Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan 2025. Tersedia di w. jk-risk. Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang e-ISSN: 2809-0039 p-ISSN: 2809-2678 Artikel Penelitian Analisa Trombositosis. Leukositosis dan Kombinasi TrombositosisLeukositosis terhadap Hasil RECIST 1. Progression Free Survival dan Stadium pada Pasien Karsinoma Paru Bukan Sel Kecil yang mendapatkan Kemoterapi The Analysis of Thrombocytosis. Leukocytosis. Combination of Thrombocytosis and Leukocytosis to The Result of RECIST 1. Progression Free Survival. Stadium of Non Small Cell Lung Cancer Patients who Received Chemotherapy Hendri Wiyono1. Ungky Agus Setyawan2. Suryanti Dwi Pratiwi2 RSUD Kanjuruhan Departemen Patologi Anatomik. Fakultas Kedokteran. Universitas Brawijaya - RSUD Dr. Saiful Anwar Malang. Indonesia Diterima 7 September 2024. direvisi 20 Januari 2025. publikasi 31 Oktober 2025 INFORMASI ARTIKEL Penulis Koresponding: Ungky Agus Setyawan. Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas BrawijayaRSUD Dr Saiful Anwar Malang. Jalan Jaksa Agung Suprapto No. Malang 65112. Jawa Timur Ae Indonesia Email: dr_ungky_paru@ub. ABSTRAK Latar Belakang: Kanker paru merupakan penyakit keganasan terbanyak yang menyebabkan mortalitas dan morbiditas tertinggi. Salah satu pilihan terapi kanker paru stadium lanjut dengan kemoterapi dan dievaluasi menggunakan Response Evaluation Criteria in Solid Tumours (RECIST) 1. Kondisi trombositosis dan atau leukositosis pada kanker paru, secara teoritis menunjukkan kondisi penyakit yang Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis apakah trombositosis dan atau leukositosis dapat menjadi faktor prognostik dibandingkan dengan RECIST. Progression Free Survival (PFS) dan stadium kanker paru. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional analitik retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien kanker paru yang mendapatkan kemoterapi RS Saiful Anwar tahun 2018-2021, diolah dengan uji Chi square. Mann-Whitney, dan Fisher Exact. Hasil: Hasil Chi square trombositosis dan leukositosis terhadap hasil RECIST pertama adalah AA. =59,659. p=0,000 dan AA. = 5,707: p=0,017. Median PFS 5,66 bulan dengan hasil AA. =51. 776: p=0,000. AA. =4. 259: p=0. Kondisi progresivitas dengan hasil AA. =15. 171: p=0. AA. =2. 226: p=0. Sedangkan stadium kanker berdasrkan uji Mann-Whitney 1145. Z= -1. 026: p=0. 305 dan 1040. 393: p=0. Kesimpulan: Terdapat signifikansi secara statistik antara trombositosis atau leukositosis terhadap hasil RECIST 1. 1 pertama, median PFS 5,66 bulan, tetapi tidak ada pengaruhnya terhadap stadium kanker paru. Trombositosis dan atau leukositosis dapat menjadi faktor prognosis akibat kemoterapi. Kata Kunci: KPKBSK. Trombositosis. Leukositosis. RECIST. PFS. ABSTRACT Background: Lung cancer is the most common malignancies that lead to highest mortality and morbidity. Advanced lung cancer is treated with chemotherapy and the evaluation is using RECIST. Thrombocytosis and or leukocytosis in lung cancer, theoritically stand with bad condition. The aim of this study is to analyse whether thrombocytosis and or leukocytosis can be a prognostic factor compare to the result of RECIST,Progression Free Survival and the stadium of lung cancer. Method: This study uses retrospective analytic cross-sectional design. Data were taken from medical record at Saiful Anwar Hospital,2018-2021,processed with Chi square,Mann-Whitney, and Fisher Exact test. Result:The result of Chi square Thrombocytosis and Leukocytosis to the first result of RECIST are AA. =59,659. p=0,000 and AA. = 5,707:p=0,017. To the median PFS 5,66 months the test are AA. =51,776:p=0,000. AA. =4,259:p=0,039. To the state of progression, the test are AA . =15,171:p=0,000. AA. =2,226:p=0,329. To stadium. MannWhitney test are:1145,00. Z= -1,026:p=0,305 and 1040,500. Z= -1,393:p=0,164. Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD. Analisa Trombositosis. Leukositosis dan Kombinasi Trombositosis-Leukositosis terhadap Hasil RECIST 1. Progression Free Survival dan Stadium pada Pasien Karsinoma Paru Bukan Sel Kecil yang mendapatkan Kemoterapi. JK-RISK. :3-14. DOI:10. 