ARUMBAE: JURNAL ILMIAH TEOLOGI DAN STUDI AGAMA Available online at: http://ojs. id/index. php/arumbae E-ISSN: 2715-775X Vol. No. 2 (Desember, 2. : 191-204 DOI: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Paradoks: Providensia Allah dengan Penderitaan dan Kematian Manusia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo Gereja Masehi Injili di Timor Email: rolintaneo0402@gmail. Submitted: 13-09-2023 Accepted: 09-11-2023 Published: 28-12-2023 Abstract The Christian faith offers paradoxes, such as the concepts of Providence and human suffering. Providence is the belief in God's providence as a certainty of faith. However, humans could challenge God's providence because they suffer and even die. This situation puts humans in a dilemma. This article aims to contribute to academic and Christian faith discourse to understand human suffering . and God's work in human suffering. Through a study of literature and theological traditions, it was found that the discussion of providence cannot be separated from God's role or work in world God works to bring goodness to all His creations. Providence and the experience of suffering seem paradoxical. At the same time, we understand that God cares for us, but at the same time, we cannot deny existential problems, such as death. Death and suffering are realities of life that occur in God's care for His creation. Keywords: The Providence of God. Human suffering. Death. Christian Faith Abstrak Iman Kristen menawarkan sebuah paradoks, seperti konsep providensia dan penderitaan manusia. Providensia adalah keyakinan akan pemeliharaan Tuhan sebagai kepastian iman. Namun, manusia dapat menantang pemeliharaan Tuhan karena mereka menderita bahkan mati. Keadaan ini menempatkan manusia pada dilema. Artikel ini bertujuan untuk memberikan kontribusi pada wacana akademis dan iman Kristen untuk memahami penderitaan manusia . dan karya Tuhan dalam penderitaan manusia. Melalui kajian literatur dan tradisi teologis, ditemukan bahwa pembahasan mengenai providensia tidak dapat dipisahkan dari peran atau karya Tuhan dalam sejarah dunia. Tuhan bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi seluruh ciptaan-Nya. Pemeliharaan dan pengalaman penderitaan tampak paradoks. Pada saat yang sama kita memahami bahwa Tuhan peduli pada kita tetapi pada saat yang sama kita tidak dapat menyangkal masalahmasalah eksistensial, seperti kematian. Kematian dan penderitaan merupakan realita kehidupan yang terjadi dalam pemeliharaan Tuhan terhadap ciptaan-Nya. Kata-kata Kunci: Providensia Allah. Penderitaan Manusia. Kematian. Iman Kristen @ Copyright: Author 2023 This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 Generic License Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. PENDAHULUAN Franz Magnis Suseno dalam bukunya. Menalar Tuhan mengemukakan salah satu karakter manusia yang sulit disangkali, yaitu selalu bertanya. Manusia adalah makhluk yang Manusia selalu bertanya pada apa pun yang berhadapan dengannya. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah sampai. Tak ada pengetahuan apa pun yang bisa membuatnya tidak mau bertanya lebih lanjut. Manusia memang memerlukan pengetahuan. Ada dua kenyataan pada manusia yang tampaknya berlawanan dan membuatnya ingin mengetahui lebih jauh. Pertama, hanya dengan tahu manusia dapat bertindak. Kedua, yang khas bagi manusia adalah selalu mau tahu lebih jauh. Karena sifat manusia yang kedua, manusia berwawasan tidak terbatas. Pengetahuan manusia selalu terbatas. Tetapi wawasannya tidak terbatas. Tidak pernah ada pengetahuan yang dapat memenuhi cakrawala perhatiannya, sehingga manusia bertanya terus. Manusia juga mengajukan pertanyaan eksistensial dan paradoks terkait imannya kepada Allah. Misalnya, mengapa manusia menderita? Mengapa Allah yang diyakini ada bersama dengan manusia, tampak diam dan terus-menerus membiarkan manusia tetap ada dalam penderitaan dan kematian? Pertanyaan mengapa manusia menderita dan di manakah Allah, dapat membawa manusia pada penyangkalan akan eksistensi Allah. Seperti Friedrich Nietzsche, yang menolak eksistensi Tuhan. Baginya. Tuhan itu sudah mati. Pandangannya adalah sebuah serangan