Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Potensi Pengembangan Wisata Bahari Berbasis Ekosistem Mangrove di Pulau Pari. Kepulauan Seribu Kirana Aisha Jasmine1*. Amanda Azra Salsabila1. Ivanya Putri1. Nada Khairunnisa1. Najma Alifia1. Tsabita Tidiesya1. Lia Kusumawati1 Program Studi Geografi. Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum. Universitas Negeri Jakarta. Jalan Rawamangun Muka. Jakarta Timur, 13220. Indonesia *) Email Korespondensi: kirana_1411622065@unj. Abstract Sitasi: Jasmine. Salsabila. Putri. Khairunnisa. Alifia, . Tidiesya. , & Kusumawati, . Potensi pengembangan wisata bahari berbasis ekosistem mangrove di Pulau Pari. Kepulauan Seribu. Forum Geografi. Vol. No. Sejarah Artikel: Diterima: 16 Oktober 2024 Disetujui: 7 November 2024 Publikasi:27 November 2024 This study aims to analyzed the potential for mangrove ecosystem-based marine tourism development on Pari Island. Thousand Islands. The data collection methods used were ground check and primary survey and assessing the level of potential using the scoring method. Then, the formulation of mangrove ecosystem-based marine tourism area development was carried out using a qualitative descriptive approach. The results of this study indicate that the development of mangrove-based marine tourism that falls into the less potential category should focus on improving infrastructure, adding attractions, transportation, and managing the surrounding environment. While mangrove tourism areas with moderate potential focus on tourist attractions, cultural events, the addition and rejuvenation of bathroom facilities, restaurants, and souvenir shops, as well as environmental management. mangrove ecosystem-based marine tourism can be developed, the economy of the people on Pari Island will also be helped and the culture and existence of Pari Island will be increasingly recognized by the outside community. Keywords: Potential. Marine Tourism. Mangrove Abstrak Copyright: A 2023 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license . ttps://creativecommons. org/license s/by/4. 0/). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pengembangan wisata bahari berbasis ekosistem mangrove di Pulau Pari. Kepulauan Seribu. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah ground check dan survei primer serta melakukan penilaian tingkat potensi menggunakan metode Kemudian, perumusan pengembangan kawasan wisata bahari berbasis ekosistem mangrove dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata bahari berbasis mangrove yang masuk kedalam kategori kurang berpotensi harus berfokus pada peningkatan infrastruktur, penambahan objek wisata, transportasi, serta pengelolaan lingkungan sekitar. Sedangkan kawasan wisata mangrove dengan potensi sedang berfokus pada atraksi wisata, event kebudayaan, penambahan dan peremajaan fasilitas kamar mandi, rumah makan, dan toko cinderamata. Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. serta pengelolaan lingkungan sekitar. Jika wisata bahari berbasis ekosistem mangrove dapat dikembangkan, ekonomi masyarakat di Pulau Pari juga akan ikut terbantu serta budaya dan eksistensi Pulau Pari yang akan semakin dikenal oleh masyarakat luar. Kata Kunci: Potensi. Wisata Bahari. Mangrove Pendahuluan Daerah peralihan antara wilayah daratan serta lautan yang masih terkena dampak dari daratan maupun lautan disebut sebagai wilayah pesisir. Ditinjau dari garis pantai . , suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas, yaitu batas yang sejajar dengan garis pantai . dan batas yang tegak lurus dengan garis pantai . ross shor. (Dahuri, 2003. Prihadi, 2. Wilayah pesisir merupakan wilayah yang menyimpan banyak sumber daya dan dapat dikelola dengan berbagai cara. Melihat potensi tersebut, wilayah pesisir dapat dimanfaatkan sebagai sektor wisata bahari Wisata