Rangkuman Skor Hasil Keseluhuran Kemampuan Artikulasi Huruf Konsonan Fase Sesi Skor Presentase Rata-Rata 33,33 % 27,66% 34,56 % 34,56 % 59,25% 63,33% 60,49% 62,96% 93,82% 96,29% 96,29% 91,35% 76,33% 93,82% 97,53% Keterangan: Baseline-1 (A. : Fase baseline-1 yaitu kondisi awal sebelum diberikan perlakuan . Intervensi (B) : Kondisi awal kemampuan artikulasi huruf konsonan saat diberikan perlakuan . atau intervensi menggunakan media kartu gambar. Baseline-2 (A. : Kondisi akhir kemampuan artikulasi huruf konsonan sesudah diberikan perlakuan . atau intervensi. Kemampuan artikulasi huruf konsonan subjek mengalami peningkatan setiap sesinya. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui skor tertinggi pada tahap baseline-1 (A. sebesar 34,56 %, tahap intervensi sebesar 96,29%, dan tahap baseline-2 (A. sebesar 97,53%. Sehingga penggunaan media kartu gambar dapat dikatakan efektif digunakan untuk mengatasi hambatan kemampuan artikulasi huruf konsonan setelah diberikan intervensi yang difokuskan pada hasil dapat meningkatkan kemampuan artikulasi huruf konsonan pada anak usia 5-6 tahun. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kemampuan artikulasi huruf konsonan pada anak usia 5Ae6 tahun mengalami peningkatan yang signifikan setelah diberikan perlakuan berupa intervensi menggunakan media kartu gambar. Hal ini terlihat dari fase baseline-1 (A. di mana kemampuan artikulasi anak masih sangat rendah, dengan skor rata-rata hanya 34,15%, menunjukkan bahwa anak masih kesulitan dalam mengucapkan huruf, menyusun kalimat, dan melafalkan kombinasi konsonan. Kesalahan pelafalan ini tidak jarang muncul akibat keterbatasan kontrol motorik organ bicara yang belum matang, kurangnya stimulasi lingkungan, maupun metode pembelajaran yang belum tepat Dalam fase ini, anak menunjukkan banyak kesalahan dalam pelafalan, seperti substitusi bunyi . isalnya, bunyi /r/ menjadi /l/), distorsi, bahkan omisi. Hal ini sangat wajar terjadi pada usia Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 prasekolah, namun bila dibiarkan dapat berdampak pada kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi anak di masa depan. Setelah dilaksanakan intervensi melalui media kartu gambar selama enam sesi, kemampuan artikulasi anak mengalami peningkatan yang konsisten dari waktu ke waktu. Pada sesi pertama intervensi, skor perolehan berada di angka 59,25%, yang kemudian terus meningkat hingga mencapai 96,29% pada sesi keenam. Peningkatan ini menunjukkan efektivitas media kartu gambar dalam membantu anak mengembangkan keterampilan fonetik, khususnya dalam mengartikulasikan bunyibunyi konsonan dengan lebih jelas dan tepat. Hal ini diperkuat oleh temuan pada fase baseline-2 (A. , di mana kemampuan anak tetap tinggi meski perlakuan telah dihentikan. Skor rata-rata mencapai 76,33%, dengan skor tertinggi di sesi ketiga sebesar 97,53%, membuktikan bahwa kemampuan artikulasi anak tetap terjaga bahkan setelah intervensi selesai. Artinya, efek dari penggunaan kartu gambar tidak hanya instan, tetapi juga berkelanjutan. Secara teoritis, hasil ini dapat dijelaskan melalui Dual Coding Theory yang dikemukakan oleh Allan Paivio . alam Wiwin Pratiwi et al. , 2. , yang menyatakan bahwa informasi yang diterima secara visual dan verbal secara bersamaan akan lebih mudah diproses dan diingat. Dalam konteks ini, gambar pada kartu berfungsi sebagai representasi visual yang konkret terhadap kata atau bunyi yang sedang dipelajari, sementara pengucapan oleh guru atau anak sendiri menjadi representasi verbal. Keduanya memperkuat asosiasi dalam memori anak sehingga pengucapan menjadi lebih tepat dan tidak mudah Berdasarkan manfaat alat permainan edukatif contohnya kartu bergambar sangat membawa pengaruh positifdalam proses kegiatan anak (Fahruddin et al. , 2. Selain itu, teori behavioristik yang dikembangkan oleh Skiner . alam Gusti et al. , 2. menekankan pentingnya stimulus dan respons dalam proses belajar. Dalam penggunaan kartu gambar, anak diberi