Vol 2 No. 1 Januari 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 76 - 80 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/71x95f93 PENGARUH PENDIDIKAN DALAM PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA Nabila Viana Putri a*. Desty Endrawati Subrotob. Bela Isma Fauziahc. Melanid. Joko Nasrullahe a nabilavianaputrinabila@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang Banten b desty2. subroto@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang Banten c bellaclgn@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang Banten d melanimel9898@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang Banten e jokonasrallah998@gmail. Universitas Bina Bangsa. Kota Serang Banten Korespondensi ABSTRACT Character Education which includes self-development is a conscious effort to improve the quality of an individual towards the potentials they have through new experiences and knowledge gained by the individual during their life. The purpose of this study was to determine the effect of character education on self-development in students at SMPN 1 Sumbawa Besar. This study uses a quantitative descriptive The toughest challenge in the world of education in Indonesia is improving the quality of learning to produce graduates who are competitive and able to adapt to change and are creative in solving problems faced. The character education process needs to be fostered early on and must be maximized since elementary school. The purpose of character education in schools is to develop the potential of the heart and conscience of students so that they have a soul and social sensitivity towards themselves, their families and their environment. The function of character education is to develop the basic abilities of students so that they think intelligently, behave with noble character, morals, and do something good, which is beneficial for themselves, their families and society. So that the role of education in the formation of students' character has a very urgent and important position in order to improve students' abilities both in terms of cognitive, affective, and psychomotor abilities, and is able to provide the latest nuances and innovations in each educational unit in interactions between students, with teachers, families and with the surrounding environment. Keywords: Roles. Character Educators, and Students Abstrak Pendidikan Karakter yang didalamnya ada pengembangan diri merupakan usaha sadar untuk meningkatkan kualitas diri individu terhadap potensi-potensi yang dimiliki melalui pengalaman dan pengetahuan baru yang diapat individu selama hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan karakter terhadap pengembangan diri pada siswa di SMPN 1 Sumbawa Besar Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deksriptif. Tantangan terberat dunia pendidikan di Indonesia adalah peningkatan kualitas pembelajaran untuk menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing dan mampu beradaptasi dengan perubahan serta kreatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Proses pendidikan karakter perlu dibina sejak dini dan harus dimaksimalkan sejak sekolah dasar. Tujuan pendidikan karakter disekolah adalah untuk mengembangkan potensi kalbu dan hati nurani peserta didik agar memiliki jiwa dan kepekaan social terhadap diri, keluarga dan lingkungannya. Fungsi penddikan karakter yaitu menumbuhkembangkan kemampuan kemampuan dasar peserta didik agar berpikir cerdas, berprilaku yang berakhlak mulia, bermoral, dan berbuat sesuatu yang baik, yag bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Sehingga peran pendidikan dalam pembentukan karakter peserta didik memiliki posisi yang sangat urgen dan penting dalam rangka peningkatan kemampuan peserta didik baik dilihat dari kemampuan kognitif, apektif, maupun psikomotorik, dan mampu memberikan nuansa dan inovasi terbaru tersendiri dalam setiap satuan pendidikan dalam interaksi sesame peserta didik, dengan guru, keluarga maupun dengan lingkungan Kata Kunci: Peran. Pendidik Karakter, & Siswa Received November 25, 2024. Revised Desember 1, 2024. Accepted Januari 20, 2025. Published Januari 25, 2025 Nabila Viana Putri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 76 Ae 80 PENDAHULUAN Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) diawali dengan sebuah sistem pendidikan. Sistem pendidikan disekolah selama ini lebih menitikberatkan pada penguasaan kognitif (Pengetahua. akademis, sementara afektif seolah- olah terlupakan. Permasalahan tersebut menyebabkan etika, budi pekerti, atau ahklak peserta didik tidak pernah menjadi perhatian atau ukuran utama dalam kehidupan baik dalam maupun luar sekolah. (Alimin, 2. Dalam sistem pendidikan Nasional Pasal 3 Tahun 2003, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang dekomratis serta bertanggung Globalisasi yang telah masuk dalam seluruh relung kehidupan, pengembangan karakter dirasa mendesak untuk dikaji dan untuk di