bahari merupakan wisata minat khusus yang memiliki aktivitas berkaitan dengan kelautan, baik di atas permukaan laut . maupun kegiatan yang dilakukan di bawah permukaan laut . (Ermawan, 2. Kawasan wisata bahari merupakan suatu wilayah yang mempunyai fungsi atau aspek fungsional tertentu, dengan menerapkan diharapkan pembangunan dapat lebih interaktif dan responsif secara fungsional sehingga manfaat pembangunan yang akan dikembangkan itu memiliki sektor atau usaha yang potensial dan strategis untuk menunjang pembangunan (Adisasmita. Ekosistem dimanfaatkan sebagai wisata bahari salah satunya yaitu ekosistem mangrove. Mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis yang khas, tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut, terutama di dekat muara, sungai, laguna dan pantai yang terlindung dengan substrat lumpur atau lumpur berpasir (Pemerintah. Hutan mangrove merupakan jenis ekosistem khusus yang biasanya ditemukan di pantai, pulau-pulau kecil, dan daerah pasang surut di sepanjang pantai. Secara ekologis, mangrove berfungsi sebagai pencegah intrusi laut, habitat berbagai biota, dan pelindung garis pantai. Namun mangrove juga memiliki fungsi secara ekonomi antara lain, sebagai penghasil pendapatan rumah tangga, sumber pendapatan industri, dan tempat pariwisata. Kemampuan mendukung/mengakomodasi dalam suatu objek daya tarik wisata memiliki batasan toleransi. Kegiatan pariwisata yang penuh aktivitas akan berpengaruh terhadap kualitas perairan pencemaran (Marchando & Mourato. Pulau Pari termasuk dalam Kecamatan Pulau Seribu Selatan. Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Provinsi DKI Jakarta. Pulau ini terletak pada posisi geografis antara 05A 50Ao LS hingga 05A 52Ao LS dan 106A 34Ao BT hingga 106A 38Ao BT. Luas Pulau Pari sekitar 41,32 ha, yang terbagi menjadi 1 RW yang membawahi 4 RT dengan jumlah penduduk sekitar 930 Hutan mangrove di Pulau Pari tersebar di hampir seluruh pesisir pulau, yang menjadi salah satu daya tarik wisata di pulau tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah potensi wisata bahari mangrove di Pulau Pari berpotensi untuk dikembangkan atau tidak. Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Metode Penelitian 1 Metode Pengumpulan Data Pada penelitian ini, pengambilan sampel lapangan (Ground Chec. , yang melibatkan pengumpulan informasi langsung dari Peneliti secara fisik mengunjungi lokasi penelitian untuk mengamati, mencatat, dan mendapatkan data langsung dari sumbernya. Selain itu, untuk pengumpulan data di lapangan, digunakan metode survei primer, yang melibatkan pengumpulan data langsung dari responden melalui wawancara, kuesioner, atau 1 Metode Analisis Pada penelitian ini, diperlukan variabelvariabel yang berpengaruh terhadap potensi pengembangan wisata bahari berbasis ekosistem mangrove di Pulau Pari. Hasil dari variabel tersebut diperoleh melalui (In-depth Intervie. , yang kemudian dianalisis menggunakan Content Analysis. Langkah selanjutnya adalah menilai tingkat potensi pengembangan wisata bahari berbasis mangrove di wilayah Pulau Pari. Untuk menilai tingkat potensi pariwisata, digunakan metode skoring hasil survei primer berdasarkan indikator dan variabel pada masing-masing titik pengamatan. Potensi dari setiap titik pengamatan dapat dilihat dari indikator dan variabel tersebut. Pada akhirnya, total skor dikalikan dengan bobot yang kemudian dimasukkan ke dalam Nilai tiap kelas didasarkan pada perhitungan rumus berikut (Muzaki, 2. Keterangan : N = Total Bobot Nilai Bi = Bobot tiap indikator Si = Skor tiap variabel i = Parameter ke-i Pada penelitian pengembangan pariwisata, kajian geografis memiliki peran yang sangat penting, terutama pada aspek yang berkaitan dengan potensi alam, potensi penduduk, tingkat pencapaian/aksesibilitas, transportasi, dan faktor-faktor lainnya (Zahra & Pearce, 1. Sumber