KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS CINTA DI MAN 1 SERANG: REKONSTRUKSI PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM HUMANIS DALAM ISU-ISU KONTEMPORER Ani Anggrayani1. Ahmad Qurtubi2. Ali Muhtarom3. Itang4 1,2,3,4 Pascasarjana. UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Indonesia anianggrayani@uinbanten. id1, ahmad. qurtubi@uinbanten. id2, ali. muhtarom@uinbanten. itang@uinbanten. ABSTRAK Pendidikan Islam kontemporer dihadapkan pada tantangan serius dehumanisasi sebagai akibat dari orientasi pendidikan yang berlebihan pada aspek kognitif dan instrumental, sehingga menyebabkan erosi nilai-nilai afektif dan spiritual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan merekonstruksi paradigma pendidikan Islam humanis melalui implementasi kurikulum berbasis cinta . sebagai respon terhadap krisis moral dan spiritual dalam pendidikan modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Serang. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta divalidasi melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . Konsep kurikulum berbasis cinta dipahami sebagai pendekatan pendidikan yang menjadikan nilai mahabbah sebagai landasan filosofis, etis, dan pedagogis, yang berakar pada nilai teologis Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Implementasi di MAN 1 Serang berlangsung secara sistematis melalui tiga tahap: perencanaan . ntegrasi nilai cinta dalam visi, misi, dan RPP), pelaksanaan . embelajaran dialogis, empatik, dan reflekti. , serta evaluasi dan pembudayaan . enilaian holistik yang menyentuh EQ/SQ dan penciptaan budaya sekolah yang humani. Faktor pendukung utama adalah komitmen kepemimpinan madrasah dan guru, sementara hambatannya mencakup pemahaman guru yang belum seragam dan orientasi kurikulum nasional yang masih dominan kognitif. Kurikulum ini secara praksis merekonstruksi paradigma pendidikan Islam humanis dengan menggeser fokus dari transfer pengetahuan . ransfer of knowledg. menjadi transformasi nilai . ransfer of valu. dan spiritualitas, yang terbukti efektif memperkuat dimensi afektif dan karakter peserta didik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kurikulum berbasis cinta bukan sekadar utopia, melainkan sebuah model praksis yang fungsional untuk mengembalikan esensi pendidikan Islam sebagai proses humanisasi dan spiritualisasi, serta menjadi solusi alternatif dalam menghadapi problem dehumanisasi pendidikan di era kontemporer. Kata Kunci: Kurikulum Berbasis Cinta. Pendidikan Islam Humanis. Mahabbah. Spiritualitas. Dehumanisasi Pendidikan AU PENDAHULUAN Pendidikan Islam dewasa ini dihadapkan pada tantangan serius yang bersumber dari dinamika sosial, budaya, dan globalisasi nilai. Di satu sisi, madrasah dituntut menghasilkan peserta didik yang unggul secara intelektual dan kompetitif dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa proses pendidikan seringkali lebih menonjolkan dimensi kognitif dibandingkan dimensi afektif dan spiritual. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, kasih sayang, toleransi, dan kepedulian sosial mulai tergerus oleh orientasi hasil belajar yang bersifat instrumental dan pragmatis. Dalam konteks ini, muncul kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi paradigma pendidikan Islam yang berorientasi pada humanisasi, yakni pendidikan yang menempatkan cinta . sebagai landasan etis dan spiritual dalam proses belajar-mengajar. Kurikulum berbasis cinta hadir sebagai respon terhadap krisis moral dan dehumanisasi yang terjadi di dunia pendidikan Kurikulum ini tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran batin, hubungan harmonis antara guru dan peserta didik, serta keterhubungan dengan Tuhan dan sesama manusia (Amin 2. Konsep kurikulum berbasis cinta berakar pada nilai-nilai Islam yang universal, khususnya ajaran rahmatan lil Aoalamin, yang menekankan kasih sayang sebagai inti dari misi kenabian. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa cinta adalah sumber dari segala kebajikan dan pendorong utama dalam pendidikan akhlak. Namun dalam praktik pendidikan kontemporer, nilai ini sering terpinggirkan akibat sistem pendidikan yang berorientasi pada standar, ujian, dan angka semata. Pendidikan Islam pada hakikatnya merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian kognitif, tetapi juga pada pengembangan dimensi afektif, moral, spiritual, dan sosial. Dalam konteks ajaran Islam, pendidikan dipandang sebagai upaya sadar dan terencana untuk menumbuhkan kesadaran ketuhanan, kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial peserta didik sebagai hamba dan khalifah di muka bumi. Namun demikian, dinamika sosial yang berkembang pesat pada era modern dan postmodern telah menghadirkan tantangan serius bagi praktik pendidikan Islam, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Fenomena dehumanisasi pendidikan, yang ditandai dengan penekanan berlebihan pada capaian akademik, standar evaluasi kuantitatif, serta kompetisi yang tidak sehat, menjadi persoalan nyata yang dihadapi lembaga pendidikan, termasuk madrasah. Dalam realitas pendidikan kontemporer, institusi pendidikan seringkali terjebak dalam paradigma instrumentalistik, di mana peserta didik diperlakukan sebagai objek pembelajaran yang harus mencapai target tertentu, sementara aspek emosional, psikologis, dan spiritual kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Kondisi ini berdampak pada munculnya berbagai problem sosial di kalangan peserta didik, seperti rendahnya empati, meningkatnya perilaku agresif, menurunnya kepedulian sosial, serta krisis identitas dan makna hidup. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman dan humanis justru berpotensi melahirkan tekanan psikologis, alienasi, dan ketegangan relasional antara guru dan peserta didik. Dalam konteks inilah, wacana rekonstruksi paradigma pendidikan Islam menjadi semakin relevan dan mendesak untuk dilakukan. Salah satu pendekatan yang mulai mendapatkan perhatian dalam diskursus pendidikan kontemporer adalah kurikulum berbasis cinta. Kurikulum berbasis cinta dipahami sebagai pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang, empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai nilai fundamental dalam seluruh proses pembelajaran. Konsep cinta dalam pendidikan tidak dimaknai secara sempit sebagai emosi personal, melainkan sebagai nilai etis dan pedagogis yang mendorong terciptanya relasi edukatif yang sehat, dialogis, dan humanis antara pendidik dan peserta didik. Noddings . menegaskan bahwa pendidikan yang berorientasi pada caring dan relational ethics mampu membentuk karakter moral peserta didik secara lebih mendalam dibandingkan pendekatan yang bersifat koersif dan mekanistik. Dalam perspektif pendidikan Islam, konsep cinta memiliki akar teologis dan filosofis yang sangat kuat. Islam memandang cinta sebagai inti dari relasi antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Nilai rahmah . asih sayan. , mahabbah . , dan ukhuwah . merupakan prinsip-prinsip utama yang seharusnya mewarnai seluruh praktik pendidikan Islam. Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan bahwa beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya: . , sebuah pesan profetik yang menegaskan bahwa pendidikan Islam harus berorientasi pada kemanusiaan dan kasih sayang. Oleh karena itu, integrasi KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. nilai cinta dalam kurikulum pendidikan Islam bukanlah inovasi yang terlepas dari tradisi, melainkan upaya kontekstualisasi ajaran Islam dalam menjawab tantangan zaman. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan Islam di banyak madrasah masih cenderung berfokus pada aspek kognitif dan normatif, seperti penguasaan materi keagamaan dan pencapaian nilai akademik, sementara dimensi afektif dan humanistik belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum (Biesta 2. Pendekatan pembelajaran yang masih bersifat teacher-centered, otoritatif, dan kurang dialogis sering kali menghambat perkembangan potensi peserta didik secara utuh. Kondisi ini menuntut adanya inovasi kurikulum yang mampu menjembatani antara tuntutan akademik, nilai-nilai Islam, dan kebutuhan psikososial peserta didik di era kontemporer. Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Serang sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam negeri di Provinsi Banten menghadapi tantangan yang sama dalam mengelola pendidikan di tengah kompleksitas sosial dan budaya modern. Sebagai institusi yang memiliki visi keislaman dan kebangsaan. MAN 1 Serang dituntut untuk mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, berakhlak mulia, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dalam merespons tantangan tersebut. MAN 1 Serang menginisiasi penerapan kurikulum berbasis cinta sebagai pendekatan pedagogis yang menekankan nilai kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap peserta didik sebagai subjek pembelajaran. Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang tidak hanya diwujudkan dalam dokumen kurikulum formal, tetapi juga tercermin dalam praktik pembelajaran sehari-hari, relasi guru-siswa, serta budaya sekolah secara keseluruhan. Guru tidak lagi diposisikan semata-mata sebagai transmitor pengetahuan, melainkan sebagai pendamping, fasilitator, dan teladan moral yang membangun hubungan edukatif berbasis kepercayaan dan kepedulian. Peserta didik dipandang sebagai individu yang unik, memiliki potensi, emosi, dan latar belakang sosial yang beragam, sehingga proses pembelajaran dirancang untuk mengakomodasi perbedaan tersebut secara inklusif dan humanis. Pendekatan ini sejalan dengan paradigma pendidikan Islam humanis, yaitu paradigma pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusat . tanpa mengabaikan dimensi teosentris. Pendidikan Islam humanis memandang bahwa tujuan utama pendidikan adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial. Paradigma ini menolak praktik pendidikan yang bersifat represif, diskriminatif, dan eksklusif, serta mendorong terciptanya lingkungan belajar yang demokratis, dialogis, dan penuh penghargaan terhadap martabat manusia (Hashim & Jones, 2. Dalam konteks isu-isu kontemporer, pendidikan Islam dihadapkan pada berbagai tantangan serius, seperti meningkatnya intoleransi, radikalisme, krisis moral, serta tekanan mental pada generasi muda. Media digital dan arus informasi global yang tidak terfilter turut memengaruhi cara berpikir dan bersikap peserta didik, sehingga pendidikan tidak lagi cukup hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga harus membekali peserta didik dengan kecerdasan emosional, spiritual, dan Kurikulum berbasis cinta menawarkan pendekatan yang relevan dalam menghadapi tantangan ini, karena menekankan pembentukan karakter melalui relasi yang bermakna, empati, dan kesadaran sosial. Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang dapat dipahami sebagai upaya rekonstruksi paradigma pendidikan Islam yang selama ini cenderung normatif dan formalistik menuju paradigma yang lebih humanis dan kontekstual. Rekonstruksi ini tidak berarti meninggalkan nilai-nilai tradisional pendidikan Islam, melainkan menafsirkan kembali nilai-nilai tersebut agar selaras dengan kebutuhan peserta didik dan realitas sosial kontemporer (Palmer 2. Dengan menjadikan cinta sebagai landasan pedagogis, pendidikan Islam diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, toleransi, dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan universal. Pendahuluan ini menegaskan bahwa studi tentang implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang memiliki signifikansi akademik dan praktis yang kuat. Secara akademik, kajian ini KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. berkontribusi pada pengembangan wacana pendidikan Islam humanis dan inovasi kurikulum berbasis nilai. Secara praktis, penelitian ini memberikan gambaran empiris tentang bagaimana nilai cinta dapat diinternalisasikan dalam praktik pendidikan formal di madrasah. Dengan demikian, kajian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya dalam mengembangkan kurikulum yang lebih humanis, inklusif, dan relevan dengan tantangan zaman. AU METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berupaya memahami fenomena implementasi kurikulum berbasis cinta secara mendalam dalam konteks natural di MAN 1 Serang. Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menggali makna, nilai, dan praktik yang muncul dari pengalaman guru, siswa, serta lingkungan madrasah dalam menerapkan paradigma pendidikan Islam humanis. Pendekatan studi kasus digunakan karena penelitian ini menelusuri secara intensif satu kasus tertentu, yakni implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang, sebagai representasi dari upaya rekonstruksi nilai-nilai humanisme Islam dalam pendidikan kontemporer. Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Serang, yang berlokasi di Jl. Sentul Nyapah KM. 03 Kecamatan Kragilan. Kabupaten Serang. Provinsi Banten. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan bahwa MAN 1 Serang merupakan salah satu madrasah yang aktif mengembangkan inovasi kurikulum berbasis nilai-nilai spiritual, afektif, dan humanis. Adapun waktu penelitian dilaksanakan selama empat bulan, yakni dari bulan Juli hingga bulan Oktober 2025, yang meliputi tahap observasi pendahuluan, pengumpulan data, analisis, hingga penyusunan laporan hasil penelitian. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan model analisis Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahap utama (Miles 2. : Reduksi data, yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian, penyederhanaan, dan transformasi data mentah yang diperoleh dari Penyajian data, yaitu proses penyusunan informasi secara sistematis dalam bentuk naratif, tabel, atau matriks untuk mempermudah pemahaman terhadap data. Serta penarikan kesimpulan dan verifikasi, yaitu proses interpretasi makna dari data yang telah tersaji, disertai verifikasi secara berulang untuk memastikan keabsahan temuan. Keabsahan data dalam penelitian ini diuji menggunakan teknik triangulasi sumber dan metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dari berbagai informan. Sedangkan triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan hasil pengumpulan data melalui beberapa teknik yang berbeda untuk memastikan konsistensi informasi. AU HASIL DAN ANALISIS Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga operasional dalam seluruh aspek kehidupan madrasah mulai dari perencanaan kurikulum, proses pembelajaran, hingga budaya madrasah Tahap Perencanaan Kurikulum Dalam tahap perencanaan, kurikulum berbasis cinta dikonstruksi melalui integrasi nilai-nilai humanisme Islam ke dalam visi, misi, dan tujuan pembelajaran. Kepala madrasah dan tim pengembang kurikulum menekankan bahwa setiap kegiatan belajar harus menumbuhkan empati, keikhlasan, dan tanggung jawab sosial. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disusun dengan memperhatikan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Guru tidak hanya menargetkan pencapaian nilai akademik, tetapi juga pembentukan karakter berbasis cinta seperti kasih sayang, tolong-menolong, dan menghormati perbedaan. Perencanaan kurikulum merupakan tahap fundamental dalam keseluruhan proses implementasi kurikulum, karena pada fase inilah arah, tujuan, nilai, serta strategi pendidikan dirumuskan secara sistematis dan terukur. Dalam konteks implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang, perencanaan kurikulum tidak sekadar dimaknai sebagai penyusunan dokumen administratif, tetapi sebagai proses reflektif dan ideologis KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. yang bertujuan merekonstruksi paradigma pendidikan Islam menuju pendekatan yang lebih humanis, inklusif, dan kontekstual. Kurikulum berbasis cinta dirancang dengan kesadaran bahwa pendidikan Islam harus mampu merespons isu-isu kontemporer seperti krisis moral, intoleransi, tekanan psikologis peserta didik, serta tantangan globalisasi yang semakin kompleks (Lincoln Tahapan perencanaan kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang dilakukan secara bertahap, partisipatif, dan berbasis nilai. Proses ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari kepala madrasah, wakil kepala bidang kurikulum, guru, konselor, hingga komite Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan prinsip cinta itu sendiri, yakni penghargaan terhadap peran setiap individu dan keterlibatan kolektif dalam membangun sistem pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan. Tahap awal dalam perencanaan kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang diawali dengan analisis konteks dan kebutuhan pendidikan. Analisis ini dilakukan untuk memahami secara komprehensif kondisi internal madrasah dan dinamika eksternal yang memengaruhi proses Secara internal, madrasah melakukan pemetaan terhadap karakteristik peserta didik, latar belakang sosial-budaya, kebutuhan emosional dan psikologis, serta tantangan belajar yang dihadapi siswa. Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya membutuhkan penguatan akademik, tetapi juga dukungan emosional, pembinaan karakter, dan lingkungan belajar yang aman dan penuh empati. Fenomena seperti menurunnya motivasi belajar, konflik antar siswa, serta tekanan mental akibat tuntutan akademik menjadi indikator penting perlunya pendekatan kurikulum yang lebih humanis. Secara eksternal. MAN 1 Serang juga mempertimbangkan tuntutan kebijakan pendidikan nasional, perkembangan teknologi, serta isu-isu kontemporer dalam masyarakat, seperti pluralisme, toleransi, dan keadilan sosial. Madrasah menyadari bahwa peserta didik hidup dalam realitas sosial yang kompleks, sehingga kurikulum harus dirancang untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis, empati sosial, dan kesadaran moral. Analisis konteks ini menjadi landasan awal bagi pengembangan kurikulum berbasis cinta, karena nilai cinta tidak dapat diimplementasikan secara abstrak tanpa memahami realitas konkret yang dihadapi peserta didik. Tahap kedua dalam perencanaan kurikulum adalah perumusan landasan filosofis, teologis, dan pedagogis kurikulum berbasis cinta. Pada tahap ini. MAN 1 Serang merumuskan kerangka nilai yang menjadi dasar seluruh pengembangan kurikulum. Landasan filosofis kurikulum berbasis cinta bertumpu pada pandangan humanisme religius, yaitu pandangan yang menempatkan manusia sebagai makhluk bermartabat yang memiliki potensi intelektual, emosional, dan spiritual. Pendidikan dipahami sebagai proses memanusiakan manusia tanpa melepaskan orientasi ketuhanan. Dalam konteks ini, cinta diposisikan sebagai nilai universal yang menjembatani relasi antara dimensi teosentris dan antropologis dalam pendidikan Islam. Landasan teologis kurikulum berbasis cinta dirumuskan berdasarkan ajaran Islam tentang rahmah, kasih sayang, dan akhlak mulia. Nilai cinta dipahami sebagai manifestasi dari sifat rahman dan rahim Allah yang harus tercermin dalam praktik pendidikan. Prinsip ini mengarahkan madrasah untuk mengembangkan kurikulum yang tidak represif, tidak diskriminatif, dan menjunjung tinggi keadilan serta penghormatan terhadap peserta didik. Sementara itu, landasan pedagogis kurikulum berbasis cinta mengacu pada teori pendidikan humanistik dan pedagogi kritis yang menekankan pentingnya relasi dialogis, pembelajaran bermakna, dan keterlibatan emosional dalam proses belajar Tahap ketiga adalah perumusan tujuan kurikulum berbasis cinta. Tujuan kurikulum dirancang tidak hanya untuk mencapai standar kompetensi akademik, tetapi juga untuk membentuk karakter peserta didik yang humanis, empatik, dan bertanggung jawab secara sosial. MAN 1 Serang merumuskan tujuan kurikulum yang mencakup pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial secara seimbang. Peserta didik diharapkan mampu menginternalisasi nilai cinta dalam sikap dan perilaku sehari-hari, baik dalam lingkungan madrasah maupun dalam kehidupan bermasyarakat (Nata 2. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Tujuan kurikulum berbasis cinta juga diarahkan untuk membangun kesadaran peserta didik sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses transfer pengetahuan satu arah, melainkan sebagai proses dialogis yang memungkinkan peserta didik mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Dengan demikian, tujuan kurikulum dirumuskan secara holistik dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya sesuai dengan prinsip pendidikan Islam humanis. Tahap keempat dalam perencanaan kurikulum adalah pengembangan struktur dan muatan Pada tahap ini. MAN 1 Serang melakukan integrasi nilai cinta ke dalam seluruh mata pelajaran dan kegiatan pendidikan. Kurikulum berbasis cinta tidak disajikan sebagai mata pelajaran tersendiri, melainkan diintegrasikan secara tematik dan kontekstual dalam pembelajaran. Setiap mata pelajaran dirancang untuk tidak hanya menyampaikan materi kognitif, tetapi juga menanamkan nilai empati, kerja sama, toleransi, dan kepedulian sosial. Struktur kurikulum dirancang secara fleksibel agar guru memiliki ruang kreativitas dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang humanis. Materi pembelajaran diseleksi dan disusun dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap kehidupan peserta didik dan isu-isu sosial kontemporer (Sugiyono 2. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik memahami keterkaitan antara ilmu pengetahuan, nilai keislaman, dan realitas sosial secara utuh. Tahap kelima adalah perencanaan strategi pembelajaran berbasis cinta. MAN 1 Serang merancang pendekatan pembelajaran yang menekankan relasi positif antara guru dan siswa. Guru didorong untuk menerapkan metode pembelajaran partisipatif, kolaboratif, dan reflektif yang memungkinkan terjadinya interaksi yang bermakna. Dalam perencanaan ini, guru diposisikan sebagai pendamping belajar yang memahami kebutuhan emosional peserta didik dan mampu menciptakan suasana kelas yang aman dan nyaman. Strategi pembelajaran berbasis cinta juga mencakup penggunaan pendekatan kontekstual dan problem-based learning yang mendorong peserta didik untuk peka terhadap persoalan sosial di Melalui diskusi, kerja kelompok, dan proyek sosial, peserta didik dilatih untuk mengembangkan empati, kemampuan komunikasi, dan tanggung jawab sosial. Perencanaan strategi pembelajaran ini menjadi kunci utama dalam menginternalisasi nilai cinta secara nyata dalam proses Tahap keenam adalah perencanaan sistem penilaian yang humanis. Dalam kurikulum berbasis cinta, penilaian tidak semata-mata berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses belajar peserta didik. MAN 1 Serang merancang sistem evaluasi yang menilai aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang. Penilaian dilakukan secara formatif dan reflektif, dengan tujuan memberikan umpan balik yang konstruktif bagi perkembangan peserta didik. Pendekatan penilaian ini menekankan prinsip keadilan, transparansi, dan empati. Guru diharapkan mampu melihat peserta didik sebagai individu yang sedang berkembang, bukan sekadar angka atau nilai. Dengan demikian, sistem penilaian dirancang untuk memotivasi peserta didik, bukan menekan atau menghakimi. Tahap ketujuh dalam perencanaan kurikulum adalah penguatan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan. MAN 1 Serang menyadari bahwa keberhasilan kurikulum berbasis cinta sangat bergantung pada kesiapan dan komitmen guru. Oleh karena itu, perencanaan kurikulum juga mencakup program pengembangan profesional guru melalui pelatihan, workshop, dan refleksi Guru dibekali pemahaman konseptual tentang pendidikan humanis serta keterampilan praktis dalam menerapkan pendekatan berbasis cinta di kelas. Tahap terakhir adalah perencanaan monitoring dan evaluasi kurikulum. MAN 1 Serang merancang mekanisme evaluasi berkelanjutan untuk memastikan bahwa kurikulum berbasis cinta diimplementasikan secara konsisten dan efektif. Evaluasi dilakukan melalui observasi pembelajaran, refleksi guru, umpan balik peserta didik, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk perbaikan dan pengembangan kurikulum secara KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Secara keseluruhan, tahapan perencanaan kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang mencerminkan upaya sistematis dan reflektif dalam merekonstruksi paradigma pendidikan Islam Perencanaan ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan peserta didik. Dengan menjadikan cinta sebagai landasan pedagogis. MAN 1 Serang berupaya menghadirkan pendidikan Islam yang relevan, bermakna, dan mampu menjawab tantangan isu-isu kontemporer. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Pelaksanaan kurikulum berbasis cinta dilakukan melalui pendekatan pembelajaran dialogis dan partisipatif, di mana guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping spiritual. Proses pembelajaran dibangun atas dasar penghormatan terhadap potensi unik setiap peserta didik, sesuai prinsip humanisme Islam bahwa setiap manusia adalah makhluk mulia . l-insAn al-kar. Guru-guru di MAN 1 Serang menerapkan metode yang menumbuhkan rasa saling menghargai, seperti learning by empathy, project collaboration, dan reflektif learning. Dalam praktiknya, sebelum pelajaran dimulai, guru sering mengajak siswa bermuhasabah atau saling memberi Pelaksanaan pembelajaran merupakan fase kunci dalam implementasi kurikulum berbasis cinta, karena pada tahap inilah nilai-nilai yang telah dirumuskan dalam perencanaan kurikulum diterjemahkan ke dalam praktik nyata di ruang kelas dan lingkungan madrasah. Dalam konteks MAN 1 Serang, pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta tidak dimaknai sebatas penerapan metode mengajar tertentu, melainkan sebagai proses pedagogis yang menyeluruh dan berkesinambungan, yang melibatkan relasi edukatif antara guru dan peserta didik, iklim kelas yang humanis, serta budaya sekolah yang menumbuhkan kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap martabat Pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta di MAN 1 Serang berangkat dari kesadaran bahwa proses belajar mengajar tidak dapat dilepaskan dari kondisi emosional dan psikologis peserta didik. Peserta didik dipandang sebagai subjek pendidikan yang memiliki perasaan, pengalaman hidup, latar belakang sosial, serta potensi unik yang perlu dihargai dan dikembangkan. Oleh karena itu, setiap tahap pembelajaran dirancang untuk menciptakan suasana aman, nyaman, dan penuh makna, sehingga peserta didik merasa diterima, dihargai, dan termotivasi untuk belajar secara aktif. Tahap awal dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta diawali dengan penciptaan iklim pembelajaran yang humanis dan penuh empati. Guru di MAN 1 Serang memulai pembelajaran dengan membangun kedekatan emosional dengan peserta didik melalui sapaan yang hangat, komunikasi yang santun, serta sikap terbuka terhadap kondisi siswa. Interaksi awal ini menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan rasa aman psikologis . sychological safet. , yang memungkinkan peserta didik mengekspresikan pendapat, bertanya, dan berpartisipasi tanpa rasa takut akan penilaian atau hukuman. Dalam pendekatan ini, guru tidak memposisikan diri sebagai otoritas yang kaku, melainkan sebagai figur pendamping yang hadir secara autentik dan peduli terhadap perkembangan peserta didik. Selanjutnya, pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta di MAN 1 Serang menekankan pendekatan pembelajaran dialogis dan partisipatif. Proses belajar tidak didominasi oleh ceramah satu arah, melainkan melibatkan dialog dua arah yang menghargai suara dan pengalaman peserta Guru mendorong siswa untuk mengemukakan pendapat, berbagi pengalaman, serta merefleksikan materi pembelajaran dalam konteks kehidupan sehari-hari. Dialog ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan nilai empati, toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan pandangan. Dalam konteks pendidikan Islam humanis, dialog dipahami sebagai bentuk praksis pedagogis yang sejalan dengan prinsip musyawarah dan taAoawun. Melalui dialog yang terbuka dan setara, peserta didik belajar untuk mendengarkan orang lain, menghargai perbedaan, serta membangun pemahaman bersama secara konstruktif. Guru berperan sebagai fasilitator yang KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. mengarahkan diskusi, menjaga suasana dialog tetap kondusif, dan memastikan bahwa setiap peserta didik memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Tahap berikutnya dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta adalah integrasi nilai cinta dan kemanusiaan dalam materi pembelajaran. Di MAN 1 Serang, setiap mata pelajaran dirancang untuk tidak hanya menyampaikan konten kognitif, tetapi juga menginternalisasikan nilai kasih sayang, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Guru secara sadar mengaitkan materi pelajaran dengan isu-isu kemanusiaan dan realitas sosial yang relevan dengan kehidupan peserta Misalnya, dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, nilai cinta diwujudkan melalui pembahasan tentang akhlak, rahmah, dan ukhuwah. Sementara dalam mata pelajaran umum, nilai cinta diintegrasikan melalui contoh-contoh kontekstual yang menumbuhkan empati dan kesadaran Integrasi nilai ini dilakukan secara implisit dan eksplisit, sehingga peserta didik tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu menginternalisasikannya dalam sikap dan Guru menghindari pendekatan indoktrinatif dan lebih memilih strategi reflektif yang mengajak peserta didik untuk menemukan makna nilai-nilai tersebut melalui pengalaman belajar yang bermakna. Pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta di MAN 1 Serang juga diwujudkan melalui penerapan metode pembelajaran kolaboratif. Peserta didik didorong untuk bekerja sama dalam kelompok belajar yang heterogen, sehingga mereka belajar untuk saling menghargai, membantu, dan bertanggung jawab satu sama lain. Kerja kelompok tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial yang melatih empati, komunikasi, dan keterampilan interpersonal. Guru memfasilitasi proses kolaborasi dengan memastikan bahwa setiap anggota kelompok terlibat secara aktif dan tidak ada peserta didik yang Pendekatan kolaboratif ini sejalan dengan nilai cinta yang menekankan kebersamaan dan Dalam praktiknya, guru memberikan perhatian khusus pada dinamika kelompok dan berupaya menciptakan suasana kerja sama yang positif. Konflik yang muncul dalam kerja kelompok dipandang sebagai kesempatan belajar untuk mengembangkan kemampuan resolusi konflik secara damai dan beretika. Tahap penting lainnya dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta adalah pemberian perhatian individual dan diferensiasi pembelajaran. MAN 1 Serang menyadari bahwa setiap peserta didik memiliki gaya belajar, kemampuan, dan kebutuhan emosional yang berbeda. Oleh karena itu, guru berupaya menerapkan strategi pembelajaran yang fleksibel dan adaptif, sehingga dapat mengakomodasi keragaman tersebut. Pendekatan diferensiasi ini mencerminkan nilai cinta dalam bentuk penghargaan terhadap keunikan individu dan komitmen untuk membantu setiap peserta didik berkembang secara optimal. Guru memberikan bimbingan personal bagi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar atau masalah emosional, baik melalui pendekatan informal di kelas maupun melalui koordinasi dengan guru bimbingan dan konseling. Pendekatan ini menegaskan bahwa pembelajaran berbasis cinta tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi juga mencakup perhatian terhadap kesejahteraan psikologis peserta didik. Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta, peran keteladanan guru menjadi sangat Guru di MAN 1 Serang dipandang sebagai figur moral yang sikap dan perilakunya menjadi contoh bagi peserta didik. Keteladanan ini tercermin dalam cara guru berkomunikasi, menyelesaikan konflik, serta memperlakukan peserta didik dengan adil dan penuh penghargaan. Nilai cinta tidak hanya diajarkan, tetapi juga dipraktikkan secara konsisten oleh guru dalam interaksi sehari-hari. Pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta juga melibatkan pengelolaan kelas yang non-represif dan restoratif. MAN 1 Serang mengedepankan pendekatan disiplin yang mendidik dan berorientasi pada pemulihan hubungan . estorative disciplin. , bukan hukuman yang bersifat Ketika terjadi pelanggaran aturan, guru mengajak peserta didik untuk merefleksikan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. tindakan mereka, memahami dampaknya terhadap orang lain, dan bertanggung jawab secara moral. Pendekatan ini membantu peserta didik mengembangkan kesadaran diri dan empati, serta memperkuat nilai keadilan dan tanggung jawab sosial. Selain itu, pelaksanaan pembelajaran berbasis cinta di MAN 1 Serang juga diperluas ke luar ruang kelas melalui kegiatan ko-kurikuler dan ekstrakurikuler. Kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan dirancang sebagai bagian integral dari proses pembelajaran yang menumbuhkan kepedulian dan solidaritas sosial. Peserta didik dilibatkan dalam kegiatan bakti sosial, pengabdian masyarakat, serta program keagamaan yang menekankan nilai kasih sayang dan kebersamaan. Kegiatan ini memperkuat internalisasi nilai cinta melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial yang nyata. Tahap berikutnya dalam pelaksanaan pembelajaran adalah penerapan refleksi dan evaluasi pembelajaran yang humanis. Di MAN 1 Serang, refleksi menjadi bagian penting dari proses belajar. Guru mengajak peserta didik untuk merefleksikan pengalaman belajar mereka, baik secara individu maupun kelompok. Refleksi ini membantu peserta didik memahami makna pembelajaran, mengidentifikasi perkembangan diri, serta menyadari nilai-nilai yang telah dipelajari. Guru juga melakukan refleksi terhadap praktik pembelajarannya sendiri sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan. Evaluasi pembelajaran dalam kurikulum berbasis cinta tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses dan perkembangan peserta didik. Penilaian dilakukan secara adil, transparan, dan empatik, dengan memberikan umpan balik yang membangun dan memotivasi. Guru menghindari labelisasi negatif dan lebih menekankan potensi serta kemajuan yang telah dicapai peserta didik. Secara keseluruhan, tahapan pelaksanaan pembelajaran kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang mencerminkan upaya sistematis dalam merealisasikan paradigma pendidikan Islam humanis. Pelaksanaan pembelajaran tidak hanya berorientasi pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kesadaran moral, dan kepekaan sosial peserta didik. Dengan menjadikan cinta sebagai nilai inti dalam proses pembelajaran. MAN 1 Serang berupaya menghadirkan pendidikan Islam yang bermakna, relevan, dan transformatif dalam menghadapi isu-isu kontemporer. Tahap Evaluasi dan Pembudayaan Nilai Evaluasi dalam kurikulum berbasis cinta tidak hanya mengukur hasil belajar akademik, tetapi juga emotional quotient (EQ) dan spiritual quotient (SQ). Penilaian dilakukan secara holistik, mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Selain itu. MAN 1 Serang juga membangun budaya madrasah berbasis cinta melalui kegiatan seperti: Salam Cinta Pagi . uru dan siswa saling menyapa dengan senyum dan doa di pagi har. Gerakan Madrasah Peduli . rogram bakti sosial dan empati sosia. Forum Cinta Ilmu . iskusi lintas kelas dengan pendekatan humani. Tahap evaluasi dan pembudayaan nilai merupakan fase krusial dalam keseluruhan rangkaian implementasi kurikulum berbasis cinta, karena pada tahap inilah efektivitas pembelajaran diuji sekaligus keberlanjutan nilai-nilai yang telah ditanamkan diperkuat dalam kehidupan madrasah. Evaluasi dalam kurikulum berbasis cinta tidak dimaknai secara sempit sebagai kegiatan pengukuran hasil belajar peserta didik semata, melainkan sebagai proses reflektif, dialogis, dan berkelanjutan yang bertujuan untuk menilai sejauh mana nilai cinta, empati, dan humanisme telah terinternalisasi dalam sikap, perilaku, dan budaya pendidikan di MAN 1 Serang. Dengan demikian, evaluasi dan pembudayaan nilai dipahami sebagai dua proses yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Dalam paradigma pendidikan Islam humanis, evaluasi memiliki fungsi pedagogis dan etis. Evaluasi bukanlah alat kontrol yang bersifat represif, melainkan sarana pembelajaran yang membantu peserta didik, pendidik, dan institusi pendidikan untuk memahami proses perkembangan diri secara menyeluruh. Oleh karena itu, evaluasi dalam kurikulum berbasis cinta diarahkan untuk menilai aspek kognitif, afektif, spiritual, dan sosial secara seimbang. Pendekatan ini menegaskan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari kualitas relasi, kedewasaan emosional, serta kepedulian sosial peserta didik. Tahap awal dalam evaluasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang dimulai dengan evaluasi proses pembelajaran. Evaluasi ini dilakukan secara berkelanjutan oleh guru melalui observasi langsung terhadap dinamika kelas, interaksi antara guru dan peserta didik, serta keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Guru memperhatikan bagaimana peserta didik berpartisipasi dalam diskusi, bekerja sama dalam kelompok, menunjukkan empati terhadap teman, serta mengekspresikan sikap saling menghargai. Indikator keberhasilan tidak hanya dilihat dari keaktifan akademik, tetapi juga dari kualitas hubungan sosial dan suasana emosional yang tercipta dalam kelas. Evaluasi proses pembelajaran ini bersifat formatif dan reflektif. Guru secara berkala melakukan refleksi terhadap strategi pembelajaran yang digunakan, apakah metode yang diterapkan telah menciptakan suasana belajar yang aman dan humanis, serta sejauh mana nilai cinta benar-benar hadir dalam praktik pembelajaran. Refleksi ini dilakukan baik secara individu maupun kolektif melalui forum diskusi guru, rapat evaluasi, dan kegiatan pengembangan profesional. Dengan cara ini, evaluasi menjadi instrumen perbaikan berkelanjutan yang mendorong peningkatan kualitas pembelajaran berbasis cinta. Selain evaluasi proses. MAN 1 Serang juga menerapkan evaluasi hasil belajar yang humanis dan holistik. Evaluasi hasil belajar tidak hanya menitikberatkan pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup perkembangan sikap, nilai, dan keterampilan sosial peserta didik. Penilaian afektif dilakukan melalui pengamatan perilaku sehari-hari, jurnal refleksi siswa, portofolio, serta umpan balik dari guru dan teman sebaya. Pendekatan ini memungkinkan guru memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang perkembangan peserta didik sebagai individu. Dalam konteks kurikulum berbasis cinta, penilaian afektif memiliki peran penting dalam mengukur sejauh mana nilai empati, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial telah Guru tidak menggunakan pendekatan penilaian yang menghakimi atau memberi label negatif, melainkan memberikan umpan balik yang bersifat membangun dan memotivasi. Peserta didik diajak untuk memahami kekuatan dan area pengembangan diri mereka, sehingga evaluasi menjadi sarana pembelajaran yang memberdayakan, bukan menekan. Tahap evaluasi selanjutnya adalah evaluasi kelembagaan dan budaya sekolah. MAN 1 Serang menyadari bahwa keberhasilan kurikulum berbasis cinta tidak hanya bergantung pada praktik pembelajaran di kelas, tetapi juga pada budaya institusi secara keseluruhan. Oleh karena itu, evaluasi dilakukan terhadap kebijakan madrasah, tata tertib, pola komunikasi, serta iklim sosial yang berkembang di lingkungan sekolah. Apakah kebijakan madrasah mencerminkan nilai keadilan dan kasih sayang? Apakah relasi antara guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik dibangun atas dasar saling menghormati? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi bagian penting dalam evaluasi kurikulum berbasis cinta. Evaluasi budaya sekolah dilakukan melalui survei kepuasan siswa, wawancara dengan guru dan tenaga kependidikan, serta dialog terbuka dengan orang tua dan komite madrasah. Pendekatan partisipatif ini mencerminkan nilai cinta yang menekankan keterlibatan dan penghargaan terhadap suara semua pihak. Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar untuk melakukan penyesuaian kebijakan dan penguatan budaya sekolah yang lebih humanis. Tahap berikutnya dalam evaluasi adalah evaluasi dampak sosial dan karakter peserta didik. Evaluasi ini bertujuan untuk melihat sejauh mana implementasi kurikulum berbasis cinta berdampak pada perilaku peserta didik di luar konteks akademik. Indikator yang diperhatikan antara lain peningkatan kepedulian sosial, kemampuan menyelesaikan konflik secara damai, sikap toleran terhadap perbedaan, serta partisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. MAN 1 Serang memandang bahwa keberhasilan pendidikan Islam humanis tercermin dari kemampuan peserta didik untuk menerapkan nilai-nilai cinta dalam kehidupan nyata. Evaluasi dampak sosial ini dilakukan melalui pengamatan terhadap keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler, program pengabdian masyarakat, serta interaksi sosial di lingkungan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. madrasah dan masyarakat sekitar. Guru dan pembina kegiatan ekstrakurikuler memberikan laporan berkala mengenai perkembangan karakter peserta didik, yang kemudian dibahas dalam forum evaluasi bersama. Pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam kehidupan sosial peserta didik. Seiring dengan proses evaluasi, tahap pembudayaan nilai menjadi aspek yang tidak terpisahkan dalam implementasi kurikulum berbasis cinta. Pembudayaan nilai dimaknai sebagai proses internalisasi nilai cinta secara