ISSN Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. PEMANFAATAN DEKOK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L. ) SEBAGAI TEAT DIPPING PADA TERNAK SAPI PERAH DI KECAMATAN CIJERUK KABUPATEN BOGOR Utilisation of Kersen (Muntingia Calabura L. ) Leaf Decoction as Teat Dipping in Dairy Cattle in Cijeruk Sub-District. Bogor District Diah Ajeng Ambarwati Syam* Reni Suryanti dan Rifa RafiAoatu SyaAobani Wihansah Program Studi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan. Jurusan Peternakan. Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor Jalan Snakma. Kecamatan Caringin. Kabupaten Bogor . *Email korespondensi: diahajenga@gmail. ABSTRACT Subclinical mastitis often occurs in dairy cattle with a prevalence of up to 80%, due to lack of awareness of the importance of teat dipping in the implementation of milking. The study was conducted to determine the effect of kersen leaf decoction as a natural teat dipping on subclinical mastitis in dairy cattle. The study was conducted from April to June 2023 on 15 dairy cows given 3 treatments with 5 adventures, namely P0 . ontrol/no teat dippin. P1 . eat dipping with Iodin. and P2 . eat dipping with kersen leaf decoctio. The parameters observed in this study were the level of subclinical mastitis in dairy cows using the CMT and DMD test methods. The effect of giving kersen leaf decoction can reduce the positive score of subclinical mastitis cases in cattle to 25%, so it can be used as an alternative to povidone iodine for teat dipping in an effort to reduce and prevent subclinical mastitis in cattle. Keywords: kersen leaf decoction, dairy cows, teat dipping ABSTRAK Penyakit mastitis subklinis sering terjadi pada ternak sapi perah dengan prevalensi kejadiannya mencapai 80%, hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran pentingnya teat dipping dalam pelaksanaan pemerahan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian dekok daun kersen sebagai teat dipping alami terhadap penyakit mastitis subklinis pada ternak sapi perah. Penelitian dilaksanakan dari bulan April sampai Juni 2023 dilakukan pada 15 ekor sapi perah yang diberikan 3 perlakukan dengan 5 ualangan yaitu P0 . ontrol/ tanpa teat dippin. P1 . eat dipping dengan Iodin. dan P2. eat dipping dengan dekok daun kerse. Parameter yang diamati dalam kaji terap ini adalah tingkat mastitis subklinis pada sapi perah dengan metode uji CMT dan DMD. Pengaruh pemberian dekok daun kersen dapat menurunkan kasus skor posistif mastitis subklinis pada ternak menjadi 25%, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pengganti povidone iodine untuk teat dipping dalam upaya menurunkan dan mencegah penyakit mastitis subklinis pada ternak. Kata kunci: dekok daun kersen, celup puting, sapi perah Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Tanaman kersen merupakan tanaman liar yang dapat hidup dan beradaptasi dengan baik di berbagai wilayah (Azzahra et al. Tanaman kersen sering dimanfaatkan menjadi antiseptik alami (Manarisip et al. Pemberian teat dipping dengan dekok daun kersen konsentrasi 20% mampu menurunkan kejadian mastitis subklinis 80% (Kurniawan et Berdasarkan pemaparan permasalahan di lapangan diperlukannya pendekatan kepada peternak untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya teat dipping serta pemberian inovasi pemanfaatan sumber daya alam di sekitar lingkungan sebagai antiseptik alternatif untuk teat dipping. Penelitian ini pemberian dekok daun kersen sebagai teat dipping alami terhadap penyakit mastitis subklinis pada ternak sapi perah. PENDAHULUAN Penyakit mastitis merupakan penyakit yang sering terjadi pada ternak perah terutama untuk kasus penyakit mastitis subklinis. Mastitis subklinis di Indonesia memiliki prevalensi kejadiannya mencapai 80% dengan tingkat penurunan produksi susu pada ternak sebesar 20% (Dirjet Peternakan, 2. Penyakit mastitis disebabkan oleh bakteri Streptococcus Streptococcus Staphylococcus