Economics Professional in Action (E-Profi. e-ISSN: 2655-867X p-ISSN: 2655-8661 Volume 3 No. 02 Agustus 2021 ANALISIS VALUASI NILAI SAHAM PERUSAHAAN INDUSTRI PULP & PAPER MENGGUNAKAN METODE FREE CASH FLOW TO FIRM (FCFF) DAN RELATIVE VALUATION PERIODE 2015-2019 Johannes Kristian Siregar Fakultas Ekonomi Bisnis. Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia email : Johannes@unibi. Abstrak Data Kementerian Perindustrian menunjukkan kebutuhan kertas di era global saat ini berkisar 394 juta ton. Jumlah ini diprediksi tumbuh 24,4% menjadi 490 juta ton pada 2020. Konsumsi kertas di dunia diramalkan tumbuh rerata 2,1% per tahun, sedangkan pasar negaranegara berkembang naik 4,1% per tahun dan negara maju 0,5%. Fenomena yang terjadi pada perusahaan industri pulp & paper bergerak stabil cenderung turun dalam pengamatan 10 tahun Pergerakan dan pertumbuhan harga saham perusahaan yang terdaftar di bursa saham di Indonesia dari tahun ke tahun yang berfluktuatif serta dari hasil penelitian sebelumnya yang menunjukan harga saham belum mencerminkan nilai yang sesungguhnya . ilai intrinsi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah nilai saham tersebut berada di atas . atau dibawah . dari nilai saham tersebut. Penelitian yang dilakukan mengenai valuasi perusahaan sektor pulp & paper di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan FCFF dan Relative Valuation menggunakan pendekatan PER dan PBV. Sampling menggunakan Teknik Purposive Sampling dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi lapangan dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa harga saham berdasarkan FCFF dan Relative Valuation menunjukan pada perusahaan INKP dan TKIM berada di bawah harga pasar . sedangkan FASW berada di atas harga pasar . Kata kunci : FCFF (Free Cash Flow to Equit. Relative Valuation. PER (Price Earning Rati. PBV (Price Book Valu. Abstarct Data from the Ministry of Industry shows that paper demand in the current global era is around 394 million tons. This number is predicted to grow 24. 4% to 490 million tons in World paper consumption is predicted to grow by an average of 2. 1% per year, while markets in developing countries will increase by 4. 1% per year and developed countries by The phenomenon that occurs in pulp & paper industry companies is moving steadily, which tends to decrease in the last 10 years of observation. The movement and growth of stock prices of companies listed on the stock exchange in Indonesia from year to year are fluctuating and from the results of previous studies which show that stock prices do not reflect the true value . ntrinsic valu. The purpose of this study is to determine whether the stock value is above . or under . the value of the stock. The research was conducted on the valuation of pulp & paper sector companies in Indonesia listed on the Indonesia Stock Exchange using FCFF and Relative Valuation using PER and PBV approaches. Sampling used purposive sampling technique and data collection techniques were carried out by field studies and literature. The results show that the stock price based on FCFF and Relative Valuation shows that INKP and TKIM companies are under the market price . while FASW is above the market price . Economics Professional in Action (E-Profi. Key word: e-ISSN: 2655-867X p-ISSN: 2655-8661 Volume 3 No. 02 Agustus 2021 FCFF (Free Cash Flow to Equit. Relative Valuation. PER (Price Earning Rati. PBV (Price Book Valu. PENDAHULUAN Industri pulp & paper mempunyai peranan penting dan merupakan produk unggulan dalam menunjang perekonomian Indonesia. Pada tahun 2019, terdapat 8 . perusahaan pulp & paper yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, yaitu Alkindo Naratama Tbk. (ALDO). Fajar Surya Wisesa Tbk. (FASW). Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP). Toba Pulp Lestari Tbk. (INRU). Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk. (KBRI). Kedawung Setia Industrial Tbk. (KDSI). Suparma Tbk. (SPMA) dan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM). Jumlahnya berkurang satu perusahaan dibandingkan tahun 2017 dikarenakan terdapat satu perusahaan yang delist dari bursa dikarenakan pailit yaitu PT. Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk. Pailitnya PT. Dwi Aneka Jaya Kemasindo Tbk. menunjukkan kerasnya persaingan dan beratnya tantangan yang harus dihadapi industri pulp & paper di Indonesia. Sejatinya produk industri kehutanan sangat besar peranannya dalam pembangunan ekonomi Indonesia, bukan saja sebagai penyedia lapangan kerja akan tetapi juga merupakan salah satu penyumbang devisa yang potensial bagi penerimaan negara dari sektor non migas. Hal ini dibuktikan dengan masuknya 3 . perusahaan pulp & paper dalam kategori Top 100 Eksportir Non Migas Indonesia menurut riset majalah SWA tahun 2017, yaitu Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP). Toba Pulp Lestari Tbk. (INRU), dan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM). Delapan perusahaan yang terdaftar di BEI di 2018, terdapat 3 . perusahaan yang memiliki kinerja nilai saham yang cukup menonjol dalam beberapa tahun terkahir, yaitu Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan Fajar Surya Wisesa Tbk. (FASW). Kertas sudah menjadi merupakan kebutuhan manusia sehari-hari, salah satu penggunaannya seperti pada surat kabar, majalah, kemasan, kertas cetak, dan lain-lain. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan kebutuhan kertas di era global saat ini berkisar 394 juta ton. Jumlah ini diprediksi tumbuh 24,4% menjadi 490 juta ton pada 2020. Konsumsi kertas di dunia diramalkan tumbuh rerata 2,1% per tahun, sedangkan pasar negaranegara berkembang naik 4,1% per tahun dan negara maju 0,5%. Industri pulp & paper di Indonesia diuntungkan dengan letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dengan ratarata pepohonan yang tumbuh tiga kali lebih cepat dibandingkan di negara-negara yang berada di daerah dingin, sehingga terbentuk hutan yang luas yang merupakan bahan baku utama industri kertas. Indonesia juga berada di tengah benua Asia yang sedang berkembang menjadi raksasa ekonomi baru yang berpotensi menjadi pasar terbesar industri pulp & paper dunia di masa yang akan datang. Meskipun industri pulp & paper di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Index Harga Saham Gabungan di industri pulp & paper bergerak stabil cenderung turun dalam pengamatan 10 tahun terakhir pada gambar berikut ini: Gambar 1. Pergerakan Harga Saham Perusahaan Industri Pulp & Paper di Indonesia Tahun Pengecualian terjadi pada pergerakan harga saham