terhadap agama dan moralitas Kristen. Baginya Kekristenan itu mengajarkan moralitas budak. Moralitas yang hanya membuat jemaat terus diikat oleh indoktrinasi tentang keberadaan Tuhan. Manusia taat sepenuhnya pada hukum agama yang ada karena dilihat telah direkonstruksi oleh Tuhan. Hanya dengan matinya Tuhan maka manusia bebas menentukan pilihan atas apa yang harus ia lakukan. Dengan kata lain, pandangan tentang kematian Tuhan ini membuka sebuah paham baru tentang manusia yang menggeser keberadaan Tuhan dan mengambil alih seluruh peristiwa yang ada dalam hidupnya. Pandangan Nietzsche ini kemudian bisa disimpulkan bahwa sebenarnya dengan adanya Tuhan manusia akan terus menderita. Hanya dengan matinya Tuhan, manusia tidak lagi menjadi tawanan Tuhan. Franz M Suseno. Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 17. Adelbert Snijders. Antropologi Filsafat Manusia, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 194. Paradoks: Providensia Allah dengan Penderitaan dan Kematian Manusia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo Meski Nietzsche begitu gencar menolak eksistensi Tuhan, tetapi di sisi lain kita juga melihat bahwa ternyata masih banyak manusia yang tetap meyakini Tuhan sebagai realitas yang tertinggi. Malah dengan adanya penderitaan, manusia makin bertaqwa dan sbergantung pada kemahakuasaan Tuhan. Dengan hal ini tentu saja kita akan melihat bahwa ternyata ada pesan paradoks dari penderitaan manusia dan tentang kehadiran Tuhan. Tuhan sesungguhnya ada atau hadir di mana-mana dan tidak dapat dibatasi dalam ruang dan waktu. Bahkan, setiap peristiwa yang terjadi ada di bawah kontrol kehadiran Tuhan. Lebih dari itu. Tuhan juga aktif hadir dengan berbagai cara di pentas sejarah kehidupan. Tuhan juga hadir sebagai pemandu dalam interaksi manusia dengan berbagai peristiwa yang ada di 3 Dengan argumentasi ini maka kita bisa tiba pada sebuah pengakuan bahwa providensia juga adalah salah satu cara Allah memperlihatkan tentang kehadirannya dalam berbagai peristiwa, termasuk peristiwa kematian yang dialami manusia. Peristiwa ini terjadi dalam rancangan dan pemeliharaan Tuhan. Kenyataan ini kemudian meneguhkan iman orang percaya untuk tetap teguh berdiri sekalipun kita terbatas dan rapuh. Providensia secara sederhana bisa dipahami sebagai semua yang ada, semata-mata terjadi karena adanya pemeliharaan dan pemerintahan Tuhan. Beberapa kajian lain telah membahas mengenai providensia Allah. Surianto Manullang menulis tentang Providensia Allah dalam konteks penderitaan Ayub. Menurutnya, melalui penderitaan itulah maka manusia dapat berjumpa dengan Allah. Pada pihak lain, penderitaan itu juga lantas bisa membawa manusia pada kesadaran tentang keterbatasannya dan menggantungkan harapan seutuhnya kepada Allah sebagai sumber pertolongan. Publikasi lainnya ialah dari Jusuf Kelelufna. Allah Segala Maha di Tengah Fenomena Kekerasan dan Penderitaan Orang Saleh. Dalam sub bahasan mengenai Penderitaan dan Providensia Allah. Kelelufna berargumen bahwa konsekuensi logis dari pembahasan di seputaran topik providensia ialah tidak dapat terhindar dari diskusi tentang kejahatan dan penderitaan. Penderitaan dan kejahatan itu bisa sampai terjadi karena faktor kehendak bebas dari diri manusia. Jika kehendak bebas itu terlampau besar menguasai Fekky D. Y Tatulus. AuMengajarkan Konsep Trinitas sebagai Pembekalan Apologetis Jemaat di Era Disruptif,Ay Magnum Opus : Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen 1, no. 1 (Desember 2. : 7. Sudianto Manullang. AuProvidensi Allah di Balik Penderitaan dalam Pengalaman Ayub,Ay STULOS : Jurnal Teologi 18, no. 2 (Juli 2. : 164. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. kehidupan manusia maka itu sudah tentu menandakan bahwa Allah gagal di dalam mencegah moralitas manusia dalam mengendalikan kehendak bebas. Oda J. Widianing juga meneliti mengenai Pancasila sebagai Providensia Allah bagi Kekristenan di Indonesia. Tulisan ini menarik sebab fokus penekanannya berbeda dari dua publikasi sebelumnya. Widianing setuju dengan pandangan bahwa providensia itu berkaitan dengan tindakan pemeliharaan dan pekerjaan Allah atas sejarah perjalanan dunia dan umat manusia. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa proses perumusan Pancasila juga adalah bagian dari sejarah Allah memimpin para perumus itu untuk menghasilkan suatu pikiran bernas merawat masa depan Indonesia. Jika hari ini. Indonesia masih eksis sebagai bangsa yang mampu menangkal paham yang memecah belah maka itu pun adalah bagian dari pemeliharaan Allah atas bangsa Indonesia. Artikel ini meletakan fokusnya pada isu kematian yang dapat dilihat sebagai ancaman eksistensial iman Kristen. Jika pada tulisan pertama dan kedua berfokus pada narasi Ayub dan isu kekerasan, sedangkan publikasi ketiga soal kontekstualisasi providensia Allah dalam konteks Indonesia, maka tulisan ini memahami kematian manusia dan pemeliharaan Allah sebagai kenyataan paradoks. Dalam konteks praksis, para rohaniawan sering diperhadapkan dengan tugas memberitakan Firman Tuhan ketika ada anggota jemaat yang mengalami kematian. Ada dilema tersendiri dalam diri sang rohaniawan di mana ia harus mampu menjembatani bagaimana orang yang berduka mampu melihat kematian sebagai bagian dari rencana Allah dan sejauhmana pemeliharaan Allah bagi keluarga yang dirundung duka. Seorang rohaniawan harus dengan jujur pula dalam khotbahnya memperlihatkan adanya suatu kesenjangan iman Kristen yang paradoks di mana pada satu pihak, kita mengimani semua yang terjadi ada dalam pemeliharaan dan pemerintah Allah tetapi serentak peristiwa duka yang dialami mengguncang iman orang Kenyataan ini menjadi sebuah titik paradoks. Tulisan ini memperlihatkan kesenjangan antara realitas kehadiran Allah dan peristiwa kematian yang mengguncang iman orang percaya. Jusuf H Kelelufna. AuAllah Segala Maha di Tengah Fenomena Kekerasan dan Penderitaan Orang Saleh,Ay KENOSIS : Jurnal Kajian Teologi 3, no. 2, (Desember 2. : 122. Oda Judithia Widianing. AuPancasila sebagai Providensia Allah bagi Kekristenan di Indonesia,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 4, no. 2 (Maret 2. : 485Ae95. Paradoks: Providensia Allah dengan Penderitaan dan Kematian Manusia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo METODE PENULISAN Metode penulisan yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data dikumpulkan dan dianalisis menggunakan rujukan-rujukan literatur mengenai providensia Allah dan kenyataan penderitaan manusia. Artikel ini dimulai dengan menguraikan kematian sebagai bagian dari penderitaan manusia, providensia sebagai tanda eksistensi Tuhan, dan bagaimana manusia dari sudut pandang iman memahami kematian dalam diri manusia. Pada akhirnya, penulis merefleksikan bahwa penderitaan dan kematian pun tidak dapat mengurangi pemeliharaan Allah dalam hidup manusia. HASIL DAN PEMBAHASAN Mengurai Problem Penderitaan Manusia Paul B. Kleden mengemukakan bahwa penderitaan itu terjadi akibat dari adanya keburukan di dalam hidup manusia. Keburukan atau dalam istilah latin disebut dengan malum biasanya dapat terjadi dalam hidup manusia karena sesuatu yang diinginkan itu tidak Keburukan itu sifatnya merugikan manusia, dan pada titik tertentu dianggap sebagai adanya sesuatu yang kurang padahal harusnya hal itu ada. 7 Biasanya, penderitaan itu dapat dialami karena beberapa faktor seperti ketidakadilan, tekanan, kekerasan, kehilangan sesuatu yang dianggap sebagai hal yang berarti, seperti kesehatan, harta benda, harga diri, bahkan kehilangan sesama. Mengapa penderitaan ini dapat terjadi sedangkan dalam pokok iman Kristen dengan jelas memperlihatkan tentang bagaimana Allah bekerja dan mendatangkan kebaikan dalam hidup manusia? Ebenhaizer Nuban Timo memberikan tiga alasan mendasar dibalik adanya dualisme antara ciptaan yang baik sebagai representasi kehadiran Allah dan penderitaan Pertama, ini adalah paham klasik dalam kepercayaan animisme dan dinamisme. Dalam kepercayaan ini, alam diyakini memiliki daya magis, karenanya penderitaan itu bisa saja terjadi sebagai akibat dari adanya benturan atau perkelahian antara roh-roh yang ada di Kedua, kebebasan manusia itu sumber penderitaan manusia. Kebebasan ini mengandung kenyataan yang berselisih. Di satu pihak, kebebasan yang ada membuat manusia bisa mengekspresikan imannya pada Allah, tapi pada pihak yang lain, kebebasan Paul B Kleden. Membongkar Derita, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2. , 17. Kleden, 19Ae20. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. itu dimaknai sebagai upaya manusia membentuk jati dirinya sendiri, bahkan bebas menciptakan allah menurut kehendak manusia itu sendiri. Konsekuensi dari tidak secara baik memanfaatkan kebebasan ini ialah penderitaan. Ketiga, penderitaan bisa terjadi dalam hidup manusia karena dosa telah masuk ke dalam semua sendi kehidupan manusia. Kebebasan yang awalnya dianggap baik dalam perkembangan yang ada malah punya potensi merusak dan membawa manusia menjauh dari Allah. Manusia justru pada dirinya karena kebebasan yang ada bisa memberontak atau menolak sepenuhnya apa yang menjadi kehendak Allah. 9 Alasan ketiga ini yang umumnya diterima secara luas dalam Kekristenan ketika isu penderitaan dibahas. Karena dosa masuk dan menguasai manusia maka kemudian manusia menjadi rentan terhadap segala isu penderitaan. Pendapat ini bisa didebatkan sepanjang pemahaman realitas tentang kematian sebagai sebuah fakta yang tak terelakkan. Kematian sebagai Penderitaan Bagi Soedarmo, kematian merupakan sebuah kepastian yang tentu akan dialami oleh setiap manusia. Uraiannya tentang kematian itu tidak bisa dilepaskan dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dalam hal ini, maka ia selanjutnya memahami kematian sebagai perceraian, dan puncak yang menuju kepada kematian merujuk pada perceraian antara manusia dengan Allah. 10 Kematian sendiri dalam diskursus para teolog menawarkan ragam Nico Syukur Dister setidaknya memperlihatkan bahwa ada tiga kelompok besar yang memahami kematian dengan versi mereka. Kelompok pertama memahami kematian sebagai pengamalan iman yang istimewa. Letak keistimewaannya itu terletak pada saat metafisis di mana manusia beralih dari waktu dan ruang dunia ini ke alam baka. Kelompok kedua memaknai kematian sebagai saat yang paling gelap dan paling sulit bagi iman Kelompok ketiga sebaliknya memahami kematian sebagai pengakhiran hidup dan karena itu, kematian merupakan sebuah situasi iman yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan situasi hidup yang lain. Kematian dalam pemahaman iman Kristen memiliki tiga bentuk. Pertama, kematian Jenis kematian ini sudah pasti akan dialami oleh setiap anak manusia. Hanya saja bentuk kematian ini tidak ada sangkut pautnya dengan dosa. Asumsi ini paling tidak menegaskan bahwa baik berdosa atau pun tidak pasti manusia akan tiba pada kematiannya. Ebenhaizer I Nuban Timo. Allah Menahan Diri Tetapi Pantang Berdiam Diri, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2. , 224Ae25. R Soedarmo. Ikhtisar Dogmatika, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2. , 248Ae49. Nico Syukur Dister. Teologi Sistematika 2, (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 572Ae73. Paradoks: Providensia Allah dengan Penderitaan dan Kematian Manusia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo Kedua, kematian spiritual. Pada bentuk kematian ini, yang ditekankan ada pada relasi manusia dengan Allah. Dalam hal ini, manusia telah memutuskan hubungan baiknya dengan Allah. Kematian ini memiliki keterkaitan besar dengan dosa. Hal ini terjadi oleh karena kehendak bebas itu diselewengkan maknanya. Menariknya, dalam paham kematian ini, seseorang ia bisa terjadi tanpa adanya kematian fisik. Maksudnya bahwa ketika manusia memberontak kepada Allah dan memutuskan relasinya dengan Allah maka kematian spiritual itu telah terjadi. Ketiga, kematian kekal. Bentuk ini hanya akan terjadi ketika Kristus telah datang kembali. Lebih tegas lagi bahwa kematian ini hanya berlaku bagi mereka yang menolak Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Paham kematian yang dimaksudkan dalam tulisan ini lebih pada kematian fisik sebagai sebuah realitas yang bisa menguras perasaan atau emosional manusia. Bahkan untuk bisa resiliensi dari kabung membutuhkan jangka waktu yang lama. Camus menangkap dan memahami realitas ini dan ia sebut sebagai absurditas. Absurditas itu berlaku ketika penderitaan dan kematian itu menghilangkan eksistensi manusia. Pengalaman ini tentu amat bertolak belakang dengan idealisme yang manusia bangun. Harapannya dunia harus penuh denagn damai dan ketenangan tanpa perang, penderitaan, kejahatan, kematian, dan ragam masalah lainnya. Akan tetapi yang malah terjadi ialah apa yang diharapkan sebagai idealisme tidak sepenuhnya berlaku. Manusia terkesan hanya bisa menerima apa yang terjadi, dipaksa merasakan dan menjalani semua realitas yang ada tanpa perlu penjelasan. 