aureus. Escherichia coli. Enterobacter aerogenees dan Pseudomonas aeruginosa (Kurniawan et al. Penyakit mastitis didasari dari manajemen pemerahan yang kurang tepat, kebersihan peralatan dan lingkungan yang rendah (Mahardika 2. Mastitis terjadi karena masuknya patogen ke dalam ambing melalui lubang puting yang terbuka mengakibatkan terjadinya multiplikasi di sekitar sphincter, sehingga pembuluh darah mengalami vasodilatasi dan peningkatan aliran darah menyebabkan pembengkakan karena peningkatan permeabilitas kapiler ambing mengakibatkan sel sekretori alveoli ambing tidak bekerja dengan maksimal sehingga menyebabkan penurunan produksi dan kualitas susu (Fatonah et al. Peternak di Desa Tajurhalang sudah melakukan pembersihan pada ternak sebelum pemerahan, namun pemberian celup puting/teat dipping belum terlaksana dengan baik. Faktor yang mendasarinya adalah harga obat teat dipping yang cukup mahal serta kurangnya kesadaran akan pentingnya teat dipping bagi Desa Tajurhalang merupakan desa dengan komoditas sapi perah tertinggi di Kecamatan Cijeruk dengan jumlah ternak sapi perah sebanyak 265 ekor (Desa Tajurhalang Terdapat potensi tanaman kersen (Muntingia calabura L. ) di sekitar lingkungan peternakan yang memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai antibakteri, sehingga dapat digunakan sebagai teat dipping METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada April sampai Juni 2023 di Desa Tajurhalang. Kecamatan Cijeruk. Kabupaten Bogor. Provinsi Jawa Barat. Materi Penelitian Materi yang digunakan dalam penelitian adalah 15 ekor ternak sapi laktasi PFH milik anggota kelompok ternak di Desa Tajurhalang. Kecamatan Cijeruk. Kabupaten Bogor. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan memberikan 3 perlakukan dan 5 Perlakuan yang diberikan yaitu P0 (Kontrol/tanpa teat dippin. P1 (Teat dipping dengan Iodin. dan P2 (Teat dipping dengan dekok daun kerse. dilakukan selama 28 hari setelah pemerahan pagi dan sore hari. ISSN Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. Pengujian sampel susu dilakukan pada H0 dan H28. Pengujian dengan menggunakan cairan reagent CMT dan paddle. Prosedur dengan metode CMT diawali dengan pengambilan sampel susu segar curahan pertama dari keempat puting sebanyak 2 ml dimasukkan kedalam paddle. Kemudian tambahkan reagent CMT 1:1 dengan sampel susu, putar paddle perlahan selama 15 detik. akhir putaran, amati dan nilai hasilnya (Kuriawan et al. Setelah prosedur dilakukan, interpretasi hasil pengukuran tingkat mastitis subklinis menurut Sasana . untuk hasil CMT pada Tabel 1. Tabel 1 Interpretasi hasil CMT Analisis Data Parameter penelitian ini adalah tingkat mastitis subklinis dengan metode uji California Mastitis Test (CMT) dan Draminski Mastitis Detector (DMD). Analisis menggunakan metode analisis sidik ragam (ANOVA) menggunakan program SPSS versi 25 dengan menggunakan RAL dan dilanjutkan Duncan (Surjowardojo et al. Pembuatan Dekok Daun Kersen Skor Jumlah Sel Deskripsi CMT Somatik 0 Ae Tidak (Negati. 000 penggumpalan Sedikit T (Trac. menghilang dalam 10 detik Pengentalan 000 berbeda, terbentuk gel Mengental 000 membentuk gel di dasar cangkir Terbentuk 3 >10. diseluruh sampel Sumber: Sasana 2022 Menurut Kurniawan et al. alat yang digunakan dalam proses pembuatan antiseptik alternatif dari dekok daun kersen yaitu timbangan, pisau, kompor, panci dan saringan. Bahan yang digunakan yaitu air bersih dan daun kersen tua. Pembuatan antiseptik alternatif dari dekok daun kersen dengan konsentrasi 20%, dengan langkah sebagai berikut: Siapkan 200 gram daun kersen, dicuci kemudian tiriskan. Daun kersen dipotong dan direbus dengan air 800 ml hingga mendidih selama 15 . Setelah 15 menit, dinginkan rebusan. Setelah itu, saring air rebusan dan masukkan ke dalam botol dipping yang sudah disediakan. Skor Menurut Sasana . data yang sudah diperoleh dari hasil pengujian CMT pada ternak sapi perah dapat diakumulasikan untuk mengetahui