daya geografi tersedia untuk pengembangan pariwisata saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain (Abdurachmat & Maryani. Di lokasi wisata Pulau Pari, terdapat komponen-komponen yang mendukung potensi wisata bahari. Komponenkomponen tersebut berperan penting dalam menarik wisatawan untuk berkunjung. Komponen wisata yang dimaksud meliputi daya tarik, aksesibilitas, dan amenitas (Cooper et al. , 1. Semakin besar bobot dari masing-masing komponen, semakin besar pula pengaruhnya terhadap potensi wisata yang ada. Tabel 1. Komponen Wisata Indikator Daya Tarik Variabel Titik 1 Titik 2 Titik 3 Keindahan Panorama Promosi wisata bahari Perawatan Lingkungan Infrastruktur Ekosistem yang terjaga Event Jaringan listrik, air. Pelabuhan Bobot (Ma. Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Aksesibilita Amenitas Transportasi Kelayakan Penginapan Tempat Makan Klinik Sehingga dari hasil perhitungan tersebut dapat diperoleh nilai dari setiap titik pengamatan dan dimasukan ke dalam kategori parameter tingkat potensi pengembangan wisata bahari berbasis mangrove di Pulau Pari. Tempat Ibadah Tabel 2. Kelas Interval Skoring Kamar Mandi Umum Penunjang Tempat Wisata Interval = . Kategori Interval Skoring Keterangan 13,5 - 16 Berpotensi Tinggi 11 - 13,5 Berpotensi Sedang i 8,5 - 11 Kurang Berpotensi 6 - 8,5 Tidak Berpotensi Sumber: Data Pengolahan Peneliti Selang tiap-tiap kelas interval diperoleh dari jumlah perkalian nilai maksimum dari tiap bobot dan skor dikurangi jumlah kemudian dibagi dengan jumlah kategori atau kelas yang digunakan. Secara matematis selang kelas interval dirumuskan sebagai berikut (Muzaki, 2. Sumber: Data Pengolahan Peneliti Tahap terakhir yang dilakukan untuk mengetahui tingkat potensi pengembangan wisata bahari berbasis mangrove di Pulau Pari menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian . ource: Hasil olah penelit. Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Hasil dan Pembahasan Kualitas Air Pengambilan dilakukan pada tiga titik pengamatan di sekitar kawasan ekosistem mangrove guna mengetahui bagaimana kondisi perairan di kawasan tersebut. Hasil dari pengukuran pada ketiga titik pengamatan menunjukkan suhu rata-rata berkisar antara 34,6AC38,2AC, salinitas berkisar antara 27-29 ppt, derajat keasaman . H) berkisar antara 7,17,5 dan partikel terlarut berkisar antara 7700-7880 ppm dengan tipe substrat pasir di ketiga titik pengamatan. Tabel 3. Parameter Fisik Perairan Titik Pengamatan Parameter Fisik Suhu 34,6AC 35,4AC 38,2AC Salinitas 29 ppt 29 ppt 27 ppt Derajat Keasaman . H) Partikel Terlarut Tipe Substrat Pasir Pasir Pasir Sumber: Data Pengolahan Peneliti Pada penelitian ini, suhu tertinggi yang tercatat di titik pengamatan perairan kawasan mangrove Pulau Pari adalah 38,2AC, yang terletak di titik 3. Suhu permukaan terendah tercatat di titik 1 dengan suhu 34,6AC. Perbedaan suhu tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk tutupan mangrove dan waktu Titik 3 memiliki suhu tertinggi karena pengamatan dilakukan pada siang hari, serta area tersebut merupakan destinasi wisata dengan tutupan mangrove yang rimbun. Meskipun suhu udara tinggi, sinar matahari yang terhalang oleh pohon mangrove tidak langsung mengenai air, sehingga mempengaruhi tingkat penguapan. Sebaliknya, titik 1 terletak di kawasan mangrove yang juga rimbun, namun pengamatan dilakukan pada pagi hari, sehingga intensitas cahaya matahari yang diterima lebih rendah. Kondisi suhu di titik pengamatan 1 dan 2 tergolong ideal karena masih berada dalam rentang suhu yang sesuai dengan ambang batas toleransi ekosistem mangrove. Berdasarkan Baku Mutu pada Kepmen LH No. 51 Tahun 2004 (Kementerian Lingkungan Hidup, 2. , suhu air laut yang ideal untuk mangrove adalah antara 28 - 32AC. Menurut (Effendi & Hefni, 2. , suhu air dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam air. Terdapat fenomena unik di titik 3, di mana suhu udara yang lebih tinggi seharusnya berbanding lurus dengan tingkat penguapan dan salinitas yang lebih tinggi. Namun, di titik 3, meskipun suhu tertinggi tercatat, salinitasnya justru paling rendah. Hal ini disebabkan oleh terhalangnya sinar matahari oleh mangrove yang rimbun di sekitar lokasi penelitian, yang mengurangi tingkat penguapan. Salinitas perairan merupakan faktor penting bagi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan zonasi spesies mangrove (Aksornkoe. Hasil pengukuran salinitas perairan di kawasan mangrove Pulau Pari menunjukkan bahwa salinitas tertinggi tercatat di titik 1 dan 2, masing-masing dengan angka 29 ppt, sementara titik 3 memiliki salinitas yang lebih rendah, yaitu 27 ppt. Perbedaan salinitas ini dipengaruhi Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. oleh pasang surut serta penguapan. Lalu Kusmana . , menyatakan bahwa kisaran salinitas optimum yang dibutuhkan mangrove untuk tumbuh berkisar antara 1030 ppt. Hal ini menunjukkan bahwa salinitas di titik pengamatan 1 hingga 3 masih dalam kategori baik dan sesuai dengan Baku Mutu Kepmen LH No. Tahun 2004. Sesuai dengan DKP . , kisaran salinitas ini juga layak untuk kehidupan mangrove. Derajat keasaman . H) memiliki peran penting dalam ekosistem mangrove, karena ketersediaan nutrien yang diperlukan oleh vegetasi tersebut. Kisaran nilai pH yang terukur di ketiga titik pengamatan adalah antara 7,1 hingga 7,5. Kadar pH tertinggi tercatat di titik 3, yaitu 7,5, sedangkan pH terendah tercatat di titik 1, yaitu 7,1. Nilai pH air di lokasi pengamatan mangrove ini masih dalam kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan tumbuhan mangrove. (Alik & , 2. , menyatakan bahwa secara umum, mangrove dapat tumbuh dengan baik pada kisaran pH air antara 5 hingga 8,5. Perubahan pH dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis dan respirasi dalam ekosistem. Semakin tinggi konsentrasi karbon dioksida, pH perairan akan semakin rendah. (Handayani & Patria, 2. , menyebutkan bahwa suhu dan pH memiliki hubungan positif, di mana ketika suhu meningkat, pH juga akan meningkat. Kisaran pH yang tercatat menunjukkan bahwa perairan di ketiga titik tersebut masih tergolong Hal ini juga sejalan dengan pendapat Kaswadji . , menyatakan bahwa perairan dengan pH antara 6,5 hingga 7,5 dapat dikategorikan sebagai perairan yang produktif. Nilai pH substrat pada lokasi penelitian juga masih mendukung kehidupan mangrove. Kisaran kadar partikel terlarut yang terukur di ketiga titik pengamatan adalah antara 7170 ppm hingga 7880 ppm. Titik pengamatan 2 mencatatkan kadar partikel terlarut tertinggi. Kandungan partikel terlarut di perairan sangat penting untuk kelangsungan hidup organisme perairan. Kelarutan partikel terlarut berkorelasi negatif dengan suhu dan salinitas perairan, di mana kelarutan oksigen semakin menurun seiring dengan meningkatnya suhu dan salinitas. Jika pengukuran partikel terlarut dilakukan pada pagi hari, hasil yang diperoleh cenderung lebih rendah karena tidak terjadi fotosintesis, sehingga partikel terlarut digunakan dalam proses respirasi. Effendi & Hefni . , menyatakan bahwa kadar oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh proses aerasi, fotosintesis, respirasi, dan oksidasi bahan organik. Ada hubungan antara kadar oksigen dan suhu, yaitu semakin tinggi suhu, semakin rendah kelarutan oksigen di perairan. Hasil identifikasi substrat di ketiga titik ketiganya memiliki substrat berpasir. Kusmana . , menyatakan bahwa mangrove umumnya tumbuh pada substrat berlumpur, meskipun berbagai jenis mangrove juga dapat tumbuh di substrat Jenis substrat pasir mendominasi di seluruh titik pengamatan di Pulau Pari. Tingginya persentase pasir di lokasi ini disebabkan oleh kedekatannya dengan daratan, sehingga