13 Intinya ialah manusia pasrah pada realitas. Providensia sebagai Tanda Eksistensi Allah Dalam doktrin iman Kristen, pemahaman tentang providensia Allah punya kaitan erat dengan eksistensi Allah. Dunia sebagai karya cipta Allah dan semua yang masih terpelihara itu merupakan suatu bukti nyata dari karya Allah Tritunggal. Karya Allah Tritunggal ini kerap disebut sebagai karya ekonomis. Leonardo Boff menarasikan karya ekonomis Allah di dalam tiga era, tetapi era yang dimaksud bukan dalam arti bahwa setelah selesai masa Pribadi yang satu kemudian digantikan peran Pribadi lain, melainkan lebih terarah pada makna Trinitarian yaitu seluruh waktu menjadi waktu ketiga Pribadi Allah dalam bentangan Nuban Timo. Allah Menahan Diri Tetapi Pantang Berdiam Diri, 386Ae87. Agustinus Widyawan P Putra. AuAutentisitas Manusia Menurut Albert Camus,Ay Focus 1, no. Leonardo Boff. Allah Persekutuan, (Maumere: Penerbit Ledalero, 2. , 260. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. Jika membahas era Bapa itu bermakna Bapa bertugas memelihara seluruh ciptaan, yang diciptakan melalui perantaraan Putra-Nya dan dalam cinta Roh Kudus. Menariknya, pemeliharaan Sang Bapa itu ada dalam suatu sikap ayah dan ibu atas seluruh ciptaan. Jika berbicara era Putra, itu bermakna bahwa ciptaan itu telah dibebaskan dari dosa akibat salah memaknai kehendak bebas yang ada pada dirinya. Sang Putra menyatakan diri sebagai yang penuh cinta persaudaraan kepada semua ciptaan sebagai representasi ungkapan cinta dan kebijaksanaan Bapa dalam Roh. Jika berbicara tentang era Roh Kudus maka Roh Kudus bertugas membatinkan ke dalam setiap orang makna kehidupan yang telah Kristus Roh Kudus turut ada dan mewarnai pentas sejarah dan lewat Ia pula, cinta Allah itu sungguh-sungguh dapat dipahami. 15 Boff lalu dengan indah menutup pemahaman kehadiran Trinitas dalam pentas sejarah sebagai pokok puji-pujian. Karena sinergitas Trinitas sebagai kesatuan perikoresis maka Bapa. Putra, dan Roh Kudus patut dimuliakan sebab dalam cinta dan kerinduan Mereka telah dengan indah menyatakan dan membentuk pola persekutuan yang memenuhi seluruh pentas sejarah semesta. Secara etimologis providensia berasal dari kata AuprovidenceAy dalam bahasa Inggris yang selanjutnya diterjemahkan sebagai pemeliharaan. Kata ini juga berari melihat atau mengetahui sebelumnya. Dari pemikiran dasar ini maka kata ini kemudian mendapat arti menyediakan untuk masa depan. Akan tetapi, dalam teologi Kristen, kata AuprovidenceAy mendapat arti yang lebih khusus lagi, yaitu kegiatan berkesinambungan Allah untuk menjadikan segenap peristiwa di bidang fisik, mental, dan moral dalam melaksanakan rencana yang telah ditetapkan-Nya dalam menciptakan alam semesta. Memang diakui bahwa kejahatan sudah memasuki dan mengotori alam semesta, namun kejahatan ini tidak dibiarkan menggagalkan tujuan mula-mula Allah, yakni tujuan yang bijaksana, penuh kebaikan, dan kudus. Sejalan dengan makna providensia di atas, maka Herman Bavinck juga turut memberi komentarnya. Meurutnya: AuGodAos counsel in reference to the physical world is called AuprovidenceAy and includes preservation and governance. That things exist and the way they exist are grounded solely in GodAos good pleasure. If this is granted, then it must be acknowledged that the counsel of God also extends to the moral world and to human conductAy. Boff, 260Ae61. Boff, 262. Henry C Thiessen. Teologi Sistematika, (Malang: Gandum Mas, 1. , 188. Herman Bavinck. Reformed Dogmatics, (Michigan: Baker Academic, 2. , 254. Paradoks: Providensia Allah dengan Penderitaan dan Kematian Manusia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo Pandangan Bavinck ini khas Calvinis. Pengakuan pada providensia Allah berarti mengakui bagaimana moral dan perilaku manusia itu diatur. Dengan mengutip pandangan Calvin. Nuban Timo menegaskan bahwa memahami providensia Allah harus turut mempertimbangkan dua fase penting dalam realitas ciptaan yaitu fase eksistensi ciptaan pada saat dibentuk oleh Allah dan juga fase eksistensi ciptaan tatkala jatuh ke dalam dosa. Lebih lanjut Nuban Timo menegaskan bahwa pada fase pertama itu yang diciptakan Allah itu teratur dan sungguh amat baik. Hanya saja, ketika masuk pada fase kedua, kehidupan ciptaan tanpa begitu kacau-balau. Akibatnya, penderitaan, kejahatan, kematian itu dipandang sebagai ancaman. 