11594/jk-risk. Analisa Trombositosis. Leukositosis dan Kombinasi Trombositosis-Leukositosis terhadap Hasil RECIST 1. Progression Free Survival dan Stadium pada Pasien Karsinoma Paru Bukan Sel Kecil yang mendapatkan Kemoterapi Conclusion: There is statistically significance between thrombocytosis or leukocytosis to the first result of RECIST,median PFS 5,66 months. No significance to the stadium of lung cancer. Thrombocytosis and or leukocytosis can be a prognostic factor for result of chemoteraphy. Keywords: NSCLC. Trombocytosis. Leucositosis. RECIST. PFS. PENDAHULUAN Kanker paru merupakan keganasan pada epitel saluran napas dan merupakan salah satu kanker yang sering ditemukan yang banyak menyebabkan kematian. Berdasarkan data profil kanker menurut WHO pada tahun 2020, kanker paru di Indonesia menduduki urutan ketiga kasus baru dari seluruh kanker yaitu 8,8%, sedangkan untuk kasus kematian akibat kanker menduduki peringkat pertama sekitar 13,2%. Seperti halnya kanker lain, penyebab pasti kanker paru belum diketahui dengan jelas. Namun, faktor risiko terjadinya kanker paru saat ini sudah diketahui dan harus menjadi perhatian pada saat menegakkan diagnosa kanker paru, dan merokok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker paru. Faktor genetik dan faktor lingkungan juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya dan perkembangan kanker paru. Menurut klasifikasi WHO, kanker paru dibagi menjadi dua golongan besar yaitu. Karsinoma Paru Bukan Sel Kecil (KPKBSK) dan Karsinoma Paru Sel Kecil (KPKSK). KPKBSK menyumbang sekitar 85% dari keseluruhan kanker paru, sedangkan untuk KPKSK hanya menyumbang . Di antara pasien dengan KPKBSK, lebih dari 65% stadium lanjut. Sayangnya, kurang dari 15% pasien dengan kanker paru dapat bertahan lebih dari lima tahun. Kemoterapi merupakan salah satu modalitas terapi kanker paru yang banyak digunakan saat ini. Ae. Kemoterapi kanker paru menggunakan kombinasi obat berbasis Pemberian kemoterapi perlu dilakukan evaluasi, baik efek samping yang ditimbulkan dan evaluasi keberhasilan kemoterapi secara obyektive. Response Evaluation Criteria in Solid Tumors 1. 1 (RECIST 1. ditujukan untuk menilai respons keberhasilan terapi sistemik, termasuk respon keberhasilan kemoterapi. RECIST dilakukan setelah pemberian kemoterapi dua siklus dengan pemeriksaan fisik dan foto toraks. RECIST dilakukan pada siklus ketiga dengan pemeriksaan fisik dan CT-scan toraks dengan kontras. Selama perjalanan penyakit kanker paru, dapat terjadi sindrom paraneoplastik. Salah satu manifestasi sindrom paraneoplastik yang sering terjadi yaitu peningkatan nilai leukosit . dan peningkatan nilai trombosit . Leukositosis terjadi umumnya pada kanker paru stadium lanjut. Trombositosis berperan penting dalam kejadian sindrom hiperkoagulasi pada kanker paru. Leukositosis dan trombositosis sebelum kemoterapi dapat digunakan sebagai prediktor keberhasilan kemoterapi. ,13Ae. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin mengetahui lebih jauh, apakah leukositosis dan atau trombositosis sebelum kemoterapi dapat digunakan sebagai prediktor keberhasilan kemoterapi kanker paru yang dinyatakan dalam RECIST 1. 1 dan juga ingin mengetahui lebih dalam, apakah leukositosis dan atau trombositosis berhubungan dengan keberhasilan kemoterapi yang dinyatakan dalam RECIST 1. 1 dan dipengaruhi oleh stadium kanker paru. Penelitian ini juga ingin menganalisa hubungan leukositosis dan atau trombositosis dengan Progression Free Survival (PFS). METODE Penelitian ini berupa penelitian analitik cross-sectional restrospektif. Data yang diambil merupakan data rekam medis pasien kanker paru KPKBSK wild type yang mendapatkan kemoterapi platinum base pada Januari 2018-Desember 2021 di RSUD JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD Dr. Saiful Anwar Malang. Memenuhi kriteria inklusi seperti tidak demam dalam 7 hari sebelum kemoterapi diberikan, tidak mendapatkan steroid sistemik dalam 14 hari sebelum kemoterapi diberikan. Data kanker paru yang diambil meliputi data klinis, histologis, demografis, dan terapi kanker paru yang digunakan. Data kemudian dikumpulkan melalui google form dan dianalisis dengan SPSS. Penelitian ini telah lulus etik oleh Komisi Etik RSUD dr. Saiful Anwar (No. Etik 400/084/K. 3/102. 7/2. Definisi operasional dikatakan leukositosis bila sel darah putih dengan jumlah > 11. 000/mmA dan trombositosis bila sel trombosit dengan jumlah > 450000/mmA. Response Evaluation Criteria In Solid Tumor adalah sekelompok kuesioner untuk menilai evaluasi hasil terapi sistemik pada solid tumor dalam hal ini kanker paru. RECIST yang dilakukan sesudah dilakukan kemoterapi minimal tiga siklus. Progression Free Survival (PFS) adalah seberapa banyak waktu yang didapatkan dari seseorang mulai mendapatkan kemoterapi sampai terjadi tumor progresif atau ada event kematian selama pengobatan kemoterap. Karakteristik pasien dapat dilihat pada tabel dan grafik berikut ini berikut. Tabel 1. Data Deskripsi Pasien Kanker Paru Parameter N (%) Jenis Kelamin A Laki-laki 31 . A Perempuan Umur A 20-40 tahun 72 . A 41-60 tahun 30 . A 61-80 tahun Hasil Patologi Anatomi 97 . A Adeno