implementasikan disekolah. Di era globalisasi seperti sekarang ini, ancaman hilangnya karakter semakin nyata. Nilai-nilai karakter yang luhur tergerus oleh arus globalisasi, utamanya kesalahan dalam memahami makna kebebasan sebagai sebuah demokrasi dan rendahnya filosofi teknologi. Kemajuan teknologi adalah pisau bermata dua, disatu sisi memberi kemudahan bagi umat manusia, disisi lain berdampak negatif bila disalah gunakan (Sari, 2. Masuknya budaya POP yang menonjolkan kesenangan materealistis telah mempengaruhi gaya hidup anak bangsa ini. Belum lagi budaya Free Life Style yang sebenarnya tidak sesuai dengan karakter bangsa ini tetapi di terima begitu saja sebagai gaya hidup yang modern. Tindakan, perilaku dan sikap anak saat ini bukanlah suatu yang tiba-tiba muncul atau terbentuk atau bahkan pemberian dari Yang Maha Kuasa. Ada sebuah proses panjang sebelumnya yang membuat sikap dan perilaku tersebut melekat pada dirinya (Dewi. Tantangan terberat dunia pendidikan di Indonesia adalah peningkatan kualitas pembelajaran untuk menghasilkan lulusan yang memiliki daya saing dan mampu beradaptasi dengan perubahan serta kreatif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi. Hal ini dipandang penting karena menghadapi abad-21, manusia dihadapkan pada berbagai masalah yang timbul sebagai dampak globalisasi dan perkembangan teknonogi informasi dan komunikasi. Era global ditandai dengan persaingan bebas di segala aspek kehidupan, perubahan yang cepat dan berbagai fenomena sosial yang sangat kompleks. Berdasarkan landasan filosofis kurikulum 2013 UU No. 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 butir 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, akhlak mulia, pengendalian diri yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. UU ini dirumuskan berdasarkan pada dasar falsafah negara yaitu Pancasila (Kurinasih, 2014:. Menurut Abdullah . Pendidikan memberikan kemungkinan pada siswa untuk memperoleh AukesempatanAy. AuharapanAy, dan pengetahuan agar dapat hidup secara lebih baik. Besarnya kesempatan dan harapan sangat bergantung pada kualitas pendidikan yang ditempuh. Pendidikan juga dapat menjadi kekuatan untuk melakukan perubahan agar sebuah kondisi menjadi lebih baik. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah telah melaksanakan perbaikan di segala bidang seperti sarana dan prasarana, kurikulum, kualifikasi pendidikan, pembiayaan dana dibidang pendidikan. Dengan terpenuhinya segala macam bentuk kelengkapan sarana dan prasarana belajar, seperti alat bantu mengajar maka proses belajar akan berjalan dengan baik, dan mahasiswa maupun dosen sebagai pengelola proses pembelajran bisa mengembangkan kreatifitasnya masing-masing. Kemudian Fungsi dan Tujuan Pendidikan Nasional terdapat dalam pasal 3 Undang- undang No. 20 Tahun 2003 yang berbunyi: AuPendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Ay Pengaruh Pendidikan Dalam Pengembangan Karakter Siswa (Nabila Viana Putr. Nabila Viana Putri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 76 Ae 80 Karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti, perilaku dan watak. Karakter inilah yang membedakan antara individu satu dengan individu lain di dunia ini. Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan dari setiap orang yang merupakan faktor penentu keberhasilan bangsa dan negara dalam menyiapkan masa depannya. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh- sungguh, sistematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Pendidikan karakter berasal dari dua kata pendidikan dan karakter, menurut beberapa ahli, kata pendidikan mempunyai definisi yang berbedabeda tergantung pada sudut pandang, paradigma, metodologi dan disiplin keilmuan yang digunakan, diantaranya menurut Teguh Triwiyanto, pendidikan adalah usaha menarik sesuatu di dalam manusia sebagai upaya memberikan pengalaman-pengalaman belajar terprogram dalam bentuk pendidikan formal, nonformal, dan informal di sekolah, dan luar sekolah, yang berlangsung seumur hidup yang bertujuan optimalisasi kemampuankemampuan individu agar dikemudian hari dapat memainkan peranan hidup secara tepat. Teguh . 4 : 23-. METODOLOGI PENELITIAN Studi ini merupakan literatur review. Sesuai dengan sifatnya tersebut, maka dalam studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif membicarakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan masalah aktual dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasinya, menganalisis, dan Teknik yang dilakukan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini yaitu studi Studi kepustakaan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen tertulis yang digunakan berupa buku, jurnal maupun artikel ilmiah. Muhtarom . 0:114-. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian pustaka . ibrary researc. , yaitu penelitian dengan serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Penelitian pustaka . ibrary researc. merupakan penelitian yang objeknya dicari dengan berbagai informasi pustaka seperti buku, jurnal ilmiah, majalah, koran, dan (Sari, 2. Penelitian ini berbeda dengan penelitian lainnya yang mengharuskan melakukan observasi atau wawancara dalam perolehan data. Pada penelitian ini objek data yang dicari oleh peneliti adalah dengan mencari literatur-literatur yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat. Peneliti mencari data dalam menjawab permasalahan yang diangkat dengan membaca berbagai referensi yang sesuai. Penelitian kepustakaan merupakan penelaahan terhadap data-data pustaka yang dapat memberikan solusi atau jawaban terkait dengan masalah yang diteliti. Melalui penelitian pustaka dapat memberi hasil dari apa yang dicari melalui sumber-sumber data yang digunakan. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Peran Pendidikan Dalam Pembentukan Karakter Upaya menghidupkan kembali pendidikan karakter ini merupakan amanat yang telah digariskan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal 1 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 menyatakan bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. 2 Implementasi Pendidikan Karakter Salah satu upaya untuk mengimplementasikan pendidikan karakter adalah melalui Pendekatan Holistik, yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah. Berikut ini ciriciri pendekatan holistik (Elkind dan Sweet, 2. antara lain: . Segala sesuatu di sekolah diatur berdasarkan perkembangan hubungan antara siswa, guru, dan masyarakat. Sekolah merupakan masyarakat peserta didik yang peduli di mana ada ikatan yang jelas yang menghubungkan siswa, guru, dan . Pembelajaran emosional dan sosial setara dengan pembelajaran akademik. Kerjasama dan kolaborasi di antara siswa menjadi hal yang lebih utama dibandingkan persaingan. Nilai-nilai seperti JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Januari 2025, pp. 76 - 80 Nabila Viana Putri dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 76 Ae 80 keadilan, rasa hormat, dan kejujuran menjadi bagian pembelajaran sehari- hari baik di dalam maupun di luar kelas. Siswa-siswa diberikan banyak kesempatan untuk mempraktekkan prilaku moralnya melalui kegiatan-kegiatan seperti pembelajaran memberikan pelayanan. Disiplin dan pengelolaan kelas menjadi fokus dalam memecahkan masalah dibandingkan hadiah dan hukuman. Model pembelajaran yang berpusat pada guru harus ditinggalkan dan beralih ke kelas demokrasi di mana guru. Pendidikan karakter yang diberikan kepada siswa sebagai generasi penerus bangsa mengarah kepada rasa hormat, tanggung jawab, jujur, peduli, adil, dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kata lain, pendidikan karakter bertujuan membentuk bangsa yang bermoral, berakhlak mulia, berjiwa patriot, tangguh dan kompetitif yang didasarkan oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai etis yang disebut dengan Enam Pilar Pendidikan Karakter, yaitu: . Kepercayaan. Anak didik harus mampu jujur, membangun reputasi yang baik, tidak mencuri, memiliki keberanian untuk melakukan tindakan yang benar, dan patuh. Respek. Mau menghargai orang lain, toleransi terhadap sesama, memiliki sopan santun dimanapun berada. Tanggung jawab. Anak didik harus berani bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan, berpikir sebelum bertindak tentang konsekuensi atas tindakannya, dan disiplin. Keadilan. Berani memberikan pembelaan kepada yang benar, berpikiran terbuka dan tidak asal menyalahkan orang lain, bermain sesuai aturan, mau berbagi dan tidak mengambil keuntungan dari orang lain. Peduli. Membantu orang yang membutuhkan, menunjukkan sikap peduli, memaafkan orang lain. Kewarganegaraan. Menjadi warga negara yang taat terhadap peraturan dan hukum, melindungi lingkungan hidup, melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat serta mau dan mampu bekerjasama. Pada pilar keenam, disebutkan bahwa kita harus melindungi lingkungan hidup sehingga perlu juga dikenalkan pendidikan lingkungan hidup di kalangan masyarakat karena pelestarian lingkungan adalah tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat. KESIMPULAN DAN SARAN Pendidikan karakter terdiri dari 2 aspek yaitu aspek yaitu relegius . berkategori sangat baik dan lingkungan . berkategori baik. Dari hasil analisis data keseluruhan aspek yang paling dominan adalah aspek relegius dengan rerata sebesar 4. 23 yang berarti pendidikan karakter berbasis religius Hal ini dapat simpulkan bahwa pendidikan karakter. Pengembangan diri teridiri dari 6 aspek yaitu potensi fisik berada pada kategori baik . , potensi intlektual berada pada kategori baik . , potensi emosional berada pada kategori baik . , potensi spiritual berada kategori baik . , potensi empati berada pada kategori baik . dan potensi moral berada pada kategori sangat baik . Dari hasil analisis keseluruhan aspek yang paling dominan adalah aspek potensi moral sebesar 4. sedangkan sisanya 71. 3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA