Jurnal Infortech Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN: 2715-8160 Audit Tata Kelola Teknologi Informasi Sistem ITMS Dengan COBIT 5 Di Kantor Pertanahan Jakarta Selatan Rani Irma Handayani1. Normah2*. Bakhtiar Rifai3. Nurmawati4 1,2,3,4 Universitas Nusa Mandiri e-mail: rani. rih@nusamandiri. Normah. nor@nusamandiri. id, 3Bakhtiar. bri@nusamandiri. nurmawati140397@gmail. Diterima 02-08-2025 Direvisi 19-11-2025 Disetujui 22-12-2025 Abstrak - Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan merupakan unit pelaksana teknis dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN yang memanfaatkan Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS) untuk mendukung pengelolaan data kepegawaian dan pengembangan kompetensi aparatur. Namun, efektivitas tata kelola teknologi informasi pada sistem ini belum pernah dievaluasi secara formal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kapabilitas proses tata kelola TI pada sistem ITMS menggunakan kerangka kerja COBIT 5, khususnya pada domain DSS (Deliver. Service and Suppor. dan MEA (Monitor. Evaluate and Asses. Hasil audit menunjukkan bahwa MEA01 memperoleh tingkat kapabilitas tertinggi sebesar 5,52, menandakan sistem telah menyediakan informasi yang akurat dan transparan. Secara umum, rata-rata kapabilitas berada pada level 3,78, mendekati level 4 (Predictable Proces. Proses DSS01. DSS03. DSS06, dan MEA01 telah mencapai atau melampaui target, sedangkan DSS02. DSS04. DSS05, dan MEA02 masih menunjukkan gap, dengan celah terbesar pada DSS04 sebesar -1,56. Rekomendasi perbaikan mencakup penguatan sistem pelaporan insiden, peningkatan kesiapan layanan melalui pelatihan berkala, serta penguatan kebijakan keamanan informasi. Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan dalam peningkatan tata kelola TI yang lebih efektif dan Kata Kunci: Audit TI. COBIT 5. ITMS. Kantor Pertanahan Abstract - The Land Office of South Jakarta Administrative City is a technical implementing unit under the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency (ATR/BPN) that utilizes the Talent Management System for Civil Servants (ITMS) to support personnel data management and the development of employee competencies. However, the effectiveness of information technology (IT) governance in this system has never been formally evaluated. This study aims to assess the capability level of IT governance processes in the ITMS using the COBIT 5 framework, specifically within the DSS (Deliver. Service and Suppor. and MEA (Monitor. Evaluate and Asses. The audit results show that MEA01 achieved the highest capability level 52, indicating that the system provides accurate and transparent information. Overall, the average capability level was 3. 78, approaching level 4 (Predictable Proces. Processes such as DSS01. DSS03. DSS06, and MEA01 have met or exceeded their targets, while DSS02. DSS04. DSS05, and MEA02 still show gaps, with the largest gap enhancing service readiness through regular training, and reinforcing information security policies. This evaluation is expected to serve as a foundation for decision-making to improve more effective and sustainable IT Keywords: IT Audit. COBIT 5. ITMS. Land Office PENDAHULUAN Sejak berkembangnya teknologi komputer, pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan luas. Teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam dunia industri dan bisnis, terutama dalam hal efisiensi kerja, keakuratan data, dan pengawasan proses operasional (Fauzi dkk. , 2. Untuk http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech mendukung pencapaian tujuan organisasi, dibutuhkan sistem informasi yang efektif, efisien, dan dikelola dengan tata kelola TI yang baik (Novianto, 2. Dalam sektor pemerintahan, pemanfaatan TI menuntut pengelolaan yang cermat. Audit sistem informasi diperlukan untuk menilai efektivitas, integritas, dan keamanan sistem, serta memastikan Jurnal Infortech. Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN 2715-8160 kesesuaiannya dengan strategi organisasi (Tambunan , 2. Salah satu kerangka kerja yang banyak digunakan dalam audit TI adalah COBIT 5. Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan sebagai bagian dari ATR/BPN menggunakan Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS) untuk pengelolaan data kepegawaian dan pengembangan kompetensi ASN. Namun, sistem ini belum pernah dievaluasi secara formal, meskipun menghadapi berbagai kendala seperti performa lambat, gangguan teknis, dan ketidakstabilan server. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem ITMS menggunakan kerangka COBIT 5, khususnya pada domain DSS (DSS01AeDSS. dan MEA (MEA01AeMEA. , guna mengukur tingkat kesiapan dan kapabilitas sistem dalam mendukung tata kelola talenta ASN. hingga DSS06 Monitor. Evaluate and Assess (MEA): MEA01 dan MEA02 Process Capability Model COBIT 5 menggunakan Process Assessment Model (PAM) berbasis ISO/IEC 15504 untuk menilai kapabilitas proses dalam 6 level: Tabel 1 Capability Level Level Range Capability 0 - 0,49 Incomplete Process 0,5 - 1,49 Perfomed Process 1,50 - 2,49 Managed Process 2,50 - 3,49 Established Process 3,50 - 4,49 Predictable Process 4,50 - 5,00 Optimizing Process Sumber: (Fadila & Saputra, 2. Penelitian Terkait TINJAUAN PUSTAKA Audit Sistem Informasi Audit sistem informasi merupakan kegiatan sistematis untuk menilai efektivitas, efisiensi, dan keamanan sistem informasi dalam organisasi. Tujuan audit meliputi perlindungan aset informasi, keandalan data, serta pemenuhan terhadap tujuan dan peraturan Sasaran audit meliputi aspek keamanan, keaslian data, kinerja sistem, serta produktivitas sistem (Wahid, 2. Audit juga diklasifikasikan dalam dua fokus utama: conformance dan performance. Conformance meliputi kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan sistem, sedangkan performance mengukur efektivitas, efisiensi, dan keandalan (Zuraidah & Budihartanti. COBIT 5 COBIT (Control Objectives for Information and Related Technolog. adalah kerangka kerja yang dikembangkan oleh ISACA untuk tata kelola dan manajemen TI organisasi. COBIT 5 menyediakan kerangka komprehensif untuk mengelola dan mengawasi TI dalam mendukung tujuan bisnis (Zuraidah & Budihartanti, 2. COBIT 5 terdiri dari lima prinsip utama: Memenuhi kebutuhan pemangku kepentingan Menyeluruh atas seluruh organisasi Kerangka kerja terpadu Pendekatan menyeluruh Memisahkan tata kelola dan manajemen Penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Aziza dan Sujarwadi dengan judul Audit Sistem SAPA ASN dengan COBIT 5 pada Pemerintah Kabupaten Bantul (N. Aziza & B. Sujarwadi, 2. dengan tujuan mengevaluasi kapabilitas tata kelola TI menggunakan COBIT 5 pada domain DSS. Hasil audit menunjukkan tingkat kapabilitas berada di level 3 (Established Proces. dengan gap sebesar 1 terhadap target level 4. Rekomendasi perbaikan meliputi penyusunan SOP, penguatan regulasi proses bisnis, evaluasi berkala, dan optimalisasi kontrol dalam setiap tahapan proses. Penelitian lainnya juga dilakukan oleh Akmal Panji Rabhani, dkk. dengan judul Audit Sistem Informasi Absensi Pada Kejaksaan Negeri Kota Bandung Menggunakan Framework COBIT 5 (Rabhani et al. , 2. , dengan tujuan menilai efektivitas sistem absensi berbasis face-unlock. Hasil audit menunjukkan kapabilitas sebesar 2,4 dengan gap 1,6 dari target level 4. Rekomendasi yang diberikan mencakup penguatan tata kelola informasi dan penyusunan pedoman peningkatan sistem. METODE PENELITIAN Penelitian ini disusun secara terstruktur dan rasional berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan sebelumnya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif, dengan pengumpulan data melalui kuesioner yang ditujukan kepada responden yang berinteraksi langsung dengan sistem. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk mengukur tingkat kematangan . aturity leve. berdasarkan Domain yang digunakan dalam penelitian ini Deliver. Service and Support (DSS): DSS01 http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech Jurnal Infortech. Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN 2715-8160 framework COBIT 5. Proses tahapan penelitian tersebut dapat dilihat pada gambar I. Sumber: (Pengolahan Data, 2. Gambar 1. Tahapan Penelitian Tahapan Penelitian Gambar menggambarkan alur tahapan penelitian yang dapat dijelaskan sebagai berikut: Identifikasi Masalah Permasalahan pada implementasi sistem ITMS diidentifikasi, seperti kinerja sistem yang belum optimal dan belum adanya audit formal Studi Literatur dan Penentuan Domain Peneliti mengkaji berbagai sumber literatur untuk memahami konsep tata kelola TI dan menentukan domain COBIT 5 yang digunakan dalam penelitian, yaitu DSS01. DSS02. DSS03. DSS04. DSS05. DSS06 MEA01 dan MEA02. Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan melalui: Wawancara Melakukan interaksi komunikatif antara peneliti dan responden guna memperoleh data yang mendukung pencapaian tujuan penelitian (Dinata & Sutabri, 2. Wawancara dilakukan secara langsung untuk menggali informasi terkait pelaksanaan tata kelola TI di lingkungan Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan. Peneliti mewawancarai dua narasumber utama, yaitu Bapak Irvan Maulana Sadikin. selaku Kepala Subbagian Tata Usaha, dan Ibu Maria Setianingrum. selaku Analis Tata Usaha. Topik wawancara mencakup struktur organisasi, pelaksanaan TI, dan unit-unit kerja yang terlibat dalam pengelolaan sistem ITMS. http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech Observasi Observasi dilakukan dengan pengamatan langsung terhadap sistem informasi dan lingkungan TI yang ada di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan. Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan langsung terhadap objek penelitian untuk memperoleh informasi yang sesuai dengan kebutuhan studi (Dinata & Sutabri, 2. Tujuan dari observasi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana implementasi tata kelola TI telah dijalankan, serta mengidentifikasi potensi masalah atau kendala yang dapat memengaruhi kapabilitas sistem. Kuesioner Kuesioner merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan menyampaikan pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab sesuai dengan persepsi atau pengalaman mereka (Rabhani et al. , 2. Kuesioner disusun berdasarkan framework COBIT 5 dan disebarkan secara daring melalui Google Form kepada 25 responden dari berbagai unit kerja yang terlibat langsung dalam penggunaan Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS). Instrumen ini bertujuan untuk penerapan prinsip tata kelola TI dalam domain DSS dan MEA, menggunakan skala Likert lima tingkat untuk menilai tingkat persetujuan terhadap pernyataan yang diberikan. Pengolahan dan Analisis Data Data diperoleh melalui wawancara, observasi, serta pengisian kuesioner yang disusun berdasarkan Framework COBIT 5. Data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis untuk mengukur tingkat kapabilitas pada subdomain DSS01 hingga DSS06 serta MEA01 dan MEA02. Proses pengukuran ini dilakukan berdasarkan hasil pengolahan kuesioner yang telah dijawab oleh para responden. Penyusunan Temuan dan Rekomendasi Setelah dilakukan analisis terhadap tingkat rekomendasi yang bertujuan untuk mendukung peningkatan kualitas layanan Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS) di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan pada masa yang akan datang. Kesimpulan Tahap ini merupakan bagian akhir dari penelitian yang memuat kesimpulan sebagai ringkasan dari keseluruhan proses dan temuan studi, serta saran Jurnal Infortech. Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN 2715-8160 yang berisi rekomendasi bagi instansi terkait guna mempertimbangkan langkah perbaikan METODE AUDIT SISTEM INFORMASI Tingkat kematangan tata kelola Teknologi Informasi pada Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS) di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan dievaluasi berdasarkan hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden terpilih. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi pustaka, serta penyebaran kuesioner yang terdiri atas 224 pernyataan. Pernyataanpernyataan tersebut dirancang berdasarkan dokumen COBIT 5: Enabling Processes dengan fokus pada domain DSS dan MEA, yang mencakup delapan DSS01 (Manage Operatio. DSS02 (Manage Service Requests and Incident. DSS03 (Manage Problem. DSS04 (Manage Continuit. DSS05 (Manage Security Service. DSS06 (Manage Business Process Control. MEA01 (Monitor. Evaluate. Assess Performance and Conformanc. , serta MEA02 (Monitor. Evaluate and Asses the System of Internal Contro. Penelitian ini menetapkan kriteria responden sebagai pegawai yang terlibat langsung dalam pengelolaan Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS). Dari total populasi sebanyak 60 pegawai di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan, sebanyak 25 orang dipilih sebagai responden karena memiliki keterlibatan langsung dalam penggunaan dan pengelolaan sistem. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu metode penentuan sampel berdasarkan pertimbangan atau kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian (Sari, 2. Setelah proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, kuesioner, dan studi pustaka, tahap selanjutnya adalah mengolah dan menganalisis data menggunakan pendekatan skala Dalam penelitian ini, peneliti menerapkan skala Likert sebagai alat untuk menilai tingkat persetujuan responden terhadap setiap butir pertanyaan yang dirancang berdasarkan kerangka kerja COBIT 5. Skala Likert merupakan metode yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi individu terhadap suatu objek secara sistematis melalui pernyataan-pernyataan yang disusun dalam kuesioner (Sugiyono, 2. http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech Berikut merupakan tabel skala likert yang digunakan pada penelitian ini: Tabel 2. Skala Likert Skala Likert Sangat Setuju Setuju Netral Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Sumber: (Fadila &. Saputra, 2. Indeks Tahapan pengolahan terhadap data yang diperoleh dari kuesioner guna menentukan tingkat kematangan . aturity leve. dari setiap subdomain pada kerangka kerja COBIT 5 dengan tahapan sebagai Menghitung Indeks Kuesioner Indeks kuesioner diperoleh dengan cara membagi total skor yang dikumpulkan dari hasil kuesioner pada tiap proses dengan jumlah pernyataan yang terdapat dalam proses tersebut (Baharuddin dkk. , 2. yaycuyccyceycoyc yaycyceycycnycuycuyceyc = ycAycnycoycaycn yaycyceycycnycuycuyceyc ycEyceycycycaycuycycaycaycu Menghitung Indeks Kematangan (Maturity Inde. Indeks kematangan dihitung dengan membagi persentase ketercapaian terhadap jumlah work product yang relevan pada setiap proses . engacu pada dokumen Process Assessment Mode. , kemudian hasilnya dikalikan dengan indeks kuesioner (Baharuddin dkk. , 2. % yayceycyceycycaycaycyycaycnycaycu ycAycaycycycycnycyc = ( ycOycuycyco ycEycycuyccycycayc ) ycu ycoycyceycycnycuycuyceyc Menghitung Tingkat Kematangan (Maturity Leve. Tingkat kematangan dari masing-masing subdomain ditentukan dengan membagi total indeks kematangan seluruh proses dalam subdomain tersebut dengan jumlah proses yang ada (Baharuddin , 2. ycAycaycycycycnycyc yayceycyceyco = ycAycaycycycycnycyc yaycuyccyceycoyc ycEycycuycyceyc Menentukan Tingkat Kapabilitas (Capability Leve. Tingkat kapabilitas merupakan pendekatan yang digunakan untuk mengukur performa atau efektivitas suatu proses dalam organisasi (Aziza & Sujarwadi, 2. Setelah memperoleh hasil perhitungan tingkat kematangan . aturity leve. , data tersebut dapat dimanfaatkan untuk menetapkan level kapabilitas sesuai dengan referensi pada tabel tingkat kapabilitas. Jurnal Infortech. Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN 2715-8160 Menentukan Tingkat Kematangan (Maturity Leve. yang Ditargetkan Penetuan tingkat kematangan yang diharapkan bertujuan sebagai pedoman dalam pengembangan sistem informasi di institusi terkait. Nilai tingkat kematangan ini ditentukan berdasarkan rata-rata dari tingkat kematangan seluruh subdomain yang Analisis Tingkat Kesenjangan (GAP) Tingkat kesenjangan (GAP) menggambarkan selisih antara tingkat kematangan sistem yang ada saat ini dengan tingkat kematangan yang menjadi target atau harapan (Supriady dkk. , 2. Kesenjangan ini menunjukkan sejauh mana sistem perlu ditingkatkan untuk mencapai standar optimal, dan menjadi landasan dalam menyusun strategi perbaikan serta pengembangan sistem agar kapabilitas dan efektivitasnya meningkat secara Setelah proses pengolahan dan analisis data diselesaikan, tahap berikutnya adalah merumuskan temuan dan rekomendasi atas sistem informasi berdasarkan hasil analisis tersebut. Temuan dan rekomendasi ini diharapkan menjadi referensi bagi instansi atau organisasi dalam melakukan perbaikan terhadap sistem informasi yang diterapkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan Data Proses evaluasi dilakukan dengan memberikan skor pada tiap elemen proses dalam subdomain yang telah ditentukan. Skor tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan indeks kuesioner, yang menjadi dasar dalam menghitung indeks kematangan . aturity inde. dan menentukan tingkat kematangan . aturity leve. Hasil perhitungan tersebut selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi dan menetapkan tingkat kapabilitas sistem (Capability Leve. , yang mencerminkan tingkat pencapaian sistem terhadap standar yang ditetapkan serta kesiapannya dalam mendukung operasional secara optimal. Pengolahan Data Sub Domain DSS01 Tabel 3 Hasil Pengolahan Data Sub Domain DSS01 Domain Indeks Maturity Keterangan Process Kuesioner Indeks DSS01. 4,30 4 Ae Predictable Process DSS01. 4,24 4 Ae Predictable Process DSS01. 4,40 4 Ae Predictable Process DSS01. 4,34 4 Ae Predictable Process DSS01. 4,32 4 Ae Predictable Process TOTAL MATURITY 21,61 INDEKS MATURITY LEVEL 4,32 4 Ae Predictable Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech Pengolahan Data Sub Domain DSS02 Tabel 4 Hasil Pengolahan Data Sub Domain DSS02 Domain Indeks Maturity Keterangan Process Kuesioner Indeks DSS02. 3,09 3 Ae Established Process DSS02. 3,15 3 Ae Established Process DSS02. 03 110,25 3,15 3 Ae Established Process DSS02. 3,10 3 Ae Established Process DSS02. 05 112,25 3,21 3 Ae Established Process DSS02. 3,09 3 Ae Established Process DSS02. 3,10 3 Ae Established Process TOTAL MATURITY 21,88 INDEKS MATURITY LEVEL 3,13 3 Ae Established Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Pengolahan Data Sub Domain DSS03 Tabel 5 Hasil Pengolahan Data Sub Domain DSS02 Domain Indeks Maturity Keterangan Process Kuesioner Indeks DSS03. 4,06 4 Ae Predictable Process DSS03. 4,01 4 Ae Predictable Process DSS03. 4,05 4 Ae Predictable Process DSS03. 3,97 4 Ae Predictable Process DSS03. 4,04 4 Ae Predictable Process TOTAL MATURITY 20,13 INDEKS MATURITY LEVEL 4,03 4 Ae Predictable Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Pengolahan Data Sub Domain DSS04 Tabel 6 Hasil Pengolahan Data Sub Domain DSS04 Domain Indeks Maturity Keterangan Process Kuesioner Indeks DSS04. 