Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X KEBANGKITAN: PENGHARAPAN PADA KUASA TUHAN (Ayub 14: 1-. Naek Situmorang. Pendahuluan Penulis Kitab Ayub membahas persoalan mengapa orang saleh bisa tertimpa masalah dan sangat menderita dalam hidupnya. Apakah kesalehan dan kesetiaannya kepada Allah tidak diperhitungkan sehinga ia terhindar dari berbagai penderitaan? Bukankah hanya orang fasik saja yang seharusnya dihukum dalam penderitaan itu? Bukankah penderitaan adalah suatu kutukan dan kutukan adalah karena melanggar perintah dan ketetapan Allah. Dengan demikian, penderitaan identik dengan hukuman karena dosa? Situasi seperti inilah yang menjadi gambaran umum dalam Kitab Ayub. Pembahasan teks Ayub 14: 1-14, kita korelasikan dengan deskripsi tersebut agar pesan teks ini dapat masuk secara komprehensif dalam khotbah kita. II. Pembahasan Teks Ayub 14: 1-14 Narasi Ayub 14: 1-14 kita bahas dan tafsirkan secara ayat perayat dengan melihat bagian yang berhubungan dalam satu kesatuan dan tujuan yang sama, demikian: Manusia singkat umurnya . yat 1 dan . Kiranya Allah mengalihkan pandangan dari padanya . yat 3-. Kematian membuat manusia tidak berdaya . yat 7-. Harapan manusia hanya terdapat pada Allah . yat 13-. Uraian . Manusia singkat umurnya . yat 1-. Dalam bagian ini. Penulis kitab Ayub sangat memahami bahwa manusia pada akhirnya akan mati, bahkan umurnya singkat. Singkat dapat kita artikan terbatas, sekejab dan tidak disadari telah tiba waktunya mati. Pemazmur mengatakan bahwa umur manusia 70 tahun dan kalau kuat 80 tahun. Sangat sedikit orang yang dapat melebihi umur yang dikatakan pemazmur tersebut. Umur yang sedemikian menjadi lebih singkat lagi kelihatan berhubungan kesibukan manusia yang telah membuatnya lupa akan waktu, waktu yang sangat cepat berganti. Malam berganti pagi, hari berganti seminggu, semingu berganti sebulan, sebulan berganti setahun, dan tahun berganti tahun dan tak terasa tibalah manusia pada waktu kematiaannya. Kecepatan waktu berlalu tidak dapat kita pungkiri, waktu telah mengubah manusia secara biologis, masa bayi terasa begitu cepat sehingga kita melihat pertumbuhannya pada tahun-tahun berikut telah menjadi kanak-kanak, remaja, dewasa dan selanjutnya menjadi tua. Ayat pertama dimulai dari pernyataan AoManusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnyaAo, ini menyatakan kelahiran secara biologis. Penulis kitab Ayub kemungkinan besar memahami bahwa semua manusia lahir dari perempuan dan tidak ada makhluk yang lain yang melahirkan manusia selain perempuan. Jadi, bagi penulis kitab ini, asal usul manusia sudah sangat jelas dan tidak perlu diperdebatkan. Keberadaan manusia dari rahim perempuan membuat dia mengalami nasib seperti perempuan itu dalam hal keterbatasan umur. Perempuan itu adalah manusia yang singkat umurnya. Perempuan itu bukan makhluk sorga yang hidup abadi Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X sehingga semua yang dilahirkannya juga tidak hidup abadi atau dengan kata lain ia pasti akan mengalami kematian. Perempuan juga dianggap sebagai Aoyang lemahAo dan Aoyang terbatasAo, sehingga penegasan lahir dari perempuan dapat diartikan bahwa manusia itu Aobanyak kelemahanan dan keterbatasannyaAo. Selanjutnya Aopenuh kegelisahanAo mengartikan bahwa manusia itu hidup bersama persoalan Dalam kehidupannya di berbagai bidang, seperti: Kekeluargaan. Pekerjaan. Kemasyarakatan, dan berbagai interaksi lainnya, manusia itu mengalami berbagai gesekan dan konflik yang membuatnya gelisah. Kegelisahan itu sendiri disebabkan bahwa manusia itu bukan makhluk satu dimensi yang dengan mudah diatur dan diarahkan kepada satu tujuan yang sama sehingga terujud syalom. Kegelisahan ini jugalah yang sering membuat manusia tidak sadar akan singkatnya umurnya dan lupa untuk menikmati dan mensyukuri hidup yang diberikan Allah kepadanya. AoSeperti bunga ia berkembang, lalu layuAo, kalimat ini menegaskan betapa singkatnya umur manusia itu. Hari ini kita masih melihatnya berkembang, indah, semerbak harumnya tetapi besok kita tidak melihatnya lagi sebab ia telah layu. AoSeperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahanAo pernyataan ini sama dengan kalimat sebelumnya yang menyatakan singkatnya umur manusia, bahkan seperti bayang-bayang hilang lenyap. Ini gambaran yang lebih mengerikan lagi, sebab kalau bunga layu masih dapat dilihat dan diratapi, tetapi bayangan yang hilang lenyap tak meninggalkan bekas. Begitulah hidup manusia, singkat dan penuh Uraian . Kiranya Allah Mengalihkan Pandangan Dari Padanya . yat 3-. Pada bagian ini, penulis Kitab Ayub menuliskan pandangannya tentang apa yang dikehendakinya untuk dilakukan Allah terhadap manusia yang singkat umurnya. Ia berharap Allah tidak mengadili orang yang hidupnya singkat dan telah mengalami banyak penderitaan seperti Ayub. Ayub orang yang saleh dan jujur. Ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia hidup taat dengan melakukan kehendak Allah sebagaimana Ketetapan dan PeraturanNya (Ayub 1: 1-. Mengapa Allah berpekara dan mengadilinya? AoMasakan Engkau menujukan pandanganMu kepada orang seperti ituAo, ini adalah protes dari penulis kitab Ayub. Dalam kehidupan yang singkat ini, penulis kita ayub memintakan Allah untuk membiarkan saja orang saleh untuk hidup tenang atau Aotidak menggangguAo kehidupan orang yang saleh itu. Mengapa Aomenghadapkannya kepadaMu untuk diadili?Ao Jawabanjawaban terhadap pertanyaan ini terus ditunggu oleh banyak orang. Orang yang hidup masa lampau dan juga orang yang hidup masa kini menantikan jawaban yang tepat dan menenangkan hati atas keadaan seperti ini. AoSiapa yang dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak!Ao. Kebiasaan orang Yahudi dalam berkomunikasi bahwa suatu pertanyaan biasanya dijawab dengan pertanyaan juga. Kalimat tersebut meskipun berbentuk pertanyaan tetapi itu adalah jawaban terhadap pertanyan tentang ayat 2. Penulis kitab Ayub, mengingatkan tentang kekuasaan Allah yang mutlak dan tidak dapat diganggu siapapun dan oleh situasi apapun. Rancangan yang diperbuatNya akan menjadi yang terbaik dari semua jalan pikiran manusia. Manusia Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X hanya perlu menerimanya dan tetap hidup sesuai dengan rancanganNya maka ia akan melihat semuanya akan baik-baik saja. Kalau hanya Allah saja yang sanggup mendatangkan yang tahir dari yang najis maka percayakan sepenuhnya hidup kita kepadaNya. AoJikalau hari-harinya sudah pastiAhendaklah Kaualihkan pandanganMu dari padanyaAo. Penulis kitab Ayub berharap semua orang saleh akan tenang dan damai dan Allah tidak akan membinasakan dia dalam penderitaannya. Aosehingga ia seperti orang upahan dapat menikmati harinyaAo. Uraian . Kematian Membuat Manusia Tidak Berdaya . yat 7-. Penulis Kitab Ayub memaparkan bahwa manusia berbeda dengan tumbuh-tumbuhan. Manusia itu kalau mati maka ia tidak berdaya, ia tidak terbangun, tidak bangkit lagi. Sedangkan tumbuh-tumbuhan, apabila ditebang ia bertunas dan tidak berhenti bertumbuh. Pengamatan penulis kitab ini sangat realita. Ia memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan baik, memperhatikan tumbuh-tumbuhan yang ditebang tetapi bertunas Kembali dan memperhatikan manusia yang telah mati tetapi tidak ada yang dibangkitkan. Lalu, kalau tidak ada kebangkitan setelah mati, mengapa manusia yang saleh dan takut kepada Allah tidak dibiarkan hidup bahagia? AoTetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah diaAo, bagi penulis kitab Ayub, kematian adalah pembatasan akhir daya manusia. Kematian membuat manusia tidak dapat berbuat apapun lagi. Bahkan bila manusia mati, kemanakah dia? Seperti air menguap dan sungai yang surut kering! Dalam hal ini, penulis kitab Ayub tidak pernah melihat kebangkitan manusia. Yang dia perhatikan orang mati menjadi menguap seperti air . , kemudian seperti sungai yang mengering . inggal tulang belulan. Ia tidak bangkit lagi sampai langit hilang Dalam hal ini, penulis kitab berbicara bahwa sampai pada masa kehidupan kapanpun bahkan sampai langit hilang lenyap . enentuan Alla. orang mati tidak dapat bangkit . Kematian telah membuat manusia tidak berdaya dan hanya Allah saja tempat manusia berharap bebas dari kedasyatan kematian tersebut. Uraian . Harapan Manusia Hanya Terdapat Pada Allah . yat 13-. Kematian itu sangat menakutkan sehingga penulis kitab Ayub ini mengatakan: AoAh, kiranya Engkau menyembunyikan aku di dalam dunia orang matiAo. Bagi penulis kitab Ayub ini, kematian memang sangat mengerikan, tetapi bukan berarti manusia tidak punya pengharapan untuk Disembunyikan dari kematian berarti Allah meluputkan dia sehingga tidak mengalami sengsara yang berat oleh murka Allah. Di dunia orang mati pun Allah berkuasa untuk melindungi orang yang taat padaNya dan berkuasa menyembunyikannya. Penulis kitab ini, benar-benar percaya Allah berkuasa atas apapun termasuk atas alam