Carcinoma A Squamos Cell Carcinoma A Large Cell Carcinoma Stadium A i A 10 . A i B A i C A IV A A IV B Cara mendapatkan bahan Patologi Anatomi 15 . A Biopsi/Histopatologi 93 . A Sitologi Regimen Chemotherapy 24 . A Carboplatin-Gemsitabin A Cisplatin-Gemsitabin A Carboplatin-Paklitaksel A Carboplatin-Pemetreksed 1 . A Carboplatin-Vinorelbin A Cisplatin-Vinorelbin HASIL Terdapat 108 pasien KPKBSK dengan mutasi EGFR Wild Type yang memenuhi kriteria Grafik 1. Bahan Sitologi-Histopatologi didapatkan Vertebrae Kelenjar Supraklavicula Kelenjar Leher Series1 Nodul Kontralateral Series2 15,70% 21,30% 0,93% Kelenjar Leher Efusi Pleura Kelenjar Supraklavicula 15,70% Tulang Tumor Vertebrae 0,93% 44,40% 0,93% JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 Analisa Trombositosis. Leukositosis dan Kombinasi Trombositosis-Leukositosis terhadap Hasil RECIST 1. Progression Free Survival dan Stadium pada Pasien Karsinoma Paru Bukan Sel Kecil yang mendapatkan Kemoterapi Grafik 3. Cara Mendapatkan SitologiHistopatologi Grafik 2. Jenis Bahan Patologi Anatomi 86,10% 100,00% 80,00% 60,00% 40,00% 13,80% 20,00% 0,00% Histopatologi Sitologi TTNA FNAB Sitologi Efusi Pleura FOB Core Biopsi Grafik 4. Denominator Stadium KPKBSK 7,40% 1,90% 19,50% 7,40% 1,90% 3,70%4 15,70% 14,80% 23,10% 3,70%4 0,93% Metastase Vertebrae Ukuran Tumor Kelenjar Suprarenalis Nodul Kontralateral Efusi Pleura Atelektasis Gambar 1. Diagram Venn Pasien Trombositosis dan Leukositosis Tabel 2. Data Deskriptif Median KPKBSK Median Umur 54,981 tahun Leukosit 10385,75/mmA Trombosit 78/mmA PFS 5,66 bulan (Min Ae Ma. 8 Ae 33. /mmA . 000 Ae 789. /mmA . ,5 Ae 13,. bulan Pada penelitian ini dilakukan uji statistik , dan didapatkan hasil disarikan dalam table berikut ini: Tabel 3. Tabel Uji Statistik Variabel Bebas A Trombositosis A Tidak Trombositosis A A A A Trombositosis Tidak Trombositosis Trombositosis Tidak Trombositosis A Leukositosis A Tidak Leukositosis A Leukositosis A Tidak Leukositosis Variabel Terikat A Hasil RECIST Pertama Progresif A Hasil RECIST Pertama Tidak Progresif A Median PFS <5,66 bulan A Median PFS >5,66 bulan Keterangan Progresivitas: A Kasus Kematian A Lesi Baru A Ukuran bertambah A Hasil RECIST pertama Progresif A Hasil RECIST pertama tidak progresif A Median PFS <5,66 bulan A Median PFS >5,66 bulan Uji Statistik Chi square, hasil: AA . =59,659 . Chi square, hasil: AA . =51,776. 0,000 Chi Square for Trend, hasil: AA . =15,171 . 0,001 Chi square, hasil: AA . =5,707 . 0,017 0,017 Chi square, hasil: AA . = 4,259 . 0,039 0,039 JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD Variabel Bebas A Leukositosis A Tidak Leukositosis A Trombositosis dan Leukositosis A Bukan (Trombositosis dan Leukositosi. A Trombositosis dan Leukositosis A Bukan (Trombositosis dan Leukositosi. A Trombositosis dan Leukositosis A Bukan (Trombositosis dan Leukositosi. A Trombositosis dan Leukositosis A Bukan (Trombositosis dan Leukositosi. A Trombositosis A Tidak Trombositosis A Leukositosis A Tidak Leukositosis A Trombositosis dan Leukositosis A Bukan (Trombositosis dan Leukositosis Keterangan: Variabel Terikat Keterangan Progresivitas: A Kasus Kematian A Lesi Baru A Ukuran bertambah A Hasil RECIST Pertama Progresif A Hasil RECIST Pertama Tidak Progresif Uji Statistik Chi Square for Trend, hasil: AA . =2,226 . 0,329 0,329 A Median PFS <5,66 bulan A Median PFS >5,66 bulan Chi Square tidak memenuhi AA . =17,477 . 0,000Ao Digunakan Uji statistik alternatif dengan Fisher Exact Test, didapatkan p= 0,000 Chi Square, hasil: AA . =13,441 . 0,000 A Median PFS <4,62 bulan A Median PFS >4,62 bulan Chi Square, hasil: AA . =18,886 . 0,000 Keterangan Progresivitas: A Kasus Kematian A Lesi Baru A Ukuran bertambah Chi Square for Trend, tidak memenuhi syarat, hasil: AA . =5,286 . 0,71 Dilakukan Uji Statistik Alternatif dengan Mann-Whitney Tes: Z:-2,271. p:0,023 Chi Square for Trend, tidak memenuhi syarat, hasil: AA . =1,804 . 0,772 Dilakukan Uji Statistik Alternatif dengan Mann-Whitney Tes: 1145,00 . Z:-1,026 . p = 0,305 Chi Square for Trend, tidak memenuhi syarat, hasil: AA . =3,889 . 0,450 Dilakukan Uji Statistik Alternatif dengan Mann-Whitney Tes: 1040,500 . Z:-1,393 . p = 0,164 Chi Square for Trend, tidak memenuhi syarat, hasil: AA . =1,975 . 0,740 Dilakukan Uji Statistik Alternatif dengan Mann-Whitney Tes: 610,500. Z:--513 . p = 0,608 Stadium: A i A A i B A i C A IV A A IV B Stadium: A i A A i B A i C A IV A A IV B Stadium: A i A A i B A i C A IV A A IV B 0,000 0,000 0,023 0,305 0,164 0,608 Dengan p< 0,05 : signifikans PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan metode analitik cross-sectional retrospective yang dilakukan di RSUD dr. Saiful Anwar Malang, pada bulan Agustus-Oktober 2022 dengan memilah data pasien KPKBSK. Wild-type tahun 2018-2021. Sampel diambil dengan kriteria inklusi dengan teknik pengambilan total sampling. Didapatkan 108 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. 