2,43 2 Ae Managed Process DSS04. 2,45 2 Ae Managed Process DSS04. 2,44 2 Ae Managed Process DSS04. 04 109,75 2,44 2 Ae Managed Process DSS04. 2,47 2 Ae Managed Process DSS04. 2,38 2 Ae Managed Process DSS04. 07 112,25 2,49 2 Ae Managed Process DSS04. 2,37 2 Ae Managed Process TOTAL MATURITY 19,48 INDEKS MATURITY LEVEL 2,44 2 Ae Managed Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Pengolahan Data Sub Domain DSS05 Tabel 7 Hasil Pengolahan Data Sub Domain DSS05 Domain Indeks Maturity Keterangan Process Kuesioner Indeks DSS05. 3,03 3 Ae Established Process DSS05. 3,17 3 Ae Established Process DSS05. 3,14 3 Ae Established Process DSS05. 3,07 3 Ae Established Process DSS05. 3,17 3 Ae Established Process DSS05. 06 109,75 3,14 3 Ae Established Process DSS05. 3,05 3 Ae Established Process TOTAL MATURITY 21,76 INDEKS MATURITY LEVEL 3,11 3 Ae Established Process Jurnal Infortech. Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN 2715-8160 Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Pengolahan Data Sub Domain DSS06 Tabel 8 Hasil Pengolahan Data Sub Domain DSS06 Domain Indeks Maturity Keterangan Process Kuesioner Indeks DSS06. 4,04 4 Ae Predictable Process DSS06. 3,97 4 Ae Predictable Process DSS06. 4,02 4 Ae Predictable Process DSS06. 04 109,75 3,99 4 Ae Predictable Process DSS06. 05 110,25 4,01 4 Ae Predictable Process DSS06. 3,98 4 Ae Predictable Process TOTAL MATURITY 24,01 INDEKS MATURITY LEVEL 4,00 4 Ae Predictable Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Pengolahan Data Sub Domain MEA01 Tabel 9 Hasil Pengolahan Data Sub Domain MEA01 Domain Process MEA01. MEA01. MEA01. MEA01. MEA01. Indeks Maturity Keterangan Kuesioner Indeks 5,44 5 Ae Optimizing Process 5,39 5 Ae Optimizing Process 5,63 5 Ae Optimizing Process 5,58 5 Ae Optimizing Process 5,54 5 Ae Optimizing Process MATURITY 27,58 TOTAL INDEKS MATURITY LEVEL 5,52 5 Ae Optimizing Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Pengolahan Data Sub Domain MEA02 Tabel 10 Hasil Pengolahan Data Sub Domain MEA02 Domain Process Indeks Kuesioner MEA02. MEA02. MEA02. MEA02. MEA02. MEA02. MEA02. MEA02. 109,75 MATURITY Maturit Keterangan Indeks 3,65 4 Ae Predictable Process 3,71 4 Ae Predictable Process 3,67 4 Ae Predictable Process 3,66 4 Ae Predictable Process 3,70 4 Ae Predictable Process 3,63 4 Ae Predictable Process 3,68 4 Ae Predictable Process 3,64 4 Ae Predictable Process TOTAL 29,34 INDEKS MATURITY LEVEL 3,67 4 Ae Predictable Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Analisa Tingkat Kapabilitas Saat Ini Dengan melakukan proses pengolahan data terhadap enam proses pada domain DSS dan dua proses pada domain MEA, dapat diketahui tingkat kapabilitas masing-masing sub domain sesuai yang terlihat pada tabel 11. http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech Tabel 11 Tingkat Kapabilitas Saat Ini Current Keterangan Capability DSS01 4,32 4 Ae Predictable Process DSS02 3,13 3 Ae Established Process DSS03 4,03 4 Ae Predictable Process DSS04 2,44 2 Ae Managed Process DSS05 3,11 3 Ae Established Process DSS06 4,00 4 Ae Predictable Process MEA01 5,52 5 Ae Optimizing Process MEA02 3,67 4 Ae Predictable Process RATA-RATA 3,78 4 Ae Predictable Process Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Sub Domain Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat kapabilitas tata kelola teknologi informasi pada Sistem ITMS di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan berada pada level 4 (Predictable Proces. dengan skor 3,78. Hal ini mengindikasikan bahwa proses-proses TI dalam sistem ITMS telah dilaksanakan sesuai standar yang telah ditetapkan dan diterapkan secara menyeluruh di lingkungan organisasi. Analisis Tingkat Kematangan Diharapkan Dalam penelitian ini, tingkat kapabilitas yang ditargetkan