Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 ISSN 2621-2625 Analisis Pola Penggunaan Obat Analgetik Pada Pasien Neurologis di RSUD Padang Panjang Mhd Riza Marjoni1*. Rahmi Safyanty2. Lidya Puspita Sari3 1,3Prodi Di Farmasi. Akademi Farmasi Dwi Farma Bukittinggi. Indonesia 2Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. Indonesia marjoni@gmail. ABSTRACT Neuropathic pain represents a complex clinical challenge and often requires long-term pharmacological The prescribing patterns of analgesic medications in managing neuropathic pain serve as important indicators for evaluating therapeutic effectiveness, rationality, and individualization. This study aims to analyze the characteristics of analgesic prescribing patterns among neurological outpatients at the Neurology Outpatient Clinic of RSUD Padang Panjang in 2025. A retrospective observational method was employed, involving 100 neurological patient prescriptions selected through purposive sampling. Data were extracted from prescription sheets and patient eligibility forms, then analyzed descriptively to assess prescription characteristics, combination patterns, and diagnostic distribution. The findings revealed that Eperison was the most frequently prescribed medication . %), followed by sodium diclofenac . %) and gabapentin . %). Triple-drug therapy was the most common combination . %), with sodium diclofenacAeeperisonAegabapentin being the predominant regimen . % of triple combination. The most common diagnosis was low back pain . 42%), followed by arthrosis . 57%). The prescribing pattern reflects a polypharmacy approach that integrates muscle relaxants. NSAIDs, and anticonvulsants. The dominance of combination therapies highlights the complex pathophysiology of neurological pain and underscores the need for evidence-based protocol standardization. Keywords: Drug utilization pattern. Analgesics. Neurology. NSAIDs. Prescribing patterns ABSTRAK Nyeri neuropatik merupakan salah satu tantangan klinis yang kompleks dan sering kali memerlukan terapi farmakologis jangka panjang. Pola peresepan obat analgesik dalam penanganan nyeri neuropati ini menjadi indikator penting dalam mengevaluasi efektivitas, rasionalitas, dan individualisasi terapi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pola penggunaan obat analgesik pada pasien neurologis di Poliklinik Rawat Jalan Neurologi RSUD Padang Panjang Metode penelitian yang digunakan adalah observasional retrospektif terhadap 100 resep pasien neurologis menggunakan purposive sampling berbasis resep. Data diekstraksi dari lembar resep dan Surat Kelayakan Pasien, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengevaluasi karakteristik resep, pola kombinasi, dan distribusi diagnostik. Hasil penelitian menunjukan bahwa Eperison merupakan obat yang paling banyak diresepkan . %), diikuti oleh natrium diklofenak 56%, dan gabapentin 51%. Terapi kombinasi tiga obat menjadi yang tertinggi sebanyak 35%, dengan kombinasi natrium diklofenak-eperison-gabapentin sebagai rejimen yang paling sering . %). Nyeri punggung bawah merupakan diagnosis yang dominan . ,42%), diikuti oleh artrosis . ,57%). Pola pemberian resep memperlihatkan pengobatan polifarmasi yang mengintegrasikan relaksan otot. NSAID, dan antikonvulsan. Dominasi terapi kombinasi menunjukkan patofisiologi nyeri neurologis yang kompleks yang memerlukan standarisasi protokol berbasis ilmiah Kata Kunci: Pola penggunaan obat. Analgesik. Neurologi. NSAID. Pola peresepan Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 PENDAHULUAN Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa studi penggunaan obat mencakup proses pemasaran, distribusi, penulisan resep, dan konsumsi obat dalam konsekuensi medis, sosial, dan ekonomi yang dihasilkan (World Health Organization, 2. Peresepan obat yang rasional memiliki ciri-ciri spesifik, yaitu pemberian obat yang telah teruji secara ilmiah dalam dosis yang sesuai, disertai dengan informasi yang memadai, dan tersedia dengan harga yang terjangkau (Kumarasingam et al. , 2. Nyeri merupakan sensasi tidak nyaman dengan intensitas yang bervariasi dan bersifat subjektif bagi setiap individu (S & M. Sementara nyeri neuropati merupakan nyeri yang disebabkan baik secara langsung mempengaruhi sistem somatosensory pada sistem saraf sentral atau perifer (Meng et al. Nyeri neuropati ini bersifat tajan dan seperti menyentrum . akibat rusaknya serabut A delta. Nyeri ini juga bias disebabkan oleh abnormalnya serabut C yang mengakibat protopatik seperti disestesia, rasa terbakar, parestesia dengan lokalisasi yang tidak jelas. Nyeri tersebut tidak selalu berlokasi atau terasa pada daerah saraf yang rusak, tapi bisa saja terjadi ditempat lain (Nur Faisah et al. , 2. Penyakit kesehatan masyarakat yang membutuhkan strategi penanganan khusus sehingga informasi yang komprehensif mengenai penyebab, perkembangan, dan hasil akhirnya menjadi sangat penting (Sari, 2. Gangguan neurologis yang menyebabkan nyeri merupakan masalah kesehatan global yang kompleks dan memerlukan pendekatan pengobatan yang tepat. Oleh karena itu, dibutuhkan deteksi dini atau diagnosis awal agar dapat langsung dilakukan pengobatan sesuai diagnosa yang ditetapkan (Devi, 2. Prevalensi penyakit saraf dengan gejala nyeri mengalami peningkatan, terutama pada pasien komorbiditas (Giovannini et al. , 2. Kondisi seperti nyeri punggung bawah, neuropati diabetik, neuralgia pasca herpes, dan stroke dengan gejala sisa neurologis memerlukan strategi penanganan yang menyeluruh dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing Pola peresepan obat analgetik pada pasien neurologis menunjukkan variasi yang cukup besar antar rumah sakit, yang dipengaruhi oleh karakteristik pasien, tingkat keparahan penyakit, ketersediaan obat, dan Penelitian pregabalin telah menjadi pilihan utama untuk mengatasi nyeri saraf, dengan tingkat antidepresan seperti amitriptyline untuk berbagai kondisi neuropati (Aboobecker et al. Penggunaan obat analgetik pada kondisi neurologis memerlukan pemahaman yang baik karakteristik obat, dan kemungkinan interaksi antar obat. Obat Non-Steroidal AntiInflammatory Drugs (NSAID. seperti natrium diklofenak dan meloksikam tetap menjadi pilihan utama untuk komponen peradangan pada nyeri, meskipun penggunaannya harus mempertimbangkan risiko terhadap jantung dan saluran cerna pada kelompok pasien tertentu (Yeomans, 2. Obat anti-kejang, gabapentin, telah mengalami lonjakan dan perluasan penggunaanya dalam penanganan nyeri saraf selama sepuluh tahun terakhir. Hasil studi menunjukkan bahwa penggunaan gabapentin untuk nyeri perifer mengalami peningkatan yang besar, dengan pola penggunaan yang bervariasi tergantung pada karakteristik populasi dan tempat pelayanan klinis (Callaghan et al. , 2. Namun, kekhawatiran terkait potensi penyalahgunaan dan efek samping saraf memerlukan pemantauan yang ketat dalam praktik klinis. Muscle relaxant seperti eperison menunjukkan efektivitas yang baik dalam mengatasi kekakuan dan ketegangan otot yang sering menyertai kondisi neurologis. Kombinasi terapi antara muscle relaxant dengan analgetik konvensional telah terbukti memberikan efek sinergisme dalam mengurangi intensitas nyeri Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Analisis Pola Penggunaan Obat Analgetik Pada Pasien Neurologis dan memperbaiki kualitas hidup pasien Evaluasi pola penggunaan obat analgetik di rumah sakit memiliki nilai penting dalam memastikan penggunaan obat analgetik yang tepat dan hasil pengobatan yang optimal. Penelitian penggunaan obat memberikan informasi penting terkait kecenderungan peresepan, identifikasi area yang memerlukan perbaikan, dan pengembangan pedoman berbasis bukti untuk populasi spesifik (Kumarasingam et al. , 2. Penelitian menganalisis pola penggunaan obat analgetik pada pasien neurologis di Poliklinik Saraf RSUD Padang Panjang. Secara spesifik, karakteristik penggunaan obat berdasarkan klasifikasi farmakologis, mengevaluasi pola terapi tunggal dengan terapi kombinasi, dan menganalisis hubungan antara diagnosis klinis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data dasar untuk pengembangan protokol manajemen nyeri yang terstandar dan berkontribusi dalam optimalisasi praktik peresepan di fasilitas pelayanan kesehatan Hasil penelitian juga akan memperkaya literatur terkait studi penggunaan obat pada pasien neurologis di Indonesia yang masih terbatas, serta memberikan gambaran penting terkait adaptasi pedoman internasional dalam sistem kesehatan Indonesia. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan observational study untuk menganalisis pola penggunaan obat analgetik pada pasien Nama Obat Populasi penelitian mencakup seluruh resep obat analgetik yang diresepkan di Poliklinik Saraf RSUD Padang Panjang, dengan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi yang telah Kriteria inklusi meliputi pasien semua usia yang menerima resep obat analgetik dengan diagnosis berkaitan nyeri sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien dengan resep untuk kondisi non-neurologis. Data sekunder diperoleh dari lembar resep dan Surat Eligibilitas Peserta (SEP) yang dianalisis menggunakan metode statistik deskriptif untuk mengevaluasi karakteristik peresepan, pola kombinasi obat, dan distribusi diagnosis. Instrumen penelitian berupa lembar resep pasien neurologis yang dikaji untuk peresepan, dan pola terapi tunggal maupun kombinasi (Sukmawati et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pola Peresepan Obat Analgetik di Poliklinik Saraf Evaluasi komprehensif terhadap pola peresepan obat analgetik pada 100 resep pasien di Poliklinik Saraf RSUD Padang Panjang mengungkapkan distribusi penggunaan yang heterogen dengan dominasi beberapa kategori farmakologis fundamental. Data distribusi menunjukkan variabilitas yang signifikan mencerminkan kompleksitas manajemen nyeri neurologis yang memerlukan pendekatan Tabel 1. Karakteristik Analisis Pola Peresepan Obat Penghilang Nyeri Total Peresepan Persentase Eperison Natrium diclofenac Gabapentin Paracetamol Amittriptyline Diazepam Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Clobazam Meloxicam Ibuprofen Lorazepam Ketoprofen Codein 100 Resep Pasien Analisis tabulasi mengindikasikan bahwa eperison mendominasi dengan frekuensi peresepan tertinggi sebesar 71 kasus . %), diikuti natrium diklofenak 56 kasus . %), dan gabapentin 51 kasus . %). Data ini neurologis yang mengintegrasikan muscle relaxant. NSAID, dan antikonvulsan sebagai pilar terapi utama. Tingginya penggunaan eperison mengindikasikan adanya prevalensi antara spastisitas dan ketegangan otot dalam manifestasi nyeri neurologis, yang sejalan dengan karakteristik patofisiologi kondisi neurogenic pain yang kompleks. Penelitian terkini menunjukkan bahwa kombinasi muscle relaxant dengan NSAID memberikan efek sinergistik dalam mengatasi muskuloskeletal dan inflamasi secara simultan (Anikasari et al. Gambar 1. Grafik Karakteristik Analisis Pola Peresepan Obat analgetik Gambar 1 memperlihatkan distribusi menunjukkan preferensi klinis terhadap obat dengan mekanisme aksi spesifik. Natrium diklofenak sebagai NSAID primer memiliki nilai rekognisi terhadap komponen inflamasi dalam patogenesis nyeri neurologis, meskipun penggunaannya harus mempertimbangkan komorbiditas multiple. Gabapentin menempati posisi signifikan sebagai antikonvulsan yang telah mengalami ekspansi indikasi untuk manajemen nyeri neuropatik, meskipun efikasi klinisnya untuk kondisi seperti low back pain masih menjadi perdebatan dalam literatur Studi menunjukkan bahwa gabapentin tidak efektif untuk mengatasi nyeri Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Analisis Pola Penggunaan Obat Analgetik Pada Pasien Neurologis pada kondisi nyeri punggung bawah kronis dengan atau tanpa komponen radiasi, yang menimbulkan pertanyaan terkait rasionalitas penggunaannya untuk kondisi tersebut. Distribusi penggunaan paracetamol . %), amitriptyline . %), dan diazepam . %) menunjukkan penerapan strategi terapi kombinasi untuk mengoptimalkan manajemen nyeri dengan mekanisme kerja yang berbeda namun saling mendukung (Daya & Afriadi. Analisis Pola Kombinasi Terapi dalam Peresepan Neurologis Evaluasi mengungkapkan tren penggunaan berbagai obat secara bersamaan . dalam manajemen nyeri neurologis, dengan variasi yang mencerminkan kompleksitas kondisi klinis dan keberagaman respons terapi Pola distribusi menunjukkan preferensi klinis pada pendekatan multifarmakologi untuk mencapai efektivitas optimal melalui sinergi berbagai mekanisme kerja (Desmini et al. , 2. Tabel 2. Kombinasi Obat dalam Peresepan Pasien Poli Saraf Jumlah Kombinasi Obat Total Peresepan Persentase Total Data tabulasi menunjukkan bahwa terapi kombinasi tiga obat mendominasi dengan 35 kasus . %), diikuti kombinasi dua obat 24 kasus . %), dan terapi tunggal 18 kasus . %). Pola ini mencerminkan perubahan paradigma manajemen nyeri neurologis dari pendekatan monoterapi menuju strategi polifarmasi yang lebih komprehensif (Finnerup et al. , 2. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Gambar 2. Grafik Kombinasi Obat dalam Peresepan Pasien Poli Saraf Grafik pada gambar 2 menunjukkan distribusi yang menurun secara bertahap seiring peningkatan jumlah obat dalam kombinasi, mengindikasikan bahwa sebagian besar kasus dapat ditangani dengan kombinasi optimal 2-3 Prevalensi kombinasi empat obat . %) dan lima obat . %) menunjukkan subkelompok pasien dengan kondisi refrakter yang memerlukan pendekatan terapeutik intensif. Penggunaan kombinasi enam dan tujuh obat yang minimal . % dan 1%) mengindikasikan signifikan atau kondisi nyeri yang resisten terhadap terapi konvensional. Tren ini sejalan dengan rekomendasi pedoman berbasis bukti yang menekankan pentingnya polifarmasi rasional dalam konteks manajemen nyeri keseimbangan antara efektivitas terapeutik dan potensi risiko interaksi obat serta efek samping kumulatif (Colloca et al. , 2. Korelasi Diagnosis Klinis dengan Pola Terapeutik Analisis korelasi antara diagnosis spesifik kondisi neurologis dan implikasinya terhadap strategi terapeutik yang diterapkan. Distribusi diagnosis mencerminkan spektrum luas pendekatan individual dalam pemilihan regimen analgetik (Muslim et al. , 2. Tabel 3. Hubungan Tiga Kombinasi Obat dengan Diagnosis Diagnosa pasien Jumlah pasien Persentase Low back pain 31,42% Atthrosis 8,57% Sequelae of stroke, not specified as haemorrhage or infarction Sequelae of cerebral infarction 5,71% 5,71% Parkinsons disease 5,71% Radiculopathy 5,71% Trigger finger 5,71% Myalgia 2,85% Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Analisis Pola Penggunaan Obat Analgetik Pada Pasien Neurologis Intracerebral haemorrhage 2,85% Intervertebral disc disorder unspecified 2,85% Other specified disorders of synovium and tendon Shoulder lesions 2,85% 2,85% Zoster with other nervous system Panniculitus affecting regions of neck and back cervical region Cerebral infarction due to thrombosis of cerebral arteries Neuralgia and neuritis, unspecified other site Adhesive capsul sulitie of shoulder 2,85% 2,85% 2,85% 2,85% 2,85% Non, insulin - dependent diabetes mellitus with neurological complications Total 2,85% Tabel 3 menunjukkan hubungan antara tiga kombinasi obat dengan diagnosis pasien yang mengalami berbagai kondisi medis. Dari total 35 pasien yang dianalisis, diagnosis yang paling umum adalah low back pain, yang mencakup 31,42% dari keseluruhan pasien, diikuti arthrosis 3 kasus . ,57%), dan berbagai kondisi neurologis lainnya dengan frekuensi yang relatif seragam. Hal ini menunjukkan bahwa nyeri punggung bawah merupakan masalah kesehatan yang signifikan dan sering dijumpai dalam praktik klinis. Atthrosis seringkali dihubungkan dengan degenerasi sendi dan dapat menyebabkan nyeri yang Selanjutnya, beberapa diagnosis lain yang masing-masing memiliki persentase yang lebih rendah, seperti sequelae of stroke . aik yang tidak spesifik maupun yang disebabkan oleh infar. Parkinson's disease, dan radiculopathy, yang masing-masing mencakup 5,71% dari total Diagnosis lain yang tercantum dalam tabel, seperti trigger finger, myalgia, dan intracerebral haemorrhage, menunjukkan keragaman kondisi yang dapat mempengaruhi Meskipun persentasenya lebih rendah, penting untuk dicatat bahwa setiap diagnosis ini memerlukan pendekatan pengobatan yang berbeda, tergantung pada penyebab dan gejala yang dialami pasien. Data pada Tabel 3 ini memberikan gambaran yang jelas tentang prevalensi berbagai diagnosis di antara pasien yang menerima kombinasi obat tertentu. Hal ini menekankan pentingnya pemahaman yang mendalam tentang kondisi medis yang mendasari untuk merumuskan strategi pengobatan yang efektif dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien. Pengelolaan nyeri dan kondisi neurologis harus dilakukan secara holistic dengan mempertimbangkan semua aspek yang mempengaruhi kesehatan pasien (Prasetyaningrum & Wahyu, 2. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Optimalisasi Kombinasi Spesifik dalam Praktik Klinis Analisis terhadap kombinasi obat yang paling sering digunakan menunjukkan adanya preferensi klinis terhadap regimen terapi tertentu yang telah terbukti efektif dalam penatalaksanaan nyeri neurologis. Pola distribusi kombinasi obat ini mencerminkan penerapan praktik klinis berbasis bukti ilmiah yang disesuaikan dengan kondisi lokal dan pertimbangan klinis individual (Suryaningsih et al. , 2. Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 ISSN 2621-2625 Tabel 4. Macam Obat yang Paling Sering Digunakan Dengan Tiga Kombinasi Nama Kombinasi Obat Jumlah Persentase NA DIC. EPERISON. GABAPENTIN MELOXICAM. EPERISON. GABAPENTIN 11,42% NA DIC. DIAZEPAM. EPERISON 8,57% IBUPROFEN. EPERISON. GABAPENTIN 8,57% EPERISON. GABAPENTIN. PCT 8,57% NA DIC. DIAZEPAM. GABAPENTIN 5,71% NA DIC. CLOBAZAM. GABAPENTIN 2,85% NA DIC. AMITTRIPTYLINE. GABAPENTIN 2,85% NA DIC. CLOBAZAM. PCT 2,85% MELOXICAM. DIAZEPAM. EPERISON 2,85% IBUPROFEN. AMITTRIPTYLINE. GABAPENTIN 2,85% KETOPROFEN. EPERISON. PCT 2,85% Total Evaluasi kombinasi spesifik menunjukkan prevalensi tertinggi kombinasi natrium diklofenak, eperison, dan gabapentin dengan 14 kasus . %), yang mencerminkan pendekatan standar dalam penatalaksanaan nyeri neurologis kompleks. Kombinasi ini NSAID inflamasi, pelemas otot untuk spastisitas, dan antikonvulsan untuk elemen neuropatik, sehingga menciptakan cakupan farmakologis Kombinasi meloksikam, eperison, dan gabapentin sebagai . ,42%) menunjukkan preferensi terhadap NSAID dengan profil gastrointestinal yang lebih aman, terutama pada pasien dengan resiko tinggi Berbagai diklofenak dengan diazepam dan eperison . ,57%) serta ibuprofen dengan eperison dan gabapentin . ,57%) mencerminkan adaptasi individual pasien dan ketersediaan formulasi Penggunaan parasetamol dalam kombinasi dengan eperison dan gabapentin . ,57%) mengindikasikan strategi terapi bertahap atau pendekatan pada pasien dengan kontraindikasi NSAID. Obat antiinflamasi nonsteroid dan pelemas otot telah terbukti efektif untuk meredakan nyeri, baik sebagai monoterapi rasionalitas kombinasi dominan dalam penelitian ini. Kombinasi lainnya dengan frekuensi lebih rendah mengindikasikan individualisasi terapi berdasarkan faktor spesifik pasien dan responsivitas klinis (Ritonga & Chalil, 2. Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting bagi praktik klinis dan pelayanan farmasi dalam konteks Pola peresepan yang teridentifikasi mencerminkan integrasi antara pedoman berbasis ilmiah dan pengalaman klinis, serta pertimbangan spesifik pasien dalam sistem layanan kesehatan di Indonesia. Dominasi Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Analisis Pola Penggunaan Obat Analgetik Pada Pasien Neurologis penggunaan eperison sebagai pelemas otot menunjukkan pengakuan terhadap peran komponen muskuloskeletal dalam nyeri saraf, meskipun bukti yang mendukung penggunaan eperison dalam literatur internasional masih terbatas jika dibandingkan dengan alternatif seperti baclofen atau tizanidine. Penggunaan sebagai NSAID utama sejalan dengan rekomendasi pedoman internasional, namun memerlukan pemantauan yang cermat terhadap potensi komplikasi kardiovaskular dan gastrointestinal, terutama pada populasi lansia yang memiliki berbagai penyakit Selain itu, pemanfaatan gabapentin yang signifikan untuk berbagai kondisi saraf, termasuk nyeri punggung bawah, memerlukan evaluasi kritis, mengingat bukti efektivitasnya pada kondisi nyeri non-neuropatik masih Penelitian menunjukkan bahwa gabapentin dapat efektif untuk masalah punggung yang disebabkan oleh herniasi diskus atau stenosis tulang belakang, tetapi tinjauan sistematis menunjukkan bahwa kemanjurannya untuk nyeri pinggang kronis tanpa komponen neuropatik yang jelas adalah terbatas (AuPola Penggunaan Dan Pengetahuan Pasien Mengenai Penggunaan Obat Anti DAFTAR PUSTAKA