Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan PENGARUH MINAT DAN EFIKASI DIRI TERHADAP KESIAPAN MAHASISWA MENJADI GURU Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 Universitas Negeri Surabaya1. Universitas Negeri Surabaya2 pos-el: dian. 22087@mhs. id1, durintapuspasari@unesa. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh minat dan efikasi diri terhadap kesiapan mahasiswa menjadi guru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksplanatori. Populasi terdiri dari 187 mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Surabaya, dengan sampel 126 responden yang diperoleh melalui Sample Size Calculator dan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan angket tertutup dengan skala Likert 5 poin dan dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial, variabel Minat Menjadi Guru memiliki nilai t Ae 11,613 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti berpengaruh signifikan namun berarah negatif terhadap Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru. Variabel Efikasi Diri memiliki nilai t 23,443 dengan signifikansi 0,000 < 0,05, yang berarti berpengaruh positif dan signifikan. Secara simultan, kedua variabel berpengaruh signifikan dengan nilai F 275,727 dan signifikansi 0,000 < 0,05. Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,818 menunjukkan bahwa 81,8% variasi Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru dijelaskan oleh kedua variabel tersebut. Dengan demikian. Efikasi Diri menjadi faktor dominan yang memengaruhi kesiapan mahasiswa dalam menjalankan profesi keguruan secara profesional. Kata kunci : Minat menjadi guru. Efikasi diri. Kesiapan Menjadi Guru ABSTRACT This study aims to analyze the effect of interest and self-efficacy on studentsAo readiness to become This research used a quantitative approach with an explanatory research design. The population consisted of 187 students of the Office Administration Education Study Program at the State University of Surabaya, with a sample of 126 respondents determined using a Sample Size Calculator and proportional stratified random sampling technique. Data were collected through a closed-ended questionnaire using a five-point Likert scale and analyzed using multiple linear regression with SPSS version 25. The results show that partially, the variable Interest in Becoming a Teacher has a t-value of Ae11. 613 with a significance of 0. 000 < 0. 05, indicating a significant but negative effect on StudentsAo Readiness to Become Teachers. The Self-Efficacy variable has a t-value of 23. 443 with a significance of 0. 000 < 0. 05, indicating a positive and significant effect. Simultaneously, both variables significantly affect StudentsAo Readiness with an F-value of 275. 727 and a significance of 0. 000 < 0. The coefficient of determination (RA) of 818 indicates that 81. 8% of StudentsAo Readiness variation is explained by both variables. Thus. Self-Efficacy is the dominant factor influencing studentsAo readiness to perform the teaching profession professionally. Keywords: Interest in becoming a teacher. Self-efficacy. Readiness to Become a Teacher PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing. Selain pendidikan juga berfungsi mengembangkan karakter dan kemampuan individu dalam menghadapi tantangan global. Menurut (Sunardi. Syarifudin, & Machmoed, 2. , pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia sehingga dapat mewujudkan suatu negara yang terus Undang-undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 juga menjelaskan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar serta Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan proses pembelajaran yang memiliki tujuan mengembangkan potensi dirinya secara optimal baik dalam aspek spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, keterampilan yang berguna bagi kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan merupakan indikator penting dalam mengukur keberhasilan suatu bangsa artinya suatu bangsa dikatakan berhasil apabila pembangunan di sektor pendidikan terlaksana dengan baik sesuai kebijakan yang telah ditetapkan (Epong & Murniasih, 2. Namun, kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan antarwilayah, serta kurangnya dukungan terhadap inovasi pembelajaran. Di antara berbagai tantangan tersebut, kualitas guru menjadi faktor paling menentukan mutu Menurut penelitian (Sudrajat, dkk, 2. , banyak guru di Indonesia masih belum memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan, baik dari segi kualifikasi akademik maupun kemampuan mengelola pembelajaran secara efektif. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian (Satria. Kusasih, & Gusmaneli, 2. yang menunjukkan bahwa ketidakmerataan kualitas guru terutama di daerah tertinggal yang berdampak langsung pada rendahnya hasil belajar peserta didik. Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Pasal 10 ayat 1 menyebutkan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru meliputi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan kualitas guru agar mampu memenuhi tuntutan profesi pendidik. Seiring meningkatnya tantangan dalam dunia pendidikan, calon guru terutama mahasiswa program kependidikan perlu memiliki kesiapan yang matang sebelum terjun ke dunia pendidikan. Kesiapan merupakan keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon atau jawaban dalam cara tertentu terhadap suatu situasi (Slameto, 2. Kesiapan ini mencakup berbagai aspek, seperti kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Berdasarkan hasil penelitian (Ariyani & Kurniawan, 2. , beberapa faktor yang dapat memengaruhi kesiapan mahasiswa menjadi guru meliputi 3 aspek yakni technological knowledge, pedagogical knowledge, dan content Selain kemampuan akademik dan penguasaan kompetensi tersebut, faktor psikologis juga berperan penting dalam menentukan tingkat kesiapan mahasiswa sebagai calon pendidik profesional. Salah satu faktor internal yang dimaksud adalah minat menjadi guru yang dapat memengaruhi motivasi, komitmen, serta kesungguhan mahasiswa dalam menekuni profesi Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada paksaan dari pihak lain (Slameto. Mahasiswa yang memiliki minat menjadi guru biasanya menunjukkan ketertarikan yang kuat pada bidang meningkatkan kemampuan diri agar menjadi calon pendidik yang profesional. Namun, realitanya terdapat beberapa mahasiswa pada saat memilih program studi kependidikan didasari oleh pengaruh teman, saran dari orang tua, atau bahkan hanya sekedar memilih tanpa mengetahui nantinya akan lulus jadi seorang guru. Meskipun minat memiliki mahasiswa untuk memilih dan menekuni profesi guru, terdapat faktor internal lain yang juga memengaruhi kesiapan mahasiswa. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan salah satunya efikasi diri. Ketertarikan terhadap profesi guru perlu diiringi dengan keyakinan terhadap kemampuan diri untuk melaksanakan berbagai tanggung jawab pendidikan secara efektif. Oleh karena itu, efikasi diri menjadi aspek psikologis penting yang turut menentukan tingkat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika dan tantangan profesi pendidik. Efikasi diri adalah keyakinan individu tentang kemampuannya untuk menghasilkan perilaku tertentu yang diharapkan akan mewujudkan hasil yang diinginkan (Bandura. Efikasi diri memiliki peran penting dalam memengaruhi cara individu dalam menentukan tingkat usaha yang akan dilakukan, serta sejauh mana individu mampu bertahan ketika dihadapkan pada situasi yang Pada konteks calon guru, efikasi diri berkaitan dengan keyakinan mahasiswa terhadap kemampuan dirinya dalam mengevaluasi proses pembelajaran di kelas. Mahasiswa yang memiliki efikasi diri tinggi akan lebih percaya diri untuk mencoba strategi pembelajaran baru, mampu mengelola kelas dengan lebih baik, serta konsisten meningkatkan kompetensinya sebagai calon pendidik. Sebaliknya, rendahnya efikasi diri dapat menyebabkan mahasiswa mudah menyerah, kurang percaya diri saat berhadapan dengan siswa, serta kurang berinisiatif dalam mengembangkan kemampuan profesionalnya. Penelitian sebelumnya telah mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan mahasiswa menjadi guru yaitu penelitian yang dilakukan oleh (Filhuda. Sawiji, & Susantiningrum, 2. menunjukkan bahwa minat