Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan Vol. No. 3 Juli 2024 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 103-116 DOI:https://doi. org/10. 59031/jkpim. Availableonlineat . https://jurnal. id/index. php/jkppk Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma Yohanes Ari Kuncoroyakti1. Prasetyo Bonifasius2. Hardjito3. Norma S Rainu4 1,2,3,4 Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Gunadarma. Indonesia Alamat. Jl Margonda Raya 100. Depok Korespondensi penulis: suratyohanes@gmail. Abstract. This study uses a qualitative approach with an interpretive paradigm, which allows for an indepth understanding of individual experiences through in-depth interviews. Data collection was conducted through interviews with a number of Eastern students who experienced culture shock during the adaptation process in Jabodetabek. The theory used in this study is communication accommodation theory, which explains how individuals change the way they communicate to adjust to a new culture or different social The results showed that Eastern students experienced several forms of culture shock such as uncertainty in verbal and nonverbal communication, lifestyle differences, and different social norms. However, they also use various communication accommodation strategies, such as language, speech style, and attitude adjustments to bridge the cultural gap. This adaptation process takes time, but gradually, they are able to reduce cultural tensions and improve their cross-cultural communication skills. Keywords: Intercultural Communication. Culture Shock. Eastern College Abstrak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif yang memungkinkan adanya pemahaman mendalam terhadap pengalaman individu melalui wawancara Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terhadap sejumlah mahasiswa Timur yang mengalami culture shock selama proses adaptasinya di Jabodetabek. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori komunikasi akomodasi yang menjelaskan bagaimana individu mengubah cara berkomunikasinya untuk mengakomodasi. diri mereka dengan budaya baru atau lingkungan sosial yang Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelajar Timur mengalami berbagai bentuk kejutan budaya, seperti ketidakpastian dalam komunikasi verbal dan nonverbal, perbedaan gaya hidup serta perbedaan norma sosial. Para mahasiswa juga menggunakan strategi penanggulangan komunikasi yang berbeda, seperti menyesuaikan bahasa, gaya bicara, dan sikap untuk menjembatani kesenjangan budaya. Proses adaptasi ini memerlukan waktu, namun bertahap, mereka mampu mengurangi ketegangan budaya dan meningkatkan keterampilan komunikasi antar budaya. Kata kunci: Komunikasi Antar Budaya. Culture Shock. Mahasiswa Timur LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara maritim di Indonesia yang memiliki jumlah suku bangsa terbanyak di dunia. Suku bangsa yang ada di Indonesia sebanyak 300 suku bangsa dan ini tersebar diseluruh wilayah. Keberadaan suku bangsa ini memiliki dampak dengan keragamaman budaya, bahasa, adat yang masing masing berbeda. Keragaman budaya dan adat ini memiliki nilai positif dan negatif. Salah satu permasalahan yang muncul dalam keragaman ini adalah komunikasi antar budaya. (Etwar, 2. Interaksi antar budaya semakin krusial di era globalisasi saat ini dimana mahasiswa merupakan kelompok yang kerap mengalami guncangan budaya ketika berinteraksi dengan budaya lain. Ketika mereka berpindah ke tempat baru untuk melanjutkan studi dan mereka akan menghadapi perbedaan besar dalam norma sosial, kebiasaan serta sistem pendidikan yang bisa menyebabkan perasaan bingung dan tidak nyaman. Komunikasi Received: October 12, 2024. Revised: November 13, 2024. Accepted: November, 14, 2024. Online Available: Desember, 18, 2024. Published: January 01, 2025 * Yohanes Ari Kuncoroyakti. suratyohanes@gmail. Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma antar budaya berlangsung ketika orang-orang dari berbagai latar belakang budaya berkumpul dan saling berinteraksi. Aspek komunikasi sangat fundamental dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Mahasiswa memiliki naluri untuk berbicara, berbagi ide, serta mengirim dan menerima informasi mengenai beragam pengalaman. Komunikasi yang berhasil dapat terjadi apabila pengirim dan penerima pesan dari budaya yang berbeda saling memahami dan menghargai satu sama lain. Ketika pemahaman dan penghargaan tercapai, hubungan persahabatan dan solidaritas akan terbentuk sehingga membantu mengurangi ketidakpastian dan konflik antara budaya. (Annurrisa, 2. Terdapat faktor predisposisi yang bisa memicu seseorang mengalami guncangan budaya termasuk tingkat kesiapan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, pengalaman sebelumnya dalam berinteraksi dengan budaya lain, dukungan sosial yang ada, dan karakteristik psikologis orang tersebut. Para peneliti menganggap bahwa jarak budaya antara kultur pendatang dan lokal sangat kuat dalam memengaruhi tingkat guncangan budaya. Jarak tersebut meliputi perbedaan dalam etnis, bahasa, tradisi, agama, dan berbagai aspek budaya lainnya. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia termasuk wilayah Indonesia Timur sering kali merantau untuk mendapatkan pendidikan tinggi di kota-kota besar seperti Jabodetabek. Universitas Gunadarma menjadi salah satu universitas terkemuka di Indonesia menjadi salah satu pilihan utama bagi mahasiswa dari daerah tersebut. Situasi ini membentuk dinamika sosial dan budaya yang menarik di Mahasiswa dari Indonesia Timur membawa budaya, nilai-nilai dan norma yang berbeda dibandingkan dengan budaya yang dominan di Jabodetabek. Perbedaan ini sering menimbulkan pengalaman guncangan budaya, berupa ketidaknyamanan, dan kehilangan arah saat berintegrasi dengan budaya baru yang berbeda dari asalnya. Guncangan budaya bisa berpengaruh pada proses adaptasi sosial dan akademis mahasiswa serta kesejahteraan mental mereka. Penelitian ini berbasis pada jurnal komunikasi yang fokus pada komunikasi antar budaya mahasiswa Universitas Brawijaya. Tingkat pemahaman ini disebabkan adanya perbedaan budaya dan kepribadian manusia, sehingga diperlukan komunikasi budaya dan bahasa untuk pemahaman yang mendalam. Lebih lanjut, karena kemampuan pemahaman bahasa daerah setiap siswa belum tinggi, perbedaan bahasa antar siswa menjadi salah satu kendala dalam komunikasi interpersonal. Penggunaan bahasa, pilihan kata, dan elemen JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 103-116 nonverbal secara kreatif dapat membantu Anda berkomunikasi dengan lebih baik. Orangorang dari latar belakang berbeda dapat bertukar ide dan perspektif, sehingga memfasilitasi hubungan lintas budaya. (Wibawa, 2. Tinjauan berikut yang menjadi dasar penelitian ini akan mengkaji komunikasi mahasiswa Dayak dan Jawa di berbagai kampus di Kota Salatiga. Dengan menggunakan bahasa yang dipahami kedua belah pihak dalam komunikasi antarbudaya beragam kesalahpahaman dapat diminimalkan sehingga mengurangi risiko terjadinya konflik. Penggunaan bahasa yang tepat dapat membantu menghindari stereotip dan prasangka yang mungkin timbul ketika berinteraksi dengan orang-orang dari budaya Dayak dan Jawa. Pemahaman bahasa dan budaya lawan bicara kita, kita dapat melihat mereka sebagai individu yang unik dan bukan sekadar perwakilan kelompoknya. Identitas budaya setiap siswa Dayak dan Jawa tetap tidak berubah dan tetap erat kaitannya dengan budaya masing-masing. Meskipun mahasiswa Dayak dan Jawa mungkin menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan akademis baru, identitas budaya mereka sebagai mahasiswa Dayak dan Jawa tetap kuat. (Kristianto, 2. KAJIAN TEORITIS Teori akomodasi ini dikembangkan oleh Howard Giles tahun 1970an, dimana teori ini melihat bagaimana adaptasi dilakukan individu Ketika mereka berinteraksi social. Akomodasi ini tentu mencakup perubahan dalam hal berbicara, pemilihan kata dan aksen serta Bahasa yang digunakkan. Teori ini memberikan dasar yang kokoh untuk memahami cara individu dari berbagai budaya menyesuaikan diri dalam situasi interaksi yang rumit. Teori akomodasi khususnya menekankan bagaimana orang berusaha mengubah cara komunikasi mereka untuk mengurangi rasa tidak nyaman, meningkatkan pemahaman, dan mencapai tujuan interaksi yang lebih harmonis saat berhadapan dengan orang-orang dari budaya lain. Teori ini juga memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengevaluasi cara komunikasi yang diterapkan oleh mahasiswa seperti konvergensi di mana mereka mengubah cara berbicara agar lebih selaras dengan standar setempat. (Simeonova, 2. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma Teori Akomodasi Komunikasi memungkinkan peneliti untuk tidak hanya melihat bagaimana proses penyesuaian komunikasi berlangsung. Teori ini berusaha memahami hubungan antarbudaya yang lebih besar. Hal penting disini adalah dalam membentuk pengalaman mahasiswa dari Timur dalam berkomunikasi dan berinteraksi di daerah yang memiliki budaya yang berbeda seperti Jabodetabek. Teori akomodasi ini tentu dipengaruhi beberapa faktor pendukung seperti identitas social, norma budaya serta kontekstual situasi interaksi. Dalam teori ini tentu dapat dilihat pada berbagai konteks seperti Ketika percakapan antar teman serta interaksi lintas budaya. Ketika memahami akomodasi komunikasi dapat menjadi lebih sadar bagaimana model interaksi dengan orang lain, komunikasi tentu dapat mempengaruhi hubungan antarpribadi dan social (Usman, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakkan metode kualitatif dengan paradigma konstruktivis. Metode kualitatif dalam penelitian ini menjelaskan subyek dan obyek penelitian. Subyek sering dikatikan dengan fihak informan atau seseorang yang memberikan informasi berupa data yang diperlukan. Penelitian ini tentu mengambil subyek penelitian yakni mahasiswa timur yang ada di Universitas Gunadarma. Subyek penelitian ini terdiri dari 7 orang yang berasal dari papua, nusa tenggara timur. Sulawesi dan maluku. Mereka berusaha antara 19 hingga 23 tahun dan kuliah beberapa fakultas di Universitas Gunadarma. Penelitian dengan metode kualitatif seringkali dikaitkan dengan paradigma Paradigma ini berhubungan dengan tradisi sosiokultural yang melihat fenomena di masyarakat. Pada paradigma ini sering melihat keberadaan symbol atau Bahasa menjadi bagian penting dalam mengungkap konsep yg ada. Paradigma konstruktivis merupakan paradigma yang beranggapan bahwa kebenaran suatu fakta sosial dapat dilihat sebagai hasil konstruksi sosial dan kebenaran suatu fakta sosial bersifat relatif. Model konstruktivis ini merupakan bagian dari perspektif interpretivisme yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu interaksionisme simbolik, fenomenologi, dan Peneliti konstruktivis mempelajari berbagai realitas yang dibangun oleh individu dan makna konstruksi tersebut terhadap kehidupan mereka bersama orang lain. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 103-116 Dalam konstruktivisme tentu saja setiap individu mempunyai pengalaman unik yang berbeda dengan individu lain. (Simeonova, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketika seorang individu memasuki lingkungan baru, mereka akan melalui proses penyesuaian diri yang dikenal sebagai adaptasi. Namun, lingkungan baru ini sering kali memiliki kondisi budaya yang berbeda dari budaya asal individu tersebut. Perbedaan budaya ini dapat menyebabkan individu merasa terkejut dan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan budaya baru, sebuah fenomena yang dikenal sebagai culture Mahasiswa asal daerah Timur yang menempuh studi di Universitas Gunadarma di Jabodetabek adalah contoh kelompok yang rentan mengalami culture shock. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk menjalani interaksi atau penyesuaian diri agar dapat bertahan dan berfungsi secara efektif di lingkungan baru yang memiliki budaya yang Hasil penelitian ini memberikan deskripsi tentang adaptasi yang dilakukan oleh mahasiswa asal daerah Timur yang sedang menempuh studi di Universitas Gunadarma, serta bagaimana mereka menghadapi dan mengatasi culture shock dalam interaksi komunikasi antar budaya di Jabodetabek. Menurut hasil wawancara dengan 7 narasumber, semua menyatakan bahwa merasa kaget saat pertama kali tiba di jabodetabek, sepeti yang di katakan oleh narasumber Putri Aprilia seorang mahasiswa asal jayapura papua program studi psikologi: Ausaat pertama kali tiba dari bandara tu sudah kaget sih karna bandaranya saja sudah besar bangat yakan terus sampai ke kotanya belum bahkan belum sampai kekotanya pun itu gedung-gedungnya tinggi tinggi ya besar besar jadi ukuranya itu besar-besar kotanya ramai ruang lungkupnya kaya orang orang lebih sibuk begitu, lebih banyak orang gitu dan dipapua walaupun ramai juga tapi gedungnya ga setinggi itu paling yah ga setinggi itulah karna disini ibukotanya juga kan Interaksi antara orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda seringkali penuh dengan tantangan, terutama terkait dengan perbedaan bahasa dan dialek. Sebagai alat komunikasi terpenting, bahasa memegang peranan penting dalam proses adaptasi. Perbedaan bahasa tidak hanya mencakup bahasa lisan, tetapi juga dialek dan terminologi yang mungkin tidak dikenal oleh orang-orang dari daerah lain. Beberapa mahasiswa menyebutkan ada kesulitan