stimulus berupa gambar dan bunyi yang menarik, lalu diperkuat dengan pengulangan, umpan balik positif, dan keterlibatan aktif anak dalam menyebutkan dan menirukan bunyi tersebut. Proses ini secara bertahap memperbaiki artikulasi Penelitian ini sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Mardani . , yang membuktikan bahwa permainan edukatif seperti kartu huruf bergambar dapat meningkatkan kemampuan fonologis dan keterampilan pra-membaca anak TK, khususnya dalam mengenal dan melafalkan bunyi huruf Anak-anak menjadi lebih antusias dalam belajar karena gambar yang menarik dan suasana pembelajaran yang interaktif. Hal serupa ditemukan oleh Amseke et al. , . , dalam jurnal English Language and Culture, bahwa flashcard atau kartu bergambar memiliki pengaruh signifikan dalam mempercepat proses pembelajaran fonem dan pengucapan huruf. Bahkan pada anak dengan hambatan belajar sekalipun, media visual membantu menstimulus area otak yang bertanggung jawab atas persepsi fonologis. Hal ini mendukung pernyataan Riska . , bahwa strategi visual auditif kinestetik (VAKT) sangat tepat digunakan untuk anak usia dini dalam pembelajaran bunyi bahasa karena mampu melibatkan banyak indra sekaligus. Lebih lanjut, kemampuan artikulasi yang berkembang melalui media kartu gambar ini tidak hanya membantu anak dalam menyebutkan huruf satu per satu, tetapi juga dalam mengucapkan kalimat dan kombinasi konsonan. Perkembangan ini menunjukkan bahwa penggunaan media ini membantu anak tidak hanya secara fonetik, tetapi juga dalam membangun kesadaran fonologis secara Penelitian oleh Fatimah et al. , . , juga menyebutkan bahwa media visual interaktif, seperti flashcard yang dikustomisasi, terbukti mampu menumbuhkan keberanian anak untuk berbicara dan menirukan pelafalan kata-kata dengan lebih percaya diri, karena mereka merasa terlibat secara emosional dan visual dalam pembelajaran. Temuan ini menjadi penting dalam konteks pendidikan anak usia dini karena keterampilan artikulasi merupakan fondasi awal dari keterampilan bahasa yang lebih kompleks seperti membaca dan Anak yang memiliki kemampuan artikulasi yang buruk cenderung mengalami kesulitan dalam Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 memahami pelajaran, membaca dengan lancar, dan berkomunikasi secara efektif. Oleh karena itu, intervensi berbasis media visual seperti kartu gambar bisa menjadi solusi praktis dan menyenangkan untuk guru PAUD dan orang tua. Penggunaan media ini tidak memerlukan biaya mahal, dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak, serta fleksibel digunakan di berbagai situasi pembelajaran formal maupun informal. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat pandangan bahwa penggunaan media kartu gambar dapat menjadi alternatif yang efektif untuk mengatasi hambatan artikulasi huruf konsonan pada anak usia 5Ae6 tahun. Pendekatan ini menggabungkan aspek visual dan verbal dalam proses belajar, mengaktifkan berbagai dimensi perkembangan anak secara simultan, serta meningkatkan keterampilan bahasa anak secara holistik. Keberhasilan intervensi ini tidak hanya terlihat dari skor perolehan yang meningkat secara signifikan, tetapi juga dari keterlibatan aktif anak dalam proses belajar yang menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan dunia anak. Oleh karena itu, media kartu gambar sangat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan artikulasi anak usia dini. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan melalui desain A-B-A dalam pendekatan Single Subject Research (SSR), dapat disimpulkan bahwa penggunaan media kartu gambar efektif dalam mengatasi hambatan kemampuan artikulasi huruf konsonan pada anak usia 5Ae6 tahun. Hasil pada fase baseline-1 (A. menunjukkan bahwa kemampuan awal anak dalam mengucapkan huruf konsonan berada pada kategori sangat rendah dengan rata-rata persentase hanya sebesar 34,15%. Setelah diberikan intervensi melalui media kartu gambar selama enam sesi, terjadi peningkatan kemampuan artikulasi secara signifikan hingga mencapai rata-rata 78,18% pada fase intervensi (B). Peningkatan ini terus berlanjut bahkan setelah perlakuan dihentikan, sebagaimana terlihat pada fase baseline-2 (A. , dengan skor rata-rata sebesar 76,33% dan skor tertinggi mencapai 97,53%. Temuan ini menunjukkan bahwa media kartu gambar tidak hanya meningkatkan pelafalan huruf konsonan, tetapi juga membantu anak dalam membentuk keterampilan berbahasa secara umum, seperti menyusun kalimat dan melafalkan kombinasi huruf. Dengan demikian, penggunaan media kartu gambar sangat direkomendasikan sebagai alternatif pembelajaran dalam mengatasi hambatan artikulasi pada anak usia dini, khususnya pada anak yang mengalami keterlambatan berbicara. Media ini dapat diterapkan secara fleksibel baik di lingkungan formal . eperti sekola. maupun informal . i ruma. , dan menjadi alat bantu belajar yang efektif, edukatif, dan menyenangkan untuk menunjang perkembangan bahasa anak secara optimal. DAFTAR KEPUSTAKAAN Amseke. Hawali. Amseke. Radja. , & Lobo. Penggunaan Media Gambar dan Kartu Huruf dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , 6723Ae6731. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Arikunto. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Cahyani. Dorlina Simatupang. Reza. , & Widayati. Pengaruh Strategi Pembelajaran Bernyanyi Terhadap Perkembangan Kemampuan Membaca Anak Usia 5-6 Tahun. Jurnal Pelita PAUD, 9. , 113Ae125. https://doi. org/10. 33222/pelitapaud. Daruhadi. , & Sopiati. Pengumpulan Data Penelitian. J-CEKI : Jurnal Cendekian Ilmiah, 3. , 5423Ae5443. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Dewi. Abubakar. , & Hidayat. Kemampuan membaca permulaan melalui media Jurnal Riset Golden Age PAUD UHO, 3. https://doi. org/10. 36709/jrga. Djollong. Tehnik Pelaksanaan Penelitian Kuantitatif. Istiqra: Jurnal Pendidikan Dan Pemikiran Islam, 2. , 86Ae100. Fahruddin. Rachmayani. , & Safitri. EfektifitasPenggunaan Media Kartu Bergambar untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Anak. Journal of Classroom Action Research, 1, 49Ae53. https://doi. org/10. 29303/jcar. Fatimah. Hidayat. , & Herniawati. MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI MEDIA GAMBAR PADA ANAK USIA 5 Ae 6 TAHUN DI PAUD BAHRUL IHSAN KAWASEN. Jurnal Intisabi, 2. , 33Ae50. https://doi. org/10. 61580/itsb. Gusti. Made. Lestari. Ni. , & Made. Stimulasi Membaca Permulaan Anak Usia Dini. Pratama Widya, 3. Iba. Wardhana, . Metode Penelitian. https://w. net/publication/382060598 Eureka Media Aksara. Mardani. Penggunaan Media Animasi Bergambar dalam Mengembangkan Keterampilan Membaca Permulaan Anak Usia Dini. PAUD Lectura: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini , 5. , 63Ae https://doi. org/10. 31849/paud-lectura. Murjani. Prosedur Penelitian Kuantitatif. Jurnal Cross-Border, 5. , 687Ae713. Oktaviyanti. Amanatulah. Nurhasanah. , & Novitasari. Analisis Pengaruh Media Gambar terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6. , 5589Ae5597. https://doi. org/10. 31004/basicedu. Pertiwi. Study Deskriptif Proses Membaca Permulaan Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 5. https://doi. org/10. 21831/jpa. Riska. Peningkatan Kemampuan Mengenal Huruf Konsonan Melalui Metode Fonik Pada Anak Usia 5-6 Tahun. Jurnal Riset Dan Inovasi Pembelajaran, 4. , 949Ae963. https://doi. org/10. 51574/jrip. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung : Penerbit Alfabeta. Wahyudin. Optimalisasi Peran Kepala Sekolah dalam Implementasi Kurikulum 2013. Jurnal Kependidikan, 6. , 249Ae265. https://doi. org/10. 24090/jk. Wiwin Pratiwi. Ketut Gading. , & Antara. Instrumen Penilaian Kemampuan Membaca Permulaan Pada Anak Usia Dini. Journal for Lesson and Learning Studies, 4. , 33Ae38. Yusutria. Analisis Mutu Lembaga Pendidikan Berdasarkan Fungsi Manajemen di Pondok Pesantren Thawalib Padang Sumatera Barat. TaAodib: Jurnal Pendidikan Islam, 7. , 61Ae68. https://doi. org/10. 29313/tjpi.