Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 Jember 2020: Muncul Kembalinya Tradisi Tolak Balak di Masa Pandemi Mawardi Purbo Sanjoyo1e e UIN Jember mawardisanjoyo@iain-jember. Article history: Submitted: 18 June 2021 Accepted: 20 July 2021 Published: 21 November 2021 Abstrak: Tradisi tolak bala merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Jember ketika saat menghadapi wabah yang menyebabkan banyaknya jumlah kematian. Pelaksanaan tradisi tolak bala di Jember bermacam-macam, diantaranya: berkeliling memutari desa dan membawa obor sekaligus membaca shalawat burdah, dan ada juga yang membuat patung dari bambu dan batok kelapa sehingga menyerupai manusia kemudian di letakkan di depan rumah mereka, dan membuat jajanan serabi dan ketupat yang kemudian di doakan bersama anggota Tujuan dari pelaksanaan tradisi tolak bala adalah untuk mengusir wabah, thaAoun, atau pagebluk yang banyak menyebabkan kematian di Jember. Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, diantaranya: heuristik . eknik pengumpulan dat. , verivikasi . ritik sejara. , interpretasi, dan historiografi. Sedangkan jenis metode yang digunakan dalam adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: . prosesi pelaksanaan tradisi tolak bala di Jember, . makna simbolik yang digunakan dalam tradisi tolak bala. Kata kunci: Tradisi. Tolak Bala, dan Folklor. P-ISSN x-x E-ISSN x-x A 2021 author. Published by SPI FAB UIN Raden Mas Said Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. Jember 2020: Muncul Kembalinya Tradisi Tolak Balak di Masa Pandemi. Mawardi Purbo Sanjoyo Pendahuluan Munculnya sebuah virus mematikan yakni. Corona (Corona Virus Desease 2019. COVID-. di Wuhan hingga masuk ke Indonesia turut menjadi perhatian yang khsusus dan menarik untuk dikaji. Dalam penelitian ini, peneliti tidak memfokuskan terhadap munculnya virus corona di Indonesia melainkan damapak terhadap masyarakat yang disebabkan oleh virus tersebut. Ada beberapa lapisan yang menyangkut multidimensionalitas pemahaman, pemaknaan, dan respon masyarakat atas penyebaran luas suatu penyakit menular. Hal ini sehingga berpengaruh di tatanan masyarakat baik dari sisi sosial dan budaya. Sehingga muncul beberapa tradisi untuk mengusir wabah sebagai respon mereka, karena masyarakat memiliki pengetahuan tersendiri dalam menyikapi wabah atau penyakit yang mematikan. Tradisi merupakan sebuah kegiatan yang menjadi rutinitas dalam kehidupan masyarakat. Tradisi lahir dari buah pikiran manusia karena nilai budaya merupakan konsep yang dianggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup sehingga mampu berfungsi sebagai sebuah pedoman yang mampu memberi arah dan orientasi pada kehidupan masyarakat. Suatu nilai budaya bersifat sangat umum atau luas dan sulit diterangkan secara rasional karena sifatnya yang begitu umum dan luas, maka nilai-nilai budaya dalam suatu kebudayaan terletak pada daerah emosional dari alam jiwa manusia dan kebudayaan yang bersangkutan. Tradisi memiliki bentuk bermacam-macam dan mempunyai ciri khas yang berbeda, sesuai dengan kegiatan yang dilakukan pada daerah tertentu. Banyaknya bentuk tradisi juga dapat menjadi salah satu identitas di suatu daerah dan menjadikan suatu fakta beragamnya tradisi kebudayaan di Indonesia, khususnya tradisi tolak bala yang ada di Jember. Tolak bala dapat diartikan sebagai sebuah tindakan untuk menolak bencana atau musibah yang sedang terjadi, seperti wabah, thaAounA dan