Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 ANALISIS HARGA TERHADAP ROOM OCCUPANCY HOTEL DAN PENGINAPAN DI KOTA PANGKALPINANG ¹Juhari ¹Dosen Tetap STIE Pertiba Pangkalpinang Jl. Kejaksaan No.9, Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juharitz@gmail.com ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect on the price of the analysis room occupancy in hotels and inns in Pangkalpinang. Methods of data collection in this research is using secondary data regarding the price (room rate) and the occupancy rate of rooms (room occupancy) at 13 hotels and 7 hotels in Pangkalpinang. Methods of data analysis using simple regression analysis. The findings of this study are positive and significant effect on the price of the room occupancy. Meanwhile, based on the results of the analysis of the correlation coefficient and determination, influence the price of the room occupancy hotels in Pangkalpinang is very strong, of 74.8%, while the remaining 25.2% is influenced by other factors such as service quality, customer satisfaction, promotions and so were not examined in this study. Keywords: Price and Room Occupancy ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh analsis harga terhadap room occupancy pada hotel dan penginapan di Kota Pangkalpinang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data sekunder mengenai harga (tarif kamar) dan tingkat hunian kamar (room occupancy) pada 13 hotel dan 7 penginapan di Kota Pangkalpinang. Metode analisis data menggunakan analisis regresi sederhana. Temuan dari penelitian ini adalah harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap room occupancy. Sedangkan, berdasarkan hasil analisis koefisien korelasi dan determinasi, pengaruh harga terhadap room occupancy Hotel di Kota Pangkalpinang adalah sangat kuat, yakni sebesar 74,8%, sedangkan sisanya yaitu sebesar 25,2% dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti kualitas layanan, kepuasan pelanggan, promosi dan sebagainya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata Kunci : Harga dan Room Occupancy Informatics and Business Institute Darmajaya 1 Juhari I. Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 juga akan memotivasi pengusaha hotel PENDAHULUAN untuk lebih berinovatif dan berkompetitif Di era teknologi informasi sekarang ini pemerintah sedang giat-giatnya menggalakkan atau meningkatkan pariwisata yang dirasakan akan menjadi kebutuhan yang penting di terutama dalam menentukan harga kamar yang terjangkau dengan tetap memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggannya. samping kebutuhan pokok yang lain, sehingga perlu Menurut Kotler (2003:159), batasan bagi unsur penunjang pariwisata seperti tentang pemasaran hotel adalah ilmu yang travel biro, hotel dan organisasi yang bertujuan untuk menyenangkan tamu dan mendukung kepariwisataan daerah untuk dari meningkatkan keuntungan. kegiatan khususnya pemasaran meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Bangka Belitung. kegiatan kegiatan bisnis yang terdapat di Bangka Belitung, maka banyak pula penyedia jasa hotel (akomodasi) yang mendirikan usahanya untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Hotel atau penginapan bukan suatu tujuan bagi wisatawan tapi merupakan tempat dimana wisatawan beristirahat dan mengatur kelanjutan kegiatannya ataupun bisnis. di Pangkalpinang, mengakibatkan semakin ketatnya persaingan antara hotel yang satu dengan yang lainnya dalam memasarkan jasa serta pelayanan memperoleh Oleh karena itu Kotler satisfying the human needy. usaha untuk meningkatkan pemasaran jasa perhotelan terdapat dua faktor kegiatan yaitu: penjualan kamar (rooms), dan makanan serta minuman (food and beverages). Ini menjadi pemikiran dan tugas penting bagi pemasar jasa perhotelan. Dalam melakukan kegiatan ini, maka dibutuhkan suatu strategi yang bisa digunakan dalam pemasaran perhotelan. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan konsep harga Dengan bertambahnya jumlah hotel produk, hotel menyebutnya sebagai sensitive serving and Adapun Dengan banyaknya objek wisata dan itu, yang yang kompetitif dan terjangkau. Tingkat hunian kamar merupakan faktor penentu bagi kelangsungan hidup perusahaan dalam hal ini hotel dan sekaligus dapat menunjukkan posisi ditawarkan. Peningkatan jumlah hotel ini Informatics and Business Institute Darmajaya 2 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 perusahaan di pasar. Sekarang ini tingkat akhirnya hunian kamar pada hotel dan penginapan di meningkat pesat. Kota Pangkalpinang Hal ini, disebabkan oleh banyak hal, yakni harga yang tinggi, banyak berdirinya hotel dan penginapan baru yang menimbulkan persaingan, promosi yang kurang optimal dan pelayanan hotel yang kurang memuaskan. berbagai strategi diantaranya implementasi harga kamar hotel yang kompetitif dan terjangkau dengan tidak mengabaikan pelayanan yang prima kepada keberhasilan tamu suatu hotel. Karena perusahaan dalam menghadapi persaingan yang tajam dapat dilihat dari keberhasilan didalam memadukan keempat komponen bauran pemasaran yaitu: produk, harga, distribusi, dan promosi. peneliti menghasilkan pendapatan, oleh karena itu harus menetapkan harga dengan baik kepada konsumen agar tujuan perusahaan menganggap penting untuk melakukan kajian studi empiris tentang bagaimanakah analisis harga terhadap room occupancy hotel dan penginapan di Kota Pangkalpinang? Jasa Jasa pada dasarnya merupakan seluruh aktivitas ekonomi dengan output selain produk dalam pengertian fisik, dikonsumsi dan diproduksi pada saat bersamaan, memberikan nilai tambah dan secara prinsip tidak berwujud bagi konsumennya. Pesatnya pertumbuhan bisnis mampu memberikan tekanan terhadap terciptanya regulasi, khususnya perombakan pengenduran proteksi dan pemanfaatan teknologi baru yang secara Harga merupakan komponen yang perusahaan akan Maka dari pernyataan di atas tingkat hunian kamar hotel tersebut, pihak melakukan hotel Kajian Teori Untuk menyikapi masalah turunnya hotel kamar mengalami peningkatan yang tidak begitu signifikan. tingkat hunian dapat tercapai dan pada langsung menguatnya akan berdampak kompetisi dalam kepada industri (Lovelock and Wright, 2005:2). Hal ini, akan mendorong tingkat kompetisi yang tinggi antara perusahaan satu dengan yang lainnya didalam menguasai pasar produk maupun jasa yang selalu fluaktuatif. Informatics and Business Institute Darmajaya 3 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 Kotler (2007:42) mengemukakan pengertian jasa (service) sebagai berikut: tamu memilih produk hotel yang lain (substitusi). “A service is any act or performance that Pada dasarnya, suatu hotel yang one party can offer to another that is essensially intangiblke and does not result in the ownership of anything. Is production may or may not be tied to a physical product.” (Jasa adalah setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain yang secara prinsip tidak berwujud dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan. Produksi jasa dapat terikat atau tidak terikat pada suatu produk fisik). perhotelan, menurut Kotler (2003:159), batasan tentang pemasaran hotel adalah ilmu yang bertujuan untuk menyenangkan tamu dan dari kegiatan itu, hotel memperoleh memang banyak aspek harus