0,000 Rerata usia pasien adalah 54,981 tahun (KI 95%. Pada penelitian secara nasional menunjukkan rerata usia pasien KPKBSK adalah 58 tahun. Sementara menurut Gobocan . , rerata pasien KPKBSK 68 tahun. Temuan rerata usia pasien, pada penelitian ini mendukung bahwa panduan proses screening pasien kanker paru di Indonesia harus dilakukan 10 tahun lebih muda dibandingkan dengan JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD panduan screening pasien Kanker Paru secara Internasional- WHO. Jenis kelamin pasien pada penelitian ini juga menunjukkan 77 pasien laki-laki . ,3%) dan 31 pasien perempuan . ,7%). Sesuai dengan data Globocan 2020, jumlah pasien laki-laki masih lebih banyak terdiagnosa KPKBSK. Penegakan diagnosa jenis kanker paru pada penelitian ini, didapatkan dengan melakukan tindakan pengambilan contoh jaringan kanker. Terdapat 15 pasien ditegakkan dengan sediaan histopatologis . ,8%) dan 93 pasien . ,1%) dengan sediaan sitologi. Ini juga sesuai dengan kenyataan di lapangan, bahwa penegakan diagnosa kanker paru lebih banyak dengan sediaan sitologi. Tempat atau bahan pengambilan contoh jaringan kanker terbanyak dilakukan pada tumor paru itu sendiri . rimary sit. pada 48 pasien . ,4%), kelenjar leher 17 pasien . ,7%), sitologi efusi pleura 23 pasien . ,3%), kelenjar supraklavikula 17 pasien . ,7%). Metode yang dilakukan untuk mendapatkan contoh jaringan adalah dengan Transthorakal Needle Aspirasi pada 34 pasien . ,5%). Aspriasi jarum halus/ Fine Neddle Aspiration Biospy (FNAB) 28 pasien . ,9%). Sitologi efusi pleura 23 pasien . ,3%). Fiberoptik Broncoscopy . iopsi, washing, sitolog. pada 20 pasien . ,5%), dan core biopsi pada 3 pasien . ,8%). Tentu, medtode yang digunakan disesuaikan dengan kemudahan untuk mendapatkan akses jaringan, akses ketersediaan alat dan keahlian. Diagnosa jenis KPKBSK meliputi Adenocarcinoma pada 97 pasien . ,8%). Squamous cell carcinoma 10 pasien . ,3%) dan 1 pasien Large cell carcinoma . ,9%). Satu pasien Large cell carcinoma tersebut, jika menggunakan kriteria eklusi menggunakan pemeriksaan imunhistokomia, dimana pada pasien ini didapatkan pemeriksaan synaptophysin negatip, chromogranin negatip dan p40 negatip dengan gambaran sitologi sesuai Large cell carcinoma. Sesuai dengan referensi, didapatkan jenis adenocarcinoma lebih banyak dibandingkan squamous cell Stadium KPKBSK pada penelitian ini, terbanyak pada stadium IV-A . pasien, 64,9%), berikut IV-B . pasien, 20. 4%), iC . pasien, 0,9%), i-B . pasien, 9,3%), dan i-A . pasien, 4,8%). Penelitian kali ini juga menunjukkan kesesuai dengan data GLOBOCAN, bahwa sebagian besar pasien terdiagnosa kaker paru sudah pada stadium Denominator stadium kanker paru pada penelitian ini adalah efusi pleura . 23,1%), metastase hepar . 14,8%), ukuran kanker . 19,5%), penyebaran pada sisi kontralateral . 15,7%), penyebaran ke tulang belakang . pasien, 7,4%), penyebaran tulang costae . pasien, 7,4%) ,perbesaran kelenjar leher . pasien, 3,7%), perbesaran kelenjar supraclavicula . pasien, 3,7%), sindrom vena kava superior . pasien, 1,9%), penyebaran ke kelenjar suprarenalis 2 pasien . ,9%) dan atelektasis . pasien, 0,93%). Pola denominator stadium seperti tergambar dapat dipahami, karena dengan tampilan denominator seperti efusi pleura memberikan gejala sesak, metastase liver memberikan gejala nyeri atau sensasi tidak nyaman pada area hypokondrium kanan, ukuran tumor yang besar memberikan gejala batuk dan sesak, perbesaran kelenjar leher dan supraclavicula bisa merubah tampilan yang bisa memicu pasien untuk mengakses fasilitas kesehatan. Terapi menggunakan kemoterapi. Pada stadium iA, terdapat 5 pasien . ,8%) dengan keterlibatan N2 atau kelenjar limfe mediastinum, sehingga juga dilakukan kemoterapi. Regimen kemoterapi terbanyak yang digunakan adalah Carboplatin-Pemetreksed 44 pasien . ,7%). Carboplatin-Paklitasel 36 pasien . ,3%). Carboplatin-Gemsitabin 24 pasien . ,2%). Cisplatin-Gemsitabin 1 pasien . ,9%). Carboplatin-Vinorelbin 1 pasien . ,9%). Cisplatin-Vinorelbin 1 pasien . ,9%). Pola pemberian regimen kemoterapi disesuaikan dengan jenis sel KPKBSK terbanyak yaitu adenokarsinoma dimana untuk jenis skuamous sel carcinoma tidak dapat diberikan regimen pemetreksed dan pemberian regimen kemoterapi memperhatikan resiko sosial kemoterapi serta kerlibatan sistem penjaminan kesehatan sosial yang berlaku. Sebelum kemoterapi diberikan, dilakukan JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD persyaratan dilakukan kemoterapi. Data trombosit didapatkan dari nilai trombosit pemeriksaan laboratorium darah lengkap sesaat sebelum pertama kali dilakukan kemoterapi. Median trombosit adalah 380014,78/mmA . 