Jurnal Teologi Pambelum Volume 4. Nomor 1 (Agustus 2. : 53-69 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: 10. 59002/jtp. Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus Jefri Andri Saputra Institut Agama Kristen Negeri Toraja jefrijefri293@gmail. Abstract This article aims to reconstruct the church mission in the context of religious moderation. Religious moderation has led to the need to review the church's mission in the form of Christianization, stealing own, and the church's appearance in the public space that debates as conservative and liberal. This action has become a problem in the history of Christian encounters with other religions and internal church relations across denominations. The research approach in this paper is a library research. The author collected data through books and research journals related to religious moderation, missions, and the letter 1 Corinthians. The author finds that the church mission in 1 Corinthians is to be a congregation that avoids syncretism, internalizes religious identity and collective ethics, and uses love as the spirit to construct a solidary and missionary community. Keywords: church mission, religious moderation. Paul, 1 Corinthians. Abstrak Tujuan artikel ini adalah untuk merekonstruksi misi gereja dalam konteks moderasi beragama. Moderasi beragama menyebabkan perlunya peninjauan ulang terhadap bentuk misi gereja dalam bentuk Kristenisasi. Aumencuri dombaAy, dan juga kehadiran gereja di ruang publik yang berdebat sebagai pihak konservatif dan liberal. Tindakan ini menjadi permasalahan dalam sejarah perjumpaan Kristen dengan agama lain, maupun hubungan internal gereja dalam lintas denominasi. Pendekatan penelitian dalam tulisan ini adalah studi pustaka. Penulis mengumpulkan data melalui buku dan jurnal penelitian terkait moderasi beragama, misi, serta surat 1 Korintus. Penulis menemukan bahwa misi gereja dalam surat 1 Korintus adalah menjadi jemaat yang menghindari sinkretisme, menginternalisasikan identitas keagamaan dan etika kolektif, serta menjadikan kasih sebagai spirit untuk mengonstruksikan komunitas yang solider dan misioner. Kata kunci: misi gereja, moderasi beragama. Paulus, 1 Korintus. Diterima Redaksi: 03-05-2024 | Selesai Revisi: 24-08-2. Diterbitkan Online: 31-08-2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus Pendahuluan Moderasi beragama adalah gagasan yang kerap dibicarakan di tengah kehidupan umat beragama di Indonesia saat ini yang beragam. Menurut Mustaqim Hasan, moderasi beragama merupakan sikap terpuji dalam beragama, yang diperlihatkan melalui kemampuan menempatkan diri secara tidak berlebihan atau ekstrem dalam pikiran, sikap, maupun tindakan (Hasan, 2. Gagasan moderasi beragama sangat dibutuhkan dalam masyarakat yang sangat beragam agar dapat menyikapi perbedaan dengan bijak. Salah satu perbincangan gereja dalam konteks pluralitas adalah implementasi misi Kristen yang relevan dengan gagasan moderasi beragama. Dalam perkembangan sejarah gereja di Indonesia, implementasi misi yang kerap bermasalah adalah kristenisasi. Umat beragama lain kerap melihat umat Kristen sebagai ancaman karena pendekatan misinya bermotif kristenisasi atau mengkristenkan umat agama lain dengan berbagai siasat. Hal ini jugalah yang menjadi penyebab konflik kekristenan dengan umat beragama lain, misalnya dalam konflik antara umat Islam dengan STT dan Yayasan Doulos (Aritonang, 2. Beberapa pelayanan kemanusiaan kadang dilakukan oleh gereja untuk menarik simpati penganut agama lain untuk menjadi seorang Kristen. Kartini sendiri pernah mengkritik strategi seperti ini pada masa kolonial dan menyebutnya sebagai upaya Aumemancing di air keruhAy (Sumartana, 2. Masalah lain dalam implementasi misi Kristen adalah fenomena Aumencuri dombaAy. Istilah ini muncul dalam perjumpaan gereja mainstream dengan nonmainstream. Beberapa gereja beraliran Pentakosta dan Kharismatik . on-mainstrea. kerap menjadikan warga gereja hasil misi lembaga zending Eropa . sebagai target misi, sehingga beberapa anggota gereja mainstream berpindah ke denominasi gereja non-mainstream. Hal ini menghasilkan konflik internal agama Kristen (Pentury, 2. Selain kedua bentuk implementasi misi di atas, sikap yang juga menjadi masalah dalam pelaksanaan misi Kristen adalah ketegangan antara sikap fundamentalisme dan liberalisme di kalangan gereja. Beberapa gereja seperti gereja-gereja di Amerika secara terbuka telah menerima dan melegalkan pelaksanaan aborsi, pernikahan sesama jenis, dan berbagai masalah kontemporer lain yang kerap ditolak oleh gereja konservatif (Qurtuby. Kondisi ini menimbulkan perdebatan internal dalam kehidupan bergereja. Beberapa gereja bersikeras menolak, tetapi beberapa lagi yang menerima secara terbuka. Akhirnya gereja menjadi sebuah komunitas yang sibuk dengan perdebatan dan AupercekcokanAy dan jauh dari konsep komunitas yang misioner. Berhadapan dengan berbagai fenomena di atas, implementasi misi Kristen sangat urgen untuk ditinjau kembali. Dalam konteks pluralitas, gereja tidak sekadar berhadapan dengan agama lain, tetapi juga perbedaan denominasi, bahkan perbedaan menyikapi isu-isu Misi gereja yang tepat demi kedamaian dalam pluralitas seharusnya tidak sempit dilihat sebagai upaya kristenisasi ataupun Aumencuri dombaAy. Kehadiran gereja dalam pluralitas perlu memiliki orientasi misi yang tepat, sehingga gereja tidak melalaikan misinya, tetapi pada saat yang sama tidak merusak kedamaian dalam keberagaman agama maupun denominasi gereja. Oleh karena itu, rekonstruksi misi gereja perlu berada dalam wawasan moderasi beragama. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus Beberapa upaya sudah dilakukan oleh peneliti lain, untuk melihat kembali bagaimana seharusnya misi dilaksanakan dalam kehadiran agama Kristen di tengah agamaagama lain dalam konteks moderasi beragama. Gayus Darius dan Rinaldus Tanduklangi berupaya menafsirkan kembali konsep dan pesan misi amanat agung dalam konteks moderasi beragama, dan menemukan bahwa amanat agung dapat dimaknai sebagai upaya rekonsiliasi dan perdamaian. Upaya pemuridan berupaya untuk menciptakan keharmonisan dan kehidupan penuh kasih dalam relasi lintas agama (Darius & Tanduklangi, 2. Alvary Exan Rerung juga mengkaji pemaknaan misi amanat agung dalam konteks postkolonial dan menemukan bahwa misi amanat agung hendaknya dimaknai dengan melihat semua orang sebagai sesama murid yang perlu dikasihi, sehingga tidak perlu ada sikap intoleransi (Rerung, 2. Harls Evan R. Siahaan dan Munatar Kause meneliti tentang pelaksanaan sikap moderasi beragama dalam gereja, dan menawarkan hospitalitas gereja mula-mula sebagai model alternatif (Siahaan & Kause, 2. Carolina Etnasari Anjaya dan Yonatan Alex Arifianto menawarkan beberapa aspek dalam pelaksanaan misi di tengah konteks moderasi beragama, yaitu menunjukkan identitas kristiani di masyarakat, memberi solusi bagi masalah sosial, membangun budaya bersama dengan agama lain, dan membangun dialog (Anjaya & Arifianto, 2. Dalam artikel ini penulis akan menulis tentang bagaimana pelaksanaan misi yang direkomendasikan oleh Paulus dalam konteks pluralitas. Dalam rangka upaya ini, maka penulis akan memfokuskan pengamatan pada Surat 1 Korintus untuk menemukan pendekatan yang digunakan dalam melakukan misi dalam kaitannya dengan moderasi Surat Korintus adalah salah satu surat yang ditulis Paulus di mana jemaat berada di tengah keragaman yang cukup harmonis. Akan tetapi, keharmonisan dalam keberagaman di Korintus justru menjadi masalah dan ditegur oleh Paulus. Beberapa teguran Paulus tentang jemaat berupaya untuk menempatkan jemaat dengan identitas kristiani di tengah keberagaman dan pengaruh dari luar gereja. Dengan meneliti pandangan teologi Paulus, penulis berharap dapat memperlihatkan perspektif Paulus mengenai bagaimana seharusnya gereja melaksanakan misi di tengah kehidupan yang plural. Metode Penelitian Metode penelitian yang penulis gunakan adalah kualitiatif deskriptif. Analisis data dilakukan melalui studi pustaka atau library research. Data-data penelitian dikumpulkan melalui buku dan jurnal mengenai pelaksanaan misi, moderasi beragama, dan pemikiran Paulus yang berkaitan dengan surat 1 Korintus. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan urutan sebagai berikut. Pertama penulis akan mendeskripsikan konsep moderasi beragama. Kedua penulis mendeskripsikan konsep misi gereja dan bentuk Ketiga penulis menganalisis latar belakang jemaat dan konteks sosiohistoris di Korintus. Keempat penulis akan menganalisis pemikiran Paulus mengenai pelaksanaan misi dalam konteks moderasi beragama berdasarkan surat 1 Korintus. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus Hasil dan Pembahasan Moderasi Beragama Moderasi beragama berasal dari bahasa Latin, moderatio yang berarti keadaan sedang, tidak kelebihan dan tidak kekurangan. Kata ini dapat diartikan sebagai pengendalian diri untuk berada dalam keadaan sedang (Kementerian Agama RI, 2. Menurut Albertus M. Patty moderasi beragama adalah penghayatan beragama yang tidak ekstrem kanan atau kiri. Moderasi mengedepankan keseimbangan dalam keyakinan, moral, dan wata, dalam realitas keragaman umat beragama (Patty, 2. Menurut Nathan Setiabudi, kata moderasi merujuk kepada dua pengertian yakni menghindari ekspresi atau perilaku yang ekstrem dan juga mengupayakan secara kreatif jalan tengah. Dalam hal ini, moderasi tidak hanya menghindar dari cara beragama yang ekstrem, seolah-olah tanpa pandangan, melainkan berada dalam pandangan yang mengupayakan jalan tengah (Setiabudi, 2. Berdasarkan beberapa pengertian ini, maka moderasi beragama dapat diartikan sebagai cara beragama yang berupaya untuk berada dalam perilaku yang sedang, tidak ekstrem, dan mengupayakan keseimbangan atau jalan tengah. Prinsip dasar yang dipegang oleh moderasi beragama adalah adil dan seimbang dalam menyikapi setiap kutub yang berlawanan (Kementerian Agama RI, 2. Kata adil berarti tidak berat sebelah, tidak sewenang-wenang, dan berpihak kepada kebenaran. Sementara seimbang berarti kecenderungan berpihak pada keadilan, kemanusiaan dan persamaan (Kementerian Agama RI, 2. Agar prinsip keseimbangan dan adil dapat terwujud maka seorang umat beragama perlu memiliki kebijaksanaan, ketulusan, dan Ketiga hal ini akan sangat menunjang dalam mengupayakan terwujudnya cara hidup yang moderat (Kementerian Agama RI, 2. Penerapan moderasi beragama lebih jelas terlihat dalam kehidupan umat beragama. Dalam hubungannya dengan ekstrem keagamaan, moderasi beragama ditempatkan sebagai jalan tengah yang tidak memihak kepada salah satu ekstrem keagamaan. Ekstrem keagamaan yang saling berlawanan adalah kelompok ekstrem liberal dan ekstrem Kelompok liberal adalah kelompok yang sangat terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi. Selain itu mereka sangat menghormati kebebasan dan Hal ini juga membuat ekstrem liberal tidak terlalu bermasalah dengan perbedaan selama hal itu tidak mengganggu kebebasan (Patty, 2. Liberalisme juga memberi menolak jika ada kebenaran absolut. Menurut mereka setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan spiritual, moral dan intelektualnya dalam hubungannya dengan lingkungannya (Tampake, 2. Kelompok fundamentalis adalah kelompok yang sangat menjaga kemurnian dan melestarikan pokok-pokok pengajaran dan menolak jika dilakukan penafsiran secara bebas terhadap kitab suci. Fundamentalisme selalu berupaya untuk memahami kitab suci secara Selain itu, masalah yang tidak kalah ekstrem dalam fundamentalisme adalah sikap merasa benar sendiri, sedangkan komunitas lain dianggap tidak benar. Mereka mengeklaim pandangan lain tidak benar bahkan tidak segan menegakkan keyakinannya Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus dengan kekerasan. Gerakan fundamentalisme juga percaya bahwa nilai-nilai dari masa lampau akan mewujudkan tatanan yang sangat baik jika diterapkan pada masyarakat masa kini (Patty, 2. Menghadapi kedua ekstrem beragama ini, paham moderat akan bergerak di tengah dengan menghindari keduanya. Kelompok moderat akan menghormati dan menghargai keberadaan pandangan lain. Sekalipun kelompok moderat tidak mengeklaim bahwa hanya ada satu kebenaran seperti pada fundamentalisme, tetapi mereka juga tidak memberikan kebebasan tanpa panduan yang jelas seperti liberalisme. Kelompok moderat akan sangat menghargai jika terjadi proses dialog dalam menyikapi setiap fenomena, bukan memutuskan secara bebas atau sebaliknya sangat kaku (Patty, 2. Misalnya dalam kasus aborsi. Kelompok liberal akan memberikan persetujuan, sedangkan kelompok fundamentalis akan langsung mengecamnya karena dianggap membunuh. Akan tetapi kelompok akan melakukan dialektika terlebih dahulu mengenai alasan aborsi, dampak aborsi dalam jangka panjang, pertimbangan medis bagi ibu dan anak, dan pertimbangan lain, sebelum menyetujui atau menolak. Selain menghindari titik ekstrem, moderasi beragama juga menghindari pemaksaan atau metode kekerasan. Sekalipun nilai dan prinsip yang dihayati moderasi beragama adalah keadilan dan keseimbangan, tetapi usaha mewujudkanya tidak dilakukan dengan pemaksaan dan kekerasan. Moderasi beragama menolak pendekatan yang anarkis dan mengupayakan pendekatan yang lebih lembut, rasional dan dialog yang beradab (Patty. Dalam hubungannya dengan agama atau aliran agama lain, moderasi beragama akan cenderung bersikap menghormati agama lain pada satu sisi, sekaligus melakukan internalisasi nilai-nilai agama pada sisi yang lain. Kedua sisi ini dijaga secara seimbang oleh moderasi beragama. Moderasi beragama akan menghormati agama lain untuk memelihara keharmonisan dan kerukunan. Tetapi internalisasi nilai-nilai agama juga sangat penting agar umat memiliki landasan spiritual dan moral yang kokoh dan jelas (Kementerian Agama RI, 2. Dalam hubungannya dengan kebudayaan, moderasi beragama juga memperlihatkan kehidupan yang ramah budaya. Moderasi beragama akan menerima dan mengakomodasi unsur-unsur kearifan lokal, selama unsur budaya tersebut tidak bertentangan langsung dengan ajaran pokok dalam suatu agama (Kementerian Agama RI, 2. Oleh karena itu, moderasi beragama akan selalu melakukan dialog dengan unsur kearifan lokal dalam daerah tertentu untuk menemukan sejauh mana atau pada bagian mana saja suatu kearifan lokal dapat diakomodasi oleh agama. Berdasarkan uraian di atas, moderasi agama dapat dilihat sebagai sikap yang menjaga keharmonisan, menghargai perbedaan tanpa mengabaikan unsur yang substansif dalam sebuah agama. Sekalipun moderasi agama menerima dan menghormati pandangan agama lain dan budaya tetapi moderasi beragama tetap berupaya menjaga identitas atau ajaran pokok suatu agama. Selain itu, moderasi agama juga menolak jika kehidupan beragama dilaksanakan dengan cara yang terlalu kaku . atau terlalu Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus bebas . Kehidupan beragama yang paling efektif adalah membangun dialog terlebih dahulu dalam setiap pengambilan keputusan. Misi Allah dan Misi Gereja Kata misi berasal dari bahasa Latin, missio, dan Yunani, apostello, yang berarti Aumengutus seseorang atau suatu benda untuk pergiAy (Harianto, 2. Mengenai subjek dari tindakan mengutus dalam misi, gereja menggunakan kata mission Dei yang diartikan sebagai maksud dan tindakan Allah atas seluruh ciptaannya (Kirk, 2. Dengan kata lain, subjek dari misi adalah Allah sendiri. Allahlah yang memberikan misi kepada gereja. Melalui misi. Allah menghendaki agar hakikat dan sifat-Nya yakni penuh kasih, persekutuan, kesamaan, keragaman, rahmat dan keadilan dapat diwujudkan di dunia (Kirk. Dalam Alkitab, misi dapat dipahami sebagai karya Allah yang mengutus diri-Nya ke dalam dunia dalam rangka menyelamatkan manusia (Pasasa & Hartaya, 2. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa kisah. Dalam kisah penciptaan, manusia mendapat misi Allah untuk menguasai dan menaklukkan bumi (Kej. 1:26-. Teks ini berupaya untuk meletakkan kosmos atau seluruh ciptaan sebagai bagian dari misi penyelamatan Allah (Darius, 2. Beberapa waktu kemudian, misi Allah bergeser pada perjanjian dengan Abraham. Allah memilih Abraham dan keturunannya menjadi umat pilihan untuk diberkati dan menjadi berkat di tengah banyak bangsa (Kej. 12:1-. Begitupun dengan Musa yang diutus dalam rangka misi pembebasan Israel dari perbudakan di Mesir (Kel. Kemudian dalam teks Perjanjian Baru, misi gereja bertitik tolak pada misi pemuridan dan pengajaran disampaikan Yesus (Mat. 28:18-. Dalam rangka tugas di atas, muncul pula istilah mission ecclesiae. Menurut J. Andrew Kirk, hakikat misi sama dengan tujuan keberadaan gereja. Gereja hadir bukan tanpa tujuan ilahi atau untuk secara bebas mengonstruksikan misinya sendiri. Gereja ada dan melekat dengan tujuan dan maksud Allah bagi dunia ini (Kirk, 2. Dalam rangka melihat gereja sebagai komunitas misioner. Christopher J. Wright memberikan definisi misi yang lebih luas dengan membebaskannya dari bentuk spesifik ke pengutusan atau pengiriman misionaris ke tempat tertentu untuk melaksanakan sebuah tugas. Menurut Wright, kata missions atau misi-misi merujuk kepada berbagai macam aktivitas di mana umat Allah melibatkan diri dan berpartisipasi dalam misi Allah (Wright, 2. Implikasi dari pengertian ini membuat seluruh aspek kehidupan warga gereja seharusnya bersifat misioner (Wright, 2. Dengan demikian, gereja sebagai komunitas misioner membuat gereja menjadi pelaksana misi Allah dalam seluruh keberadaannya. Hal ini tidak kaku pada pengutusan semata, tetapi juga dalam kehidupan secara holistik. Untuk melakukan tugas ini, ada beberapa bentuk pelaksanaan misi. Menurut Arie Kuyper, terdapat empat bentuk pelaksanaan misi untuk mewujudkan misi dari Allah. Pertama, kesaksian perseorangan. Menurut Kuyper, setiap individu jemaat dipanggil untuk bersaksi dalam kehidupan mereka masing-masing entah dalam lingkungan kerja maupun dalam persekutuan. Kesaksian atau pemberitaan yang ditekankan berpusat pada kehidupan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus yang mencerminkan cinta kasih Allah. Tidak harus hanya dengan khotbah dan kesaksian (Kuyper, 2. Kedua, menjadi jemaat yang misioner. Pemberitaan Injil juga dilaksanakan oleh komunitas jemaat. Jemaat juga diharapkan memperlihatkan persekutuan yang menunjukkan cinta kasih. Warga jemaat bergumul bersama dalam penderitaan bahkan bersama memikul bersama dalam menghadapi isu keadilan dan etika di Jemaat juga perlu terbuka sehingga menjadi tempat atau komunitas yang dirindukan dan didambakan sebagai oikos atau rumah (Kuyper, 2. Ketiga pelayanan dan pendekatan yang komprehensif. Pemberitaan Injil tidak hanya menyentuh aspek kerohanian semata, tetapi seluruh aspek kehidupan manusia. Hal ini dapat diperlihatkan melalui pelayanan kemanusiaan berupa pelayanan pendidikan, kesehatan, maupun kemiskinan (Kuyper, 2. Keempat, pelayanan yang membangun komunikasi. Komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah pelayanan misi gereja berupaya untuk berdialog dengan orang lain, masalah sosial, dan berpartisipasi di dalamnya (Kuyper. Adapun sasaran atau objek dari pelaksanaan misi terdiri dari beberapa bagian. Menurut Kirk pelaksanaan misi gereja merujuk kepada beberapa tugas, yakni misi dalam perjumpaan dengan kebudayaan, mewujudkan keadilan di tengah kemiskinan, mengupayakan perdamaian di tengah fenomena kekerasan, membangun dialog lintas agama, melestarikan lingkungan, serta mengupayakan kemitraan lintas denominasi gereja (Kirk, 2. Pandangan Kirk mengindikasikan bahwa pelaksanaan misi tidak sempit pada menarik penganut agama lain menjadi seorang Kristen. Terlepas dari tepat tidaknya strategi ataupun motif Kristenisasi dalam misi gereja saat ini, pelaksanaan misi gereja tidak seharusnya dipersempit pada Kristenisasi saja. Misi gereja tidak seharusnya mengabaikan kondisi sosial yang juga menjadi bagian dari objek misi. Gereja perlu mengonstruksi misi dalam bingkai kepedulian terhadap pergumulan manusia zaman ini. Pandangan di atas juga didukung oleh Togardo Siburian. Siburian menyebut gereja sebagai agen transformasi ilahi bagi dunia dan masyarakat (Siburian, 2. Gereja tidak sekadar menyampaikan Injil sebagai berita sukacita sebagai misinya ke dalam dunia, tetapi juga menampakkan berita Injil melalui nilai-nilai etis (Siburian, 2. Dalam hal ini, fokus gereja dalam memberitakan Injil tidak terpaku pada seberapa banyak orang yang dapat dialihkan kepercayaannya menjadi penganut Kristen, tetapi yang tidak kalah urgen adalah seberapa besar upaya dan pengaruh gereja terlibat dalam pergumulan manusia masa kini atas isu sosial maupun isu ekologis. Hal ini berlaku dalam lingkungan gereja, lintas denominasi, hingga lintas agama. Berdasarkan uraian di atas, maka bentuk pelaksanaan misi dalam gereja tidak terpaku pada sebuah tradisi pengutusan seorang misioner ke tempat tertentu dalam agenda Misi gereja juga merujuk kepada keterlibatan gereja dalam memelihara nilainilai kehidupan. Gereja diutus untuk terlibat dalam misi penyelamatan dan pembebasan melalui pelayanan kemanusiaan, membangun relasi dan kerukunan, serta keterlibatan dalam mengatasi isu ekologis. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus Latar Belakang Sosio-Historis Surat 1 Korintus Kota Korintus adalah salah satu kota perdagangan strategis pada zaman gereja mula-mula yang terletak di daerah Isthimus. Kota Korintus menghubungkan daerah Yunani di Utara dengan daerah Peloponesus di Selatan (Anderson, 2. Selain itu, kota Korintus juga memiliki dua pelabuhan, yakni pelabuhan Lekhaeum di sebelah barat, dan Kengkrea di sebelah timur. Kedua pelabuhan ini menjadi alternatif transportasi bagi proses perdagangan ke Italia dan daerah Asia (Anderson, 2. Status kota Korintus sebagai kota yang strategis dalam perdagangan membuat kota ini sangat majemuk. Beberapa suku bangsa, kelas sosial, dan agama bertemu di kota ini, seperti bangsa Yahudi, bangsa Roma, kaum pagan, bangsa dari Timur, para pedagang, tuan tanah, para budak, serta kelompok umat Kristen (Spittler, 2. Hal yang menarik dari kemajemukan di kota Korintus adalah tidak adanya dislokasi sosial yang disebabkan oleh Jemaat Kristen tidak mendapat tekanan ataupun penganiayaan dari kelompok agama lain seperti pengalaman gereja mula-mula. Sebaliknya, mereka hidup dalam keharmonisan, hingga jemaat Kristen di Korintus terintegrasi dalam keharmonisan sosial kota Korintus (Barclay, 2. Sekalipun keharmonisan sosial di Korintus dapat menjadi lahan subur bagi keharmonisan perbedaan agama dan tidak ada konflik lintas agama, tetapi kondisi ini bukanlah situasi yang benar-benar ideal. Penerimaan, keharmonisan dan integrasi sosial justru memberikan beberapa pengaruh negatif terhadap jemaat. Integrasi sosial membuat jemaat kurang memperhatikan solidaritas internal. Sebaliknya interaksi yang harmonis justru memberikan dampak negatif bagi kehidupan jemaat. Kondisi ini membuat perbedaan minat teologi, latar belakang etnik, agama yang dianut jemaat sebelum menerima Kristen, kehidupan sosial dan ekonomi menjadi motif paling berpengaruh dalam mengonstruksikan gaya hidup jemaat. Perbedaan ini berkontribusi dalam munculnya refleksi ritual dan etika yang beragam sehingga tidak ada acuan kolektif bagi jemaat Korintus. Hal ini mengakibatkan terjadinya konflik dalam internal jemaat (Kok, 2. Interaksi harmonis lintas agama membuat perbedaan latar belakang ini menjadi semakin tajam. Standar ritus dan etis yang dipedomani jemaat juga dipengaruhi oleh perbedaan latar belakang ini. Akibatnya, jemaat yang berasal dari background yang berbeda menghasilkan standar etis yang berbeda pula. Konflik akibat kemajemukan di Korintus pertama kali ditemukan dalam isu teologis, yakni berkembangnya berbagai aliran yang didasarkan pada perbedaan peberita Injil yang dikenal oleh jemaat. Jemaat Korintus mengenal Injil dari beberapa orang. Russel Spittler mengidentifikasi bahwa setidaknya terdapat empat kelompok khusus dalam jemaat mengenai pengenalan mereka akan Injil. Kelompok pertama adalah orang yang mengenal Injil dari pengajaran Paulus. Kelompok kedua adalah orang yang terkesan dengan pengajaran dan kefasihan Apolos dalam mengajar. Kelompok ketiga adalah kelompok Kristen-Yahudi yang memopulerkan Petrus. Kemudian kelompok keempat adalah kelompok yang merasa tidak mengikut manusia siapa pun yang dianggap sebagai pemberita Injil, selain hanya mengikut Kristus (Spittler, 2. Menurut Spittler. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus perkembangan kelompok-kelompok ini merupakan bentuk yang lazim dalam konteks gereja awal. Jemaat Korintus rupanya dipengaruhi oleh keberadaan sekte-sekte dalam setiap agama, seperti kelompok Farisi. Saduki. Eseni dan Zelot dalam Yudaisme, ataupun keberadaan kelompok Stoa. Epikuros, dan Sophisme dalam perkembangan filsafat (Spittler, 2. Perbedaan dan pengelompokan yang didasarkan pada aliran pikiran seperti ini kemudian diikuti oleh gereja Korintus. Sekaitan dengan permasalahan akibat isu teologis di atas, jemaat Korintus juga berselisih terkait karunia-karunia rohani. Beberapa jemaat juga menjadikan karunia rohani sebagai prioritas dalam jemaat . Kor. 12-14:. Kondisi ini membuat jemaat gagal menggunakan karunia Allah untuk membangun tubuh Kristus, yakni jemaat (Naselli, 2. Konflik yang berasal dari perbedaan latar belakang etnik dan agama prakekristenan dapat ditemukan dalam masalah seksualitas. Kehadiran kuil di puncak bukit Akrokorintus yang mempekerjakan pelacur bakti dalam pengabdian kepada dewi Aphrodite membuat jemaat ikut tejerumus dalam percabulan (Spittler, 2. Beberapa jemaat yang sebelumnya adalah penyembah berhala masih terlibat dalam hubungan dengan pelacur bakti (Pfitzner, 2. Akan tetapi pada saat yang sama berkembang juga pemahaman dari kelompok tertentu yang menekankan sikap yang mendiskreditkan hubungan seksual. Hubungan seksual dianggap sebagai praktik yang akan menghalangi mereka menerima karunia kenabian (Barclay, 2. Perbedaan di atas juga diperlihatkan dalam perilaku makan. Beberapa jemaat masih terlibat dalam