persentase penyakit mastitis setiap perlakuan dengan menggunakan rumus, sebagai berikut: ycEycA ycEyceycycyceycuycycaycyce ycoycaycycycnycycnyc = ycu 100% yaycEycN a. Keterangan: : Puting Mastitis JPT : Jumlah Puting yang di tes Pengujian Mastitis Subklinis dengan CMT dan DMD Pengujian mastitis subklinis dilakukan dengan menggunakan metode CMT dan DMD pada hari pengujian (H0 dan H. di pagi dan sore hari. Pemeriksaan menggunakan 2 ml sampel susu dari setiap puting ternak. California Mastitis Test (CMT) Pengujian metode CMT prinsipnya menggunakan jumlah sel somatik untuk menentukan tingkat mastitis subklinis pada Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Sesuai dengan pernyataan Siddique et al. dalam Pisestyani et al. susu sapi yang diduga menderita mastitis subklinis memiliki nilai hambatan listrik cenderung rendah di bawah 300 unit. Draminski Mastitis Detector (DMD) Pengujian metode DMD prinsipnya menggunakan nilai hambatan listrik pada susu (Pisestyani et al. Pengujian dengan menggunakan alat DMD. Pelaksanaan pengujian menggunakan DMD yaitu dengan mengambil susu sesuai dengan batas garis yang ada pada alat . , kemudian tekan tombol yang ada pada alat dan catat hasil yang ditampilkan oleh alat DMD. Interpretasi hasil pengukuran tingkat mastitis subklinis menurut Galfi et al. untuk hasil DMD pada Tabel 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran beberapa sampel hasil pemeriksaan mastitis subklinis dengan metode CMT dapat terlihat pada Gambar 1. Tabel 2 Interpretasi hasil DMD Pembacaan Jumlah sel Draminski Deskripsi Gambar 1 Pemeriksaan CMT Infeksi bakteri mastitis >300 unit <300. 000 rendah. Sampel susu berkualitas tinggi dan Infeksi bakteri mastitis 000 Ae Indikasi peningkatan <250 unit >1. 000 infeksi subklinis berlanjut ke tahap klinis. Keterangan: Setiap kuatil yang menunjukkan perbedaan 50 unit dibandingkan kuatil lain harus diperiksa secara teratur. Sumber: Galfi et al. Keterangan : . 1D)= . 3A)= . 2D)= B)= -. 3D)= . Sumber: Data primer 2023. Berdasarkan Gambar perbedaan hasil yang diperoleh dari pengujian mastitis subklinis pada ternak berdasarkan jumlah sel somatik yang terkandung dalam Semakin tinggi jumlah sel somatik yang terkandung dalam susu maka akan semakin kental hasil pengujian CMT yang diperoleh. Hal ini dikarenakan kandungan arylsulfonate dalam reagent CMT dapat memecah inti sel somatik pada susu sehingga mengakibatkan terjadinya penggumpalan (Adriani 2. dalam (Riyanto et Analisa hasil pemeriksaan tingkat mastitis subklinis dengan metode CMT dapat dilihat pada Tabel 3. Dalam pengecekan mastitis subklinis dengan draminski mastistis detector angka puting yang terkena mastitis subklinis memiliki rentang angka 250-300 unit, namun dapat dikatakan normal jika terdapat perbedaan 40 50 unit untuk hasil terendah atau tertinggi. Tabel 3 Analisa pemeriksaan CMT Skor Mastitis ( . Jumlah Jumlah sapi H28 H28 H28 5 ekor 5 ekor 5 ekor Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Keterangan: P0= tanpa teat dipping/kontrol. P1 = pemberian teat dipping iodine. P2 = pemberian teat dipping dekok daun H0 = pengecekan awal. H28 = pengecekan akhir. Sumber: Data terolah 2023 Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa terjadi perubahan pada skor mastitis subklinis pada setiap perlakuan dari pengujian H0 dan H28. Pada P0 tejadi peningkatan skor positif mastitis subklinis dari persentase 80% meningkat menjadi 85%. pada P1 terjadi peningkatan skor positif mastitis subklinis dari persentase 65% meningkat menjadi 75%. pada P2 terjadi penurunan skor positif mastitis subklinis dari persentase 55% menurun menjadi Gambaran hasil pemeriksaan mastitis subklinis dengan metode DMD dapat terlihat pada Gambar 2. satu sapi diindikasi terkena mastitis subklinis. Hal ini dikarenakan angka yang ditunjukkan berbeda jauh dengan angka lainnya, sehingga dapat dikatakan puting terindikasi mastitis Hal ini selaras dengan pernyataan Siddique et al. dalam