banyak pasokan pasir terbawa oleh aliran sungai maupun air hujan yang mengalir ke wilayah tersebut. Selain itu, zona mangrove di Pulau Pari, yang dikaitkan dengan pasang surut, mayoritas ditumbuhi oleh jenis mangrove Rhizophora mucronata, yang tumbuh baik di daerah yang tergenang oleh pasang Ekosistem Mangrove Pada penelitian ini, spesies mangrove yang dominan di ketiga titik pengamatan adalah Rhizophora Berdasarkan wawancara dengan pengelola Pantai Pari, dominasi spesies Rhizophora mucronata disebabkan oleh kemampuan spesies ini Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. untuk tumbuh secara alami dan kemudahan Hasil pengamatan di ketiga titik tersebut menunjukkan bahwa tingkat kerapatan mangrove tergolong padat, karena spesies ini telah tumbuh alami selama ratusan tahun di kawasan tersebut. Biota yang ditemukan di sekitar ekosistem mangrove didominasi oleh lamun, burung, dan ikan. Keberadaan ikan yang melimpah di sekitar akar mangrove menunjukkan bahwa akar mangrove tersebut berfungsi sebagai habitat yang penting bagi ikan untuk Aktivitas biota di kawasan mangrove ini menjadi indikator bahwa kondisi perairan di sekitarnya masih tergolong sehat. Selain itu, keberadaan burung di kawasan ini juga menjadi petunjuk terhadap tingkat kerapatan mangrove, di mana banyaknya burung yang terlihat mencerminkan keanekaragaman hayati yang mendukung ekosistem mangrove yang sehat. Tabel 4. Tingkat Kerapatan dan Biota Ekosistem Mangrove Titik Pengamatan Biota Tingkat Kerapatan Lamun. Burung. Ikan Padat Lamun. Burung. Ikan. Keong Padat Lamun. Burung. Ikan. Laba-laba Padat Sumber: Data Pengolahan Peneliti Hasil Skoring wawancara Pada tahap hasil skoring dilakukan dengan menggunakan data parameter di lapangan berdasarkan fakta dan wawancara. Nilai skoring hasil wawancara dapat dilihat di tabel berikut. Tabel 5. Nilai Skoring Titik Pengamatan Nilai Skoring Keterangan Titik 1 Tidak Berpotensi Titik 2 Kurang Berpotensi Titik 3 Berpotensi Sedang Sumber: Data Pengolahan Peneliti Titik 1 merupakan titik pengamatan yang berada di area konservasi BRIN. Nilai skoring pada titik pengamatan 1 termasuk ke kategori IV tidak berpotensi. Hal ini didukung dengan hasil wawancara dari narasumber yang mengatakan bahwa daya tarik di sekitar mangrove kurang menarik dan tidak dapat mendukung sebagai wilayah potensial wisata bahari berbasis Titik pengamatan 1 merupakan wilayah khusus konservasi sehingga wilayah tersebut hanya menjadi habitat mangrove yang sehat dan lebat. Wilayah ini juga terdapat padang lamun yang lebat serta sehingga tidak cocok untuk dijadikan tempat wisata karena aktivitas kapal akan terganggu oleh lamun yang tersangkut, hal tersebut juga membuat kawasan padang lamun lambat laun akan rusak dikarenakan aktivitas kapal yang Pelabuhan dan transportasi di area tersebut juga kurang memadai untuk menuju kawasan mangrove di titik 1 ini. Fasilitas umum yang kurang memadai dan jumlahnya yang minim membuat tempat tersebut tidak menjadi salah satu tujuan orang-orang berkunjung ke Pulau Pari. Pada titik pengamatan 2 yang berada di area Pulau Kongsi Tengah, termasuk pada kategori i kurang berpotensi. Dari hasil wawancara dengan narasumber, didapatkan data bahwa lingkungan di sekitar titik pengamatan cukup baik serta keindahan Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. panorama yang sangat baik, tetapi mangrove di titik pengamatan tersebut masih didominasi oleh mangrove tingkat semai yang belum rimbun dan lebat. Ekosistem yang terjaga membuat wilayah ini mempunyai potensi untuk dijadikan tempat wisata. Di titik 2 tersebut aksesibilitas seperti listrik, air dan lain lain belum cukup memadai sehingga harus dilakukan Dikarenakan merupakan wilayah yang diapit oleh dua pulau utama yaitu Pulau Pari dan Pulau H atau Pulau Reklamasi, hal tersebut membuat aksesibilitas transportasi ke