yang mereka alami saat berinteraksi dengan mahasiswa dari JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma daerah lain, bagaimana perbedaan bahasa dapat menyebabkan seseorang merasa terasing dan enggan untuk berpartisipasi aktif dalam percakapan. Pengalaman serupa dirasakan oleh Santoso Mahasiswa asal kendari Sulawesi tenggara, yang mengatakan: AuAwalnya gua agak susah buat nyambung sama temen-temen di sini karena bahasa banyak istilah yang gua belum ngerti, jadi gua sering diem dulu buat mikir gimana cara ngomong yang bener Tapi lama-lama gua mulai bisa berinteraksi, walaupun masih belajar sampai sekarangAy Ini menunjukkan bahwa tantangan bahasa dan istilah lokal memaksa mahasiswa untuk mengamati dan belajar terlebih dahulu sebelum merasa nyaman dalam berkomunikasi Dari sisi teori akomodasi komunikasi, perilaku ini menggambarkan fase awal akomodasi pasif, di mana individu lebih banyak mengamati sebelum menyesuaikan gaya komunikasinya dengan norma yang berlaku di lingkungan baru Culture shock sering kali diperkuat oleh kejadian atau situasi yang sangat berbeda dari apa yang biasa dialami seseorang di budaya asalnya. Kejadian-kejadian ini bisa berupa pengalaman sehari-hari atau kebiasaan social yang terasa asing. Dalam konteks mahasiswa dari daerah Timur, culture shock bisa muncul dari berbagai aspek kehidupan baru yang mereka temui di Jabodetabek. Mahasiswa mengalami berbagai kejadian yang memperkuat rasa culture shock. Seperti yang dialami Oleh Sherina Febriana mahasiwa asal palu Sulawesi tengah jurusan ilmu komunikasi yang naik kereta pada saat jam sibuk: AuPengelaman pertama lihat dan coba naik kereta yang menurut saya paling epick jadi waktu itu saya pernah teman sekelas sih raisa itu kita ke pasar senen tapi kita pulangnya itu salah jamnya itu salah jamnya itu dimana orang orang itu pas pulang kerja disitu saya merasakan dimana cowo cewe itu itu sudah galiat itu bener bener sudah saling nemplok-nemplok nempel-nempek bodoh amat itu sih pertama kali yang menurut saya paling kaget, tapi transportasi kaya kereta itu memang pilihan yang paling tepatlah untuk orang-orang kerja yang menghemat mungkin ya menghemat bensin ya cumin kurang efektif untuk pulangnya atau perginya pas jam kerja itu buat saya kaget sih, selain macet kereta juga buat saya kaget itu saja sih. Ketika menghadapi culture shock, mahasiswa asal Indonesia Timur di Universitas Gunadarma Jabodetabek menggunakan berbagai strategi untuk mengakomodasi perbedaan budaya dan menyesuaikan diri dalam lingkungan baru. Strategi-strategi ini bisa dianalisis berdasarkan Teori Akomodasi Komunikasi yang pertama kali dikemukakan oleh. Beberapa strategi akomodasi yang umum diterapkan antara lain: Konvergensi JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 103-116 Konteks mahasiswa Indonesia Timur di Jabodetabek, mereka mungkin mencoba meniru aksen, intonasi, atau gaya berbicara yang lebih umum di Jakarta agar lebih mudah dipahami dan diterima oleh mahasiswa lokal. Misalnya, mereka bisa mengurangi penggunaan dialek atau istilah yang khusus digunakan di wilayah asal mereka . Divergensi Meskipun berinteraksi dengan mahasiswa dari daerah lain, mereka tetap menggunakan bahasa atau ekspresi yang khas dari budaya asalnya, yang dapat menyebabkan kesenjangan dalam komunikasi tetapi juga menguatkan identitas mereka Over-akomodasi Mahasiswa Indonesia Timur yang mengalami culture shock mungkin terkadang terlalu berusaha meniru budaya atau bahasa setempat hingga terlihat tidak autentik, yang dapat menimbulkan rasa canggung dalam komunikasi. Pemeliharaan Identitas Mereka tetap menggunakan cara komunikasi yang biasa mereka gunakan di daerah asal, baik dalam bahasa, gaya bicara, maupun topik percakapan. Strategi ini dapat memperlihatkan kekuatan identitas budaya, meskipun dalam beberapa kasus bisa memperpanjang proses adaptasi Adaptasi Emosional dan Sosial Mahasiswa juga dapat menggunakan strategi akomodasi emosional dan social untuk mengurangi dampak culture shock. Mereka mungkin bergabung dengan komunitas mahasiswa dari daerah asal atau kelompok yang memiliki pengalaman yang mirip, sehingga bisa saling mendukung dan berbagi cara-cara menghadapi culture shock (Putra. Strategi akomodasi komunikasi mencakup berbagai cara yang digunakan individu untuk menyesuaikan diri dengan norma komunikasi di lingkungan baru. Narasumber secara bertahap mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Celya mahasiswa asal larantuka NTT jurusan Psikologi menyebutkan: "Saya lebih banyak mendengarkan teman-teman dan mencoba menyesuaikan Awalnya saya banyak diam, tapi sekarang saya lebih percaya diri untuk berbicaraAy. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma Perbedaan budaya sangat memengaruhi gaya komunikasi mahasiswa Indonesia Timur di Jabodetabek. Perubahan dalam gaya komunikasi, seperti penyesuaian nada bicara, merupakan bentuk akomodasi aktif. Narasumber secara sadar mengubah gaya komunikasinya agar lebih sesuai dengan norma lokal, di mana nada bicara yang lebih santai dianggap lebih sopan dan sesuai dengan konteks sosial dimasyarakat. Penggunaan bahasa daerah dan Bahasa Indonesia menjadi salah satu tantangan komunikasi yang dihadapi oleh mahasiswa Indonesia Timur di Jabodetabek. Bahasa daerah yang mereka gunakan di kampung halaman sering kali tidak dapat dimengerti oleh mahasiswa dari daerah lain, sehingga mereka beralih menggunakan Bahasa Indonesia. Namun, perbedaan dialek dan logat masih sering menimbulkan kendala dalam Usman seorang mahasiswa asal Tidore, menyampaikan bahwa saat pertama kali tiba di Jabodetabek, ia merasa perlu menyesuaikan cara berbicaranya. " Kesulitan terbesar saya adalah dalam memahami logat dan bahasa yang digunakan oleh teman-teman dari daerah lain. Di Maluku, kata "kita" sering digunakan untuk merujuk kepada "saya", sementara di Jabodetabek, kata "kita" digunakan untuk menunjukkan "kami" atau "kita bersama". Ini bisa timul kebingungan di teman teman karna kan klo kita mereka ngiranya ke sumua orang pdhal ya satu orang saja kalo di maluku, kaya misal ni saya dari maluku bilang : "Kita mau pergi ke kampus. " Maksudnya itu : Saya mau pergi ke kampu. nah kan pasti orang sini ngiranya ,Oh, kalian semua mau pergi ke kampus? Karna dipikir lebih dari satu orang tapi tarappa sih saya harus bisa mengatasinya agar bisa susaikan budaya dsini dengan saya banyak bertanya dan belajar dari mereka serta berusaha untuk lebih sering menggunakan bahasa Indonesia yang baku dalam percakapan sehari-hari karna kan di Tidore, orangorang lebih sering menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Saya merasa perlu mengurangi penggunaan logat Tidore dan beralih ke Bahasa Indonesia yang lebih baku agar teman-teman di sini bisa memahami saya. Perbedaan dialek juga menjadi sumber kesalahpahaman dalam komunikasi. Seorang mahasiswa asal Merauke. Riski Andre, menjelaskan bahwa dialek Papua memiliki ciri khas dalam penyampaian pesan yang sering kali tidak dipahami oleh temantemannya dari wilayah lain. Untuk mengatasinya, ia berusaha menggunakan Bahasa Indonesia yang lebih formal dan menghindari penggunaan bahasa daerah saat berbicara dengan teman-temannya: " yang pasti logat dan bahasa ya logat papua itu apa yaa suaranya tuh bedah terlalu cepat terus disingkat jadi susah kaya "kamu ke" dilogat dan Bahasa itu susah dan orang sana kan kalo bacarita pasti intonasi tinggi to kaya missal deng tamang kelas dong pangge ni Auandre lu udah buat tugasAy nah sa balas JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 103-116 Aukenapa jadiAy . uara kera. pdahal itu biasa saja artinya kan saya nanya iya kenapa tapi dong salah atrikan jadi harus turunin kita punya intonasi kan susah saja sih. Meskipun demikian, adaptasi terhadap bahasa bukanlah hal yang mudah dan memerlukan waktu. Beberapa mahasiswa mengaku masih sering merasa canggung ketika berbicara dengan teman-teman yang menggunakan logat atau dialek yang berbeda. Mereka perlu berpikir dua kali sebelum berbicara untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan tidak salah dipahami. Penggunaan Bahasa Indonesia yang lebih formal serta penurunan logat menjadi bentuk adaptasi komunikasi yang penting bagi mahasiswa Indonesia Timur di Jabodetabek. De$ngan me$lakukan pe$rubahan dalam gaya bi$cara dan pi$li$han bahasa, me$re$ka be$rusaha untuk le$bi$h mudah be$ri$nte$raksi$ de$ngan te$man-te$man dari$ be$rbagai$ dae$rah se$rta me$nghi$ndari$ ke$salahpahaman yang dapat te$rjadi$ aki$bat pe$rbe$daan bahasa dan budaya. Adaptasi$ bahasa i$ni$ juga me$njadi$ prose$s pe$mbe$lajaran yang be$rharga bagi$ para mahasi$swa, kare$na se$lai$n me$mudahkan me$re$ka dalam be$rkomuni$kasi$, hal i$ni$ juga me$mpe$rkaya pe$mahaman me$re$ka te$rhadap be$rbagai$ di$ale$k dan i$sti$lah yang ada di$ Jabode$tabe$k. Prose$s i$ni$, me$ski$pun pe$nuh tantangan, juga me$mbe$ri$kan me$re$ka pe$ngalaman be$rharga dalam me$nghadapi$ pe$rbe$daan budaya dan be$rkomuni$kasi$ se$cara e$fe$kti$f di$ li$ngkungan multi$kultural. (Bali$nda, 2. Te$ori$ akomodasi$ komuni$kasi$ me$nje$laskan dua prose$s utama dalam pe$nye$suai$an komuni$kasi$: conve$rge$nce$ dan di$ve$rge$nce$. Strate$gi$ konve$rge$nsi$ i$ni$ ti$dak hanya me$mbantu mahasi$swa dalam be$rkomuni$kasi$ de$ngan le$bi$h e$fe$kti$f, te$tapi$ juga me$mpe$rkuat hubungan soci$al me$re$ka de$ngan te$man-te$man dari$ latar be$lakang budaya yang be$rbe$da. Se$bagi$an be$sar narasumbe$r tampaknya le$bi$h me$mi$li$h strate$gi$ conve$rge$nce$. Se$bagi$an be$sar narasumbe$r tampaknya le$bi$h me$mi$li$h strate$gi$ conve$rge$nce$, se$pe$rti$ yang di$ungkapkan ole$h Ce$lya Mahasi$swa asal larantuka NTT: "Saya me$nye$suai$kan nada bi$cara saya dan be$lajar dari$ cara me$re$ka ber$ komuni$kasi$. Di$ve$rge$nce$ dalam komuni$kasi$ juga te$rli$hat dalam cara mahasi$swa me$re$spon li$ngkungan yang sangat be$rbe$da dari$ dae$rah asal me$re$ka. Strate$gi$ di$ve$rge$nce$ i$ni$ me$nunjukkan bahwa me$ski$pun mahasi$swa be$rusaha be$radaptasi$ de$ngan li$ngkungan baru. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma me$re$ka juga me$mi$li$ki$ ke$i$ngi$nan untuk te$tap me$mpe$rtahankan i$de$nti$tas budaya me$re$ka. Di$ve$rge$nsi$ me$mbantu me$re$ka me$rasa te$rhubung de$ngan akar budaya dan me$mbe$ri$kan rasa ke$nyamanan di$ te$ngah li$ngkungan yang sangat be$rbe$da. Usman dari$ Ti$dore$ me$mi$li$h untuk te$tap me$nggunakan be$be$rapa e$le$me$n gaya komuni$kasi$ dari$ kampung halamannya se$bagai$ cara untuk me$mpe$rtahankan i$de$nti$tas budaya, me$ski$pun i$a juga be$rusaha me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan li$ngkungan baru: "Saya masi$h me$rasa pe$rlu me$mpe$rtahankan cara bi$cara dari$ Ti$dore$, tapi$ juga harus me$nye$suai$kan de$ngan te$man-te$man di$ si$ni$. Akomodasi$ komuni$kasi$ adalah prose$s pe$nye$suai$an dalam gaya be$rbi$cara, bahasa, nada, dan be$ntuk komuni$kasi$ lai$n yang di$lakukan ole$h se$se$orang saat be$ri$nte$raksi$ de$ngan orang lai$n yang me$mi$li$ki$ latar be$lakang budaya yang be$rbe$da Prose$s i$ni$ me$li$batkan dua aspe$k utama, yai$tu conve$rge$nce$, di$ mana se$se$orang me$nye$suai$kan komuni$kasi$nya agar le$bi$h me$nde$kati$ gaya bi$cara lawan bi$caranya, dan di$ve$rge$nce$, di$ mana se$se$orang te$tap me$mpe$rtahankan gaya komuni$kasi$ asalnya. Dalam konte$ks adaptasi$ budaya, akomodasi$ komuni$kasi$ be$rpe$ran pe$nti$ng kare$na me$mungki$nkan i$ndi$vi$du untuk le$bi$h mudah di$te$ri$ma dalam li$ngkungan yang be$rbe$da se$cara budaya. (Vale$n, 2. Pada pe$ne$li$ti$an i$ni$, mahasi$swa asal dae$rah Ti$mur di$ Uni$ve$rsi$tas Gunadarma be$rusaha me$lakukan prose$s akomodasi$ komuni$kasi$ untuk me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan li$ngkungan di$ Jabode$tabe$k. Putri$ Apri$li$a me$nje$laskan bahwa salah satu be$ntuk pe$nye$suai$an yang di$lakukannya adalah pe$rubahan nada bi$cara: "Pe$rubahan nada bi$cara adalah hal yang pe$nti$ng. Saya be$lajar bahwa di$ si$ni$, orang le$bi$h suka nada bi$cara yang le$bi$h santai$. Hal i$ni$ me$nunjukkan bahwa akomodasi$ komuni$kasi$ bukan hanya me$ncakup bahasa, te$tapi$ juga gaya komuni$kasi$ se$pe$rti$ nada, te$mpo, dan i$ntonasi$ yang di$se$suai$kan de$ngan norma lokal. Prose$s akomodasi$ i$ni$ me$mbantu me$re$kame$ngatasi$ pe$rbe$daan budaya dan me$nci$ptakan hubungan yang le$bi$h bai$k de$ngan te$man-te$man se$rta li$ngkungan se$ki$tarnya, se$hi$ngga prose$s adaptasi$ me$re$ka me$njadi$ le$bi$h e$fe$kti$f Prose$s akomodasi$ komuni$kasi$ be$rpe$ran pe$nti$ng dalam me$ngatasi$ culture$ shock i$ni$. Me$lalui$ usaha-usaha te$rse$but, mahasi$swa se$cara be$rtahap bi$sa be$radaptasi$ de$ngan bai$k, me$ski$pun pada awalnya me$re$ka me$ngalami$ ke$suli$tan be$sar. Te$ori$ akomodasi$ komuni$kasi$ me$mbantu me$nje$laskan bagai$mana strate$gi$ i$ni$ me$mungki$nkan i$ndi$vi$du untuk be$ri$nte$raksi$ le$bi$h e$fe$kti$f de$ngan orang-orang dari$ latar be$lakang budaya yang be$rbe$da. JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 103-116 Dalam prose$snya, mahasi$swa be$lajar kapan harus me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan li$ngkungan baru dan kapan te$tap me$mpe$rtahankan i$de$nti$tas budaya me$re$ka. Me$nggunakan strate$gi$ conve$rge$nce$ atau di$ve$rge$nce$, mahasi$swa mampu me$nge$lola tantangan-tantangan yang me$re$ka hadapi$ Se$bagai$ yang di$ ungkapkan Ri$ski$ Andre$ bahwa: "Saya te$rus be$rlati$h untuk bi$sa