19 Hal ini bisa terjadi karena berkaitan erat dengan kehendak bebas yang ada pada manusia. Manusia tidak seutuhnya mendengar kehendak Tuhan. Padahal, konteks kebebasan yang dibahas dalam frame Calvinis itu selalu bertaut pada apa kata Tuhan. Manusia memang bukan robot tetapi manusia juga perlu mendengar apa kata Tuhan sebab yang diajarkan oleh-Nya selalu berimplikasi pada ketertiban dan keteraturan. Soedarmo, lalu meringkaskan makna providensia ke dalam dua istilah, pemeliharaan dan pemerintahan. Pemeliharaan bermakna bahwa seluruh alam semesta itu dipelihara oleh Tuhan. Pemeliharaan Tuhan itu dimaksudkan agar karya cipta-Nya tidak dirusak oleh kuasa lain. Agar karya cipta itu tetap lestari, maka Ia kemudian melibatkan manusia untuk aktif menjaga alam ini. Ini bisa dilihat dalam narasi penempatan manusia di Taman Eden. Sedangkan pemerintahan itu bermakna segala yang ada dalam dunia ini. Allah yang Pemerintahan Allah itu punya makna bahwa apa yang Allah lakukan itu semata-mata menuntun semua yang telah diciptakan kepada suatu maksud yang telah Ia Melalui doktrin providensia, manusia lekas sadar bahwa manusia yang dikatakan ciptaan superior sekalipun tidak bisa menentukan masa sejarah. Hal itu hanya bisa terjadi ketika Allah sendiri yang memerintah. Kesaksian Alkitab tentang Providensia Alkitab adalah sumber primer yang membahas tentang Allah dan karya-Nya. Alkitab juga adalah dasar utama dari segala usaha mencari dan memahami apa yang Allah lakukan Nuban Timo. Allah Menahan Diri Tetapi Pantang Berdiam Diri, 226. Soedarmo. Ikhtisar Dogmatika, 146. Soedarmo, 146Ae47. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. dalam sejarah hidup manusia, termasuk di dalamnya karya pemeliharaan bagi segenap Ada banyak teks Alkitab yang menerangkan tentang Providensia Allah tetapi dalam tulisan ini tidak akan dibahas satu per satu. Pertama, perhatikan kisah tentang Abraham yang akan mempersembahkan korban bagi Allah di Bukit Moria sebagaimana yang tercantum dalam Kejadian 22:8 dan 14. Pada kedua ayat ini, muncul frasa yang sama yaitu AuAllah/Tuhan menyediakanAy. Menyediakan di sini bisa diparalelkan dengan istilah Allah menyelenggarakan. 22 Kedua, karena Providensia memiliki arti pemeliharaan maka perlu dikaji lebih lanjut lagi apa sesungguhnya tujuan dari pemeliharaan Allah atau karya cipta-Nya? Di dalam Perjanjian Baru, khususnya teks Roma 8:28 menjelaskan hal ini. Tujuan akhir dari pemeliharaan ini adalah membawa kebaikan bagi manusia. Allah memelihara bumi ini secara universal atau umum, tetapi dalam kasih kekal-Nya hal ini dilakukan juga secara khusus Aubagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Ay23 Selain penjelasan ringkas mengenai kedua teks sebagai representasi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang secara terang menjelaskan makna providensia, ada juga teks lain yang menjelaskan makna providensia, seperti Mazmur 104:30. Kejadian 1:28. Kejadian 2:8-25. Yohanes 5. 17, dan teks-teks yang lain. Teodice dan Providensia Allah dalam Masalah Kematian Manusia Pada prinsipnya, paham teodice selalu memandang manusia dan segala perbuatannya sebagai sumber penderitaan. Baik kejahatan, perang, bahkan kematian itu dapat terjadi karena paham kejatuhan manusia ke dalam dosa. Tuhan dalam paham teodice selalu direpresentasikan sebagai yang baik. Kuasa-Nya itu untuk digunakan secara sewenangwenang untuk menghukum. Sekali lagi, jika penderitaan itu manusia alami maka itu sudahlah pasti dikarenakan bobroknya moral manusia. Berdasarkan kesaksian dari teks-teks Alkitab yang membahas tentang