mempertahankan penting di dalam pemasarannya. Jika hotel tersebut tidak memperhatikan aspek penting yang menunjang keunggulannya, maka hotel tersebut tidak akan menarik bagi calon konsumen bahkan pelanggan akan meninggalkan hotel tersebut. Menurut studi yang dilakukan oleh Umar (2002:32) harga adalah sejumlah Terkait dengan pemasaran industri jasa baik keuntungan. Oleh karena itu, Kotler menyebutnya sebagai sensitive serving and satisfying the human nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli atau penjualan melalui tawarmenawar atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli. Harga adalah jumlah uang (satuan moneter) atau aspek lain (non moneter) needy. yang mengandung utilitas, kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan Harga suatu jasa (Tjiptono, 2007:178). Suksesnya seorang penjual suatu produk hotel tergantung dari harga atau Harga merupakan jumlah uang tarif hotel yang bersangkutan. Jika tarif yang ditetapkan oleh produk untuk dibayar kamar dianggap tinggi mungkin saja calon oleh konsumen atau pelanggan guna menutupi biaya produksi, distribusi, dan Informatics and Business Institute Darmajaya 4 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 penjualan pokok termasuk pengembalian pada saat permintaan sedikit (Vallen dalam yang memadai atas usaha dan resikonya Mattila dan Neill, 2003:4). (Kotler, 2007:107). Kotler Hotel memiliki berbagai jenis harga jual (2007:77) harga yang kamar. Harga jual kamar berbeda-beda dimaksudkan perusahaan tentang produk tergantung pada jenis dan luas kamar. dan mereknya. Contoh harga jual kamar moderate berbeda Menurut adalah nilai dengan harga jual kamar superior, deluxe Dari berbagai definisi tentang harga tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa harga adalah nilai suatu barang atau jasa yang diukur dengan sejumlah uang yang dikeluarkan oleh pembeli dan suite. Hal lain yang membedakan harga jual kamar adalah lokasi kamar (letak geografis ), arah pemandangan (view) dan fasilitas yang tersedia. untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang atau jasa berikut pelayanannya. Harga jual kamar pada dasarnya dibagi atas dua macam yaitu harga jual pasti dan harga jual potongan. Harga jual Menurut Rahayu (2011:193) menyebutkan bahwa dalam menetapkan harga jual hendaknya harus tepat, dalam arti dapat memberikan keuntungan yang paling baik bagi perusahaan dan disesuaikan dengan fasilitas serta manfaat pasti adalah harga jual kamar yang tidak dapat ditawar atau tidak mendapatkan potongan. Harga jual kamar ini sama dengan harga jual yang dikeluarkan oleh pihak manajemen dalam bentuk brosur (Rahayu, 2011:193). yang akan diterima oleh konsumen. Jika menetapkan harga jual terlalu tinggi maka Room akan menyulitkan penjualan sebaliknya Kamar) harga jual terlalu rendah Occupancy (Tingkat Hunian dapat Menurut Sugiarto (2000:85) tingkat menyebabkan kerugian. hunian Di sebuah hotel tertentu, tarif kamar kamar dinyatakan dengan menggunakan dasar rasio tertentu yaitu : yang lebih tinggi biasanya akan dikenakan Presentase tingkat hunian kamar saat volume permintaan, atau persentase (occupancy percentage) biasa disebut hunian atau single occupancy. Multiple occupancy sebaliknya tarif kamar yang lebih rendah ratios atau biasa disebut dengan tingkat diantisipasi lebih tinggi Informatics and Business Institute Darmajaya 5 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 penghunian ganda. Average guests per kamar (maximize room sales). Ketika room sold atau rata-rata jumlah tamu per permintaan rendah minta staff reservasi kamar yang terjual. Average daily rate atau dengan