me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan li$ngkungan baru, te$rutama dalam hal bahasa. Me$di$a sosi$al be$rfungsi$ se$bagai$ alat bantu yang si$gni$fi$kan dalam prose$s adaptasi$ Di$ e$ra di$gi$tal, me$di$a sosi$al me$njadi$ platform di$ mana se$se$orang dapat be$lajar te$ntang ke$bi$asaan, bahasa, dan tre$n budaya lokal de$ngan le$bi$h mudah dan ce$pat. Hasi$l dari$ pe$ne$li$ti$an i$ni$ me$nunjukkan bahwa mahasi$swa asal I$ndone$si$a Ti$mur yang me$ne$mpuh pe$ndi$di$kan di$ Uni$ve$rsi$tas Gunadarma Jabode$tabe$k me$ngalami$ culture$ shock dalam be$be$rapa aspe$k komuni$kasi$ antarbudaya. Pe$nye$suai$an di$ri$ me$re$ka di$ li$ngkungan baru yang me$mi$li$ki$ budaya be$rbe$da sangat me$nantang, bai$k dalam i$nte$raksi$ sosi$al maupun akade$mi$k. Hasi$l pe$ne$li$ti$an me$nggambarkan bahwa mahasi$swa dari$ I$ndone$si$a Ti$mur yang kuli$ah di$ Uni$ve$rsi$tas Gunadarma. Jabode$tabe$k, me$ngalami$ culture$ shock dalam be$rbagai$ aspe$k ke$hi$dupan se$hari$-hari$ dan akade$mi$k. Culture$ shock i$ni$ te$rutama di$pi$cu ole$h adanya pe$rbe$daan be$sar antara budaya di$ dae$rah asal me$re$ka dan budaya di$ Jabode$tabe$k. Ke$ce$patan dan Gaya Bi$cara: Bahasa yang di$gunakan di$ Jakarta ce$nde$rung le$bi$h ce$pat dan kasual. Hal i$ni$ me$mbuat mahasi$swa dari$ dae$rah lai$n pe$rlu me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan ri$tme$ pe$rcakapan yang be$rbe$da, yang dapat me$me$ngaruhi$ cara me$re$ka be$ri$nte$raksi$ de$ngan te$man-te$man dan dose$n. I$sti$lah dan Di$ale$k Lokal: Se$ti$ap dae$rah di$ I$ndone$si$a me$mi$li$ki$ i$sti$lah dan di$ale$k yang khas, yang mungki$n ti$dak di$gunakan atau di$ke$nal di$ Jakarta. Mahasi$swa dari$ Papua. NTT, atau dae$rah lai$n se$ri$ng kali$ harus be$radaptasi$b de$ngan pe$rbe$daan i$ni$, yang bi$sa me$nye$babkan ke$bi$ngungan dalam pe$rcakapan se$hari$-hari$. Pe$nggunaan Bahasa I$ndone$si$a Formal: Mahasi$swa dari$ dae$rah yang te$rbi$asa me$nggunakan bahasa dae$rah dalam ke$se$hari$annya, se$pe$rti$ Papua dan NTT, harus be$rali$h ke$ Bahasa I$ndone$si$a yang le$bi$h formal di$ li$ngkungan Jabode$tabe$k, te$rutama dalam konte$ks akade$mi$s. Hal i$ni$ me$nambah te$kanan kare$na me$re$ka harus be$rpi$ki$r le$bi$h hati$hati$ se$be$lum be$rbi$cara untuk me$nghi$ndari$ ke$salahpahaman JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma Gaya hi$dup di$ Jabode$tabe$k yang se$rba ce$pat dan di$nami$s juga me$njadi$ tantangan te$rse$ndi$ri$ bagi$ mahasi$swa pe$rantauan. Di$ dae$rah asal me$re$ka, ri$tme$ hi$dup ce$nde$rung le$bi$h lambat dan santai$. Namun, di$ Jakarta, orang-orang te$rli$hat se$lalu te$rburu-buru, bai$k dalam me$njalankan akti$vi$tas se$hari$-hari$ maupun dalam hal be$ke$rja atau be$lajar. Mahasi$swa harus be$radaptasi$ de$ngan pe$rubahan te$mpo ke$hi$dupan yang le$bi$h ce$pat i$ni$, yang se$ri$ng kali$ me$nambah te$kanan dalam hal manaje$me$n waktu, te$rutama saat me$nghadapi$ tugas akade$mi$k dan ke$gi$atan se$hari$-hari$ Mahasi$swa juga me$ngalami$ pe$rubahan dalam pola i$nte$raksi$ sosi$al. Di$ dae$rah asal me$re$ka, i$nte$raksi$ ce$nde$rung le$bi$h i$nformal dan hangat, di$ mana se$mua orang sali$ng me$nge$nal dan me$nyapa. Se$bali$knya, di$ Jabode$tabe$k, i$nte$raksi$ sosi$al te$rasa le$bi$h formal dan i$ndi$vi$duali$s. Hal i$ni$ me$nye$babkan mahasi$swa me$rasa te$ri$solasi$ di$ awal masa adaptasi$, kare$na me$re$ka me$rasa li$ngkungan sosi$al di$ Jakarta kurang ramah di$bandi$ngkan de$ngan kampung halaman me$re$ka. Pe$rubahan i$ni$ me$maksa mahasi$swa untuk le$bi$h be$rhati$-hati$ dalam be$ri$nte$raksi$, te$rutama dalam me$mahami$ norma sosi$al dan budaya baru di$ te$mpat me$re$ka ti$nggal. Pada awalnya, mahasi$swa Ti$mur Uni$ve$rsi$tas Gunadarma di$ Jabode$tabe$k mungki$n me$rasa canggung dan te$rasi$ng kare$na pe$rbe$daan budaya yang si$gni$fi$kan. Namun, me$re$ka bi$asanya be$rusaha untuk te$tap te$rbuka, be$lajar dari$ li$ngkungan baru, dan me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan cara hi$dup se$rta pola komuni$kasi$ yang be$rbe$da di$ Jabode$tabe$k. Banyak di$ antara me$re$ka yang be$rgabung de$ngan komuni$tas se$sama masasi$swa Ti$mur untuk me$ndapatkan dukungan dan me$mpe$rtahankan i$de$nti$tas budaya me$re$ka, sambi$l te$tap be$rupaya me$mahami$ dan me$nghargai$ budaya lokal di$ Jabode$tabe$k. KESIMPULAN DAN SARAN Fe$nome$na i$ni$ te$rjadi$ aki$bat adanya pe$rbe$daan yang si$gni$fi$kan antara latar be$lakang budaya asal me$re$ka de$ngan budaya masyarakat