perusahaan Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan Fajar Surya Wisesa Tbk. (FASW) yang meningkat significant sejak tahun 2017 sesuai dengan data gambar berikut ini: kerugian karena turunnya harga saham yang dibelinya (Bodie et. al, 2. Pergerakan Harga Saham 3 Perusahaan Industri Pulp & Paper di Indonesia Tahun Menurut Damodaran . nilai intrinsik . ilai suatu saham didefinisikan sebagai nilai saat ini dari aliran kas masuk yang akan didapatkan sepanjang umur perusahaan tersebut. Valuasi . elakukan penilaia. saham adalah proses menentukan berapa harga yang wajar untuk suatu saham. Walaupun harga saham berubah setiap waktu, namun dengan mengetahui nilai wajarnya, kita lebih tenang dalam menghadapi gejolak pasar. Secara garis besar ada 3 pendekatan yang digunakan dalam melakukan valuasi, yaitu . Discounted Cash Flow valuation, . Contingent claim valuation dan terakhir . Relative valuation. Saham saat ini sudah dapat dikatakan sebagai salah satu tujuan potensial dalam melakukan investasi. Salah satu tujuan untuk berinvestasi adalah untuk mendapatkan mengenyampingkan resiko yang ada di balik investasi tersebut. AoHigh Risk High ReturnAo adalah salah satu prinsip investasi yang harus dipahami dengan baik, bahwa semakin tinggi imbal hasil yang ditawarkan, maka risikonya pun akan lebih besar. Dalam menentukan saham yang akan dibeli, investor akan terlebih dahulu melakukan analisis. Cara yang paling umum digunakan sebagai dasar analisis terhadap perusahaan adalah melalui laporan keuangannya, yaitu dengan menggunakan laporan keuangan, investor dapat melakukan valuasi untuk memprediksikan nilai saham yang akan dibeli. Discounted Cash Flow (DCF) menyatakan bahwa nilai suatu aset merupakan present value dari ekspektasi cash flow yang akan dihasilkan di masa depan pada tingkat suku bunga diskonto tertentu. DCF sendiri memiliki tiga macam pendekatan valuasi sesuai dengan kebutuhannya masing Ae masing. Dividend Discounted Model (DDM). Free Cash Flow to Equity ( FCFE), dan Free Cash Flow to the Firm (FCFF). FCFF menyatakan jumlah arus kas kepada seluruh pemegang kepentingan, meliputi pemegang saham, pemilik obligasi dan pemegang preferred stock (Damodaran,2. Perkiraan nilai perusahaan diperoleh dari present value dari arus kas, dengan asumsi semua pembiayaan ekuitas ditambah dengan net present value dari dari pajak dibuat dengan menggunakan hutang. Sementara Contingent Claim Valuation adalah model valuasi untuk mengukur nilai aset yang berbagi karakteristik opsi. Model-model ini awalnya digunakan untuk menilai opsi yang diperdagangkan, kemudian dalam beberapa tahun terakhir untuk memperluas jangkauan model- model ini ke dalam penilaian yang lebih tradisional. Definisi mendasar di sini, adalah bahwa model arus kas yang didiskon cenderung mengecilkan nilai aset yang memberikan imbalan yang bergantung pada terjadinya suatu peristiwa. Gambar 1. Valuasi ini menjadi sesuatu yang penting karena dapat dijadikan sebagai referensi bagi investor dalam mengambil keputusan untuk membeli suatu saham atau tidak, keputusan dapat membuat investor mendapatkan keuntungan berupa capital gain atau dividen atau sebaliknya, mengalami Metode lain yang digunakan dalam valuasi saham adalah metode relative Dalam metode relative valuation, kita menilai asset berdasarkan pada seberapa besar harga asset di pasar. Metode relative yang paling sering digunakan dalam valuasi harga saham adalah Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). PER adalah ratio harga pasar saham dibagi dengan Earning Per Share (EPS). Ratio ini menghitung kemampuan perusahaan dalam menghasilkan Semakin kecil PER saham suatu perusahaan akan semakin baik untuk dibeli, karena itu berarti kinerja perusahaan dalam menghasilkan laba makin bagus. Sementara PBV memungkinkan investor membandingkan langsung book value suatu saham dengan market value-nya. Rasio PBV dapat memberi informasi berapa kali market value suatu saham dihargai dari book value-nya. PBV saham yang tinggi dibandingkan saham lain dalam industri yang sama mengindikasikan harga saham tersebut relatif mahal. Sementara semakin rendah nilai PBV suatu saham dikategorikan undervalued, maka sangat baik untuk memutuskan investasi jangka panjang. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan suatu perusahaan dalam mengelola sumber daya yang ada sekarang yang sering dikaitkan dengan harga saham perusahaan tersebut. Ketika melakukan valuasi saham, nilai intrinsik yang dihasilkan tidak menghasilkan angka yang pasti atau mutlak sehingga membutuhkan suatu skenario kondisi sebagai batas harga untuk melakukan aksi jual dan beli Kondisi tersebut juga menjadi alternatif keputusan ketika melakukan estimasi atau Ada tiga kondisi skenario yaitu : undervalued, overvalued, dan fair. Kondisi undervalued yaitu kondisi di mana harga saham di bursa lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai intrinsik atau nilai wajarnya. Kondisi ini biasanya digunakan para investor untuk melakukan aksi beli saham. Kondisi overvalued yaitu kondisi di mana harga saham di bursa lebih tinggi dari nilai intrinsik atau nilai wajarnya. Kondisi ini biasanya digunakan para investor untuk melakukan aksi jual saham. Kondisi fair yaitu kondisi di mana harga saham di bursa sama dengan nilai intrinsik atau nilai Kondisi ini biasanya digunakan para investor untuk melakukan aksi menahan Metode FCFF akan digunakan pada penelitian ini karena dapat menangkap potensi pertumbuhan di masa depan. Hasil dari Metode FCFF akan akurat jika kita melakukan asumsi dan proyeksi yang diperlukan dengan baik. Untuk itu dalam penelitian ini akan digunakan 3 skenario asumsi dan proyeksi yaitu optimistis, moderat dan pesimistis. Sementara Metode PER dipilih karena memudahkan atau membantu keputusan analisa. Walaupun diakui. Price Earning Ratio merupakan analisi yang relatif sederhana, namun membantu analis saham untuk memusatkan penetapan keputusan mereka terhadap variabel-variabel yang penting, yaitu melalui prosedur sederhana yang dilakukan dengan mengestimasikan earning per lembar saham, kemudian mengestimasikan Price Earning Ratio. Sedangkan Metode PBV dipilih karena akan lebih baik untuk menilai saham perusahaan dengan industri ataupun sektor yang sejenis, sehingga terlihat jelas perbandingan saham apakah murah atau mahal. PBV saham yang tinggi mengindikasikan harga saham tersebut overvalued, sementara makin rendah PBV suatu saham menunjukkan bahwa saham tersebut undervalued. Penelitian sebelumnya yang telah dilakukan terkait analisis valuasi saham antara lain. Hutapea, putri dan Sihombing . meneliti valuasi harga wajar saham PT Adaro Energi Tbk menggunakan metode FCFF. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa harga saham sekarang . arga pasa. overvalued dibanding nilai harga saham Wahyudi dan Surya . meneliti valuasi harga saham PT Dayamitra atau Mitratel yang merupakan tower provider anak perusahaan PT Telkom untuk rencana IPO menggunakan kombinasi metode FCFE dan Price Earning Ratio (PER). Penelitian ini menghasilkan harga saham wajar berkisar Rp. 15,000 - Rp. 20,000 dan rekomendasi dari sisi strategis, finansial dan valuasi harga saham untuk rencana IPO nya adalah ditunda, untuk mendapatkan value yang lebih baik. Nopriandy . meneliti valuasi harga saham PT Semen Baturaja Tbk dengan metode FCFE dan PER. Valuasi ini menghasilkan harga pasar undervalued terhadap nilai wajar saham. Pada tahun 2017. Neaxie dan Hendrawan, juga melakukan penelitian dengan tujuan untuk melakukan estimasi penilaian harga wajar saham perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan pendekatan Free Cash Flow to Firm (FCFF) dan Relative Valuation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DCF pendekatan FCFF pada skenario optimis nilai wajar TLKM dalam kondisi undervalued, nilai wajar ISAT dalam kondisi overvalued dan nilai wajar EXCL dalam kondisi undervalued. Kemudian pada skenario moderat nilai wajar TLKM dalam kondisi undervalued, nilai wajar ISAT dalam kondisi overvalued dan nilai wajar EXCL dalam kondisi overvalued. Selanjutnya pada skenario pesimis nilai wajar TLKM dalam kondisi overvalued, nilai wajar ISAT dalam kondisi overvalued dan nilai wajar EXCL dalam kondisi overvalued. Adapun jika menggunakan relative valuation dengan pendekatan PER, nilai wajar TLKM dalam kondisi undervalued, nilai wajar ISAT dalam kondisi overvalued dan nilai wajar EXCL dalam kondisi undervalued. Kemudian dengan pendekatan PBV nilai wajar TLKM berada pada kondisi overvalued, nilai wajar ISAT berada pada kondisi overvalued dan nilai wajar EXCL berada pada kondisi undervalued. Selanjutnya dengan pendekatan EBITDA multiple nilai wajar TLKM dalam kondisi overvalued, nilai wajar ISAT dalam kondisi undervalued dan nilai wajar EXCL dalam kondisi undervalued. Ketidakkonsistenan hasil dimana pergerakan dan pertumbuhan harga saham perusahaan yang terdaftar di Bursa Saham Indonesia dari tahun ke tahun yang berfluktuatif serta dari hasil penelitian sebelumnya yang menunjukan harga saham belum mencerminkan nilai sesunguhnya . ilai instrinsi. maka penulis melakukan penelitian dengan judul Analisis Valuasi Nilai Saham Perusahaan Industri Pulp & Paper mengunakan FCFF dan Relative Valuation dengan periode 2015-2019. KAJIAN PUSTAKA 1 Kerangka Pemikiran Free Cash Flow to Firm (FCFF) Menurut Wira . FCFF adalah kas yang tersedia bagi pemberi modal atau dana perusahaan yaitu pemegang saham dan obligasi setelah perusahaan melakukan aktivitas operasi dan investasi. Damodaran . mengatakan bahwa Free Cash Flow to Firm (FCFF) merupakan semua penjumlahan semua cash flow bagi semua pemilik Rumus untuk adalah sebagai berikut : FCFF Dalam menentukan tingkat diskonto diperlukan analisa dan evalausi yang mendalam terhadap struktur pembiayaan perusahaan serta kondisi pasar. Tingkat diskonto yang digunakan dikenal dengan sebutan weighted average cost of capital (WACC). Dengan menghitung WACC untuk mendiskontokan nilai FCFF, akan didapatkan nilai perusahaan dengan rumus sebagai berikut (Damodaran, 2. Dimana : FCFF = Free Cash Flow to Firm WACC = Biaya rata-rata tertimbang Setelah menentukan present value dari arus kas yang diperoleh dari jangka waktu dan skenario tertentu (FCFF) dan juga dari terminal value yang telah didiskontokan dari nilai Selanjutnya kedua nilai tersebut bersama-sama mendapatkan nilai perusahaan atau bisa disebut dengan nilai ekuitas. Rumus yang dapat digunakan dalam menghitung nilai perusahaan dengan metode Free Cash Flow to Firm yang pertumbuhannya telah stabil pada tahun tertentu, dan setelahnya tumbuh konstan pada tingkat perpetual growth sebesar g yakni sebagai berikut (Damodaran, 2. Dimana : FCF = Free Cash Flow WACC = Biaya rata-rata tertimbang = Terminal Value Cost of Capital atau biaya modal keseluruhan perusahaan adalah merupakan kombinasi dari seluruh sumber pendanaan Selanjutnya seluruh biaya modal disebut dengan Weighted Average Cost of Capital (WACC). WACC merupakan rata-rata tertimbang dari Cost Of Capital, meliputi hutang, ekuitas dan hybrid securities yang digunakan perusahaan untuk mendanai kebutuhan keuangannya (Damodaran, 2. WACC dapat dihitung dengan menggunakan pembobotan sumber modal sesuai dengan struktur keuangan perusahaan dan kemudian mengalikan mereka dengan biaya mereka. Rumus dari WACC adalah sebagai berikut : Terminal Value merupakan nilai sekarang dari semua arus kas masa depan yang diperoleh setelah periode waktu tertentu yang telah ditentukan. Adalah hal yang sulit untuk dapat memperkirakan nilai yang tepat untuk menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan akan terus tumbuh di masa yang akan datang dalam kurun waktu yang panjang. Nilai pertumbuhan rata-rata yang lebih mudah Dasar teori untuk nilai terminal adalah dengan mengasumsikan tingkat pertumbuhan konstan untuk waktu setelah periode waktu yang dianalisis, dimana tingkat pertumbuhan perpetual growth disimbolkan dengan g kemudian WACC disimbolkan dengan r sebagai tingkat diskonto yang Rumus untuk perhitungan Terminal Value adalah sebagai berikut (Steiger, 2. Dimana : = Terminal Value FCF = Free Cash Flow WACC = Biaya rata-rata tertimbang = perpetual growth 2 Relative Valuation Dalam model valuasi relative, kita mengukur nilai aset berdasarkan pada seberapa besar harga aset di pasar. Relative valuation sangat umum digunakan karena beberapa Pertama adalah karena penilaian yang didasarkan pada perbandingan variabel sejumlah perusahaan pembanding, dapat diselesaikan dengan sedikit asumsi dan lebih cepat dari penilaian menggunakan metode discounted cash flow (DCF). Selain relative valuation lebih mudah dipahami dan lebih sederhana untuk disajikan kepada klien dan pelanggan dibandingkan dengan valuasi DCF. Yang terakhir adalah relative valuation jauh lebih baik dalam mencerminkan kondisi pasar, karena merupakan upaya untuk mengukur secara relative dan bukan nilai intrinsik. Bahkan pada umumnya, hasil akhir dari relative valuation akan menghasilkan nilai yang lebih mirip dengan harga pasar daripada hasil penilaian melalui model DCF. Alat yang Relative Valuation adalah multiples. Salah satu bentuk multiples adalah price multiples, dimana komponen utama dari price multiple adalah harga pasar . arket pric. Beberapa