titik 2 cukup memadai sehingga dapat menjadi salah satu potensi untuk dijadikan wisata bahari berbasis mangrove di Pulau Pari. Titik 3 merupakan titik pengamatan yang berada di area Pantai Perawan yang juga merupakan salah satu destinasi wisata bahari berbasis mangrove di Pulau Pari. Nilai skoring yang didapatkan masuk pada kategori II berpotensi sedang. Dari hasil wawancara dengan narasumber, didapatkan data bahwa daya tarik, aksesibilitas serta amenitas yang terdapat di titik pengamatan 3 sudah sangat memadai untuk menjadi tempat wisata bahari berbasis mangrove. Lingkungan yang terkelola dan sangat terawat serta ekosistem yang terjaga menjadi daya tarik sempurna untuk wisatawan kunjungi. Sarana dan prasarana serta infrastruktur yang memadai menjadi hal pendukung bagi tempat wisata di kawasan ini. Promosi event kebudayaan berupa Festival Reggae dan Sedekah Bumi juga sudah dilakukan oleh pengelola di Pulau Pari untuk menarik para wisatawan. Dikarenakan faktor-faktor tersebut, potensi untuk mengembangkan wisata bahari berbasis mangrove pada titik pengamatan 3 Pantai Perawan sangatlah besar. Dengan mengembangkan segala karakteristik yang ada di Pantai Perawan, pengembangan skala besar untuk wisata bahari berbasis mangrove dapat dilakukan. Pantai Perawan dapat menjadi tempat wisata bahari berbasis mangrove yang menjadi sasaran utama bagi wisatawan lokal maupun Gambar 2. Peta Sebaran Amenitas (Source: Hasil olah penelit. Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Arahan Pengembangan Potensi Wisata Bahari Berbasis Ekosistem Mangrove di Pulau Pari meskipun kawasan ini tidak dapat dikembangkan untuk wisata massal, masih ada potensi untuk kegiatan pendidikan dan riset dengan pengelolaan yang tepat. Titik Pengamatan 1 berada di kawasan yang dikhususkan sebagai area perlindungan mangrove, yang tidak dibuka untuk umum. Oleh karena itu, area ini tidak berpotensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata bahari berbasis mangrove. Meskipun demikian, kawasan ini masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata edukasi, dengan persyaratan memperoleh izin dari pengelola BRIN setempat. Titik Pengamatan 2, meskipun saat ini tidak memiliki potensi yang besar, lingkungan sekitar menunjukkan peluang untuk dikembangkan menjadi wisata bahari berbasis mangrove di masa depan. Apabila ekosistem di area ini dapat dijaga dan dikelola dengan baik, kawasan ini dapat menjadi daya tarik wisata yang menarik bagi pengunjung. Salah satu aspek yang perlu diperbaiki adalah infrastruktur dan Gambar 3. Peta Sebaran Potensi (Source: Hasil olah penelit. Kendala utama dalam aksesibilitas adalah terbatasnya transportasi yang tersedia, menggunakan sampan atau kapal kecil yang harus didayung, mengingat adanya ekosistem lamun yang sangat lebat dan tinggi di sekitar kawasan mangrove. Selain itu, akses melalui jalur darat memerlukan surat izin masuk, karena area ini merupakan kawasan konservasi. Oleh karena itu, sarana prasarana, yang harus diperkuat untuk mendukung perkembangan wisata berbasis mangrove. Selain itu, karena mangrove di titik ini masih terbilang jarang, diperlukan program penanaman mangrove untuk memperkaya keberadaan mangrove di area tersebut. Lokasi titik pengamatan 2 sangat strategis karena berada di antara dua pulau utama, yaitu Pulau Pari dan Pulau Tengah (Pulau H), yang menjadikan Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. kawasan ini sering dilalui oleh kapal, sehingga memudahkan akses transportasi. Dengan perbaikan yang tepat dalam pengelolaan dan infrastruktur, titik ini berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata bahari berbasis mangrove di Pulau Pari. Titik Pengamatan 3, yang telah menjadi destinasi wisata bahari berbasis mangrove sejak dahulu, menunjukkan dikembangkan lebih lanjut. Aksesibilitas dan amenitas di kawasan ini