Pisestyani et al. yang mengatakan sapi yang diduga menderita mastitis subklinis cenderung memiliki nilai rendah di bawah 300 unit serta memiliki perbedaan lebih dari 40-50 unit untuk hasil tertinggi atau terendahnya. Menurut Wegner dan Stull . dalam Pisestyani et al. susu dari sapi yang terkena mastitis subklinis memiliki kandungan natrium dan klorida yang lebih tinggi serta kalium yang lebih rendah dari pada sapi sehat. Sehingga diperoleh nilai hambatan listrik menggunakan alat DMD yang didapatkan dari kandungan Na. Cl dan K yang terkandung dalam susu. Nilai yang diperoleh dari pengujian DMD, ditabulasikan dan dianalisis menggunakan program SPSS dengan uji ANOVA dan Duncan. Analisa pemeriksaan dengan DMD dapat dilihat pada Tabel 4 Gambar 2 Pemeriksaan DMD Keterangan: A= puting kiri depan. B= puting kanan C= puting kiri belakang. D= puting kanan Sumber: Data primer 2023 Berdasrakan Gambar 2 diketahui bahwa pada puting B . uting kanan depa. di salah Tabel 4 Analisis pemeriksaan DMD Perlakuan 50A18. 25A26. 50A28. H28 00A25. 75A17. 75A22. Rataan 85A18. 40A18. 45A22. Jumlah Sapi 5 ekor 5 ekor 5 ekor Keterangan P0 = tanpa teat dipping/kontrol. P1 = pemberian teat dipping iodine. P2 = pemberian teat dipping dekok daun H0 = pengecekan awal. H28 = pengecekan akhir. a,b menunjukkan perbedaan nyata (P<0,. Sumber: Data terolah Pengamatan Berdasarkan Tabel 4 pemberian P1 dan P2 dengan penggunaan iodine dan dekok daun kersen dapat menurunkan khasus mastitis subklinis pada ternak. Hal ini dikarenakan pemberian teat dipping setelah pemerahan. ISSN Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. mikroorganisme penyebab mastitis subklinis ke dalam puting ternak. Hasil pengecekan mastitis subklinis pada P0 mengalami peningkatan kasus mastitis subklinis hal ini terjadi karena setelah pemerahan puting tidak terlindungi, sehingga bakteri dengan mudah masuk kedalam puting. Menurut Hartanto . proses penutupan sphincter memiliki rata-rata durasi selama 30 menit setelah pemerahan. Sesuai dengan Mahpudin et al. yang menyatakan penyebab masukkan bakteri ke dalam ambing karena streak canal masih terbuka sehingga harus diupayakan agar mikroorganisme dari luar tidak masuk kedalam puting. Pemberian celup puting dapat melapisi atau menutup saluran susu pada puting agar tidak terkontaminasi bakteri yang menyebabkan kualitas susu mengalami penurunan (Giantara et al. Hasil pengecekan mastitis subklinis pada P1 mengalami ketidakstabilan kasus mastitis subklinis dikarenakan terdapat wabah penyakit LSD . umpy skin diseas. di Desa Tajurhalang sehingga terdapat ternak yang terkena LSD di kandang perlakuan P1 dengan nodul yang berada di dalam putingnya. Berdasarkan Dirjen PKH . gejala dari LSD menyebabkan penurunan produksi susu yang signifikan dan mastitis sekunder. Sesuai dengan pernyataan Dharmayanti . bahwa pada sapi betina lesi penyakit LSD dapat menimbulkan infeksi sekunder dari bakteri penyebab mastitis sehingga terjadi penurunan produksi susu yang signifikan. Sehingga untuk pencegahan kasus mastitis subklinis dengan pemberian teat dipping kurang bekerja secara optimal karena adanya faktor wabah penyakit LSD tersebut. Hasil pengecekan mastitis subklinis pada P2 mengalami penurunan kasus mastitis subklinis hal ini dikarenakan terdapat kandungan daun kersen yang dapat berperan sebagai antibakteri, sehingga dapat menjadi pelindung untuk puting dari kontaminasi bakteri. Diperkuat dengan pernyataan Giantara . rataan persentase penurunan mastitis subklinis pada perlakuan dekok daun kersen lebih besar dibandingkan tanpa pemberian celup puting. Hal ini disebabkan karena kandungan antibakteri . aponin, flovanoid dan tani. lebih masuknya mikroorganisme kedalam saluran Senyawa kimia flavonoid, tanin dan saponin bersifat antiinflamasi dan antibakteri (Mahardika 2. Dengan mekanisme kerja senyawa yang terkandung dalam daun kersen adalah sebagai berikut: Senyawa flavonoid, menghambat fungsi membran sitoplasma, menghambat sintesis asam nukleat dan menghambat metabolisme Senyawa saponin, merusak membran sel bakteri dengan cara meningkatkan permeabilitas sel sehingga menyebabkan denaturasi protein membran dan membran sel mengalami lisis dan rusak. Senyawa tanin, menyebabkan pertumbuhan sel terhambat dan mati (Azzahra et al. Dari penelitian diperoleh bahwa pada P2 terjadi penurunan skor positif mastitis subklinis menjadi 25%. Selaras dengan pernyataan Kurniawan . yaitu teat dipping dengan dekok daun kersen konsentrasi 20% dapat menurunkan tingkat kejadian mastitis subklinis Berdasarkan hasil perbandingan antara perlakukan teat dipping povidone iodine dan dekok daun kersen menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan nyata, sehingga dekok daun kersen dapat digunakan sebagai pengganti povidone iodine untuk teat dipping. Menurut Flachowsky et al. dalam Mahpudin . melaporkan bahwa penggunaan antiseptik kimia mampu menurunkan jumlah cemaran bakteri namun penggunaannya mampu menimbulkan residu iodine dalam susu, sehingga untuk meminimalisir tercampurnya residu iodine dalam susu penggunaan antiseptik alami dapat menjadi solusi pengganti antiseptik kimia. Prosiding Seminar Nasional Polbangtan Bogor Smart Agriculture Pendukung Pertanian Masa Depan Vol. ISSN Ruang Penampungan Susu. Jurnal Teknologi Hasil Peternakan. :39-55. Desa Tajurhalang. Profil Desa Tajurhalang Tahun 2021. Bogor: Kantor Desa Tajurhalang. [Ditjen Peternaka. Direktorat Jendral Peternakan. Statistik Peternakan. Jakarta: Ditjen Peternakan. [Ditjen PKH] Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan. Lumpy Skin Disease (LSD) 2022. Jakarta: Ditjen PKH. Dharmayanti NLPI. Nurjanah D. Ulasan Lumpy Skin Disease: Penyakit Infeksius Berpotensi Mengancam Kesehatan Sapi di Indonesia. Berita Biologi. :1-17. Fatonah A. Harjanti DW. Wahyono F. Evaluasi Produksi dan Kualitas Susu pada Sapi Mastitis. Jurnal Agripet. :22-31. Galfi A. Radinovic M. Milanov D. Bobos S. Pajic M. Savic S. Davidov I. Electrical Conductivity Of Milk And Bacteriological Findings In Cows With Subclinical Mastitis. Biotechnology Animal Husbandry. DOI: 2298/BAH1504533G. Giantara E. Akhdiat T. Permana H. Widjaja N. Penggunaan Dekok Daun Kersen (Muntingia calabura L. ) sebagai Teat Dipping Terhadap Persentase Penurunan California Mastitis Test dan Total Plate Count Air Susu. Jurnal Sains Peternakan. Vol 17. :1-4. Hartanto R. Harjanti DW. Prayitno E. Restitrisnani V. Prima A. Buku Ajar Manajemen Ternak Perah (Pemerahan dan Penanganan Sus. Semarang: Universitas Diponegoro. Kurniawan I. Sarwiyono. Surjowardojo. Pengaruh Teat Dipping Menggunakan Dekok Daun Kersen (Muntingia calabura ) Terhadap Tingkat Kejadian Masttits. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan. :27-31. Mahardika HA. Pencegahan Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah dengan Menggunakan Bahan Herbal Sebagai Teat Dipping. AgriHumanis: Journal of SIMPULAN Pengaruh pemberian dekok daun kersen dapat menurunkan skor posistif mastitis subklinis pada ternak menjadi 25%, sehingga dapat digunakan sebagai alternatif pengganti povidone iodine untuk teat dipping dalam upaya menurunkan dan mencegah penyakit mastitis subklinis pada ternak. SARAN Dalam dilapangan perlu diperhatikannya wabah penyakit yang ada di lingkungan sekitar Tujuannya agar penyakit yang menjadi epidemi di daerah tersebut tidak mempengaruhi hasil penelitian yang kita kumpulkan. Perhatikan waktu dan intensitas kunjungan ke kandang perlu ditingkatkan dengan tujuan agar penelitian sesuai dengan perencanaan. Pengujian dengan metode Total Plate Count (TPC) sangat disarankan untuk dilakukan dalam penelitian ini agar hasil yang diperoleh maksimal dan dapat langsung melihat keefektifitasan dari penggunaan dekok daun kersen sebagai teat dipping. UCAPAN TERIMAKASIH Terimakasih penulis sampaikan kepada Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor yang telah membiayai penelitian ini. Terimakasih