000-789000/mmA). Data trombosit digolongkan trombositosis jika nilai trombosit >450000/mmA. Data leukosit darah didapatkan dari nilai leukosit absolut pemeriksaan laboratorium darah lengkap sesaat sebelum kemoterapi pertama kali dilakukan. Median leukosit didapatkan 10385,75/mmA . 8 Ae 33400/mmA). Data leukosit digolongkan leukositosis jika nilai leukosit >11000/mmA. Sesudah kemoterapi dilakukan evaluasi dengan menggunakan RECIST. RECIST pertama dilakukan sesudah tiga siklus pemberian kemoterapi. RECIST pertama dapat memberikan hasil progresif atau nonprogresif . artial respon, stable diseas. dan kasus kematian sesudah kemoterapi. Progresion Free survival pada peneilitian ini ditentukan sebagai waktu acak dari dimulainya kemoterapi sampai terjadinya objektif progresif atau kematian karena sebab apapun mana yang terjadi terlebih dulu. Penelitian ini menggunakan PFS, daripada Time To Progression (TTP), karena dalam perhitungan PFS menyertakan kasus kematian sesudah kemoterapi karena sebab apapun dan ini lebih mencerminkan Overall Survival (OS) sebagai golden endpoint berbagai penelitian onkologi. Namun, dibandingkan dengan OS. PFS lebih dipilih karena memiliki rentang waktu yang lebih pendek dalam penggunaannya. Progression Free Survival meliputi lamanya waktu selama dan setelah pengobatan . penyakit, bahwa pasien masih hidup dengan penyakitnya, tetapi tidak dalam keadaan progresif. Redaksionalnya adalah pasien tetap hidup, penyakitnya tidak progresif dan sesudah pengobatan . Kasus kematian sesudah kemoterapi adalah hal yang jelas, meski beberapa pendapat mempermasalahkan penyebab kematian, apakah karena kanker, pengobatan kemoterapi atau sebab lain. Referensi banyak menyatakan, tanpa memandang penyebab kematian, asalkan terdiagnosa kemoterapi dapat dimasukkan ke dalam perhitungan menentukan waktu PFS. Progresivitas merupakan perdebatan yang panjang tentang apakah progresivitas itu sendiri, kapan dinyatakan progresif. Dancey dkk . mengidentifikasi ada empat kriteria progresif, yaitu. lesi baru pada pembacaan CT-toraks, . penambahan ukuran lesi pada pembacaan CT-toraks, . penambahan jumlah lesi target, dan . perburukan gejala nonradiologis. Jadi, menurut Dancey dkk, ada tiga kritreia radiologis dan satu kriteria nonradiologis dengan menggunakan gejala. Pada penelitian ini, tidak dipakai gejala sebagai kriteria progresif karena subjektivitas yang besar dan rekam data sekunder tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya dalam monitoring gejala Cleeland, dkk . , menggunakan gejala dan menggunakan kriteria nonradiologis sebagai endpoint penelitian untuk menentukan progresivitas. Cleeland, dkk . , membakukan gejala dengan Assesing the Symptons of Cancer Using Pasien Reported Outcome (ASCPRO), dan hasinya masih dibutuhkan penelitian lanjutan dengan kombinasi radiologis untuk hasil yang lebih baik. Untuk itu, pada penelitian kali ini, digunakan kriteria progresif berdasarkan radiologis dengan RECIST 1. 1 dan kasus kematian sesudah kemoterapi sebagai dasar menentukan progresifitas penyakit. Pada penelitian ini, didapatkan kriteria progresif sebagai berikut: lesi baru pada 25 pasien . ,14%), ukuran lesi target bertambah >20% sesuai kriteria RECIST pada 59 pasien . ,63%) dan kasus kematian sesudah mendapatkan kemoterapi pada 24 pasien . ,22%). Penentukan progresifitas berdasarkan kriteria radiologis sesuai RECIST dapat memberikan bias. Gutman, dkk, . , seperti bias assesment, yaitu waktu tepatnya terjadinya progresif tidak diketahui secara tepat. Gutman, dkk menyatakan progresifitas berdasarkan kriteria radiologis sudah terjadi pada satu titik antara evaluasi terakhir dan saat ditetapkan progresif oleh pembacaan radiologis. Freidlin, dkk . menyarankan penggunakan tanggal tengah waktu antara CT toraks dasar (CT toraks baselin. dengan tanggal CT toraks yang menyatakan progresif. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD Panageas dkk . menyatakan penentuan progresif pada saat CT toraks menyatakan hasil progresif sebenarnya sudah terjadi keadaan progresif sebelumnya, namun penentuan progresif berdasarkan tanggal dimana pencitraan . menyatakan hasil progresif adalah hal yang lebih mudah, lebih operator-depent, lebih objektif asalkan dilakukan secara teratur, terjadwal ketat. Penelitian kali ini menggunakan tanggal dimana CT toraks menyatakan progresif sesuai kriteria RECIST 1. 