pageblug. Munculnya tradisi tolak bala di Jember dikarenakan adanya wabah corona sehingga terjadi banyaknya jumlah kematian. Selain itu, di daerah kawasan Jember lainnya berasumsi bahwa tidak hanya bencana wabah corona yang melanda di Jember, melainkan penyakit thaAoun atau pageblug . enurut orang Jaw. juga telah menyebabkan banyaknya kematian. Dalam kasus tradisi tolak bala di Jember, makna kata AobalaAo mempunyai banyak versi seperti wabah corona, thaAoun, dan pageblug. Tentunya, tidak hanya wabah corona saja yang menjadi fokus masyarakat dalam melaksanakan tradisi tolak bala, melainkan jenis wabah lainnya seperti thaAoun dan juga pageblug Pelaksanaan tradisi tolak bala di berbagai daerah kawasan Jember sangat beragam, diantaranya dengan membaca sholawat burdah kemudian mengelilingi desa dengan membawa sebuah obor. Tradisi ini dilakukan pada malam hari selama tiga hari dan pada malam terakhir masyarakat berkumpul di masjid dengan membawa berkat atau makanan yang kemudian dibacakan sholawat burdah dan di akhiri dengan berdoa bersama. Kawasan Jember lainnya seperti Gumukmas juga terdapat tradisi tolak bala dengan membuat sebuah patung yang menyerupai manusia kemudian dipasang di depan rumah, yang berfungsi dapat mengusir pagebulg. Kawasan Jember seperti kecamatan Ajung juga turut melaksanakan kegiatan tolak bala, dengan membuat selamatan serabi dan ketupat. Pembuatan ketupat dan serabi menyesuaikan jumlah anggota keluarga. Jika Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , 153. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 dalam satu keluarga berjumlah lima orang maka pembuatan serabi dan ketupat harus berjumlah lima dan dibawa ke masjid atau musholla untuk dibacakan sholawat burdah dan doa bersama. Adapun tujuan peneliti mengadakan penelitian tradisi tolak bala di Jember yaitu untuk mengungkap secara mendalam mengenai prosesi pelaksanaan tradisi tolak bala, makna simbolik dalam setiap tradisi, dan fungsi folklor yang terkandung dalam proses pelaksanaan tradisi tolak bala di Jember. Metode Penelitian Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yakni peneliti akan menjelaskan secara mendalam prosesi tradisi tolak bala di Jember dengan menggunakan kajian folklore sebagai kebudayaan atau tradisi lokal yang terdapat di Jember. Untuk mencapai penulisan sejarah oleh karena itu peneliti menggunakan metode penelitian sejarah, diantaranya: Pertama. Heuristik adalah teknik pengumpulan data atau sumber. Peneliti akan mencoba mencari data dengan cara melakukan teknik wawancara, dokumentasi, dan juga merujuk kepada sumber-sumber lainnya yang berhubungan dengan tema dalam penelitian ini. Kedua. Verivikasi atau kritik sejarah. Verifikasi merupakan cara untuk menentukan bermakna atau tidaknya suatu ungkapan dan bukan untuk menentukan suatu kriteria kebenarannya. Menurut Alfred Jules Ayer suatu ungkapan dapat bermakna bila ungkapan tersebut merupakan pernyataan observasi yang menyangkut dengan realitas inderawi. Oleh karena itu, dalam hal ini membutuhkan fakta atau data empiris. Ketiga. Interpretasi atau penafsiran sering disebut sebagai bidang subjektivitas. 