contoh dari price multiples antara lain : Price Earning Ratio (PER). Price Book Value (PBV). EBITDA Multiple. Menurut Damodaran . , kelebihan dari model Relative Valuation juga Pertama, keunggulan Relative Valuation yang dapat menggabungkan, menarik bersama beberapa kelompok perusahaan yang sejenis, yang juga dapat menghasilkan perkiraan nilai yang tidak konsisten karena mengabaikan variabel kunci seperti resiko, pertumbuhan, atau potensi arus Kedua, fakta bahwa variabel pembanding menggambarkan bahwa menggunakan metode Relative Valuation untuk menilai suatu aset dapat menghasilkan nilai yang terlalu tinggi ketika pasar menilai terlalu tinggi suatu perusahaan yang sejenis, atau sebaliknya terlalu rendah ketika pasar menilai rendah perusahaan yang sejenis. Ketiga, hasil yang dapat bias dalam semua metode valuasi, karena kurangnya transparansi mengenai variabel yang digunakan dalam metode relative Berikut ini penjelasan dari pendekatan yang dapat digunakan untuk valuasi dengan metode Relative Valuation : Price Earning Ratio (PER) Solusi lain untuk melakukan valuasi menghitung nilai wajar atau nilai fundamental saham adalah dengan menggunakan nilai laba dari perusahaan. Perkiraan dari nilai wajar saham dalam analisis dapat dilakukan menggunakan 2 . komponen informasi penting dari perusahaan, yaitu earning per share dan earning multiplier (Tandelilin, 2010:. Atau dapat dikatakan bahwa fungsi dari EPS yang diharapkan dan besarnya PER saham perusahaan merupakan nilai intrinsik suatu saham. Rumus menghitung nilai intrinsik saham melalui Price Earning Ratio sebagai berikut (Tandelilin, 2010:. Dimana : Po = Nilai Intrinsik Saham EPS = Earning Per Share PER = Price Earning Ratio Jika nilai intrinsik saham sudah ditemukan dengan formula diatas maka langkah selanjutnya adalah dengan membandingkan nilai intrinsik saham dengan harga pasar. Price to Book Value (PBV) Salah satu alternatif lain dari metode Relative Valuation adalah menggunakan relasi antara harga pasar saham dan nilai buku per lembar saham (Tandelilin, 2010:. Secara teoritis, nilai pasar suatu saham seharusnya dapat menggambarkan nilai bukunya. Rumus dari Price Book Value (PBV) adalah: Dimana : Po = Harga Saham (Equity Valu. BV = Book Value of Equity EBITDA Multiple Selain kedua pendekatan diatas, dapat juga digunakan parameter EBITDA multiple, yaitu rasio yang digunakan untuk menentukan nilai dari sebuah perusahaan. EBITDA multiple dapat mengukur perusahaan menjadi potensial untuk diakuisi melalui perhitungan hutang dari perusahaan tersebut, dimana model yang lain seperti Price Earning Ratio (PER) tidak memperhitungkan hutang di dalamnya. Perhitungan dengan car ini dikenal dengan metode EBITDA Multiple. Formula dari EBITDA Multiple adalah sebagai berikut : Dimana : Enterprise Value (EV) =MV . MV . MV. minority interest - cash and EBITDA = recurring earnings from continuing operations interest taxes depreciation 3 Nilai Intrinsik Saham Nilai intrinsic saham dibagi menjadi tiga scenario yaitu: Kondisi pesimis. dianggap sebagai kondisi terburuk dari performansi perusahaan. Menghitung valuasi harga saham dengan menggunakan metode FCFF dan Relative Valuation pendekatan PER dan PBV dengan skenario proyeksi optimis menggunakan nilai minimum dari datadata performansi perusahaan selama periode penelitian. Setetelah diperoleh nilai intrinsik saham hasil valuasi dengan metode FCFF. PER dan PBV dengan skenario optimis, moderat dan pesimis, dilakukan perbandingan dengan harga saham pasar untuk menentukan apakah harga saham pasar berada dalam posisi wajar, lebih rendah atau lebih tinggi dari nilai Adapun seperti yang telah diuraikan diatas, maka dapat disusun kerangka pemikiran penelitian ini yang disajikan pada gambar berikut: Skenario Optimis Kondisi optimis dianggap sebagai pertumbuhan tertinggi dari kondisi Menghitung valuasi harga saham dengan menggunakan metode FCFF dan Relative Valuation pendekatan PER dan PBV dengan skenario proyeksi optimis dilakukan dengan menghitung menggunakan nilai maksimum dari datadata performansi perusahaan selama periode penelitian. Skenario Moderat Kondisi moderat adalah yang kondisi paling mungkin dilihat untuk mengukur Menghitung valuasi harga saham dengan menggunakan metode FCFF dan Relative Valuation pendekatan PER dan PBV dengan skenario proyeksi moderat menggunakan nilai rata-rata dari data-data performansi perusahaan selama periode Skenario Pesimis METODE PENELITIAN 1 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi merupakan daerah/wilayah generalisasi yang terdiri dari objek/subjek yang memiliki kuantitas dan ciri/karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan kemudian dibuat kesimpulannya. Oleh karena itu populasi merupakan keseluruhan dari objek/subjek penelitian. Populasi yang akan diambil dalam penelitian ini adalah 3 . saham perusahaan terbuka pada sektor pulp & paper yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yaitu: Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP). Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. (TKIM) dan Fajar Surya Wisesa Tbk. (FASW). Sedangkan sampel adalah sebagian dari jumlah dan ciri/karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang ada, atau bagian kecil yang diambil dari anggota populasi yang ada menurut prosedur tertentu sehingga dapat mewakili populasinya. Teknik Sampling yang digunakan peneliti adalah Teknik Purposive Sampling. Teknik purposive sampling adalah salah satu teknik sampling non-random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian. Adapun kriteria dari teknik purposive sampling dalam penelitian ini adalah sebagai Saham-saham Bursa Efek Indonesia (BEI) sektor pulp & paper. Saham-saham yang sampai dengan tahun 2019 memiliki volume transaksi aktif di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tidak di suspend aktivasinya. Saham-saham sektor pulp & paper signifikan dalam di tahun 2015-2019. Berikut daftar dari enam perusahaan yang merupakan sampel dari penelitian ini Tabel 3. Data Sampel Kode Saham Nama Emiten INKP Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. TKIM Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk. FASW Fajar Surya Wisesa Tbk. 1 Metode Analisis Data Penelitian yang dilakukan dengan mencari data yang dapat memberikan gambaran akan suatu fakta yang telah ada atau sedang berjalan. Kemudian dikumpulkan, diklasifikasi dan diinterpretasikan sehingga didapatkan informasi yang diperlukan untuk menganalisis masalah yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, menggambarkan dan mengumpulkan data-data yang berkaitan penilaian kewajaran