harga kamar rata-rata harian, dan Rate ditawarkan kepada tamu yang mau pada Average per guests atau harga kamar rata- harga rata per kamar tamu. organisasi-organisasi tariff promosi standard, special untuk dapatkan group dari yang secara karakteristik sensitive pada harga, dan Shite (2004:141) mengatakan bahwa tingkat hunian kamar dapat berdasarkan presentase, dihitung promosikan secara terbatas harga kamar rendah kepada pasar lokal. dengan menggunakan cara: jumlah kamar yang Tarif hunian dianggap sangat penting berpenghuni atau terisi dibagi dengan bagi manajemen hotel pada umumnya, dan jumlah kamar keseluruhan yang ditawarkan untuk (room available) dan kemudian dikalikan khususnya. Adanya tingkat hunian yang seratus persen (100%). kurang dari kapasitas kamar berarti bahwa departemen penjualan pada ada yang hilang peluang menjual, yang Bardi dalam Adinegara (2011: 4) menyarankan dua cara untuk memaksimalkan tingkat hunian kamar dan harga kamar. Ketika demand tinggi akan kamar maka sebaiknya manajemen hotel memaksimalkan penjualannya pada harga yang tinggi (rates maximize), dengan membatasi bahkan menutup penjualan kamar-kamar yang dikategorikan murah, paket-paket, permintaan tamu yang length of stay-nya rendah, dan memprioritaskan pemberian room only untuk groups yang mengarah ke penurunan dalam pendapatan hotel Taha dalam (Al Saleem dan AlJuboori, 2013:144). Secara khusus tingkat hunian kamar merupakan suatu keadaan sampai sejauhmana jumlah kamar terjual, jika dibandingkan dengan seluruh jumlah kamar mampu untuk dijual. Sedangkan penentuan harga (tarif kamar) hotel berpengaruh signifikan terhadap rata-rata tingkat hunian kamar (Abdullah dan Hamdan, 2012:217). hanya mau membayar lebih. Sebaliknya saat permintaan akan kamar rendah, maka sebaiknya memaksimalkan penjualan Informatics and Business Institute Darmajaya 6 Juhari II. Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 Teknik analisis yang digunakan dalam METODE PENELITIAN kajian ini adalah dengan menggunakan Kajian kajian empiris kuantitatif, ini yang merupakan menganalisis tentang analisis harga (X) terhadap tingkat room occupancy (Y) di Kota hotel yang minimal berbintang tiga di Kota Teknik purposive sampling. penelitian ini adalah dengan menggunakan data sekunder mengenai harga (tarif kamar) hunian kamar (room occupancy) pada 20 hotel bintang tiga di Kota HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Harga Terhadap Room Occupancy Dalam kajian ini, penentuan harga jual (tarif kamar) di hitung berdasarkan penjumlahan harga jual rata-rata setiap Metode pengumpulan data dalam tingkat III. pengambilan sampel dalam kajian ini menggunakan dan Versi 21. Pangkalpinang. Sedangkan, sampel yang digunakan adalah Pangkalpinang. menggunakan komputer program SPSS Populasi dalam kajian empiris ini, terdiri dari semua hotel yang berada analisis regresi linier sederhana dengan Pangkalpinang. Variabel yang digunakan dalam kajian ini adalah variabel independen: harga (X) dan dependen: room occupancy variabel jenis kamar yang berbeda pada hotel dan penginapan sekunder, yaitu: data kebijakan harga dan tingkat hunian pada tahun 2014-2016. Kota Pangkalpinang. Sedangkan untuk tingkat hunian kamar merupakan jumlah kamar terjual dibandingkan dengan seluruh jumlah kamar yang ada pada hotel dan penginapan di Kota Pangkalpinang dikali dengan 100%. (Y). Pengukuran variabel mengunakan data di Penetapan harga jual produk atau jasa (tarif kamar) yang baik akan sangat berpengaruh pada naiknya tingkat hunian kamar (Room Occupancy) pada 20 hotel dan penginapan di Kota Pangkalpinang. hotel Berikut ini dikemukakan rata-rata