Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 ISSN 2528-4967 . dan ISSN 2548-219X . Pelatihan Mitigasi Bencana Gempa dan Kebakaran Siswa Madrasah Aliyah Jabal Noer Earthquake and Fire Disaster Mitigation Training for Jabal Noer Madrasah Aliyah Students Elok Dewi Widowati1*. Muhammad Muharrom Al-Haromainy1. Rizqi Alghiffary1. Muhamad Fauzan Akbari1. Rahmat Dwi Sutrisno2 1 UPN Veteran Jawa Timur, 2Universitas Muhammadiyah Gresik ft@upnjatim. id1, muhammad. if@upnjatim. ft@upnjatim. id 3, muhamad. ft@upnjatim. rahmatdwisutrisno@umg. Corresponding Author: elok. ft@upnjatim. ABSTRAK Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana alam, khususnya gempa bumi dan kebakaran, karena letaknya di pertemuan tiga lempeng tektonik dunia. Kondisi ini menuntut adanya kesiapsiagaan yang memadai, terutama di lingkungan sekolah yang padat aktivitas. Madrasah Aliyah Jabal Noer Sidoarjo memiliki bangunan bertingkat dengan akses evakuasi yang terbatas, lorong sempit, serta minimnya fasilitas proteksi kebakaran, sehingga menimbulkan kerentanan tinggi apabila terjadi bencana. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa serta guru dalam menghadapi potensi gempa bumi dan kebakaran. Metode yang digunakan berupa survei kondisi eksisting bangunan, penyusunan dan pemasangan peta jalur evakuasi, pemasangan rambu dan poster himbauan, sosialisasi materi kebencanaan, demonstrasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR), serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada hampir seluruh aspek, meliputi pemahaman definisi mitigasi, prosedur evakuasi, titik kumpul, pemakaian APAR, serta kesadaran akan keselamatan dan kesehatan kerja. Siswa juga menunjukkan sikap lebih positif terhadap pentingnya pelaksanaan simulasi bencana secara rutin. Dengan demikian, program pelatihan ini berhasil mencapai tujuan pengabdian sekaligus menumbuhkan budaya sadar bencana yang berpotensi berkelanjutan di lingkungan sekolah. Kata Kunci: gempa bumi. mitigasi bencana. ABSTRACT Indonesia is one of the world's most disaster-prone countries, especially for earthquakes and fires, due to its location at the intersection of three major tectonic plates. This requires adequate disaster preparedness, especially in schools, where population density and daily activity are high. Madrasah Aliyah Jabal Noer Sidoarjo has a multistory building with limited evacuation access, narrow corridors, and insufficient fire protection facilities, increasing its vulnerability in the event of a disaster. The goal of this community service program was to improve the knowledge, skills, and attitudes of students and teachers when it comes to potential earthquakes and fires. Methods employed included surveying existing building conditions, designing and installing evacuation route maps, installing signs and educational posters, disseminating disaster preparedness materials, demonstrating fire extinguisher use, and evaluating through pre- and post-test questionnaires. The results showed significant improvements in understanding disaster mitigation, evacuation procedures, assembly points, fire extinguisher use, and occupational health and safety awareness. Students also expressed a more positive attitude toward the importance of conducting regular disaster simulation drills. Thus, the program successfully achieved its objectives and fostered a culture of disaster awareness within the school environment that has the potential to be sustained. Keywords: earthquake. disaster mitigation. Copyright A 2026. Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. http://journal. um-surabaya. id/index. php/Axiologiya/index DOI: http://dx. org/10. 30651/aks. Widowati, dkk /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 PENDAHULUAN id menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan bahwa wilayah Jawa Timur, termasuk tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi. Kabupaten khususnya gempa bumi dan kebakaran. Secara merasakan dampak gempa bumi akibat geografis. Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu lempeng Eurasia. Kepadatan Indo-Australia, dan Pasifik, yang menjadikannya berada di jalur Ring of Fire sehingga aktivitas risiko kebakaran, baik akibat korsleting seismik sering terjadi (Adri et al. BMKG listrik maupun faktor lainnya, terlebih mencatat lebih dari sepuluh ribu gempa bumi bangunan pesantren ini pernah mengalami terjadi di Indonesia sepanjang 2023, yang kebakaran pada tahun 2005. Minimnya berdampak pada berbagai sektor termasuk pengetahuan siswa mengenai prosedur Risiko bencana semakin besar pada bangunan sekolah yang padat, bertingkat, dan memiliki keterbatasan jalur evakuasi. menjadikan pelatihan mitigasi bencana Madrasah Aliyah Jabal Noer Sidoarjo Sidoarjo. Jawa. berada di kawasan padat penduduk dengan Permasalahan utama tidak hanya terletak bangunan empat lantai yang memiliki akses pada keterbatasan sarana, tetapi juga pada tangga sempit dan lorong remang, sehingga aspek non-struktural berupa rendahnya berisiko tinggi saat terjadi gempa bumi atau Kondisi jalur evakuasi yang terbatas, lingkungan sekolah. dengan lebar lorong kurang dari 1,2 meter. Berbagai berpotensi menimbulkan penumpukan siswa saat menunjukkan bahwa pendidikan mitigasi Selain itu, ketersediaan alat pemadam bencana di lingkungan sekolah mampu api ringan (APAR) belum merata dan sebagian menurunkan risiko bencana secara nyata. Penelitian Hesti et al. dan Rahmat & Kondisi tersebut menjadikan Madrasah Aliyah Ayu . membuktikan bahwa sosialisasi Jabal Noer sangat relevan sebagai lokasi dan simulasi gempa bumi meningkatkan pelaksanaan program pelatihan mitigasi bencana. Urgensi kesiapsiagaan guru secara signifikan. Selain diperkuat dengan Pusat Informasi Kebencanaan itu, studi oleh Yulistiya & Yuniawatika Kabupaten . di SDN 02 Karanganyar dan Atmojo Sidoarjo Widowati, dkk /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 . , menegaskan pentingnya edukasi mitigasi gempa sejak dini melalui metode ceramah, media bencana gempa bumi dan kebakaran. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan permasalahan mitra, yakni keterbatasan Penelitian tentang penerapan sadar bencana kesiapan warga sekolah dalam menghadapi melalui sosialisasi menunjukkan bahwa meskipun kondisi darurat serta minimnya fasilitas sekolah telah memiliki sarana dasar, rendahnya mitigasi yang tersedia. pelatihan terprogram menyebabkan kemampuan penggunaan alat proteksi kebakaran masih belum (Pahleviannur, 2019 dan Djaali et al. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat di Madrasah Aliyah Jabal Noer Sidoarjo keterampilan siswa serta guru dalam menghadapi Gambar 1: Pemasangan Denah Jalur Evakuasi dan Poster Himbauan potensi gempa bumi dan kebakaran. Melalui memahami prosedur evakuasi dan mampu menggunakan alat pemadam api ringan dengan Kegiatan ini juga melatih sikap tanggap dan tenang dalam menghadapi kondisi darurat. Dengan demikian, diharapkan tumbuh budaya kesiapsiagaan bencana sehingga lingkungan menghadapi ancaman bencana. Tahapan kegiatan dimulai dengan survey kondisi eksisting bangunan sekolah. Observasi dilakukan secara langsung untuk memperoleh data mengenai karakteristik (PkM) ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Jabal Noer. Sidoarjo, pada bulan Mei 2025 dengan melibatkan 30 siswa, guru, serta pengelola sekolah sebagai subjek sasaran kegiatan. Metode yang diterapkan berupa pelatihan, pendidikan, kondisi tangga dan lorong, pencahayaan. Hasil survey dijadikan dasar dalam perumusan strategi mitigasi yang kontekstual dengan situasi sekolah. METODE PENELITIAN Program Pengabdian kepada Masyarakat Selanjutnya, menyusun peta jalur evakuasi untuk setiap lantai berdasarkan denah bangunan yang Jalur distribusi ruang kelas agar mobilitas Widowati, dkk /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 evakuasi dapat berlangsung lebih cepat, tertib. Untuk menilai efektivitas kegiatan, dan aman. Berdasarkan peta tersebut dilakukan dilakukan pre-test dan post-test melalui pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi, tanda Pre-test titik kumpul, serta poster edukatif berisi langkah- langkah yang harus dilakukan saat terjadi gempa pemahaman awal peserta, sedangkan