ABSTRAK Diabetes Melitus adalah penyakit yang disebabkan karena kurangnya produksi insulin oleh pankreas atau tubuh yang tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkkan oleh pankreas secara efektif (Maryunani, 2. Adapun tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Penatalaksanaan Perawatan Luka pada Asuhan Keperawatan pasien Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum. Metode penelitian ini adalah jenis karya tulis ilmiah menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi masalah Asuhan keperawatan pada dua pasien Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum. Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum ini dilaksanakan pada tanggal 24-28 agustus 2020. Pelaksanaan Perawatan Luka dengan menggunakan cairan NaCl selama 3 hari dengan waktu pagi dan sore hari. Berdasarkan kesimpulan, catatan perkembangan kepada kedua pasien penatalaksanaan perawatan luka pada pasien Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum, hasil evaluasi keperawatan Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy masalah nyeri teratasi. Sedangkan masalah kerusakan integritas jaringan pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy masalah teratasi sebagian. Kata kunci: Asuhan Keperawatan. Diabetes Melitus. Ulkus Diabetikum. Perawatan Luka. ABSTRACT Diabetes mellitus is a disease caused by a lack of insulin production by the pancreas or the body cannot use the insulin produced by the pancreas effectively (Maryunani, 2. The purpose of this study was to determine the description of Wound Care Management in Nursing Care for Diabetes Mellitus Patients with Diabetic Ulcers. This research method is a type of scientific writing using a descriptive method with a case study approach to explore the problem of nursing care in two Diabetes Mellitus patients with Diabetic Ulcers. The Nursing Care for Diabetes Mellitus with Diabetic Ulcers was carried out on 24-28 August 2020. Wound Treatment was carried out using NaCl fluid for 3 days in the morning and evening. Based on the conclusion, the progress notes to the two patients on wound care management in Diabetes Mellitus patients with Diabetic Ulcers, the results of the nursing evaluation of Mr. "T" and Mrs. AuMAy pain problem resolved. Meanwhile, the problem of network integrity damage to Mr. "T" and Mrs. AuMAy problem partially resolved. Key words: Diabetes Mellitus Nursing Care . Diabetic Ulcers. Wound Care PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hak asasi setiap orang baik di negara maju maupun negara Di beberapa negara berkembang terjadi peningkatan penyakit tidak menular. Salah satu penyakit tidak menular tersebut adalah Diabetes Melitus. Diabetes Melitus adalah penyakit yang disebabkan karena kurangnya produksi insulin oleh pankreas atau tubuh yang tidak dapat menggunakan insulin yang telah dihasilkan oleh pankreas secara efektif (Maryunani, 2. Menurut data Studi global . menyebutkan bahwa, jumlah penderita Diabetes Melitus mencapai 366 juta dan akan meningkat menjadi 552 juta di tahun 2030. Sedangkan Estimasi International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2017, menyebutkan bahwa Asia Tenggara menempati urutan ketiga setelah Amerika Utara dan Afrika Utara dengan jumlah penderita Diabetes Melitus yaitu sebesar 8,5% yang terjadi pada usia 20-29 tahun dan akan terus mengalami peningkatan menjadi 55% 592 Sedangkan pada tahun 2035, usia penderita Diabetes Melitus adalah 40-59 tahun. Adapun beberapa negara dengan penderita penyakit Diabetes Melitus terbanyak yaitu India . ,1 jut. USA . ,4 jut. Brazil . ,9 jut. Rusia . ,9 Jut. Meksiko . ,7 Jut. Mesir . ,5 jut. Jerman . ,6 jut. Jepang . ,2 jut. Cina . ,4 jut. dan Indonesia . ,5 jut. (IDF. Indonesia merupakan negara urutan ketujuh dengan kejadian diabetes Melitus Bedasarkan data World Health Organization (WHO) . , menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan keempat terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Melitus didunia. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia, . menyebutkan bahwa, sekitar 5,6 juta jiwa penduduk mengalami penyakit Diabetes Melitus. Sedangkan pada tahun 2014 meningkat menjadi 12 juta orang. Prevelensi provinsi penderita Diabetes Melitus yang tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Kalimantan Barat dan Maluku Utara . ,1%). Riau . ,4%). NAD . ,5%), dan yang paling terendah terdapat di Papua . ,7%) (Riskesdas. Diabetes Melitus yang tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai komplikasi kronik. Salah satu komplikasinya adalah Luka. Luka pada Diabetes Melitus adalah Ulkus Diabetikum. Ulkus Diabetikum merupakan kelainan tungkai bawah pada Diabetes karena gangguan pembuluh darah vena atau arteri, gangguan persarafan atau neuropati serta adanya kondisi luka. Kejadian Luka di Indonesia yaitu sekitar 15% yang terjadi di Ulkus Diabetik, adapun Komplikasi dari Ulkus Kaki Diabetik yaitu amputasi. Amputasi terjadi sebanyak 30%, dan Angka Ulkus Diabetik pada kaki perawatan di rumah sakit banyak sedang mendapatkan sebesar 80% untuk penyakit Diabetes Melitus (Hastuti, 2008 dalam Bahri Yunus, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Rustono & Winarto . Ulkus Diabetikum bisa menyebabkan dan berpeluang untuk menjalani amputasi yang besar, maka pasien dengan Ulkus Diabetikum dengan infeksi kaki harus segera memerlukan perawatan luka yang Perawatan Luka pada penyakit Diabetes Melitus adalah Perawatan Luka yang mempengaruhi penurunan luka, poliferasi dan granulasi luka. Perawatan luka pada ulkus membersihkan luka. Membersihkan luka dengan menggunakan air mengalir dan sabun setelah itu keringkan dan baru dioles dengan salep antibiotik yang diresepkan oleh dokter agar luka terbebas dari kuman. Kemudian jangan lupa untuk rutin mengganti pembalut luka agar kondisi luka tetap terjaga kebersihannya (Rustono dan Winarto, 2. Peran perawat dalam mencegah resiko luka yang semakin parah maka perawat selain melakukan perawatan luka pada Ulkus Diabetikum juga harus mengurangi tekanan pada luka . idak mengenakan pakaian yang keta. , kontrol kadar gula darah, perhatikan tanda-tanda infeksi . emam, kemerahan, bengkak, hangat dan nyer. serta penuhi asupan Peran perawat selain mencegah resiko luka juga harus mencegah munculnya luka baru dengan beberapa tindakan seperti memotong kuku dengan hati-hati, rutin periksa kaki setiap hari, kenakan alas kaki yang nyaman, & rutin periksa ke dokter (Rustono dan winarto, 2. Dari data Dinas Kesehatan Kota palembang pada Tahun 2013 penderita Diabetes Melitus mencapai 21. 418 jiwa. Sedangkan Tahun 2014, mengalami penurunan 541 jiwa. Sementara di Tahun 2015 mengalami peningkatan menjadi 14. 042 jiwa (Koran Sindo, 2. Data yang di peroleh dari Dinas Kesehatan Kota Palembang prevalensi angka kejadian Diabetes Melitus Tipe II pada tahun 2013 terdapat sebanyak 2159 kasus, dan pada Tahun 2014 terdapat sebanyak 1882 kasus, pada tahun 2015 terdapat 1553 kasus, pada tahun 2016 terdapat sebanyak 1522 kasus (Dinas Kesehatan Kota Palembang, 2. Berdasarkan dari data yang diperoleh Medical Record angka kejadian Diabetes Melitus pada tahun 2017 sebanyak 81 orang. Sedangkan pada tahun 2018 terjadi penurunan menjadi 55 orang, dan pada tahun 2019 terjadi peningkatan menjadi sebanyak 69 orang. Hasil penelitian dari (Tiara, sukawana, menggunakan perawatan konvensional dalam penyembuhan luka diabetik memerlukan waktu yang relatif cukup lama. Berdasarkan dari uraian data diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian berjudul Penatalaksanaan Perawatan Luka pada Asuhan Keperawatan pasien Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum. METODE DAN BAHAN Jenis penelitian pada karya tulis ilmiah ini menggunakan deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Metode penelitian deskriptif merupakan suatu metode yang memiliki tujuan utama dengan memberikan gambaran situasi atau fenomena secara jelas dan rinci tentang apa yang terjadi (Afiyanti. Y, 2. Subjek dari penelitian studi kasus ini adalah dua pasien di Ruang Penyakit Dalam. Pasien pertama berinisial Tn. AuTAy yang berusia 36 tahun dan pasien kedua berinisial Ny. AuMAy yang berusia 50 tahun, dengan tujuan dapat Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum. Dengan kriteria inkusi: Pasien dan bersedia menjadi subjek dan Pasien dengan diagnosa medis Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum Pasien dengan Ulkus Kaki Diabetikum Pasien dengan kesadaran komposmentis Dan dengan kriteria eksklusi: Pasien pulang atau meninggal sebelum 3 hari dari pengambilan data. Pasien pindah ruang rawat atau dirujuk ke Rumah Sakit lain. Pasien Diabetes melitus yang tidak ikut serta daam penelitian. Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Ruangan Penyakit Dalam. Lama penelitian ini Dimulai dari tanggal 24 agustus sampai dengan 29 Agustus Tahun 2020. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Askep dan RM sebagai alat pengumpulan data. Pada penelitian ini instrumen untuk mengukur dan melihat ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi, stadium luka, skala nyeri, kondisi luka, ukuran luka, dan warna dasar luka pada Ulkus Kaki Diabetikum. Untuk pengukuran ada atau tidak tanda- tanda infeksi, hasil observasi dikategorikan dolor, kalor, tumor, rubor, fungsio laesa. Dan untuk perawatan luka hasil observasi dikategorikan menjadi superfical ulcers, deep ulcers, ganggren. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah memberikan asuhan keperawatan pada pasien Diabetes Melitus pada Tn. AyTAy dan Ny. AuMAy dilakukan pada tanggal 24-29 agustus Proses keperawatan mulai dari pengkajian, penentuan diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Pengkajian Berdasarkan menggunakan pendekatan pemeriksaan fisik head to toe, didapatkan hasil pengkajian sebagai Kasus 1 (Tn. Tn. AuTAy mengatakan badan lemah, nyeri pada betis kaki kanan nyeri dirasakan secara terus menerus, dan tidak bisa berjalan, kaki kanan terdapat luka ulkus dan jika di bawa berjalan sangat terasa nyeri seperti tertusuk jarum Tekanan Darah: 130/80 mmHg. Nadi: 100x/mnt. RR: 20x/mnt. Suhu: 36,2oC, keadaan luka: luka di betis kaki kanan, luka terdapat luka kotor, sedikit berair dan berwarna hitam, terdapat 2 luka,luka 1 berdiameter lebar 6 cm, panjang 9 cm, kedalaman 3 cm, dan luka ke 2 berdiameter lebar 3 cm, panjang 4 cm, dan kedalaman 4 cm, luka ganggren stadium 5, infeksi stadium 3, integritas jaringan skala 2, proses penyembuhan luka primer skala 1 dan sekunder skala 3. Kasus 2 (Ny. Ny. AuMAymengatakan badan lemah, nyeri pada jempol kaki kiri nyeri dirasakan secara terus menerus, dan disertai mual dan muntah saat mau makan. Ny. AuMAy hanya menghabiskan A porsi atau 4 sendok makan, lalu pasien dibawa ke RSUD Palembang Bari untuk memeriksakan tentang penyakitnya Tekanan darah : 120/80 mmHg. Nadi: 111x/mnt. RR: 20x/mnt. Suhu: 36,5oC, keadaan luka: luka di jempol kaki kiri, luka terdapat luka kotor, sedikit berair dan berwarna hitam, luka berdiameter lebar 2 cm, panjang 5 cm, dan kedalaman 1 cm, luka ganggren stadium 5, infeksi stadium 3, penyembuhan luka primer skala 2 dan sekunder skala 3. DM tipe II paling sering menyerang orang dewasa dengan usia diatas 45 tahun. Berdasarkan asuhan keperawatan, pengkajian keluhan utama peningkatan nafsu makan, mual, muntah, penurunan atau peningkatan berat badan, banyak minum dan perasaan haus, perubahan pola berkemih . , nokturia, kesulitan berkemih,diare. BAK sering pada malam hari, nyeri kepala, luka ganggren, penyembuhan luka yang lama, kelemahan dan keletihan (Tarwoto, 2. Pengkajian ini merupakan tahap awal proses keperawatan dan dasar utamadi dalam memberikan asuhan keperawatan, sedangkan Padila . dan Tarwoto . mengatakan bahwa pengkajian pada pasien DM adalah: Riwayat kesehatan keluarga Keluhan utama pasien saat ini Pemeriksaan fisik Pemeriksaan Ankle Brachial Index (ABI) Kondisi luka yang lembab lebih cepat sembuh jika dalam keadaan luka lembab, kondisi luka kering dikatakan lebih cepat sembuh, ukuran luka meliputi panjang, lebar, kedalaman, diameter . , warna dasar luka: red atau merahtua atau terang dan selalu tampak lembab merupakan luka bersih, yellow atau kuning kecoklatan atau kuning kehujauan kuning pucat adalah jaringan nekrosis, black atau hitam merupakan jaringan nekrosis (Maryunani, 2. Setelah melakukan pengkajian, penulis dapat menyimpulkan data yang diperoleh pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy hampir mendekati teori serta tanda dan gejala yang paling sering muncul pada pasien DM Tipe II yaitu, tidak nafsu makan, badan lemah, dan luka ganggren atau ulkus. Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klien 1 (Tn. AuTA. Klien 2 (Ny. AuMA. 24 agustus 2020 . 26 agustus 2020 ( 16. n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n n Pemeriksaan Laboratorium n n n n n n n n n n n n n n n n n Darah Hemoglobin Hematokrit Leukosit Eritrosit Elektrolit natrium Protein Total Albumin Globulin Cholesterol total Cholesterol HDL Cholesterol LDL Trigliserida Asam urat Glucosa darah sewaktu Glucosa darah puasa Glucosa 2 jam PP Darah 9,5 g/dl 23,3 Ribu/ul 3,48 Juta/ul 118 Mmol/L 1g/dl 7 g/dl 4 G/dl 88 Mg/dl 25 mg/dl 8 mg/dl 227 mg/dl 7 mg/dl 5 63 Mg/dl 250 mg/dl 315 mg/dl Diagnosa Keperawatan Diagnosis keperawatan merupakan suatu pernyataan yang menggambarkan respons manusia . eadaan sehat atau perubahan pola interaksi aktual dan potensia. dari individu atau kelompok tempat anda secara legal mengidentifikasi dan anda dapat memberikan intervensi secara pasti unuk menjaga status kesehatan atau untuk mengurangi, menyingkirkan, atau mencegah perubahan (Budino, 2. Penetapan Darah 11,7 g/dl 15,3 ribu/ul 4,24 juta/ul 153 mmol/L 3 g/dlg/dl g/dl 196 mg/dl 30 mg/dl 25 mg/dl 210 mg/dl 1 mg/dl 440 mg/dl 242 mg/dl 262 mg/dl berlangsung dalam tiga tahap, yaitu memproses data . engelompokkan data, membandingkan data dengan standar nilai norma. , menentukan masalah keperawatan pasien dan kemudian barulah menyusun diagnosa keperawatan meliputi masalah, penyebab dan data. Dari hasil Analisa Data pada Tn. AuTAy didapatkan empat diagnosa keperawatan yaitu: Nyeri berhubungan dengan Luka Ganggren atau Ulkus Diabetes melitus Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan adanya luka ulkus Resiko Infeksi berhubungan dengan Luka Ulkus Diabetes Melitus. Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan Luka Ulkus Diabetes Melitus. Dari hasil Analisa Data Ny. AuMAy didapatkan keperawatan yaitu: Nyeri berhubungan dengan Luka Ganggren atau Ulkus Diabetes Melitus Gangguan Nutrisi Kurang Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Resiko infeksi berhubungan dengan Luka Ulkus Diabetes Melitus Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan Luka Ulkus Diabetes Melitus Tabel 2 Diagnosa Keperawatan Klien 1 Nyeri b/d luka Ganggren/Ulkus Diabetes Melitus Intoleransi aktivitas b/d adanya luka pada kaki Kerusakan integritas jaringan b/d Ulkus Diabetes Melitus Resiko infeksi b/d Ulkus Diabetes Melitus Intervensi Keperawatan Perencanaan adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi masalah-masalah yang telah diidentifikasi dalam diagnosis keperawatan (Budiono, 2. Pada tahap ini intervensi keperawatan tentang tindakan yang harus dilakukan berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. AuTAy Diagnosa pertama Nyeri berhubungan dengan Luka Ganggren atau Ulkus diabetes melitus yaitu: kaji Tanda-tanda vital, kaji nyeri komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, beratnya nyeri, yang dirasakan pasien dengan skala nyeri. Klien 2 Nyeri b/d luka Ganggren/Ulkus Diabetes Melitus Gangguan keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia Kerusakan integritas jaringan b/d Ulkus Diabetes Melitus Resiko infeksi b/d Ulkus Diabetes Melitus modifikasi tindakan pengontrolan nyeri berdasarkan respon pasien . engalihkan fokus pasien dengan bercerit. Kolaborasi untuk pemberian analgetik menurunkan nyeri . emberian analgesi. Diagnosa kedua, kerusakan intergritas jaringan berhubungan dengan luka ganggren atau ulkus diabetes melitus yaitu kaji luka terhadap karakteristik berikut: lokasi, luas dan kedalaman, adanya dan karakter eksudat termasuk kekentalan warna dan bau, adanya atau tidaknya jaringan nekrotik, adanya atau tidaknya granulasi atau epiteliasasi, adanya atau tanda-tanda infeksi setempat, adanya atau tidaknya perluasan luka jaringan dibawah Perawatan area insisi infeksi adanya akan kemerahan, pembekakan atau tandatanda dehinsensi atau efiserasi pada area insisi, perawatan luka inspeksi luka pada setiap mengganti lukabalutan. Diagnosa ketiga. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan adanya luka pada kaki yaitu kaji tingkat kemampuan pasien untuk berpindah dari tempat tidur, berdiri, membantu pasien mengidentifikasi aktifitas yang mampu dilakukan,bantu pasien memiih aktifitas yan sesuai dengan kemampuan fisik, bantu pasien untuk membuat aktifitas yan disukai, monitor respon fisik, emosi, social, dan spiritual, kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian program terapi. Diangnosa keempat, resiko infeksi berhubungan dengan luka ulkus diabetes melitus yaitu Pantau gejala infeksi . uhu tubuh, denyut jantung, drainase, penampilan luka, lesi kulit, suhu kuli. , kaji faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi . sia lanjut, malnutrisi, lulu imu. , pantau hasil laboratorium . itunglah darah lengkap, serum,albumin granulas. , amati keadaan luka untuk perlindungan terhadap infeksi, kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik dan berikan vip albumin rolate. Intervensi keperawatan tentang tindakan yang harus dilakukan berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny. AuMAy Diagnosa pertama Nyeri berhubungan dengan Luka Ganggren atau Ulkus diabetes melitus yaitu: kaji Tanda-tanda vital, kaji nyeri komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, beratnya nyeri, yang dirasakan pasien dengan skala nyeri, modifikasi tindakan pengontrolan nyeri berdasarkan respon pasien . engalihkan fokus pasien dengan bercerit. Kolaborasi untuk pemberian analgetik menurunkan nyeri . emberian analgesi. Diagnosa Gangguan Keseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan anoreksia yaitu motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan, observasi masukan dan pengeluaran, pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan, monitor BB secara periode, pantau nilai laboratorium khususnya albumin, elektrolit dan gula darah, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien (NB Rendah Kalor. Diagnosa ketiga, kerusakan intergritas jaringan berhubungan dengan luka ganggren atau ulkus diabetes melitus yaitu kaji luka terhadap karakteristik berikut: lokasi, luas dan kedalaman, adanya dan karakter eksudat termasuk kekentalan warna dan bau, adanya atau tidaknya jaringan nekrotik, adanya atau tidaknya granulasi atau epiteliasasi, adanya atau tanda-tanda infeksi setempat, adanya atau tidaknya perluasan luka jaringan dibawah Perawatan area insisi infeksi adanya akan kemerahan, pembekakan atau tandatanda dehinsensi atau efiserasi pada area insisi, perawatan luka inspeksi luka pada setiap mengganti lukabalutan. Diagnosa keempat, resiko infeksi berhubungan dengan luka ulkus diabetes melitus yaitu pantau gejala infeksi . uhu tubuh, denyut jantung, drainase, penampilan luka, lesi kulit, suhu kuli. , kaji faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi . sia lanjut, malnutrisi, lulu imu. , pantau hasi laboratorium . itunglah darah lengkap, hitung jenis, protein serum,albumin granulas. , amati keadaan luka untuk perlindungan terhadap infeksi, kolaborasi dalam pemberian obat antibiotik dan berikan vip albumin rolate. Implementasi Keperawatan Implementasi merupakan tahap ke empat dari proses keperawatan yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan. Dengan rencana keperawatan yang dibuat berdasarkan diagnosis yang tepat, intervensi diharapkan dapat mencapai tujuan dan hasil yang diinginkan untuk mendukung dan meningkatkan status kesehatan klien (Budiono. Dalam pelaksanaannya semua intervensi pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy dilaksanakan dengan Perawatan Luka ulkus kaki diabetik. Perawatan Luka Ulkus Diabetik adalah tindakan untuk merawat luka dan membalut dengan tujuan mencegah infeksi silang . asuk melalui luk. dan mempercepat proses penyembuhan luka (Delimarfidasari, 2. Pada Klien Pertama Tn. AuTAy bersedia untuk diberikan implementasi melakukan pengkajian dan merawat luka dengan NaCl dan sulfadianizine silver cream pada hari senin 24 Agustus 2020 jam 15. 30 wib, dan didapatkan data awal lokasi luka dibetis kaki kanan, berwarna hitam dan sedikit berair, luas luka 1 berdiameter lebar 6 cm, panjang 9 cm, kedalaman 3 cm, luas luka 2 berdiameter lebar 3 cm, panjang 4 cm, dan kedalaman 4 cm, ganggren stadium 5, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan tidak berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 3, proses penyembuhan luka primer skala 1 dan sekunder skala 3, setelah dilakukan tindakan tersebut hasilnya adalah luka Tn. AuTAy belum teratasi keadaan masih berwarna hitam dan sedikit berair, luas luka 1 berdiameter lebar 6 cm, panjang 9 cm, kedalaman 3 cm, luas luka 2 berdiameter lebar 3 cm, panjang 4 cm, dan kedalaman 4 cm, ganggren stadium 5, proses penyembuhan luka primer skala 1 dan sekunder skala 3, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan tidak berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 3. pada hari selasa 25 Agustus 2020 jam 30 wib, bersedia untuk diberikan implementasi melakukan pengkajian dan merawat luka dengan NaCl dan sulfadianizine silver cream dan didapatkan data awal lokasi luka dibetis kaki kanan, berwarna hitam kemerahan dan sedikit berair, luas luka 1 berdiameter lebar 5,9 cm, panjang 8,9 cm, kedalaman 3 cm, luas luka 2 berdiameter lebar 2,9 cm, panjang 4 cm, dan kedalaman 4 cm, ganggren stadium 4, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan tidak berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 4, proses penyembuhan luka primer skala 1 dan sekunder skala 3. Setelah dilakukan tindakan tersebut hasilnya adalah luka Tn. AuTAy masalah teratasi sebagian, keadaan berwarna hitam kemerahan dan sedikit berair, luas luka 1 berdiameter lebar 5,9 cm, panjang 8,9 cm, kedalaman 3 cm, luas luka2 berdiameter lebar 2,9 cm, panjang 4 cm, dan kedalaman 4 cm, ganggrenstadium 4, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan tidak berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 4, proses penyembuhan luka primer skala 1 dan sekunder skala 3. Pada hari Rabu 26 Agustus 2020 jam 00 wib, bersedia untuk diberikan implementasi melakukan pengkajian dan merawat luka dengan NaCl dan sulfadianizine silver cream dan didapatkan data awal lokasi luka dibetis kaki kanan, berwarna sedikit kemerahan dan luka sudah mulai sedikit mengering, luas luka 1 berdiameter lebar 5,8 cm, panjang 8,8 cm, kedalaman 3 cm, luas luka 2 berdiameter lebar 2,8 cm, panjang 3,9 cm, dan kedalaman 4 cm, ganggren stadium 3, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kemerahan dan tidak berbau, integritas jaringan skala 3, infeksi stadium 5, proses penyembuhan luka primer skala 3 dan sekunder skala 4. Setelah dilakukan tindakan tersebut hasilnya adalah luka Tn. AuTAy masalah teratasi sebagian, keadaan berwarna sedikit kemerahan dan luka sudah mulai sedikit mengering, luas luka 1 berdiameter lebar 5,8 cm, panjang 8,8 cm, kedalaman 3 cm, luas luka 2 berdiameter lebar 2,8 cm, panjang 3,9 cm, dan kedalaman 4 cm, ganggren stadium 3, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kemerahan dan tidak berbau, integritas jaringan skala 3, infeksi stadium 5, proses penyembuhan luka primer skala 3 dan sekunder skala 4, fase ini termasuk pada fase inflamasi dimana fase ini dimulai setelah perlukaan dan berakhir hari ke 3-4. Pada Klien Kedua Ny. AuMAy bersedia untuk diberikan implementasi melakukan pengkajian dan merawat luka dengan NaCl dan sulfadianizine silver cream pada hari Rabu 26 Agustus 2020 jam 15. 00 wib, dan didapatkan data awal lokasi luka dijempol kaki kiri, berwarna hitam dan sedikit berair, luas luka berdiameter lebar 2 cm, panjang 5 cm, kedalaman 1 cm, ganggren stadium 5, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 3, proses penyembuhan luka primer skala 2 dan sekunder skala 3, setelah dilakukan tindakan tersebut hasilnya adalah luka Tn. AuTAy belum teratasi keadaan masih berwarna hitam dan sedikit berair, luas luka berdiameter lebar 2 cm, panjang 5 cm, kedalaman 1 cm, ganggren stadium 5, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 3, proses penyembuhan luka primer skala 2 dan sekunder skala 3. Pada hari kamis 27 Agustus 2020 jam 00 wib, dan didapatkan data awal lokasi luka dijempol kaki kiri, berwarna hitam dan sedikit berair, luas luka berdiameter lebar 1,9 cm, panjang 4,9 cm, kedalaman 1 cm, ganggren stadium 4, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 4, proses penyembuhan luka primer skala 2 dan sekunder skala 3, setelah dilakukan tindakan tersebut hasilnya adalah luka Tn. AuTAy masalah teratasi sebagian keadaan berwarna hitam kemerahan dan sedikit berair, luas luka berdiameter lebar 1,9 cm, panjang 4,9 cm, kedalaman 1 cm, ganggren stadium 4, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kecoklatan dan berbau, integritas jaringan skala 2, infeksi stadium 4, proses penyembuhan luka primer skala 2 dan sekunder skala 3. pada hari jumat 28 Agustus 2020 jam 00 wib, dan didapatkan data awal lokasi luka dijempol kaki kiri, berwarna sedikit dan sudah mulai sedikit mengering, luas luka berdiameter lebar 1,8 cm, panjang 4,8 cm, kedalaman 1 cm, ganggren stadium 3, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kemerahan dan berbau, integritas jaringan skala 3, infeksi stadium 5, proses penyembuhan luka primer skala 3 dan sekunder skala 4, setelah dilakukan tindakan tersebut hasilnya adalah luka Tn. AuTAy masalah teratasi sebagian keadaan berwarna sedikit kemerahan dan luka sudah mulai sedikit mengering, , luas luka berdiameter lebar 1,8 cm, panjang 4,8 cm, kedalaman 1 cm, ganggren stadium 3, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kemerahan dan berbau, integritas jaringan skala 3, infeksi stadium 5, proses penyembuhan luka primer skala 3 dan sekunder skala 4, fase ini termasuk pada fase inflamasi dimana fase ini dimulai setelah perlukaan dan berakhir hari ke 3-4. Evaluasi Keperawatan Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien . asil yang diamat. dengan tujuan dan kriteria hasil yang anda buat pada tahap perencanaan (Budiono, 2. Setelah melakukan tindakan dan melakukan evaluasi hari terakhir, klien pertama hari rabu tanggal 26 agustus jam 14. wib implementasi pda Tn. AuTAy dihentikan dan dilanjutkan petugas diruangan, masalah teratasi sebagian, keadaan berwarna sedikit kemerahan dan luka sudah mulai sedikit mengering, luas luka 1 berdiameter lebar 5,8 cm, panjang 8,8 cm, kedalaman 3 cm, luas luka 2 berdiameter lebar 2,8 cm, panjang 3,9 cm, dan kedalaman 4 cm, ganggren stadium 3, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kemerahan dan tidak berbau, integritas jaringan skala 3, infeksi stadium 3, proses penyembuhan luka primer skala 2 dan sekunder skala 3, fase ini termasuk pada fase inflamasi dimana fase ini dimulai setelah perlukaan dan berakhir hari ke 3-4. Sedangkan klien kedua pada hari jumat 28 Agustus 2020 jam 15. 