undangan makan yang diselenggarakan oleh kelompok penyembah berhala. Hal ini merujuk kepada undangan makan di rumah, maupun terlibat dalam pesta makan yang diselenggarakan oleh penyembah berhala. Selain itu, beberapa jemaat bahkan mengizinkan mereka yang berada di luar jemaat untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan ibadah yang diselenggarakan oleh jemaat (Barclay, 2. Pada saat yang sama, beberapa jemaat justru tersandung dengan perilaku mereka yang terlibat dalam praktik makan bersama dengan penyembah berhala (Kok, 2. Selain latar belakang etnik ataupun agama, perbedaan latar belakang sosio-ekonomi juga mempengaruhi munculnya perilaku negatif dalam jemaat. Menurut John M. Barclay, ikatan emosional di antara kelompok ekonomi menengah ke atas membuat jemaat dari kelompok kaya lebih peduli dengan presepsi kelompok elite non-Kristen dari pada mereka yang menjadi kelompok menengah ke bawah sesama anggota jemaat (Barclay. Hal inilah yang kemudian membuat kelompok orang-orang kaya tidak segan untuk terlibat dalam pengadilan sekular untuk menyelesaikan perkaranya dibanding dalam jemaat, sekalipun yang digugat adalah anggota jemaat sendiri yang disebut Paulus saudara . Kor. 6:1-9. Natur hukum Romawi yang selalu menguntungkan pihak yang lebih kuat atau lebih kaya membuat jemaat tidak segan untuk mengajukan penyelesaian perkaranya ke pengadilan sekular (Keener, 2. Perbedaan latar belakang sosio-ekonomi juga terlihat berpengaruh dalam pelaksanaan perjamuan makan . Kor. 11:17-. Perjamuan kasih selalu dilaksanakan dengan membawa makanan ke pertemuan untuk berbagi dengan orang miskin. Akan tetapi. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus kelompok donatur dominan, dalam hal ini jemaat dari keluarga kaya, tidak menunjukkan solidaritas kepada kelompok yang hanya datang dengan makanan seadanya bahkan tanpa Ketika tiba momen makan, mereka lebih dahulu mengambil makanan yang dibawanya, tanpa memperhitungkan kelompok yang kekurangan makanan. Akhirnya mereka yang lebih dahulu dan lebih banyak mengambil makanan, pulang dalam keadaan mabuk, dan yang masuk belakangan pulang dalam keadaan mabuk (Anderson, 2018. Spittler, 2. Beberapa masalah di atas memperlihatkan bahwa letak permasalahan keberagaman di jemaat Korintus bukan karena konflik dengan agama lain, melainkan justru karena keharmonisan beragama yang tanpa batas. Kemajemukan dan keharmonisan beragama di Korintus menyebabkan konflik internal yang justru merugikan jemaat Korintus sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa keharmonisan lintas agama adalah sebuah masalah. Letak permasalahan utama dalam jemaat Korintus adalah tidak adanya acuan kolektif jemaat dalam berjumpa dengan agama atau kepercayaan lain. Jemaat yang hadir dalam keharmonisan beragama menghasilkan respons yang beragam sehingga justru jemaat lah yang mengalami konflik dan perpecahan. Oleh karena itu. Paulus menulis surat 1 Korintus untuk menyikapi beberapa perselisihan akibat kemajemukan internal di atas. Teks 1 Korintus tidak hanya membenahi posisi dan hubungan jemaat dengan kelompok nonKristen, tetapi juga menyikapi keberagaman yang berasal dari internal jemaat. Beberapa perintah yang diberikan oleh Paulus kemudian dapat menjadi acuan untuk merekonstruksi pelaksanaan misi gereja dalam konteks kemajemukan secara khusus moderasi beragama. Misi Menurut Surat 1 Korintus dalam Konteks Moderasi Beragama Berdasarkan konteks sosio-historis di atas, dan mengacu pada beberapa pesan yang disampaikan Paulus melalui surat 1 Korintus, terdapat setidaknya tiga bentuk misi yang ditemukan, sekaitan dengan perspektif moderasi beragama. Upaya tersebut adalah menolak sinkretisme, menginternalisasi identitas keagamaan dan etika kolektif, serta menjadikan kasih sebagai spirit dalam membentuk komunitas yang solider dan misioner. Menolak Sinkretisme Salah satu sikap beragama dalam perjumpaan dengan agama lain yang ditegaskan Paulus adalah penolakan terhadap sikap sinkretisme. Sinkretisme yang dimaksud di sini merupakan kondisi mengkombinasikan atau mencampuradukkan dua kepercayaan yang berbeda (Browning, 2. Dalam perkembangan jemaat mula-mula, mereka mendapat pengaruh sangat kuat dari agama-agama serta kepercayaan mereka sebelum masuk Kristen. Akibatnya. Paulus mendapati jemaat tidak memiliki keselarasan dengan nilai-nilai kristiani dalam pandangan dan praktik hidup mereka. Tidak sedikit jemaat yang masih mendapat pengaruh besar dari kehidupan agama sebelum mereka menjadi Kristen. Akibatnya jemaat hidup terombang-ambing. Mereka menjadi Kristen tetapi di sisi lain hidup dalam agama sebelumnya (Wahono, 2. Praktik ini dapat ditemukan melalui keterlibatan jemaat dalam pernikahan inses dan hubungan dengan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus pelacur bakti . Kor. 5:1-13. 6:12-. , serta makan daging yang dipersembahkan ke berhala, menghindari jamuan makan yang menghidangkan daging persembahan kepada berhala, dan terlibat dalam pesta perjamuan kepada berhala . Kor. 8:1-. (Pfitzner, 2011. Spittler, 2. Sinkretisme yang dimaksud di sini adalah praktik beragama yang mencampuradukkan praktik kepercayaan yang berbeda, bahkan mencemplungkan diri dalam praktik agama lain yang justru bertentangan secara spiritual maupun etis dengan kepercayaan Kristen. Kondisi di atas memperlihatkan bahwa sekalipun jemaat Korintus telah menjadi Kristen, pengaruh dari kehidupan agama mereka sebelumnya belum sepenuhnya lepas. Kondisi ini kemudian dikecam Paulus. Integrasi dan keharmonisan dengan agama lain di luar Kristen seharusnya tidak membuat jemaat larut dalam kehidupan bersama kelompok non-Kristen dan mengikuti ritual mereka (Barclay, 2. Berdasarkan kondisi di atas maka Paulus menegaskan penolakannya terhadap sinkretisme di Korintus. Setidaknya terdapat dua alasan yang dikemukakan Paulus untuk menolak keterlibatan jemaat dalam kedua kasus di atas. Pertama, untuk mengupayakan kemurnian rohani jemaat. Kemurnian rohani yang disoroti Paulus berangkat dari praktik percabulan. Praktik percabulan yang dimaksud Paulus merupakan tindakan jemaat yang sekalipun telah menjadi Kristen tetapi masih terlibat dalam hubungan dengan pelacur bakti di kuil untuk menyembah dewi Aphrodite (Spittler, 2. Selain itu, terdapat pula perkawinan inses yang dilakukan di Korintus yang mempengaruhi kehidupan jemaat (Naselli, 2. Paulus menyikapi hal ini dengan menegaskan bahwa tubuh jemaat adalah bait Allah . :17-. Jemaat yang sudah mengikatkan diri dengan Allah menjadi satu roh dengan-Nya. Hal ini membuat tindakan percabulan merupakan pelanggaran hal suci. Paulus menggunakan analogi perbudakan, di mana menjadi hamba bagi tuan yang berstatus tinggi berimplikasi pada kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, dalam konteks penebusan manusia melalui Yesus, keterikatan dan status manusia juga beralih kepada status istimewa, sekaligus tubuh mereka harus digunakan untuk memuliakan Tuhan (Anderson, 2. Berangkat dari asumsi di atas. Paulus menegaskan penolakan terhadap percabulan. Tubuh jemaat yang menjadi tempat kediaman Allah atau bait Allah, tidak seharusnya digunakan untuk bergabung dengan pelacuran yang menyembah dewi Aphrodite, serta praktik inses yang dipraktikkan di Korintus (Spittler, 2. Hal ini juga terjadi dalam keterlibatan jemaat di undangan makan ataupun makan daging persembahan berhala. Keterlibatan jemaat dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan dengan berhala atau roh jahat, tentu mengacaukan kehidupan rohani jemaat (Spittler, 2. Jemaat tidak dapat berpartisipasi dalam dua persekutuan yang kontras yakni persekutuan dengan Tuhan dalam perjamuan kasih, sekaligus dalam persekutuan dengan berhala dalam jamuan makan penyembah berhala (Naselli, 2. Tindakan ini jelas mempermainkan persekutuan dengan Kristus. Oleh karena itu, jemaat harus meninggalkan kebiasaan ini. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus Alasan kedua adalah agar jemaat tidak menjadi batu sandungan bagi sesamanya yang lemah . Kor. 8:7-. Sekalipun Paulus menegaskan bahwa tidak ada berhala, dan sekaligus tidak ada patokan mengenai halal-haram dalam makanan, namun pengetahuan dan wawasan seperti ini tidak terdapat pada semua jemaat. Melihat seorang anggota jemaat terlibat memakan daging, menghadiri jamuan, atau menghadiri pesta yang tertuju kepada penyembahan berhala akan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah. Oleh karena itu, keterlibatan dalam ketiga masalah di atas seharusnya dihindari agar tidak menjadi penghalang bagi iman dalam jemaat (Pfitzner, 2. Kedua alasan di atas memperlihatkan bahwa sikap sinkretis yang diperlihatkan jemaat Korintus bersifat destruktif terhadap eksistensi jemaat. Pembahasan masalah di atas memperlihatkan bahwa Paulus hendak menyadarkan jemaat bahwa tindakan mereka yang melakukan percabulan serta makan daging persembahan berhala merupakan pelanggaran terhadap keterikatan jemaat pada Kristus. Jika jemaat tetap terlibat percabulan dan makan persembahan berhala, tentu jemaat sedang membangun hubungan dengan dewa-dewi yang disembah agama lain. Dalam teks Perjanjian Lama tindakan seperti ini selalu diganjar dengan hukuman oleh Allah. Hal ini dapat dilihat dalam peristiwa di anak lembu emas (Kel. 32:1-. , peristiwa Baal Peor (Bil 25:1-. , serta beberapa kisah bangsa Israel pada zaman hakim-hakim maupun zaman monarki. Oleh karena itu. Paulus menghendaki agar jemaat dapat menahan diri dari keterlibatan dalam praktik dan ritual agama lain yang akan mengacaukan kemurnian ritual maupun etika hidup jemaat. Berdasarkan penjelasan di atas, maka misi pertama yang dilakukan gereja dalam kemajemukan adalah menolak pencampuran identitas atau sinkretisme. Dalam konteks moderasi beragama, praktik liberalisme yang mencampuradukkan identitas keagamaan juga ditolak. Moderasi beragama tidak mengkompromikan prinsip beragama yang dianut demi menyenangkan pihak lain yang berbeda agama (Kementerian Agama RI, 2. Sikap moderat tidak berarti menerima dan tercemplung ke dalam praktik agama lain. Sebaliknya, sikap moderat tetap berupaya agar identitas keagamaan suatu agama tetap eksis di ruang publik, sekaligus menunjukkan penerimaan dan penghormatan terhadap kehadiran agama lain. Dengan kata lain, gereja mendapat misi untuk menghindari upaya mencampuradukkan identitas spiritual maupun etika Kristen dengan kepercayaan lain, yang bersifat destruktif terhadap identitas keagamaan Kristen. Internalisasi Identitas Keagamaan dan Etika Kolektif Internalisasi identitas keagamaan merupakan bagian yang berkesinambungan dengan penolakan sinkretisme. Pentingnya internalisasi nilai-nilai suatu agama merupakan upaya untuk membuat penganut agama dapat memiliki landasan spiritual dan etika dalam kehidupan jemaat (Kementerian Agama RI, 2. Pembahasan sebelumnya memperlihatkan bahwa Paulus menolak dengan keras sikap beragama yang mencampuradukkan dan cenderung membuat identitas keagamaan menjadi bias oleh praktik hidup yang sinkretis. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus Sekalipun dalam konteks moderasi beragama, agama-agama tidak seharusnya bersifat eksklusif dan antipati pada kepercayaan lain, namun hal ini tidak berarti boleh terbuka sebebas-bebasnya hingga identitas keagamaan menjadi bias. Paulus menegaskan posisi jemaat yang seharusnya tetap teridentifikasi dalam relasi dengan kelompok nonKristen. Dalam hal ini. Paulus tidak meminta jemaat untuk menarik diri dari dunia, tetapi yang ditekankan adalah agar jemaat tetap mempertahankan identitasnya sebagai Kristen, baik secara internal maupun dalam peran sosial warga jemaat (Barclay, 2. Paulus sangat menekankan pentingnya identitas keagamaan Kristen yakni tunduk pada Kristus. Ketundukan pada Kristus diperlihatkan melalui sikap dan tindakan yang tidak lagi tunduk pada metode, standar, kuasa atau aturan lain, selain kuasa dan pemerintahan Kristus sendiri (Lowery, 2. Keadaan ini membuat jemaat dapat mengidentifikasikan kehadiran mereka secara berbeda dari orang lain di sekitarnya. Berita tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus menjadi inti dari pemberitaan Injil. Berita ini mengimplikasikan kehidupan yang murni di hadapan Allah dengan menyangkal nilai-nilai sekular yang bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani (Naselli, 2. Tubuh sebagai bait Roh Kudus dan jemaat sebagai komunitas yang bersekutu dengan Kristus, menjadi landasan identitas spiritual dan etis bagi jemaat Korintus. Gereja sebagai bait Roh Kudus menempatkan jemaat di bawah kepemilikan Allah, sehingga sikap dan tindakan juga berorientasi pada kemuliaan Allah (Pfitzner, 2. Mengenai seksualitas. Paulus menegaskan penolakan terhadap percabulan dan menekankan kehidupan yang kudus dan tubuh sebagai alat untuk memuliakan Tuhan . Kor. 6:12-. Paulus juga mengajak jemaat agar bersama-sama menerima hidup melajang dan pernikahan sebagai karunia Tuhan, tanpa perlu mempertentangkannya . Kor. 7:1-. Dalam hal ini Paulus menolak paham di jemaat Korintus yang melegalkan pelacuran