post- bumi maupun kebakaran. test diberikan setelah kegiatan untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Data yang diperoleh pelatihan mengenai kesiapsiagaan terhadap Gambar 2: Pelaksanaan Sosialisasi Mitigasi Bencana bencana gempa bumi dan kebakaran. Seluruh Tahap berikutnya adalah sosialisasi materi dilaksanakan di lingkungan Madrasah mitigasi bencana yang disampaikan kepada siswa Aliyah Jabal Noer, baik di ruang kelas dan guru. Materi meliputi potensi ancaman, untuk sesi penyampaian materi maupun di prosedur penyelamatan diri, tata cara evakuasi, halaman sekolah untuk simulasi evakuasi serta langkah-langkah yang perlu dilakukan dan praktik penggunaan APAR. Melalui dalam menghadapi situasi darurat. Sosialisasi dikombinasikan dengan demonstrasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Instruktur kesiapsiagaan bencana di sekolah serta langsung, kemudian peserta diminta menirukan menumbuhkan budaya tanggap darurat agar memperoleh pengalaman aplikatif dalam mengoperasikan APAR. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pelatihan mitigasi bencana gempa bumi dan kebakaran di Madrasah Aliyah Jabal Noer Sidoarjo menghasilkan dampak Gambar 3: Pelatihan Menggunakan APAR Widowati, dkk /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa. Hal dari 80% siswa dapat menjelaskan definisi mitigasi dengan benar. Hasil ini sejalan kuesioner pre-test dan post-test. Pada dengan penelitian Rahayu et al. yang menemukan bahwa penyuluhan dan media terlihat adanya peningkatan yang konsisten. pembelajaran sederhana seperti leaflet dan Misalnya, pada pemahaman terkait definisi mitigasi bencana pada Tabel 1, sebelum kegiatan pemahaman siswa sekolah dasar tentang sebagian besar siswa masih belum mampu konsep mitigasi bencana secara signifikan. mengartikulasikan pengertian mitigasi secara Namun setelah diberikan sosialisasi, lebih Tabel 1. Perbandingan Hasil Pretest dan Post Test Score Indikator Pre Test "Tidak/Belum Paham" Post Test "Sudah Paham/Mengetahui" Pemahaman Definisi Mitigasi Pemahaman Jalur Evakuasi Pemahaman Titik Kumpul Evakuasi Pemahaman Pemakaian APAR Pemahaman tentang K3 Pemahaman jenis bencana di Indonesia Pihak yang dihubungi ketika terjadi bencana Pentingnya Simulasi Bencana Peningkatan serupa juga terlihat pada bahwa pelatihan tanggap darurat di SMA pengetahuan mengenai tindakan yang harus mampu meningkatkan kesadaran siswa dilakukan saat terjadi gempa bumi (Tabel . terhadap prosedur evakuasi kebakaran Sebelum kegiatan, sebagian besar siswa hanya secara terstruktur. mengetahui tindakan dasar seperti lari keluar Pada kelas, namun belum memahami prosedur yang evakuasi dan titik kumpul (Tabel . , benar seperti Drop. Cover, and Hold On. Setelah kegiatan, lebih dari 75% siswa dapat menjelaskan Sebelum pelatihan, sebagian langkah-langkah penyelamatan diri yang sesuai besar siswa tidak mengetahui jalur evakuasi Hasil ini menguatkan temuan Sayuti et al. yang benar karena belum tersedia peta . di Lhokseumawe yang menunjukkan evakuasi maupun rambu penunjuk arah di Widowati, dkk /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 Setelah dipasang rambu dan dilakukan Selanjutnya, pada Tabel 1 aspek mengidentifikasi jalur evakuasi dan titik kumpul kesehatan kerja (K. , terjadi peningkatan dengan benar. Hasil ini sejalan dengan studi kesadaran siswa terhadap pentingnya aspek Wedhasari & Ruhyat . yang menekankan keselamatan dalam menghadapi kondisi pentingnya kelengkapan fasilitas keselamatan Hasil post-test menunjukkan bahwa seperti rambu evakuasi dan titik kumpul dalam siswa lebih memahami bahwa penerapan meningkatkan kesiapsiagaan bencana di sekolah. prinsip K3 tidak hanya berlaku di dunia Sementara itu, pada aspek keterampilan kerja, tetapi juga dalam kehidupan sehari- praktis, peningkatan paling menonjol terlihat hari termasuk di sekolah. Hal ini sejalan pada pemahaman dan praktik penggunaan Alat dengan studi Lilianti et al. dan Wuni Pemadam Api Ringan (APAR) (Tabel . et al. yang menekankan bahwa Sebelum pelatihan, hampir semua siswa belum pendidikan kebencanaan dapat memperluas APAR Setelah keterkaitannya