12 Oleh karena itu, data-data yang sudah terkumpul di lakukan metode kritik sumber, untuk menafsirkan fakta-fakta serta menghubungkan fakta satu dengan fakta lainnya. Keempat. Historiografi sebagai upaya penulisan sejarah berurutan melalui suatu rangkaian heuristik, verifikasi dan interpretasi, sampai penyajian dalam bentuk kisah atau cerita sejarah. Hasil Pembahasan Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa tradisi tolak bala yang terdapat di Jember bermacam-macam, diantaranya: wabah corona, thaAoun, dan pageblug memiliki pengertian yang hampir sama akan tetapi makna dari beberapa wabah tersebut tentunya berbeda pada setiap daerah dan mempengaruhi terhadap perbedaan dalam pelaksaan tolak bala. Dalam hal ini masyarakat berupaya untuk mengusir wabah yang melanda daerah mereka dikarenakan wabah tersebut dapat menulari hingga menyebabkan banyak kematian. Tradisi dalam penelitian ini merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat dulu dalam menanggapi wabah yang diwarisi secara turun-temurun. Fiandy Mauliansyah. AuPositivisme Logis Dalam Languange. Truth, and Logic Karya Alfred Jules Ayer: Sebuah Pandangan KritisAy, dalam Jurnal Source. Vol. No. , 235. Kuntowijoyo. Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2. , 78. Nugroho Notosusanto. Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (Jakarta: Idayu Press,1. , 12. Jember 2020: Muncul Kembalinya Tradisi Tolak Balak di Masa Pandemi. Mawardi Purbo Sanjoyo Kepercayaan yang telah disepakati oleh masyarakat sehingga menjadi sebuah tradisi atau budaya mereka yang termasuk dalam kajian folklor. Folklore atau dalam bahasa Indonesia AofoklorAo merupakan kata majemuk yang berasal dari dua kata, yakni folk dan lore. Folk dapat diartikan sebagai sebuah kelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan budaya yang berbeda dengan kelompok-kelompok lain. Pengenalan tersebut dapat berupa seperti warna kulit, bahasa yang sama, agama, dan kepercayaan yang sama. Dari sini dapat dipahami bahwa mereka telah memiliki sebuah tradisi yang telah mereka warisi secara turun temurun. Sedangkan lore adalah sinonim dengan kolektif yang memiliki ciriciri pengenalan fisik maupun kebudayaan yang sama dan mempengaruhi kesadaran kolektif di kehidupan masyarakat. 14 Maka folklor dapat diartikan sebagai kebudayaan kolektif yang diwariskan secara turun-temurun melalui lisan atau dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat . enemonic devic. Meningkatnya jumlah kematian dan munculnya sebuah wabah di Jember pernah terjadi di era tahun 1950-1960, namun saat itu beberapa masyarakat mempercayai bahwa wabah tersebut adalah penyakit thaAoun. Menurut Ibu Sundari, bahwa tahun 1960 penyakit thaAoun sudah pernah muncul, penyakit tersebut kemudian menyerang masyarakat dengan mengetuk pintu rumah dan memanggil nama pemilik rumah pada malam hari. Apabila pemilik rumah membuka pintu atau menyauti panggilan tersebut maka pada pagi hari orang tersebut akan meninggal. Menurut Bapak Saiful, juga menjelaskan bahwa di Jember pernah muncul penyakit yang bernama thaAoun pada tahun 1940. Untuk mengusir penyakit tersebut maka masyarakat mengadakan sebuah ritual selametan yang diyakini dapat mengusir wabah thaAoun. Kepercayaan tersebut diperoleh dari cerita keluarganya terdahulu dalam mengusir sebuah penyakit. Menurutnya, wabah thaAoun merupakan penyakit yang sangat aneh dikarenakan wabah thaAoun sudah ada sejak dulu. Dalam kasus tersebut, banyak orang yang tidak berani untuk keluar malam terutama anak kecil dilarang untuk keluar rumah dikarenakan munculmya wabah thaAoun. Sedangkan dalam sejarah Islam tercatat, terdapat lima kejadian wabah thaAoun yang terkenal dan banyak memakan korban. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhammad Rasyid Ridho dalam jurnalnya Wabah Penyakit Menular Dalam Sejarah Islam dan Relevansinya Dengan Covid-19, menjelaskan bahwa pertama muncul thaAoun syirawih pada masa Rasulullah. Kedua, thaAoun amwas muncul di zaman ke khalifahan Umar bin Khattab. Ketiga, thaAoun jarif, keempat thaAoun fatayat yang banyak memakan korban dari kalangan pemuda. Kelima, thaAoun Al-syraf karena mayoritas korbannya adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi. Dalam menyikapi kasus wabah thaAoun di Jember maka diadakan dengan membaca sholawat burdah sambil mengelilingi desa mereka dengan membawa sebuah obor dengan tujun dapat mengusir penyakit thaAoun. Dalam pembacaan sholawat burdah melibatkan seluruh masyarakat setempat dan seseorang yang memiliki pengetahuan agama cukup memadai seperti ustad atau kiyai Suwardi Endraswara. Folklor Nusantara Hakikat. Bentuk, dan Fungsi, (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2. , 1. Wawancara dengan Sundari pada tanggal 20 Agustus 2021. Wawancara dengan Saiful pada tanggal 20 Agustus 2021. Muhammad Rasyid Ridho ,AuWabah Penyakit Menular Dalam Sejarah Islam dan Relevansinya Dengan Covid-19Ay, dalam Jurnal JUSPI. Vol. No. , 24. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 2 June-November 2021 | 1-66 untuk memimpin pembacaan sholawat burdah. Sholawat burdah merupakan sebuah syair madaAoih . uji-pujia. untuk Rasululullah SAW yang dikarang oleh penyair yakni, al Imam Bushiri. Untuk mengungkapkan rasa cinta dan rindu kepada Rasulullah SAW dengan cara melalui syair-syairrya yakni. Aual-kawakib al-durriyah fi madh khayr al-bariyyahAy yang berarti . intang kemilau dalam memuji makhluk terbai. 18 Masyarakat memaknai pembacaan sholawat burdah dengan berkeliling dapat mempunyai nilai magis yang kuat sehingga pemahaman masyarakat atas tradisi yang dilakukan mengandung sistem kepercayaan lokal yang dapat mengusir segala wabah Selain pelaksaan pembacaan sholawat burdah sebagai bentuk dari respon masyarakat, beberapa masyarkaat lainnya juga meyakini bahwa dalam mengusir suatu wabah tidak hanya dengan sholawat burdah, melainkan dengan membuat jajanan surabi dan ketupat. Pada masyarakat Jember, jajanan surabi dapat ditemukan pada saat acara tahlilan yakni, pada malam ke tiga. Dalam acara tahlilan pada malam ketiga keluarga yang mengadakan acara tahlil tersebut memberikan beberapa jajanan, salah satunya jajanan surabi. Jajanan surabi merupakan sesuatu yang wajib ada dalam acara tahlilan di malam ketiga, meskipun belum ditemukan sumber-sumber yang menjelaskan secara rinci kaitannya jajanan surabi dengan acara tahlilan. Ibu Sundari juga menuturkan bahwa jajanan surabi merupakan jajanan khusus orang meninggal. Jika dikaitkan dengan tradisi tolak bala, jajanan surabi merupakan simbol sebagai penolak bala karena dalam pelaksanaannya jajanan surabi dibuat sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Adapun pelaksanaan tradisi tolak bala di Jember Barat di kecamatan Gumukmas berbeda dengan daerah lainnya. Secara umum masyarakat di desa Gumukmas adalah orang Jawa, sehingga dalam pengertian kata wabah atau bala mereka memaknai dengan istilah pageblug. Pageblug merupakan sebuah wabah yang terjadi di suatu daerah seperti wabah corona. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Eko Punto Hendro dalam jurnal yang berjudul Pageblug: Tinjauan Aspek Antropologis untuk Mendukung Penerapan Protokol Kesehatan dalam Menghadapi Covid-19 di Jawa Tengah, menjelaskan pandangan masyarakat Jawa terkait istilah pageblug dipahami sebagai suatu fenomena kosmologis, yakni manusia perlu mengeseimbangkan kembali alam dan dunia Artinya, keselarasan antara diri manusia dengan sesama dan lingkungannya serta manusia dengan Tuhan. Eko Punto Hendro juga menjelaskan bahwa dalam sastra tulis Jawa terdapat beberapa naskah, diantaramya. naskah Sudamala. Calon Arang. Karmawibhangga. Cariyos Dalang Karungrungan yang memuat berbagai bentuk wabah serta cara penanganannya. Sedangkan dalam sastra lisan Jawa dapat ditemukan dalam dunia pewayangan, diantaranya: ruwatan (Murwa Kal. , cerita pageblug Mayangkara. Bahkan dalam kehidupan masyarakat Jawa saat ini masih menghidupkan budaya untuk mengusir wabah dengan melalui kesenian dhongkrek dan membuat perlengkapan tertentu. Eko Setiawan. AuNilai-nilai Religius Dalam Syair Shalawat BurdahAy, dalam Jurnal LiNGUA. Vol. No. , 1. Eko Punto Hendro. AuPageblug: Tinjauan Aspek Antropologis untuk Mendukung Penerapan Protokol Kesehatan dalam Menghadapi Covid-19 di Jawa TengahAy, dalam Jurnal Endogami. Vol. No. , 2. Ibid, 1. Jember 2020: Muncul Kembalinya Tradisi Tolak Balak di Masa Pandemi. Mawardi Purbo Sanjoyo Cara orang Jawa dalam menghadapi wabah pageblug juga dengan melakukan ritual Menurut Clifford Geertz, sebagaiman yang dikutip oleh Arif Akhyat dalam bukunya yang berjudul Pengetahuan Budaya Dalam Khazanah Wabah, menjelaskan selametan sebagai pusat aktivitas komunitas agraris. Selametan dalam tradisi agraris tidak hanya sebagai sebuah ritual melainkan juga dikaitkan dengan sebuah fenomena yang sedang terjadi atau yang telah diprediksi akan terjadi. Selametan kemudian menjadi sebuah aktivitas spiritual masyarakat agraris Jawa yang dilakukan saat kondisi sosial mengalami gangguan dan harapan perlu ditumbuhkan. Istilah pageblug di kecamatan Gumukmas dalam mengusir berbagai penyakit seperti wabah virus corona sangat berbeda dengan tradisi pada umumnya. Masyarakat secara serentak membuat patung Ptakotan yang di pasang di depan rumah, patung yang terbuat dari kayu dan batok kelapa kemudian di berikan baju sehingga menyerupai wujud manusia. Tujuan dari patung Ptakotan tersebut untuk menangkal penyakit pageblug atau wabah sehingga dapat terhindar dari malapetaka, bencana atau bala. Menurut Novan seseorang yang juga membuat patung Ptakotan mengatakan bahwa di zaman dia masih kecil dulu ketika muncul sebuah wabah dan terjadi melonjaknya jumlah kematian, warga segera membuat patung Ptakotan untuk mengusir wabah tersebut. Kesimpulan Munculnya sebuah tradisi tolak bala merupakan bentuk dari respon masyarakat dalam menghadapi sebuah wabah yang melanda di suatu daerah. Tradisi muncul atas sebuah tindakan yang sebelumnya pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya yang kemudian diwarisi secara turuntemurun. Pelaksanaan tradisi tolak bala mempunyai nilai magis yang kuat sehingga pemahaman masyarakat atas tradisi yang dilakukan mengandung sistem kepercayaan lokal yang dapat mengusir segala wabah penyakit diantaranya tradisi tolak bala yang ada di Jember. Tradisi merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat dulu dalam menanggapi wabah yang diwarisi secara turun-temurun melalui lisan atau dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat . enemonic devic. Kepercayaan yang telah disepakati oleh masyarakat sehingga menjadi sebuah tradisi atau budaya mereka yang termasuk dalam kajian folklor. Daftar Pustaka