teodice, misalnya kitab Ayub. Pengkhotbah. Habakuk dan lainnya, maka Andreas A. Yewangoe tiba pada suatu kesimpulan bahwa yang namanya penderitaan, kejahatan, itu terjadi atas izin Allah. Lebih dari pada itu, penderitaan yang ada karena izin Allah memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawaban secara moral, misalnya, penderitaan dan kejahatan ada dengan C van Niftrik & B. Boland. Dogmatika Masa Kini, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2. , 172. Widianing. AuPancasila sebagai Providensia Allah bagi Kekristenan di Indonesia,Ay, 485. Soedarmo. Ikhtisar Dogmatika, 146Ae47. Marsi Rantesalu. AuPenderitaan dari Sudut Pandang Teologi Injili,Ay Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) 2, no. 2 (Desember 2. : 130. Paradoks: Providensia Allah dengan Penderitaan dan Kematian Manusia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo maksud supaya manusia menjadi lekas sadar dari dosa yang diperbuat, iman manusia sementara diuji oleh Allah, dan juga menjadi sarana bagi manusia belajar untuk berkarya secara konkret, layaknya Yesus yang justru melalui penderitaan yang Ia alami, ada pendamaian atas relasi manusia dengan Allah. 26 Tanggapan Yewangoe ini juga disetujui oleh Paul Budi Kleden. Baginya, ketika membahas tentang teodice, maka itu berarti ada tindakan pembelaan Allah. Kesaksian ini bisa dilihat dalam Roma 3:5. Memang diakui bahwa di dalam teks ini tidak secara spesifik membahas tentang diri Allah dan penderitaan yang manusia alami, tetapi teks ini lebih terarah pada kebenaran Allah, yakni Allah tetap setia meskipun manusia kadang tidak setia karena dosa dan menuduh Allah sebagai sumber dari penderitaan. Lewis mencoba memahami teodice dari sudut yang berbeda sebagaimana yang dikemukakan oleh Esther Gunawan. Baginya, membahas teodice dan kehendak bebas itu harus dilihat sebagai suatu anugerah. Hanya saja, anugerah itu kemudian punya dua sisi sebagai respons manusia, yaitu anugerah itu apakah direspons sebagai sarana menjadi lebih baik atau sebaliknya makin buruk. 28 Perihal kejatuhan manusia itu dilihat sebagai kesalahan manusia dalam merespons kehendak bebas maka apakah berarti itu kemudian Allah gagal di dalam mengendalikan, memerintah, atau memelihara ciptaannya untuk tetap teratur? Tidak demikian! Calvin justru melihat bahwa lewat kemahakuasaan Allah itu langit dan bumi serta segala yang ada di dalamnya tetap dibina dan dipelihara oleh-Nya sehingga apapun yang terjadi tidak di luar putusan-Nya. Pandangan ini kemudian berkorelasi dengan pemikiran Boff mengenai karya pembebasan yang Sang Putra kerjakan. Kematian Kristus kemudian membebaskan manusia dari rupa-rupa penindasan bahkan penderitaan. 30 Dalam terang pemahaman inilah maka providensia Allah sebagai cara Allah menyatakan eksistensinya tetap berlaku dalam sejarah hidup manusia. Dunia sebagai dasar pijak kehadiran manusia itu selalu membutuhkan topangan dari Allah. Topangan Allah itu hanya semata-mata dimaksudkan agar semua yang telah ada berjalan menuju kepada penggenapan rencana Allah. 31 Ini juga bermakna bahwa Andreas A Yewangoe. AuMembangun Teologi Bencana,Ay dalam Z. Ngelow, dkk (E. Teologi Bencana, (Makassar: Yayasan Oase Intim, 2. , 231. Kleden. Membongkar Derita, 15Ae16. Esther Gunawan. AuMeneropong Makna Penderitaan Manusia Menurut Konsep Teodise C. Lewis,Ay Veritas : Jurnal Teologi dan Pelayanan 16, no. 1 (Juni 2. : 23. Yohanis Calvin. Institutio, (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2. , 50. Boff. Allah Persekutuan, 261. Widianing. AuPancasila sebagai Providensia Allah bagi Kekristenan di Indonesia,Ay, 485. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. kematian kemudian tidak serta-merta menggagalkan rencana dan pemeliharaan Allah atas kehidupan manusia. Jauh dari pada itu, kematian harus dilihat sebagai cara Allah meneguhkan iman manusia dan manusia menautkan diri sepenuhnya pada Allah. Jadi, baik teodice dan providensia memiliki maksud yang lebih terarah yakni semua yang terjadi, itu ada dalam rencana Allah. Kontekstualisasi Providensia Allah dalam Pengalaman Kematian Manusia Penderitaan dan kematian itu adalah bagian kenyataan kehidupan. Sikap terhadap kematian merupakan langkah iman yang harus diperlihatkan. Penderitaan pada dasarnya merupakan sebuah fakta hidup. Sebagai fakta hidup, tidak semestinya ada sikap menolak sebab ketika menolak maka penderitaan justru hanya akan dilihat sebagai sesuatu yang absurd atau sia-sia. Dalam perspektif ini maka manusia kemudian perlu belajar untuk tidak selamanya memandang penderitaan sebagai sesuatu yang selalu berkonotasi negatif. Memang benar bahwa penderitaan itu dapat membuat manusia putus asa, kecewa. Tetapi, jika penderitaan itu dilihat sebagai fakta hidup maka manusia beriman akan belajar insaf dan menerimanya sebagai bagian pembentukan jati diri sebagai orang percaya. Nemesius Pradipta menawarkan bahwa kematian sebaiknya dipahami sebagai Itu artinya bahwa kematian itu menjadi milik siapa saja dan akan pula terjadi pada orang tersebut. Melalui kematian, orang percaya lantas disadarkan tentang segala keterbatasan yang ada pada dirinya. Dengan cara pandang semacam ini, maka orang lantas dapat berpikir secara jernih dan baru di dalam melihat realitas kematian yang sementara membayangi kehidupannya. 33 Niftrik dan Boland ketika membahas tentang penderitaan dan providensia maka tentulah di dalamnya ada perimbangan antara hal-hal menyedihkan dan hal-hal yang menggembirakan. Justru ketika ada kematian sebagai bagian yang kerap dilihat sebagai penderitaan, maka manusia perlu belajar untuk memahami hal ini secara teologis. Karena itu dibalik semua penderitaan, termasuk kematian, manusia harus memandang pada Kristus. Malah dalam eksistensial macam ini, jika berjumpa dengan Allah, manusia makin percaya dan memberi dirinya kepada Allah. Dari situ, akan timbul pengakuan bahwa Allah yang memerintah dunia, dan karenanya. Ia menuntun semua yang terjadi kepada tujuan Hipolitus K Kewuel. AuMemandang Tuhan dari Balik Pengalaman Kejahatan. Penderitaan, dan Kematian,Ay. Jurnal Pendidikan Agama Katolik 4, no. 2 (Oktober 2. : 267Ae68. Nemesius Pradipta. AuBelas Kasih allah dalam Kematian Kristiani menurut Karl Rahner,Ay Jurnal Teologi 8, no. : 53Ae54. Paradoks: Providensia Allah dengan Penderitaan dan Kematian Manusia Rolin Ferdilianto Sandelgus Taneo yang sudah dirancangkan-Nya. 34 Jika cara berpikir ini diterima maka sudahlah pasti bahwa sikap cemas dan takut itu bisa diatasi. Karl Rahner, sebagaimana yang dikutip oleh Pradipta malah membicarakan tentang kematian sebagai bagian dari manusia dapat berjumpa dengan belas kasih Allah. Itu artinya bahwa dalam realitas kematian sekalipun, manusia sudah tentu dapat berjumpa dengan Allah. Allah pun berkarya penuh dalam realitas kematian. Mengapa hal ini bisa terjadi? Rahner mengaitkan kematian manusia dengan kematian Kristus. Baginya. Kristus yang telah mati itu telah membayar lunas dan tuntas hutang dosa. Di sinilah titik keunikan dari kematian kristiani, yaitu barang siapa yang mati dengan Kristus, serentak ia pun akan hidup dengan Kristus . 2 Tim 2:11. Roma 6:. KESIMPULAN Pembahasan providensia tidak bisa dilepaskan dari peran atau karya Allah dalam pentas sejarah dunia. Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan atas semua karya cipta-Nya. Allah selain mencipta, juga memelihara dan mengendalikan dunia ciptaan-Nya. Providensia Allah adalah pengalaman iman sekaligus pengalaman hidup manusia. Providensia dan pengalaman penderitaan memang tampaknya paradoks. Serentak kita memahami bahwa Allah memelihara kita tetapi serentak juga tidak bisa menyangkali persoalan penderitaan dan kematian. Manusia beriman menyadari bahwa sekalipun kematian itu adalah kenyataan dan kepastian dari realitasnya sebagai manusia, tetapi sekaligus kenyataan penderitaan tidak pernah membatalkan karya pemeliharaan Allah atas dunia ini. Allah tetap berkarya dan memelihara semua ciptaan-Nya. Seperti ketika Allah menciptakan seisi dunia dan kemudian dengan saksama memerhatikan lalu dengan tegas berkata. AuSungguh semua itu amat baikAy, (Kejadian 1:. van Niftrik. Dogmatika Masa Kini, 176. Pradipta. AuBelas Kasih allah dalam Kematian Kristiani menurut Karl Rahner,Ay 52. Arumbae: Jurnal Ilmiah Teologi dan Studi Agama. Vol. No. 2 (Desember, 2. Doi: https://doi. org/ 10. 37429/arumbae. DAFTAR PUSTAKA