dengan prinsip K3. diberikan demonstrasi dan praktik langsung, lebih Tabel 1 menunjukkan pemahaman dari 70% siswa mampu mengoperasikan APAR jenis-jenis dengan metode PASS (Pull. Aim. Squeeze. Indonesia juga meningkat, dari yang Swee. Hasil ini mendukung penelitian Yoto et sebelumnya terbatas pada gempa bumi dan . yang melaporkan bahwa keterampilan banjir menjadi lebih luas, mencakup penggunaan APAR dapat ditingkatkan secara kebakaran, tsunami, letusan gunung api, signifikan melalui pelatihan praktik langsung di dan tanah longsor. Pengetahuan siswa mengenai pihak yang harus dihubungi saat bencana (Gambar . juga mengalami peningkatan, di mana sebagian besar siswa sudah mengetahui peran lembaga formal seperti BPBD. Damkar, dan kepolisian. Hasil ini menguatkan temuan penelitian Rahayu et al. dan Maryani . kebencanaan di sekolah perlu mencakup Gambar 10: Hasil Kuesioner Pengetahuan K3 Widowati, dkk /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 memahami mekanisme bantuan eksternal ketika program sangat besar karena pihak sekolah terjadi bencana. berkomitmen menjadikan kegiatan ini memanfaatkan peta evakuasi dan ramburambu keselamatan yang telah dipasang sebagai sarana edukasi jangka panjang. Dengan demikian, hasil kegiatan ini tidak hanya memberikan dampak jangka pendek berupa peningkatan pengetahuan. Gambar 11: Hasil Kuesioner Pihak yang Dihubungi saat Bencana Menariknya, post-test pandangan yang lebih positif terhadap pentingnya pelaksanaan simulasi bencana secara rutin (Tabel Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pengetahuan sesaat, tetapi juga membentuk sikap masa depan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Sutaarga . dan Patricia & Yani . yang menekankan bahwa simulasi berulang secara periodik dapat menumbuhkan budaya sadar bencana yang berkelanjutan di sekolah. menghasilkan beberapa luaran penting, antara lain: . meningkatnya pemahaman konseptual siswa tentang mitigasi bencana, . bertambahnya keterampilan praktis siswa dalam penggunaan . pentingnya budaya kesiapsiagaan bencana di Potensi bahwa upaya mitigasi bencana berbasis sekolah dapat menjadi strategi efektif dalam pendidikan terhadap ancaman gempa bumi dan kebakaran. SIMPULAN Program pengabdian masyarakat berupa pelatihan mitigasi bencana gempa bumi dan kebakaran di Madrasah Aliyah Jabal Noer Sidoarjo terbukti mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan siswa serta guru dalam Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan ini Hal ini memperlihatkan yang mendorong keberlanjutan kegiatan serupa di APAR menghadapi situasi darurat. Hasil pre-test post-test aspek, mulai dari pemahaman konsep mitigasi, prosedur evakuasi, pemanfaatan keterampilan penggunaan APAR, hingga kesadaran akan pentingnya penerapan Widowati, dkk /Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Vol. No. Februari 2026 Hal 634-642 prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K. Pemasangan peta jalur evakuasi, ramburambu keselamatan, dan poster edukasi turut memperkuat pemahaman siswa terhadap tata cara penyelamatan diri. Sosialisasi yang disertai demonstrasi dan praktik langsung terbukti efektif dalam menumbuhkan keterampilan aplikatif sekaligus membangun sikap tanggap darurat di lingkungan sekolah. Dengan demikian, tujuan Boyolali-Magelan. Jurnal Geodesi Undip, 189-196. Atmojo. Pendidikan Dini Mitigasi Bencana. JURNAL ABDIMAS BSI, 118-126. Djaali. Usman. Agustino. , & Simaibang. Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K. Melalui Sosialisasi Potensi Bahaya di Sekolah. Jurnal Pemberdayaan Komunitas MH Thamrin, 34-43. mitigasi bencana di sekolah tercapai secara Keberlanjutan potensial karena pihak sekolah berkomitmen menjadikannya agenda rutin, serta memanfaatkan fasilitas yang telah dipasang sebagai sarana edukasi jangka panjang. Oleh karena itu, kegiatan berkesinambungan tidak hanya di Madrasah Aliyah Jabal Noer, tetapi juga di sekolah-sekolah lain, sehingga budaya sadar bencana dapat terbentuk secara lebih luas di lingkungan Kesimpulan penelitian berisi tentang uraian ringkas yang ada dalam hasil dan DAFTAR PUSTAKA