harga Pangkalpinang selama 5 tahun terakhir kamar dan tingkat hunian kamar pada 20 sebagai berikut: Informatics and Business Institute Darmajaya dan penginapan di Kota 7 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 Tabel 1. Harga rata-rata (tarif kamar) dan Room Occupancy 13 Hotel dan 7 Kota Pangkalpinang dari tahun 2009-2013 Penginapan di Sumber : Dimodifikasi oleh Peneliti, 2014 Dari tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa tahun 2011 harga kamar Rp 203.000, setiap kenaikan rata-rata harga kamar, maka maka akan diikuti kenaikan tingkat hunian 88,56%, pada tahun 2012 harga kamar Rp kamar hotel dan penginapan di Kota 213.750; maka tingkat hunian kamar Pangkalpinang. Dimana, pada tahun 2009 sebesar 89,47 dan pada tahun 2013 tingkat harga kamar Rp 183.200, maka tingkat harga kamar Rp 225.000, maka tingkat hunian kamar sebesar 80,02%, pada tahun hunian 2010 harga kamar Rp 192.850, maka Berdasarkan tingkat hunian kamar sebesar 87,23%, pada deskriptif didapatkan sebagai berikut: tingkat hunian kamar hasil kamar sebesar sebesar 90,35%. analisis statistik Tabel 2. Analisis Statistik Deskriptif Mean Std. Deviation 86.80 3.962 Tingkat Room Occupancy (%) Harga Rata-rata (Rupiah) 203560.00 Sumber: Diolah oleh Peneliti (2014) 16530.706 Dari tabel diatas, Mean: 86,80, dimana 203560.00, dimana tingkat harga rata-rata tingkat rata-rata hunian kamar (room tarif kamar hotel dan penginapan di Kota occupancy) hotel dan penginapan di Kota Pangkalpinang sebesar Rp.203.560; serta Pangkalpinang sebesar 86,80% dan Mean: Informatics and Business Institute Darmajaya 8 Juhari dengan Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 standar deviasi: 3,962 dan 16530.706. Analisa regresi linier sederhana ini menggunakan variabel harga sebagai variabel bebas (independent variable) atau Analisis Regresi Analisis regresi merupakan metode untuk memprediksi sesuatu yang belum diketahui berdasarkan sesuatu yang sudah diketahui dan mempengaruhi variabel yang variabel X dan variabel Y tidak bebas yaitu room occupancy sebagaimana yang disajikan pada tabel 2 dibawah ini (diolah dengan menggunakan program SPSS versi 17.0): akan diprediksi itu. Tabel 3. Koefisien Regresi Unstandardized Coefficients Model b t 1 (Constant) 44.589 3.147 Harga Rata-rata .020 2.987 (Rupiah) a. Dependent Variable: Tingkat Room Occupancy (%) Sig. .001 .008 Sumber : Diolah oleh Peneliti , 2014 Informatics and Business Institute Darmajaya 9 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 Berdasarkan hasil analisis regresi linier maka tingkat hunian kamar pada 20 hotel sederhana dari tabel di atas, dapat dan penginapan di Kota Pangkalpinang diperoleh akan meningkat sebesar 0,20 persen. persamaan regresi seperti dibawah ini : Analisis Koefisien Korelasi Y = 44,598 + 0,20 X Analisis koefisien korelasi adalah Dari persamaan tersebut di atas, salah satu teknik statistik yang digunakan dapat diartikan bahwa : a) Konstanta untuk mengetahui pengaruh antara dua sebesar 44,598 mempunyai arti jika tidak variabel ada harga (tarif kamar) maka tingkat kuantitatif. Analisis koefisien korelasi hunian dalam penelitian ini berfungsi untuk kamar penginapan di pada 20 hotel dan Kota Pangkalpinang atau mengetahui lebih pengaruh yang antara sifatnya harga sebesar 44,598. b) Koefisien regresi dengan tingkat hunian kamar seperti pada sebesar 0,20 artinya bahwa jika harga tabel berikut: kamar meningkat sebesar satu persen Tabel 4. Analisis Koefisien Korelasi Sumber : Diolah Oleh Peneliti, 2014 Berdasarkan perhitungan di atas, yang menginap sudah mengerti dengan maka di peroleh angka koefisien korelasi