berkelanjutan hingga menjadi bagian dari kebiasaan, sikap, dan identitas kolektif warga madrasah. Di MAN 1 Serang, pembudayaan nilai dilakukan melalui berbagai strategi yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari madrasah. Salah satu strategi utama dalam pembudayaan nilai adalah keteladanan . swah hasana. Guru, kepala madrasah, dan tenaga kependidikan diposisikan sebagai teladan utama dalam mengamalkan nilai cinta dan humanisme. Sikap adil, empatik, sabar, dan penuh kepedulian yang ditunjukkan oleh pendidik menjadi sarana pembelajaran nilai yang paling efektif. Peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang mereka lihat dan rasakan dalam interaksi sehari-hari. Keteladanan ini menjadi fondasi utama dalam membangun budaya cinta di lingkungan madrasah. Selain keteladanan, pembudayaan nilai juga dilakukan melalui pembiasaan . MAN 1 Serang merancang berbagai aktivitas rutin yang menanamkan nilai cinta, seperti budaya salam dan sapa, kegiatan refleksi harian, doa bersama, serta kegiatan berbagi dan kepedulian sosial. Pembiasaan ini dilakukan secara konsisten sehingga nilai cinta tidak hanya menjadi konsep abstrak, tetapi menjadi bagian dari praktik keseharian peserta didik. Melalui pembiasaan, nilai-nilai humanis diinternalisasikan secara gradual dan berkelanjutan. Pembudayaan nilai juga diperkuat melalui integrasi nilai dalam kebijakan dan tata tertib Tata tertib tidak dirancang sebagai instrumen hukuman, melainkan sebagai pedoman etis yang mencerminkan nilai kasih sayang dan keadilan. Pendekatan disiplin restoratif diterapkan untuk menangani pelanggaran, dengan fokus pada pemulihan hubungan dan pembelajaran moral, bukan pada sanksi yang bersifat menghukum. Dengan cara ini, peserta didik belajar bertanggung jawab atas tindakannya dan memahami dampak perilaku mereka terhadap orang lain. Strategi penting lainnya dalam pembudayaan nilai adalah pelibatan seluruh komunitas MAN 1 Serang melibatkan orang tua, alumni, dan masyarakat sekitar dalam berbagai kegiatan pendidikan dan sosial yang menekankan nilai cinta dan kepedulian. Pelibatan ini memperluas ruang internalisasi nilai hingga ke luar lingkungan madrasah, sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang konsisten antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sinergi ini memperkuat keberlanjutan nilai-nilai yang ditanamkan melalui kurikulum berbasis cinta. Pembudayaan nilai cinta juga diwujudkan melalui penguatan refleksi dan kesadaran diri peserta didik. MAN 1 Serang mendorong peserta didik untuk secara aktif merefleksikan pengalaman belajar dan kehidupan sosial mereka melalui jurnal refleksi, diskusi kelompok, dan bimbingan konseling. Refleksi ini membantu peserta didik memahami makna nilai cinta dalam kehidupan mereka dan mengembangkan kesadaran moral yang lebih mendalam. Dengan demikian, pembudayaan nilai tidak bersifat indoktrinatif, tetapi berbasis kesadaran dan pemahaman personal. Secara keseluruhan, tahap evaluasi dan pembudayaan nilai dalam implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang mencerminkan pendekatan pendidikan Islam humanis yang holistik dan berkelanjutan. Evaluasi dilakukan tidak hanya untuk mengukur keberhasilan, tetapi juga untuk memperbaiki dan mengembangkan praktik pendidikan secara terus-menerus. Pembudayaan nilai dilakukan melalui keteladanan, pembiasaan, kebijakan, dan pelibatan komunitas, sehingga nilai cinta benar-benar menjadi ruh pendidikan di madrasah. Dengan menjadikan evaluasi dan pembudayaan nilai sebagai bagian integral dari kurikulum. MAN 1 Serang berupaya memastikan bahwa pendidikan berbasis cinta tidak berhenti sebagai wacana konseptual, tetapi terwujud dalam praktik nyata yang membentuk karakter peserta didik dan budaya madrasah secara berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi dalam menghadapi isu-isu kontemporer. Analisis Implementasi Berdasarkan Teori Humanisme Islam Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang dapat dianalisis dalam kerangka teori humanisme Islam, yang menekankan pentingnya memanusiakan manusia melalui pendidikan, diantaranya: Dimensi Teologis yaitu humanisme Islam berakar pada pandangan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki potensi spiritual dan moral yang luhur. Dalam konteks ini, kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang menempatkan nilai ilahiyah sebagai landasan utama Pembelajaran tidak diarahkan pada sekadar penguasaan ilmu, tetapi juga pada kesadaran akan hubungan manusia dengan Allah dan sesama makhluk. Dimensi Psikologis dan Afektif, yaitu humanisme Islam melihat peserta didik sebagai individu yang unik dan otonom. Dalam pembelajaran, guru di MAN 1 Serang menghargai perbedaan gaya belajar dan emosi siswa. Metode pembelajaran partisipatif membantu siswa mengembangkan empati dan kesadaran sosial. Hal ini sejalan dengan pandangan Paulo Freire tentang education as the practice of freedom, di mana pendidikan harus membebaskan manusia dari ketakutan, tekanan, dan dehumanisasi. Namun, berbeda dengan Freire yang bersifat sekuler, humanisme Islam menautkan pembebasan tersebut pada dimensi ketuhanan. Dimensi Sosial dan Transformatif, yaitu cinta dalam konteks pendidikan Islam bukan hanya rasa emosional, tetapi juga tindakan sosial yang berkeadilan. Di MAN 1 Serang, nilai cinta diimplementasikan melalui kegiatan sosial-keagamaan yang menumbuhkan solidaritas dan tanggung jawab sosial siswa. Pendekatan ini merefleksikan prinsip rahmatan lil Aoalamin, yaitu menjadikan pendidikan sebagai sarana penyebaran kasih sayang universal dan peradaban damai. Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang dapat dianalisis secara komprehensif melalui perspektif teori humanisme Islam, yaitu suatu pendekatan pendidikan yang memadukan nilai-nilai kemanusiaan . uman dignit. dengan orientasi ketuhanan . Humanisme Islam tidak memisahkan dimensi spiritual dan sosial manusia, melainkan memandang keduanya sebagai satu kesatuan yang utuh. Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya bertujuan membentuk individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang berakhlak, empatik, dan bertanggung jawab terhadap sesama serta lingkungannya. Secara konseptual, humanisme Islam berangkat dari pandangan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk mulia . arAmat al-insA. dan diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus berfungsi sebagai proses pemanusiaan manusia . yang berlandaskan nilai tauhid. Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang menunjukkan kesesuaian yang kuat dengan prinsip ini, karena nilai cinta diposisikan sebagai ruh pendidikan yang menjiwai seluruh proses pembelajaran dan interaksi sosial di madrasah. Dalam perspektif humanisme Islam, cinta . dan kasih sayang . merupakan nilai fundamental yang menuntun relasi antara pendidik dan peserta didik. Praktik pembelajaran di MAN 1 Serang yang menekankan hubungan dialogis, empatik, dan non-represif mencerminkan implementasi prinsip rahmah sebagai dasar pedagogis. Guru tidak lagi diposisikan sebagai otoritas absolut yang menekan peserta didik, melainkan sebagai pendamping yang menghargai potensi dan keunikan setiap individu. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Al-Attas yang menegaskan bahwa pendidikan Islam harus membimbing peserta didik menuju adab, bukan sekadar transfer pengetahuan. Lebih jauh, teori humanisme Islam menekankan pentingnya keseimbangan antara dimensi kognitif, afektif, dan spiritual dalam pendidikan. Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang menunjukkan upaya nyata dalam mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut. Pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan sikap empati, kepedulian sosial, dan kesadaran moral. Penilaian yang bersifat humanis dan reflektif menjadi bukti bahwa madrasah tidak menjadikan nilai sebagai satu-satunya indikator keberhasilan, melainkan melihat perkembangan peserta didik secara holistik. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. Dari sudut pandang humanisme Islam, pendekatan evaluasi yang empatik dan restoratif memiliki relevansi yang sangat kuat. Islam memandang kesalahan bukan semata-mata sebagai pelanggaran yang harus dihukum, tetapi sebagai bagian dari proses pembelajaran dan perbaikan diri . Pendekatan disiplin restoratif yang diterapkan dalam kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang mencerminkan nilai ini. Peserta didik diajak untuk merefleksikan kesalahan, memahami dampaknya terhadap orang lain, dan bertanggung jawab secara moral. Praktik ini sejalan dengan prinsip tarbiyah Islamiyah yang menekankan pembinaan dan perbaikan, bukan penghukuman. Selain itu, teori humanisme Islam juga menekankan pentingnya kebebasan yang bertanggung jawab dalam proses pendidikan. Kebebasan dalam konteks ini bukanlah kebebasan absolut, melainkan kebebasan yang dibingkai oleh nilai-nilai etis dan spiritual. Implementasi kurikulum berbasis cinta memberikan ruang bagi peserta didik untuk berekspresi, berpendapat, dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Ruang dialog yang dibangun di kelas mencerminkan penghargaan terhadap akal dan pengalaman peserta didik sebagai subjek pendidikan. Namun, kebebasan tersebut tetap diarahkan pada pembentukan tanggung jawab sosial dan moral, sesuai dengan prinsip humanisme Islam. Dalam konteks isu-isu kontemporer, seperti intoleransi, krisis empati, dan tekanan psikologis pada generasi muda, kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang dapat dipandang sebagai bentuk aktualisasi humanisme Islam yang kontekstual. Humanisme Islam tidak bersifat abstrak dan normatif, tetapi harus diwujudkan dalam praksis sosial yang menjawab tantangan zaman. Dengan menanamkan nilai cinta, toleransi, dan kepedulian sosial, madrasah berperan sebagai ruang pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan universal yang selaras dengan ajaran Islam. Lebih lanjut, pembudayaan nilai cinta dalam kehidupan madrasah mencerminkan konsep insAn kAmil dalam humanisme Islam, yaitu manusia yang berkembang secara seimbang antara iman, ilmu, dan amal. Melalui keteladanan guru, pembiasaan nilai, serta integrasi nilai dalam kebijakan madrasah, peserta didik diarahkan untuk menginternalisasi nilai cinta sebagai bagian dari identitas Proses ini tidak bersifat indoktrinatif, tetapi berbasis kesadaran dan pengalaman, sehingga nilai-nilai tersebut lebih berpotensi melekat secara berkelanjutan. Namun demikian, analisis berdasarkan teori humanisme Islam juga menunjukkan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta memerlukan konsistensi dan komitmen yang kuat dari seluruh warga madrasah. Humanisme Islam menuntut keselarasan antara nilai yang diajarkan dan praktik yang dijalankan. Jika nilai cinta hanya berhenti pada tataran wacana tanpa dukungan budaya institusi yang humanis, maka tujuan pendidikan Islam humanis sulit tercapai. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang sangat bergantung pada integritas pendidik, kebijakan madrasah, serta keterlibatan komunitas pendidikan secara Secara keseluruhan, implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang dapat dianalisis sebagai manifestasi konkret dari teori humanisme Islam dalam praktik pendidikan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak harus bersifat kaku dan normatif, tetapi dapat bersifat humanis, empatik, dan transformatif tanpa kehilangan landasan teologisnya. Dengan menjadikan cinta sebagai nilai inti, madrasah berhasil merekonstruksi paradigma pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan manusia modern sekaligus setia pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa humanisme Islam bukanlah konsep yang bertentangan dengan modernitas, melainkan alternatif etis dan spiritual dalam membangun pendidikan yang memanusiakan manusia. Tantangan dan Upaya Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta Kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang telah berjalan dengan baik, namun masih terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, antara lain: adanya keterbatasan pemahaman guru baru terhadap konsep cinta dalam konteks pendidikan Islam. Adanya kendala administratif, di mana fokus penilaian masih cenderung akademik. Serta adanya dampak budaya digital, yang kadang menggeser nilai spiritual dan empati siswa. Terlepas dari adanya berbagai tantangan, namun KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang merupakan wujud nyata dari paradigma pendidikan Islam yang humanis. Ia menempatkan nilai cinta sebagai fondasi teologis, etis, dan Kurikulum ini menjadi bentuk rekonstruksi terhadap paradigma pendidikan yang terlalu kognitif-sentris menuju pendidikan yang menumbuhkan kemanusiaan, empati, dan spiritualitas. Implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang merupakan langkah progresif dalam merekonstruksi paradigma pendidikan Islam menuju pendekatan yang lebih humanis dan Meskipun demikian, sebagaimana inovasi kurikulum lainnya, penerapan kurikulum berbasis cinta tidak terlepas dari berbagai tantangan struktural, kultural, dan pedagogis. Tantangan-tantangan ini muncul baik dari faktor internal madrasah maupun dari dinamika eksternal yang memengaruhi sistem pendidikan secara luas. Oleh karena itu, diperlukan upaya penguatan yang sistematis dan berkelanjutan agar kurikulum berbasis cinta tidak hanya berhenti sebagai wacana ideal, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam praktik pendidikan dan budaya madrasah. Salah satu tantangan utama dalam implementasi kurikulum berbasis cinta adalah dominasi paradigma pendidikan tradisional yang masih berorientasi pada kognisi dan capaian akademik. Dalam sistem pendidikan formal, keberhasilan seringkali diukur melalui nilai ujian, peringkat, dan capaian kompetensi akademik yang bersifat kuantitatif. Paradigma ini secara tidak langsung menempatkan aspek afektif, emosional, dan nilai kemanusiaan sebagai dimensi sekunder. Di MAN 1 Serang, meskipun komitmen terhadap kurikulum berbasis cinta telah dicanangkan, realitas tekanan akademik dan tuntutan administratif tetap menjadi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembinaan karakter humanis. Guru sebagai pelaksana utama kurikulum sering berada dalam dilema antara memenuhi tuntutan target kurikulum nasional dan menerapkan pendekatan pembelajaran berbasis cinta yang membutuhkan waktu, refleksi, dan interaksi mendalam dengan peserta didik. Kondisi ini berpotensi menyebabkan nilai cinta hanya diintegrasikan secara simbolik, misalnya melalui slogan atau wacana normatif, tanpa terwujud secara konsisten dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Tantangan ini menunjukkan perlunya reposisi paradigma keberhasilan pendidikan yang lebih holistik dan berorientasi pada pengembangan manusia seutuhnya. Tantangan berikutnya adalah kesiapan dan pemahaman pendidik terhadap konsep kurikulum berbasis cinta. Tidak semua guru memiliki latar belakang pedagogis yang sama dalam memahami pendidikan humanis dan pendekatan berbasis nilai. Sebagian guru masih terbiasa dengan model pembelajaran otoritatif dan instruksional, sehingga membutuhkan proses adaptasi yang tidak singkat untuk beralih ke pendekatan yang lebih dialogis dan empatik. Kurikulum berbasis cinta menuntut guru untuk tidak hanya menguasai materi, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional, sensitivitas sosial, serta kemampuan reflektif yang tinggi. Kurangnya pelatihan khusus dan pendampingan berkelanjutan dapat menjadi penghambat dalam implementasi kurikulum berbasis cinta secara optimal. Guru yang belum sepenuhnya memahami filosofi dan tujuan kurikulum berbasis cinta berpotensi mempraktikkan pendekatan ini secara parsial atau tidak konsisten. Oleh karena itu, tantangan ini menegaskan bahwa penguatan kapasitas pendidik merupakan aspek krusial dalam keberhasilan kurikulum berbasis cinta. Selain itu, budaya sekolah yang telah terbentuk sebelumnya juga menjadi tantangan Setiap lembaga pendidikan memiliki tradisi, kebiasaan, dan pola relasi yang telah Jika budaya sekolah sebelumnya cenderung hierarkis, formalistik, dan menekankan kepatuhan tanpa dialog, maka proses transisi menuju budaya cinta dan humanisme membutuhkan waktu dan komitmen kolektif. Di MAN 1 Serang, upaya membangun budaya sekolah yang lebih humanis harus berhadapan dengan kebiasaan lama yang masih memandang disiplin sebagai kontrol dan hukuman, bukan sebagai proses pembinaan dan pemulihan. Tantangan budaya ini sering kali muncul dalam bentuk resistensi halus, baik dari pendidik, tenaga kependidikan, maupun peserta didik yang telah terbiasa dengan sistem lama. Perubahan paradigma pendidikan tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga menyentuh cara pandang, sikap, dan nilai yang diyakini oleh seluruh warga madrasah. Oleh karena itu, penguatan kurikulum KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. berbasis cinta membutuhkan strategi perubahan budaya . ultural chang. yang bersifat bertahap dan Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah pengaruh isu-isu kontemporer dan perkembangan teknologi digital. Peserta didik saat ini hidup dalam lingkungan digital yang sarat dengan informasi instan, kompetisi sosial, dan budaya individualistik. Media sosial, misalnya, sering kali membentuk pola interaksi yang kurang empatik dan minim kedalaman relasi. Kondisi ini dapat menjadi kontradiktif dengan nilai cinta yang menekankan empati, kepedulian, dan relasi Kurikulum berbasis cinta dihadapkan pada tantangan untuk tetap relevan dan mampu menjangkau realitas digital peserta didik. Selain itu, tantangan eksternal juga muncul dari ekspektasi orang tua dan masyarakat yang masih cenderung menilai kualitas pendidikan dari aspek akademik semata. Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pendidikan berbasis nilai dan karakter dapat memengaruhi dukungan terhadap implementasi kurikulum berbasis cinta. Oleh karena itu, penguatan kurikulum berbasis cinta tidak dapat dilakukan secara internal saja, tetapi memerlukan keterlibatan dan pemahaman dari pemangku kepentingan eksternal. Menghadapi berbagai tantangan tersebut. MAN 1 Serang melakukan sejumlah upaya penguatan kurikulum berbasis cinta secara strategis dan berkelanjutan. Salah satu upaya utama adalah penguatan visi dan komitmen kelembagaan. Kepala madrasah dan jajaran pimpinan memainkan peran sentral dalam menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta merupakan bagian integral dari identitas dan arah pengembangan madrasah. Visi ini disosialisasikan secara konsisten melalui rapat, kebijakan, dan kegiatan madrasah, sehingga seluruh warga sekolah memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya pendekatan humanis dalam pendidikan. Upaya penguatan berikutnya adalah pengembangan kapasitas dan profesionalisme guru. MAN 1 Serang menyelenggarakan pelatihan, lokakarya, dan forum refleksi pedagogis yang berfokus pada pendidikan humanis, kecerdasan emosional, dan pembelajaran berbasis nilai. Guru didorong untuk berbagi praktik baik . est practice. dan melakukan refleksi kritis terhadap pengalaman mengajar mereka. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi pedagogis guru, tetapi juga membangun komunitas belajar yang saling mendukung dan berbasis nilai cinta. Selain pelatihan formal, penguatan kurikulum berbasis cinta juga dilakukan melalui pendampingan dan supervisi akademik yang humanis. Supervisi tidak diposisikan sebagai alat kontrol, melainkan sebagai sarana dialog dan pembinaan profesional. Guru diberikan umpan balik yang konstruktif dan ruang untuk berdiskusi tentang tantangan yang mereka hadapi dalam menerapkan pembelajaran berbasis cinta. Dengan pendekatan ini, supervisi menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama, bukan sumber tekanan administratif. Upaya penguatan lainnya adalah integrasi nilai cinta secara sistematis dalam kebijakan dan tata kelola madrasah. MAN 1 Serang meninjau kembali tata tertib, sistem penilaian, dan mekanisme disiplin agar selaras dengan prinsip kasih sayang dan keadilan. Pendekatan disiplin restoratif diperkuat sebagai alternatif terhadap pendekatan hukuman, sehingga peserta didik belajar bertanggung jawab melalui refleksi dan dialog. Kebijakan ini membantu menciptakan konsistensi antara nilai yang diajarkan dan praktik kelembagaan. Penguatan kurikulum berbasis cinta juga dilakukan melalui pembudayaan nilai secara MAN 1 Serang menanamkan nilai cinta melalui pembiasaan, keteladanan, dan kegiatan sosial yang melibatkan seluruh warga madrasah. Kegiatan keagamaan, bakti sosial, dan pengabdian masyarakat dirancang sebagai ruang aktualisasi nilai empati dan kepedulian sosial. Dengan demikian, nilai cinta tidak hanya hadir dalam ruang kelas, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial peserta didik. Dalam merespons tantangan digital dan isu kontemporer. MAN 1 Serang berupaya mengontekstualisasikan kurikulum berbasis cinta dengan realitas kehidupan peserta didik. Nilai cinta diperluas maknanya dalam konteks literasi digital, etika bermedia sosial, dan tanggung jawab sosial di ruang virtual. Pendekatan ini membantu peserta didik memahami bahwa nilai cinta relevan KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. tidak hanya dalam interaksi tatap muka, tetapi juga dalam dunia digital yang mereka hadapi sehari-hari. Terakhir, upaya penguatan kurikulum berbasis cinta dilakukan melalui pelibatan orang tua dan masyarakat. MAN 1 Serang membangun komunikasi yang intensif dengan orang tua untuk menyosialisasikan tujuan dan nilai kurikulum berbasis cinta. Keterlibatan ini penting untuk menciptakan kesinambungan nilai antara lingkungan madrasah, keluarga, dan masyarakat. Dengan dukungan kolektif, kurikulum berbasis cinta memiliki peluang lebih besar untuk berkelanjutan dan berdampak luas. Secara keseluruhan, tantangan dalam implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang menunjukkan bahwa transformasi pendidikan menuju paradigma Islam humanis merupakan proses yang kompleks dan berkelanjutan. Namun demikian, melalui berbagai upaya penguatan yang bersifat struktural, kultural, dan pedagogis, kurikulum berbasis cinta memiliki potensi besar untuk menjadi model pendidikan Islam yang relevan dengan isu-isu kontemporer. Pendekatan ini menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak hanya bertugas mencetak individu yang cerdas, tetapi juga manusia yang berempati, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi bagi kemanusiaan. AU KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang telah berjalan secara sistematis dan kontekstual melalui tiga tahap utama yaitu perencanaan, yang berorientasi pada integrasi nilai-nilai kasih sayang . , empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia dalam seluruh dokumen kurikulum. Pelaksanaan, yang mengedepankan pendekatan pembelajaran dialogis, reflektif, dan humanis, di mana guru berperan sebagai fasilitator spiritual dan pembimbing moral. Serta evaluasi dan pembudayaan nilai, yang dilakukan secara holistik mencakup ranah kognitif, afektif, dan spiritual. Madrasah juga membangun budaya cinta melalui kegiatan sosial, religius, dan kebersamaan. Penerapan nilai cinta dalam pendidikan di MAN 1 Serang terbukti mampu memperkuat dimensi afektif dan spiritual peserta didik. Pembelajaran tidak lagi terjebak pada transfer pengetahuan semata, tetapi juga menumbuhkan kesadaran moral dan empati sosial. Paradigma pendidikan Islam humanis terefleksikan secara nyata dalam praktik pendidikan di madrasah ini. Hubungan antara guru dan peserta didik dibangun atas dasar kasih sayang, penghargaan terhadap perbedaan, dan partisipasi Hal ini sejalan dengan prinsip rahmatan lil Aoalamin, di mana pendidikan berfungsi sebagai sarana penyebaran cinta dan kedamaian universal. Kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang menjadi salah satu bentuk rekonstruksi terhadap paradigma pendidikan Islam kontemporer, yang sebelumnya cenderung rasionalistik dan kompetitif. Melalui pendekatan berbasis cinta, pendidikan Islam kembali pada esensi spiritualnya: membentuk insan kamil yang berilmu, berakhlak, dan berkasih saying. Meskipun demikian, tantangan implementasi masih terdapat pada aspek internal, seperti pemahaman guru baru yang belum seragam, serta aspek eksternal seperti tekanan sistem penilaian nasional yang masih berorientasi akademik. Namun, madrasah terus melakukan pembinaan dan refleksi kelembagaan untuk memperkuat nilai-nilai cinta dalam seluruh sistem Secara keseluruhan, implementasi kurikulum berbasis cinta di MAN 1 Serang menunjukkan bahwa pendidikan Islam yang berlandaskan cinta bukan utopia, tetapi praksis yang dapat diaktualisasikan. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa cinta dapat menjadi dasar epistemologis, aksiologis, dan pedagogis yang menumbuhkan kemanusiaan dan spiritualitas dalam pendidikan modern. KENDALI: Economics and Social Humanities E-ISSN 2962 5459. Volume 4 Number 2, 2025 DOI: https://doi. org/10. 58738/kendali. REFERENSI