Jabode$tabe$k yang me$re$ka te$mui$ di$ li$ngkungan kampus dan se$ki$tarnya. Pe$rtama, pe$rbe$daan dalam gaya komuni$kasi$ antara budaya ti$mur dan budaya Jabode$tabe$k me$rupakan faktor utama yang me$nye$babkan JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 e-ISSN:2964-3104. p-ISSN:2964-3090. Hal 103-116 culture$ shock. Mahasi$swa dari$ ti$mur umumnya me$mi$li$ki$ gaya komuni$kasi$ yang le$bi$h lugas, te$rbuka, dan ce$nde$rung me$ne$kankan aspe$k e$mosi$onal, se$me$ntara masyarakat Jabode$tabe$k le$bi$h me$nge$de$pankan komuni$kasi$ yang ce$nde$rung formal, te$rstruktur, dan se$ri$ng kali$ be$rsi$fat ti$dak langsung. Pe$rbe$daan i$ni$ ke$rap me$ni$mbulkan ke$salahpahaman, te$rutama dalam i$nte$raksi$ se$hari$-hari$ bai$k di$ dalam maupun di$ luar li$ngkungan kampus. Ke$dua, faktor adaptasi$ sosi$al juga me$mai$nkan pe$ran pe$nti$ng dalam prose$s culture$ Mahasi$swa ti$mur se$ri$ng kali$ me$rasa ke$suli$tan untuk me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan norma-norma sosi$al yang be$rbe$da. Mi$salnya, dalam hal pe$rgaulan, pe$rbe$daan cara be$rpakai$an, ke$bi$asaan makan, se$rta cara be$rsosi$ali$sasi$ de$ngan te$man se$baya se$ri$ng kali$ me$njadi$ tantangan yang di$hadapi$. Hal i$ni$ se$maki$n di$pe$rparah ole$h adanya ste$re$oti$p atau pe$rse$psi$ ne$gati$f te$rhadap mahasi$swa ti$mur yang te$rkadang me$mpe$ngaruhi$ pe$ne$ri$maan me$re$ka di$ li$ngkungan baru. Ke$ti$ga, culture$ shock juga te$rli$hat dalam aspe$k ke$hi$dupan akade$mi$k. Mahasi$swa ti$mur harus me$nye$suai$kan di$ri$ de$ngan me$tode$ pe$ngajaran yang mungki$n be$rbe$da de$ngan me$tode$ yang me$re$ka ke$nal di$ dae$rah asal. Pe$rbe$daan dalam pola pi$ki$r, e$tos ke$rja, dan gaya be$lajar juga turut me$mpe$ngaruhi$ prose$s adaptasi$ me$re$ka di$ kampus. Me$ski$pun de$mi$ki$an, se$bagi$an be$sar mahasi$swa mampu me$le$wati$ fase$-fase$ culture$ shock i$ni$ de$ngan dukungan dari$ se$sama mahasi$swa, bai$k yang be$rasal dari$ dae$rah yang sama maupun mahasi$swa lokal yang le$bi$h te$rbuka te$rhadap pe$rbe$daan budaya. Pe$ne$li$ti$an i$ni$ juga me$nunjukkan bahwa, se$i$ri$ng waktu, mahasi$swa ti$mur mampu be$radaptasi$ de$ngan li$ngkungan baru me$lalui$ prose$s akomodasi$ komuni$kasi$, yai$tu upaya me$re$ka untuk me$nye$suai$kan gaya komuni$kasi$ dan pe$ri$laku soci$al me$re$ka se$suai$ de$ngan norma-norma yang be$rlaku di$ Jabode$tabe$k. Prose$s i$ni$ me$nce$rmi$nkan upaya untuk me$ngurangi$ ke$te$gangan budaya dan me$ncapai$ pe$mahaman yang le$bi$h bai$k antara ke$dua be$lah pi$hak DAFTAR REFERENSI Anni$sa Bali$nda Luhti$ti$sari$. Muhammad Mona Adha. Abdul Hali$m. Pe$ngaruh Komuni$kasi$ Antar Budaya Te$rhadap Si$kap E$tnose$ntri$sme$ Mahasi$swa. Jurnal Antropocen$ e,$ Vol 4. No 2, 2024, https://doi. $ org/10. 56393/antropocen$ e. $ v4i$2. Boyka Si$me$onova. Robe$rt D. Galli$e$rs, . Cambri$dge$ Handbook of Quali$tati$ve$ Dig$ it$ al Res$ e$arch. Cambri$dge$ Univ$ er$ sit$ y Pres$ s. Unit$ ed$ Kin$ gdom JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025 Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Universitas Gunadarma Dani$e$l Kri$sti$anto. Ri$ni$ Darmastuti$. Komuni$kasi$ Antar Budaya Mahasi$swa Suku Dayak dan Suku Jawa di$ Salatig$ a dalam Akulturasi$ Budaya. Jurnal Il$ mu Komunik$ asi$ UHO. Vol 9. No 2, 2024, https://doi. $ org/10. 52423/jik$ uho. v9i2$ . E$ka Vale$n Anggun Cahyani$. Nurul Pri$nggowati$. Arsi$h Amali$a Chandra Pe$rmata. Komunik$ asi$ In$ ter$ per$ sonal Mahasis$ wa den$ gan Per$ bed$ aan Budaya di$ Fakultas Il$ mu Admin$ is$ trasi$ Univ$ er$ sit$ as Brawij$ aya. Jurna Tuturan. Vol 2. No 3, 2024, https://doi. $ org/10. 47861/tuturan. v2i3$ . Hodri$ani$. Usman Alhudawi$. Junai$di$, . Komuni$kasi$ Li$ntas Budaya. De$e$publi$sh. Bandung Re$sdhi$ Wi$bawa. E$di$ Sumarwan. Komuni$kasi$ Antarbudaya Mahasi$swa Dalam Mew ujudkan Ke$harmoni$san di$ Li$ngkungan Kampus. Jurnal Soci$al. Vol 3. No 4, 2023, https://doi. $ org/10. 51878/socia$ l. v3i4$ . Si$montan Putra. Joshua Ade$ Putra Waruwu. Pe$ngaruh Hambatan Komuni$kasi$ Antar Budaya Dik$ alangan Mahasis$ wa Per$ antau. Jurnal I$lmia$ h Multid$ is$ ip$ lin$ . Vol 3. No 6, 2024, https://doi. $ org/10. 56799/jim v3i6$ . Vadi$an Annurri$sa. Qoni$Aoah Nur Wi$jayanti$. Hambatan Komuni$kasi$ Antarbudaya di$ Kalangan Mahasis$ wa Asli$ Madura dan Pen$ datang di$ Univ$ er$ sit$ as Trunojoyo Madura. Jurnal Med$ ia$ Akadem ik$ . Vol https://doi. $ org/10. 62281/v2i1$ . JKKPK - VOLUME 3. NO. JANUARI - 2025