bakti dan hubungan inses, tetapi pada saat yang sama juga menolak upaya mendiskreditkan Dalam perkara makan. Paulus berangkat dari perjamuan makan sebagai usaha mempersatukan semua jemaat dengan Kristus . Kor. 10:16-. Oleh karena itu, persekutuan yang saling berbagi makanan menjadi identitas jemaat sebagai bentuk partisipasi dan menghayati pengorbanan Kristus (Naselli, 2. Selain itu, persekutuan ini seharusnya menolak adanya persekutuan lain yang disimbolkan dalam jamuan makan daging persembahan berhala ataupun undangan jamuan makan dalam komunitas penyembah berhala (Spittler, 2. Beberapa penekanan di atas mengindikasikan bahwa identitas agama tidak direduksi oleh ruang publik atau perjumpaan dengan agama lain. Jemaat Korintus memiliki panduan etis yang secara kolektif seharusnya dipraktikkan dan tidak direduksi di ruang Jemaat Korintus perlu menjaga kekudusan tubuh dalam masalah yang menyangkut Sementara dalam persekutuan makan, identitas jemaat teridentifikasi dari makanan sekaligus cara makan yang dapat dibedakan dari kehidupan penduduk Korintus secara umum. Identitas ini perlu dijaga dan diinternalisasikan dalam komunitas jemaat. Identitas agama merupakan landasan spiritual dan etika dan sangat konstruktif terhadap kehidupan (Kementerian Agama RI, 2. Moderasi beragama berupaya untuk Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus mengarahkan penganutnya percaya diri dengan keyakinan agamanya, dan menjalankan ajaran agamanya secara serius (Kementerian Agama RI, 2. Oleh karena itu, kekristenan juga memiliki misi untuk menginternalisasikan setiap pengajaran kepada Misi ini akan membantu pengejawantahan nilai-nilai etis secara kolektif dalam kehadiran umat kristiani di ruang publik. Kasih sebagai Spirit Komunitas yang Solider dan Misioner Masalah yang tidak kalah penting ditekankan oleh Paulus dalam upaya memberitakan Injil di tengah agama-agama lain adalah menjadi komunitas yang solider. Selain karena masalah sinkretisme, problem lain di Korintus adalah perpecahan akibat perkembangan aliran-aliran gereja dan lemahnya ikatan emosional atau solidaritas antara anggota jemaat satu dengan yang lain. Masalah ini dapat dilihat dalam teguran Paulus kepada jemaat dalam beberapa isu, yakni perpecahan di jemaat . Kor. 3:1-. , perselisihan internal yang melibatkan pengadilan di luar gereja . Kor. 6:1-. , tidak tertibnya pelaksanaan perjamuan kasih . Kor. 11:17-. , dan prioritas atas karunia rohani . Kor. 12-14:. Beberapa masalah di atas mendorong Paulus untuk melakukan pembenahan Berbagai aliran dalam jemaat perlu memahami bahwa Allahlah yang menjadi sentrum dari segala bentuk pertumbuhan jemaat. Paulus menempatikan dirinya dan Apolos dalam tenses aorist . enanam dan menyira. , sedangkan Allah dalam tenses imperfect . emberi pertumbuha. Kor. Teks ini tidak sekadar memperlihatkan perbedaan kata kerja, tetapi juga perbedaan verbal aspek. Kata menanam dan menyiram mengkodekan aspek perfektif, sedangkan memberi pertumbuhan mengkodekan aspek Hal ini mengindikasikan bahwa yang seharusnya disorot oleh jemaat adalah tindakan Allah bukan tindakan dari para penginjil ini (Campbell, 2. Dalam kasus perselisihan di pengadilan sekular. Paulus menegur jemaat yang saling memperkarakan dalam pengadilan yang sarat kesenjangan sosial dan kecurangan. Paulus mendorong jemaat agar membangun solidaritas di antara mereka, mengupayakan resolusi konflik secara internal, serta belajar untuk membangun sikap rela berkorban dan menderita bagi sesama (Saputra et al. , 2. Sementara itu, dalam masalah ketidaktertiban dalam perjamuan kasih. Paulus mendorong jemaat untuk menghayati tradisi ekaristi yang diamanatkan oleh Yesus. Tradisi ini mendorong jemaat agar berpartisipasi dalam usaha Allah berkorban untuk menyelamatkan kehidupan, melalui tindakan berbagi (Wirzba, 2. Kemudian pada kasus tentang prioritas atas karunia rohani. Paulus menekankan agar jemaat mewujudkan kasih, serta menggunakan karunia rohani untuk membangun tubuh Allah, yakni gereja (Naselli, 2. Beberapa alternatif yang ditawarkan di atas mengindikasikan usaha Paulus untuk menjadikan jemaat sebagai komunitas yang solider dan misioner. Berbagai kasus di atas akan mengancam keutuhan dan persekutuan jemaat. Sikap apatis orang kaya terhadap nasib orang yang lemah atau miskin dalam jemaat di kasus pengadilan sekular maupun perjamuan kasih akan melemahkan solidaritas jemaat. Perselisihan akibat terjadi Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus pengelompokan aliran serta perbandingan karunia juga akan memicu perpecahan. Oleh karena itu. Paulus menekankan perlunya solidaritas antar anggota jemaat melalui tindakan kasih, baik dalam menyikapi perselisihan dan perbedaan, kesediaan berkorban, serta berbagi dengan orang yang miskin. Solidaritas yang dibangun dalam teks ini akan membantu jemaat dapat mengatasi berbagai masalah-masalah yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan di jemaat, sehingga persekutuan jemaat semakin kuat. Kasih menjadi landasan dalam menyikapi konflik untuk merekatkan berbagai perbedaan di atas. Kasih menjadi spirit moderasi untuk mengatasi tegangan akibat perbedaan paham maupun kelas sosial di Korintus. Selain itu, upaya membangun solidaritas juga akan berimplikasi pada terciptanya komunitas jemaat yang misioner. Selain menimbulkan perpecahan secara internal, berbagai permasalahan jemaat Korintus juga membuat citra gereja di ruang publik ikut tercemar. Surat 1 Korintus mengarahkan jemaat agar menempatkan diri sebagai umat yang memelihara perdamaian yang berasal dari Tuhan yang mendamaikan (Kok, 2. Menjadi komunitas yang penuh kasih dan saling menolong dalam kesulitan membuat jemaat akan dilihat sebagai komunitas yang misioner (Kuyper, 2. Tindakan kasih dalam menyikapi perbedaan konflik tidak sekadar membangun solidaritas di antara jemaat, tetapi juga dapat membuat jemaat dapat dilihat dari luar mengenakan identitas yang berbeda (Kok, 2. Perbedaan atau kekhasan ini merupakan citra positif yang melekat kepada jemaat sebagai komunitas yang menyikapi perbedaan dengan kasih. Dengan demikian, orang lain di luar jemaat dapat melihat jemaat sebagai komunitas yang perlu diteladani dalam pengejawantahan nilai-nilai kehidupan. Alternatif yang ditunjukkan Paulus dalam menyikapi perbedaan dan konflik mengindikasikan bahwa kasih merupakan spirit yang dapat mengejawantahkan cita-cita misioner dan moderasi pada saat yang bersamaan. Kasih memungkinkan jemaat untuk menyikapi perbedaan internal dan menjauhkan mereka dari titik ekstrem untuk saling mendiskreditkan akibat perbedaan paham maupun perbedaan kelas sosial. Pada saat yang sama, kasih juga memberi citra yang positif bagi jemaat dalam pengalaman dan pengamatan orang luar. Jemaat dapat dikenal sebagai komunitas yang memiliki kekhasan dalam menyikapi masalah dan menyelesaikannya dengan alternatif yang menjunjung tinggi rasa kemanusiaan Kesimpulan Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, nampak bahwa orientasi misi gereja tidak melulu mengenai kristenisasi atau pun Aumencuri dombaAy. Kehadiran gereja di tengah pluralitas tidak hanya berhadapan dengan sikap fanatisme yang merasa benar sendiri dan menolak pandangan orang lain. Sikap dan tindakan liberalisme yang terlalu cair dan tercemplung ke dalam praktik dan paham agama lain juga tidak kalah urgen untuk Liberalisme dapat mereduksi identitas tulen dari suatu agama. Kondisi ini direspons Paulus dengan merekonstruksi misi gereja di tengah keberagaman yaitu menolak sinkretisme, menginternalisasi identitas gereja, serta menjadikan kasih sebagai spirit dalam Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus membangun komunitas yang solider dan misioner. Kemurnian identitas adalah misi gereja dalam rangka mengarahkan penganut sebuah agama mewujudkan keseriusan dalam beragama dan mencegah liberalisme atau sinkretisme beragama. Gereja menekankan kasih menjadi spirit bagi jemaat untuk menempatkan diri secara tepat dalam perbedaan sekaligus memperlihatkan kekhasan jemaat dalam mengejawantahkan nilai-nilai kehidupan. Orientasi misi inilah yang menjadi penekanan Paulus bagi jemaat Korintus di tengah Bentuk misi ini dapat menjadi rekomendasi bagi gereja masa kini untuk melaksanakan misi dalam konteks moderasi beragama. Dengan demikian, gereja hadir di ruang publik bukan sebagai ancaman bagi agama atau pun denominasi lain. Gereja juga tidak lagi menjadi bahan tontonan karena percekcokan yang tidak mau mengalah terkait isu-isu kontemporer. Gereja yang menolak liberalisme dapat dikenali sebagai gereja yang tulen dan tidak tercemplung dalam praktik agama lain. Gereja dapat mengaktualisasikan kehadirannya di ruang publik dengan identitas kristiani, tanpa harus merusak kedamaian dan keberagaman dalam perjumpaan dengan umat beragama dan denominasi lain Daftar Rujukan Anderson. Surat 1 Korintus: Membereskan Jemaat Urban yang Muda. Momentum. Anjaya. , & Arifianto. Mengembangkan Misi Gereja dalam Bingkai Moderasi Beragama. Thronos, 3. , 1Ae10. https://doi. org/10. 55884/thron. Aritonang. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia. BPK Gunung Mulia. Barclay. Thessalonica and Corinth: Social Contrasts in Pauline Christianity . In E. Adams & D. Horrell (Eds. Christianity at Corinth: The Quest for the Pauline Church . 183Ae. Westminster John Knox Press. Browning. Kamus Alkitab. BPK Gunung Mulia. Campbell. Basic of Verbal Aspect in Biblical Greek. Zondervan. Darius. Membaca dan Menafsir Kejadian 1:26-28 dalam Fungsi Kosmis Budaya Toraja untuk Membangun Paradigma Misi Kontekstual-Ekologis. Melo, 2. , 36Ae https://doi. org/10. 34307/mjsaa. Darius. , & Tanduklangi. Menakar Posisi Amanat Agung dalam Konteks Moderasi Beragama. In Penguatan Moderasi Beragama dalam Perspektif Pendidikan. Budaya, dan Tradisi Agama-agama di Indonesia . 229Ae. Kanisius. Harianto. Teologi Misi: Dari Missio Dei ke Missio Ekklesia. ANDI. Hasan. Prinsip Moderasi Beragama dalam Kehidupan Berbangsa. Jurnal Mubtadiin, 7. , 110Ae123. http://journal. id/index. php/mubtadiin/article/view/104 Keener. 1Ae2 Corinthians. Cambridge University Press. Kementerian Agama RI. Moderasi Beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia. Kirk. Apa itu Misi? BPK Gunung Mulia. Kok. Mission and Ethics in 1 Corinthians: Reconciliation, corporate solidarity and other-regard as missionary strategy in Paul. HTS Teologiese Studies, 68. , 1Ae Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024 Rekonstruksi Misi dalam Konteks Moderasi Beragama: Belajar dari Surat 1 Korintus http://dx. org/10. 4102/hts. Kuyper. Missiologia. BPK Gunung Mulia. Lowery. A Biblical Theology of the New Testament (R. Zuck & D. Bock . )). Gandum Mas. Naselli. The Structure and Theological Message of 1 Corinthians. Presbyterion, 44. , 98Ae114. https://andynaselli. com/wpcontent/uploads/2018_Structure-and-Message-of-1-Corinthians. Pasasa. , & Hartaya. Perubahan-Perubahan Paradigma Dan Praksis Misi Gereja Di Era Society 5. Caraka, 2. , 294Ae305. https://ojs. id/index. php/ibc/article/view/76 Patty. Moderasi Beragama: Suatu Kebajikan Moral Etis. BPK Gunung Mulia. Pentury. Moderasi Beragama dan Kristen Moderat: Sebuah Tantang-Jawab. Tim Pelaksana Redaksi Buku (Ed. Mozaik Moderasi Beragama dalam Perspektif Kristen . xvAexxi. BPK Gunung Mulia. Pfitzner. Ulasan atas 1 Korintus: Kesatuan dalam Kepelbagaian. BPK Gunung Mulia. Qurtuby. Al. Prolog: Moderasi Beragama dalam Kristen dan Islam. In Tim Pelaksana Redaksi Buku (Ed. Mozaik Moderasi Beragama dalam Perspektif Kristen . xxvAexi. BPK Gunung Mulia. Rerung. Menangkal Radikalisme Agama Berdasarkan Reinterpretasi Amanat Agung Injil Matius Dalam Konteks Poskolonial. Kamasean, 3. , 40Ae54. https://doi. org/10. 34307/kamasean. Saputra. Prie. , & Grace. Kritik Historis terhadap Konsep AuMencari Keadilan Pada Orang Tidak BenarAy dalam 1 Korintus 6:1-9a. Apokalupsis, 13. , 153Ae175. https://doi. org/10. 52849/apokalupsis. Setiabudi. Pesan Moderasi Beracjama dalam Pancasila dan Iman KrisIen. Tim Pelaksana Redaksi Buku (Ed. Mozaik Moderasi Beragama dalam Perspektif Kristen . 98Ae. BPK Gunung Mulia. Siahaan. , & Kause. Hospitalitas sebagai Laku Hidup Menggereja dalam Bingkai Moderasi Beragama di Indonesia. Danum Pambelum, 2. , 232Ae https://doi. org/10. 54170/dp. Siburian. Gereja Misional di Tengah Pergumulan Manusia: Tinjauan Teologis. Stulos, 16. , 1Ae27. http://103. 90/download/stulos/stulos-v16-no01/StulosV16-no01-1-GEREJA MISIONAL ERA INI. Spittler. Pemahaman Dasar Kitab Korintus. Gandum Mas. Sumartana. Tuhan dan Agama dalam Pergulatan Batin Kartini. Gading Publishing. Tampake. Konsolidasi Demokrasi Indonesia (Sebuah Refleksi Kristian. Mozaik Moderasi Beragama dalam Perspektif Kristen . 131Ae. BPK Gunung Mulia. Wahono. Di Sini Kutemukan. BPK Gunung Mulia. Wirzba. Food for Theologians. Interpretation: A Journal of Bible and Theology, 67. , 374Ae382. https://doi. org/10. 1177/0020964313495518 Wright. Misi Umat Allah. Literatur Perkantas. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2024