ditentukan berdasarkan kondisi internal institusi, termasuk visi, misi, dan tujuan organisasi. Penetapan target tersebut juga mempertimbangkan rata-rata tingkat kapabilitas sistem saat ini, yang berada pada level 4. Analisis Kesenjangan Analisis kesenjangan . ap analysi. merupakan langkah krusial untuk mengidentifikasi selisih antara kondisi aktual dan tingkat kapabilitas yang diharapkan (Syahputra & Sutomo, 2. Melalui analisis ini, dapat diketahui area yang masih memiliki kelemahan berdasarkan hasil kuesi oner, serta memberikan dasar dalam merumuskan rekomendasi guna memperbaiki proses yang belum Nilai kesenjangan dihitung dari selisih antara tingkat kapabilitas eksisting dengan tingkat kapabilitas yang menjadi target. Tabel 12 Nilai GAP Capability Level Target Capability Level Level DSS01 4,32 DSS02 3,13 DSS03 4,03 DSS04 2,44 DSS05 3,11 DSS06 4,00 MEA01 5,52 MEA02 3,67 Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Sub Domain GAP 0,32 -0,87 0,03 -1,56 -0,89 1,52 -0,33 Jurnal Infortech. Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN 2715-8160 Subdomain DSS05 (Manage Security Service. Sumber: (Hasil Pengolahan Data, 2. Gambar 2 Grafik Radar Analisis Kesenjangan Hasil evaluasi menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara kondisi saat ini dan target kapabilitas yang ditetapkan, khususnya pada subdomain DSS02. DSS04. DSS05 dan MEA02. Kesenjangan paling besar tercatat pada subdomain DSS04 dengan nilai selisih sebesar -1,56. Sementara itu, subdomain DSS01. DSS03. DSS06, dan MEA01 telah berhasil mencapai tingkat kapabilitas yang sesuai dengan target yang diharapkan. Rekomendasi Berdasarkan hasil audit tata kelola teknologi informasi terhadap Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS) di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan yang dilakukan dengan mengacu pada kerangka kerja COBIT 5, diperoleh sejumlah rekomendasi yang bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas sistem pada area-area yang masih menunjukkan kesenjangan. Rekomendasi tersebut antara lain sebagai berikut: Subdomain DSS02 (Manage Service Requests and Incident. Dengan tingkat kapabilitas saat ini sebesar 3,13 dan kesenjangan terhadap target sebesar -0,87, responsivitas dan efisiensi dalam menangani permintaan layanan serta insiden. Strategi yang dapat diterapkan antara lain adalah penerapan sistem pelaporan terintegrasi, seperti helpdesk atau aplikasi tiket layanan, guna mempercepat proses penanganan secara lebih sistematis dan terdokumentasi. Subdomain DSS04 (Manage Continuit. Subdomain ini menunjukkan kesenjangan tertinggi sebesar -1,56 dengan tingkat kapabilitas 2,44. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesiapan sistem ITMS dalam menghadapi gangguan. Langkah yang dapat dilakukan mencakup pelaksanaan pelatihan rutin mengenai keamanan informasi, serta evaluasi dan pengujian berkala terhadap rencana keberlanjutan sistem . usiness continuity pla. http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech Dengan gap sebesar -0,89, instansi disarankan untuk merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan keamanan informasi yang menyeluruh. Tindakan teknis yang perlu dilakukan antara lain pengelolaan hak akses berbasis kebutuhan, penerapan sistem enkripsi data, serta pemantauan aktivitas sistem secara berkala. Selain itu, pembaruan kebijakan keamanan perlu dilakukan secara rutin untuk menyesuaikan dengan risiko yang terus berkembang. Subdomain MEA02 (Monitor. Evaluate and Assess the System of Internal Contro. Dengan kesenjangan sebesar -0,33, organisasi perlu memperkuat kontrol internal melalui pelatihan berkala kepada pengguna, khususnya terkait kebijakan penggunaan sistem dan keamanan data. Evaluasi terhadap efektivitas kontrol sistem juga perlu dilakukan secara konsisten. Subdomain DSS06 (Manage Business Process Control. Meskipun telah mencapai target kapabilitas . ap = . , konsistensi pengelolaan tetap perlu dijaga melalui evaluasi berkala dan peningkatan pemahaman pengguna mengenai pentingnya kontrol dalam proses Subdomain DSS01. DSS03, dan MEA01 Ketiga subdomain ini telah melampaui target kapabilitas yang ditetapkan. Namun, untuk menjaga kualitas tata kelola TI yang berkelanjutan, capaian tersebut tetap perlu dipertahankan dan dijadikan model dalam pengembangan subdomain lainnya yang masih di bawah target. KESIMPULAN Hasil audit tata kelola teknologi informasi terhadap Sistem Manajemen Talenta ASN (ITMS) di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan dengan menggunakan kerangka kerja COBIT 5 menunjukkan bahwa tingkat kapabilitas sistem secara umum berada pada level yang cukup baik. Nilai ratarata kapabilitas mencapai 3,78, mendekati level 4 (Predictable Proces. , yang mencerminkan bahwa sebagian besar proses telah terdokumentasi dengan baik dan dilaksanakan secara konsisten. Subdomain MEA01 (Monitor. Evaluate and Assess Performanc. menunjukkan tingkat kapabilitas tertinggi, yaitu 5,52, yang menandakan bahwa sistem telah mampu menyediakan informasi yang transparan, akurat, dan dapat diakses sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik. Proses lainnya yang telah memenuhi atau melampaui target kapabilitas meliputi DSS01 (Manage Operation. DSS03 (Manage Problem. Jurnal Infortech. Volume 7 No. 2 Desember 2025 E-ISSN 2715-8160 DSS06 (Manage Business Process Control. , serta MEA01. Namun demikian, masih terdapat kesenjangan pada beberapa proses, yaitu DSS02 (Manage Service Requests and Incident. DSS04 (Manage Continuit. DSS05 (Manage Security Service. , dan MEA02 (Monitor. Evaluate and Assess the System of Internal Contro. Kesenjangan terbesar teridentifikasi pada DSS04, dengan nilai -1,56, yang menunjukkan perlunya peningkatan signifikan dalam hal keberlanjutan layanan dan kesiapan menghadapi Berdasarkan temuan tersebut, disusun beberapa saran strategis guna mendorong peningkatan kapabilitas sistem ITMS: Peningkatan respons terhadap layanan dan Disarankan agar organisasi mengembangkan sistem pelaporan yang terintegrasi, seperti helpdesk digital atau platform tiket layanan, untuk memastikan permintaan layanan dan insiden dapat ditangani secara lebih cepat, efisien, dan terdokumentasi dengan baik. Penguatan kesiapsiagaan sistem Penting menghadapi gangguan operasional melalui pelatihan keamanan informasi secara berkala, serta pelaksanaan evaluasi dan pengujian rutin terhadap rencana keberlanjutan sistem (Business Continuity Pla. Perlindungan keamanan informasi Diperlukan kebijakan keamanan informasi yang terstruktur dan adaptif, mencakup pengelolaan hak akses berdasarkan fungsi, penerapan teknologi enkripsi, serta pemantauan dan pembaruan kebijakan keamanan secara berkala agar selaras dengan dinamika risiko. Penguatan kontrol internal Disarankan agar dilakukan pelatihan pengguna mengenai kebijakan penggunaan sistem dan perlindungan data, disertai dengan evaluasi berkala terhadap efektivitas kontrol internal dan lingkungan pengendalian, minimal setiap enam bulan. Pemeliharaan konsistensi pada proses yang telah optimal Subdomain yang telah mencapai atau melampaui target kapabilitas hendaknya dijaga konsistensinya, serta dijadikan acuan dalam mengembangkan proses lainnya yang masih berada di bawah target. Dengan pelaksanaan rekomendasi tersebut secara berkelanjutan, diharapkan Sistem ITMS dapat terus berkembang dan memberikan dukungan yang optimal bagi pengelolaan manajemen talenta ASN, sekaligus memperkuat penerapan tata kelola teknologi http://ejournal. id/ejurnal/index. php/infortech informasi yang efektif dan berkelanjutan di lingkungan Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan. REFERENSI