00 wib, implementasi pada Ny. AuMAy keadaan berwarna sedikit kemerahan dan luka sudah mulai sedikit mengering, luas luka berdiameter lebar 1,8 cm, panjang 4,8 cm, kedalaman 1 cm, ganggren stadium 3, kekentalan warna dan bau cairan luka berwarna kuning kemerahan dan berbau, integritas jaringan skala 3, infeksi stadium 3, proses penyembuhan luka primer skala 3 dan sekunder skala 2, fase ini termasuk pada fase inflamasi dimana fase ini dimulai setelah perlukaan dan berakhir hari ke 3-4. Dalam teori dijelaskan bahwa Perawatan luka ulkus kaki diabetik adalah tindakan untuk merawat luka dan membalut dengan tujuan mencegah infeksi silang . asuk melalui luk. dan mempercepat proses penyembuhan luka (Delimarfidasari, 2. Jadi didalam teori maupun dilapangan perawatan luka betujuan untuk merawat luka agar tidak ada nekrtotik lagi dan membentuk jaringan kulit baru dan membalut dan membersih luka dengan tujuan mencegah resiko infeksi. sehinggah masalah keperawatan Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy masalah teratasi Sebagian dan intervensi dihentikan dan dilanjutkan petugas diruangan. Masalah resiko infeksi teratasi dan intervensi dihentikan. KESIMPULAN Berdasarkan Asuhan Keperawatan yang telah dilakukan pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy selama 3 hari, yaitu Tn. AuTAy pada tanggal 24Ae26 Agustus 2020 dan Ny. AuMAy pada tanggal 26Ae28 Agustus 2020 pada kasus Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum di Ruang Penyakit Dalam RSUD Palembang Bari tahun 2020, maka dapat diketahui hal-hal sebagai berikut: Setelah dilakukan Pengkajian didapatkan bahwa pasien Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy mengalami Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum. Tn. AuTAy pada betis kaki sebelah kanan dengan luka ke 1 berdiameter lebar 6 cm, panjang 9 cm, kedalaman 3 cm, dan luka ke 2 berdiameter lebar 3 cm, panjang 4 cm, dan kedalaman 4 cm. Luka tampak kotor dan berwarana hitam. Luka ganggren sttadium 5 dan infeksi stadium 3. Sedangkan pada Ny. AuMAy terdapat dijempol kaki kiri dengan berdiameter lebar 2 cm, panjang 5 cm, dan kedalaman 1 cm. Luka tampak kotor dan berwarana hitam, luka ganggren stadium 5 dan infeksi stadium 3. Masalah keperawatan yang sama muncul pada kasus Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy yaitu: Nyeri berhubungan dengan Luka Ganggren atau Ulkus Diabetes Melitus Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan Ulkus Diabetes Melitus. Resiko Infeksi berhubungan dengan Ulkus Diabetes Melitus. sedangkan muncul masalah keperawatan yang berbeda pada kasus Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy yaitu: Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan adanya luka pada kaki. Nutrisi Kurang dari kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Anoreksia. Untuk mengatasi masalah keperawatan yang muncul tersebut maka disusunlah rencana Asuhan Keperawatan sesuai dengan teori dan kasusyang ditemukan pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum. Implementasi keperawatan yang telah dilakukan sesuai Intervensi keperawatan yang telah disusun dan disesuaikan dengan kondisi Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum. Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan selama 3 hari pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum Diabetikum di Ruang Penyakit selama 3 hari memperlihatkan adanya sedikit perbaikan. Pada kedua pasien luka tampak sedikit Diameter lebar, panjang dan kedalaman mengalami perubahan yang Stadium ganggren dan stadium infeksi skala 3. Penatalaksanaan Perawatan Luka pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy pada pasien Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum dapat dilaksanakan dan masalah teratasi sebagian. Saran Bagi RSUD Palembang BARI Hasil penulisan Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar pengembangan asuhan keperawatan dan membantu perawat diruangan dalam meningkatkan kepuasan pasien terhadap pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan dan telah diterapkan dengan penatalaksanaan perawatan luka pada Tn. AuTAy dan Ny. AuMAy pada pasien Diabetes Melitus dengan Ulkus Diabetikum di Ruang Penyakit Dalam. DAFTAR PUSTAKA