menjadi guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan mengajar. Hasil penelitian tersebut menjelaskan bahwa mahasiswa yang memiliki minat tinggi menunjukkan kesiapan mental, sikap profesional, serta kemampuan pedagogik yang lebih baik ketika terjun langsung dalam pengalaman praktik mengajar. Selain itu, penelitian (Jovita. Suryadi, & Mardiani, 2. juga mengemukakan bahwa faktor motivasi dan minat terhadap profesi guru berperan penting dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa, khususnya terkait dengan kemampuan perencanaan pembelajaran dan pengelolaan kelas. Selain faktor minat, efikasi diri juga ditemukan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap kesiapan mengajar mahasiswa. Penelitian oleh (Nisa & Dwijayanti, 2. menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapan mahasiswa menjadi guru. Mahasiswa yang memiliki keyakinan tinggi terhadap kemampuannya cenderung lebih percaya diri ketika mengajar, mampu mengatasi hambatan dalam proses pembelajaran, serta memiliki komitmen untuk terus mengembangkan kompetensinya sebagai calon pendidik. Temuan tersebut memperkuat bahwa efikasi diri merupakan aspek psikologis penting dalam pembentukan kesiapan mahasiswa menghadapi tuntutan profesi guru. Berdasarkan berbagai temuan penelitian terdahulu, baik minat menjadi guru maupun efikasi diri merupakan faktor internal penting mahasiswa untuk menjalankan tugas-tugas keguruan secara optimal. Meski demikian, penelitian yang secara spesifik membahas hubungan antara minat dan efikasi diri dengan kesiapan mahasiswa menjadi guru masih belum banyak ditemukan, sehingga topik ini perlu dikaji lebih mendalam. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis secara empiris pengaruh kedua variabel tersebut terhadap kesiapan mahasiswa Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan menjadi guru, sehingga diharapkan hasilnya pengembangan kualitas calon guru serta menjadi masukan bagi institusi pendidikan dalam meningkatkan program pembinaan profesional bagi mahasiswa. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada fokus analisisnya yang meninjau secara bersamaan pengaruh minat dan efikasi diri terhadap kesiapan mahasiswa dalam konteks pendidikan keguruan. Penelitian ini tidak hanya melihat aspek kognitif dan afektif dari minat, tetapi juga mengaitkannya dengan keyakinan diri sebagai faktor psikologis yang mendasari kesiapan profesional calon guru. Pendekatan ini memberikan perspektif baru dalam memahami bagaimana faktor internal mahasiswa berperan dalam membentuk kesiapan mereka menghadapi tuntutan profesi keguruan di era modern. Berdasarkan landasan teori dan hasil penelitian terdahulu, maka dirumuskan beberapa hipotesis yang menggambarkan hubungan antarvariabel dalam penelitian ini. Minat menjadi guru diduga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan mahasiswa menjadi guru. Hal ini karena mahasiswa yang memiliki minat tinggi terhadap profesi guru cenderung memiliki dorongan intrinsik yang kuat untuk mengembangkan kompetensi pedagogik, sosial, dan profesionalnya, sehingga lebih siap menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran maupun praktik mengajar (HCA). Selanjutnya, efikasi diri juga diperkirakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keyakinan terhadap kemampuan diri diyakini dapat meningkatkan kepercayaan diri, ketekunan, dan kemampuan mahasiswa dalam melaksanakan tugas-tugas keguruan secara efektif. Semakin tinggi efikasi diri mahasiswa, maka semakin besar pula kesiapan mereka untuk menjalankan peran sebagai calon pendidik profesional (HCC). Selain itu, minat menjadi guru dan efikasi diri diduga secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan mahasiswa menjadi guru. Kombinasi antara ketertarikan terhadap profesi guru dan keyakinan terhadap kemampuan diri akan mendorong mahasiswa untuk berperilaku proaktif, berkomitmen tinggi, serta memiliki kesiapan mental dan profesional yang lebih kuat dalam menghadapi dunia kerja pendidikan (HCE). Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis Menurut (Sugiyono, 2. , metode penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, di mana penelitian dilakukan pada populasi atau sampel tertentu yang dipilih secara Data dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian, kemudian dianalisis menggunakan perhitungan statistik untuk membuktikan hipotesis yang telah dibuat. Selain itu, penelitian eksplanatori menurut (Sugiyono, 2. merupakan penelitian yang bertujuan menjelaskan kedudukan variabel-variabel dan hubungan kausal di antara variabel-variabel yang diteliti melalui pengujian hipotesis. Dengan mengacu pada definisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan pengaruh antara minat menjadi guru, efikasi diri, dan kesiapan mahasiswa menjadi guru. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Surabaya dengan jumlah populasi 187 mahasiswa yang terbagi ke dalam enam kelas, yaitu A. E, dan I. Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Penentuan sampel dilakukan dengan bantuan Sample Size Calculator, sehingga Teknik proportional stratified random sampling karena populasi terdiri dari beberapa kelas dengan jumlah yang berbeda. Pembagian sampel tiap kelas dihitung menggunakan rumus proporsi, sehingga diperoleh sampel sebanyak 23 mahasiswa kelas A, 24 mahasiswa kelas B, 24 mahasiswa kelas C, 22 mahasiswa kelas D, 24 mahasiswa kelas E, dan 9 mahasiswa kelas I. Pengumpulan data dilakukan melalui angket tertutup yang disusun berdasarkan indikator teoritis dari masing-masing variabel penelitian dan menggunakan skala Likert 5 poin (SS sampai STS). Instrumen minat menjadi guru diadaptasi dari (Ibrahim, 2. dengan indikator kognisi, emosi, dan konasi. efikasi diri diadaptasi dari (Bandura, 1. dengan indikator level, strength, dan sedangkan instrumen kesiapan menjadi guru mengacu pada indikator yang dikembangkan oleh (Mohamed. Valcke, & Wever, 2. yang mencakup 11 aspek kompetensi calon guru yaitu pengetahuan tentang kurikulum dan materi pembelajaran, perencanaan dan strategi instruksional, penggunaan bahan ajar dan teknologi yang efektif dalam memfasilitasi pembelajaran peserta didik, komitmen untuk mempromosikan pembelajaran kepada semua peserta didik, kemampuan mengelola peserta didik dan lingkungan belajar, pengetahuan tentang peserta didik yang beragam, termasuk kebutuhan khusus dan cara mereka belajar, kemampuan menyesuaikan pembelajaran kebutuhan semua peserta didik, kolaborasi yang efektif dengan rekan kerja, bermitra dengan orang tua, layanan sosial, maupun pengembangan profesional, kesediaan untuk mencoba ide dan strategi baru, serta menjalankan integritas pribadi dan Untuk dilakukan uji validitas menggunakan korelasi Product Moment Pearson dan uji CronbachAos Alpha dengan kriteria nilai Ou 0,70 sebagai indikator reliabel. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan software SPSS versi 25. Sebelum analisis regresi dilakukan, uji dilaksanakan, meliputi uji normalitas, uji heteroskedastisitas untuk memastikan bahwa data memenuhi syarat analisis. Selanjutnya dilakukan uji t untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial, uji F independen secara simultan, dan uji (RA) mengetahui besarnya kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil penelitian diperoleh melalui analisis data yang dilakukan dengan bantuan program SPSS versi 25. Analisis meliputi uji validitas dan reliabilitas instrumen, uji asumsi klasik, serta uji hipotesis yang terdiri atas uji t, uji F, dan uji koefisien determinasi (RA). Hasil dari serangkaian pengujian tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel minat dan efikasi diri terhadap kesiapan mahasiswa menjadi guru. Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Uji Validitas dan Reliabilitas Uji validitas digunakan untuk mengetahui kelayakan setiap butir pernyataan dalam instrumen penelitian. Pernyataan signifikansi < 0,05 dinyatakan valid. Hasil uji validitas dapat dilihat pada tabel pada kuesioner bersifat konsisten dan Tujuannya adalah memastikan bahwa setiap pernyataan dalam kuesioner dapat dipercaya dan memberikan hasil yang tetap jika digunakan kembali. Suatu instrumen dinyatakan reliabel apabila nilai CronbachAos Alpha > 0,70. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Tabel 1. Hasil Uji Validitas Vari Abel Minat Menjadi Guru (X. Efikasi Diri (X. Kesia Maha Menjadi Guru (Y) Item Perny X1. X1. X1. X1. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X2. X2. Total Corre 0,472 0,314 0,788 0,764 0,799 0,772 0,752 0,718 0,610 0,794 0,800 0,735 0,650 0,715 0,626 0,729 0,440 0,643 0,603 0,691 0,665 0,701 0,662 0,770 0,653 0,766 0,722 0,658 0,673 0,730 0,701 0,685 0,627 0,720 Kete 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 0,176 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Uji Relia Variabel Minat Menjadi Guru Variabel Efikasi Diri Variabel Kesiapan Maha Menjadi Guru Relia Coefecient Item Pernya Item Pernya Item Pernya Cron BachAos Alpha 0,754 Kete Reliabel 0,826 Reliabel 0,942 Reliabel Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji mengetahui apakah data residual memiliki sebaran yang normal. Berdasarkan hasil uji KolmogorovSmirnov, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa data tersebut berdistribusi normal. Uji Multikolinearitas Hasil uji menunjukkan bahwa semua nilai VIF sebesar 1,422 < 10 dan nilai Tolerance sebesar 0,703 > 0,01. Maka dapat disimpulkan tidak terdapat multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regresi. Sumber: Data diolah, 2025 Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui apakah jawaban responden Uji Heteroskedastisitas Hasil dengan metode Glejser menunjukkan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 bahwa nilai signifikansi untuk variabel Minat Menjadi Guru sebesar 0,745 dan untuk variabel Efikasi Diri sebesar 0,243. Karena kedua nilai tersebut lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat gejala heteroskedastisitas pada model Dengan demikian, model regresi ini dinyatakan layak digunakan karena varians residualnya bersifat Berdasarkan hasil uji asumsi klasik multikolinearitas, dan heteroskedastisitas, dapat disimpulkan bahwa model regresi telah memenuhi seluruh asumsi dasar. Uji normalitas menunjukkan bahwa data residual berdistribusi normal dengan nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05. Tidak ditemukan gejala multikolinearitas, karena nilai Tolerance untuk kedua variabel independen sebesar 0,703 dan nilai VIF sebesar 1,422, yang berarti memenuhi kriteria Tolerance > 0,10 dan VIF < 10. Selain itu, hasil uji heteroskedastisitas dengan metode Glejser menunjukkan nilai signifikansi variabel Minat Menjadi Guru sebesar 0,745 dan Efikasi Diri sebesar 0,243, yang keduanya lebih besar dari 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas. Dengan demikian, model regresi dalam penelitian ini dinyatakan layak digunakan untuk analisis lebih lanjut. JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Menjadi Guru (Y). Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun minat memiliki pengaruh signifikan, arah pengaruhnya bersifat negatif. Artinya, minat yang tinggi terhadap profesi guru belum tentu diikuti dengan kesiapan profesional yang optimal. Faktor-faktor pengalaman praktik, keterampilan pedagogik yang belum maksimal, serta pemahaman yang terbatas tentang menyebabkan ketidaksesuaian antara minat dan kesiapan aktual mahasiswa. Uji t (Parsia. Minat Menjadi Guru (XCA) Berdasarkan hasil uji t, diperoleh nilai t hitung sebesar Ae11,613 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa HCA diterima, yang menyatakan bahwa Minat Menjadi Guru (X. berpengaruh signifikan Kesiapan Mahasiswa Efikasi Diri (XCC) Hasil uji t menunjukkan nilai t hitung sebesar 23,443 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa HCC diterima, yang menyatakan bahwa Efikasi Diri (X. berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru (Y). Hal ini berarti mahasiswa yang memiliki tingkat keyakinan diri tinggi mengajar, mengelola kelas, serta menghadapi tantangan pembelajaran melaksanakan tugas-tugas keguruan secara profesional. Berdasarkan hasil uji parsial di atas, dapat disimpulkan bahwa Minat Menjadi Guru (X. maupun Efikasi Diri (X. Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru (Y), meskipun arah pengaruhnya berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa aspek psikologis seperti efikasi diri berperan lebih kuat dalam membentuk kesiapan calon pendidik dibandingkan sekadar ketertarikan terhadap profesi guru. Uji F (Simulta. Hasil uji F menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 275,727 dengan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Uji Hipotesis Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 nilai signifikansi (Sig. ) sebesar 0,000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa variabel Minat Menjadi Guru (XCA) dan Efikasi Diri (XCC) secara simultan berpengaruh Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru (Y). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi minat mahasiswa untuk menjadi guru dan semakin kuat keyakinan mereka terhadap kemampuan diri, maka semakin tinggi pula tingkat kesiapan mereka dalam menjalankan peran sebagai calon pendidik. Uji Koefisien Determinasi (RA) Nilai R Square sebesar 0,818 menunjukkan bahwa 81,8% variasi variabel Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru (Y) dapat dijelaskan oleh variabel Minat Menjadi Guru (X. dan Efikasi Diri (X. , sedangkan sisanya 18,2% dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Hasil ini menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan memiliki kemampuan prediksi yang tinggi dan layak penelitian ini. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat menjadi guru dan efikasi diri memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesiapan mahasiswa menjadi Temuan ini menguatkan bahwa faktor internal, seperti minat menjadi guru dan efikasi diri, berperan penting dalam menghadapi dunia kerja pendidikan. Pembahasan keterkaitan temuan penelitian dengan teori dan hasil penelitian sebelumnya. JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat berperan dalam memengaruhi kesiapan mahasiswa menjadi guru, namun minat tersebut tidak selalu sejalan dengan kesiapan yang dimiliki. Hal ini dapat terjadi karena sebagian mahasiswa memilih jurusan kependidikan bukan melainkan karena dorongan orang tua, pengaruh lingkungan, atau pertimbangan praktis lainnya. Temuan ini sejalan dengan (Slameto, menyatakan bahwa minat seseorang dipengaruhi oleh pengalaman belajar, dorongan sosial, dan lingkungan sekitar. Karena itu, minat belum mencerminkan kesiapan nyata seseorang dalam menghadapi tanggung jawab Hasil penelitian (Murniawaty. Khoiriyah, & Farliana, 2. juga menunjukkan bahwa minat menjadi guru sering kali muncul karena faktor eksternal, bukan karena motivasi pribadi yang kuat untuk mengajar. Selain itu, penelitian (Dita & Puspasari, 2. menemukan bahwa meskipun mahasiswa memiliki ketertarikan terhadap profesi guru, sebagian dari mereka belum memiliki kesiapan praktik yang cukup. Keterbatasan pengalaman di lapangan dan kurangnya kemampuan pedagogik membuat minat tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kesiapan profesional. Dengan demikian, hasil ini menunjukkan bahwa minat perlu diimbangi dengan pengalaman dan pembinaan agar mampu mendukung kesiapan mahasiswa menjadi guru yang Pengaruh Efikasi Diri terhadap Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru Pengaruh Minat terhadap Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa efikasi diri berperan penting dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa calon Mahasiswa keyakinan terhadap kemampuan dirinya cenderung lebih percaya diri dalam Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 melaksanakan tugas mengajar, mampu menghadapi tantangan di dalam kelas, serta lebih tekun dalam mengembangkan kompetensi profesional. Temuan ini sejalan dengan teori (Bandura, 1. yang berpengaruh pada cara individu berpikir, berperilaku, dan memotivasi diri dalam menyelesaikan tugas. Semakin tinggi efikasi diri seseorang, semakin besar kemampuannya untuk menunjukkan kinerja yang baik dan ketekunan dalam mencapai tujuan. Hasil ini juga sejalan (Puspasari Rahmawati, 2. yang menemukan bahwa efikasi diri memiliki peran penting dalam meningkatkan kesiapan mahasiswa calon guru, terutama dalam kemampuan mengajar dan mengelola pembelajaran. Penelitian (Suryaningsih & Suwena, 2. juga memperkuat hasil penelitian ini dengan menyatakan bahwa efikasi diri merupakan salah satu faktor penentu kesiapan mahasiswa untuk terjun ke dunia kerja pendidikan, karena memengaruhi rasa percaya diri dan kemampuan dalam mengambil keputusan saat mengajar. Dengan demikian, efikasi diri dapat dianggap sebagai faktor utama yang mendorong kesiapan mahasiswa dalam menjalankan profesi guru secara efektif dan percaya diri. JURNAL Edueco Universitas Balikpapan penelitian (Dita & Puspasari, 2. dan (Suryaningsih & Suwena, 2. yang menunjukkan bahwa kombinasi antara minat dan efikasi diri memberikan pengaruh besar terhadap kesiapan calon Mahasiswa yang hanya memiliki minat tinggi tanpa rasa percaya diri sering kali kurang mampu mengimplementasikan Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki efikasi diri tinggi tetapi kurang berminat terhadap profesi guru juga tidak menunjukkan kesiapan yang optimal. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa keseimbangan antara minat dan efikasi diri menjadi faktor penting dalam membentuk kesiapan mahasiswa menjadi guru yang profesional. Keduanya perlu dikembangkan melalui pembinaan akademik, praktik mengajar, dan pelatihan yang mampu memperkuat keyakinan diri mahasiswa terhadap kemampuan yang dimilikinya. Secara penelitian menunjukkan bahwa minat dan bersama-sama memberikan pengaruh penting terhadap kesiapan mahasiswa menjadi guru. Kesiapan tidak hanya ditentukan oleh ketertarikan terhadap profesi guru, tetapi juga oleh keyakinan terhadap kemampuan diri dalam menjalankan tugas-tugas Hasil ini sejalan dengan KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Minat Menjadi Guru dan Efikasi Diri memiliki pengaruh signifikan terhadap Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru baik secara parsial maupun simultan pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Surabaya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor internal seperti minat menjadi guru dan efikasi diri membentuk kesiapan calon pendidik untuk menghadapi dunia kerja pendidikan. Secara keseluruhan, minat menjadi guru dan efikasi diri terbukti berperan penting dalam membentuk kesiapan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Pengaruh Minat dan Efikasi Diri terhadap Kesiapan Mahasiswa Menjadi Guru Dian Ayu Farkhani1. Durinta Puspasari2 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Minat dapat menumbuhkan ketertarikan mahasiswa terhadap dunia kependidikan, tetapi apabila minat tersebut lebih dipengaruhi faktor eksternal, kesiapan yang ditunjukkan sering kali belum sepenuhnya matang. Karena itu, penguatan minat melalui pengalaman belajar yang relevan, kesempatan praktik mengajar, dan dorongan motivasi dari dalam diri menjadi hal yang penting. Sementara itu, efikasi diri memegang peranan penting karena berkaitan dengan sehingga berpengaruh besar terhadap kesiapan mereka untuk mengajar. Meski demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan. Subjek yang hanya berasal dari satu program studi membuat hasil penelitian ini belum dapat menggambarkan kondisi mahasiswa Penggunaan angket sebagai instrumen juga berpotensi menimbulkan bias bergantung pada persepsi responden. Selain itu, penelitian ini hanya menelaah dua variabel, sehingga aspek lain seperti pengalaman praktik lapangan, dukungan pedagogik, dan motivasi internal belum Desain penelitian yang bersifat korelasional juga membatasi penarikan kesimpulan mengenai hubungan sebabakibat antarvariabel. Melihat hasil dan keterbatasan tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat meningkatkan dukungan melalui penyediaan pengalaman praktik yang lebih intensif, pelaksanaan microteaching yang lebih komprehensif, serta program pengembangan kompetensi yang dapat memperkuat kepercayaan diri mahasiswa. Mahasiswa juga perlu lebih aktif mencari mengembangkan keterampilan pedagogik agar kesiapan mereka semakin matang. Untuk penelitian selanjutnya, perluasan subjek, penambahan variabel pendukung, serta penggunaan desain penelitian yang memungkinkan analisis hubungan kausal gambaran yang lebih lengkap mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kesiapan mahasiswa menjadi guru. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 DAFTAR PUSTAKA