1 sebagai acuan, berdasarkan kemudahan, keteraturan jadwal dan lebih operator peneliti-depent. Bias evaluator juga bisa terjadi pada penggunakan kriteria radiologis sebagai penentu progresifitas. Maka penggunaan RECIST sebagai sarana membakukan adalah tindakan yang paling reliable saat ini dan tentunya dengan penggunaan data sekunder sebagai dasar, mengakibatkan dokter radiologi tidak mengetahui penelitian ini, sehingga subjektivitas dokter radiologi dalam penggunaan RECIST dapat diminimalkan. Pada penelitian ini, didapatkan median PFS 5,66 bulan (IK:95%. 0,5Ae 17,. Penelitian yang dilakukan oleh Kaneda, dkk . , mendapatkan median PFS 4,62 bulan (IK: 95%. 4,0 Ae 5,. pada pasien KPKBSK yang mendapat terapi cisplatinpemetreksed. Sementara, penelitian oleh Zhou, dkk . , mendapatkan median PFS sebesar 5,3 bulan (IK:95%. 2,2 Ae 8,. pada pasien yang mendapat terapi carboplatinpemetreksed. Dalam kaitan dengan trombositosis dan leukositosis dengan progresivitas, baik hasil RECIST pertama dan RECIST hasil progresif serta PFS, sesuai tujuan penelitian ini, dilakukan uji statisik. Terdapat 35 pasien . ,4%) dengan keadaan trombositosis. Sementara Deyan . mencatat sebanyak 22,3% . pasien dalam penelitiannya yang dalam keadaan trombositosis sebelum kemoterapi pertama dilakukan. Uji statistik untuk menganalisa trombositosis dengan hasil RECIST pertama dilakukan dengan uji chi square, dan didapatkan hasil AA . =59,659. <0,05. Ini berarti, pada pasien dengan keadaan trombositosis sesaat sebelum kemoterapi pertama dilakukan berkolerasi signifikan dengan hasil RECIST pertama hasil Progresif. Berarti pada pasien dengan keadaan trombositosis sebelum kemoterapi pertama dilakukan secara statistik signifikans hasil RECIST pertama akan Progresif dibandingkan dengan pasien dengan nilai trombosit normal. Uji chi square juga dilakukan untuk menganalisa keadaan trombositosis dengan median Progresion Free Survival 5,66 bulan, dengan hasil AA . =5,707 . 0,017 . <0,. Ini menunjukkan bahwa pasien dengan keadaan trombosistosis sesaat sebelum kemoterapi pertama dilakukan memiliki median PFS lebih pendek dibandingkan dengan kelompok pasien dengan nilai trombosit normal dan secara statistik siginifkan Uji Chi Square for trend dilakukan lebih jauh untuk menganalisa, apakah trombositosis berhubungan dengan keadaan progresif yaitu adanya kasus kematian sesudah kemoterapi, timbulnya lesi baru dan pertambahan ukuran tumor. Hasilnya AA . =15,171. 0,001 . engan p <0,. Ini menunjukkan juga bahwa trombositosis berkorelasi dengan kasus kematian sesudah kemoterapi, timbulnya lesi baru dan pertambahan ukuran tumor. Trombositosis dan aktivasi sistem koagulasi sering terjadi pada berbagai keganasan termasuk kanker paru. Mekanisme pasti belum jelas, namun diduga sel kanker mensekresi faktor humoral pemicu trombositosis. Pada penelitian ini, trombositosis berkorelasi dengan hasil RECIST pertama Penelitian ini juga secara statistik signifikan menunjukkan pasien dalam keadaan trombositosis memiliki median PFS yang lebih pendek. Kyung, dkk . , juga mendapatkan hasil penelitian yang sama. Kyung dkk, melakukan penelitian dengan menganalisa trombositosis, kadar interleukin-6 (IL-. dan kadar fibrinogen pada pasien kanker paru dengan ketahanan . pasien dengan uji Kaplan Meiyer. Hasilnya, pada pasien dengan trombositosis dengan peningkatan IL-6 dan peningkatan kadar fibrinogen, maka pasien kanker paru memiliki kesintasan lebih pendek. IL-6 diduga adalah senyawa yang disekresikan oleh sel kanker dan IL-6 akan memecah megakaryosite sehingga terjadi trombositosis. Chen YQ, dkk . juga menyatakan, trombositosis merupakan awal terjadinya JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 10 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD proses metastasis. Namun, penelitian kali ini, menunjukkan tidak ada hubungan antara pasien dalam keadaan trombositosis dengan tingkat stadium pasien. Temuan sama dalam analisa trombositosis dan tingkat stadium KPKBSK juga dinyatakan oleh Kyung, dkk . Sindrom paraneoplastik merupakan gangguan yang terjadi pada pasien kanker dan tidak secara langsung terkait dengan invasi atau metastasis tumor. Pada kanker paru, leukositosis dan trombosis paraneoplastik merupakan manifestasi yang menonjol. Leukositosis paraneoplastik ditandai dengan peningkatan jumlah sel darah putih akibat produksi sitokin oleh tumor, terutama granulocyte colony-stimulating factor (G-CSF). Kondisi ini berhubungan dengan prognosis yang buruk dan dapat disalahartikan sebagai infeksi atau malignansi hematologi. Deyan dkk . , melakukan penelitian dengan pengambilan nilai trombosit sebelum kemoterapi dilakukan pada