sudah cukup memadai, meskipun beberapa perbaikan masih diperlukan untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan, seperti penyediaan rumah makan, toko cinderamata, dan penambahan jumlah fasilitas kamar mandi Selain itu, berdasarkan wawancara dengan narasumber, disarankan untuk menambah objek penunjang wisata, seperti wisata outbound, untuk menarik minat pengunjung, khususnya keluarga dengan anak-anak. Pengembangan objek wisata ini dapat menambah daya tarik kawasan mangrove di Pulau Pari. Penting mengembangkan event kebudayaan yang telah ada, seperti Festival Reggae dan Sedekah Bumi, yang dapat dipromosikan secara rutin melalui media sosial. Promosi melalui platform ini akan membantu memperkenalkan budaya lokal dan menarik lebih banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, untuk mengunjungi Pantai Perawan, yang merupakan bagian dari kawasan mangrove Pulau Pari Pengaruh Pengembangan Potensi Wisata Bahari Berbasis Ekosistem Mangrove terhadap Masyarakat di Pulau Pari Wisata memberikan dampak yang signifikan terhadap masyarakat Pulau Pari, tidak hanya dalam aspek pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga dalam peningkatan pengenalan budaya dan eksistensi Pulau Pari di mata masyarakat luar. Dalam sektor Pulau Pari memperoleh manfaat langsung dari pengembangan potensi wisata bahari berbasis mangrove. Sebagai contoh, beberapa warga setempat menjadikan menyediakan akomodasi bagi para wisatawan yang berkunjung. Selain itu, masyarakat juga memproduksi berbagai olahan berbahan dasar mangrove, seperti keripik, sirup, dodol, dan produk perekonomian lokal. Pekerjaan sebagai pemandu wisata atau tour guide juga menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi warga setempat, yang turut menunjang perekonomian masyarakat Pulau Pari secara keseluruhan. Lebih jauh lagi, pengembangan wisata bahari berbasis mangrove berpotensi besar dalam memperkenalkan budaya dan memperkuat eksistensi Pulau Pari di kancah yang lebih luas. Dengan semakin berkembangnya potensi wisata ini, masyarakat Pulau Pari memiliki peluang untuk mengikuti berbagai acara di luar pulau guna memperkenalkan hasil produksi lokal serta kebudayaan mereka kepada khalayak lebih luas. Salah satu contoh konkret dari meningkatnya eksistensi wisata mangrove Pulau Pari adalah kunjungan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Ibu Susi Pudjiastuti, pada tahun 2018. Dalam acara tersebut, beliau memperingati Hari Mangrove Jurnal Sains Geografi, 2. , 2024. DOI: 10. 2210/jsg. Sedunia dengan menanam mangrove di Pulau Pari, yang menjadi salah satu momentum penting dalam meningkatkan popularitas dan pengakuan terhadap wisata mangrove di Pulau Pari di tingkat nasional. Kesimpulan Pada penelitian ini mengacu pada klasifikasi skoring menghasilkan 3 kategori potensi pengembangan wisata bahari berbasis ekosistem mangrove, yaitu tidak berpotensi, kurang berpotensi, dan berpotensi Kategori tidak berpotensi merupakan mangrove yang berada di titik pengamatan 1 area konservasi BRIN dengan perolehan nilai sebesar 6,9. Lalu kategori kurang berpotensi berada pada titik pengamatan 2 yang berada di Pulau Kongsi Tengah dengan nilai sebesar 7,8 dan kategori berpotensi sedang merupakan mangrove yang berada di titik pengamatan 3 di sekitar Pantai Perawan dengan perolehan nilai sebesar 11,6. Arahan pengembangan potensi wisata bahari berbasis ekosistem mangrove pada kategori kurang infrastruktur, penambahan objek pengelolaan lingkungan sekitar. Serta pada kategori berpotensi sedang adalah peningkatan jenis atraksi wisata, event kebudayaan, fasilitas kamar mandi, rumah makan, dan toko cinderamata, serta pengelolaan lingkungan sekitar. Jika wisata bahari berbasis masyarakat di Pulau Pari juga akan ikut terbantu serta budaya dan eksistensi Pulau Pari yang akan semakin dikenal oleh masyarakat Daftar Pustaka