kondisi harga yang ditawarkan dan sebesar 0,865, berarti variabel X (Harga) berlaku pada hotel dan penginapan di mempunyai pengaruh sangat kuat dan Kota Pangkalpinang. positif terhadap variabel Y (Tingkat Hunian Kamar). Jadi, apabila harga dinaikkan, maka akan diikuti pula oleh kenaikan tingkat hunian kamar (room occupancy), karena tamu atau pelanggan Informatics and Business Institute Darmajaya Berdasarkan hasil analisis koefisien determinasi dari tabel di atas dapat di lihat bahwa besarnya pengaruh harga terhadap room occupancy hotel dan 10 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 penginapan di Kota Pangkalpinang adalah sebesar 74,8%, sedangkan sisanya yaitu sebesar 25,2% dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti kualitas layanan, kepuasan pelanggan, promosi dan sebagainya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Abdul Aziz and Mohd Hairil Hamdan, November 2012, Internal Success Factor of Hotel Occupancy, International Journal of Business and Social Science, No. 22. Vol 3. Hal:199-218. Adinegara, Gusti Ngurah Joko dan IV. SIMPULAN Pramono, Desember 2011, Dampak Simpulan krisis Global pada Tingkat Hunian ini Kamar Hotel Berbintang dan Non terdapat hubungan Bintang di Kabupaten Badung, yang positif dan signifikan antara harga Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, dengan tingkat hunian kamar (room No. 2, Vol 1, Hal:1-14. Temuan dalam menunjukan bahwa kajian occupancy), dimana setiap peningkatan Al Saleem, Abdul Sada Mutlag Raheem harga kamar sebesar satu persen, maka dan Al-Juboori, Oktober 2013, akan Factors mengakibatkan tingkat hunian Affecting Hotels kamar pada hotel dan penginapan di Kota Occupancy Rate (An Empirical Pangkalpinang meningkat sebesar 0,20. Study on Some Hotels in Amman), Sedangkan berdasarkan hasil analisis Interdisciplinary Journal of koefisien Contemporary Research In korelasi dan determinasi, pengaruh harga terhadap tingkat hunian Business, No.6, Vol.5, Hal: 142- kamar hotel dan penginapan di Kota 159. Pangkalpinang adalah sangat kuat, yakni Kotler, Philip, 2003, Marketing sebesar 74,8%, sedangkan sisanya yaitu Management. Elevent Edition. New sebesar 25,2% dipengaruhi oleh faktor Jersey: Prentice Hall, Inc. Alih lainnya seperti kualitas layanan, kepuasan Bahasa oleh Benyamin Molan, pelanggan, promosi dan sebagainya yang 2005, Index, Jakarta. tidak diteliti dalam penelitian ini. Kotler, Philip, 2007, Manajemen Pemasaran, Edisi 12, PT Index, Jakarta. Informatics and Business Institute Darmajaya 11 Juhari Jurnal Bisnis Darmajaya, Vol.02. No.02, Juli 2016 Lovelock, Christopher H. dan Lauren K. wright, 1999, Manajemen Pemasaran Jasa, New Jersey: Prentice Hall, Inc. Alih Bahasa oleh Widyantoro, 2005, Index, Jakarta. Mattila, Anna S. And John W. O’Neill, 2013, Relationship Between Hotel room Pricing Occupancy and Guest Satisfaction: A Longitudinal Case of a Midscale hotel. In the United States, Journal of Hospitality and Tourism Research, No X, Vol XX, Hal: 1-14. Rahayu, Sri, 2011, Pengaruh Harga Jual Kamar Terhadap Nilai Penjualan pada Hotel Sahid di Bandar Lampung, Jurnal Manajemen dan Bisnis, No.2, Vol. 1, Hal: 188-198. Shite, Richard, 2000, Hotel Manajemen (Pengelolaan Hotel), SIC, Surabaya. Sugiarto, Endar dan Sri, Sulartiningrum. 2003, Pengantar Akomodasi dan Restaurant, PT. Gramedia, Jakarta. Swastha, Basu, 2007, Pemasaran. Edisi Keenam, BPFE, Yogyakarta. Tjiptono, Fandy dan Gregorius Chandra, 2007, Service, Satisfaction, Quality Andi and Offset, Yogyakarta. Umar, Husein, 2002, Saluran Distribusi Edisi Keenam, Intermedia, Jakarta. Informatics and Business Institute Darmajaya 12