karsinoma paru bukan sel kecil dengan stadium i B dan IV dan yang mendapatkan kemoterapi lini pertama platinum based pada 347 populasi. Dilakukan uji kesintasan, dan didapatkan OS lebih pendek pada pasien dengan trombositosis dibandingkan kelompok nontrombositosis . ,4 bulan versus 9,6 bula. Penelitian ini, dibandingkan dengan penelitian lain dengan metode uji statistik yang berbeda dengan objek pembanding berbeda memberikan hasil yang relatif sama, yaitu trombositosis berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk. Bukti prognosis bisa berupa hasil RECIST, median PFS atau angka kesintasan. Pada penelitian ini, ditemukan 32 pasien . ,6%) pasien dalam keadaan leukositosis sesaat sebelum kemoterapi pertama dilakukan. Penelitan oleh Ikuma, dkk . , mendapatkan pasien 33 orang dari 227 pasien . ,5%) dalam keadaan leukositosis sebelum dilakukan kemoterapi . Boddu. Vilines,dkk . dalam analisa paraneoplastik leukositosis dan paraneoplastik trombositosis sebagai prognostik biomarker KPKBSK, didapatkan 66 pasien . ,5%) dari 571 dalam keadaan leukositosis, trombositosis atau keduanya. Lebih jauh lagi. Boddu, dkk mendapatkan pasien dalam keadaan leukositosis, trombositosis atau keduanya tersebut, 10,5% . pasien dari 571 oran. berada pada stadium i dan IV, seperti pada penelitian ini. Uji statistik untuk menganalisa keadaan leukositosis sesaat sebelum dilakukan kemoterapi pertama juga dilakukan dengan menggunakan uji chi square terhadap hasil RECIST pertama progresif dan memberikan hasil AA . =5,707. 0,017 <0,. Uji statistik ini menunjukkan bahwa pasien dalam keadaan leukositosis sesaat sebelum dilakukan kemoterapi, maka hasil RECIST pertama akan progresif secara statistik signifikan dibandingkan dengan pasien dengan leukosit normal. Analisa keadaan leukositosis juga dilakukan terhadap median PFS 5,66 bulan dengan uji chi square. Didapatkan hasil AA . = 4,259. 0,039 . <0,. Jadi, secara statistik signifikan, pasien dengan keadan leukositosis memiliki median PFS lebih pendek dibandingkan dengan pasien dengan nilai leukosit normal. Namun, terhadap keterangan progresif yaitu kasus kematian sesudah kemoterapi, pertambahan lesi baru, bertambahnya ukuran tumor, uji statistik chi square gagal mencapai signifikansi AA . =2,226. 0,329 >0,. Ini berarti, pasien dengan keadaan leukositosis tidak dapat menunjukkan keadaan progresif seperti kasus kematian sesudah kemoterapi, pertambahan lesi baru, bertambahan ukuran tumor. Keadaan leukositosis pada pasien sesaat sebelum kemoterapi, hanya menunjukkan RECIST pertama akan progresif lebih banyak dibandingkan kelompok kontrol. Leukositosis sering ditemukan pada kanker paru baik pada saat diagnosis maupun akibat terapi yang diberikan. Pada penelitain ini, pasien diambil darah tepi sesaat sebelum kemoterapi pertama dilakukan. Leukositosis yang terjadi dapat merupakan manifestasi infeksi, akibat metastasis pada sumsum tulang atau akibat pemberian steroid. Leukositosis akibat infeksi berhubungan dengan peningkatan marker inflamasi lain, seperti c-reactive protein atau laju endap darah. Leukositosis akibat metastasis sumsum tulang berhubungan dengan stimulasi atau deplesi sel-sel myelohemopoietik lainnya. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 11 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD Leukositosis akibat kanker tidak memberikan gejala panas badan, dan pada penurunan leukosit darah. Penelitian ini memberikan kriteria eklusi seperti bebas panas 7 hari, tidak ada pemakaian antibiotik dan tidak ada pemakaian steroid dalam 7 hari terakhir guna memastikan leukositosis bukan karena infeksi atau sebab lain. Ikuma dkk . , meneliti 277 orang pasien KPKBSK, leukositosis, kadar GCSF, kadar IL-6 dan pengecatan imunhistokimia G-CSF pada sel tumor. Hasil penelitian Ikuma, dkk mengungkapkan pada pasien KPKBSK dengan leukositosis, peningkatan kadar IL-6 dan pengecatan G-CSF pada tumor positip, akan memiliki angka kesintasan yang lebih jelek dibandingkan kelompok kontrol nonleukositosis dan Ikuma berbendapatkan leukositosis dapat digunakan sebagai faktor prognostik pada KPKBSK. Pada penelitian ini, keadaan leukositosis secara statistik ternyata tidak bermakna dalam hubungan dengan keterangan progresif seperti kasus kematian sesudah kemoterapi, lesi baru tumor ataupun pertambahan ukuran tumor. Leukositosis hanya berkorelasi terhadap hasil RECIST progresif Uji statistik terhadap pasien dengan keadaan leukositosis dan trombositosis secara bersama-sama sebelum kemoterapi pertama dilakukan terhadap hasil RECIST pertama, diuji dengan Uji Test exact Fisher, karena uji chi square tidak memenuhi syarat . da nilai kolom expected count >20%). Hasil uji Fisher didapatkan nilai p=0,000 . <0,. Hasil ini menunjukkan bahwa pasien dengan keadaan trombositosis dan leukositosis secara bersamaan sesaat sebelum kemoterapi pertama dilakukan, maka hasil RECIST pertama akan memberikan hasil progresif dibandingkan dengan kelompok pasien yang dalam keadaan leukositosis saja, trombositosis saja atau nilai trombosit dan leukosit normal. Terhadap median PFS 5,66 bulan, dilakukan uji statistik chi square dengan kelompok pasien trombositosis dan leukositosis bersamaan, hasilnya AA . =13,441 . 