maut. Allah menjadi penentu seseorang dilindungi dan diselamatkan dari dunia orang mati. AoKalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?Ao Pertanyaan ini adalah pergumulan iman si penulis kitab. Pada zaman penulis, dia memang telah melihat orang mati tidak ada yang bangkit, tetapi bukan berarti ia tidak bergumul tentang kebangkitan orang mati! Kebangkitan orang mati atau kembalinya kehidupan kepada orang mati telah muncul di benaknya. Kemungkinan besar ini timbul atas dasar pemahamannya tentang kekuasaan mutlak Allah atas Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X dunia orang mati. Jika Allah mampu menyembunyikan manusia di dalam dunia orang mati, itu berarti Ia mampu membebaskan dan membangkitkan orang tersebut. Pergumulan tentang kekuasaan Allah atas dunia orang mati inilah yang memberi asa kepada si penulis kitab bahwa hanya Allah yang dapat membangkitkan manusia dari kematiannya karena itu manusia harus berpengharapan. AoMaka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku, dan sampai tiba gilirankuAo, dari pernyataan ini, kita dapat melihat bahwa si penulis kitab membuka hatinya untuk mempercayai bahwa kuasa Allah adalah harapan satusatunya tentang kebangkitan orang mati. Kuasa Allah dapat menghidupkan Kembali orang yang telah mati. Untuk itu, disepanjang hari hidup kita harus terus bergumul. Si penulis bergumul sampai tiba gilirannya . , maka kitapun bergumul dan tetap berjuang untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan taat atas perintahnya. Dengan kata lain, hidup saleh dan takut akan Allah. Refleksi/Implikasi Dari pembahasan teks diatas, dapat kita refleksikan untuk khotbah kita, sebagai berikut: Hidup ini sangat singkat, oleh karena itu mari kita gunakan untuk berbakti kepada Tuhan dan berkarya bagi kesejahteraan dan kebaikan seluruh manusia. Kesempatan yang kita miliki untuk melakukan kegiatan sangat terbatas karena waktu hidup kita sdh Dalam keterbatasan waktu yang kita miliki, janganlah kita hanya mencari harta dan kepentingan pribadi, sebab segala harta yang kita peroleh tidak dapat menyelamatkan kita. Kita harus berguna bagi semua orang. Apa yang dapat kita perbuat untuk membantu sesama, termasuk membebaskannya dalam kesulitan ekonomi, hukum, kesetaraan sosial, dll lakukanlah dengan sukacita. Dalam hidup yang singkat ini, jangan pula kita hanya mempersoalkan beban hidup dan berbagai kesukaran pribadi kita agar kita jangan menghabiskan hidup dengan kegelisahan dan sunggutsunggut. Semua manusia akan mati. Kematian tidak dapat kita halangi dan kita tunda. Kematian pasti akan datang dan kadang kita tak tahu waktunya. Siap atau tidak, kita pasti dihampirinya tanpa minta izin kita. Kesiapan kita untuk menerimanya akan memberikan kita keikhlasan. Kesiapan itu terlihat dalam aktifitas kita yang selalu menomorsatukan persekutuan dengan Allah, dalam ibadah dan doa, serta mengabarkan injil keselamatan yang disampaikan Allah di dalam Alkitab. Kebangkitan yang masih merupakan pergumulan iman si penulis kitab Ayub, telah nyata di dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus telah bangkit dari kematian. Kuasa maut telah dikalahkanNya. Oleh karena itu, manusia tidak perlu takut lagi terhadap kematian. Dengan kebangkitan Yesus sebagi buah sulung, maka kebangkitan orang-orang percaya akan digenapi pada masa kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya dalam rangka penyelamatan manusia yang percaya. IV. Penutup Renungan pada hari sabtu suci ini kita baca dan khotbahkan dalam rangka menyongsong perayaan Paska 17 April 2022. Sabtu suci karena kita menantikan kemenangan Yesus atas Jurnal Teologi Anugerah Vol. VII No. 2 Desember 2018 ISSN 2085-532X kematian yang diakibatkan dosa. Yesus menebus manusia yang berdosa dari hukuman maut. Jika kebangkitan Yesus tidak terjadi maka sia-sialah orang untuk mencari keselamatan. Karena keselamatan itu ditentukan dengan kemenangan Yesus atas kuasa maut, dengan kata lain. Yesus harus bangkit dari kematian. Pada masa kini, masih banyak orang belum percaya kebangkitan Yesus. Mereka masih menganggap bahwa kebangkitan itu adalah kisah dongeng. Manusia yang telah mati tdak mungkin dibangkitkan. Bagaimana caranya, dalam ujud yang bagaimana dibangkitkan, dll. Namun, bagi orang Kristen seharusnya jangan ragu tentang kebangkitan Yesus, setidaktidaknya kita tetap berharap Yesus telah bangkit oleh kekuasaan Allah, sebab bagi Allah tiada yang mustahil.