harga saham berdasarkan objek penelitian yang Kemudian data-data tersebut disusun, dipelajari dan dianalisis lebih lanjut. Prosedur penelitian adalah langkahlangkah atau urutan-urutan yang harus dilalui atau dikerjakan dalam suatu penelitian, menurut Darmawan . Hal ini perlu dilakukan agar dapat menjawab pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian tercapai (Indrawati, 2. Prosedur penelitian yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: Mendefinisikan dan Merumuskan Masalah Melakukan Studi Kepustakaan Menentukan Model atau Desain Penelitian: Discounted Cash Flow dengan pendekatan FCFF dan Relative Valuation dengan pendekatan PER dan PBV Mengumpulkan Data Sekunder perusahaan sektor pulp & paper. Mengolah dan menyajikan informasi Valuasi Perusahaan menggunakan metode DCF dengan pendekatan FCFF dan Relative Valuation dengan pendekatan PER dan PBV Menganalisis dan Menginterpretasikan Data Membuat Kesimpulan dan Saran Gambar 3. Tahapan Penelitian 2 Metode Valuasi Saham Dalam melakukan valuasi harga saham perusahaan-perusahaan yang tergabung pada industri pulp & paper, dengan metode Free Cash Flow to Firm. Price Earning Ratio dan Price to Book Value peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut: Melakukan Analisa Historis Keuangan Analisis historis mengenai kinerja keuangan dari tahun 2015-2019. Evaluasi terhadap laporan posisi keuangan dilakukan untuk melihat kewajiban dan manajemen ekuitas Evaluasi laporan laba rugi untuk melihat profitabilitas dari Evaluasi keseluruhan dilakukan dengan Data-data yang diperoleh dalam analisis ini akan digunakan sebagai dasar untuk perhitungan valuasi perusahaan. Melakukan proyeksi nilai Growth Revenue Proyeksi Growth Revenue dilakukan dengan 3 . skenario, skenario optimistis, skenario moderat dan skenario pesimistis. Setiap skenario ditentukan berdasarkan informasi aktual dari fakta dan data. Kondisi pertumbuhan tertinggi dari kondisi perusahaan dilihat dari perbedaan antara pertumbuhan industri dan Kondisi moderat adalah yang paling mungkin dilihat dari kondisi fundamental Sedangkan pesimistis dianggap sebagai kondisi terburuk di bawah pertumbuhan Melakukan valuasi harga wajar saham menggunakan metode DCF-FCFF. Mencari perusahaan dengan cara menghitung discounting free cash flow to firm dengan weighted average cost of capital (WACC) (Damodaran, 2. Berikut adalah rumusnya: Melakukan WACC. TV dan EV FCFF, Valuasi menggunakan pendekatan FCFF dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut: Menghitung FCFF Menggunakan rumus: Menggunakan rumus: 3 Analisis Kewajaran Saham Menghitung WACC Menggunakan rumus: Menghitung Terminal Value (TV) Menggunakan rumus: Menghitung Enterprise Value (EV) Menggunakan rumus: Menghitung Value of Firm /Value of Equity Menggunakan rumus: Analisa kewajaran saham bertujuan untuk menaksir nilai intrinsik . ntrinsic valu. membandingkannya dengan harga pasar saham tersebut. Nilai intrinsik menunjukkan present value arus kas yang diharapkan dari suatu saham. Perhitungan dengan metode FCFF dan Relative Valuation (PER & PBV) dengan 3 . ptimis, moderat dan pesismi. , yang dibandingkan dengan harga pasar saham akan menghasilkan kesimpulan apakah saham tersebut dinilai undervalued, overvalued atau wajar dengan ketentuan sebagai berikut: Apabila Nilai Intrinsik > harga pasar saham, maka saham tersebut dinilai . arganya Apabila Nilai Intrinsik < harga pasar saham, maka saham tersebut dinilai overvalued . arganya terlalu maha. Apabila Nilai Intrinsik = harga saham perdana, maka saham tersebut dinilai wajar harganya. 4 Pengujian Data Pengujian Data dengan mengunakan: Menghitung Price Earning Ratio (PER) Menggunakan rumus: Menghitung Price to Book Value (PBV) Uji Normalitas Kolmogorov Smirnov Uji Kolomogorov Smirnov adalah membandingkan distribusi data . ang akan diuji normalitasny. dengan distribusi normal baku. Distribusi normal baku ditransformasikan ke dalam bentuk ZScore dan diasumsikan normal. Penerapan yang dilakukan pada uji Kolmogorov Smirnov adalah bahwa jika signifikansi di bawah 0,05 berarti data yang akan diuji mempunyai perbedaan yang signifikan dengan data normal baku, dan jika signifikansi di atas 0,05 maka berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara data yang akan diuji dengan data normal Uji Beda t-Test Uji Beda t digunakan untuk menentukan apakah dua sampel yang tidak berhubungan memiliki nilai rata-rata yang Uji beda t-Test dilakukan dengan cara membandingkan perbedaan antara dua nilai rata-rata dengan standard error dari perbedaan rata-rata dua sampel Pada penelitian ini pengujian yang akan dilakukan menggunakan Microsoft Excel. Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut : Ho :Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai intrinsik dan nilai pasar untuk harga saham metode FCFF, nilai PER dan nilai PBV Ha : Ada signifikan antara nilai intrinsik dan nilai pasar untuk harga saham metode FCFF, nilai PER dan nilai PBV Revenue Growth INKP FASW TKIM Berdasarkan Gambar 4. 1 dapat dilihat bahwa ketiga perusahaan memiliki tren growth revenue yang berfluktuatif naik dan turun. Namun FASW memiliki predikat yang baik karena tidak seperti INKP dan TKIM yang pergerakan growth revenuenya sangat Pada tahun 2018 FASW mengalami pertumbuhan revenue tertinggi yaitu sebesar 53,59% yang dihitung dari revenue tahun 2018 sebesar Rp. dikurangi dengan revenue tahun 2017 sebesar Rp. Average growth revenue untuk INKP sebesar 8,07%, sedangkan TKIM mempunyai average growth revenue sebesar 3,56%. EBIT Margin Adapun EBIT margin dari ketiga perusahaan tersebut. INKP. TKIM dan FASW disajikan pada Gambar 4. Gambar 4. EBIT Margin EBIT Margin Kriteria pengambilan keputusan Jika probabilitas A>0. maka Ho diterima Jika probabilitas A<0. maka Ha diterima HASIL DAN PEMBAHASAN Analisa Historical Performance TKIM FASW INKP Growth Revenue Growth Revenue dari INKP. FASW dan TKIM dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Revenue Growth Pada tahun 2018. FASW mempunyai EBIT margin sebesar 36,77%, sedangkan INKP mempunyai EBIT margin sebesar 31,74% dan TKIM mempunyai EBIT margin sebesar 19%. FASW mempunyai average EBIT margin sebesar 22,25%. INKP mempunyai average EBIT margin sebesar 16,38% dan TKIM mempunyai average EBIT margin sebesar 10,67%. CAPEX per Revenue Adapun CAPEX per revenue dari perusahaan INKP. TKIM dan FASW ditampilkan pada gambar 4. Gambar 4. CAPEX per Revenue CAPE X PER REVEN UE Pada tahun 2018. INKP mempunyai WC per revenue sebesar 50,55%, sedangkan TKIM mempunyai WC per revenue sebesar 18,38% dan FASW mempunyai WC per revenue sebesar 1,45%. Pada average WC per revenue INKP mempunyai average WC per revenue sebesar 26,55%. TKIM mempunyai average WC per revenue sebesar 16,10% dan FASW mempunyai average WC per revenue sebesar minus 7,57%. Depresiasi dan Amortisasi per Revenue Adapun depresiasi dan amortisasi per revenue dari perusahaan INKP. TKIM dan FASW ditampilkan pada Gambar 4. Gambar 4. Depresiasi dan Amortisasi per Revenue DA PER REVENUE INKP FASW TKIM FASW mempunyai CAPEX per revenue sebesar 14,85%, sedangkan INKP mempunyai CAPEX per revenue sebesar 11,78% dan TKIM mempunyai CAPEX per revenue sebesar 2,16%. FASW mempunyai average CAPEX per revenue sebesar 10,78%. INKP mempunyai average CAPEX per revenue sebesar 8,71% dan TKIM mempunyai average CAPEX per revenue sebesar 5,67%. Working Capital (WC) per Revenue Adapun Working Capital (WC) per Revenue dari perusahaan INKP. FASW dan TKIM ditampilkan pada Gambar 4. Gambar 4. Working Capital (WC) per Revenue INKP FASW TKIM Pada tahun 2018. TKIM mempunyai DA per revenue sebesar 6,78%, sedangkan FASW mempunyai DA per revenue sebesar 1,27% dan INKP mempunyai DA per revenue sebesar 4,59%. Pada average DA per revenue TKIM mempunyai average DA per revenue sebesar 7,54%. FASW mempunyai average DA per revenue sebesar 3,50% dan INKP mempunyai average DA per revenue sebesar minus 9,23%. Sales Projection 2020-2024 Hasil perhitungan MAE untuk proyeksi growth industri didaptkan nilai 0,026, ini berarti tingkat error kesalahannya tergolong kecil dan masih dalam batas Tabel 4. Sales Projection 2020-2024 Projection Forecasting Perusahaan Growth Industri Proyeksi [INKP] PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk [FASW] PT. Fajar Surya Wisesa Tbk [TKIM ] PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk Skenario Proyeksi Growth years 7,40% 11,44% 13,46% 7,40% 42,63% 60,24% 7,40% 15,22% 19,13% 7,40% 11,44% 13,46% 7,40% 42,63% 60,24% 7,40% 15,22% 19,13% 7,40% 11,44% 13,46% 7,40% 42,63% 60,24% 7,40% 15,22% 19,13% 7,40% 7,40% 7,40% 7,40% 7,40% 7,40% 7,40% 15,22% 19,13% 7,40% Pesimis Moderate Optimis Pesimis Moderate Optimis Pesimis Moderate Optimis 7,40% 11,44% 13,46% 7,40% 42,63% 60,24% 7,40% 15,22% 19,13% Skenario Pesimis Nilai rata-rata EBIT margin INKP dari tahun 2015-2019 sebesar 25,60%. Jika menggunakan skenario pesimis average EBIT marginnya sebesar 25,60% maka proyeksi penghitungan EBIT margin di tahun 2019 sebesar Rp. 8,536 . didapatkan dari rata-rata EBIT INKP sebesar 25,60% dikalikan dengan estimasi revenue INKP pada skenario pesimis di tahun 2020 sebesar Rp. 52,118 . Estimasi revenue INKP di tahun 2020 didapatkan dari estimasi growth revenue kondisi pesimis INKP di tahun 2020 sebesar 7,40% dikalikan dengan revenue INKP pada tahun 2019 sebesar Rp. 48,525 , sehingga didapatkan estimasi revenue INKP pada kondisi pesimis di tahun 2020 sebesar Rp. 8,536 . Demikian juga perhitungan untuk estimasi EBIT pada FASW dan TKIM pada skenario pesimis. 2020 sebesar Rp. 8,857 . Demikian juga perhitungan untuk estimasi EBIT pada FASW dan TKIM pada skenario moderate. Skenario Optimis Nilai rata-rata EBIT margin INKP dari tahun 2015-2019 sebesar 25,60%. Jika menggunakan skenario optimis average EBIT marginnya sebesar 25,60% maka proyeksi penghitungan EBIT margin di tahun 2020 sebesar Rp. 9,017 . didapatkan dari rata-rata EBIT INKP sebesar 25,60% dikalikan dengan estimasi revenue INKP pada skenario optimis di tahun 2020 sebesar Rp. 55,058 . Estimasi revenue INKP di tahun 2019 didapatkan dari estimasi growth revenue kondisi optimis INKP di tahun 2020 sebesar 13,46% dikalikan dengan revenue INKP pada tahun 2019 sebesar Rp. 48,525 , sehingga didapatkan estimasi revenue INKP pada kondisi optimis di tahun 2020 sebesar Rp. 9,017 . Demikian juga perhitungan untuk estimasi EBIT pada FASW dan TKIM pada skenario optimis. FCFF Projection Berikut hasil perhitungan FCFF Projection dengan melihat ketiga skema. Tabel 4. FCFF Projection 2020-2024 FCFF Projection Perusahaan Skenario Moderate Nilai rata-rata EBIT margin INKP dari tahun 2015-2019 sebesar 25,60%. Jika menggunakan skenario moderate average EBIT marginnya sebesar 25,60% maka proyeksi penghitungan EBIT margin di tahun 2019 sebesar Rp. 8,857 . didapatkan dari rata-rata EBIT INKP sebesar 25,60% dikalikan dengan estimasi revenue INKP pada skenario moderate di tahun 2020 sebesar Rp. 54,078 . Estimasi revenue INKP di tahun 2020 didapatkan dari estimasi growth revenue kondisi moderate INKP di tahun 2020 sebesar 11,44% dikalikan dengan revenue INKP pada tahun 2019 sebesar Rp. 48,525 , sehingga didapatkan estimasi revenue INKP pada kondisi moderate di tahun [INKP] PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk [FASW] PT. Fajar Surya Wisesa Tbk [TKIM ] PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk Skenario Pesimis Moderate Optimis Pesimis Moderate Optimis Pesimis Moderate Optimis 1,271 1,319 1,343 20,078 29,954 2,335 2,505 2,589 1,365 1,47 1,524 21,564 38,027 47,998 2,508 2,886 3,085 FCFF Projection 1,466 1,638 1,729 23,161 54,237 76,911 2,693 3,325 3,675 1,575 1,826 1,962 24,876 77,356 123,24 2,893 3,831 4,378 234,13 261,556 276,038 682,915 1,599,409 2,269,864 57,313 85,351 94,334 Skenario Pesimis Pada perusahaan FASW FCFF Projection dengan skenario pesimis pada tahun 2020 mempunyai nilai sebesar Rp. 20,078 . , tahun 2021 sebesar Rp. 21,564 . , tahun 2022 sebesar Rp. 23,161 . , tahun 2023 sebesar Rp. 24,876 . dan mempunyai Terminal Value (TV) sebesar Rp. 682,915 . Pada perusahaan TKIM FCFF projection dengan skenario pesimis pada tahun 2019 mempunyai nilai sebesar Rp. 2,335 . , tahun 2020 sebesar Rp. 2,508 . , tahun 2021 sebesar Rp. 2,693 . , tahun 2022 sebesar Rp. 2,893 . dan mempunyai Terminal Value (TV) sebesar Rp. 57,313 . Skenario Moderate Pada perusahaan FASW FCFF Projection dengan skenario moderate pada tahun 2020 mempunyai nilai sebesar Rp. 26,662 . , tahun 2021 sebesar Rp. 38,027 . , tahun 2022 sebesar Rp. 54,237 . , tahun 2023 sebesar Rp. 77,356 . dan mempunyai Terminal Value (TV) sebesar Rp. 599,409 . Pada perusahaan TKIM FCFF projection dengan skenario moderate pada tahun 2020 mempunyai nilai sebesar Rp. 2,505 . , tahun 2021 sebesar Rp. 2,886 . , tahun 2022 sebesar Rp. 3,325 . , tahun 2023 sebesar Rp. 3,831 . dan mempunyai Terminal Value (TV) sebesar Rp. 85,351 Skenario Optimis Pada perusahaan FASW FCFF Projection dengan skenario optimis pada tahun 2020 mempunyai nilai sebesar Rp. 29,954 . , tahun 2021 sebesar Rp. 47,998 . , tahun 2022 sebesar Rp. 76,911 . , tahun 2023 sebesar Rp. 123,240 . dan mempunyai Terminal Value (TV) sebesar Rp. 269,864 Pada perusahaan TKIM FCFF projection dengan skenario optimis pada tahun 2020 mempunyai nilai sebesar Rp. 2,589 , tahun 2021 sebesar Rp. 3,085 , tahun 2022 sebesar Rp. 3,675 , tahun 2023 sebesar Rp. 4,378 dan mempunyai Terminal Value (TV) sebesar Rp. 94,334 . WACC Adapun hasil penghitungan WACC (Weighted Average Cost of Capita. masingmasing perusahaan. INKP. FASW dan TKIM sebagai berikut: Tabel 4. WACC 2020-2024 Projection [INKP] PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk [FASW] PT. Fajar Surya Wisesa Tbk [TKIM ] PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk WACC Berdasarkan table tersebut dapat dilihat bahwa TKIM mempunyai WACC yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan INKP dan FASW. TKIM mempunyai WACC sebesar 19,89%, yang dihitung dari WACC = (Re*W. ((Rd*W. -ta. ) . ,89%*99,96%) (. ,75%*0,. -0,1%)) = 19,87%. Pada perusahaan INKP mempunyai WACC sebesar 15,57% dan FASW mempunyai WACC sebesar 8,92%. Value of The Firm (Enterprise Valu. Rumus dari Enterprise Value adalah penjumlahan dari Present Value (PV) dari FCFF pada tahun 2019 sampai 2022 dan Present Value (PV) dari Terminal Value (TV). Adapun Value of The Firm (Enterprise Valu. dibagi menjadi 3 skenario, yaitu skenario pesimis, moderate dan optimis. Skenario Pesimis Adapun Enterprise Value (EV) masing-masing perusahaan. INKP. FASW dan TKIM ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 4. EV Projection Pesimis Projection Pesimis [INKP] PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk [FASW] PT. Fajar Surya Wisesa Tbk [TKIM ] PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk 178,517 520,785 43,699 Skenario pesimis FASW mempunyai EV jauh lebih besar dari INKP dan TKIM. FASW mempunyai EV sebesar Rp. yang dihitung dari EV = Sum PV (FCFF) (PV) TV = Rp. Rp. Sedangkan INKP mempunyai EV pesimis sebesar Rp. dan TKIM mempunyai EV pesimis sebesar Rp. Skenario Moderate Adapun Enterprise Value (EV) masing-masing perusahaan. INKP. FASW dan TKIM ditampilkan pada tabel berikut: sebesar Rp. dan TKIM mempunyai EV pesimis sebesar Rp. Relative Valuation PER & PBV Hasil Perhitungan menggunakan metode Relative Valuation pendekatan PER dan PBV dapat dilihat pada table berikut: Tabel 4. EV Projection Moderate Projection Moderate [INKP] PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk [FASW] PT. Fajar Surya Wisesa Tbk [TKIM ] PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk 197,111 1,136,389 63,693 Enterprise Value pada skenario moderate . alam satuan juta rupia. Skenario moderate FASW mempunyai EV jauh lebih besar dari INKP dan TKIM. FASW mempunyai EV sebesar Rp. yang dihitung dari EV = Sum PV (FCFF) (PV) TV = Rp. Rp. Sedangkan INKP mempunyai EV pesimis sebesar Rp. dan TKIM mempunyai EV pesimis sebesar Rp. Skenario Optimis Adapun Enterprise Value (EV) masing-masing perusahaan. INKP. FASW dan TKIM ditampilkan pada tabel berikut: Tabel 4. EV Projection Optimis Projection Optimis [INKP] PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk [FASW] PT. Fajar Surya Wisesa Tbk [TKIM ] PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk 206,909 1,581,994 69,752 Enterprise Value pada skenario optimis . alam satuan juta rupia. Skenario optimis FASW mempunyai EV jauh lebih besar dari INKP dan TKIM. FASW mempunyai EV sebesar Rp. yang dihitung dari EV = Sum PV (FCFF) (PV) TV = Rp. Rp. Sedangkan INKP mempunyai EV pesimis Tabel 4. Relative Valuation Perusahaan Skenario [INKP] PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk [FASW] PT. Fajar Surya Wisesa Tbk [TKIM] PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk Pesimis Moderate Optimis Pesimis Moderate Optimis Pesimis Moderate Optimis PER Intrinsik PBV Intrinsik Skema Pesimis Relative Valuation dengan pendekatan nilai PER dan PBV pada skenario pesimis . alam satuan kal. Skenario pesimis INKP mempunyai nilai PER sebesar 16,48 kali yang dihitung dari Equity Value INKP pada skenario pesimis sebesar Rp. dibagi dengan Earning After Tax sebesar Rp. Sedangkan nilai PBV INKP sebesar 2,39 kali dihitung dari Equity Value INKP pada skenario pesimis sebesar Rp. dibagi dengan Book Value (BV) sebesar Rp. FASW mempunyai nilai PER sebesar 12,72 dan mempunyai nilai PBV sebesar 0,75 kali, sedangkan TKIM mempunyai nilai PER sebesar 9. 65 kali dan mempunyai nilai PBV sebesar 1,26 kali. Skema Moderate Relative Valuation dengan pendekatan nilai PER dan PBV pada skenario moderate . alam satuan kal. Skenario moderate INKP mempunyai nilai PER sebesar 18,82 kali yang dihitung dari Equity Value INKP pada skenario moderate sebesar Rp. dibagi dengan Earning After Tax sebesar Rp. Sedangkan nilai PBV INKP sebesar 2,73 kali dihitung dari Equity Value INKP pada skenario moderate sebesar Rp. dibagi dengan Book Value (BV) Rp. FASW mempunyai nilai PER sebesar 29,57 dan mempunyai nilai PBV sebesar 1,74 kali, sedangkan TKIM mempunyai nilai PER sebesar 18,23 kali dan mempunyai nilai PBV sebesar 2,37 kali. Skema Optimis Relative Valuation dengan pendekatan nilai PER dan PBV pada skenario optimis . alam satuan kal. Skenario optimis INKP mempunyai nilai PER sebesar 20,06 kali yang dihitung dari Equity Value INKP pada skenario optimis sebesar Rp. dibagi dengan Earning After Tax sebesar Rp. Sedangkan nilai PBV INKP sebesar 2,91 kali dihitung dari Equity Value INKP pada skenario optimis sebesar Rp. dibagi dengan Book Value (BV) sebesar Rp. FASW mempunyai nilai PER sebesar 41,77 dan mempunyai nilai PBV 46 kali, sedangkan TKIM mempunyai nilai PER sebesar 20,82 kali dan mempunyai nilai PBV sebesar 2,71 kali. Hasil Penelitian DCF-FCFF Berdasarkan pengolahan dan analisa data keseluruhan valuasi saham dengan menggunakan metode Discounted Cash Flow pendekatan Free Cash Flow to Firm (FCFF) terlampir pada tabel Tabel 4. Nilai Instrinsik Saham Skenario Nilai Intrinsik [INKP] Pesimis PT. Indah Kiat Pulp Moderate & Paper Tbk Optimis [FASW] Pesimis PT. Fajar Surya Moderate Wisesa Tbk Optimis [TKIM] Pesimis PT. Pabrik Kertas Moderate Tjiwi Kimia Tbk Optimis 2,391 2,731 2,910 1,876 4,360 6,158 3,890 7,346 8,394 Perusahaan Pasar Saham per 1 jan 2018 Pasar Saham per 1 jan 2019 Nilai Nilai Kondisi 11,550 11,550 11,550 7,775 7,775 7,775 11,100 11,100 11,100 Overvalued Overvalued Overvalued Overvalued Overvalued Overvalued Overvalued Overvalued Overvalued Kondisi 5,400 Overvalued 5,400 Overvalued 5,400 Overvalued 5,400 Overvalued 5,400 Overvalued 5,400 Undervalued 2,950 Undervalued 2,950 Undervalued 2,950 Undervalued Growth Harga Saham Skenario Pesimis Nilai instrinsik saham TKIM Rp. dimana pada tanggal 1 Januari 2019 harga saham TKIM sebesar Rp. 950 sehingga dapat dikatakan harga saham TKIM dalam kondisi