0,000 . <0,. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa menunjukkan bahwa pasien dengan keadaan trombositosis dan leukositosis secara bersamaan sesaat sebelum kemoterapi pertama dilakukan, maka akan memiliki median PFS yang lebih pendek dibandingkan dengan kelompok pasien yang dalam keadaan leukositosis saja, trombositosis saja atau nilai trombosit dan leukosit Penelitian Kaneda, dkk . memberikan hasil median PFS 4,62 bulan pada pasien KPKBSK yang mendapatkan Bila median PFS 4,62 bulan ini dipakai sebagai pengganti median PFS 5,66 bulan dan dilakukan uji statistik chi square, didapatkan hasil AA . =18,886. 0,000 . <0,. Ini juga menunjukkan menunjukkan bahwa pasien dengan keadaan trombositosis dan leukositosis secara bersamaan sesaat sebelum kemoterapi dilakukan, maka akan memiliki median PFS . ,62 bula. yang lebih pendek dibandingkan dengan kelompok pasien yang dalam keadaan leukositosis saja, trombositosis saja atau nilai trombosit dan leukosit normal. Terhadap keterangan progresif yaitu kasus kematian sesudah kemoterapi, pertambahan lesi baru, bertambahnya ukuran tumor dengan keadaan pasien trombositos dan leukositosis secara bersamaan uji statistik chi square tidak memenuhi syarat karena ada dua kolom dengan nilai expected count >20%, maka dilakukan uji statistik alternatif dengan Mann-Whitney Tes: 434. Z:2,271. p:0,0023 . <0,. Hasil Ini menunjukkan juga bahwa dalam keadaan trombositosis dan leukositosis secara bersamaan, berkorelasi dengan kasus kematian sesudah kemoterapi, timbulnya lesi baru dan pertambahan ukuran tumor. Pada penelitian ini juga dicari analisa pasien keadaan leukositosis dan trombositosis dengan tingkat stadium KPKBSK. Hasil analisa dengan chi square tidak memenuhi syarat, sehingga digunakan uji statistik dengan Mann-Whitney Tes dan untuk analisa trombositosis dengan tingkat stadium: 1145,00. Z:-1,026. p =0,305 . >0,. dan uji statistik untuk analisa leukositosis dengan tingkat stadium dengan Mann-Whitney Tes: 1040,500. Z:-1,393 . p = 0,164 . >0,. Jadi, baik pasien dengan keadan trombositosis atau leukositosis sesaat sebelum kemoterapi dilakukan, secara statistik tidak berkorelasi dengan tingkat stadium KPKBSK. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 12 Wiyono H. Setyawan UA. Pratiwi SD Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini didapatkan beberapa keterbatasan, antara lain jumlah sampel yang kurang seimbang dan memadai karena adanya pandemi COVID-19 sehingga memungkinkan terjadinya bias dan banyak data yang kurang lengkap. Signifikansi hasil yang diperoleh dipengaruhi oleh besar dan sebaran data penelitian. SIMPULAN Trombositosis berhubungan dengan hasil RECIST 1. 1 pertama progresif, median PFS lebih pendek, dan keterangan progresif . asus kematian sesudah kemoterapi, bertambahnya lesi baru, dan bertambahnya ukuran tumo. Leukositosis berhubungan dengan hasil RECIST pertama progresif, median PFS lebih pendek, namun tidak berhubungan dengan keterangan progresif . asus kematian sesudah kemoterapi, bertambahnya lesi baru, dan bertambahnya ukuran tumo. Pasien dengan keadaan leukositosis dan trombosistosis secara bersamaan sesaat sebelum kemoterapi pertama diberikan berhubungan dengan RECIST pertama progresif, median PFS lebih pendek, dan keterangan progresif . asus kematian sesudah kemoterapi, bertambahnya lesi baru, dan bertambahnya ukuran tumo. Trombositosis, leukositosis dan keadaan trombositosis dan leukositosis secara bersamaan sesaat sebelum kemoterapi pertama dilakukan tidak berhubungan dengan tingkat stadium KPKBSK. Saran, perlu dilakukan penelitian leukositosis dan trombositosis dapat dipakai sebagai fakor prognostik untuk hasil RECIST pertama progresif, selain itu leukositosis dan trombositosis dapat dipakai sebagai fakor prognostik untuk median PFS yang lebih Penelitian menggunakan tambahan marker lain . isalnya IL-6 dara. sebagai faktor prognostik pendamping leukosit dan trombosit darah. Terimakasih Terimakasih kepada Tim penelitian ini Diana Yuswanti Putri. Muhammad Vico Rizkita Wisnu Laksana dan yang lainnya yang tidak kami sebutkan satu per satu. DAFTAR PUSTAKA