undervalued jika dibandingkan dengan nilai Sedangkan pada tanggal 1 Januari 2020 harga saham TKIM sebesar Rp. 100 sehingga dapat dikatakan harga saham TKIM overvalued jika dibandingkan dengan nilai intrinsiknya. Pada INKP skenario pesimis mempunyai nilai intrinsik Rp. sedangkan pada tanggal 1 Januari 2019 harga saham INKP sebesar Rp. 400 dan pada tanggal 1 Januari 2020 sebesar Rp. sehingga dapat dikatakan harga saham INKP Sedangkan untuk FASW skenario pesimis mempunyai nilai intrinsik sebesar Rp. 876, dibandingkan dengan harga saham FASW pada 1 Januari 2019 sebesar Rp. dan sebesar Rp. 775 pada tanggal 1 Januari 2020, sehingga dapat disimpulkan bahwa harga saham INKP juga overvalued jika dibandingkan dengan nilai intrinsiknya. Skenario Moderate Nilai instrinsik saham TKIM Rp. dimana pada tanggal 1 Januari 2019 harga saham TKIM sebesar Rp. 950 sehingga dapat dikatakan harga saham TKIM dalam kondisi undervalued jika dibandingkan dengan nilai Sedangkan pada tanggal 1 Januari 2020 harga saham TKIM sebesar Rp. 100 dan overvalued jika dibandingkan dengan nilai intrinsiknya. Pada INKP skenario moderate mempunyai nilai intrinsik Rp. sedangkan pada tanggal 1 Januari 2019 harga saham INKP sebesar Rp. 400 dan pada tanggal 1 Januari 2020 sebesar Rp. dengan kondisi overvalued. Untuk FASW skenario moderat dengan nilai intrinsik sebesar Rp. 360, harga sahamnya overvalued dengan harga pasar saham FASW pada 1 Januari 2019 sebesar Rp. 400 dan sebesar Rp. 775 pada tanggal 1 Januari 2020. Skenario Optimis Nilai instrinsik saham TKIM adalah Rp. 394, dimana pada tanggal 1 Januari 2019 harga saham TKIM sempat berada pada kondisi undervalued dengan nilai pasar sebesar Rp. Tapi jika dibandingkan dengan harga saham TKIM pada 1 Januari 2020 sebesar Rp. 100, kondisi berubah menjadi Pada INKP skenario optimis Rp. sedangkan pada tanggal 1 Januari 2019 harga saham INKP sebesar Rp. 400 dengan kondisi overvalued, dan pada tanggal 1 Januari 2020 sebesar Rp. 650 dengan kondisi overvalued. Untuk FASW skenario optimis dengan nilai intrinsik sebesar Rp. 158 hasilnya adalah undervalued untuk perbandingan dengan nilai pasar saham FASW periode 1 Januari 2019 sebesar RP. 400 dan overvalued untuk komparasi dengan nilai pasar per 1 Januari 2020 sebersar Rp. Uji Normalitas Hasil uji normalitas terhadap data perbandingan antara nilai pasar harga saham dan harga intrinsik metode FCFF dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Uji Normalitas Sampel FCFF Var I 1,876. 2,391. 2,731. Freq Cumul Sn. Z-Score F. Difference 2,910. 3,889. 4,360. 6,158. 7,346. 7,775. 7,775. 7,775. 8,393. 11,100. 11,100. 11,100. 11,550. 11,550. 11,550. Statistik N Sampel Mean Simpangan Baku Dn = KS Tabel FCFF Normal Sedangkan hasil uji normalitas terhadap data perbandingan antara nilai PER pasar terhadap nilai PER Intrinsik dapat dilihat pada table Tabel 4. Uji Normalitas Sampel PER Var I Freq Cumul Sn. Z-Score Difference Statistik N Sampel Mean Simpangan Baku Dn = KS Tabel Normal PER Sedangkan hasil uji normalitas terhadap data perbandingan antara nilai PBV pasar terhadap nilai PBV intrinsik dapat dilihat pada table Tabel 4. Uji Normalitas Sampel PBV Var I Freq Cumul Sn. Z-Score Difference Statistik N Sampel Mean Simpangan Baku Dn = KS Tabel Normal PBV Uji Beda t-Test P-value pada t-Test: Two-Sample FCFF Assuming Equal Variances hasilnya adalah <0. %) baik untuk skenario one-tail maupun two-tail, sehingga dapat diartikan bahwa Ha diterima yaitu AuAda perbedaan yang signifikan antara nilai intrinsik dan nilai pasar untuk harga saham metode FCFFAy. Tabel 4. t-Test Two-Sample for FCFF Variance Mean Variance Observations Pooled Variance Hypothesized Mean Difference t Stat P(T<=. one-tail t Critical one-tail P(T<=. two-tail t Critical two-tail FCFF intrinsik Harga Saham KESIMPULAN Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penghitungan valuasi saham pada perusahaan pulp & paper yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan metode Discounted Cash Flow pendekatan Free Cash Flow to Firm (FCFF) dan Relative Valuation dengan pendekatan PER dan PBV adalah sebagai berikut: Pada skenario pesimis harga intrinsik dari saham INKP. FASW dan TKIM berada dalam kondisi overvalued karena harga saham 1 Januari 2020 lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga intirinsik yang telah dihitung. Berdasarkan penghitungan metode Relative Valuation dengan pendekatan PER, nilai PER intrinsik INKP sebesar 16,48 kali. FASW sebesar 12,72 kali dan TKIM sebesar 9,65 kali, sedangkan dengan pendekatan PBV, nilai PBV intrinsik INKP mempunyai nilai 2,39 kali. FASW mempunyai nilai 0,75 kali dan TKIMmempunyai nilai 1,26 kali. Harga PER dan PBV tersebut berada pada range market berdasarkan data Laporan IDX Financial Statistic 2019. Pada skenario moderate harga intrinsik dari saham INKP. FASW dan TKIM overvalued karena harga saham 1 Januari 2020 lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga intirinsik yang telah dihitung. Berdasarkan Relative Valuation dengan pendekatan PER, nilai PER intrinsik INKP sebesar 18,82 kali. FASW sebesar 29,57 kali dan TKIM sebesar 18,23 kali, sedangkan dengan pendekatan PBV INKP mempunyai nilai 2,73 kali. FASW mempunyai nilai 1,74 kali dan TKIM mempunyai nilai 2,37 kali. Harga PER dan PBV tersebut berada pada range market berdasarkan Laporan IDX Financial Statictic 2019. Pada skenario optimis harga intrinsik dari saham INKP. FASW dan TKIM berada dalam kondisi overvalued karena harga saham 1 Januari 2020 lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga intirinsik yang telah dihitung. Berdasarkan penghitungan metode Relative Valuation dengan pendekatan PER INKP sebesar 20,06 kali. FASW sebesar 41,77 kali dan TKIM sebesar 20,82 kali, sedangkan dengan pendekatan PBV INKP mempunyai nilai 2,91 kali. FASW mempunyai nilai 2,46 kali dan TKIM mempunyai nilai 2,71 kali. Harga PER dan PBV tersebut berada pada range market berdasarkan Laporan IDX Financial Statictic 2019. Hasil perhitungan harga intrinsik maka keputusan yang dapat diambil investor baik dalam kondisi pesimis, moderate maupun optimis pada perusahaan INKP. FASW dan TKIM adalah dengan untuk menjual saham karena Kemudian untuk hasil penghitungan dengan metode Relative Valuation PER pada skenario pesimis dan moderat, harga saham TKIM lebih murah dibandingkan FASW dan INKP, sedangkan pada skenario optimis, harga saham INKP lebih murah dibandingkan dengan TKIM dan FASW. Untuk hasil penghitungan dengan metode Relative Valuation PBV pada skenario pesimis, moderat dan optimis, harga saham FASW lebih murah dibandingkan TKIM dan INKP. DAFTAR PUSTAKA